Andi Azhar
  • Beranda
  • Mimbar
    • Khazanah Islam
    • Kolak Pisang
    • Pendidikan
    • Sosial Politik
    • Persyarikatan
    • #SeloSeloan
    • Perguruan Tinggi
    • Sains Teknologi
    • Financial Teknologi
    • Bengkulu
    • Bisnis
  • Lakon
    • Formosa
    • Nusantara
    • Ramadhan Bercerita
  • Soneta
  • Interlokal
    • Education
    • Politic
    • Technology
    • Economic
  • Pariwara
    • Competition
    • Endorsement
    • Komiku
  • Jejak
  • Sangu
    • MoE Taiwan
    • HES Taiwan
    • ICDF Taiwan
  • Hubungi Kami
Suatu kali teman dekat saya merasa jenuh dengan hiruk-pikuk dunia maya yang isinya cuma pamer pencapaian dan debat kusir tak berujung, ia lantas memutuskan untuk mencari ketenangan batin lewat jalur spiritual dengan mendatangi sebuah majelis ilmu. Niat hati ingin mendapatkan siraman rohani yang menyejukkan jiwa dan menata kembali nalar yang mulai bengkok akibat terlalu banyak mengonsumsi konten sampah, tapi yang ia dapatkan justru kebingungan yang hakiki. Di sana, penceramahnya dengan berapi-api menceritakan kisah seorang kyai sakti mandraguna yang konon memiliki kemampuan raga sukma tingkat tinggi hingga bisa berada di dua tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. 
Muhammadiyah dan Amal Usahanya (Gambar : Generate AI)

Cerita itu disampaikan dengan sangat meyakinkan seolah-olah kemampuan membelah diri adalah standar kompetensi utama untuk disebut sebagai orang saleh di zaman modern ini. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat jamaah lain mengangguk-angguk takzim seakan cerita itu adalah nutrisi paling bergizi bagi iman mereka yang sedang lapar. Tentu saja dia tidak berani protes atau bertanya tentang relevansi kesaktian itu dengan tagihan listrik yang membengkak, karena bisa-bisa dia dituduh sebagai penganut aliran sesat atau minimal dianggap kurang piknik spiritual. Pulang dari sana, bukannya merasa damai dan tercerahkan, ia cerita kepada saya bahwa ia kini sibuk memikirkan mekanisme fisika kuantum macam apa yang dipakai si tokoh untuk memindahkan jasadnya dari Jawa ke Mekkah tanpa paspor dan visa.

Fenomena mendengarkan kisah-kisah ajaib semacam itu sebenarnya bukan barang baru di telinga masyarakat kita yang memang punya bakat alamiah untuk menyukai hal-hal berbau klenik dan mistis sejak zaman nenek moyang. Kita sering kali lebih mudah takjub pada cerita tentang kiai yang bisa berjalan di atas air tanpa basah sedikit pun daripada takjub pada orang yang berhasil membuat sistem irigasi canggih untuk mengairi sawah petani yang kekeringan. Ada semacam kepuasan batin tersendiri ketika mendengar ada manusia "pilihan" yang tubuhnya kebal bacok, tidak mempan disantet, atau kulitnya sekeras baja saat ditembak peluru tajam penjajah. 

Logika kita seolah dimanjakan dengan narasi bahwa kedekatan dengan Tuhan itu manifestasinya harus berupa kekuatan super layaknya anggota Avengers yang siap menyelamatkan dunia dari serangan alien. Padahal kalau dipikir-pikir dengan nalar orang lapar, kebal senjata itu tidak serta merta membuat perut kenyang atau membuat jalanan di depan rumah kita jadi mulus bebas lubang. Tapi ya mau bagaimana lagi, pasar cerita kesaktian memang selalu laris manis dan punya pangsa pasar yang militan di negeri yang hup-hup ini.

Kalau sampeyan adalah tipikal orang yang gampang bosan dengan dongeng kesaktian dan lebih suka hal-hal yang masuk akal serta bisa diraba dengan panca indra, mungkin sampeyan akan mengalami gegar budaya yang hebat jika salah masuk pengajian. Bayangkan saja betapa tersiksanya batin seorang rasionalis yang berharap dapat panduan hidup praktis tapi malah disuguhi tutorial cara terbang tanpa sayap yang jelas-jelas tidak bisa dipraktikkan di kantor saat macet melanda. Rasa-rasanya ingin sekali mengangkat tangan dan bertanya kepada ustaznya tentang bagaimana caranya mengubah air menjadi bensin pertamax, karena itu jelas lebih solutif bagi kehidupan umat saat ini. 

