Andi Azhar
  • Beranda
  • Mimbar
    • Khazanah Islam
    • Kolak Pisang
    • Pendidikan
    • Sosial Politik
    • Persyarikatan
    • #SeloSeloan
    • Perguruan Tinggi
    • Sains Teknologi
    • Financial Teknologi
    • Bengkulu
    • Bisnis
  • Lakon
    • Formosa
    • Nusantara
    • Ramadhan Bercerita
  • Soneta
  • Interlokal
    • Education
    • Politic
    • Technology
    • Economic
  • Pariwara
    • Competition
    • Endorsement
    • Komiku
  • Jejak
  • Sangu
    • MoE Taiwan
    • HES Taiwan
    • ICDF Taiwan
  • Hubungi Kami
Satu waktu saya pernah menerima undangan pernikahan. Bukan dari orangnya langsung, bukan juga dari keluarganya. Melainkan dari kolega saya dulu, sebut saja namanya Pak Roni, yang merupakan teman dari adiknya si pengantin laki-laki. Saya baca undangannya baik-baik. Nama pengantin tidak saya kenal. Nama orang tua tidak saya kenal. Nama desa tempat resepsi pun saya baru dengar. Satu-satunya hal yang saya kenal dari seluruh isi undangan itu hanyalah kata "turut mengundang" di bagian bawah. Saya terdiam cukup lama sambil memegang undangan itu, mencoba mengingat-ingat apakah saya pernah berhubungan dengan pihak keluarga pengantin dalam kapasitas apapun. Hasilnya nihil.
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Tapi Pak Roni sepertinya tidak merasa ada yang aneh. Beliau menyerahkan undangan itu dengan penuh keyakinan, seperti orang yang sedang menunaikan tugas mulia kenegaraan. "Dihadiri ya, Mas, biar rame," katanya dengan senyum ramah yang susah ditolak. Saya mengangguk pelan karena tidak punya cukup keberanian untuk bertanya, "Pak, saya ini siapa bagi pengantennya?" Undangan itu kemudian saya taruh di atas meja makan dan menatapnya dengan tatapan bingung yang mungkin mirip ekspresi ayam yang disodori kalkulator. Saya pikir mungkin ini salah satu ujian hidup yang tidak ada di buku agama manapun.

Kalau dipikir-pikir, model persebaran undangan seperti ini sebenarnya sudah mulai marak beberapa tahun terakhir. Yang punya hajat tidak lagi repot-repot mendatangi satu per satu orang yang hendak diundang. Cukup kasihkan beberapa slot kepada saudaranya, lalu saudaranya kasihkan ke temannya, temannya kasihkan ke kenalannya, dan seterusnya seperti skema MLM tapi versi hajatan. Sistemnya efisien, sekilas tampak modern dan praktis. Tapi kalau dicermati lebih dalam sambil minum teh pahit, ada sesuatu yang terasa bergeser dari sistem ini. Sesuatu yang mungkin tidak langsung bisa dirasakan tapi lama-lama mengganjal seperti batu kecil di dalam sepatu.

Dulu, undangan pernikahan itu sakral. Bukan sakral dalam artian harus ada ritual khusus penerimanya, tapi sakral dalam artian undangan itu datang karena ada hubungan. Entah hubungan pertemanan, kekerabatan, pertetanggaan, atau minimal pernah sama-sama antri di warung bakso dan bertatap muka lebih dari tiga detik. Sesederhana apapun hubungannya, tetap ada benang yang menghubungkan si pengundang dengan yang diundang. Ketika benang itu tidak ada sama sekali, maka undangan itu sejatinya bukan undangan. Itu lebih mirip surat edaran.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, kenapa ini bisa terjadi. Dan jawaban yang paling masuk akal, yang juga agak menyedihkan kalau diakui terang-terangan, adalah soal amplop. Bukan amplop dalam pengertian spiritual. Amplop dalam pengertian harfiah yang di dalamnya ada uang. Semakin banyak orang datang, semakin banyak amplop masuk, semakin besar kemungkinan biaya resepsi bisa balik modal atau bahkan surplus. Kalau begitu hitungannya, maka undangan bukan lagi ekspresi sukacita mengajak orang-orang tersayang berbagi momen bahagia. Undangan sudah menjelma semacam instrumen penggalangan dana dengan dekorasi bunga plastik dan hiburan organ tunggal.

Jangan marah dulu. Saya tidak sedang menuduh semua orang yang hajatan motifnya ekonomi semata. Sebagian besar pasti masih murni karena ingin berbagi kebahagiaan. Tapi sistem "slot undangan" yang dititipkan ke saudara lalu saudara tebarkan ke jaringannya sendiri ini, kalau ditelusuri logikanya, susah untuk tidak mengarah ke sana. Orang tidak mungkin mengundang ratusan orang yang tidak dikenal hanya karena ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka. Berbagi kebahagiaan itu biasanya butuh koneksi emosional, bukan sekadar koneksi jaringan pertemanan tingkat tiga. Kalau tidak ada koneksi emosional, maka yang tersisa hanya transaksi.

Ada teman saya yang pernah diundang hajatan dengan cara seperti ini. Dia datang dengan pakaian terbaik, bawa amplop yang isinya lumayan karena merasa sungkan. Sampai di sana dia tidak kenal siapapun kecuali orang yang mengajaknya. Pengantin tidak kenal, orang tua pengantin tidak kenal, MC tidak kenal, bahkan kucing yang duduk di bawah kursi tamu pun sepertinya tidak kenal. Dia bilang rasanya seperti masuk ke film orang lain tanpa tahu alur ceritanya. Duduk manis, makan prasmanan, salim dengan pengantin yang juga jelas bingung ini tamu undangan siapa, lalu pulang. Pulangnya, katanya, dia merasa seperti sudah bekerja paruh waktu sebagai figuran tanpa bayaran.

Nah, pengalaman teman saya itu menggambarkan betapa resepsi pernikahan sudah bergeser cukup jauh dari esensinya. Resepsi seharusnya jadi ruang pertemuan yang hangat antara dua keluarga besar dengan orang-orang yang benar-benar peduli dan mengenal mereka. Tempat di mana tante-tante menangis terharu, teman lama saling bertukar cerita, dan tetangga yang sudah kenal sejak pengantin masih ngompol akhirnya bisa foto bareng. Bukan tempat di mana ratusan orang datang dengan ekspresi canggung sambil bergumam, "Ini resepsinya siapa ya?" sebelum antri nasi kuning.

Yang membuat saya lebih gelisah lagi, penerima slot undangan ini kadang tidak punya pilihan yang nyaman. Kalau ditolak, nanti dianggap tidak menghargai si pemberi slot. Padahal yang memberi slot itu juga tidak ditanya persetujuannya ketika pertama kali menerima jatah undangan tersebut. Semua orang terjebak dalam rantai kewajiban sosial yang sebenarnya tidak ada yang benar-benar mau, tapi semua merasa harus menjalankan. Seperti grup WhatsApp keluarga besar yang tidak ada yang mau gabung tapi tidak ada yang berani keluar.

Kalau ditilik dari kacamata sosial-budaya yang sedikit lebih serius, fenomena ini sebenarnya mencerminkan bagaimana gotong royong bergeser menjadi mobilisasi. Dulu gotong royong hajatan itu organik, orang datang membantu karena kenal dan peduli. Sekarang yang terjadi adalah mobilisasi massa melalui jaringan undangan berlapis-lapis. Hasilnya memang kuantitas, banyak orang hadir, tapi kualitas kehadirannya kosong seperti gelas aqua yang sudah diminum. Kehadiran tanpa pengenalan itu seperti like di media sosial, ada secara statistik tapi tidak terasa di hati.

Saya juga sempat berpikir, bagaimana perasaan si pengantin sendiri. Berdiri di pelaminan, menyalami tamu satu per satu, tersenyum sopan, lalu bertanya dalam hati, "Ini siapa ya?" kepada hampir setiap orang yang datang. Momen bahagia terbesar dalam hidupnya dikelilingi oleh wajah-wajah asing yang hadir bukan karena mengenalnya, tapi karena mengenal seseorang yang mengenal seseorang yang mengenalnya. Itu kalau dilihat dari sudut tertentu, agak mirip dengan konsep enam derajat keterpisahan yang dipakai buat ngundang hajatan. Kevin Bacon saja pasti bingung.

Belum lagi soal punjungan yang sudah pernah saya tulis sebelumnya (silahkan cari di weblog ini dengan kata kunci "Punjungan" untuk membacanya). Kalau dulu punjungan itu dikirim ke orang-orang yang benar-benar dekat sebagai bentuk berbagi, sekarang punjungan sudah jadi semacam kewajiban logistik yang harus menjangkau sebanyak mungkin penerima. Ditambah sekarang dengan model slot undangan ini, maka lengkaplah sudah reduksi makna hajatan dari dua sisi sekaligus. Dari sisi kehadiran fisik yang diisi orang asing, dan dari sisi punjungan yang sudah berubah jadi operasi distribusi massal. Hajatan bukan lagi perayaan. Hajatan sudah jadi proyek.

Saya tidak munafik. Saya juga pernah datang ke hajatan yang secara teknis saya tidak terlalu kenal empunya. Duduk, makan, berdoa dalam hati semoga mereka bahagia, lalu pulang. Tapi setidaknya saya masih punya sedikit koneksi dengan yang mengundang, bukan hasil dari rantai titipan undangan yang panjangnya seperti rantai makanan di savana Afrika. Ada bedanya antara diundang karena kenal orang yang kenal pengantin, dengan diundang karena kenal orang yang kenal orang yang kenal saudara pengantin. Tipis memang bedanya. Tapi di sana lah letak sisa-sisa martabat undangan itu tinggal.

Mungkin ada yang berargumen bahwa ini soal rezeki, dan rezeki tidak boleh dibatas-batasi. Semakin banyak orang hadir, semakin banyak doa yang dipanjatkan, semakin berkah. Argumen ini secara spiritual terdengar mulia. Tapi kalau mau jujur, apakah orang yang datang karena dapat titipan undangan dari teman kakaknya pengantin itu benar-benar datang sambil membawa doa yang tulus? Ataukah dia datang sambil membawa kebingungan tingkat dewa dan niat utama merasakan prasmanan yang katanya enak? Saya tidak tahu. Yang jelas doanya lebih mungkin tulus kalau pengantinya dikenal.

Fenomena ini juga perlahan mengubah cara orang mempersiapkan diri menghadiri hajatan. Dulu orang memilih baju dengan cermat karena mau ketemu orang yang dikenal dan ingin tampil baik di depan mereka. Sekarang yang terjadi, banyak orang pilih baju seadanya karena toh tidak ada yang kenal. Amplop juga jadi dilema tersendiri, dikasih besar merasa boros untuk orang yang tidak dikenal, dikasih kecil merasa sungkan karena yang ngajak sudah susah payah kasih slot. Semua serba canggung dari awal sampai akhir. Resepsi pernikahan berubah jadi arena ketidaknyamanan kolektif yang dihiasi balon dan backdrop foto.

Ada satu hal lagi yang sering luput diperhatikan. Ketika daftar tamu diisi oleh orang-orang yang tidak saling kenal, maka kehangatan sebuah resepsi otomatis turun drastis. Bayangkan sebuah ruangan besar berisi ratusan orang yang masing-masing hanya mengenal satu atau dua orang di sana. Tidak ada senyum-senyum spontan antara tamu yang saling mengenali. Tidak ada cerita-cerita pendek yang terjalin di antara kursi. Yang ada hanya suara sendok membentur piring, suara MC yang bersemangat sendirian, dan suara bisik-bisik orang yang sama-sama bertanya siapa sebenarnya yang punya hajat ini. Suasananya persis seperti seminar yang ada prasmanannya.

