MENGUJI NYALI DANANTARA
Baca Juga
Kita baru saja melewati separuh dekade yang penuh dengan guncangan hebat dan kini berdiri di gerbang pintu masuk tahun 2026 dengan napas yang sedikit lebih lega namun tetap waspada. Dokumen Economic Outlook 2026 yang awal bulan ini dirilis oleh Danantara bukan sekadar tumpukan kertas berisi angka melainkan sebuah manifesto harapan di tengah ketidakpastian yang mulai mereda. Saya membaca laporan ini dengan saksama dan menemukan bahwa ada upaya keras untuk membangun narasi optimisme setelah kita babak belur dihajar volatilitas global. Tahun ini diprediksi sebagai momen pemulihan ketika badai inflasi global mulai melandai dan bank sentral di seluruh dunia mulai melonggarkan ikat pinggang moneter mereka. Namun, pertanyaan mendasar yang selalu mengusik benak saya adalah apakah kita benar-benar siap menjadi pengemudi dalam situasi ini atau sekadar menjadi penumpang yang menikmati cuaca cerah sesaat. Optimisme itu penting sebagai bahan bakar pergerakan ekonomi, tetapi optimisme tanpa pijakan fundamental yang kokoh hanya akan membawa kita pada euforia semu yang berbahaya. Kita harus belajar dari sejarah bahwa angka statistik sering kali menyembunyikan realitas lapangan yang sebenarnya sedang bergejolak. Oleh karena itu, mari kita bedah dokumen ini dengan pisau analisis yang tajam untuk melihat apa yang sesungguhnya terjadi di balik layar panggung ekonomi kita.
![]() |
| Ilustrasi (Gambar : AI Generated Picture) |
Barangkali kita perlu mengingat kembali bahwa pemulihan ekonomi tidak pernah berjalan dalam garis lurus yang mulus seperti jalan tol yang baru diresmikan. Dalam pandangan Danantara, tahun 2026 digambarkan sebagai fase rebound yang didukung oleh siklus pelemahan dolar Amerika Serikat yang secara historis memang menguntungkan pasar negara berkembang. Teori ini memang valid karena setiap kali The Greenback melemah, arus modal biasanya akan mengalir deras kembali ke negara-negara seperti Indonesia dan memperkuat otot rupiah kita. Akan tetapi, kita tidak boleh lupa bahwa menggantungkan nasib pada faktor eksternal adalah ciri ekonomi yang rapuh dan tidak memiliki kemandirian sejati. Ketergantungan pada weak dollar regime ini ibarat pelaut yang hanya mengandalkan angin buritan tanpa memiliki kemampuan mendayung saat angin tiba-tiba mati. Saya melihat ada risiko besar jika skenario soft landing ekonomi Amerika Serikat ternyata gagal terwujud dan justru berbalik menjadi stagflasi yang mencekik. Kita harus memiliki skenario cadangan yang mumpuni agar tidak kaget jika angin keberuntungan itu mendadak berubah arah. Jangan sampai kita terlena oleh narasi global yang meninabobokan sementara pekerjaan rumah di dalam negeri justru terbengkalai.
Fenomena menarik lainnya yang diangkat dalam laporan tersebut adalah keyakinan bahwa transmisi kebijakan moneter akan mulai terasa dampaknya secara signifikan pada tahun 2026 ini. Penurunan suku bunga acuan yang diperkirakan terjadi sepanjang tahun 2025 memang membutuhkan waktu transmisi atau time lag sekitar dua belas hingga delapan belas bulan untuk benar-benar menggerakkan sektor riil. Logika ini bisa diterima karena perbankan dan dunia usaha membutuhkan waktu untuk menyesuaikan rencana ekspansi mereka dengan biaya dana yang lebih murah. Namun, persoalannya bukan hanya pada seberapa cepat bunga turun, melainkan apakah ada permintaan kredit yang berkualitas dari sektor produktif. Sering kali yang terjadi adalah likuiditas melimpah di sektor keuangan tetapi macet saat hendak disalurkan karena minimnya sektor riil yang layak dibiayai. Kita tidak bisa hanya berharap pada mekanisme pasar otomatis tanpa ada intervensi struktural untuk memecah sumbatan di pipa penyaluran kredit tersebut. Tanpa perbaikan iklim investasi dan kepastian hukum, penurunan bunga hanyalah insentif yang tumpul dan tidak akan memicu ledakan pertumbuhan yang diharapkan.
