Satu waktu saya pernah menerima undangan pernikahan. Bukan dari orangnya langsung, bukan juga dari keluarganya. Melainkan dari kolega saya dulu, sebut saja namanya Pak Roni, yang merupakan teman dari adiknya si pengantin laki-laki. Saya baca undangannya baik-baik. Nama pengantin tidak saya kenal. Nama orang tua tidak saya kenal. Nama desa tempat resepsi pun saya baru dengar. Satu-satunya hal yang saya kenal dari seluruh isi undangan itu hanyalah kata "turut mengundang" di bagian bawah. Saya terdiam cukup lama sambil memegang undangan itu, mencoba mengingat-ingat apakah saya pernah berhubungan dengan pihak keluarga pengantin dalam kapasitas apapun. Hasilnya nihil.
Tapi Pak Roni sepertinya tidak merasa ada yang aneh. Beliau menyerahkan undangan itu dengan penuh keyakinan, seperti orang yang sedang menunaikan tugas mulia kenegaraan. "Dihadiri ya, Mas, biar rame," katanya dengan senyum ramah yang susah ditolak. Saya mengangguk pelan karena tidak punya cukup keberanian untuk bertanya, "Pak, saya ini siapa bagi pengantennya?" Undangan itu kemudian saya taruh di atas meja makan dan menatapnya dengan tatapan bingung yang mungkin mirip ekspresi ayam yang disodori kalkulator. Saya pikir mungkin ini salah satu ujian hidup yang tidak ada di buku agama manapun.
Kalau dipikir-pikir, model persebaran undangan seperti ini sebenarnya sudah mulai marak beberapa tahun terakhir. Yang punya hajat tidak lagi repot-repot mendatangi satu per satu orang yang hendak diundang. Cukup kasihkan beberapa slot kepada saudaranya, lalu saudaranya kasihkan ke temannya, temannya kasihkan ke kenalannya, dan seterusnya seperti skema MLM tapi versi hajatan. Sistemnya efisien, sekilas tampak modern dan praktis. Tapi kalau dicermati lebih dalam sambil minum teh pahit, ada sesuatu yang terasa bergeser dari sistem ini. Sesuatu yang mungkin tidak langsung bisa dirasakan tapi lama-lama mengganjal seperti batu kecil di dalam sepatu.
Dulu, undangan pernikahan itu sakral. Bukan sakral dalam artian harus ada ritual khusus penerimanya, tapi sakral dalam artian undangan itu datang karena ada hubungan. Entah hubungan pertemanan, kekerabatan, pertetanggaan, atau minimal pernah sama-sama antri di warung bakso dan bertatap muka lebih dari tiga detik. Sesederhana apapun hubungannya, tetap ada benang yang menghubungkan si pengundang dengan yang diundang. Ketika benang itu tidak ada sama sekali, maka undangan itu sejatinya bukan undangan. Itu lebih mirip surat edaran.
Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, kenapa ini bisa terjadi. Dan jawaban yang paling masuk akal, yang juga agak menyedihkan kalau diakui terang-terangan, adalah soal amplop. Bukan amplop dalam pengertian spiritual. Amplop dalam pengertian harfiah yang di dalamnya ada uang. Semakin banyak orang datang, semakin banyak amplop masuk, semakin besar kemungkinan biaya resepsi bisa balik modal atau bahkan surplus. Kalau begitu hitungannya, maka undangan bukan lagi ekspresi sukacita mengajak orang-orang tersayang berbagi momen bahagia. Undangan sudah menjelma semacam instrumen penggalangan dana dengan dekorasi bunga plastik dan hiburan organ tunggal.
Jangan marah dulu. Saya tidak sedang menuduh semua orang yang hajatan motifnya ekonomi semata. Sebagian besar pasti masih murni karena ingin berbagi kebahagiaan. Tapi sistem "slot undangan" yang dititipkan ke saudara lalu saudara tebarkan ke jaringannya sendiri ini, kalau ditelusuri logikanya, susah untuk tidak mengarah ke sana. Orang tidak mungkin mengundang ratusan orang yang tidak dikenal hanya karena ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka. Berbagi kebahagiaan itu biasanya butuh koneksi emosional, bukan sekadar koneksi jaringan pertemanan tingkat tiga. Kalau tidak ada koneksi emosional, maka yang tersisa hanya transaksi.