Lucunya, di tengah semua keruwetan ini, si pemberi slot undangan sering tampak paling santai. Tugasnya sudah selesai begitu undangan berpindah tangan. Apakah orang yang menerima slotnya itu akan datang atau tidak, akan nyaman atau tidak, akan kenal pengantin atau tidak, semua itu bukan urusan dia lagi. Dia sudah menunaikan kewajibannya kepada si empunya hajat. Empunya hajat pun senang karena daftar tamu makin panjang. Yang repot hanya orang yang menerima undangan di ujung rantai itu, yang datang ke sebuah perayaan yang asing baginya seperti turis tanpa pemandu wisata.

Kalau saya boleh usul, dan ini usul yang kemungkinan besar tidak akan didengar siapapun, mungkin sudah waktunya kita mulai kembali menempatkan hajatan sebagai sebuah perayaan yang bermakna. Undang orang yang benar-benar dikenal, meskipun jumlahnya lebih sedikit. Keramaian itu bukan diukur dari berapa ratus kursi yang terisi, tapi dari seberapa hangat ruangan itu terasa ketika semua orang yang hadir saling mengenal satu sama lain. Kalaupun biaya resepsi tidak bisa balik modal, ya tidak apa-apa. Itu resiko dari sebuah perayaan, bukan investasi yang harus menghasilkan return. Kecuali kalau memang dari awal niatnya investasi, ya sudah, saya tidak bisa berbuat banyak.

Dan undangan itu seyogyanya bukan sekadar selembar kertas atau file PDF yang dikirim lewat WhatsApp. Undangan adalah pernyataan bahwa keberadaan seseorang itu berarti bagi kita di momen yang paling penting dalam hidup kita. Ketika undangan itu disebarkan ke orang yang bahkan namanya saja tidak kita kenal, maka pernyataan itu kehilangan isinya. Tinggal amplop kosong yang cantik di luar. Saya yakin semua pasangan pengantin di manapun sebenarnya ingin dikelilingi orang-orang yang benar-benar mencintai mereka di hari bahagia itu, bukan dikelilingi orang asing yang datang karena tidak enak menolak titipan undangan dari teman kakaknya.

Suatu kali teman dekat saya merasa jenuh dengan hiruk-pikuk dunia maya yang isinya cuma pamer pencapaian dan debat kusir tak berujung, ia lantas memutuskan untuk mencari ketenangan batin lewat jalur spiritual dengan mendatangi sebuah majelis ilmu. Niat hati ingin mendapatkan siraman rohani yang menyejukkan jiwa dan menata kembali nalar yang mulai bengkok akibat terlalu banyak mengonsumsi konten sampah, tapi yang ia dapatkan justru kebingungan yang hakiki. Di sana, penceramahnya dengan berapi-api menceritakan kisah seorang kyai sakti mandraguna yang konon memiliki kemampuan raga sukma tingkat tinggi hingga bisa berada di dua tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Cerita itu disampaikan dengan sangat meyakinkan seolah-olah kemampuan membelah diri adalah standar kompetensi utama untuk disebut sebagai orang saleh di zaman modern ini. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat jamaah lain mengangguk-angguk takzim seakan cerita itu adalah nutrisi paling bergizi bagi iman mereka yang sedang lapar. Tentu saja dia tidak berani protes atau bertanya tentang relevansi kesaktian itu dengan tagihan listrik yang membengkak, karena bisa-bisa dia dituduh sebagai penganut aliran sesat atau minimal dianggap kurang piknik spiritual. Pulang dari sana, bukannya merasa damai dan tercerahkan, ia cerita kepada saya bahwa ia kini sibuk memikirkan mekanisme fisika kuantum macam apa yang dipakai si tokoh untuk memindahkan jasadnya dari Jawa ke Mekkah tanpa paspor dan visa.

Ilustrasi Pengajian Muhammadiyah (Gambar : AI Generated)

Fenomena mendengarkan kisah-kisah ajaib semacam itu sebenarnya bukan barang baru di telinga masyarakat kita yang memang punya bakat alamiah untuk menyukai hal-hal berbau klenik dan mistis sejak zaman nenek moyang. Kita sering kali lebih mudah takjub pada cerita tentang kiai yang bisa berjalan di atas air tanpa basah sedikit pun daripada takjub pada orang yang berhasil membuat sistem irigasi canggih untuk mengairi sawah petani yang kekeringan. Ada semacam kepuasan batin tersendiri ketika mendengar ada manusia "pilihan" yang tubuhnya kebal bacok, tidak mempan disantet, atau kulitnya sekeras baja saat ditembak peluru tajam penjajah. Logika kita seolah dimanjakan dengan narasi bahwa kedekatan dengan Tuhan itu manifestasinya harus berupa kekuatan super layaknya anggota Avengers yang siap menyelamatkan dunia dari serangan alien. Padahal kalau dipikir-pikir dengan nalar orang lapar, kebal senjata itu tidak serta merta membuat perut kenyang atau membuat jalanan di depan rumah kita jadi mulus bebas lubang. Tapi ya mau bagaimana lagi, pasar cerita kesaktian memang selalu laris manis dan punya pangsa pasar yang militan di negeri yang hup-hup ini.

Kalau sampeyan adalah tipikal orang yang gampang bosan dengan dongeng kesaktian dan lebih suka hal-hal yang masuk akal serta bisa diraba dengan panca indra, mungkin sampeyan akan mengalami gegar budaya yang hebat jika salah masuk pengajian. Bayangkan saja betapa tersiksanya batin seorang rasionalis yang berharap dapat panduan hidup praktis tapi malah disuguhi tutorial cara terbang tanpa sayap yang jelas-jelas tidak bisa dipraktikkan di kantor saat macet melanda. Rasa-rasanya ingin sekali mengangkat tangan dan bertanya kepada ustaznya tentang bagaimana caranya mengubah air menjadi bensin pertamax, karena itu jelas lebih solutif bagi kehidupan umat saat ini. Namun, harapan tinggal harapan, karena biasanya di pengajian model begini, nalar kritis sering kali dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan atau bahkan gangguan jin yang harus segera diruqyah. Akhirnya, kita hanya bisa duduk manis sambil menahan kantuk, mendengarkan kisah heroik masa lalu yang jaraknya ribuan tahun cahaya dari realitas kita yang sedang pusing memikirkan cicilan pinjol.

Nah, di tengah keputusasaan mencari oase spiritual yang ramah nalar dan membumi itulah, saya menyarankan sampeyan untuk sekali-kali mencoba duduk bersila di pengajian Muhammadiyah. Jangan kaget kalau di sana sampeyan tidak akan menemukan aroma kemenyan atau cerita tentang karomah tokoh yang bisa menghilang saat ditagih hutang oleh tetangga. Suasana di pengajian Muhammadiyah itu kering dari nuansa mistis, saking keringnya kadang terasa seperti sedang rapat dewan direksi perusahaan start-up yang sedang membahas valuasi dan ekspansi bisnis. Di sini, alih-alih membahas cara melipatgandakan uang secara gaib, sampeyan akan diajak memutar otak tentang bagaimana caranya mengumpulkan dana umat untuk membangun sesuatu yang nyata dan bisa dilihat mata telanjang. Tidak ada sensasi merinding disko akibat cerita horor, yang ada justru kening yang berkerut memikirkan target pembangunan yang disampaikan dengan detail layaknya presentasi arsitek profesional.

Bagi para pencari sensasi magis dan penikmat cerita legenda urban, pengajian model Muhammadiyah ini jelas terasa hambar, garing, dan membosankan setengah mati karena tidak ada atraksi debus sama sekali. Bagaimana tidak membosankan, lha wong materi yang dibahas tidak jauh-jauh dari urusan semen, batu bata, keramik, perizinan tanah, hingga manajemen aset wakaf yang njlimetnya minta ampun. Penceramahnya tidak akan berbusa-busa menceritakan konon kabarnya beliau pernah shalat Jumat di Masjidil Haram padahal jasadnya terlihat tidur di serambi masjid kampung. Justru penceramahnya akan datang membawa tumpukan proposal pembangunan gedung sekolah baru atau rencana renovasi panti asuhan yang atapnya sudah mulai bocor dimakan rayap. Jamaah tidak diajak untuk melayang ke awang-awang membayangkan surga yang abstrak, tapi diajak menapak bumi untuk menciptakan kepingan surga kecil bagi mereka yang membutuhkan.

Masuk ke lingkungan pengajian Muhammadiyah itu ibarat masuk ke dalam sebuah ekosistem birokrasi langit yang sangat terstruktur, sistematis, dan masif dalam artian yang positif tentunya. Sampeyan akan segera menyadari bahwa fokus utama dari perkumpulan ini adalah kerja nyata, kerja keras, dan kerja cerdas untuk kemaslahatan umat manusia tanpa memandang bulu. Jangan harap bisa pulang membawa jimat penglaris dagangan atau air doa yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit mulai dari panu hingga kanker stadium akhir. Oleh-oleh dari pengajian ini biasanya berupa semangat yang meletup-letup untuk ikut serta dalam proyek kemanusiaan atau minimal rasa malu karena belum bisa berbuat banyak untuk orang lain. Di sini, kesalehan seseorang tidak diukur dari seberapa lama ia bisa bertapa di gua sunyi tanpa makan dan minum, melainkan dari seberapa besar kontribusinya dalam mewujudkan fasilitas publik yang bermanfaat.

Coba perhatikan baik-baik materi kajiannya, hampir selalu bermuara pada ajakan untuk mendirikan masjid yang makmur, sekolah yang berkemajuan, rumah sakit yang melayani, hingga kampus yang mencerahkan. Orang-orang Muhammadiyah ini sepertinya punya obsesi aneh untuk mengubah setiap jengkal tanah wakaf menjadi bangunan produktif yang bisa memutar roda ekonomi dan pendidikan umat. Kalau ada tanah kosong, naluri kemuhammadiyahan mereka akan langsung bergetar hebat dan merumuskan rencana pembangunan amal usaha, bukan merumuskan tempat untuk mencari wangsit. Bagi mereka, membiarkan tanah menganggur tanpa dimanfaatkan untuk kepentingan umat adalah sebuah dosa sosial yang harus segera ditebus dengan amal nyata berupa pembangunan infrastruktur. Maka tak heran jika aset Muhammadiyah bertebaran di mana-mana, dari kota besar hingga pelosok desa yang sinyal internetnya pun masih senin-kamis.

Isi pengajiannya benar-benar pragmatis dalam artian yang paling mulia, yaitu bagaimana agama ini bisa hadir sebagai solusi konkret atas permasalahan hidup sehari-hari yang dihadapi masyarakat. Ketika orang lain sibuk berdebat tentang dalil memanjangkan jenggot atau celana cingkrang, orang Muhammadiyah sudah sibuk meletakkan batu pertama pembangunan klinik kesehatan ibu dan anak. Mereka seolah ingin menegaskan bahwa Islam itu bukan hanya sekadar ritual penyembahan di atas sajadah, tapi juga gerakan sosial yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Narasi yang dibangun adalah narasi pemberdayaan, di mana setiap individu didorong untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing dengan kapasitas yang dimilikinya. Jadi, kalau sampeyan datang ke sana dengan niat ingin belajar ilmu kebal, siap-siap saja kecewa berat karena yang diajarkan adalah ilmu kebal kemiskinan lewat etos kerja dan kewirausahaan.