Konsumsi domestik kembali didapuk sebagai pahlawan penyelamat yang akan menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian permintaan ekspor. Laporan Danantara menyoroti adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat menuju barang-barang tersier dan pengalaman gaya hidup yang menunjukkan pulihnya daya beli kelas menengah. Ini adalah sinyal positif yang menandakan bahwa masyarakat kita mulai berani membelanjakan uang mereka untuk hal-hal di luar kebutuhan pokok. Meskipun demikian, kita harus cermat melihat apakah fenomena ini merata di seluruh lapisan atau hanya dinikmati oleh segmen atas yang memang kebal krisis. Ketimpangan pemulihan atau yang sering disebut sebagai K-shaped recovery masih menjadi hantu yang membayangi struktur sosial ekonomi kita pascapandemi. Jika daya beli kelas bawah masih tergerus oleh inflasi pangan, maka fondasi konsumsi ini sebenarnya rapuh dan bisa runtuh sewaktu-waktu. Oleh sebab itu, menjaga stabilitas harga pangan jauh lebih krusial daripada sekadar merayakan lonjakan penjualan tiket konser atau barang mewah.
Transformasi atau Sekadar Ganti Baju?
Danantara hadir dengan janji besar untuk menjadi orkestrator baru bagi Badan Usaha Milik Negara yang selama ini sering kali terjebak dalam inefisiensi birokrasi. Salah satu sorotan utama dalam outlook ini adalah klaim keberhasilan awal restrukturisasi raksasa-raksasa yang sempat sakit parah seperti Garuda Indonesia dan Krakatau Steel. Narasi yang dibangun adalah bahwa kenaikan harga saham emiten pelat merah tersebut mencerminkan perbaikan fundamental yang didorong oleh tangan dingin manajemen baru. Saya ingin mengingatkan bahwa pasar modal sering kali bergerak berdasarkan sentimen dan ekspektasi jangka pendek, bukan melulu karena cerminan kinerja riil perusahaan. Memoles laporan keuangan untuk terlihat cantik dalam jangka pendek jauh lebih mudah daripada memperbaiki budaya korporasi yang sudah berkarat puluhan tahun. Tantangan sesungguhnya bagi Danantara adalah memastikan bahwa perbaikan ini bersifat struktural dan berkelanjutan, bukan sekadar kosmetik untuk menyenangkan mata investor sesaat. Kita sudah terlalu sering melihat BUMN yang seolah-olah sembuh setelah disuntik modal negara, namun kembali sakit ketika siklus ekonomi memburuk.
Diperlukan perubahan mindset yang radikal dari para pengelola BUMN agar mereka tidak lagi berperan sebagai birokrat yang berbisnis, melainkan sebagai pengusaha sejati yang melayani publik. Laporan ini menyinggung tentang pengurangan jumlah entitas BUMN dari ratusan menjadi jauh lebih sedikit demi efisiensi dan fokus bisnis yang lebih tajam. Langkah konsolidasi ini secara teori sangat bagus untuk menghilangkan duplikasi fungsi dan mematikan anak cucu usaha yang hanya menjadi parasit bagi induknya. Namun, eksekusi di lapangan pasti akan menghadapi resistensi luar biasa dari kelompok kepentingan yang selama ini menikmati kenyamanan dari inefisiensi tersebut. Keberanian Danantara untuk memangkas lemak birokrasi ini akan menjadi ujian nyali yang sesungguhnya bagi kepemimpinan baru di sektor ekonomi negara. Tanpa ketegasan eksekusi, rencana perampingan ini hanya akan berakhir sebagai wacana di atas kertas yang tidak pernah menyentuh akar masalah. Publik menunggu bukti nyata apakah efisiensi ini benar-benar terjadi atau hanya sekadar ganti nama dan ganti logo.
