Dua bulan lalu saya naik ojek ke kampus. Pengemudinya bertanya apakah saya dosen. Ketika saya bilang saya mengajar di Prodi Manajemen, nada suaranya berubah. Dia bilang dia juga lulusan manajemen, konsentrasi pemasaran, wisuda 2023, cum laude. Bukan dari kampus saya.
Saya tanya kenapa dia tidak melamar ke perusahaan. Jawabannya panjang, dan saya rangkum begini. Perusahaan sekarang tidak lagi membeli ijazah. Yang mereka cari adalah orang yang bisa mengerjakan hal-hal yang belum sanggup dikerjakan kecerdasan buatan. Dan hal-hal itu, katanya, tidak pernah diajarkan di kelas.
Saya tidak bisa membantahnya. Sepanjang sisa perjalanan saya cuma mengangguk sambil menghitung berapa banyak mata kuliah yang saya ampu yang benar-benar membekali seseorang untuk mengerjakan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan sebuah model bahasa dalam tiga menit.
Jawabannya tidak banyak.
![]() |
| Ilustrasi (Credit : AI Generated Pics) |
Beberapa waktu lalu beredar daftar lima bidang studi penyumbang pengangguran sarjana terbesar. Manajemen di urutan pertama, 10,3 persen. Daftar itu dikutip di mana-mana, biasanya dengan komentar bahwa lulusan manajemen paling susah cari kerja.
Itu salah baca. LPEM FEB UI, yang menerbitkan angkanya dalam Labor Market Brief Juli 2026, sudah mengingatkan bahwa 10,3 persen adalah komposisi latar belakang pendidikan di antara penganggur sarjana, bukan tingkat pengangguran per jurusan. Bidang dengan lulusan terbanyak secara aritmetika akan menyumbang penganggur terbanyak. Kalau besok seluruh lulusan manajemen langsung bekerja, angka itu tetap tidak bisa dipakai menilai prospek jurusan mana pun.
Saya sebutkan ini bukan untuk membela Prodi Manajemen, tempat saya menerima gaji. Justru sebaliknya. Angka yang jauh lebih pantas ditakuti ada di laporan yang sama, dan nyaris tidak ada yang mengutipnya.
Dengan kerangka overeducation dari ILO, LPEM menaksir sekitar 8,01 juta lulusan minimal S-1 di Indonesia bekerja pada kelompok jabatan di bawah manajer dan tenaga profesional. Lebih dari 60 persen di antaranya mengisi pekerjaan tata usaha atau jasa dan penjualan.
Delapan juta orang. Mereka tidak masuk statistik pengangguran karena mereka memang bekerja. Mereka bekerja pada posisi yang sebetulnya tidak memerlukan gelar yang mereka bayar mahal selama empat tahun, ditambah biaya peluang berupa empat tahun penghasilan yang tidak pernah mereka terima. Kalau uang kuliah dan waktu itu dihitung, angkanya menjadi salah satu pemborosan sumber daya manusia terbesar yang sedang berlangsung di negeri ini, dan kita membicarakannya dengan santai.
Sekarang letakkan itu bersebelahan dengan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, survei terhadap lebih dari seribu perusahaan besar di 55 negara. Pekerjaan juru tulis dan tenaga administrasi berada di daftar teratas jabatan yang paling cepat menyusut hingga 2030. Sementara keterampilan yang permintaannya paling cepat naik adalah kecerdasan buatan dan data besar.
Jadi delapan juta sarjana kita menumpuk persis di jenis pekerjaan yang paling cepat hilang. Pengemudi ojek tadi menyimpulkan hal yang sama tanpa perlu membaca laporan mana pun.
Kritik yang sudah tua dan tidak pernah dijalankan
Kritik terhadap kurikulum manajemen sudah jadi genre tersendiri. Setiap tahun muncul di koran, di seminar, di rapat asosiasi program studi, dengan kesimpulan yang mirip-mirip. Semua orang setuju. Semua orang mengangguk. Lalu semester berikutnya berjalan dengan silabus yang sama.
Menurut saya persoalannya bukan lagi diagnosis. Diagnosisnya sudah selesai sejak lama. Yang belum pernah dijawab dengan jujur adalah kenapa kritik yang semua orang setujui tidak pernah dieksekusi. Ada empat sebab, dan tidak satu pun berhubungan dengan ketidaktahuan.
