Andi Azhar
  • Beranda
  • Mimbar
    • Khazanah Islam
    • Kolak Pisang
    • Pendidikan
    • Sosial Politik
    • Persyarikatan
    • #SeloSeloan
    • Perguruan Tinggi
    • Sains Teknologi
    • Financial Teknologi
    • Bengkulu
    • Bisnis
  • Lakon
    • Formosa
    • Nusantara
    • Ramadhan Bercerita
  • Soneta
  • Interlokal
    • Education
    • Politic
    • Technology
    • Economic
  • Pariwara
    • Competition
    • Endorsement
    • Komiku
  • Jejak
  • Sangu
    • MoE Taiwan
    • HES Taiwan
    • ICDF Taiwan
  • Hubungi Kami

Hari ini, angka 107 tahun resmi tersemat pada tubuh tua Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, sebuah usia yang sebenarnya sudah sangat matang, bahkan tergolong sepuh untuk ukuran sebuah organisasi kepemudaan di negeri ini. Kalau kita bayangkan manusia, usia segitu pasti sudah tinggal tulang berbalut kulit, duduk di kursi goyang, dan hanya mampu bercerita soal masa lalu kepada cicit-cicitnya yang mungkin setengah mendengarkan sambil main gadget. Tapi Hizbul Wathan (HW) bukanlah manusia biasa, ia adalah entitas ideologis yang seharusnya makin tua makin berisi, makin sakti, dan makin relevan dengan tantangan zaman yang kian absurd ini. Namun, mari kita jujur sejenak sambil menyeruput kopi, apakah HW hari ini benar-benar sudah menjadi raksasa yang disegani, ataukah ia hanya besar di dalam kandang sendiri alias jago kandang? Saya melihat ada semacam paradoks yang menggelitik di sini.

Kita punya sejarah mentereng sebagai "kakak kandung" tentara karena melahirkan Jenderal Soedirman, tapi di lapangan, popularitas kita sering kali kalah lincah dibandingkan "adik" kita yang berbaju cokelat muda itu. Perayaan milad ini seharusnya bukan sekadar seremoni potong tumpeng atau apel akbar semata, melainkan momentum untuk menampar pipi kita sendiri agar sadar bahwa dunia sudah berubah drastis. Jangan sampai kita terlena dengan romantisme sejarah tahun 1918, sementara anak-anak muda Gen Z di luar sana bahkan bingung seragam HW itu seragam ormas apalagi.

Coba sampeyan-sampeyan perhatikan fenomena di sekolah-sekolah Muhammadiyah, di mana HW adalah menu wajib yang tak bisa ditawar-tawar lagi layaknya mata pelajaran Kemuhammadiyahan. Di satu sisi, ini adalah kekuatan struktural yang luar biasa karena menjamin suplai kader yang tidak akan pernah putus selama sekolah Muhammadiyah masih berdiri tegak di muka bumi. Tapi di sisi lain, kewajiban struktural ini sering kali mematikan kreativitas dan menjadikan kegiatan kepanduan sekadar formalitas menggugurkan kewajiban kurikulum belaka. Anak-anak ikut HW bukan karena mereka merasa itu keren atau menantang, tapi karena kalau tidak ikut, nilai rapor mereka bakal merah atau ijazah mereka ditahan. Akibatnya, ruh "kepanduan" yang seharusnya penuh petualangan, kegembiraan, dan kemandirian, berubah menjadi baris-berbaris yang membosankan di tengah terik matahari Jumat siang. Kita menciptakan jutaan anggota pasif yang begitu lulus sekolah, langsung melempar seragam hijaunya ke gudang dan tak pernah mau menengoknya lagi. Ini adalah masalah serius yang harus diakui oleh para pimpinan di kwartir pusat hingga daerah, bahwa kuantitas massal kita belum berbanding lurus dengan loyalitas dan kebanggaan organik. Barangkali kita terlalu lama nyaman berlindung di bawah ketiak nama besar Muhammadiyah, sehingga lupa caranya bertarung di hutan rimba kompetisi organisasi kepemudaan yang sesungguhnya.

Kalau Pramuka punya Satuan Karya (SAKA) yang memfasilitasi minat spesifik anggotanya mulai dari Bhayangkara hingga Dirgantara, lantas apa yang ditawarkan HW secara spesifik untuk mewadahi hobi anak muda kekinian? Kita masih sering terjebak pada materi-materi klasik seputar tali-temali, sandi morse, dan semapur yang, mohon maaf, bagi anak zaman sekarang mungkin terasa seantik mesin ketik pita. Padahal, potensi untuk membuat unit-unit khusus yang taktis dan modern sangat terbuka lebar jika kita mau sedikit saja membuka mata dan pikiran. Bayangkan jika HW memiliki unit khusus "Pandu Siber" yang jago coding dan keamanan data yang nempel dengan Majelis Pustaka dan Informasi, atau "Pandu Rescue" yang terintegrasi penuh dengan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) dengan kualifikasi internasional. Itu baru namanya modernisasi yang menyentuh substansi kebutuhan zaman, bukan sekadar modernisasi atribut atau logo yang kosmetik belaka. Tanpa spesialisasi yang jelas dan menarik, HW akan selamanya dianggap sebagai kegiatan "baris-berbaris" belaka, padahal esensi scouting jauh lebih luas dari itu.

Lihatlah saudara seperguruan kita, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, yang sukses melompat pagar dan diterima dengan tangan terbuka di berbagai kampus negeri bahkan hingga ke mancanegara. Tapak Suci bisa begitu luwes masuk ke mana-mana karena mereka menjual "skill" bela diri dan prestasi olahraga, bukan sekadar menjual doktrin organisasi yang kaku. Orang mau ikut Tapak Suci bukan karena mereka ingin jadi kader Muhammadiyah, tapi karena mereka ingin bisa silat, ingin sehat, dan ingin keren dengan seragam merahnya yang gagah itu. Nah, HW seharusnya bisa meniru strategi penetrasi kultural ini dengan menjadikan skill kepanduan sebagai jualan utama yang seksi. Mengapa kita tidak bermimpi ada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Hizbul Wathan di Universitas Indonesia, UGM, atau bahkan di kampus-kampus swasta elit, sebagaimana Pramuka bisa ada di mana saja? Selama HW masih memposisikan diri secara eksklusif sebagai "kepanduan milik sekolah Muhammadiyah," maka selama itu pula kita tidak akan pernah bisa menjadi organisasi yang inklusif dan membumi. Kita perlu merobohkan tembok mental block yang mengatakan bahwa HW hanya untuk orang Muhammadiyah, karena nilai-nilai kepanduan seperti kedisiplinan dan cinta alam itu universal.

Mungkin sebagian dari sampeyan-sampeyan akan protes dan bilang, "Lho, HW kan berasaskan Islam, jadi wajar dong kalau eksklusif?" Tunggu dulu, bukankah Islam itu rahmatan lil 'alamin, yang artinya rahmat bagi seluruh alam semesta, bukan rahmat bagi warga persyarikatan saja? Menjadi inklusif dan terbuka tidak berarti menggadaikan akidah, justru itu adalah sarana dakwah bil hal yang paling efektif di tengah masyarakat yang majemuk.

Kalau HW bisa dikemas dengan tampilan yang lebih pop, lebih adventure-oriented, dan tidak terlalu kental nuansa indoktrinasinya di awal rekrutmen, saya yakin banyak anak muda di luar sana yang tertarik bergabung. Mereka butuh wadah untuk menyalurkan energi berlebih, butuh komunitas yang positif, dan butuh skill bertahan hidup di alam bebas. Jika HW mampu menyediakan paket kegiatan yang menjawab kebutuhan itu tanpa embel-embel birokrasi yang njelimet, pasarnya sangat besar. Persoalannya, apakah kita berani mengubah kemasan "jamu pahit" ini menjadi "minuman energi" yang segar tanpa menghilangkan khasiat utamanya?

Bicara soal atribut, kadang saya berpikir apakah warna hijau tentara dan cokelat tanah yang kita banggakan itu masih relevan secara psikologis untuk anak muda zaman now yang lebih suka warna-warna cerah atau pastel? Tentu saja saya tidak menyarankan kita mengganti warna keramat itu, karena di sanalah letak historisnya, tapi desain dan fitting seragamnya mbok ya disesuaikan dengan selera fashion hari ini. Jangan sampai seragam HW terlihat kedodoran, kucel, dan membuat pemakainya merasa seperti sedang ikut wajib militer zaman Jepang yang menyeramkan. Rebranding visual itu penting, bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk membangun citra bahwa organisasi ini dikelola dengan profesional dan kekinian. Anak muda itu makhluk visual; mereka menilai buku dari sampulnya, dan mereka menilai organisasi dari seberapa keren foto kegiatannya di Instagram. Kalau feed media sosial HW isinya cuma foto bapak-bapak pejabat memberikan sambutan di podium, ya jangan harap anak muda mau melirik.

Saya membayangkan sebuah transformasi di mana HW memiliki divisi-divisi taktis yang mirip dengan SAKA di Pramuka, tapi dengan branding dan kurikulum yang khas Muhammadiyah namun berstandar global. Misalnya, kita buat "Korps Pandu Wirausaha" yang melatih anggotanya berbisnis digital, atau "Korps Pandu Lingkungan" yang fokus pada isu perubahan iklim dan daur ulang sampah. Ini bukan hal yang mustahil, mengingat Muhammadiyah punya sumber daya manusia yang melimpah ruah di segala bidang keilmuan dan profesi. Masalahnya selama ini adalah kita terlalu sektoral; orang pintar di Majelis Ekonomi tidak diajak ngurus HW, orang hebat di Majelis Lingkungan Hidup tidak diminta bikin kurikulum HW. HW dibiarkan berjalan sendiri dengan logikanya yang usang, sementara majelis lain berlari kencang dengan program-program modernnya. Sinergi antar-majelis ini harus dipaksa terjadi, agar HW mendapatkan suntikan nutrisi intelektual dan skill yang beragam, tidak melulu soal baris-berbaris dan menyanyi lagu mars.

Memang, mengubah sebuah kapal tua yang sangat besar seperti HW untuk berbelok arah itu susahnya minta ampun, butuh tenaga ekstra dan nakhoda yang gila. Struktur organisasi yang gemuk dari pusat sampai ranting sering kali justru menjadi penghambat kelincahan manuver, karena setiap keputusan harus melalui rapat pleno yang panjang dan melelahkan. Birokrasi internal kita kadang lebih rumit daripada mengurus KTP di kelurahan, dan inilah penyakit kronis yang harus diamputasi jika kita ingin lari kencang. Kita butuh desentralisasi kewenangan yang memberikan ruang gerak lebih bebas bagi kwartir daerah atau bahkan qabilah di sekolah/kampus untuk berinovasi sesuai kearifan lokal. Jangan semuanya harus menunggu petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) dari pusat yang turunnya sering kali terlambat. Biarkan tunas-tunas muda di daerah berkreasi membuat kegiatan yang "out of the box", asalkan tidak melanggar prinsip dasar akidah dan akhlak.