Salah satu inisiatif yang cukup menarik perhatian saya adalah rencana pembentukan bullion bank pertama di Indonesia yang mengintegrasikan ekosistem emas Antam, Pegadaian, dan perbankan syariah. Ini adalah terobosan strategis untuk menahan devisa hasil ekspor sumber daya alam agar tidak lari ke luar negeri dan memperdalam pasar keuangan domestik kita. Selama ini kita terlalu naif membiarkan kekayaan alam kita dikelola dan dinikmati nilai tambahnya oleh sistem keuangan negara lain. Dengan adanya bank emas ini, kita berharap Indonesia bisa menjadi penentu harga dan pemain utama dalam rantai pasok komoditas strategis global. Kendati demikian, membangun kepercayaan pasar terhadap institusi baru ini bukanlah pekerjaan semalam yang bisa diselesaikan dengan gunting pita peresmian. Reputasi, transparansi, dan tata kelola yang berstandar internasional adalah harga mati yang tidak bisa ditawar jika ingin menarik minat investor global. Jika dikelola dengan mentalitas lama yang korup dan tertutup, inisiatif brilian ini pun akan layu sebelum berkembang.
Kinerja BUMN karya yang sempat babak belur akibat beban utang infrastruktur juga mendapatkan porsi pembahasan yang cukup optimistis dalam dokumen tersebut. Disebutkan bahwa fokus ke depan akan beralih dari sekadar mengejar omzet proyek menuju kualitas pendapatan dan disiplin alokasi modal yang lebih ketat. Perubahan orientasi ini sangat krusial karena selama ini banyak BUMN karya terjebak dalam penugasan pemerintah yang secara komersial tidak layak namun harus tetap dikerjakan. Akibatnya, neraca keuangan mereka berdarah-darah dan membebani sistem perbankan nasional yang menjadi kreditur utamanya. Danantara harus berani berkata tidak pada proyek-proyek mercusuar yang tidak memiliki dampak ekonomi jelas dan hanya memuaskan ego politik sesaat. Kesehatan finansial perusahaan harus menjadi prioritas utama di atas segalanya agar BUMN bisa terus berkontribusi tanpa terus-menerus menyusu pada APBN. Ini adalah era di mana profitability dan sustainability harus berjalan beriringan tanpa saling mengorbankan satu sama lain.
Saya juga mencermati adanya ambisi untuk menjadikan BUMN sebagai pemain global yang mampu bersaing di kancah internasional melalui ekspansi yang terukur. Ambisi ini sah-sah saja dan bahkan harus didukung selama kita sudah membereskan pekerjaan rumah di kandang sendiri dengan tuntas. Jangan sampai kita gagah-gagahan mengakuisisi perusahaan di luar negeri sementara pelayanan publik di dalam negeri masih amburadul dan mengecewakan. Kasus investasi BUMN yang merugi di luar negeri pada masa lalu harus menjadi pelajaran mahal agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali. Ekspansi global harus didasarkan pada hitungan bisnis yang matang dan sinergi yang jelas, bukan sekadar untuk pencitraan seolah-olah kita sudah menjadi negara maju. Kita membutuhkan world-class management yang benar-benar paham peta persaingan global, bukan jago kandang yang hanya berani bermain di pasar yang diproteksi regulasi. Danantara memegang kunci untuk menyeleksi talenta terbaik yang akan menahkodai ekspansi ini.
Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah peran teknologi dan digitalisasi dalam transformasi model bisnis BUMN di masa depan. Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional di era disrupsi teknologi yang begitu cepat mengubah lanskap persaingan. BUMN harus menjadi agile organization yang mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin digital dan menuntut kecepatan layanan. Sayangnya, saya belum melihat elaborasi yang cukup mendalam mengenai strategi transformasi digital ini dalam outlook yang disajikan. Padahal, tanpa adopsi teknologi yang masif, efisiensi yang didengung-dengungkan hanya akan menjadi janji kosong belaka. Transformasi digital bukan sekadar membuat aplikasi atau mendigitalkan dokumen, melainkan mengubah cara berpikir dan cara bekerja seluruh organisasi.