Di Muhammadiyah, yang dikaji secara mendalam dan berulang-ulang adalah soal bagaimana hidup yang singkat ini agar bisa benar-benar bermanfaat bagi sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Filosofi ini tertanam kuat di benak para kadernya, sehingga orientasi hidup mereka bukan lagi sekadar menyelamatkan diri sendiri dari api neraka, tapi juga menyelamatkan orang lain dari neraka dunia. Mereka percaya bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, sebuah prinsip yang terdengar klise tapi sangat berat pelaksanaannya di lapangan. Tidak ada tempat bagi egoisme spiritual yang hanya mementingkan kesalehan ritual pribadi sambil menutup mata terhadap penderitaan tetangga yang kelaparan atau anak yatim yang putus sekolah. Kesaktian yang diakui di sini adalah kesaktian mengubah uang receh sumbangan jamaah menjadi gedung bertingkat yang melahirkan ribuan sarjana setiap tahunnya.

Cerita-cerita hikmah yang disampaikan di mimbar pengajian Muhammadiyah bukanlah soal kesaktian supranatural orang sakti di masa lampau yang bisa terbang atau menghilang sesuka hati. Yang diceritakan adalah kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan Kiai Ahmad Dahlan yang rela melelang barang-barang rumah tangganya demi menggaji guru-guru di sekolah yang didirikannya. Kisah tentang bagaimana para pendahulu organisasi ini berdarah-darah mempertahankan sekolah dan panti asuhan di tengah gempuran penjajah dan keterbatasan ekonomi yang mencekik leher. Heroisme yang ditonjolkan adalah heroisme pengorbanan harta dan jiwa untuk memastikan roda organisasi tetap berputar memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Tidak ada bumbu mistis yang ditambahkan, karena realitas perjuangan mereka sudah cukup dramatis dan menggetarkan hati tanpa perlu tambahan efek khusus ala film Hollywood.

Justru di sinilah letak keunikan dan kekuatan narasi Muhammadiyah, yang berhasil membumikan sosok-sosok teladan menjadi manusia biasa yang bisa ditiru jejak langkahnya oleh siapa saja. Kiai Dahlan digambarkan bukan sebagai superman yang tak tersentuh, melainkan sebagai manusia biasa yang punya rasa cemas, punya masalah keuangan, tapi punya tekat baja untuk memajukan umatnya. Pendekatan ini membuat jamaah merasa relevan dan terhubung, karena mereka sadar bahwa untuk menjadi mulia tidak perlu menunggu punya sayap atau punya ilmu rawa rontek. Cukup dengan memiliki kepedulian sosial dan mau menyisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan bersama, siapa pun bisa menjadi pahlawan di lingkungannya masing-masing tanpa terkecuali. Ini adalah demokratisasi kesalehan yang luar biasa, di mana tiket masuk surga tidak dimonopoli oleh mereka yang punya privilege keturunan atau kesaktian tertentu.

Kesederhanaan dan kebermanfaatan menjadi dua kata kunci yang terus didengungkan di setiap kesempatan, seolah menjadi mantra wajib yang harus dihafal di luar kepala. Pejabat teras Muhammadiyah sering kali tampil dengan gaya yang jauh dari kesan glamor atau feodal, bahkan kadang sulit dibedakan mana pimpinan pusat dan mana marbot masjid saking sederhananya. Mereka mengajarkan bahwa jabatan dan kekayaan hanyalah alat titipan Tuhan yang harus digunakan seefektif mungkin untuk melayani umat, bukan untuk minta dilayani atau disembah-sembah. Budaya egaliter ini sangat kental terasa, di mana kritik dan masukan bisa disampaikan dengan terbuka tanpa rasa takut kualat pada sang pemimpin. Sebab di sini, yang disucikan adalah nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, bukan sosok individu yang dianggap setengah dewa.

Jamaah pengajian akan diajak untuk melihat bekal akhirat sebagai sebuah rangkaian panjang yang terhubung langsung dengan setiap tindakan kecil yang kita lakukan di dunia ini. Pandangan ini menolak dikotomi atau pemisahan yang kaku antara urusan duniawi dan ukhrawi, seolah-olah keduanya adalah dua kutub yang saling bermusuhan dan tidak bisa didamaikan. Di Muhammadiyah, bekerja mencari nafkah yang halal, belajar ilmu pengetahuan umum, dan berorganisasi adalah bagian integral dari ibadah itu sendiri jika diniatkan dengan benar. Jadi, jangan heran kalau rapat pengurus ranting yang membahas anggaran renovasi toilet masjid pun dianggap sama sakralnya dengan wirid di sepertiga malam terakhir. Karena toilet yang bersih akan membuat jamaah nyaman beribadah, dan kenyamanan itu adalah bagian dari pelayanan yang bernilai pahala di sisi Tuhan.

Melihat akhirat itu bukan sesuatu yang terpisah dari realitas kita saat ini, bukan sebuah dunia antah berantah yang baru akan kita masuki setelah jantung berhenti berdetak nanti. Akhirat adalah perpanjangan dari apa yang kita tanam hari ini, sebuah konsekuensi logis dari setiap keputusan yang kita ambil detik demi detik di dunia yang fana ini. Konsep ini memaksa kita untuk selalu sadar dan waspada dalam bertindak, karena setiap langkah punya dampak jangka panjang yang melintasi batas kematian. Tidak ada istilah "nanti saja tobatnya kalau sudah tua", karena membangun peradaban akhirat harus dimulai sejak muda dengan karya nyata yang monumental. Surga itu tidak bisa diraih hanya dengan melamun atau berangan-angan, tapi harus direbut dengan keringat dan kerja keras dalam menebar kebaikan di muka bumi.

Sesuatu yang wah dan megah di akhirat nanti hanyalah refleksi dari akumulasi kebaikan-kebaikan kecil yang kita tumpuk dengan telaten selama hidup di dunia. Bayangkan akhirat itu seperti sebuah celengan raksasa yang isinya adalah koin-koin amal jariyah yang kita masukkan setiap hari tanpa henti, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Muhammadiyah mengajarkan kita untuk menjadi investor akhirat yang cerdas, yang tahu portofolio amal mana yang memberikan dividen pahala paling besar dan berkelanjutan alias sustainable. Makanya mereka gencar membangun institusi pendidikan dan kesehatan, karena itulah jenis investasi yang pahalanya tidak akan putus meski investornya sudah terkubur di dalam tanah. Ini adalah strategi manajemen spiritual tingkat tinggi yang menggabungkan visi visioner dengan eksekusi lapangan yang presisi.

Dunia ini harus diisi dengan berlomba-lomba dengan kebaikan, sebuah kompetisi sehat yang tidak saling menjatuhkan tapi saling menguatkan satu sama lain dalam koridor kebajikan. Tidak ada waktu untuk saling sikut atau saling dengki melihat keberhasilan orang lain, karena fokus utama adalah bagaimana kita bisa memberikan kontribusi terbaik versi diri kita sendiri. Persaingan di sini bukan soal siapa yang paling kaya atau paling populer, tapi siapa yang paling banyak memberi manfaat dan solusi bagi permasalahan umat. Atmosfer kompetisi ini menciptakan dinamika yang positif, di mana setiap cabang dan ranting Muhammadiyah berlomba-lomba memamerkan prestasi amal usahanya, bukan memamerkan koleksi batu akiknya. Dan hebatnya, "pamer" di sini justru memicu semangat pihak lain untuk meniru dan melakukan hal yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Sehingga akhirat itu terlihat sebagai sebuah akumulasi kebaikan yang solid, bukan sekadar harapan kosong yang digantungkan pada doa orang lain setelah kita mati. Kita diajarkan untuk menjadi arsitek nasib kita sendiri di masa depan dengan menggambar desain amal saleh yang kokoh dan tahan uji sejak hari ini. Tidak ada jalan pintas menuju surga, tidak ada cheat code atau kode curang yang bisa dipakai untuk menembus gerbang keabadian tanpa bekal yang cukup. Semuanya harus melalui proses, melalui tahapan perjuangan yang kadang melelahkan dan penuh tantangan, tapi di situlah letak seninya beragama.

Muhammadiyah menawarkan jalan yang terjal tapi jelas petanya, bukan jalan yang terlihat mulus tapi ternyata menyesatkan ke lembah kemalasan dan fatalisme.

Makanya di Muhammadiyah ada salah satu semboyan yang terkenal yang dikutip dari Alquran, sebuah frasa pendek namun memiliki daya ledak yang luar biasa bagi siapa saja yang merenunginya: Fastabiqul Khairat. Kalimat ini bukan sekadar slogan tempelan yang dipajang di spanduk-spanduk acara atau kop surat organisasi semata. Ini adalah etos, ini adalah ruh, ini adalah bahan bakar nuklir yang menggerakkan mesin organisasi raksasa ini selama lebih dari satu abad lamanya. Fastabiqul Khairat yang berarti "berlomba-lombalah dalam kebaikan" adalah perintah suci yang diterjemahkan menjadi aksi nyata tanpa banyak basa-basi diplomasi. Semboyan ini menampar kita yang sering kali merasa cukup dengan menjadi orang baik yang pasif, padahal menjadi baik saja tidak cukup, kita harus berlomba menjadi yang terbaik dalam memberi manfaat.

Fastabiqul Khairat itu maknanya bukan balapan lari karung 17 Agustusan yang ada menang dan ada kalahnya, di mana yang kalah akan bersedih hati. Dalam konteks ini, semua orang bisa jadi pemenang asalkan mereka bergerak, asalkan mereka tidak diam berpangku tangan melihat ketidakadilan dan kebodohan merajalela. Ini adalah seruan untuk proaktif, inisiatif, dan progresif dalam merespons tantangan zaman yang semakin gila ini dengan solusi yang konstruktif. Ketika ada bencana alam, semangat ini mewujud dalam bentuk pasukan relawan yang turun duluan ke lokasi sebelum bantuan pemerintah sampai. Ketika ada wabah penyakit, semangat ini mewujud dalam kesiapan rumah sakit-rumah sakit Muhammadiyah menjadi garda terdepan penanganan pasien tanpa tanya isi dompetnya dulu.

Bentuk implementasinya di lapangan sangat beragam dan sering kali membuat kita geleng-geleng kepala karena saking totalitasnya orang-orang Muhammadiyah ini dalam beramal. Lihatlah bagaimana ibu-ibu Aisyiyah yang usianya sudah senja masih semangat mengelola Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal di pelosok desa dengan gaji yang mungkin hanya cukup untuk beli bensin motor. Lihatlah bagaimana para pemuda Muhammadiyah patungan uang jajan mereka untuk membedah rumah warga miskin yang hampir roboh tanpa mengharap diliput media massa. Lihatlah bagaimana LazisMu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah dengan manajemen modern yang transparan sehingga setiap rupiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya. Semua itu adalah manifestasi nyata dari Fastabiqul Khairat, bukan sekadar jargon kosong yang diteriakkan saat kampanye pemilihan ketua umum saja.

Semboyan ini juga mengajarkan kita untuk tidak cepat berpuas diri dengan pencapaian yang sudah diraih, karena di atas langit masih ada langit, di atas kebaikan masih ada kebaikan yang lebih besar. Jika hari ini sudah berhasil membangun satu sekolah, maka besok targetnya adalah membangun universitas, dan lusa targetnya mungkin membangun stasiun luar angkasa kalau perlu. Tidak ada kata berhenti atau pensiun dalam kamus perjuangan Muhammadiyah, karena berhenti berarti mati, berhenti berarti membiarkan kebatilan mengambil alih panggung sejarah. Semangat untuk terus bertumbuh dan berkembang inilah yang membuat organisasi ini tetap relevan dan segar meski zaman terus berubah dengan cepatnya. Mereka tidak sibuk meratapi masa lalu kejayaan Islam, tapi sibuk menyusun batu bata peradaban untuk kejayaan masa depan Islam yang berkemajuan.