Coba kita tengok sejarah Jenderal Soedirman lagi, tapi kali ini jangan lihat pangkat jenderalnya, lihatlah masa mudanya saat menjadi pandu HW yang militan. Soedirman muda ditempa bukan dengan duduk mendengarkan ceramah di dalam ruangan ber-AC, tapi dengan kegiatan fisik yang keras, kepemimpinan lapangan yang nyata, dan tanggung jawab sosial yang berat. Spirit "Panglima Besar" itu lahir dari debu dan keringat kepanduan, dari keberanian mengambil risiko, bukan dari kenyamanan fasilitas organisasi. Sekarang, kita sering terjebak memuja sosok Soedirman sebagai berhala sejarah, tapi gagal mewarisi etos kerjanya yang trengginas dan revolusioner. Kita bangga memajang foto beliau di dinding markas, tapi kegiatan kita lembek dan tidak mencetak karakter petarung. Modernisasi HW adalah upaya untuk menghidupkan kembali spirit Soedirman dalam konteks abad 21, di mana "perang gerilya" kita hari ini adalah perang melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan teknologi.

Salah satu kunci sukses Tapak Suci adalah standardisasi jurus dan sistem kenaikan tingkat yang jelas serta bergengsi, sehingga anggotanya merasa punya target pencapaian yang prestisius. Di HW, sistem Tanda Kecakapan Umum (TKU) dan Tanda Kecakapan Khusus (TKK) sering kali tidak dianggap sebagai sesuatu yang prestisius. Ini menurunkan wibawa organisasi di mata anggotanya sendiri; kalau mendapatkan badge itu mudah, buat apa diperjuangkan mati-matian? Kita harus mengembalikan "sakralitas" dari setiap lencana yang ditempel di seragam, bahwa itu adalah simbol kompetensi, bukan hiasan. Jika perlu, libatkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk menguji kecakapan khusus tertentu, sehingga sertifikat HW laku dipakai untuk melamar kerja. Bayangkan kalau sertifikat "Pandu Jurnalistik" HW diakui oleh Dewan Pers, atau sertifikat "Pandu SAR" HW diakui oleh Basarnas, pasti anak-anak muda akan berebut masuk.

Lantas, bagaimana dengan konsep "Pembela Tanah Air" yang menjadi arti harfiah dari nama Hizbul Wathan itu sendiri? Di era damai seperti sekarang, membela tanah air tidak lagi dengan bambu runcing, melainkan dengan karya nyata yang solutif bagi permasalahan bangsa. HW harus hadir di tengah masyarakat yang kebanjiran, bukan hanya sebagai tukang angkut mie instan, tapi sebagai manajer posko yang handal dan pemimpin pemulihan trauma. HW harus hadir di kampung-kampung kumuh untuk mengajar anak jalanan, hadir di hutan-hutan gundul untuk menanam pohon, hadir di dunia maya untuk memerangi hoaks. Definisi "pembelaan" harus diperluas spektrumnya agar relevan dengan kegelisahan generasi milenial dan gen Z yang sangat concern pada isu-isu sosial dan lingkungan. Jika HW bisa membranding dirinya sebagai "NGO-nya anak muda Muhammadiyah" yang bergerak di bidang kemanusiaan dan lingkungan via kepanduan, itu akan sangat seksi.

Keberadaan HW di kampus-kampus non-Muhammadiyah adalah sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan, meski jalannya pasti terjal dan berliku. Langkah awalnya bisa dimulai dengan membentuk komunitas pecinta alam atau kelompok studi yang berafiliasi dengan nilai-nilai HW tanpa harus langsung memasang bendera formal yang mencolok. Masuklah lewat pintu hobi, lewat pintu diskusi, lewat pintu persaudaraan, baru pelan-pelan kenalkan baju seragamnya. Orang tidak akan resisten dengan nilai-nilai kebaikan seperti jujur, dipercaya, dan hemat, yang menjadi undang-undang HW, karena itu nilai universal. Yang sering bikin orang resisten itu adalah kemasan luarnya yang terkesan eksklusif dan "kelompok banget". Strategi marketing kita harus diubah dari "hard selling" yang memaksa orang masuk, menjadi "soft selling" yang membuat orang penasaran dan akhirnya jatuh cinta.

Kita juga tidak boleh menutup mata bahwa sumber pendanaan sering menjadi alasan klasik mengapa kegiatan HW mandek dan tidak variatif. Tapi, bukankah kita diajarkan untuk mandiri dan tidak cengeng meminta-minta sumbangan? Unit-unit usaha produktif berbasis kepanduan harus digalakkan, misalnya jasa outbound training profesional yang dikelola oleh kader HW, penyewaan alat camping, atau toko merchandise yang dikelola secara modern. Jangan biarkan HW menjadi benalu bagi kas sekolah atau kas persyarikatan, tapi jadikan ia sapi perah yang menghasilkan profit sekaligus benefit sosial. Kemandirian ekonomi organisasi akan melahirkan kemandirian sikap dan keleluasaan dalam membuat program-program gila tanpa harus disetir oleh donatur. Jiwa entrepreneurship K.H. Ahmad Dahlan harusnya menular deras di nadi setiap anggota pandu HW.

Tantangan lainnya adalah soal instruktur atau pelatih yang sering kali stoknya itu-itu saja, orang lama yang metodenya belum di-update sejak zaman Orde Baru. Kita butuh regenerasi pelatih yang radikal; kirim kader-kader muda terbaik untuk belajar metode scouting di luar negeri, ikut pelatihan SAR tingkat lanjut, atau kursus manajemen organisasi modern. Jangan biarkan pelatih HW hanya bermodal semangat dan suara lantang, tapi miskin metodologi pendidikan yang menyenangkan dan efektif. Anak sekarang kritis-kritis; mereka akan membandingkan pelatihnya dengan konten kreator di YouTube. Kalau pelatih HW kalah menarik dan kalah pintar dari YouTuber, ya wassalam, ditinggallah latihan itu. Investasi terbesar HW harusnya bukan pada gedung atau seragam, tapi pada peningkatan kapasitas otak dan skill para pelatihnya.

Saya teringat sebuah adagium lama yang mengatakan bahwa "tradisi adalah menjaga apinya, bukan menyembah abunya." HW punya api semangat yang menyala sejak 1918, tapi kalau kita sibuk menyembah abunya (baca: simbol-simbol masa lalu) tanpa menjaga apinya agar tetap panas membakar zaman, maka kita sedang membunuh HW pelan-pelan. Modernisasi bukanlah pengkhianatan terhadap tradisi, melainkan cara terbaik untuk menghormati para pendiri agar warisan mereka tetap hidup dan berguna. K.H. Ahmad Dahlan adalah seorang pembaru, seorang modernis sejati pada zamannya; beliau pasti akan sedih melihat organisasi bentukannya menjadi jumud dan gagap menghadapi perubahan. Kalau beliau masih hidup, mungkin beliau yang akan paling dulu menyuruh kita merombak kurikulum HW agar sesuai dengan kebutuhan abad 21. Jadi, jangan takut dibilang tidak nyunnah atau melanggar pakem hanya karena kita ingin membuat HW lebih relevan dan progresif.

Menjadikan HW sebesar dan sepopuler Tapak Suci memang terdengar ambisius, tapi bukan berarti tidak mungkin jika kita mau bekerja ekstra keras dan cerdas. Kuncinya ada pada "produk" yang kita tawarkan; Tapak Suci punya produk "bela diri" yang jelas manfaatnya, nah HW harus merumuskan "produk" apa yang mau dijual ke publik luas. Apakah produk itu bernama "karakter kepemimpinan"? Apakah "keterampilan survival"? Atau "solidaritas kemanusiaan"? Apapun itu, kemaslah produk tersebut dalam paket yang profesional, tersertifikasi, dan menyenangkan. Buatlah orang merasa rugi kalau tidak ikut HW, bukan merasa terpaksa. Ubah mindset dari "kewajiban" menjadi "kebutuhan".

Mungkin sudah saatnya kita menginisiasi "Jambore Inovasi HW" di mana setiap qabilah atau kwarda diwajibkan memamerkan inovasi teknologi atau sosial mereka, bukan cuma lomba pasang tenda tercepat. Biarkan mereka berkompetisi membuat aplikasi pantau bencana, membuat drone pemetaan desa, atau membuat metode pengolahan limbah plastik. Dari sana akan lahir bibit-bibit unggul yang melek teknologi, yang membuktikan bahwa pandu HW itu smart dan tech-savvy. Panggung-panggung HW harus diisi oleh prestasi nyata yang terukur, bukan sekadar pidato retorika yang mengawang-awang. Inilah cara kita berbicara kepada dunia bahwa HW sudah bangun dari tidur panjangnya dan siap berlari.

Tulisan ini saya tulis bukan karena saya benci, justru karena saking cintanya saya pada warisan Mbah Dahlan ini, saya tidak rela melihatnya lapuk dimakan usia. Benda antik memang mahal harganya, tapi kalau cuma ditaruh di lemari kaca, ia tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kehidupan. HW harus keluar dari etalase sejarah, turun ke jalanan berlumpur, masuk ke laboratorium canggih, dan bergaul di kafe-kafe tempat anak muda nongkrong. Ia harus menjadi teman yang asyik, mentor yang bijak, dan wadah yang menampung segala kegalauan anak muda untuk diubah menjadi energi positif. Milad ke-107 ini harus jadi titik balik, sebuah turning point yang radikal.

Sudah cukup kita bernostalgia, sudah cukup kita merasa besar dengan bayang-bayang masa lalu. Mulai besok, mari kita bongkar kurikulum usang, mari kita desain ulang seragam agar lebih stylish, mari kita buka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin bergabung tanpa sekat-sekat primordial. Jadikan HW sebagai rumah besar bagi patriot-patriot muda yang ingin berkarya untuk bangsa, apapun latar belakang ormas atau agamanya. Kalau Tapak Suci bisa, kenapa HW tidak? Kalau Pramuka bisa punya SAKA, kenapa HW tidak bisa punya korps spesialis yang lebih hebat? Jawabannya ada di kemauan kita untuk berubah atau punah.

Akhir kata, selamat milad ke-107 Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan. Umurmu sudah tua, tapi jiwamu harus tetap muda, liar, dan berbahaya bagi musuh-musuh kemanusiaan. Jangan biarkan dirimu menjadi dinosaurus yang punah karena gagal beradaptasi dengan perubahan iklim zaman. Jadilah elang yang terus memperbarui paruh dan cakarnya agar bisa terbang tinggi dan menerkam mangsa dengan presisi. Mari bergerak, mari berbenah, karena Indonesia butuh pandu-pandu yang bukan cuma jago tepuk tangan, tapi jago menyelesaikan masalah. Fastabiqul khairat!