Realitas yang Tak Boleh Diabaikan
Membaca target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam dokumen ini membuat saya teringat pada paradoks likuiditas yang selama ini menjadi penghambat utama akselerasi ekonomi kita. Di satu sisi pemerintah ingin memacu pertumbuhan lewat investasi jumbo, namun di sisi lain likuiditas domestik kita ibarat kolam yang dangkal dan mudah kering. Rasio pajak yang cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir semakin mempersempit ruang gerak fiskal untuk membiayai program-program ambisius tersebut. Jika pemerintah terlalu agresif menerbitkan surat utang untuk menutup defisit, maka swasta akan kesulitan mendapatkan dana karena tersedot oleh negara atau yang dikenal dengan istilah crowding out. Danantara perlu memberikan jawaban konkret bagaimana dilema likuiditas ini akan dipecahkan tanpa mengorbankan sektor swasta. Mengandalkan dana asing atau hot money sangat berisiko karena sifatnya yang sangat volatil dan bisa keluar kapan saja saat sentimen global memburuk. Kita butuh pendalaman pasar keuangan yang serius agar tabungan domestik bisa tumbuh dan membiayai pembangunan kita sendiri.
Program makan bergizi gratis yang disebut-sebut sebagai salah satu pendorong permintaan domestik juga perlu dikritisi dari sisi keberlanjutan fiskalnya. Secara teori ekonomi Keynesian, program ini memang bisa memacu konsumsi karena uang langsung berputar di masyarakat tingkat bawah. Namun, jika pembiayaannya berasal dari utang baru yang berbunga tinggi, maka beban yang ditanggung generasi mendatang akan sangat berat. Kita harus memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk program ini benar-benar memiliki efek pengganda atau multiplier effect yang nyata bagi ekonomi lokal. Jangan sampai anggaran raksasa ini bocor di tengah jalan atau hanya dinikmati oleh segmen importir bahan pangan semata. Efektivitas belanja negara harus menjadi mantra baru yang menggantikan mentalitas "habiskan anggaran" yang selama ini melekat di birokrasi kita.
Risiko geopolitik global juga sepertinya dipandang terlalu ringan dalam asumsi dasar penyusunan outlook ekonomi tahun 2026 ini. Eskalasi konflik di berbagai belahan dunia bisa sewaktu-waktu memicu gangguan rantai pasok yang akan melambungkan harga energi dan pangan kembali. Kita tidak boleh naif menganggap bahwa dunia akan damai-damai saja hanya karena ada tanda-tanda meredanya perang dagang. Sejarah membuktikan bahwa black swan event atau kejadian tak terduga sering kali muncul justru saat kita sedang merasa paling aman dan percaya diri. Oleh karena itu, stress test terhadap asumsi makroekonomi harus dilakukan secara berkala dan transparan. Kita harus siap dengan skenario terburuk agar tidak panik dan kehilangan arah saat badai yang sesungguhnya datang menerjang.
Penting juga untuk menyoroti masalah kualitas sumber daya manusia yang akan menjadi motor penggerak visi besar Danantara ini. Transformasi ekonomi tidak bisa dijalankan oleh mesin atau algoritma semata, tetapi membutuhkan manusia-manusia unggul yang memiliki integritas dan kompetensi tinggi. Saya sering menekankan bahwa the man behind the gun jauh lebih penting daripada kecanggihan senjata itu sendiri. Apakah kita sudah memiliki cukup banyak talenta yang siap mengisi posisi-posisi strategis di BUMN hasil konsolidasi nanti? Jika pengisian jabatan masih didasarkan pada koneksi politik dan bagi-bagi kursi kekuasaan, maka lupakan saja mimpi untuk memiliki BUMN kelas dunia. Meritokrasi harus ditegakkan tanpa pandang bulu jika kita ingin melihat hasil yang berbeda di masa depan.