Pertama, beban mengajar. Setiap mata kuliah adalah SKS, dan setiap SKS adalah penghasilan bagi seseorang. Menghapus satu mata kuliah bukan keputusan akademik, melainkan keputusan yang memotong pendapatan kolega yang duduk di ruangan sebelah, yang mungkin sudah mengajarkannya selama dua belas tahun. Itu sebabnya kurikulum di banyak prodi hanya bertambah mata kuliahnya, alih-alih hanya berganti nama, tidak pernah berkurang atau berganti secara total. Setiap peninjauan kurikulum melahirkan mata kuliah baru bernama kekinian, sementara yang lama tetap dipertahankan supaya tidak ada yang kehilangan jatah. Hasilnya bukan pembaruan, melainkan penumpukan.
Kedua, dokumen mengalahkan isi. Perubahan kurikulum menuntut capaian pembelajaran lulusan, pemetaan, rencana pembelajaran semester, dan berkas akreditasi yang harus konsisten satu sama lain. Pekerjaan itu berat, tidak dibayar tambahan, dan hasilnya tidak kelihatan dalam laporan tahunan. Jauh lebih aman mengganti nama mata kuliah daripada mengganti isinya. Mata kuliah Manajemen Pemasaran diberi tambahan kata digital di belakangnya, dokumennya diperbarui, kotak akreditasi tercentang, dan bahan ajarnya tetap salindia yang sama dari tahun lalu.
Ketiga, yang diukur bukan yang penting. Prodi dinilai dari jumlah lulusan, masa tunggu kerja yang dilaporkan lewat tracer study berbasis pengisian sukarela, dan kelengkapan dokumen. Tidak ada satu pun instrumen resmi yang menanyakan apakah lulusan bisa mengerjakan sesuatu. Selama akreditasi bisa dipertahankan tanpa membuktikan kemampuan lulusan, tidak ada tekanan untuk membuktikannya.
Keempat, yang menanggung akibat sudah pergi. Prodi tetap terakreditasi. Dosen tetap menerima gaji. Rektorat tetap melaporkan angka lulusan. Yang menanggung akibat adalah orang yang sudah diwisuda, sudah keluar dari kampus, dan tidak lagi punya suara di rapat mana pun. Pengemudi ojek tadi tidak akan pernah hadir di rapat peninjauan kurikulum kampusnya. Sistem ini rapi justru karena korbannya tidak punya kursi di meja.
Selama empat hal itu tidak berubah, tulisan seperti ini akan terus muncul setiap tahun dan tidak akan mengubah apa pun.
Kuesioner yang selalu terlambat
Sekarang bagian teknisnya.
Mahasiswa manajemen masih diajari mengumpulkan data dengan menyebar kuesioner. Seratus responden, uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, lalu regresi atau pemodelan persamaan struktural. Itu metode yang sah, dan selama bertahun-tahun saya mengajarkannya persis seperti itu tanpa mempertanyakan apa pun. Persoalannya bukan metodenya, melainkan posisinya sebagai satu-satunya cara yang kami ajarkan selama empat tahun.
Kira-kira kurang dari satu dari seratus lulusan kami akan menempuh jalur akademik. Sisanya masuk ke industri. Dan industri tidak menyebar kuesioner untuk mengetahui apa yang diinginkan konsumennya.
Data perilaku konsumen sudah terhampar di internet, ditinggalkan sendiri oleh konsumennya. Ulasan produk di lokapasar. Komentar di kolom unggahan. Riwayat pencarian. Ulasan lokasi di peta digital. Puluhan ribu titik data bisa dipanen dalam hitungan jam, lalu dibersihkan, diberi label, dan diolah menjadi analisis sentimen, pemodelan topik, atau pemetaan segmen.
Perbedaannya bukan cuma kecepatan, walaupun kecepatan saja sudah menentukan. Perusahaan yang menunggu tiga bulan demi tiga ratus kuesioner akan menemukan pasarnya sudah bergerak lebih dulu, dan pesaingnya sudah mengambil keputusan di minggu kedua.
Perbedaan yang lebih penting ada pada jenis kebenaran yang dihasilkan. Kuesioner menangkap apa yang orang katakan tentang dirinya sendiri, lengkap dengan keinginan terlihat baik, salah ingat, dan kecenderungan menjawab asal selesai karena responden sedang buru-buru di depan pintu kelas. Jejak digital menangkap apa yang benar-benar mereka lakukan, kapan melakukannya, sesudah melihat apa, dan pada harga berapa.