Suatu kali teman dekat saya merasa jenuh dengan hiruk-pikuk dunia maya yang isinya cuma pamer pencapaian dan debat kusir tak berujung, ia lantas memutuskan untuk mencari ketenangan batin lewat jalur spiritual dengan mendatangi sebuah majelis ilmu. Niat hati ingin mendapatkan siraman rohani yang menyejukkan jiwa dan menata kembali nalar yang mulai bengkok akibat terlalu banyak mengonsumsi konten sampah, tapi yang ia dapatkan justru kebingungan yang hakiki. Di sana, penceramahnya dengan berapi-api menceritakan kisah seorang kyai sakti mandraguna yang konon memiliki kemampuan raga sukma tingkat tinggi hingga bisa berada di dua tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Cerita itu disampaikan dengan sangat meyakinkan seolah-olah kemampuan membelah diri adalah standar kompetensi utama untuk disebut sebagai orang saleh di zaman modern ini. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat jamaah lain mengangguk-angguk takzim seakan cerita itu adalah nutrisi paling bergizi bagi iman mereka yang sedang lapar. Tentu saja dia tidak berani protes atau bertanya tentang relevansi kesaktian itu dengan tagihan listrik yang membengkak, karena bisa-bisa dia dituduh sebagai penganut aliran sesat atau minimal dianggap kurang piknik spiritual. Pulang dari sana, bukannya merasa damai dan tercerahkan, ia cerita kepada saya bahwa ia kini sibuk memikirkan mekanisme fisika kuantum macam apa yang dipakai si tokoh untuk memindahkan jasadnya dari Jawa ke Mekkah tanpa paspor dan visa.

Ilustrasi Pengajian Muhammadiyah (Gambar : AI Generated)

Fenomena mendengarkan kisah-kisah ajaib semacam itu sebenarnya bukan barang baru di telinga masyarakat kita yang memang punya bakat alamiah untuk menyukai hal-hal berbau klenik dan mistis sejak zaman nenek moyang. Kita sering kali lebih mudah takjub pada cerita tentang kiai yang bisa berjalan di atas air tanpa basah sedikit pun daripada takjub pada orang yang berhasil membuat sistem irigasi canggih untuk mengairi sawah petani yang kekeringan. Ada semacam kepuasan batin tersendiri ketika mendengar ada manusia "pilihan" yang tubuhnya kebal bacok, tidak mempan disantet, atau kulitnya sekeras baja saat ditembak peluru tajam penjajah. Logika kita seolah dimanjakan dengan narasi bahwa kedekatan dengan Tuhan itu manifestasinya harus berupa kekuatan super layaknya anggota Avengers yang siap menyelamatkan dunia dari serangan alien. Padahal kalau dipikir-pikir dengan nalar orang lapar, kebal senjata itu tidak serta merta membuat perut kenyang atau membuat jalanan di depan rumah kita jadi mulus bebas lubang. Tapi ya mau bagaimana lagi, pasar cerita kesaktian memang selalu laris manis dan punya pangsa pasar yang militan di negeri yang hup-hup ini.

Kalau sampeyan adalah tipikal orang yang gampang bosan dengan dongeng kesaktian dan lebih suka hal-hal yang masuk akal serta bisa diraba dengan panca indra, mungkin sampeyan akan mengalami gegar budaya yang hebat jika salah masuk pengajian. Bayangkan saja betapa tersiksanya batin seorang rasionalis yang berharap dapat panduan hidup praktis tapi malah disuguhi tutorial cara terbang tanpa sayap yang jelas-jelas tidak bisa dipraktikkan di kantor saat macet melanda. Rasa-rasanya ingin sekali mengangkat tangan dan bertanya kepada ustaznya tentang bagaimana caranya mengubah air menjadi bensin pertamax, karena itu jelas lebih solutif bagi kehidupan umat saat ini. Namun, harapan tinggal harapan, karena biasanya di pengajian model begini, nalar kritis sering kali dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan atau bahkan gangguan jin yang harus segera diruqyah. Akhirnya, kita hanya bisa duduk manis sambil menahan kantuk, mendengarkan kisah heroik masa lalu yang jaraknya ribuan tahun cahaya dari realitas kita yang sedang pusing memikirkan cicilan pinjol.

Nah, di tengah keputusasaan mencari oase spiritual yang ramah nalar dan membumi itulah, saya menyarankan sampeyan untuk sekali-kali mencoba duduk bersila di pengajian Muhammadiyah. Jangan kaget kalau di sana sampeyan tidak akan menemukan aroma kemenyan atau cerita tentang karomah tokoh yang bisa menghilang saat ditagih hutang oleh tetangga. Suasana di pengajian Muhammadiyah itu kering dari nuansa mistis, saking keringnya kadang terasa seperti sedang rapat dewan direksi perusahaan start-up yang sedang membahas valuasi dan ekspansi bisnis. Di sini, alih-alih membahas cara melipatgandakan uang secara gaib, sampeyan akan diajak memutar otak tentang bagaimana caranya mengumpulkan dana umat untuk membangun sesuatu yang nyata dan bisa dilihat mata telanjang. Tidak ada sensasi merinding disko akibat cerita horor, yang ada justru kening yang berkerut memikirkan target pembangunan yang disampaikan dengan detail layaknya presentasi arsitek profesional.

Bagi para pencari sensasi magis dan penikmat cerita legenda urban, pengajian model Muhammadiyah ini jelas terasa hambar, garing, dan membosankan setengah mati karena tidak ada atraksi debus sama sekali. Bagaimana tidak membosankan, lha wong materi yang dibahas tidak jauh-jauh dari urusan semen, batu bata, keramik, perizinan tanah, hingga manajemen aset wakaf yang njlimetnya minta ampun. Penceramahnya tidak akan berbusa-busa menceritakan konon kabarnya beliau pernah shalat Jumat di Masjidil Haram padahal jasadnya terlihat tidur di serambi masjid kampung. Justru penceramahnya akan datang membawa tumpukan proposal pembangunan gedung sekolah baru atau rencana renovasi panti asuhan yang atapnya sudah mulai bocor dimakan rayap. Jamaah tidak diajak untuk melayang ke awang-awang membayangkan surga yang abstrak, tapi diajak menapak bumi untuk menciptakan kepingan surga kecil bagi mereka yang membutuhkan.

Masuk ke lingkungan pengajian Muhammadiyah itu ibarat masuk ke dalam sebuah ekosistem birokrasi langit yang sangat terstruktur, sistematis, dan masif dalam artian yang positif tentunya. Sampeyan akan segera menyadari bahwa fokus utama dari perkumpulan ini adalah kerja nyata, kerja keras, dan kerja cerdas untuk kemaslahatan umat manusia tanpa memandang bulu. Jangan harap bisa pulang membawa jimat penglaris dagangan atau air doa yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit mulai dari panu hingga kanker stadium akhir. Oleh-oleh dari pengajian ini biasanya berupa semangat yang meletup-letup untuk ikut serta dalam proyek kemanusiaan atau minimal rasa malu karena belum bisa berbuat banyak untuk orang lain. Di sini, kesalehan seseorang tidak diukur dari seberapa lama ia bisa bertapa di gua sunyi tanpa makan dan minum, melainkan dari seberapa besar kontribusinya dalam mewujudkan fasilitas publik yang bermanfaat.

Coba perhatikan baik-baik materi kajiannya, hampir selalu bermuara pada ajakan untuk mendirikan masjid yang makmur, sekolah yang berkemajuan, rumah sakit yang melayani, hingga kampus yang mencerahkan. Orang-orang Muhammadiyah ini sepertinya punya obsesi aneh untuk mengubah setiap jengkal tanah wakaf menjadi bangunan produktif yang bisa memutar roda ekonomi dan pendidikan umat. Kalau ada tanah kosong, naluri kemuhammadiyahan mereka akan langsung bergetar hebat dan merumuskan rencana pembangunan amal usaha, bukan merumuskan tempat untuk mencari wangsit. Bagi mereka, membiarkan tanah menganggur tanpa dimanfaatkan untuk kepentingan umat adalah sebuah dosa sosial yang harus segera ditebus dengan amal nyata berupa pembangunan infrastruktur. Maka tak heran jika aset Muhammadiyah bertebaran di mana-mana, dari kota besar hingga pelosok desa yang sinyal internetnya pun masih senin-kamis.

Isi pengajiannya benar-benar pragmatis dalam artian yang paling mulia, yaitu bagaimana agama ini bisa hadir sebagai solusi konkret atas permasalahan hidup sehari-hari yang dihadapi masyarakat. Ketika orang lain sibuk berdebat tentang dalil memanjangkan jenggot atau celana cingkrang, orang Muhammadiyah sudah sibuk meletakkan batu pertama pembangunan klinik kesehatan ibu dan anak. Mereka seolah ingin menegaskan bahwa Islam itu bukan hanya sekadar ritual penyembahan di atas sajadah, tapi juga gerakan sosial yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Narasi yang dibangun adalah narasi pemberdayaan, di mana setiap individu didorong untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing dengan kapasitas yang dimilikinya. Jadi, kalau sampeyan datang ke sana dengan niat ingin belajar ilmu kebal, siap-siap saja kecewa berat karena yang diajarkan adalah ilmu kebal kemiskinan lewat etos kerja dan kewirausahaan.

Di Muhammadiyah, yang dikaji secara mendalam dan berulang-ulang adalah soal bagaimana hidup yang singkat ini agar bisa benar-benar bermanfaat bagi sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Filosofi ini tertanam kuat di benak para kadernya, sehingga orientasi hidup mereka bukan lagi sekadar menyelamatkan diri sendiri dari api neraka, tapi juga menyelamatkan orang lain dari neraka dunia. Mereka percaya bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, sebuah prinsip yang terdengar klise tapi sangat berat pelaksanaannya di lapangan. Tidak ada tempat bagi egoisme spiritual yang hanya mementingkan kesalehan ritual pribadi sambil menutup mata terhadap penderitaan tetangga yang kelaparan atau anak yatim yang putus sekolah. Kesaktian yang diakui di sini adalah kesaktian mengubah uang receh sumbangan jamaah menjadi gedung bertingkat yang melahirkan ribuan sarjana setiap tahunnya.

Cerita-cerita hikmah yang disampaikan di mimbar pengajian Muhammadiyah bukanlah soal kesaktian supranatural orang sakti di masa lampau yang bisa terbang atau menghilang sesuka hati. Yang diceritakan adalah kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan Kiai Ahmad Dahlan yang rela melelang barang-barang rumah tangganya demi menggaji guru-guru di sekolah yang didirikannya. Kisah tentang bagaimana para pendahulu organisasi ini berdarah-darah mempertahankan sekolah dan panti asuhan di tengah gempuran penjajah dan keterbatasan ekonomi yang mencekik leher. Heroisme yang ditonjolkan adalah heroisme pengorbanan harta dan jiwa untuk memastikan roda organisasi tetap berputar memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Tidak ada bumbu mistis yang ditambahkan, karena realitas perjuangan mereka sudah cukup dramatis dan menggetarkan hati tanpa perlu tambahan efek khusus ala film Hollywood.