Isu lingkungan dan transisi energi hijau juga hanya mendapatkan porsi yang minim dan terkesan normatif dalam dokumen outlook tersebut. Padahal, investor global saat ini sangat menuntut penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) yang ketat sebelum menanamkan modalnya. BUMN kita, terutama yang bergerak di sektor energi dan pertambangan, masih memiliki jejak karbon yang sangat besar dan menjadi sorotan dunia. Jika Danantara tidak serius mendorong transisi hijau ini, kita akan kesulitan mendapatkan pembiayaan murah dari pasar internasional. Transformasi menuju ekonomi hijau bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga relevansi bisnis di masa depan. Kita tidak bisa lagi berlindung di balik alasan sebagai negara berkembang untuk terus mencemari lingkungan.
Terlepas dari berbagai kritik yang saya sampaikan, saya tetap mengapresiasi upaya Danantara untuk menyusun peta jalan yang jelas bagi masa depan ekonomi kita. Setidaknya kita memiliki dokumen pegangan yang bisa kita debatkan dan kita uji kebenarannya seiring berjalannya waktu. Langkah awal untuk melakukan perubahan adalah dengan memiliki visi, dan dokumen ini sudah menyajikan visi tersebut dengan cukup artikulatif. Namun, sebuah visi tanpa eksekusi yang disiplin hanyalah halusinasi yang membuai kita dalam mimpi indah. Tugas kita bersama, baik akademisi, praktisi, maupun masyarakat umum, adalah mengawal agar visi ini tidak melenceng di tengah jalan. Kita harus menjadi pengkritik yang konstruktif sekaligus mitra yang suportif bagi pemerintah.
Transparansi data dan informasi menjadi kunci utama untuk membangun kepercayaan publik terhadap kinerja Danantara ke depannya. Jangan ada lagi data yang disembunyikan atau dimanipulasi demi menjaga citra penguasa atau menutupi kegagalan manajemen. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, kebohongan publik sekecil apa pun akan segera tercium dan menghancurkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Danantara harus berani jujur mengakui jika ada target yang meleset dan segera melakukan koreksi strategi. Kepercayaan pasar adalah mata uang yang paling berharga, dan sekali ia hilang, akan sangat sulit untuk mendapatkannya kembali. Mari kita bangun budaya kejujuran dalam mengelola aset negara demi kemaslahatan rakyat banyak.
Kolaborasi antara BUMN dan sektor swasta juga harus didorong agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat di lapangan. BUMN seharusnya masuk ke sektor-sektor strategis yang tidak diminati swasta karena risiko tinggi atau modal besar, bukan malah mematikan usaha rakyat. Sinergi yang sehat akan menciptakan ekosistem bisnis yang kondusif bagi semua pemain untuk tumbuh bersama. Outlook 2026 ini harus menjadi momentum untuk menata ulang peran negara dalam ekonomi agar lebih proporsional. Biarkan swasta berkembang dengan kreativitasnya, dan biarkan BUMN menjadi tulang punggung di sektor-sektor vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Keseimbangan inilah yang akan membawa Indonesia menjadi negara maju yang berkeadilan.
Menutup tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk tidak sekadar menjadi penonton yang pasif di pinggir lapangan. Perubahan besar sedang terjadi di depan mata kita, dan kita semua memiliki peran untuk memastikan arahnya sudah benar. Tahun 2026 bukanlah tujuan akhir, melainkan salah satu etape dalam perjalanan panjang bangsa ini menuju kemakmuran. Apakah prediksi Danantara akan menjadi kenyataan atau justru jauh panggang dari api, waktu jua yang akan menjawabnya dengan jujur. Namun satu hal yang pasti, masa depan tidak diciptakan oleh ramalan, melainkan oleh kerja keras dan keputusan yang kita buat hari ini. Mari kita bekerja, mari kita berubah.



0 comments