Sebagian besar skripsi manajemen di negeri ini masih berkutat pada model hubungan variabel A terhadap B melalui C, seluruhnya dibangun di atas persepsi responden. Kita melatih ribuan orang setiap tahun untuk mengukur niat membeli, sementara dunia yang mereka masuki mengukur pembelian yang sungguh terjadi.
Yang saya coba sendiri
Saya tidak menulis ini dari kursi penonton, tapi juga tidak dari posisi orang yang sudah selesai.
Tiga periode wisuda terakhir saya pakai untuk mengubah cara kerja saya sendiri dan cara kerja mahasiswa bimbingan saya. Awalnya tidak langsung melompat ke data internet. Kami mulai dari data kualitatif, dari wawancara, karena di situ mahasiswa dipaksa berhadapan dengan jawaban yang tidak bisa dimasukkan ke kotak skala satu sampai lima. Itu langkah pertama untuk melepaskan mereka dari kebiasaan menganggap penelitian sama dengan mengumpulkan angka persepsi.
Sejak awal tahun ini saya sudah tidak lagi punya mahasiswa bimbingan yang menyebar kuesioner untuk menghubung-hubungkan variabel persepsi. Satu pun tidak ada. Periode ini mereka mulai saya kenalkan pada riset berbasis data yang sudah tersedia di internet, dari lokapasar, media sosial, dan sumber terbuka lainnya. Arah yang saya tuju sederhana, yaitu menjadikan tugas akhir mereka menyerupai studi kasus yang benar-benar dikerjakan orang di industri, bukan latihan mengisi format.
Saya belum bisa mengatakan hasilnya berhasil. Tiga periode wisuda terlalu pendek untuk membuktikan apa pun, dan saya belum punya data soal ke mana mereka bekerja sesudahnya. Prosesnya juga tidak mulus. Mahasiswa yang seumur hidup diajari mencari angka signifikansi butuh waktu untuk terbiasa dengan data yang tidak datang dalam bentuk tabel rapi, dan sebagian dari mereka sempat panik ketika sadar tidak ada bab yang bisa mereka contek strukturnya dari kakak tingkat.
Yang bisa saya katakan, ini bisa dikerjakan oleh satu orang dosen di sebuah kampus di Bengkulu, tanpa hibah khusus, tanpa laboratorium baru, dan tanpa menunggu kurikulum resmi diubah lebih dulu. Kalau saya bisa, saya sulit menerima alasan bahwa prodi lain tidak bisa.
Apa yang seharusnya menggantikan
Kritik tanpa gantinya cuma keluhan. Ini yang menurut saya harus masuk, dan lebih penting lagi, apa yang harus keluar untuk memberinya tempat.
Yang harus keluar adalah mata kuliah pengantar yang isinya mengulang mata kuliah pengantar lain, mata kuliah yang seluruh materinya tersedia lebih baik dalam bentuk bacaan mandiri, dan teori yang sama yang diajarkan di tiga mata kuliah berbeda dengan nama berbeda. Setiap prodi tahu persis mata kuliah mana yang saya maksud. Setiap prodi juga tahu kenapa mata kuliah itu tidak pernah dihapus.
Yang harus masuk, menurut saya ada lima.
Satu, kemampuan mengambil dan membersihkan data. Bukan teori tentang data besar, melainkan praktik memanen data dari sumber terbuka, lalu berhadapan dengan data yang berantakan, duplikat, kosong, salah format, dan penuh karakter aneh. Sekitar sembilan per sepuluh pekerjaan analisis data yang sesungguhnya ada di tahap ini, dan hampir tidak pernah diajarkan. Mahasiswa kita terbiasa menerima data yang sudah rapi dari dosennya, lalu terkejut ketika di tempat kerja tidak ada yang merapikannya lebih dulu.
Dua, analisis teks. Analisis sentimen, pemodelan topik, dan pembacaan ulasan dalam jumlah besar. Ini keterampilan pemasaran yang paling langsung bisa dipakai bekerja, dan paling jarang ada di kurikulum konsentrasi pemasaran. Seorang mahasiswa yang bisa menunjukkan bahwa keluhan utama konsumen pada satu kategori produk bergeser dari harga ke ketahanan barang dalam enam bulan terakhir sedang mengerjakan riset pasar yang sesungguhnya, bukan latihan.
Tiga, membaca metrik platform. Dasbor iklan, corong konversi, biaya akuisisi pelanggan, nilai umur pelanggan, tingkat retensi. Seorang sarjana pemasaran yang tidak bisa membaca laporan kinerja iklan sama saja dengan sarjana akuntansi yang tidak bisa membaca neraca. Kita tidak akan pernah meluluskan yang kedua, tetapi meluluskan yang pertama setiap tahun dalam jumlah ribuan.