Justru di sinilah letak keunikan dan kekuatan narasi Muhammadiyah, yang berhasil membumikan sosok-sosok teladan menjadi manusia biasa yang bisa ditiru jejak langkahnya oleh siapa saja. Kiai Dahlan digambarkan bukan sebagai superman yang tak tersentuh, melainkan sebagai manusia biasa yang punya rasa cemas, punya masalah keuangan, tapi punya tekat baja untuk memajukan umatnya. Pendekatan ini membuat jamaah merasa relevan dan terhubung, karena mereka sadar bahwa untuk menjadi mulia tidak perlu menunggu punya sayap atau punya ilmu rawa rontek. Cukup dengan memiliki kepedulian sosial dan mau menyisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan bersama, siapa pun bisa menjadi pahlawan di lingkungannya masing-masing tanpa terkecuali. Ini adalah demokratisasi kesalehan yang luar biasa, di mana tiket masuk surga tidak dimonopoli oleh mereka yang punya privilege keturunan atau kesaktian tertentu.

Kesederhanaan dan kebermanfaatan menjadi dua kata kunci yang terus didengungkan di setiap kesempatan, seolah menjadi mantra wajib yang harus dihafal di luar kepala. Pejabat teras Muhammadiyah sering kali tampil dengan gaya yang jauh dari kesan glamor atau feodal, bahkan kadang sulit dibedakan mana pimpinan pusat dan mana marbot masjid saking sederhananya. Mereka mengajarkan bahwa jabatan dan kekayaan hanyalah alat titipan Tuhan yang harus digunakan seefektif mungkin untuk melayani umat, bukan untuk minta dilayani atau disembah-sembah. Budaya egaliter ini sangat kental terasa, di mana kritik dan masukan bisa disampaikan dengan terbuka tanpa rasa takut kualat pada sang pemimpin. Sebab di sini, yang disucikan adalah nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, bukan sosok individu yang dianggap setengah dewa.

Jamaah pengajian akan diajak untuk melihat bekal akhirat sebagai sebuah rangkaian panjang yang terhubung langsung dengan setiap tindakan kecil yang kita lakukan di dunia ini. Pandangan ini menolak dikotomi atau pemisahan yang kaku antara urusan duniawi dan ukhrawi, seolah-olah keduanya adalah dua kutub yang saling bermusuhan dan tidak bisa didamaikan. Di Muhammadiyah, bekerja mencari nafkah yang halal, belajar ilmu pengetahuan umum, dan berorganisasi adalah bagian integral dari ibadah itu sendiri jika diniatkan dengan benar. Jadi, jangan heran kalau rapat pengurus ranting yang membahas anggaran renovasi toilet masjid pun dianggap sama sakralnya dengan wirid di sepertiga malam terakhir. Karena toilet yang bersih akan membuat jamaah nyaman beribadah, dan kenyamanan itu adalah bagian dari pelayanan yang bernilai pahala di sisi Tuhan.

Melihat akhirat itu bukan sesuatu yang terpisah dari realitas kita saat ini, bukan sebuah dunia antah berantah yang baru akan kita masuki setelah jantung berhenti berdetak nanti. Akhirat adalah perpanjangan dari apa yang kita tanam hari ini, sebuah konsekuensi logis dari setiap keputusan yang kita ambil detik demi detik di dunia yang fana ini. Konsep ini memaksa kita untuk selalu sadar dan waspada dalam bertindak, karena setiap langkah punya dampak jangka panjang yang melintasi batas kematian. Tidak ada istilah "nanti saja tobatnya kalau sudah tua", karena membangun peradaban akhirat harus dimulai sejak muda dengan karya nyata yang monumental. Surga itu tidak bisa diraih hanya dengan melamun atau berangan-angan, tapi harus direbut dengan keringat dan kerja keras dalam menebar kebaikan di muka bumi.

Sesuatu yang wah dan megah di akhirat nanti hanyalah refleksi dari akumulasi kebaikan-kebaikan kecil yang kita tumpuk dengan telaten selama hidup di dunia. Bayangkan akhirat itu seperti sebuah celengan raksasa yang isinya adalah koin-koin amal jariyah yang kita masukkan setiap hari tanpa henti, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Muhammadiyah mengajarkan kita untuk menjadi investor akhirat yang cerdas, yang tahu portofolio amal mana yang memberikan dividen pahala paling besar dan berkelanjutan alias sustainable. Makanya mereka gencar membangun institusi pendidikan dan kesehatan, karena itulah jenis investasi yang pahalanya tidak akan putus meski investornya sudah terkubur di dalam tanah. Ini adalah strategi manajemen spiritual tingkat tinggi yang menggabungkan visi visioner dengan eksekusi lapangan yang presisi.

Dunia ini harus diisi dengan berlomba-lomba dengan kebaikan, sebuah kompetisi sehat yang tidak saling menjatuhkan tapi saling menguatkan satu sama lain dalam koridor kebajikan. Tidak ada waktu untuk saling sikut atau saling dengki melihat keberhasilan orang lain, karena fokus utama adalah bagaimana kita bisa memberikan kontribusi terbaik versi diri kita sendiri. Persaingan di sini bukan soal siapa yang paling kaya atau paling populer, tapi siapa yang paling banyak memberi manfaat dan solusi bagi permasalahan umat. Atmosfer kompetisi ini menciptakan dinamika yang positif, di mana setiap cabang dan ranting Muhammadiyah berlomba-lomba memamerkan prestasi amal usahanya, bukan memamerkan koleksi batu akiknya. Dan hebatnya, "pamer" di sini justru memicu semangat pihak lain untuk meniru dan melakukan hal yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Sehingga akhirat itu terlihat sebagai sebuah akumulasi kebaikan yang solid, bukan sekadar harapan kosong yang digantungkan pada doa orang lain setelah kita mati. Kita diajarkan untuk menjadi arsitek nasib kita sendiri di masa depan dengan menggambar desain amal saleh yang kokoh dan tahan uji sejak hari ini. Tidak ada jalan pintas menuju surga, tidak ada cheat code atau kode curang yang bisa dipakai untuk menembus gerbang keabadian tanpa bekal yang cukup. Semuanya harus melalui proses, melalui tahapan perjuangan yang kadang melelahkan dan penuh tantangan, tapi di situlah letak seninya beragama.

Muhammadiyah menawarkan jalan yang terjal tapi jelas petanya, bukan jalan yang terlihat mulus tapi ternyata menyesatkan ke lembah kemalasan dan fatalisme.

Makanya di Muhammadiyah ada salah satu semboyan yang terkenal yang dikutip dari Alquran, sebuah frasa pendek namun memiliki daya ledak yang luar biasa bagi siapa saja yang merenunginya: Fastabiqul Khairat. Kalimat ini bukan sekadar slogan tempelan yang dipajang di spanduk-spanduk acara atau kop surat organisasi semata. Ini adalah etos, ini adalah ruh, ini adalah bahan bakar nuklir yang menggerakkan mesin organisasi raksasa ini selama lebih dari satu abad lamanya. Fastabiqul Khairat yang berarti "berlomba-lombalah dalam kebaikan" adalah perintah suci yang diterjemahkan menjadi aksi nyata tanpa banyak basa-basi diplomasi. Semboyan ini menampar kita yang sering kali merasa cukup dengan menjadi orang baik yang pasif, padahal menjadi baik saja tidak cukup, kita harus berlomba menjadi yang terbaik dalam memberi manfaat.

Fastabiqul Khairat itu maknanya bukan balapan lari karung 17 Agustusan yang ada menang dan ada kalahnya, di mana yang kalah akan bersedih hati. Dalam konteks ini, semua orang bisa jadi pemenang asalkan mereka bergerak, asalkan mereka tidak diam berpangku tangan melihat ketidakadilan dan kebodohan merajalela. Ini adalah seruan untuk proaktif, inisiatif, dan progresif dalam merespons tantangan zaman yang semakin gila ini dengan solusi yang konstruktif. Ketika ada bencana alam, semangat ini mewujud dalam bentuk pasukan relawan yang turun duluan ke lokasi sebelum bantuan pemerintah sampai. Ketika ada wabah penyakit, semangat ini mewujud dalam kesiapan rumah sakit-rumah sakit Muhammadiyah menjadi garda terdepan penanganan pasien tanpa tanya isi dompetnya dulu.

Bentuk implementasinya di lapangan sangat beragam dan sering kali membuat kita geleng-geleng kepala karena saking totalitasnya orang-orang Muhammadiyah ini dalam beramal. Lihatlah bagaimana ibu-ibu Aisyiyah yang usianya sudah senja masih semangat mengelola Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal di pelosok desa dengan gaji yang mungkin hanya cukup untuk beli bensin motor. Lihatlah bagaimana para pemuda Muhammadiyah patungan uang jajan mereka untuk membedah rumah warga miskin yang hampir roboh tanpa mengharap diliput media massa. Lihatlah bagaimana LazisMu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah dengan manajemen modern yang transparan sehingga setiap rupiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya. Semua itu adalah manifestasi nyata dari Fastabiqul Khairat, bukan sekadar jargon kosong yang diteriakkan saat kampanye pemilihan ketua umum saja.

Semboyan ini juga mengajarkan kita untuk tidak cepat berpuas diri dengan pencapaian yang sudah diraih, karena di atas langit masih ada langit, di atas kebaikan masih ada kebaikan yang lebih besar. Jika hari ini sudah berhasil membangun satu sekolah, maka besok targetnya adalah membangun universitas, dan lusa targetnya mungkin membangun stasiun luar angkasa kalau perlu. Tidak ada kata berhenti atau pensiun dalam kamus perjuangan Muhammadiyah, karena berhenti berarti mati, berhenti berarti membiarkan kebatilan mengambil alih panggung sejarah. Semangat untuk terus bertumbuh dan berkembang inilah yang membuat organisasi ini tetap relevan dan segar meski zaman terus berubah dengan cepatnya. Mereka tidak sibuk meratapi masa lalu kejayaan Islam, tapi sibuk menyusun batu bata peradaban untuk kejayaan masa depan Islam yang berkemajuan.