Uniknya, kompetisi dalam kebaikan ini dilakukan dengan penuh kegembiraan, seolah-olah membangun rumah sakit itu sama asyiknya dengan main futsal bareng teman-teman satu geng. Tidak ada wajah-wajah tertekan atau menderita saat mereka dimintai sumbangan, yang ada justru senyum lebar karena merasa diberi kesempatan untuk menanam saham di akhirat. Dompet boleh menipis, rekening boleh berkurang, tapi hati mereka kaya raya dengan keyakinan bahwa apa yang mereka keluarkan akan kembali berlipat ganda dalam bentuk keberkahan. Logika matematika sedekah ala Muhammadiyah memang sering kali tidak masuk di akal para ekonom kapitalis, tapi terbukti ampuh menjaga cashflow organisasi tetap hijau royo-royo. Keajaiban itu nyata adanya, tapi bukan lewat jampi-jampi, melainkan lewat kekuatan jamaah yang solid dan ikhlas lillahi ta'ala.

Ciri khas lain dari implementasi Fastabiqul Khairat adalah profesionalitas dalam mengelola amal usaha, tidak dikelola dengan sistem manajemen "pokoknya jalan" atau manajemen warung kopi. Sekolah Muhammadiyah harus punya standar mutu yang jelas, rumah sakitnya harus terakreditasi paripurna, dan laporan keuangannya harus diaudit oleh akuntan publik independen. Mereka sadar bahwa niat baik saja tidak cukup, niat baik harus didukung dengan tata kelola yang baik agar hasilnya maksimal dan tidak malah menjadi beban di kemudian hari. Tuhan mencintai pekerjaan yang dilakukan dengan itqan (profesional/tuntas), dan Muhammadiyah berusaha menerjemahkan cinta Tuhan itu ke dalam SOP organisasi yang ketat. Jadi, jangan harap bisa korupsi di sini, karena malaikat pencatat amal dan auditor internal sama-sama galaknya dalam mengawasi setiap sen uang umat.

Bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun, semangat berlomba dalam kebaikan ini terasa denyutnya, misalnya dalam urusan ketepatan waktu memulai acara pengajian atau rapat organisasi. Budaya jam karet alias ngaret yang sudah mendarah daging di masyarakat kita berusaha dikikis pelan-pelan, meskipun kadang masih ada satu dua yang telat dengan alasan ban bocor yang klise. Disiplin waktu dianggap sebagai bagian dari amanah dan penghormatan terhadap waktu orang lain yang juga berharga untuk berbuat kebaikan lainnya. Menghargai waktu adalah menghargai kehidupan itu sendiri, dan orang Muhammadiyah tidak mau menyia-nyiakan kehidupan dengan menunggu hal-hal yang tidak pasti. Semuanya harus terencana, terukur, dan tepat sasaran, agar energi umat tidak habis hanya untuk urusan seremonial belaka.

Pada akhirnya, ajaran di pengajian Muhammadiyah ini menawarkan sebuah perspektif keberagamaan yang

Sore itu langit kota kami sedang mendung syahdu, seolah mengerti perasaan teman saya yang duduk di depan meja dengan wajah ditekuk tujuh lipatan. Kami sedang berada di sebuah warung kopi langganan yang biasanya riuh rendah, namun entah kenapa aura teman saya ini membuat kopi yang saya pesan terasa lebih pahit dari biasanya. Ia baru saja pulang dari kampus setelah seharian mengikuti rapat maraton kepanitiaan wisuda universitasnya yang konon sangat melelahkan jiwa dan raga. Saya yang niat awalnya ingin minta traktir gorengan jadi urung karena melihat gelagatnya yang seperti orang baru saja kalah judi bola. Ia menghela napas panjang berkali-kali, sepertinya sedang menata kalimat agar sumpah serapahnya tidak keluar secara membabi buta. Sebagai kawan yang baik dan budiman, saya membiarkannya menumpahkan segala uneg-uneg yang menyumbat di dada agar tidak jadi penyakit stroke di usia muda.

Ilustrasi Wisuda
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Setelah menyeruput kopinya yang tinggal separuh, ia mulai bercerita bahwa rapat tadi berjalan cukup alot dan menguras emosi, terutama di sesi pembahasan prosesi senat. Teman saya ini kebetulan dipercaya menjadi salah satu panitia inti yang mengurusi detail acara wisuda agar terlihat sakral dan megah. Di tengah rapat, dengan niat yang sungguh mulia, ia mengusulkan agar paduan suara menyanyikan lagu Gaudeamus Igitur saat senat universitas memasuki ruangan. Menurutnya, lagu itu punya magis tersendiri yang bisa bikin suasana wisuda jadi merinding disko saking khidmatnya. Ia berpendapat bahwa lagu itu sudah semacam lagu wajib tidak tertulis bagi wisudawan di seluruh penjuru dunia. Rasanya ada yang kurang jleb kalau momen pemindahan kuncir toga tidak dibarengi dengan alunan nada klasik yang megah itu.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru membuat teman saya ini melongo tak percaya, seolah-olah ia baru saja melihat sapi terbang melintasi gedung rektorat. Usulannya itu ditolak mentah-mentah oleh salah satu anggota panitia yang kebetulan merupakan dosen senior dan mantan petinggi di salah satu fakultas di kampus tersebut. Penolakan itu bukan didasari oleh alasan teknis durasi atau ketiadaan penyanyi, melainkan karena alasan yang menurut teman saya sangat "ajaib". Sang dosen sepuh itu menolak lagu Gaudeamus Igitur diputar karena menganggap lagu itu berasal dari tradisi gereja yang tidak sesuai dengan napas kampusnya. Teman saya sempat terdiam beberapa detik, mencoba mencerna logika macam apa yang sedang dipakai oleh beliau. Ia merasa seperti sedang berada di lorong waktu, terlempar ke masa di mana segala sesuatu dicurigai tanpa dasar yang jelas.

Mendengar cerita itu, saya yang sedang mengunyah tahu bunting sontak berhenti mengunyah karena saking herannya dengan jalan pikir yang diceritakan teman saya. Bisa-bisanya di era informasi yang serba terbuka ini, masih ada akademisi yang memelihara ketakutan tak berdasar terhadap sebuah karya seni legendaris. Padahal setahu saya, universitas adalah tempat bertemunya segala macam pemikiran, tempat di mana nalar diuji dan wawasan diperluas tanpa sekat-sekat prasangka. Kalau lagu wisuda saja dipermasalahkan dengan sentimen keagamaan yang sempit, bagaimana nasib diskursus ilmu pengetahuan yang lebih kompleks nanti. Teman saya melanjutkan ceritanya, bahwa ia sempat mencoba berargumen dengan sopan untuk meluruskan pandangan bapak dosen tersebut. Ia berusaha menjelaskan bahwa lagu itu sifatnya universal dalam konteks akademik dan sudah diadopsi oleh ribuan kampus di dunia tanpa memandang latar belakang agama.

Dalam debat kecil di ruang rapat itu, teman saya mencoba menggunakan logika balik yang cukup cerdas untuk mematahkan argumen soal "tradisi gereja" tersebut. Ia berkata pada sang dosen, kalau memang kita mau konsisten menolak segala hal yang berbau tradisi gereja, maka wisuda itu sendiri harusnya ditiadakan. Perlu diketahui bersama bahwa sejarah wisuda, mulai dari jubah toga hingga topi segi lima, itu semua berakar kuat dari tradisi gereja abad pertengahan di Eropa. Universitas-universitas tertua di dunia dulunya didirikan oleh ordo keagamaan, dan pakaian wisuda itu adalah adaptasi dari jubah para pendeta. Jadi, sungguh sebuah ironi yang menggelikan jika lagunya ditolak karena alasan asal-usul, tapi kostumnya dipakai dengan bangga sambil senyum-senyum difoto.

Teman saya bercerita bahwa ia menjelaskan panjang lebar soal sejarah toga itu di depan forum rapat, berharap bisa membuka sedikit cakrawala pemikiran para hadirin. Bahwa toga yang hitam panjang itu menyimbolkan kaum terpelajar yang memisahkan diri dari keduniawian, sebuah konsep yang sangat kental nuansa klerusnya di masa lalu. Bahkan istilah gelar akademik seperti "bachelor" pun punya akar sejarah yang tak bisa dilepaskan dari konteks keagamaan masa lampau di Barat. Jadi kalau mau "murni" dan anti-barat atau anti-gereja, ya sekalian saja wisudanya pakai baju adat daerah masing-masing tanpa embel-embel toga. Tapi tentu saja, argumen rasional itu memantul begitu saja di tembok keteguhan hati sang dosen senior yang sepertinya sudah imun terhadap fakta sejarah.

Yang membuat teman saya makin geleng-geleng kepala adalah ketika sang dosen mengeluarkan kartu as argumennya yang kedua, yang menurut saya lebih absurd lagi. Beliau mengklaim bahwa arti dari lirik lagu Gaudeamus Igitur itu mengandung ajakan sesat untuk bersenang-senang dan melupakan Tuhan. Katanya, lirik lagu itu berbahaya bagi moral mahasiswa karena mengajak pada hedonisme yang tidak sesuai dengan nilai luhur bangsa kita. Teman saya sampai ingin memijat keningnya sendiri mendengar interpretasi lirik yang sepertinya didapat dari pesan berantai grup WhatsApp keluarga itu. Bagaimana bisa seorang pengajar mengambil kesimpulan seserius itu hanya dari pembacaan sekilas tanpa memahami konteks budaya dan sastra di baliknya.

Saya mendengarkan keluhan teman saya itu sambil tertawa kecil, menertawakan betapa lucunya nasib nalar di negeri ini yang kadang macet di tempat yang tak terduga. Padahal kalau bapak dosen itu mau meluangkan waktu sedikit saja untuk membaca (bukankah dosen tugasnya membaca?), ia akan tahu makna sebenarnya. Gaudeamus Igitur adalah frasa Latin yang berarti "Karenanya marilah kita bergembira", sebuah ajakan wajar untuk merayakan kelulusan. Lagu ini sejatinya adalah lagu pergaulan mahasiswa abad pertengahan, semacam drinking song atau lagu pesta anak muda zaman old di Eropa sana. Isinya adalah tentang perayaan masa muda, bukan mantra pemujaan atau doa ritual agama tertentu seperti yang ditakutkan.

Jika kita bedah liriknya lebih dalam, lagu ini justru sangat filosofis dan mengingatkan manusia pada kodratnya yang fana dan tidak kekal. Ada bait yang sangat terkenal berbunyi "Post jucundam juventutem, post molestam senectutem, nos habebit humus". Artinya kurang lebih begini Setelah masa muda yang riang, setelah masa tua yang payah, tanah akan memiliki kita. Itu adalah konsep Memento Mori, pengingat akan kematian, bahwa sehebat apapun kita belajar, ujung-ujungnya kita akan mati juga. Jadi di mana letak ajakan sesatnya, wong lagunya malah mengingatkan kita supaya sadar bahwa hidup ini singkat.

Justru lagu ini mengajarkan semangat Carpe Diem, raihlah hari ini, manfaatkan waktu selagi masih muda dan bugar untuk berkarya. Mumpung belum tua, mumpung belum sakit-sakitan, mumpung belum pikun, marilah kita rayakan pencapaian akademik ini dengan sukacita. Pesan moralnya sangat dalam, bahwa kegembiraan wisuda itu hanya sesaat sebelum kita menghadapi realitas hidup yang keras dan akhirnya kematian. Interpretasi "sesat" yang dituduhkan itu rasanya terlalu jauh panggang dari api, menunjukkan betapa minimnya referensi yang dibaca. Mungkin beliau hanya membaca satu baris terjemahan lalu imajinasinya liar kemana-mana sampai ke jurang kesesatan.