Empat, bekerja dengan kecerdasan buatan sebagai alat, bukan sebagai musuh dan bukan sebagai jalan pintas. Menyusun perintah yang tepat, memeriksa keluarannya, mengenali kapan keluaran itu ngawur, dan tahu bagian mana dari pekerjaan yang tetap harus dikerjakan manusia. Ini persis yang dimaksud pengemudi ojek tadi. Ironisnya, sikap resmi banyak kampus terhadap alat ini masih berupa larangan, sehingga mahasiswa memakainya diam-diam tanpa pernah diajari memakainya dengan benar.
Lima, menulis rekomendasi. Bukan bab empat dan bab lima, melainkan memo dua halaman berisi temuan, pilihan yang tersedia, dan usulan keputusan, yang bisa dibaca seorang manajer dalam lima menit di antara dua rapat. Format inilah yang dipakai di dunia kerja. Hampir tidak ada mahasiswa kami yang pernah menulisnya sekali pun selama empat tahun, padahal itu bentuk tulisan yang akan mereka pakai seumur karier.
Skripsinya pun harus ikut berubah. Mahasiswa yang menganalisis dua puluh ribu ulasan produk untuk memetakan keluhan konsumen di satu kategori barang melakukan pekerjaan yang lebih sulit, lebih berguna, dan lebih jujur daripada mahasiswa yang menyebar seratus kuesioner ke teman satu angkatan lalu melaporkan bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Kesimpulan terakhir itu sudah kita ketahui sebelum penelitiannya dimulai, dan kita tetap meluluskannya ratusan kali setiap tahun.
Yang lebih penting, skripsi jenis pertama meninggalkan sesuatu yang bisa ditunjukkan. Berkas datanya ada. Kodenya ada. Grafiknya bisa dimasukkan ke portofolio. Skripsi jenis kedua berakhir di rak perpustakaan dan tidak pernah dibuka siapa pun, termasuk oleh penulisnya.
Tapi kami bukan prodi teknologi
Setiap kali gagasan ini saya sampaikan, ada tiga bantahan yang muncul. Ketiganya pantas dijawab, bukan diabaikan.
Bantahan pertama, ini pekerjaan Prodi Sistem Informasi atau Ilmu Komputer, bukan Prodi Manajemen.
Saya tidak setuju. Yang saya usulkan bukan membuat mahasiswa manajemen menjadi pemrogram. Yang dibutuhkan seorang analis pemasaran bukan kemampuan membangun sistem, melainkan kemampuan mengajukan pertanyaan bisnis yang tepat pada data, lalu menerjemahkan hasilnya menjadi keputusan. Justru di sinilah lulusan manajemen punya keunggulan yang tidak dimiliki lulusan ilmu komputer, karena mereka paham konteks bisnisnya. Keunggulan itu hanya berguna kalau mereka bisa menyentuh datanya sendiri. Kalau setiap kali butuh data mereka harus mengantre pada tim teknologi, mereka bukan analis, melainkan peminta.
Bantahan kedua, mahasiswa kami tidak akan mampu.
Ini yang paling sering saya dengar, dan menurut saya paling merendahkan. Mahasiswa yang sama sanggup mempelajari pemodelan persamaan struktural, memahami variabel laten, dan menafsirkan indeks kecocokan model. Itu materi yang jauh dari sederhana. Anggapan bahwa mereka tidak mampu belajar mengolah data teks bukan penilaian atas kemampuan mereka, melainkan cerminan kenyamanan kita mengajarkan hal yang sudah kita kuasai. Alat bantu hari ini juga jauh lebih ramah dibandingkan sepuluh tahun lalu. Pengalaman satu tahun terakhir membimbing mahasiswa saya sendiri sudah cukup untuk membuat saya berhenti mempercayai bantahan ini.
Bantahan ketiga, biar industri saja yang melatih mereka lewat pelatihan singkat setelah lulus.
Kalau ini jawabannya, kita harus jujur mengakui bahwa gelar sarjana kita hanyalah tiket masuk seleksi administrasi, dan pendidikan yang sesungguhnya terjadi di tempat lain, dengan biaya tambahan yang ditanggung lulusan setelah membayar empat tahun kuliah. Saya tidak sanggup mempertahankan posisi itu di depan orang tua mahasiswa.