Uniknya, kompetisi dalam kebaikan ini dilakukan dengan penuh kegembiraan, seolah-olah membangun rumah sakit itu sama asyiknya dengan main futsal bareng teman-teman satu geng. Tidak ada wajah-wajah tertekan atau menderita saat mereka dimintai sumbangan, yang ada justru senyum lebar karena merasa diberi kesempatan untuk menanam saham di akhirat. Dompet boleh menipis, rekening boleh berkurang, tapi hati mereka kaya raya dengan keyakinan bahwa apa yang mereka keluarkan akan kembali berlipat ganda dalam bentuk keberkahan. Logika matematika sedekah ala Muhammadiyah memang sering kali tidak masuk di akal para ekonom kapitalis, tapi terbukti ampuh menjaga cashflow organisasi tetap hijau royo-royo. Keajaiban itu nyata adanya, tapi bukan lewat jampi-jampi, melainkan lewat kekuatan jamaah yang solid dan ikhlas lillahi ta'ala.

Ciri khas lain dari implementasi Fastabiqul Khairat adalah profesionalitas dalam mengelola amal usaha, tidak dikelola dengan sistem manajemen "pokoknya jalan" atau manajemen warung kopi. Sekolah Muhammadiyah harus punya standar mutu yang jelas, rumah sakitnya harus terakreditasi paripurna, dan laporan keuangannya harus diaudit oleh akuntan publik independen. Mereka sadar bahwa niat baik saja tidak cukup, niat baik harus didukung dengan tata kelola yang baik agar hasilnya maksimal dan tidak malah menjadi beban di kemudian hari. Tuhan mencintai pekerjaan yang dilakukan dengan itqan (profesional/tuntas), dan Muhammadiyah berusaha menerjemahkan cinta Tuhan itu ke dalam SOP organisasi yang ketat. Jadi, jangan harap bisa korupsi di sini, karena malaikat pencatat amal dan auditor internal sama-sama galaknya dalam mengawasi setiap sen uang umat.

Bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun, semangat berlomba dalam kebaikan ini terasa denyutnya, misalnya dalam urusan ketepatan waktu memulai acara pengajian atau rapat organisasi. Budaya jam karet alias ngaret yang sudah mendarah daging di masyarakat kita berusaha dikikis pelan-pelan, meskipun kadang masih ada satu dua yang telat dengan alasan ban bocor yang klise. Disiplin waktu dianggap sebagai bagian dari amanah dan penghormatan terhadap waktu orang lain yang juga berharga untuk berbuat kebaikan lainnya. Menghargai waktu adalah menghargai kehidupan itu sendiri, dan orang Muhammadiyah tidak mau menyia-nyiakan kehidupan dengan menunggu hal-hal yang tidak pasti. Semuanya harus terencana, terukur, dan tepat sasaran, agar energi umat tidak habis hanya untuk urusan seremonial belaka.

Pada akhirnya, ajaran di pengajian Muhammadiyah ini menawarkan sebuah perspektif keberagamaan yang

Kalau ada dua hal yang bisa bikin saya langsung kebawa ke masa kecil, itu adalah bau asap kayu bakar dan lagu-lagu mars kepanduan. Entah kenapa, setiap dengar “Satya ku kudarmakan…”, dada ini langsung hangat. Padahal, kalau dipikir-pikir, nyanyi di lapangan panas-panas sambil baris-berbaris itu nggak romantis-romantis amat. Tapi itulah kekuatan gerakan kepanduan, entah itu Hizbul Wathan atau Pramuka, mereka punya cara membekas di hati.

Hari ini, 14 Agustus, adalah Hari Pramuka. Sebagian orang mungkin cuma tahu ini sebagai momen upacara tahunan, pakai seragam cokelat, dan hormat ke bendera. Tapi bagi yang pernah merasakan masa-masa itu, ini bukan sekadar seremoni. Ini nostalgia. Ini ajang reuni tanpa undangan. Dan bagi saya, ini juga kesempatan membicarakan saudara sepupu Pramuka yang jarang disebut: Hizbul Wathan.
Ilustrasi Anggota Pramuka dan Hizbul Wathan Sedang Berkemah Bersama (Gambar : AI Generated)
Banyak yang belum tahu, Hizbul Wathan itu adalah gerakan kepanduan milik Muhammadiyah. Lahirnya bahkan lebih tua dari Pramuka Indonesia. Kalau Pramuka baru resmi dibentuk tahun 1961, Hizbul Wathan sudah berdiri sejak 1918. Waktu itu, KH Ahmad Dahlan belum sibuk diminta foto bareng presiden, tapi sudah mikir pentingnya anak muda belajar disiplin, cinta tanah air, dan siap jadi pemimpin.

Kalau diibaratkan keluarga besar, Pramuka itu sepupu populer yang sering masuk TV, sedangkan Hizbul Wathan itu sepupu alim yang rajin ngaji tapi nggak kalah jago main tali-temali. Keduanya sama-sama pandu, sama-sama suka camping, tapi punya nuansa yang sedikit berbeda. Pramuka identik dengan salam tiga jari, Hizbul Wathan salamnya satu jari ke atas, tanda tauhid. Sama-sama keren, cuma beda gaya.

Di masa sekarang, dua gerakan ini seperti dua toko kelontong yang masih bertahan di tengah gempuran minimarket 24 jam. Anak-anak sekarang lebih familiar sama game mobile dan TikTok daripada semaphore atau morse. Tapi herannya, Pramuka dan Hizbul Wathan tetap hidup. Bahkan, di beberapa sekolah, justru jadi ekstrakurikuler yang paling rame.

Saya masih ingat, dulu latihan Pramuka itu penuh aroma keringat bercampur tanah basah. Pelatihnya tegas, tapi sering bercanda. Ada yang galak banget, kalau barisnya nggak rapi bisa disuruh push-up. Tapi ada juga yang kalau capek latihan, ujung-ujungnya ngasih tebak-tebakan receh. Kalau di Hizbul Wathan, latihannya mirip, cuma ada tambahan yel-yel yang nyebut nama Allah dan pesan moral dari sirah Nabi.

Banyak orang kira kegiatan kepanduan cuma soal simpul tali dan bendera. Padahal, ada filosofi mendalam di balik itu. Mengikat tali bukan cuma biar tenda berdiri, tapi simbol bahwa hidup itu butuh simpul yang kuat: prinsip, iman, dan persaudaraan. Dan belajar kode morse itu mengajarkan bahwa komunikasi itu penting, bahkan dalam keadaan darurat sekalipun.

Yang bikin saya salut, di zaman serba digital ini, kegiatan kepanduan masih bisa bikin anak-anak mau lepas dari HP. Coba aja suruh anak SMA ikut perkemahan. Awalnya mungkin ngedumel karena sinyal susah. Tapi begitu malam api unggun, semua lupa HP. Nyanyi bareng, cerita horor, atau sekadar saling goda sambil makan mie rebus. Itu pengalaman yang nggak bisa diunduh.

Pramuka punya Dasa Dharma, Hizbul Wathan punya 10 janji pandu. Keduanya berisi nilai-nilai yang, kalau dipraktikkan, bisa bikin negara ini adem. Mulai dari takwa kepada Tuhan, cinta alam, tolong-menolong, sampai disiplin. Sederhana, tapi justru sering dilupakan orang dewasa yang katanya lebih “paham hidup”.

Bagi sebagian anak muda Muhammadiyah, Hizbul Wathan bukan sekadar ekskul, tapi jalan kaderisasi. Di situlah mereka belajar memimpin regu, membimbing adik kelas, bahkan mengatur acara besar. Di Pramuka juga sama. Coba tanya anak yang pernah jadi Ketua Dewan Ambalan, mereka pasti punya skill organisasi yang lebih rapi dari panitia konser.

Saya pernah ikut perkemahan bareng Pramuka dan Hizbul Wathan sekaligus. Rasanya kayak gabungan dua band besar main di panggung yang sama. Ada lagu Pramuka, ada mars Hizbul Wathan. Ada salam tiga jari, ada satu jari. Tapi suasananya akur-akur aja. Karena pada dasarnya, misi mereka sama: membentuk generasi yang tangguh, berkarakter, dan siap melayani.

Yang menarik, seragam mereka pun punya cerita. Seragam Pramuka cokelat muda-cokelat tua itu terinspirasi warna tanah, lambang kesederhanaan. Seragam Hizbul Wathan biasanya hijau tua-hijau muda, simbol kesuburan dan kehidupan. Dua-duanya mengajarkan cinta alam lewat warna yang mereka pakai di badan. Ini semacam fashion statement yang nggak lekang waktu.

Kalau di Pramuka ada tingkatan Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega, di Hizbul Wathan ada Athfal, Pengenal, Penghela, dan Penuntun. Namanya beda, tapi filosofinya sama: tumbuh bertahap, belajar dari yang kecil sampai mandiri. Hidup itu memang seperti perjalanan kepanduan, selalu ada tingkat berikutnya yang harus dicapai.

Yang kadang bikin saya tertawa sendiri adalah tradisi lomba-lomba. Dari lomba pionering sampai jelajah rute. Ada yang saking semangatnya bikin menara tali, malah roboh sebelum dinilai. Ada juga yang waktu jelajah malah nyasar ke kebun warga dan pulang bawa pisang. Tapi semua itu jadi cerita yang diceritakan ulang bertahun-tahun kemudian.

Di Hari Pramuka ini, saya rasa penting mengingat bahwa gerakan kepanduan bukan cuma warisan masa lalu. Ini investasi masa depan. Kalau anak-anak sekarang bisa disiplin bangun pagi untuk apel, mereka mungkin akan terbiasa tepat waktu di dunia kerja. Kalau mereka terbiasa menolong teman satu regu, kelak mereka nggak akan cuek sama tetangga.

Hizbul Wathan dan Pramuka juga punya kesamaan dalam hal menanamkan rasa nasionalisme. Bukan nasionalisme teriak-teriak, tapi yang tenang dan konsisten. Menghormati bendera, menjaga lingkungan, menghargai keberagaman. Nilai-nilai ini justru terasa mahal di era medsos yang penuh debat kusir.

Bagi saya pribadi, perkemahan adalah puncak dari semua kegiatan kepanduan. Di sanalah semua teori diuji: simpul tali, masak-memasak, kerjasama tim. Dan anehnya, di sanalah juga banyak kisah cinta monyet lahir. Entah kenapa, obor dan api unggun punya efek dramatis buat anak remaja. Pramuka atau Hizbul Wathan, semua pernah ngalamin.

Saya yakin, kalau KH Ahmad Dahlan masih hidup, beliau akan senyum melihat Hizbul Wathan masih eksis. Begitu juga Bapak Pandu Indonesia, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, pasti bangga lihat Pramuka tetap kokoh. Karena di tengah semua perubahan zaman, dua gerakan ini masih setia pada misinya.

Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana membuat kepanduan relevan untuk generasi yang tumbuh dengan Netflix dan Instagram. Tantangannya besar, tapi bukan berarti mustahil. Bayangkan kalau pionering di-update jadi bikin instalasi seni dari bambu, atau jelajah alam dilengkapi tantangan foto Instagramable. Anak-anak pasti makin semangat.