Saya jadi ikut merenung mendengar cerita teman saya, bagaimana mungkin orang dengan posisi akademis tinggi bisa memiliki pandangan yang begitu sempit alias "sumbu pendek". Bukankah tugas utama seorang pendidik adalah mengajarkan cara berpikir kritis dan memverifikasi informasi sebelum menghakiminya. Kalau dosennya saja gampang termakan bias informasi dan enggan mencari kebenaran sejarah, bagaimana dengan mahasiswanya nanti. Mahasiswa yang notabenenya adalah generasi Z yang haus informasi butuh mentor yang bisa membuka wawasan, bukan menutupnya. Kasihan sekali mahasiswa kalau harus dicekoki ketakutan-ketakutan irasional yang sebenarnya tidak perlu ada di ruang kuliah.

Kejadian di ruang rapat ini hanyalah potret kecil dari masalah yang lebih besar di dunia pendidikan kita, yaitu matinya nalar kritis di hadapan otoritas senioritas. Seringkali argumen yang masuk akal dan didukung data harus kalah dengan argumen "pokoknya" yang dilontarkan oleh mereka yang merasa lebih tua. Teman saya akhirnya memilih mengalah dalam rapat itu, bukan karena ia setuju, tapi karena ia sadar debat kusir tak akan mengubah batu menjadi roti. Lagu Gaudeamus Igitur pun batal berkumandang, digantikan oleh lagu lain yang dianggap lebih "aman" dan tidak mengundang murka langit menurut tafsir sepihak. Padahal, esensi wisuda tetaplah sama, dan sejarah toga yang mereka pakai pun tetaplah berasal dari tradisi yang mereka hindari itu.

Sungguh sebuah paradoks yang menggelikan, menolak satu elemen budaya karena sentimen, tapi memeluk erat elemen lain dari budaya yang sama tanpa rasa bersalah. Ini ibarat orang yang anti makanan Jepang tapi hobi makan Takoyaki di pinggir jalan karena dikira itu jajanan dari salah satu daerah di Indonesia. Ketidaktahuan sejarah seringkali membuat kita bersikap lucu dan inkonsisten, tapi sayangnya ketidaktahuan itu dipelihara oleh ego. Saya menepuk pundak teman saya, mencoba memberinya sedikit kekuatan agar ia tidak terlalu frustrasi menghadapi realita ini. "Sudahlah," kata saya, "mungkin beliau memang kurang piknik atau kurang referensi bacaan sejarahnya."

Diskusi kami di warung kopi itu berlanjut ke hal-hal yang lebih substansial mengenai masa depan mahasiswa yang dididik oleh model pengajar seperti itu. Mau jadi apa mahasiswa kita jika kebiasaan malas riset dan cepat menghakimi itu menular dari dosen ke anak didiknya. Nanti kita akan punya sarjana-sarjana yang kagetan, yang melihat perbedaan sedikit langsung teriak sesat atau haram tanpa mau tabayyun dulu. Mereka akan gagap menghadapi dunia global yang cair, di mana pertukaran budaya adalah hal yang tak terelakkan. Padahal tantangan zaman sekarang butuh manusia yang luwes, adaptif, dan mampu melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang (helikopter view).

Pendidikan tinggi seharusnya menjadi benteng terakhir akal sehat, tempat di mana segala prasangka diuji dan dibedah, bukan malah dilestarikan. Kalau di kampus saja orang tidak bisa membedakan antara tradisi akademik dan ritual keagamaan, lantas di mana lagi kita bisa berharap. Jangan-jangan nanti ada mahasiswa yang mengajukan skripsi tentang filsafat Yunani ditolak karena dianggap memuja Zeus. Ini lonceng bahaya bagi iklim intelektual kita, yang pelan-pelan digerogoti oleh cara berpikir dangkal yang berbaju kesalehan. Kita butuh dosen yang bisa bilang "Mari kita kaji" bukan dosen yang sedikit-sedikit bilang "Itu berbahaya".

Teman saya itu masih tampak masygul, mungkin membayangkan betapa tidak epiknya wisuda nanti tanpa iringan lagu yang ia perjuangkan. Ia membayangkan para wisudawan berjalan masuk dengan iringan lagu standar yang membosankan, kehilangan momen sakral yang seharusnya bisa dikenang seumur hidup. Padahal musik punya kekuatan untuk membangun emosi, dan Gaudeamus Igitur punya struktur nada yang pas untuk momen perayaan kelulusan. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, lagunya sudah ditolak, dan panitia harus jalan terus. Yang penting honor cair dan acara lancar, begitu mungkin pikir anggota panitia yang lain yang cari aman.

Saya lantas berpikir, jangan-jangan ketakutan berlebihan terhadap hal-hal asing ini adalah wujud dari rasa tidak percaya diri kita sebagai bangsa. Kita takut identitas kita luntur hanya karena menyanyikan sebuah lagu berbahasa Latin yang umurnya sudah ratusan tahun. Padahal identitas yang kuat itu tidak akan goyah hanya karena persentuhan budaya, justru akan semakin kaya. Orang yang percaya diri dengan imannya tidak akan merasa jadi murtad hanya karena mendengar lagu Jingle Bells di mal atau Gaudeamus di wisuda. Sempitnya wawasan membuat kita jadi bangsa yang parnoan, curigaan, dan sibuk mengurusi kulit luar daripada isinya.

Sambil menghabiskan sisa kopi, saya mencoba menghibur teman saya dengan lelucon satir bahwa mungkin tahun depan dia harus usul wisuda pakai musik dangdut saja. Atau sekalian pakai koplo panturaan biar meriah dan pasti tidak akan dituduh kebarat-baratan oleh dosen sepuh itu. Teman saya tertawa kecut, menyadari betapa absurdnya situasi yang ia hadapi di lingkungan kerjanya sendiri. Kami berdua sepakat bahwa menjadi pintar secara akademis belum tentu menjamin seseorang itu bijak dalam bersikap dan berpikir. Gelar berderet ternyata tidak mampu mengobati penyakit "kurang baca" yang sepertinya sudah mewabah di mana-mana.

Obrolan sore itu menyadarkan saya bahwa tugas mencerdaskan kehidupan bangsa ternyata masih jauh dari kata selesai, bahkan di lingkungan kampus sekalipun. Masih banyak PR untuk membenahi cara pikir, bukan sekadar membenahi kurikulum atau membangun gedung bertingkat yang mentereng. Nalar yang sehat adalah aset bangsa yang paling berharga, dan itu harus dijaga dari virus kedangkalan berpikir. Kalau para "Resi" di kampus saja sudah terjangkit virus itu, maka kita tinggal menunggu waktu untuk panen generasi yang bingung arah.

Matahari mulai tergelincir ke barat, dan warung kopi tempat kami nongkrong mulai dipenuhi oleh mahasiswa yang mengerjakan tugas atau sekadar mabar. Saya menatap wajah-wajah muda itu dengan penuh harap, semoga mereka lebih rajin membaca daripada dosen yang diceritakan teman saya tadi. Semoga mereka punya rasa ingin tahu yang besar, yang tidak mudah puas dengan satu sumber informasi yang belum tentu valid. Kalianlah harapan masa depan, Dek, jangan sampai otak kalian jadi tumpul karena dididik untuk takut berpikir berbeda. Gunakan akses internet di tangan kalian untuk mencari kebenaran, bukan sekadar untuk joget-joget di media sosial.

Teman saya akhirnya beranjak dari kursinya, wajahnya sudah sedikit lebih cerah setelah menumpahkan segala kekesalan hatinya pada saya. Ia bersiap pulang, mungkin untuk menyusun rundown acara wisuda yang baru tanpa lagu kebanggaan mahasiswa sedunia itu. Saya pun bersiap pulang, membawa serta cerita lucu sekaligus miris ini sebagai bahan renungan di perjalanan. Bahwa di negeri ini, hal-hal yang logis seringkali kalah oleh hal-hal yang mistis atau sentimen yang tidak pada tempatnya.

Satu hal yang pasti, wisuda akan tetap berjalan, toga akan tetap dipakai, dan mahasiswa akan tetap lulus dengan membawa ijazah. Soal apakah mereka lulus dengan membawa nalar yang kritis atau tidak, itu urusan lain yang lebih rumit dari sekadar lagu. Mungkin suatu hari nanti, ketika generasi teman saya ini memegang kendali, Gaudeamus Igitur bisa berkumandang dengan bebas. Tanpa rasa curiga, tanpa tuduhan sesat, dan disambut sebagai perayaan universal atas kemenangan ilmu pengetahuan.

Sampai saat itu tiba, mari kita nikmati saja drama-drama kecil di dunia pendidikan kita sembari menyeruput kopi dan mengelus dada. Karena marah-marah pun percuma, hanya bikin darah tinggi dan tidak mengubah keputusan rapat yang sudah diketok palu. Lebih baik kita tulis saja jadi cerita, biar bisa dibaca orang banyak dan ditertawakan bersama keabsurdannya. Sebab, menertawakan kebodohan diri sendiri adalah langkah awal untuk menjadi manusia yang lebih waras.

Malam pun turun perlahan di kota kami ini, menutup hari dengan sebuah kesadaran bahwa jalan menuju pencerahan memang berliku dan penuh polisi tidur. Hati-hati di jalan kawan, jangan lupa pakai helm, dan jangan lupa bahagia meski usulan lagumu ditolak mentah-mentah. Hidup memang kadang sebercanda itu, dan kita adalah aktor-aktor yang dipaksa tertawa dalam skenario yang kadang tidak masuk akal.

(Mohon maaf jika ada kesamaan tokoh atau kejadian, ini murni obrolan warung kopi yang mungkin saja terjadi di dimensi lain. Ambil hikmahnya, buang ampas kopinya.)

Pagi tadi saya tidak ke pantai. Juga tidak ke kolam renang. Dua tujuan favorit saya di hari Minggu. Kali ini jalurnya berbeda. Saya belok ke Balai Buntar. Sebuah gedung pertemuan milik Pemprov yang letaknya hanya sepuluh menit dari rumah. Biasanya gedung itu tampak besar tapi sepi, terlebih Senin sampai Jumat. Pintu terkunci. Lampu padam. Halamannya lengang. Tapi Minggu pagi seperti tadi, tempat itu berubah jadi ruang hidup yang ramai dan penuh energi.

Kendaraan saya melaju pelan memasuki area parkir. Matahari belum tinggi, tapi suara orang berolahraga sudah ramai. Ada yang lari memutari halaman. Ada yang jalan cepat sambil memakai smartwatch. Ada yang senam mengikuti instruktur. Ada yang mengatur nafas, melakukan pendinginan, atau sekadar duduk menunggu teman. Udara pagi itu seperti punya nada riang. Ada getaran semangat yang sulit dicari di hari kerja.

Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Saya datang bersama istri dan anak-anak. Dua anak saya membawa sepeda kecilnya. Mereka langsung melesat begitu turun dari kendaraan. Istri saya tersenyum, mengawasi sebentar, lalu bergabung jalan kaki bersama saya. Rencana kami sederhana, enam putaran mengelilingi halaman Balai Buntar. Lumayan untuk memeras keringat. Lumayan untuk membuang lemak yang saya kumpulkan dari rapat dan makan tak teratur sepanjang minggu.

Putaran pertama masih enteng. Nafas belum terasa berat. Putaran kedua mulai ada keringat di dahi. Putaran ketiga mulai terasa ritmenya. Sejak putaran pertana kami bertemu rekan sesama dosen. Ia sedang berjalan sendiri. Kami lalu berjalan bertiga. Ngobrol sambil terus melangkah. Obrolannya macam-macam. Mulai dari mahasiswa, penelitian, sampai tugas administrasi yang tidak pernah selesai.

Putaran kelima terasa lebih cepat karena sambil bercerita. Putaran keenam terasa paling berat. Mungkin karena kami sudah mulai gobyos. Tapi, justru di saat itu tubuh terasa lebih hidup. Keringat seperti membersihkan kepala. Ada rasa lega yang muncul tiap kali Minggu pagi saya habiskan seperti ini.

