Dunia sedang berubah dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh nalar lama yang masih terpenjara dalam sekat-sekat ekonomi linier. Di sudut Kota Bengkulu, tepatnya di Belungguk Point, kita menyaksikan sebuah ledakan kreativitas yang tidak datang dari ruang perkantoran formal atau gedung tinggi. Anak-anak muda di sana menciptakan kerumunan bukan sekadar untuk nongkrong menghabiskan waktu tanpa tujuan yang jelas. Mereka sedang membangun ekosistem baru yang memadukan antara gaya hidup, teknologi, dan kebutuhan akan pengakuan identitas di ruang publik. Fenomena ini mengingatkan saya pada bagaimana disrupsi bekerja di mana sesuatu yang dianggap remeh justru menjadi motor penggerak ekonomi yang sangat vital. Kita harus melihat lebih dalam bahwa yang terjadi di sana bukan hanya soal jualan makanan atau minuman.
Keanekaragaman aktivitas di Belungguk Point ini sebenarnya mencerminkan bagaimana sebuah lokomotif ekonomi baru sedang menarik gerbong-gerbong kreativitas yang sangat variatif. Kita bisa melihat para anak muda menawarkan aneka kreasi jajanan baru, penjaja aksesori hand-made yang unik, hingga bermacam produk kesehatan alami. Tak ketinggalan, muncul pula para seniman musik yang menggelar "mini konser" yang menambah dinamika pergerakan massa di trotoar. Semua ini adalah bentuk dari mikrobisnis yang tidak lagi mengandalkan etalase kaca yang kaku, melainkan mengandalkan interaksi langsung yang hangat. Keberagaman jenis usaha ini menciptakan sebuah ekosistem mandiri di mana satu unit usaha dengan usaha lainnya saling mendukung tanpa harus bersaing secara berdarah-darah.
Dalam kerumunan yang semakin padat dan berwarna itu, muncul satu jenis bisnis baru yang belum banyak pesaingnya, yakni street photo booth. Para pelaku usaha muda ini menangkap peluang dengan sangat cerdik karena mereka paham bahwa kamera ponsel saja tidak lagi cukup bagi generasi sekarang. Dalam pandangan saya, konsep ini bernama The Reflexive Aesthetic Orbit yang menjelaskan bagaimana sebuah ruang publik bertransformasi menjadi inkubator ekonomi yang sangat dinamis. Ruang ini menjadi semacam panggung di mana setiap orang ingin menjadi aktor utama dalam narasi digital mereka masing-masing. Mereka tidak hanya membeli jasa foto, melainkan membeli tiket untuk masuk ke dalam lingkaran tren yang sedang bergerak sangat cepat. Tanpa sadar, interaksi yang terjadi di sana telah membentuk sebuah orbit ekonomi baru yang berputar secara mandiri tanpa campur tangan birokrasi yang kaku.
Panggung Validasi Publik
Cermin adalah alat paling purba untuk melihat diri sendiri, namun di tangan anak muda Bengkulu, ruang publik itulah yang menjadi cermin raksasa. Masyarakat kelas menengah baru kita sangat membutuhkan validasi visual untuk menunjukkan bahwa mereka ada dan relevan dengan zaman. Ketika sebuah lokasi seperti Belungguk memiliki estetika yang tepat, secara otomatis ia akan menarik massa yang ingin ikut merasakan atmosfer tersebut. Bisnis kreatif kemudian lahir sebagai satelit yang mengelilingi pusat massa itu untuk melayani kebutuhan akan konten yang berkualitas tinggi. Inilah yang saya sebut sebagai ekonomi validasi di mana nilai sebuah produk ditentukan oleh seberapa besar kontribusinya terhadap citra diri sang pembeli. Jangan heran jika sebuah usaha kecil yang dikelola dari trotoar bisa menghasilkan omzet yang melampaui toko konvensional di pusat perbelanjaan.
Setiap sudut di Belungguk Point menawarkan peluang bagi mereka yang memiliki mata jeli untuk melihat apa yang sedang diinginkan oleh pasar. Kita sering kali terjebak pada pola pikir bahwa bisnis harus memiliki bangunan fisik yang megah dan stok barang yang sangat banyak. Kenyataannya, anak-anak muda ini hanya bermodalkan kamera, pencahayaan yang ciamik, dan sedikit sentuhan desain untuk memulai usaha yang sangat menjanjikan. Mereka tidak membutuhkan izin usaha yang berbelit-belit untuk sekadar menawarkan kebahagiaan sesaat lewat selembar foto instan yang estetik. Kecepatan mereka dalam beradaptasi dengan keinginan pelanggan adalah kunci mengapa model bisnis seperti ini mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi. Fleksibilitas ini adalah kekuatan utama dari para pelaku ekonomi kreatif yang lahir dari rahim jalanan namun berpikiran global.
Jika kita perhatikan dengan seksama, para pengunjung yang datang ke area tersebut sebenarnya sedang melakukan ritual sosial yang sangat modern. Mereka datang dengan pakaian terbaik, berdandan rapi, dan siap untuk dipotret untuk kemudian diunggah ke berbagai platform media sosial. Perilaku kolektif inilah yang kemudian menggerakkan roda ekonomi di sekitarnya mulai dari sektor kuliner hingga jasa pendukung lainnya. Bisnis foto jalanan hanyalah salah satu pengait yang memastikan bahwa pengalaman berkunjung ke Belungguk menjadi sesuatu yang berkesan dan layak dibagikan. Inilah daya pikat dari sebuah orbit estetik yang mampu menyedot perhatian banyak orang tanpa harus melakukan promosi besar-besaran di media massa. Kekuatan komunikasi mulut ke mulut yang kini berpindah ke layar ponsel telah menjadi mesin pemasaran paling efektif bagi UMKM kreatif.