Ada teman saya yang pernah diundang hajatan dengan cara seperti ini. Dia datang dengan pakaian terbaik, bawa amplop yang isinya lumayan karena merasa sungkan. Sampai di sana dia tidak kenal siapapun kecuali orang yang mengajaknya. Pengantin tidak kenal, orang tua pengantin tidak kenal, MC tidak kenal, bahkan kucing yang duduk di bawah kursi tamu pun sepertinya tidak kenal. Dia bilang rasanya seperti masuk ke film orang lain tanpa tahu alur ceritanya. Duduk manis, makan prasmanan, salim dengan pengantin yang juga jelas bingung ini tamu undangan siapa, lalu pulang. Pulangnya, katanya, dia merasa seperti sudah bekerja paruh waktu sebagai figuran tanpa bayaran.
Nah, pengalaman teman saya itu menggambarkan betapa resepsi pernikahan sudah bergeser cukup jauh dari esensinya. Resepsi seharusnya jadi ruang pertemuan yang hangat antara dua keluarga besar dengan orang-orang yang benar-benar peduli dan mengenal mereka. Tempat di mana tante-tante menangis terharu, teman lama saling bertukar cerita, dan tetangga yang sudah kenal sejak pengantin masih ngompol akhirnya bisa foto bareng. Bukan tempat di mana ratusan orang datang dengan ekspresi canggung sambil bergumam, "Ini resepsinya siapa ya?" sebelum antri nasi kuning.
Yang membuat saya lebih gelisah lagi, penerima slot undangan ini kadang tidak punya pilihan yang nyaman. Kalau ditolak, nanti dianggap tidak menghargai si pemberi slot. Padahal yang memberi slot itu juga tidak ditanya persetujuannya ketika pertama kali menerima jatah undangan tersebut. Semua orang terjebak dalam rantai kewajiban sosial yang sebenarnya tidak ada yang benar-benar mau, tapi semua merasa harus menjalankan. Seperti grup WhatsApp keluarga besar yang tidak ada yang mau gabung tapi tidak ada yang berani keluar.
Kalau ditilik dari kacamata sosial-budaya yang sedikit lebih serius, fenomena ini sebenarnya mencerminkan bagaimana gotong royong bergeser menjadi mobilisasi. Dulu gotong royong hajatan itu organik, orang datang membantu karena kenal dan peduli. Sekarang yang terjadi adalah mobilisasi massa melalui jaringan undangan berlapis-lapis. Hasilnya memang kuantitas, banyak orang hadir, tapi kualitas kehadirannya kosong seperti gelas aqua yang sudah diminum. Kehadiran tanpa pengenalan itu seperti like di media sosial, ada secara statistik tapi tidak terasa di hati.
Saya juga sempat berpikir, bagaimana perasaan si pengantin sendiri. Berdiri di pelaminan, menyalami tamu satu per satu, tersenyum sopan, lalu bertanya dalam hati, "Ini siapa ya?" kepada hampir setiap orang yang datang. Momen bahagia terbesar dalam hidupnya dikelilingi oleh wajah-wajah asing yang hadir bukan karena mengenalnya, tapi karena mengenal seseorang yang mengenal seseorang yang mengenalnya. Itu kalau dilihat dari sudut tertentu, agak mirip dengan konsep enam derajat keterpisahan yang dipakai buat ngundang hajatan. Kevin Bacon saja pasti bingung.
Belum lagi soal punjungan yang sudah pernah saya tulis sebelumnya (silahkan cari di weblog ini dengan kata kunci "Punjungan" untuk membacanya). Kalau dulu punjungan itu dikirim ke orang-orang yang benar-benar dekat sebagai bentuk berbagi, sekarang punjungan sudah jadi semacam kewajiban logistik yang harus menjangkau sebanyak mungkin penerima. Ditambah sekarang dengan model slot undangan ini, maka lengkaplah sudah reduksi makna hajatan dari dua sisi sekaligus. Dari sisi kehadiran fisik yang diisi orang asing, dan dari sisi punjungan yang sudah berubah jadi operasi distribusi massal. Hajatan bukan lagi perayaan. Hajatan sudah jadi proyek.
Saya tidak munafik. Saya juga pernah datang ke hajatan yang secara teknis saya tidak terlalu kenal empunya. Duduk, makan, berdoa dalam hati semoga mereka bahagia, lalu pulang. Tapi setidaknya saya masih punya sedikit koneksi dengan yang mengundang, bukan hasil dari rantai titipan undangan yang panjangnya seperti rantai makanan di savana Afrika. Ada bedanya antara diundang karena kenal orang yang kenal pengantin, dengan diundang karena kenal orang yang kenal orang yang kenal saudara pengantin. Tipis memang bedanya. Tapi di sana lah letak sisa-sisa martabat undangan itu tinggal.