Namun, harapan tinggal harapan, karena biasanya di pengajian model begini, nalar kritis sering kali dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan atau bahkan gangguan jin yang harus segera diruqyah. Akhirnya, kita hanya bisa duduk manis sambil menahan kantuk, mendengarkan kisah heroik masa lalu yang jaraknya ribuan tahun cahaya dari realitas kita yang sedang pusing memikirkan cicilan pinjol.

Nah, di tengah keputusasaan mencari oase spiritual yang ramah nalar dan membumi itulah, saya menyarankan sampeyan untuk sekali-kali mencoba duduk bersila di pengajian Muhammadiyah. Jangan kaget kalau di sana sampeyan tidak akan menemukan aroma kemenyan atau cerita tentang karomah tokoh yang bisa menghilang saat ditagih hutang oleh tetangga. 

Suasana di pengajian Muhammadiyah itu kering dari nuansa mistis, saking keringnya kadang terasa seperti sedang rapat dewan direksi perusahaan start-up yang sedang membahas valuasi dan ekspansi bisnis. Di sini, alih-alih membahas cara melipatgandakan uang secara gaib, sampeyan akan diajak memutar otak tentang bagaimana caranya mengumpulkan dana umat untuk membangun sesuatu yang nyata dan bisa dilihat mata telanjang. Tidak ada sensasi merinding disko akibat cerita horor, yang ada justru kening yang berkerut memikirkan target pembangunan yang disampaikan dengan detail layaknya presentasi arsitek profesional.

Bagi para pencari sensasi magis dan penikmat cerita legenda urban, pengajian model Muhammadiyah ini jelas terasa hambar, garing, dan membosankan setengah mati karena tidak ada atraksi debus sama sekali. Bagaimana tidak membosankan, lha wong materi yang dibahas tidak jauh-jauh dari urusan semen, batu bata, keramik, perizinan tanah, hingga manajemen aset wakaf yang njlimetnya minta ampun. Penceramahnya tidak akan berbusa-busa menceritakan konon kabarnya beliau pernah shalat Jumat di Masjidil Haram padahal jasadnya terlihat tidur di serambi masjid kampung. 

Justru penceramahnya akan datang membawa tumpukan proposal pembangunan gedung sekolah baru atau rencana renovasi panti asuhan yang atapnya sudah mulai bocor dimakan rayap. Jamaah tidak diajak untuk melayang ke awang-awang membayangkan surga yang abstrak, tapi diajak menapak bumi untuk menciptakan kepingan surga kecil bagi mereka yang membutuhkan.

Masuk ke lingkungan pengajian Muhammadiyah itu ibarat masuk ke dalam sebuah ekosistem birokrasi langit yang sangat terstruktur, sistematis, dan masif dalam artian yang positif tentunya. Sampeyan akan segera menyadari bahwa fokus utama dari perkumpulan ini adalah kerja nyata, kerja keras, dan kerja cerdas untuk kemaslahatan umat manusia tanpa memandang bulu. 

Jangan harap bisa pulang membawa jimat penglaris dagangan atau air doa yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit mulai dari panu hingga kanker stadium akhir. Oleh-oleh dari pengajian ini biasanya berupa semangat yang meletup-letup untuk ikut serta dalam proyek kemanusiaan atau minimal rasa malu karena belum bisa berbuat banyak untuk orang lain. Di sini, kesalehan seseorang tidak diukur dari seberapa lama ia bisa bertapa di gua sunyi tanpa makan dan minum, melainkan dari seberapa besar kontribusinya dalam mewujudkan fasilitas publik yang bermanfaat.

Coba perhatikan baik-baik materi kajiannya, hampir selalu bermuara pada ajakan untuk mendirikan masjid yang makmur, sekolah yang berkemajuan, rumah sakit yang melayani, hingga kampus yang mencerahkan. Orang-orang Muhammadiyah ini sepertinya punya obsesi aneh untuk mengubah setiap jengkal tanah wakaf menjadi bangunan produktif yang bisa memutar roda ekonomi dan pendidikan umat. Kalau ada tanah kosong, naluri kemuhammadiyahan mereka akan langsung bergetar hebat dan merumuskan rencana pembangunan amal usaha, bukan merumuskan tempat untuk mencari wangsit. 

Bagi mereka, membiarkan tanah menganggur tanpa dimanfaatkan untuk kepentingan umat adalah sebuah dosa sosial yang harus segera ditebus dengan amal nyata berupa pembangunan infrastruktur. Maka tak heran jika aset Muhammadiyah bertebaran di mana-mana, dari kota besar hingga pelosok desa yang sinyal internetnya pun masih senin-kamis.