Sambil pendinginan, mata saya menangkap lapak kecil di pojok. Lapak kukusan. Kukusan di sini bukan kue mewah. Isinya sederhana sekali. Pisang kukus. Ubi kukus. Jagung kukus. Singkong kukus. Filosofi jajanan sehat yang diproses selembut mungkin, tapi tetap membuat tenaga pulih. Asapnya mengepul dari panci besar yang berada di atas kompor kecil. Meja sederhana menopang semuanya. Dulu hanya meja polos dengan spanduk kecil. Pagi ini saya melihat ia sudah punya tulisan nama lapaknya. Lebih rapi. Lebih meyakinkan.

Saya mendekat. Ada aroma khas kukusan yang membuat saya seperti kembali ke masa kecil. Penjualnya mengangkat kepalanya, lalu tersenyum. Tak lupa ia menyalami tangan saya. Ia mengenali saya duluan. Ferdi. Mantan mahasiswa saya. Pernah ikut kelas yang saya ajar. Pernah saya bimbing saat magang. Pernah tanya banyak hal soal dunia kerja. Kini ia berdiri di hadapan saya, bukan sebagai mahasiswa, tapi sebagai pelaku usaha.

Saya senang melihatnya. Ada kebanggaan kecil yang muncul tanpa saya sadari. Lapak ini ia mulai sejak September. Sebulan sebelum ia wisuda. Saya jadi ingat bagaimana ia dulu cukup rajin di kelas. Tidak paling pintar. Tidak paling vokal. Tapi serius. Anak jenis ini biasanya memproses hal dalam-dalam, lalu bergerak tanpa banyak kata.

Saat pertama kali ia buka lapak, ia hanya membawa meja kecil. Kukusan seadanya. Kompor kecil. Dan banner kecil. Tanpa branding. Pagi ini lapaknya berbeda. Masih kecil. Masih sederhana. Tapi sudah punya identitas. Ada tulisannya. Ada penyusunan produk lebih rapi. Ada kesan bahwa ia terus memperbaiki.

Saya tanya bagaimana penjualannya. Ia bilang cukup bagus. Kadang habis sebelum jam sembilan. Kadang sisa sedikit. Bahkan pas saya datang, tinggal sisa beberapa saja. Saya melihat matanya berbinar. Energi seorang pemilik usaha kecil yang masih mencintai proses. Belum lelah oleh hitung-hitungan besar. Masih menikmati tiap pembeli yang datang.

Saya membeli 1 bungkus. Kombinasi Pisang, ubi, dan singkong. Ferdi melayani cepat. Tangannya cekatan. Saya sempat mengamati caranya membungkus. Ada kebiasaan tersendiri. Setiap pembungkusannya dilakukan dengan teliti. Tidak asal. Mungkin karena ia menyadari pembeli pagi ini baru selesai olahraga. Mereka ingin makan yang bersih, sehat, dan tidak ribet. Dan seperti biasa, jika saya yang beli pasti diberi lebih. Pernah saya tegur jangan sering-sering ngasih lebih karena ini jualan, dia bilang tidak apa-apa.

Anak istri saya ikut menghampiri. Anak-anak langsung mengambil jagung kukus. Istri mencicipi ubi. Mereka bilang enak. Saya tersenyum. Ada kepuasan tersendiri melihat keluarga saya menikmati hasil kerja mantan mahasiswa saya sendiri.

Saya lalu cerita ke istri bahwa semester ini saya mengajar lima kelas bisnis dan kewirausahaan dari 3 program studi berbeda. Di beberapa kelas saya sering menjadikan Ferdi contoh. Saya tunjukkan bagaimana ia melihat peluang. Bagaimana ia memilih lokasi. Bagaimana ia tidak malu menjual kukusan. Saya bilang ke mahasiswa bahwa kewirausahaan tidak selalu berarti aplikasi digital, startup, pitching, dan inkubator. Kadang hanya berarti membaca situasi dan mengambil langkah kecil.

Ferdi membaca gelombang gaya hidup sehat yang sedang melanda kota. Ia melihat bahwa Balai Buntar adalah salah satu titik teramai di Bengkulu untuk olahraga. Selain Pantai Panjang. Selain Stadion Sawah Lebar. Ia hitung kemungkinan. Ia perkirakan kebutuhan orang. Ia pikirkan jajanan apa yang cocok dikonsumsi setelah olahraga. Dan ia pilih kukusan.

Saya sering bilang ke mahasiswa, peluang datang ke mereka yang tangannya bergerak. Ke mereka yang bangun lebih pagi. Ke mereka yang tidak menunggu posisi prestisius dengan meja dan AC. Ferdi memilih jalur itu. Ia tidak terjebak gengsi sarjana. Ia tidak malu menjual makanan sederhana. Orang seperti ini biasanya bertahan lebih lama.

Melihat Ferdi pagi ini membuat saya ingat mahasiswa saya yang lain. Lulus tahun 2017. Membangun bisnis wahana bermain anak. Jenis hiburan yang sering ada di lapangan atau ruang terbuka. Saya pernah melihatnya. Ada odong-odong. Ada trampolin. Ada permainan bola warna-warni. Usahanya terlihat sederhana, tapi ternyata tidak kecil.

Suatu hari saya berbincang dengan karyawannya. Saya tanya omzet. Angkanya membuat saya terdiam. Jauh lebih besar dari karyawan kantoran yang terlihat meyakinkan. Bahkan ketika Lebaran, omzetnya melonjak berkali lipat. Si pemiliknya bercerita bahwa ia sering ditanya orang kenapa mau mengurusi wahana anak seperti itu. Ia jawab bahwa ia malu jika tidak bekerja. Ia malu jika bergantung pada orang lain.

Pola pikir yang sama saya lihat pada Ferdi. Tidak menunggu. Tidak menunda. Tidak overthinking. Mulai saja. Jalan dulu. Perbaiki sambil berjalan. Keringat pagi membuat langkahnya lebih tajam. Embun di Balai Buntar menjadi saksi usaha kecil yang bisa tumbuh besar jika ketekunan mengiringinya.

Saya berdiri agak lama di depan lapak Ferdi. Saya lihat satu per satu pembeli datang. Ada ibu-ibu baru selesai senam. Ada bapak-bapak baru selesai lari enam putaran seperti saya. Ada remaja yang sekadar beli satu porsi pisang untuk dibawa pulang. Ferdi melayani semua dengan ramah.

Anak muda seperti dia membuat saya yakin bahwa masa depan kota ini tidak kurang orang rajin. Mereka mungkin tidak muncul di baliho. Tidak naik panggung. Tidak bicara soal visi besar. Tapi mereka bekerja. Mereka bangun lebih pagi. Mereka mengukus panganan sederhana untuk orang yang berolahraga.

Olahraga saya pagi itu selesai lebih cepat dari biasanya. Tapi saya merasa mendapat lebih banyak. Tidak hanya keringat. Tapi juga pengingat. Bahwa keberanian wirausaha bukan soal modal. Bukan soal status. Bukan soal gelar. Tapi soal siapa yang berani mulai.

Balai Buntar memang gedung pertemuan. Gedung yang ramai hanya saat pernikahan Sabtu–Minggu. Tapi bagi saya, Balai Buntar pagi tadi berubah menjadi ruang kuliah terbuka. Tanpa absen. Tanpa proyektor. Tanpa dosen berdiri di depan. Pengajarnya adalah Ferdi. Materinya adalah keberanian memulai.

Seusai membeli kukusan, saya pamit ke Ferdi. Ia tersenyum. Saya juga tersenyum. Kami tidak lama bicara. Tapi cukup memberi saya bahan renungan untuk seharian. Sebelum pergi saya ajak dia berfoto di depan lapaknya. Saya berjalan kembali ke istri dan anak-anak. Melihat mereka menikmati pagi membuat saya merasa Minggu ini lengkap.

Sebelum pulang, saya sempatkan melihat lagi halaman Balai Buntar dari kejauhan. Lapangan itu penuh gerak. Penuh suara tawa. Penuh semangat orang-orang yang memulai Minggu dengan langkah kecil tapi penting. Dan di sudut itu, lapak kecil Ferdi terus mengepul. Menandai keberanian seorang anak muda menghadapi hidup.

Setiap Minggu pagi, Balai Buntar seperti mengajarkan hal yang sama. Bahwa rezeki itu mengikuti langkah. Bahwa hidup bergerak bersama keputusan kecil yang kita ambil. Bahwa keberanian tidak harus besar untuk terlihat. Kadang ia muncul dalam bentuk pisang kukus dan panci kecil.

Untuk para sarjana muda, jangan takut berwirausaha. Jangan menunggu semuanya siap. Jangan menunggu dunia memberi tempat dulu. Mulailah dari yang kecil. Dari yang bisa dilakukan hari ini. Karena langkah kecil itulah yang suatu hari menjadi pondasi langkah besar.

Dan siapa tahu, pada suatu Minggu pagi, orang-orang berhenti di depan lapak Anda. Lalu berkata, seperti saya berkata pada Ferdi pagi tadi: “Kamu hebat. Kamu sudah memulai.”

Saya sedang di Solo. Sudah dua hari. Acara kampus. Formal, padat, tapi penuh tawa. Malam ini, usai acara penutupan, saya ingin keluar sebentar. Ingin menikmati Solo tanpa batik dan name tag. Hujan sejak pagi membuat niat itu bolak-balik saya pertimbangkan. Ingin jalan kaki, tapi rintiknya belum berhenti juga. Akhirnya saya menyerah pada teknologi. Saya buka ponsel, pesan Grab.

Awalnya saya pilih Grab Bike. Ingin merasakan semilir udara malam Solo sambil hujan kecil. Tapi nihil. Tak ada yang mau ambil order. Mungkin semua pengemudi sedang berteduh di bawah jembatan atau warung kopi. Lalu saya ganti jadi Grab Car. Tak sampai dua menit langsung disambar. Mobilnya datang cepat. Toyota Agya. Warna hitam.

Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Sopirnya ramah. Lelaki paruh baya. Jawa halus. Dari logatnya saya tahu dia wong Solo tulen. Kami langsung klik. Bahasa yang kami pakai pun bukan bahasa Indonesia, tapi bahasa Jawa kromo alus. Sudah jarang saya pakai sehari-hari di Bengkulu. Tapi di Solo, bahasa itu terasa hidup. Seperti pulang ke masa kecil.

Saya sempat berpikir, mungkin saya generasi terakhir di keluarga yang fasih bicara bahasa Jawa halus. Anak-anak saya tumbuh di lingkungan yang semua orangnya berbahasa Indonesia. Bahasa nasional sudah jadi lingua franca di rumah kami. Kadang saya coba ajak mereka ngomong Jawa, mereka jawab pakai Indonesia. Saya kalah. Tapi ya sudahlah.

Sopir itu bertanya, saya dari mana, sedang apa di Solo. Saya jawab singkat, acara kampus. Dia antusias. Lalu bertanya, kampus apa. Saya bilang, dari Muhammadiyah. Seketika nada suaranya berubah. Lebih semangat. Lebih cair. Ia bilang, “Wah, Muhammadiyah itu hebat, Pak.” Saya tertawa kecil.

Lalu ia melanjutkan, “Negara saja utang ke Muhammadiyah, lho.” Saya tahu maksudnya. Ia bicara soal pembayaran klaim BPJS yang sering telat ke rumah sakit Muhammadiyah. Ia bercerita dengan gaya jenaka, tapi isinya serius. “Artinya Muhammadiyah lebih dipercaya rakyat daripada negara,” katanya sambil tertawa. Saya ikut tertawa.