Saya pernah lihat latihan gabungan Pramuka dan Hizbul Wathan di sebuah lapangan desa. Dari jauh, kelihatan kayak dua kelompok suporter bola yang berbeda atribut. Tapi saat nyanyi lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”, semua larut. Bulu kuduk merinding. Rasanya, inilah Indonesia yang kita mau: berbeda tapi satu tujuan.

Di kampus Muhammadiyah, Hizbul Wathan sering jadi kegiatan wajib bagi mahasiswa baru. Awalnya banyak yang malas, tapi ujung-ujungnya kangen. Karena di situlah mereka kenal teman-teman baru, belajar baris-berbaris, dan merasakan serunya yel-yel bareng. Ada energi kolektif yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Pramuka juga punya efek yang sama di sekolah-sekolah negeri. Banyak yang mengaku awalnya ikut karena diwajibkan, tapi akhirnya ketagihan. Mungkin karena di situ mereka merasa punya peran. Menjadi bagian dari regu, memegang bendera, atau bahkan sekadar jaga tenda. Semua bikin merasa dibutuhkan.

Kalau ada yang bilang gerakan kepanduan itu ketinggalan zaman, saya akan bilang: tunggu dulu. Justru di zaman yang serba instan ini, latihan kesabaran, kerjasama, dan kemandirian itu mahal. Dan kepanduan menawarkan semua itu dalam paket lengkap. Gratis pula, kecuali iuran makan mie instan di perkemahan.

Hizbul Wathan dan Pramuka juga mengajarkan kepemimpinan yang membumi. Pemimpin regu nggak cuma nyuruh-nyuruh, tapi ikut gotong royong. Pemimpin sejati adalah yang mau tidur di tenda bocor bersama anggotanya, bukan yang kabur ke tenda panitia. Ini pelajaran yang bahkan bos-bos kantoran pun kadang lupa.

Banyak alumni kepanduan yang sukses di berbagai bidang. Ada yang jadi guru, tentara, pengusaha, bahkan pejabat. Dan kalau ditanya rahasianya, banyak yang bilang: mental dan disiplin yang dibentuk sejak jadi pandu. Rupanya, ilmu mendirikan tenda di tengah hujan ada hubungannya dengan mendirikan bisnis di tengah krisis.

Kadang, saya membayangkan jika Pramuka dan Hizbul Wathan bikin jambore nasional gabungan. Bayangkan ribuan tenda dengan warna berbeda berdiri berdampingan. Yel-yel bersahut-sahutan. Malam api unggun diakhiri dengan lagu kebangsaan yang dinyanyikan bersama. Itu pasti jadi momen persatuan yang luar biasa.

Di Hari Pramuka ini, mari kita ingat bahwa kepanduan adalah tentang membentuk manusia. Bukan sekadar pintar membuat simpul, tapi juga tahu kapan harus mengendurkan ikatan. Bukan cuma pandai memimpin barisan, tapi juga peka terhadap yang tertinggal di belakang. Itulah jiwa sejati pandu.

Kalau ditanya apa bedanya Hizbul Wathan dan Pramuka, saya akan jawab: sama-sama mendidik, sama-sama membentuk karakter, cuma punya aksen yang berbeda. Seperti dua lagu dari genre yang sama tapi liriknya beda. Dan seperti musik, semakin banyak kita dengar, semakin kaya pengalaman kita.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Pramuka untuk semua pandu di negeri ini. Baik yang berseragam cokelat maupun hijau, yang salamnya tiga jari maupun satu jari. Teruslah menyalakan api semangat, karena generasi ini butuh teladan. Dan semoga, 10-20 tahun lagi, masih ada anak-anak yang bangga bilang, “Saya ini bekas pandu.”


Kala senja menyapa Yogyakarta di penghujung abad ke-19, K.H. Ahmad Dahlan, sosok yang kelak menjadi pelita Muhammadiyah, termenung di Langgar Kidul. Sepulang menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama di tanah suci, hatinya gelisah. Ada yang mengganjal dalam pelaksanaan ibadah umat Islam di kampung halamannya. Arah kiblat, yang seharusnya mengarah tepat ke Ka'bah di Mekkah, terasa melenceng. Kegelisahan ini bukan tanpa dasar. Selama di Mekkah, Kiai Dahlan tekun mempelajari ilmu falak, ilmu tentang pergerakan benda-benda langit. Pengetahuannya ini memberinya keyakinan bahwa arah kiblat di Masjid Gedhe Kauman dan masjid-masjid lain di Yogyakarta perlu diluruskan.

Tekad Kiai Dahlan membuncah. Ia ingin meluruskan arah kiblat, bukan hanya secara fisik, tetapi juga sebagai simbol pemurnian ibadah umat. Namun, jalan yang terbentang tidaklah mudah. Pemikirannya yang progresif, yang mendasarkan penentuan arah kiblat pada ilmu falak, berbenturan dengan tradisi yang telah mengakar kuat. Para ulama dan masyarakat awam kala itu masih berpegang pada metode tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Ilustrasi Arah Kiblat (Gambar : pngtree)

Kiai Dahlan mencoba mengajak dialog, menjelaskan dengan sabar berdasarkan ilmu yang dipelajarinya. Ia menunjukkan perhitungan dan bukti-bukti bahwa arah kiblat yang selama ini digunakan memang kurang tepat. Namun, respons yang diterimanya jauh dari dukungan. Sebagian besar ulama menolak gagasannya, bahkan menudingnya menyebarkan ajaran sesat yang dapat menimbulkan kekacauan.

Di tengah penolakan dan cemoohan, Kiai Dahlan tidak gentar. Ia meyakini kebenaran berdasarkan ilmu pengetahuan. Keyakinan itulah yang mendorongnya untuk tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Ia mulai menerapkan arah kiblat yang diyakininya benar di Langgar Kidul, tempat ia mengajar dan membimbing para santrinya.

Langkah Kiai Dahlan ini semakin memantik kontroversi. Masyarakat terpecah, ada yang mendukung, namun lebih banyak yang menentangnya. Puncaknya, ketika para murid Kiai Dahlan membuat tanda shaf baru di Masjid Gedhe Kauman sesuai dengan arah kiblat yang telah diluruskan. Peristiwa ini membuat Kanjeng Penghulu Keraton, yang merupakan otoritas keagamaan tertinggi kala itu, murka. Langgar Kidul dibongkar, dan Kiai Dahlan mendapat tekanan hebat untuk menghentikan "bid'ah"-nya.

Semangat Pembaruan di Tengah Badai Penolakan

Kiai Dahlan dihadapkan pada pilihan sulit: menyerah pada tekanan atau tetap berjuang demi keyakinannya. Ia hampir saja putus asa, ingin meninggalkan Kauman, bahkan Yogyakarta. Namun, berkat dukungan dan nasehat dari orang-orang terdekatnya, ia kembali tegar. Kiai Dahlan menyadari bahwa perjuangan meluruskan arah kiblat bukanlah sekedar persoalan fisik, melainkan bagian dari upaya membangun masyarakat Islam yang berkemajuan, yang berlandaskan pada al-Qur'an dan sunnah, serta terbuka terhadap ilmu pengetahuan.

Perlahan namun pasti, usaha Kiai Dahlan mulai membuahkan hasil. Semakin banyak orang yang memahami maksud dan tujuannya. Mereka tergerak oleh keteguhan dan keikhlasan Kiai Dahlan dalam menyampaikan kebenaran. Dukungan pun mulai berdatangan, tidak hanya dari kalangan awam, tetapi juga dari sebagian ulama yang berpikiran terbuka.

Kiai Dahlan tidak hanya berjuang meluruskan arah kiblat. Ia juga mengajarkan pentingnya menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Ia mendorong umat Islam untuk tidak takut pada kemajuan zaman, melainkan harus aktif mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perjuangan Kiai Dahlan ini menjadi cikal bakal berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1912. Organisasi ini lahir dengan semangat pembaruan, menyerukan kembali pada ajaran Islam yang murni, serta menganjurkan umat Islam untuk memajukan diri dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan.

Meluruskan Arah Kiblat: Metafora Gerakan Muhammadiyah

Kisah K.H. Ahmad Dahlan meluruskan arah kiblat di Yogyakarta menjelang abad ke-20, mengandung makna filosofis mendalam bagi gerakan Muhammadiyah. Peristiwa ini bukanlah sekedar koreksi arah bangunan fisik, melainkan sebuah perumpamaan tentang semangat pembaruan yang menjadi roh perjuangan Muhammadiyah. Meluruskan arah kiblat sejatinya merupakan upaya pemurnian aqidah, penajaman orientasi hidup, dan peneguhan komitmen umat Islam dalam menjalankan ajaran agamanya.

Ibarat pedoman yang menunjukkan arah, kiblat menjadi penentu dalam menjalankan ibadah shalat. Arah yang benar akan mengantarkan pada sasaran yang tepat, sementara arah yang melenceng akan menyebabkan kesesatan. Demikian pula dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, umat Islam harus memiliki orientasi yang jelas dan lurus, yaitu mencapai ridha Allah SWT dan kemaslahatan bersama.

Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan meluruskan arah kiblat mengajarkan kita untuk senantiasa berpegang teguh pada kebenaran, meskipun harus berhadapan dengan rintangan dan tantangan. Beliau menunjukkan bahwa kebenaran harus diperjuangkan, meskipun harus berkorban dan menanggung resiko. Sikap teguh pendirian dan keberanian beliau dalam menyuarakan kebenaran patut diteladani oleh setiap generasi Muhammadiyah.

Meluruskan arah kiblat juga merupakan simbol dari semangat ijtihad dan pembaruan dalam beragama. K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan kita untuk tidak taklid buta terhadap tradisi dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Umat Islam harus berani menggunakan akal dan pikirannya untuk memahami agama secara mendalam dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi.

Semangat meluruskan arah kiblat juga relevan dengan upaya Muhammadiyah dalam mencerahkan umat dan memajukan bangsa. Muhammadiyah harus terus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Muhammadiyah juga harus menjadi pelopor dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan bermartabat.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat meluruskan arah kiblat dapat dimaknai sebagai upaya untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, dan bebas dari korupsi. Muhammadiyah harus aktif dalam mengawal jalannya pemerintahan agar senantiasa berpihak pada kepentingan rakyat.

Meluruskan arah kiblat juga bermakna menjaga ukhuwah islamiyah dan kerukunan antarumat beragama. Muhammadiyah harus terus mempromosikan dialog dan kerjasama antarumat beragama guna mewujudkan perdamaian dan persatuan bangsa.

Di era globalisasi ini, semangat meluruskan arah kiblat juga berarti menjaga identitas dan jati diri bangsa di tengah arus budaya global. Muhammadiyah harus mampu menyaring berbagai pengaruh budaya asing yang masuk ke Indonesia, sehingga umat Islam tidak terjerumus pada hedonisme, materialisme, dan sekularisme.