Mungkin ada yang berargumen bahwa ini soal rezeki, dan rezeki tidak boleh dibatas-batasi. Semakin banyak orang hadir, semakin banyak doa yang dipanjatkan, semakin berkah. Argumen ini secara spiritual terdengar mulia. Tapi kalau mau jujur, apakah orang yang datang karena dapat titipan undangan dari teman kakaknya pengantin itu benar-benar datang sambil membawa doa yang tulus? Ataukah dia datang sambil membawa kebingungan tingkat dewa dan niat utama merasakan prasmanan yang katanya enak? Saya tidak tahu. Yang jelas doanya lebih mungkin tulus kalau pengantinya dikenal.
Fenomena ini juga perlahan mengubah cara orang mempersiapkan diri menghadiri hajatan. Dulu orang memilih baju dengan cermat karena mau ketemu orang yang dikenal dan ingin tampil baik di depan mereka. Sekarang yang terjadi, banyak orang pilih baju seadanya karena toh tidak ada yang kenal. Amplop juga jadi dilema tersendiri, dikasih besar merasa boros untuk orang yang tidak dikenal, dikasih kecil merasa sungkan karena yang ngajak sudah susah payah kasih slot. Semua serba canggung dari awal sampai akhir. Resepsi pernikahan berubah jadi arena ketidaknyamanan kolektif yang dihiasi balon dan backdrop foto.
Ada satu hal lagi yang sering luput diperhatikan. Ketika daftar tamu diisi oleh orang-orang yang tidak saling kenal, maka kehangatan sebuah resepsi otomatis turun drastis. Bayangkan sebuah ruangan besar berisi ratusan orang yang masing-masing hanya mengenal satu atau dua orang di sana. Tidak ada senyum-senyum spontan antara tamu yang saling mengenali. Tidak ada cerita-cerita pendek yang terjalin di antara kursi. Yang ada hanya suara sendok membentur piring, suara MC yang bersemangat sendirian, dan suara bisik-bisik orang yang sama-sama bertanya siapa sebenarnya yang punya hajat ini. Suasananya persis seperti seminar yang ada prasmanannya.
Lucunya, di tengah semua keruwetan ini, si pemberi slot undangan sering tampak paling santai. Tugasnya sudah selesai begitu undangan berpindah tangan. Apakah orang yang menerima slotnya itu akan datang atau tidak, akan nyaman atau tidak, akan kenal pengantin atau tidak, semua itu bukan urusan dia lagi. Dia sudah menunaikan kewajibannya kepada si empunya hajat. Empunya hajat pun senang karena daftar tamu makin panjang. Yang repot hanya orang yang menerima undangan di ujung rantai itu, yang datang ke sebuah perayaan yang asing baginya seperti turis tanpa pemandu wisata.
Kalau saya boleh usul, dan ini usul yang kemungkinan besar tidak akan didengar siapapun, mungkin sudah waktunya kita mulai kembali menempatkan hajatan sebagai sebuah perayaan yang bermakna. Undang orang yang benar-benar dikenal, meskipun jumlahnya lebih sedikit. Keramaian itu bukan diukur dari berapa ratus kursi yang terisi, tapi dari seberapa hangat ruangan itu terasa ketika semua orang yang hadir saling mengenal satu sama lain. Kalaupun biaya resepsi tidak bisa balik modal, ya tidak apa-apa. Itu resiko dari sebuah perayaan, bukan investasi yang harus menghasilkan return. Kecuali kalau memang dari awal niatnya investasi, ya sudah, saya tidak bisa berbuat banyak.
Dan undangan itu seyogyanya bukan sekadar selembar kertas atau file PDF yang dikirim lewat WhatsApp. Undangan adalah pernyataan bahwa keberadaan seseorang itu berarti bagi kita di momen yang paling penting dalam hidup kita. Ketika undangan itu disebarkan ke orang yang bahkan namanya saja tidak kita kenal, maka pernyataan itu kehilangan isinya. Tinggal amplop kosong yang cantik di luar. Saya yakin semua pasangan pengantin di manapun sebenarnya ingin dikelilingi orang-orang yang benar-benar mencintai mereka di hari bahagia itu, bukan dikelilingi orang asing yang datang karena tidak enak menolak titipan undangan dari teman kakaknya.