Ia bercerita panjang soal kampus Muhammadiyah. Katanya sekarang sudah jadi kampus elit. Pendaftarnya belasan ribu. Tapi yang lulus wisuda cuma dua ribu. Saya tanya kenapa bisa begitu. Dia menjawab, “Yang lain masih jadi donatur kampus karena tidak lulus-lulus.” Saya tersenyum. Jawaban khas wong Solo.

Saya jawab pelan, “Kalau di tempat kami, beda.” Di kampus saya, kami masih mencari mahasiswa seperti orang mencari sinyal di hutan. Sedikit. Susah. Sistem pendidikan tinggi sekarang berat bagi kampus kecil. Status PTNBH memberi keistimewaan ke yang besar, tapi yang kecil seperti kami jadi megap-megap.

Mobil terus melaju di jalan basah. Lampu kota memantul di aspal. Suasana tenang. Kami masih ngobrol. Lalu topik berubah. Politik. Saya kira cuma di Bengkulu orang suka bicara politik di mana saja. Di warung, di masjid, di acara kawinan. Tapi di Solo pun begitu. Bedanya, di Bengkulu politiknya masa kini. Di Solo, politiknya masa lalu.

Sopir itu tiba-tiba bicara soal 1998. Soal masa reformasi. Ia bilang dirinya dulu aktivis. Tahun 90-an. Ia menyebut beberapa nama. Salah satunya Budiman Sudjatmiko. Ia bilang mereka dulu sering satu gerakan. Ia mengaku pernah berkali-kali menyelamatkan Budiman dari kejaran aparat yang berniat menjebloskannya ke penjara. Saya tertegun.

Dari caranya bercerita, saya percaya. Ia tidak sedang mengarang. Nada suaranya berat ketika menyebut “tahun-tahun itu.” Katanya, banyak kawan yang hilang. Ada yang tak kembali. Ada yang pindah ideologi. Ada yang diam karena kecewa.

Ia bilang sesuatu yang menarik. “Reformasi itu keliru kalau menganggap Amien Rais dan Megawati sebagai tokoh utamanya.” Ia berhenti sebentar, lalu menoleh ke saya. “Mereka hanya punya panggung. Tapi yang berjuang di lapangan, itu anak-anak muda yang tak dikenal.”

Saya mengangguk. Pandangannya tajam, tapi tanpa kebencian. Ia tidak sedang menyerang siapa pun. Ia hanya mengingat. Ia tahu panggung sejarah sering tidak adil. Nama besar sering datang dari mikrofon, bukan dari keringat.

Ia menambahkan, “Waktu itu, kami bergerak di bawah tanah. Tak ada media. Tak ada sorotan. Tapi tanpa kami, tak ada massa yang bergerak.” Saya tidak menjawab. Saya biarkan ia terus bercerita. Saya ingin tahu bagaimana ia memaknai masa itu sekarang.

Lalu ia tertawa. “Dulu kami pikir reformasi akan membawa keadilan. Ternyata yang datang hanya ganti seragam.” Saya tertawa kecil. Kalimatnya pahit, tapi disampaikan dengan ringan. Ia sudah berdamai dengan sejarahnya sendiri.

Saya bertanya, “Kalau sekarang, ikut partai?” Ia menggeleng. “Sudah kapok, Pak.” Katanya, dulu ia pernah dicoba direkrut partai, tapi menolak. Ia merasa sudah cukup berjuang. Sekarang, ia hanya ingin kerja tenang. “Cukup antar orang seperti Bapak,” katanya sambil tersenyum.

Saya kagum. Banyak orang menua dengan getir. Tapi dia menua dengan tenang. Ia berdamai dengan masa lalu tanpa kehilangan semangat. Di usianya sekarang, ia tetap berpikir jernih. Masih mengikuti isu politik, tapi tanpa benci.

Ia bilang masih sering ketemu teman-teman lamanya. Sesekali reuni kecil. Sekadar minum kopi dan membahas masa 98 yang semakin jauh. “Yang bikin sedih, Pak, banyak yang sekarang malah jadi bagian dari sistem yang dulu kami lawan,” ujarnya. Saya paham rasa itu. Idealisme memang punya umur.

Ia bercerita lagi, bahwa dulu pernah ingin kuliah. Tapi tak sempat. Keluarga tak mampu. Ia kerja sambilan sejak SMA. Sekarang, anaknya yang kuliah. Ia bangga sekali. “Mungkin ini balasan dari perjuangan dulu, Pak,” katanya pelan.

Saya menatap keluar jendela. Hujan makin deras. Wiper mobil bergerak ritmis. Jalanan basah, tapi Solo tetap indah. Ada sesuatu yang romantik dari kota ini. Tidak dalam arti cinta, tapi dalam rasa tenang yang lembut.

Obrolan kami berpindah lagi. Soal pendidikan. Ia merasa sekolah sekarang terlalu sibuk mengejar nilai, bukan karakter. Ia bilang, “Kalau anak saya nilainya biasa-biasa saja tapi jujur, saya sudah bangga.” Kalimat sederhana, tapi dalam.

Saya mengangguk. Dunia sekarang memang cepat sekali. Anak-anak seperti dikejar waktu. Nilai, ranking, prestasi, semua jadi ukuran. Padahal yang paling penting, kadang yang tidak bisa diukur.

Ia sempat bertanya, bagaimana pandangan saya soal kampus Muhammadiyah ke depan. Saya jawab, kampus Muhammadiyah akan kuat kalau tetap memegang akar. Tidak ikut-ikutan jadi “negeri rasa negeri.” Kampus harus tetap jadi tempat mencetak manusia, bukan hanya pekerja.

Ia mengiyakan. “Dulu kami berjuang agar rakyat bisa bebas berpikir. Tapi sekarang, pikiran dibatasi oleh algoritma,” katanya. Saya terdiam. Benar juga. Dulu yang dikontrol adalah tubuh. Sekarang, pikiran. Bedanya, sekarang kontrolnya halus dan tersenyum.

Kami tiba di warung yang saya tuju. Sederhana. Warung susu segar pinggir jalan. Uap panas keluar dari panci besar. Aroma khas susu menyeruak. Saya bayar ongkos, lalu berterimakasih sudah diantar ditengah gerimis begini.

Sebelum pergi, ia menyalami saya. “Terima kasih, Pak. Sudah mau ngobrol. Sudah lama saya tidak pakai bahasa kromo.” Saya tertawa. “Sama, pak. Saya juga.” Kami tertawa bersama.

Mobilnya perlahan menjauh. Hujan belum juga berhenti. Saya duduk di kursi plastik, memesan susu segar panas. Sambil menatap jalan, saya berpikir tentang bahasa, tentang perjuangan, tentang usia. Semua bergerak ke arah yang tak bisa saya tahan.

Malam itu saya minum pelan. Mungkin karena susunya panas, atau karena saya ingin menikmati tiap sendoknya. Di luar, lampu jalan memantul di air hujan. Solo malam itu terasa seperti buku lama yang masih wangi.

Saya pulang dengan perasaan hangat. Bukan karena susu, tapi karena percakapan. Kadang, obrolan singkat dengan orang asing memberi makna lebih dalam daripada seminar yang megah. Sopir Grab itu, tanpa sadar, telah mengingatkan saya pada banyak hal. Tentang bahasa yang hilang. Tentang idealisme yang tua. Tentang hidup yang terus berjalan.

Dan saya tersenyum dalam hati. Solo tetap sama. Tenang. Halus. Seperti bahasa yang nyaris punah di lidah saya sendiri.

Kemarin sore, udara Bengkulu masih mengandung sisa-sisa panas dari matahari yang seharian tak mau berkompromi. Saya melangkah keluar dari gedung pertemuan, hasil workshop kawan-kawan aktivis lingkungan masih bergema di kepala. Hari itu, saya memang sengaja tidak membawa kendaraan. Bukan karena ingin bergaya hemat, tapi lebih ke alasan efisiensi yang kini terasa semakin relevan. Di tengah krisis BBM, antrean motor dan mobil mengular sampai ke mulut jalan. Daripada harus ikut mengantre lima jam hanya demi 5 liter bensin, lebih baik saya minta istri yang menjemput anak—sementara saya memesan ojek online saja.

Pengemudi ojol yang datang sore itu mengenakan jaket hijau lusuh yang warnanya mulai pudar. Helmnya ada dua: satu untuk dia, satu untuk saya. Kami menyusuri jalan utama kota Bengkulu yang kini menjadi semacam lorong bensin. Di kiri-kanan jalan, SPBU disesaki motor. Dalam kondisi seperti itu, saya rasa, mengobrol lebih baik daripada mengutuk jalanan.
Ilustrasi Ojol dan Penumpang (Gambar : AI Generated)

Saya mulai dengan pertanyaan ringan: sudah antre berapa jam hari ini? Dia tersenyum miris, “Tadi pagi lima jam, Pak. Itu pun cuma dapat tiga liter.” Saya mengangguk, pura-pura tidak kaget. Walau dalam hati saya tetap bertanya-tanya, bagaimana orang seperti dia bisa tetap tersenyum dalam tekanan seperti itu? Mungkin karena sudah terbiasa, atau mungkin karena dalam hidupnya, senyum adalah salah satu bentuk perlawanan.

Obrolan kami lalu mengalir. Ia mulai bercerita tentang rekan-rekannya sesama pengemudi ojol yang kini sebagian sudah pindah kerja karena keadaan kelangkaan BBM saat ini. Ada yang jadi pedagang bensin eceran, ada yang jadi joki pengunjal bensin (tukang beli bensin dengan kendaraan, lalu dijual ke pengecer dengan harga tinggi). “Yang penting gak nganggur, Pak,” katanya. Saya diam sejenak. Ada kebenaran sederhana yang terasa begitu kuat dari kalimat itu. Karena dalam hidup, kadang yang kita butuhkan bukan jabatan, tapi keberanian untuk terus bergerak.

Lalu ia bertanya saya kerja di mana. Saya jawab singkat, “Ngajar di kampus.” Ia tampak tertarik. Lalu bertanya di program studi apa. Saya bilang di manajemen. Saat itu saya mulai merasa bahwa pengemudi ini bukan pengemudi biasa. Ada ketertarikan yang khas dalam pertanyaannya. Dia tahu istilah akademik. Tahu bahwa manajemen bukan sekadar mengelola orang, tapi juga mengelola kemungkinan.

Dan seperti mendapat bahan bakar baru, ia pun mulai menyodorkan pertanyaan demi pertanyaan soal manajemen. Tentang kepemimpinan, tentang bagaimana orang bisa tahu arah kalau tidak ada peta, tentang mengapa strategi tak selalu berhasil. Saya menjawab semampu saya. Kadang serius, kadang dengan contoh dari kehidupan pribadi saya. Salah satunya tentang bagaimana saya membangun sistem kecil di keluarga.

Saya ceritakan padanya, bahwa saya percaya sistem itu bukan hanya milik perusahaan besar. Di keluarga kecil saya, kami punya sistem keuangan, sistem waktu belajar anak, sistem darurat kalau saya tiba-tiba harus absen selamanya. Karena saya percaya, manajemen bukan teori. Ia adalah cara menyusun hidup supaya tidak kacau ketika guncangan datang tiba-tiba.

Saya tambahkan, bahwa kalau sistem itu bagus, maka orangnya bisa diganti, tapi kerja tetap jalan. Dan dalam hal ini, seorang gubernur atau walikota mestinya tidak sibuk tampil di televisi atau media sosial. Ia mestinya sibuk merancang sistem. Agar ketika dia lengser, rakyat tetap bisa menikmati hasil kerja, bukan cuma kenangan foto bersama.

Ia mengangguk, entah benar-benar paham atau hanya sopan. Tapi saya lanjutkan, karena momentum percakapan itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Ia lantas bertanya mengaitkannya dengan politik. Di Bengkulu, warganya ini sangat tertarik dengan obrolan politik. Bahkan mungkin 70% obrolan warung kopi topiknya soal politik. Inilah kenapa Bengkulu ini beda dengan yang lain.