Penyedia jasa foto ini tidak hanya menjual hasil jepretan, melainkan juga menjual "rasa percaya diri" yang dikemas dalam bingkai estetik digital. Mereka sangat paham bahwa di era sekarang, pengalaman yang tidak didokumentasikan dengan baik dianggap sebagai pengalaman yang tidak pernah terjadi. Oleh karena itu, kehadiran peralatan profesional di pinggir jalan memberikan kesan eksklusivitas yang bisa diakses oleh siapa saja dengan harga yang sangat terjangkau. Hal ini meruntuhkan batasan antara layanan premium yang biasanya hanya ada di studio mahal dengan aksesibilitas ruang publik yang terbuka lebar. Strategi "jemput bola" ini adalah inti dari ekonomi berbagi di mana aset kreativitas dipertemukan langsung dengan kebutuhan eksistensi manusia modern. Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa anak muda kita sangat adaptif dalam memanfaatkan teknologi untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi diri mereka sendiri.
Ledakan Ekonomi Kreatif
Pemerintah daerah sering kali gagal memahami bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari proyek infrastruktur raksasa yang menelan biaya triliunan rupiah. Kadang-kadang, yang dibutuhkan masyarakat hanyalah ruang terbuka yang aman, nyaman, dan memiliki karakter visual yang kuat untuk memicu kreativitas. Belungguk Point menjadi bukti bahwa ketika sebuah ruang diberikan nyawa, maka ekonomi akan tumbuh dengan sendirinya melalui inisiatif warga. Anak muda tidak butuh dikasihani dengan subsidi, mereka hanya butuh ekosistem yang mendukung agar ide-ide gila mereka bisa dieksekusi dengan baik. Transformasi ini menunjukkan bahwa kreativitas adalah bahan bakar yang tidak akan pernah habis selama ruang untuk berekspresi tetap terjaga. Mari kita belajar untuk lebih menghargai setiap upaya kecil yang dilakukan oleh anak-anak muda ini dalam membangun kotanya sendiri.
Seringkali para ahli ekonomi tradisional memandang sebelah mata terhadap jenis usaha yang dianggap musiman atau sekadar mengikuti tren sesaat saja. Padahal, kemampuan untuk menangkap tren adalah keahlian tingkat tinggi yang menuntut sensitivitas terhadap selera pasar yang terus berubah setiap detik. Para pemilik photo booth jalanan ini adalah contoh nyata dari wirausaha yang lincah dan mampu membaca tanda-tanda zaman dengan sangat akurat. Mereka tidak menunggu bola, melainkan menjemput bola di tempat di mana orang-orang sedang berkumpul dan bersenang-senang. Strategi ini sangat cerdas karena biaya akuisisi pelanggan menjadi sangat rendah akibat massa yang sudah terkumpul secara alami. Inilah esensi dari ekonomi baru yang lebih menekankan pada kolaborasi dan pemanfaatan ruang publik secara maksimal.
Kita harus mulai meninggalkan paradigma lama yang melihat keramaian hanya sebagai potensi gangguan keamanan atau kemacetan lalu lintas semata. Sebaliknya, keramaian adalah aset ekonomi yang luar biasa jika dikelola dengan pendekatan yang lebih humanis dan kreatif. Belungguk telah memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana harmoni antara kebutuhan sosial dan peluang ekonomi bisa berjalan beriringan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjaga agar orbit estetik ini tetap stabil dan tidak hancur karena keserakahan atau aturan yang mematikan. Kreativitas selalu butuh sedikit kebebasan agar bisa bernapas dan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar hobi. Jika kita terus mengekang mereka dengan aturan kuno, maka potensi emas ini akan layu sebelum sempat mekar dengan sempurna.
Menjaga Momentum Pertumbuhan
Ekosistem yang sehat di Belungguk harus terus dirawat dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan agar tidak kehilangan daya tariknya di masa depan. Kita perlu mendorong agar para pelaku bisnis kreatif ini naik kelas tanpa harus kehilangan jati diri mereka yang organik dan unik. Inovasi harus terus dilakukan agar pengunjung tidak merasa bosan dengan tawaran yang itu-itu saja setiap kali mereka datang berkunjung. Integrasi antara teknologi digital dan pengalaman fisik di lapangan akan menjadi kunci utama untuk memperpanjang usia dari fenomena ekonomi ini. Saya melihat potensi besar jika para kreator ini mulai berkolaborasi dengan jenama lokal untuk menciptakan produk yang lebih eksklusif. Masa depan Bengkulu bisa jadi ditentukan oleh seberapa baik mereka mengelola aset-aset kreatif yang sedang tumbuh subur di trotoar-trotoar kota.
Perjalanan ekonomi kreatif kita memang masih panjang, namun benih-benih harapan itu sudah mulai terlihat jelas di tempat-tempat seperti Belungguk Point. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang hanya pandai mengonsumsi karya orang lain tanpa mampu menciptakan nilai tambah dari potensi sendiri. Anak muda Bengkulu telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menciptakan sesuatu yang mampu menggerakkan ekonomi orang banyak. Mari kita beri ruang lebih luas bagi imajinasi mereka untuk terus menari di tengah orbit estetik yang telah mereka ciptakan sendiri. Dukungan moril dan kebijakan yang pro-kreativitas akan menjadi suplemen yang sangat dibutuhkan untuk menjaga api semangat mereka tetap menyala. Akhirnya, kita semua ingin melihat kota-kota di Indonesia menjadi tempat yang hidup, berdenyut, dan penuh dengan karya-karya orisinal anak bangsa.