Satu resep untuk ratusan prodi
Cara berpikir yang seragam melahirkan struktur yang seragam. Prodi Manajemen tersedia di hampir seluruh perguruan tinggi Indonesia, dan mayoritasnya menawarkan peminatan yang itu-itu saja, yakni pemasaran dan sumber daya manusia, kadang ditambah keuangan.
Padahal ada yang sudah lama keluar dari pola itu. Telkom University menjalankan Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika, sarjana manajemen yang sejak awal dibangun di atas konteks industri teknologi informasi. Universitas Prasetiya Mulya memecah rumpun manajemennya menjadi program sarjana yang spesifik, dari Branding sampai Teknologi Keuangan.
Keduanya memilih sesuatu yang sempit dan memikul konsekuensinya, alih-alih menjanjikan lulusan yang bisa masuk ke mana saja. Janji terakhir itu terdengar lapang. Di pasar kerja tingkat awal, ia berarti lulusan manajemen berebut posisi generalis yang sama dengan lulusan ekonomi, hukum, komunikasi, dan administrasi bisnis, tanpa satu pun keterampilan yang membuatnya lebih dipilih. Yang menang dalam perebutan itu biasanya bukan yang paling paham manajemen, melainkan yang kebetulan punya keterampilan tambahan yang dipelajarinya di luar kampus.
Pengemudi ojek tadi lulus dari konsentrasi pemasaran tanpa pernah sekali pun membaca dasbor iklan. Dia bukan lulusan kampus saya. Tapi kurikulum yang dilewatinya kurang lebih sama dengan yang kami jalankan, dan saya tidak berada dalam posisi merasa lebih baik.
---
Struktur ini awet karena ada yang menahannya, dan yang menahannya adalah kami.
Tidak semua dosen manajemen hari ini sanggup mengajarkan pengambilan data web, pembersihan data teks, atau pembacaan keluaran model. Sebagian dari kami mempelajarinya sendiri di luar jam kerja dengan biaya sendiri, karena tidak ada program resmi yang menyediakannya. Menutup mata soal ini tidak menolong siapa pun, dan berpura-pura semua dosen siap berubah hanya memindahkan persoalan ke tahun depan.
Kewajiban pertama institusi adalah membiayai peningkatan kompetensi dosennya, bukan menyalahkannya. Meminta dosen berubah tanpa menyediakan pelatihan, waktu, dan insentif adalah permintaan yang tidak masuk akal. Sertifikasi kompetensi, magang industri, dan hibah pengembangan bahan ajar adalah jalan yang tersedia, dan ongkosnya jauh lebih murah daripada yang dibayangkan pimpinan kampus. Yang mahal bukan pelatihannya, melainkan keberanian menjadwalkannya di tengah beban mengajar yang sudah penuh.
Tetapi bila semua itu sudah ditawarkan dan penolakan tetap bertahan, prodi menghadapi pilihan yang tidak nyaman. Mempertahankan kenyamanan segelintir pengajar berarti membiarkan ratusan mahasiswa per angkatan lulus dengan bekal yang sudah kedaluwarsa sejak hari pertama mereka masuk kelas. Kompromi itu ada korbannya, dan korbannya bukan kita yang berdiri di depan kelas.
Saya tahu kalimat itu akan membuat sebagian kolega tersinggung. Saya menuliskannya sambil sadar bahwa beberapa tahun lalu kalimat itu menunjuk saya sendiri.
***
Prodi Manajemen semestinya jadi penyumbang tenaga terampil terbesar di negeri ini. Ilmunya bisa masuk ke seluruh lini, dari koperasi desa sampai perusahaan teknologi, dari rumah sakit sampai pabrik pengolahan. Tidak ada industri yang tidak memerlukan orang yang paham cara mengelola sumber daya dan membaca pasar. Posisi itu tidak direbut siapa-siapa. Kami melepaskannya sendiri, pelan-pelan, lewat kurikulum yang tidak pernah benar-benar dibongkar karena membongkarnya merepotkan.
Yang membuat saya tidak nyaman bukan daftar yang beredar di media sosial itu. Daftar semacam itu akan datang dan pergi. Yang membuat saya tidak nyaman adalah kenyataan bahwa tulisan seperti ini bisa diulang tahun depan, tahun berikutnya, dan tahun berikutnya lagi, dengan sama benarnya, sementara isi kelas kami tidak bergerak satu senti pun.
Pengemudi ojek itu tidak gagal. Dia hanya lebih cepat menyadari daripada kami bahwa yang dipegangnya cuma ijazah manajemen, bukan ilmu manajemen.