Dengan demikian, semangat meluruskan arah kiblat merupakan spirit yang terus menyala dalam gerakan Muhammadiyah. Semangat ini mendorong Muhammadiyah untuk terus berbenah diri, memperbaiki kualitas ibadah, menuntut ilmu, dan berkontribusi positif bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Semangat meluruskan arah kiblat bukanlah sebuah slogan kosong, melainkan sebuah aksi nyata yang harus diwujudkan dalam setiap langkah dan gerakan Muhammadiyah. Setiap warga Muhammadiyah harus menjadi pelopor pembaruan, agen perubahan, dan inspirator kemajuan bagi lingkungan sekitarnya.

Melalui semangat meluruskan arah kiblat, Muhammadiyah akan terus berkiprah dalam mencerahkan umat, memajukan bangsa, dan mewujudkan peradaban yang berkemajuan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuk-Nya kepada kita semua dalam menjalankan amanah ini.

Relevansi di Era Modern

Di era modern yang diwarnai arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang pesat, semangat "meluruskan arah kiblat" yang diwariskan K.H. Ahmad Dahlan tetap menjadi kompas bagi gerakan Muhammadiyah. Semangat ini bukan hanya tentang arah fisik dalam shalat, melainkan sebuah metafora untuk terus menerus memurnikan niat, mencari kebenaran sejati, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Muhammadiyah, sebagai organisasi Islam yang lahir dari semangat pembaruan, memikul tanggung jawab untuk menjawab tantangan zaman. Permasalahan kemiskinan, kebodohan, kesenjangan sosial, dan degradasi moral menuntut langkah nyata dan solutif. Diperlukan ijtihad dan terobosan baru agar Muhammadiyah tetap relevan dan bermanfaat bagi umat dan bangsa.

Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah dituntut untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikannya, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Kurikulum harus dikembangkan agar mampu menghasilkan lulusan yang berintelektualitas tinggi, berakhlak mulia, dan memiliki daya saing global. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran juga harus dioptimalkan.

Di bidang kesehatan, Muhammadiyah harus terus meningkatkan pelayanan kesehatan melalui jaringan rumah sakit dan klinik yang dimilikinya. Akses pelayanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas harus dijamin bagi seluruh lapisan masyarakat. Pengembangan riset dan inovasi di bidang kesehatan juga perlu didorong agar Muhammadiyah dapat berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan bangsa.

Di bidang ekonomi, Muhammadiyah perlu menguatkan peran lembaga keuangan mikro dan usaha kecil menengah yang dimilikinya. Pemberdayaan ekonomi umat melalui pengembangan kewirausahaan dan koperasi harus terus ditingkatkan. Muhammadiyah juga harus aktif dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi angka pengangguran.

Di bidang sosial kemasyarakatan, Muhammadiyah harus terus berperan aktif dalam mengatasi berbagai persoalan sosial, seperti kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Program-program pemberdayaan masyarakat harus ditingkatkan efektivitasnya agar mampu menciptakan masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

Dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, Muhammadiyah harus bijak dan cermat. Di satu sisi, teknologi informasi dan komunikasi dapat menjadi sarana dakwah yang efektif dan menjangkau masyarakat luas. Namun di sisi lain, teknologi informasi dan komunikasi juga memiliki potensi negatif, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan pornografi. Oleh karena itu, literasi digital harus ditingkatkan agar warga Muhammadiyah dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara bijak dan bertanggung jawab.

Muhammadiyah juga harus tetap waspada terhadap berbagai ideologi dan paham yang bertentangan dengan ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin. Ekstremisme, radikalisme, dan terorisme harus diberantas karena merusak citra Islam dan mengancam keutuhan bangsa. Muhammadiyah harus aktif dalam mempromosikan Islam yang moderat, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam menjalankan perannya di era modern ini, Muhammadiyah harus terus memperkuat soliditas dan konsolidasi organisasi. Kerjasama antar berbagai unsur di dalam Muhammadiyah, mulai dari pimpinan pusat hingga ranting, harus terus ditingkatkan. Partisipasi aktif dari seluruh warga Muhammadiyah juga sangat diperlukan agar Muhammadiyah dapat terus berkembang dan berkontribusi bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

***

Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan meluruskan arah kiblat merupakan tonggak penting dalam sejarah Muhammadiyah. Perjuangan ini mengajarkan kita tentang pentingnya berpegang teguh pada kebenaran, berani menyuarakan kebenaran, dan terus berusaha untuk memperbaiki diri dan masyarakat.

Semoga semangat meluruskan arah kiblat ini terus menginspirasi kita semua untuk menjadi muslim yang berkemajuan, yang senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas ibadah, menuntut ilmu, dan berkontribusi positif bagi umat dan bangsa. 

Dunia maya kembali dihebohkan dengan aksi seorang penceramah agama bergelar "Gus" yang menggoblok-goblokkan penjual es teh. Ucapannya yang kasar dan merendahkan memicu amarah netizen. Sang Gus, dengan entengnya, berdalih hanya bercanda. Netizen semakin geram. Bercanda boleh, tapi menghina orang lain jelas melewati batas.

Insiden ini memantik pertanyaan menarik: Bagaimana sebenarnya sejarah dan makna gelar "Gus" dalam konteks keagamaan di Indonesia? Gelar "Gus" umumnya disematkan kepada anak laki-laki seorang kyai, pemimpin pesantren. Gelar ini merupakan bentuk penghormatan atas garis keturunan dan keilmuan agama yang diharapkan mengalir dalam diri mereka. Gus diasosiasikan dengan sosok yang santun, berilmu, dan berwibawa.

Ilustrasi (Gambar : Istimewa)

Namun, seiring berjalannya waktu, penggunaan gelar "Gus" mengalami pergeseran makna. Kini, banyak penceramah agama yang menyandang gelar "Gus" meskipun bukan anak kyai. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang standar dan kualifikasi seseorang untuk menyandang gelar tersebut.

Lalu, bagaimana dengan Muhammadiyah? Apakah ada "Gus" di Muhammadiyah? Jawabannya, tidak ada. Muhammadiyah, sebagai organisasi Islam modernis, tidak mengenal sistem gelar kebangsawanan seperti "Gus" atau "Ning". Satu-satunya "Gus" yang real ada di Muhammadiyah adalah Agus. Lengkapnya Agus Taufiqurrahman, salah seorang Ketua Majelis di Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Berbicara tentang "Gus" dan guyonan sampah, menarik untuk mengamati gaya ceramah di Muhammadiyah. Para penceramah Muhammadiyah umumnya menyampaikan materi dengan bahasa yang lugas, sistematis, dan berfokus pada dalil Al-Quran dan Hadis. Gaya bercanda yang "nyeleneh" atau merendahkan jarang ditemukan.

Mengapa demikian? Muhammadiyah memiliki tradisi intelektual yang kuat. Pendirinya, KH. Ahmad Dahlan, menekankan pentingnya pendidikan dan pemikiran kritis. Para penceramah Muhammadiyah dituntut untuk menyampaikan materi yang berbobot dan berlandaskan dalil yang kuat.

Selain itu, Muhammadiyah juga menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan etika dalam berkomunikasi. Menghina atau merendahkan orang lain jelas bertentangan dengan nilai-nilai tersebut.

Lantas, apakah penceramah Muhammadiyah tidak pernah bercanda? Tentu saja pernah. Namun, candaan mereka umumnya bersifat ringan, menyegarkan, dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Bahkan, banyak penceramah Muhammadiyah yang justru dikenal karena gaya ceramahnya yang serius dan mendalam [sebagian orang bahkan melabeli "mboseni" karena saking seriusnya dalam berceramah].

Boro-boro bercanda sampah, bercanda garing saja banyak yang tidak bisa. Ini bukan berarti penceramah Muhammadiyah kaku dan tidak humoris. Mereka hanya lebih memilih untuk menyampaikan materi dengan cara yang efektif dan bermartabat.

Fenomena "Gus" dan guyonan sampah mengingatkan kita akan pentingnya menjaga etika dan kesopanan dalam berkomunikasi, terutama ketika menyampaikan pesan-pesan agama. Gelar keagamaan seharusnya tidak dijadikan alat untuk meninggikan diri atau merendahkan orang lain.

Candaan boleh saja, asalkan tidak menyakiti hati orang lain. Mari kita jadikan agama sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Muhammadiyah, dengan tradisi intelektual dan etika komunikasinya, menunjukkan bahwa dakwah dapat disampaikan dengan cara yang cerdas, santun, dan bermartabat. 

Dalam lorong-lorong sejarah Indonesia, potret perjuangan sebuah organisasi massa Islam amat lah lekat dengan keberlangsungan hidup bangsa ini. Muhammadiyah, dengan awal yang teduh pada tahun 1912, telah menyisir panorama kebangsaan yang bergolak dengan pemikiran-pemikiran progresif. Muhammadiyah bukan sekadar entitas sosial keagamaan; ia adalah manifestasi dari semangat reformasi yang digali dari ajaran Islam, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk pendidikan dan dakwah serta layanan kesehatan bagi masyarakat. Berdiri di ambang kolonialisme yang menyengat, Muhammadiyah tumbuh sebagai oase pemikiran yang mempertimbangkan ulang hubungan antara agama dan negara, dan bagaimana keduanya bisa saling menguntungkan tanpa terjerumus ke dalam lubang konflik kepentingan.

Berdiri pada 18 November 1912, Muhammadiyah melintas zaman dengan menjunjung tinggi prinsip dakwah, pendidikan, serta kesehatan, seraya condong menghindari tarik-ulur politik praktis. Tidak berarti Muhammadiyah absen dalam percaturan negeri; justru sebaliknya, organisasi ini mengambil posisi yang amat strategis dengan menyuntikkan wawasan dan etika ke dalam wacana publik tanpa terperangkap dalam hiruk-pikuk politik elektoral. Melalui corak pendekatan yang mereka adopsi, Muhammadiyah telah membuktikan bahwa berpolitik tidak harus selalu tentang memperebutkan kekuasaan; ia juga tentang menyebarkan pengaruh melalui edukasi dan karya sosial.

Namun, pemaknaan terhadap konsep 'tidak berpolitik praktis' ini seringkali direduksi semata sebagai ketidakberadaan di panggung politik elektoral. Kritikus mungkin menganggap ini sebagai tanda ketidakberdayaan atau bahkan ketakutan untuk berbaur dalam kotoran politik. Namun, pandangan itu mengabaikan cara-cara halus namun kuat yang digunakan Muhammadiyah untuk menginspirasi dan memengaruhi kebijakan publik. Menegakkan nilai-nilai yang mereka pegang teguh, Muhammadiyah telah melakukan intervensi sosial-intelektual yang melampaui sekedar gerakan politik konvensional.