Saya katakan bahwa dalam politik, sistem itu sering kalah oleh popularitas. Karena sistem tidak bisa dijual cepat. Ia tidak memukau. Ia bekerja diam-diam, di balik layar.

Saya lalu mencontohkan Anies Baswedan. Saat ia memimpin Jakarta, banyak yang mengkritiknya tidak “kelihatan kerja.” Padahal, ia sedang membuat sistem transportasi bernama Jaklingko. Sistem itu tidak menggantungkan diri pada satu operator, tapi menyambungkan berbagai moda dan tarif dalam satu integrasi. Itu bukan ide populer. Tapi lima tahun kemudian, orang baru sadar bahwa sistem itu menyelamatkan banyak orang dari keruwetan harian.

“Kalau gubernur Bengkulu sekarang gimana, Pak?” tiba-tiba dia bertanya. Saya tertawa kecil. Saya jawab, “Saya bukan komentator politik.” Tapi ia terus mendesak. Katanya, “Saya ingin tahu dari sisi manajemen. Kan sudah seratus hari kerja, tapi belum terasa sistemnya.” Pertanyaan itu menohok, tapi juga jujur. Saya tidak bisa menolaknya.

Saya lalu menjelaskan bahwa seratus hari bukan waktu yang cukup untuk membangun sistem. Tapi cukup untuk menunjukkan arah. Kalau sampai seratus hari rakyat tidak bisa menebak arah ke mana kepemimpinan ini akan dibawa, maka itu masalah manajerial. Karena seorang pemimpin yang baik adalah seorang komunikator sistem.

Saya tidak menjawab apakah gubernur sekarang baik atau tidak. Saya lebih suka menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan bukan pada pidato atau trending di Media Sosial, tapi pada apakah rakyat bisa hidup lebih mudah. Kalau antre BBM tetap lima jam, maka itu tanda sistem distribusi belum berubah.

Ia mengangguk lagi. Kali ini lebih dalam. “Berarti jadi gubernur itu kayak manajer ya, Pak?” Saya jawab, “Ya. Tapi lebih rumit, karena stakeholder-nya banyak, dan ekspektasinya liar.” Ia tertawa. Saya pun ikut tertawa. Tawa dua orang di atas motor, di tengah jalan yang padat kendaraan yang sedang mengantre, terasa seperti jeda dari peliknya hidup.

Saya tahu, pengemudi ini tidak sedang bercanda. Ia serius ingin tahu. Mungkin karena ia juga pernah kuliah. Mungkin karena ia sedang mencari arah baru dalam hidup. Atau bisa jadi, karena hidup telah mengajarkannya bahwa ilmu tidak hanya milik mereka yang di balik meja.

Kami tiba di depan rumah. Saya turun dari motor, mengembalikan helm. Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Saya pun mengangguk, mengucapkan doa dalam hati: semoga sistem dalam hidupnya terus menguat. Karena dalam dunia yang tak menentu ini, sistem adalah satu-satunya jaring pengaman.

Saat saya masuk rumah, obrolan tadi masih membekas. Saya berpikir, mungkin seharusnya kita semua belajar manajemen. Bukan untuk jadi manajer perusahaan, tapi untuk jadi manajer hidup. Supaya kita tidak tenggelam dalam kekacauan yang kita ciptakan sendiri.

Saya jadi teringat mahasiswa-mahasiswa saya. Mereka sering bertanya, “Pak, kalau nanti saya tidak kerja di kantor, apa gunanya belajar manajemen?” Sekarang saya tahu jawaban terbaiknya: karena hidupmu sendiri adalah perusahaan terpenting yang akan kamu kelola seumur hidupmu.

Jadi, jika suatu hari kamu jadi sopir, guru, kepala dusun, atau bahkan hanya kepala dapur, jangan minder. Selama kamu tahu cara mengatur, menyusun, dan membenahi, kamu sudah menjalankan peranmu sebagai manajer. Dan itu sudah cukup mulia.

Saya tidak tahu latar belakang pengemudi tadi. Tapi saya tahu, ia telah membuat saya menulis ini. Ia telah mengingatkan saya bahwa ilmu bukan untuk digantung di dinding, tapi untuk dijalani dalam keseharian.

Maka saya percaya, selama masih ada orang seperti dia, negeri ini tidak akan benar-benar kehilangan arah. Karena harapan tak selalu lahir dari kantor gubernur. Kadang, harapan itu datang dalam bentuk tukang ojol, di tengah sore yang panas, dengan dua helm dan sejuta cerita.
Langit sore itu merah seperti kain yang diwarnai oleh tangan-tangan tak terlihat. Hari ketika kau berdiri di depan penghulu dengan gaun putih yang kau rancang sendiri, gemetar namun tegas. Aku memandangmu, menyadari bahwa ijab qabul yang barusan kuucapkan bukanlah sekadar ritual—tapi guncangan dahsyat yang mengubah peta hidupku selamanya.  

Sepuluh tahun. Ratusan piring masakan yang kau buat pagi-pagi sebelum aku bangun. Aku belajar bahwa pernikahan bukan tentang dua orang yang sempurna, melainkan dua orang yang rela mengakui ketidaksempurnaannya.  
Aku dan Kamu (Foto : Dokumentasi Pribadi)
Kita pernah terdampar di bandara asing tengah malam, dompet kosong, dan hanya punya sekotak bekal untuk dibagi. Kau memecahnya dengan gigitan yang adil, lalu tertawa seperti itu bukan masalah. Di saat itulah aku paham: kebahagiaan kita tidak diukur dari apa yang kita miliki, tapi dari apa yang rela kita bagi.  

Anak pertama kita lahir di tengah badai pandemi. Saat dokter menaruhnya di kotak inkubator, kau menangis bukan karena sakit, tapi karena takjub. Aku melihat cahaya baru di matamu—cahaya yang sekarang selalu ada setiap kali kau memandang mereka.  

Kita seperti dua pohon yang akarnya sudah saling melilit. Terkadang kita berebut sinar matahari, berebut nutrisi, tapi selalu berakhir saling menopang ketika angin kencang datang.  

Aku mulai beruban. Kau mulai suka mengeluh pegal. Tapi matamu masih berbinar seperti gadis 25 tahun yang kutemui dulu. Mungkin cinta itu semacam keabadian—ia tidak mencegah kita menua, tapi memastikan kita tetap mengenali satu sama lain di balik keriput dan uban.  

Kita sudah melalui pemakaman bersama—keluarga, sahabat, bahkan janin yang tak sempat melihat dunia. Kehilangan itu mengajari kita bahwa yang paling berharga bukanlah benda, melainkan waktu yang kita habiskan bersama.  

Pandemi mengurung kita dalam rumah selama berbulan-bulan. Awalnya kita saling menjengkelkan, tapi lambat laun menemukan ritme baru: kau belajar memasak hidangan yang biasa kubeli di luar, aku belajar memijat kakimu yang lelah. Terkadang bencana justru mengingatkan kita pada berkah yang selama ini diabaikan.  

Aku masih suka memandangimu tidur. Cara napasmu yang pelan, sesekali mengigau hal tak penting, tangan yang terkadang meraihku dalam gelap seperti memastikan aku masih ada. Tidurmu adalah pengakuan paling jujur bahwa kau percaya padaku.  

Kita mulai lupa tanggal-tanggal penting, tapi ingat persis rasa kesal pertama kita, aroma parfum yang kau kenakan saat pertama kali kencan, bahkan nada dering teleponmu di tahun 2015 yang sudah tak dipakai lagi. Memori itu aneh—ia membuang yang seharusnya diingat, tapi menyimpan yang tak terduga.   
 

Di usia pernikahan yang kesepuluh ini, aku menyadari bahwa "mereka hidup bahagia selamanya" itu bukanlah akhir cerita. Itu justru bab baru yang lebih menantang—di mana cinta harus terus dipilih setiap hari, bukan sekadar dirasakan.  

Mungkin nanti kita akan pikun. Lupa nama satu sama lain. Tapi aku yakin kita akan tetap ingat cara mencintai—seperti sungai yang tak pernah lupa jalannya ke laut.  

Hari ini, di antara rutinitas yang sudah begitu familiar, aku ingin menegaskan lagi: sepuluh tahun lagi, ketika rambut kita sudah sepenuhnya putih, aku akan masih mencari wajahmu di keramaian, masih menggenggam tanganmu saat menyeberang jalan, dan masih bersyukur bahwa langit mempertemukan kita.  

Karena pernikahan kita bukan tentang kesempurnaan. Bukan tentang kebahagiaan yang datar. Tapi tentang dua manusia yang memilih untuk terus tumbuh bersama, meski akarnya kadang terluka, meski dahannya pernah patah.  

Dan esok, ketika matahari terbit lagi, kita akan mulai hari yang baru seperti biasa—dengan segala ketidaksempurnaan, dengan segala keajaiban kecil yang hanya kita berdua yang mengerti. Seperti sepuluh tahun yang lalu. Seperti kemarin. Seperti besok. 

Selamat Anniversary ke-10, Cinta
Postingan Lama Beranda

TENTANG PENULIS


Ayah penuh waktu. Penyuka kue lupis dan tempe goreng. Bekerja sebagai penulis partikelir semi-amatir. Kadang-kadang juga jadi tukang dongeng

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

ACADEMIC LEARNING ACCESS

My Courses

KOMIKU

Memuat komik...

Artikel Populer

  • EMPAT PILAR YANG SUDAH LAMA TUMBANG, TAPI MASIH SAJA DISOSIALISASIKAN
  • KETIKA TUJUH RIBU RUPIAH MENGUBAH RASA MIE PEDAS YANG CUKUP TERKENAL
  • UCAPAN YANG LEWAT BEGITU SAJA
  • DIUNDANG HAJATAN PADAHAL SAYA BAHKAN TIDAK TAHU NAMA PENGANTENNYA
  • KAPAL INDUK ITU BUKAN HADIAH

TEMATIK

Ramadan Bercerita
Tulisan di Media Massa
Opini 1
Kompas.ID
Papan Bunga: antara Ekspresi Tulus dan Konsumerisme Berlebihan
Opini 2
DetikNews
Birokratisasi Kepahlawanan
Opini 3
DetikNews
Tsunami Jurnal di Indonesia
Opini 4
DetikNews
Disrupsi Alam dan Kebutaan Akademik Kita
Opini 1
DetikNews
Pendidikan (Tanpa) Kompetisi
Opini 2
DetikNews
Tanggung Jawab Media Sosial Pascapemilu
Opini 3
DetikNews
Senjakala Sekolah Negeri?
Opini 4
DetikNews
Kado Manis untuk Pekerja Migran
Opini 4
DetikNews
Rapat dan Efisiensi Anggaran
Opini 4
DetikNews
Menggugat Jurnal-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Konsep Pariwisata Bengkulu yang Berkelanjutan
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba
TribunNews Bengkulu
Menyelamatkan Ekonomi Bengkulu dari Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai
Opini 4
Tirto.ID
Senjakala Toko Buku di Indonesia, Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Opini 4
Tirto.ID
Empat Titik Kerawanan Pemungutan Suara di Luar Negeri
Opini 4
Tirto.ID
Salah Kaprah Susu Kental Manis: Literasi Gizi dan Tipu-Tipu Iklan
Opini 4
Taipei Times
University attraction to Indonesia
Opini 4
Media Indonesia
Pentingnya Literasi Digital di Era Modern

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 2

ADVERTORIAL 2
DMCA.com Protection Status

BUKU KAMI YANG TELAH TERBIT

Copyright © 2013-2024 Andi Azhar. Oleh Andi Azhar