Ahmad Syauqi Soeratno (SQ) adalah salah satu calon anggota DPD RI yang didukung resmi oleh Muhammadiyah melalui PWM DIY (Foto : KR Jogja)

Dalam merenungkan peran Muhammadiyah dan prinsipnya yang apolitis, kita harus menelaah konteks yang lebih luas: politik dalam arti klasik yang mengandaikan pertarungan hegemoni kekuasaan ternyata tidak mampu menampung semua ekspresi kekuatan sosial dan moral yang dimiliki oleh organisasi masa seperti Muhammadiyah. Dengan dalih mempertahankan khittahnya, organisasi ini sebenarnya telah mendefinisikan kembali politik sebagai medan yang lebih inklusif dan edukatif, yang bukan hanya mempengaruhi, tapi juga membentuk karakter bangsa.

Peran aktif Muhammadiyah dalam mengawal tatanan negara termanifestasi saat mereka memutuskan untuk terlibat lewat Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI). Dengan langkah ini, mereka telah memilih untuk menggunakan sebuah platform yang memberikan mereka suara dalam pembahasan dan penyusunan undang-undang. Lewat keterlibatan ini, Muhammadiyah tidak hanya menunjukkan komitmennya terhadap ideologi dan prinsip, tetapi juga berkontribusi nyata dalam proses legislatif.

Perlu dipahami, khittah Muhammadiyah yang tidak berpolitik praktis bukan berarti apatis terhadap kebijakan dan tatanan bernegara. Keyakinan mereka terhadap nilai-nilai agama sebagai fondasi moral dan etika, mendorong mereka untuk terus terlibat dalam diskursus kebijakan publik. Sebagai lembaga yang memiliki sejarah panjang dan peranan penting dalam proses kemerdekaan Indonesia, Muhammadiyah dengan tegas menunjukkan bahwa peranan mereka bukan hanya sebagai pendukung dalam pidato dan teks-teks doa, melainkan sebagai agen perubahan yang substantif.

Stabilitas politik dan ketertiban sosial merupakan tujuan yang diupayakan Muhammadiyah melalui keterlibatannya yang bijaksana. Mereka hadir dalam diskusi mengenai berbagai isu nasional dengan memberikan perspektif yang seimbang dan didasarkan pada prinsip keadilan dan kebenaran yang universal. Organisasi ini membuktikan bahwa, dengan prinsip apolitis, dapat tetap mengedepankan diplomasi moral yang mempengaruhi keputusan negara, sedemikian rupa sehingga kesejahteraan sosial dan integritas nasional terjaga.

Adalah menarik untuk melihat bagaimana Muhammadiyah sebagai organisasi massa Islam yang besar, dengan bijaksana memanfaatkan prinsip-prinsipnya sebagai tenaga penggerak yang memastikan bahwa walaupun tidak berpartisipasi secara langsung dalam politik praktis, mereka tetap memiliki suara yang berat dalam menentukan arah masa depan bangsa Indonesia. Muhammadiyah, dengan tindakan dan prinsipnya, menyerukan bahwa kekuatan utama dalam politik sebenarnya bukanlah yang paling vokal atau yang paling banyak menghuni kursi kekuasaan, namun adalah mereka yang dapat menanamkan nilai-nilai luhur dan menunjukkan tindakan yang mencerminkan kebijaksanaan itu sendiri.

Berangkat dari kehati-hatian serta prinsip yang tidak memungkinkan terjadi tumpang tindih antara misi dakwah dengan politik praktis, keberadaan DPD RI menjadi sebuah medium yang strategis. DPD RI, sebagai lembaga legislatif yang memiliki kewenangan dalam membahas dan memberikan masukan terhadap RUU terkait otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, serta sumber daya alam dan ekonomi lainnya, terlihat menjadi lahan yang subur untuk Muhammadiyah menampakkan keberpihakannya anak negeri tanpa harus tercatat sebagai pelaku politik praktis.

DPD RI menawarkan jalur partisipatif atas dasar penghayatan terhadap cinta tanah air dan pengejawantahan nilai-nilai agama dalam struktur kenegaraan. Hal ini serupa dengan filosofi Muhammadiyah yang mengedepankan 'amal ma'ruf nahi munkar' guna menegakkan keadilan sosial. Dengan mengirimkan kader-kadernya partisipasi muhammadiyah dalam struktur legislatif, lebih khusus melalui DPD RI menjadi salah satu realisasi bahwa kecintaan dan kepedulian terhadap negeri ini tidak bisa hanya diwujudkan lewat mimbar-mimbar dakwah atau ruang-ruang kelas semata.

Keikutsertaan kader Muhammadiyah melalui DPD RI dapat dilihat sebagai manifestasi dari fungsi dan peran serta umat dalam ranah politik tata negara yang lebih luas. Sejatinya, politik dalam pengertian yang substansial adalah bagaimana mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat luas, dan dalam konteks ini, Muhammadiyah bergerak selaras dengan amanat tersebut.

Alasan pemilihan jalur DPD RI oleh Muhammadiyah mendapat penguatan filosofis dari pendiriannya yang teguh untuk berkontribusi atas perbaikan dan pengawalan bangsa dari sudut pandang moral dan societal building tanpa terjerumus ke dalam kuasa yang mungkin akan mengaburkan khittah. Ini menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap berpijak pada garis besar perjuangannya, yaitu untuk membangun umat yang berkualitas dan berakhlak mulia, dan sekaligus menjadi katalis perubahan sosial yang positif.

Pada titik ini, perjuangan Muhammadiyah tidaklah tumpul pada satu sektor saja. Organisasi ini terus bergerak, meresapi berbagai lini kehidupan, termasuk keberadaan dalam kancah politik kenegaraan melalui jalur legislatif seperti DPD RI. Keputusan menempuh koridor DPD RI adalah konfirmasi bahwa perjuangan Muhammadiyah adalah jauh dari narasi mendominasi kekuasaan, tetapi lebih pada menjaga nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kebajikan dalam kehidupan bernegara. Hal ini merupakan realisasi konkret dari aspirasi yang selalu dijunjung tinggi oleh organisasi ini yaitu untuk berpartisipasi langsung dalam membangun fondasi negara dan masyarakat Indonesia yang kuat, adil, serta sejahtera. 

Melalui jalur politik keummatan yang dijalaninya, Muhammadiyah dengan tegas menunjukkan bahwa peran serta politik tak harus identik dengan konflik kepentingan, korupsi, atau kekuasaan yang memabukkan. Sebaliknya, politik yang dijalankan Muhammadiyah melalui DPD RI memiliki daya tangkap yang tinggi terhadap aspirasi rakyat, serta mengusung prinsip transparansi dan akuntabilitas, sebagai sarana dalam mencapai tujuan luhur yaitu mensejahterakan umat.

Dengan melibatkan diri dalam proses legislatif, membawa suara rakyat ke meja perwakilan, dan mengawal pembuatan undang-undang yang berkeadilan, gerak Muhammadiyah melalui DPD RI tidak lain adalah perwujudan dari jati dirinya sebagai 'Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, membuktikan kesetaraan gender dalam peranan serta politik; Pemuda Muhammadiyah, sebagai garda terdepan yang mengusung semangat keberanian dan inovasi; serta Majelis dan Lembaga yang memiliki kepedulian dalam penelitian dan pengembangan pada setiap aspek kehidupan.

Pada akhirnya, melalui kehadiran dan peran sertanya dalam DPD RI, Muhammadiyah ikut serta menegaskan dan menjaga integritas bernegara. Kilau sejarah membuktikan bagaimana Muhammadiyah telah berada dalam barisan terdepan dalam memperjuangkan independensi Indonesia, dan saat ini, melalui jalur legislatif DPD RI, organisasi ini terus menorehkan tinta bagi masa depan bangsa yang lebih cerah dengan menjaga nyala api pertiwi - selaras dengan perintah agama dan panggilan hati nurani demi menjaga Indonesia yang berkeadilan dan bermartabat bagi semua. 

Keterlibatan Muhammadiyah dalam DPD RI adalah manifest concrete dari filosofi politik yang tidak hanya mencari kekuasaan, tetapi lebih kepada menjaga balance kehidupan bernegara, dan untuk memastikan bahwa legislative yang ada berpihak dan berdampak positif pada kehidupan masyarakat luas. Ini merupakan bentuk pengabdian nyata yang berangkat dari nilai-nilai luhur dan komitmen organisasi ini untuk terus menerus berjuang di semua sektor dan lini demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.


Postingan Lama Beranda

TENTANG PENULIS


Ayah penuh waktu. Penyuka kue lupis dan tempe goreng. Bekerja sebagai penulis partikelir semi-amatir. Kadang-kadang juga jadi tukang dongeng

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

ACADEMIC LEARNING ACCESS

My Courses

KOMIKU

Memuat komik...

Artikel Populer

  • PULANG KE DALAM KEABADIAN
  • BARIS-BERBARIS MENUJU TANAH SUCI
  • PROGRAM KULIAH MAGANG KERJA DI TAIWAN ; BENAR ATAU PENIPUAN?
  • KAMUS BESAR BAHASA MELAYU-INDONESIA
  • KETIKA BUKU BER-ISBN DIPAKSA MEMILIKI HAKI

TEMATIK

Ramadan Bercerita
Tulisan di Media Massa
Opini 1
Kompas.ID
Papan Bunga: antara Ekspresi Tulus dan Konsumerisme Berlebihan
Opini 2
DetikNews
Birokratisasi Kepahlawanan
Opini 3
DetikNews
Tsunami Jurnal di Indonesia
Opini 4
DetikNews
Disrupsi Alam dan Kebutaan Akademik Kita
Opini 1
DetikNews
Pendidikan (Tanpa) Kompetisi
Opini 2
DetikNews
Tanggung Jawab Media Sosial Pascapemilu
Opini 3
DetikNews
Senjakala Sekolah Negeri?
Opini 4
DetikNews
Kado Manis untuk Pekerja Migran
Opini 4
DetikNews
Rapat dan Efisiensi Anggaran
Opini 4
DetikNews
Menggugat Jurnal-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Konsep Pariwisata Bengkulu yang Berkelanjutan
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba
TribunNews Bengkulu
Menyelamatkan Ekonomi Bengkulu dari Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai
Opini 4
Tirto.ID
Senjakala Toko Buku di Indonesia, Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Opini 4
Tirto.ID
Empat Titik Kerawanan Pemungutan Suara di Luar Negeri
Opini 4
Tirto.ID
Salah Kaprah Susu Kental Manis: Literasi Gizi dan Tipu-Tipu Iklan
Opini 4
Taipei Times
University attraction to Indonesia
Opini 4
Media Indonesia
Pentingnya Literasi Digital di Era Modern

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 2

ADVERTORIAL 2
DMCA.com Protection Status

BUKU KAMI YANG TELAH TERBIT

Copyright © 2013-2024 Andi Azhar. Oleh Andi Azhar