Isi pengajiannya benar-benar pragmatis dalam artian yang paling mulia, yaitu bagaimana agama ini bisa hadir sebagai solusi konkret atas permasalahan hidup sehari-hari yang dihadapi masyarakat. Ketika orang lain sibuk berdebat tentang dalil memanjangkan jenggot atau celana cingkrang, orang Muhammadiyah sudah sibuk meletakkan batu pertama pembangunan klinik kesehatan ibu dan anak. Mereka seolah ingin menegaskan bahwa Islam itu bukan hanya sekadar ritual penyembahan di atas sajadah, tapi juga gerakan sosial yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. 

Narasi yang dibangun adalah narasi pemberdayaan, di mana setiap individu didorong untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing dengan kapasitas yang dimilikinya. Jadi, kalau sampeyan datang ke sana dengan niat ingin belajar ilmu kebal, siap-siap saja kecewa berat karena yang diajarkan adalah ilmu kebal kemiskinan lewat etos kerja dan kewirausahaan.

Di Muhammadiyah, yang dikaji secara mendalam dan berulang-ulang adalah soal bagaimana hidup yang singkat ini agar bisa benar-benar bermanfaat bagi sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Filosofi ini tertanam kuat di benak para kadernya, sehingga orientasi hidup mereka bukan lagi sekadar menyelamatkan diri sendiri dari api neraka, tapi juga menyelamatkan orang lain dari neraka dunia. Mereka percaya bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, sebuah prinsip yang terdengar klise tapi sangat berat pelaksanaannya di lapangan. 

Tidak ada tempat bagi egoisme spiritual yang hanya mementingkan kesalehan ritual pribadi sambil menutup mata terhadap penderitaan tetangga yang kelaparan atau anak yatim yang putus sekolah. Kesaktian yang diakui di sini adalah kesaktian mengubah uang receh sumbangan jamaah menjadi gedung bertingkat yang melahirkan ribuan sarjana setiap tahunnya.

Cerita-cerita hikmah yang disampaikan di mimbar pengajian Muhammadiyah bukanlah soal kesaktian supranatural orang sakti di masa lampau yang bisa terbang atau menghilang sesuka hati. Yang diceritakan adalah kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan Kiai Ahmad Dahlan yang rela melelang barang-barang rumah tangganya demi menggaji guru-guru di sekolah yang didirikannya. Kisah tentang bagaimana para pendahulu organisasi ini berdarah-darah mempertahankan sekolah dan panti asuhan di tengah gempuran penjajah dan keterbatasan ekonomi yang mencekik leher. 

Heroisme yang ditonjolkan adalah heroisme pengorbanan harta dan jiwa untuk memastikan roda organisasi tetap berputar memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Tidak ada bumbu mistis yang ditambahkan, karena realitas perjuangan mereka sudah cukup dramatis dan menggetarkan hati tanpa perlu tambahan efek khusus ala film Hollywood.

Justru di sinilah letak keunikan dan kekuatan narasi Muhammadiyah, yang berhasil membumikan sosok-sosok teladan menjadi manusia biasa yang bisa ditiru jejak langkahnya oleh siapa saja. Kiai Dahlan digambarkan bukan sebagai superman yang tak tersentuh, melainkan sebagai manusia biasa yang punya rasa cemas, punya masalah keuangan, tapi punya tekat baja untuk memajukan umatnya. 

Pendekatan ini membuat jamaah merasa relevan dan terhubung, karena mereka sadar bahwa untuk menjadi mulia tidak perlu menunggu punya sayap atau punya ilmu rawa rontek. Cukup dengan memiliki kepedulian sosial dan mau menyisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan bersama, siapa pun bisa menjadi pahlawan di lingkungannya masing-masing tanpa terkecuali. Ini adalah demokratisasi kesalehan yang luar biasa, di mana tiket masuk surga tidak dimonopoli oleh mereka yang punya privilege keturunan atau kesaktian tertentu.

Kesederhanaan dan kebermanfaatan menjadi dua kata kunci yang terus didengungkan di setiap kesempatan, seolah menjadi mantra wajib yang harus dihafal di luar kepala. Pejabat teras Muhammadiyah sering kali tampil dengan gaya yang jauh dari kesan glamor atau feodal, bahkan kadang sulit dibedakan mana pimpinan pusat dan mana marbot masjid saking sederhananya. Mereka mengajarkan bahwa jabatan dan kekayaan hanyalah alat titipan Tuhan yang harus digunakan seefektif mungkin untuk melayani umat, bukan untuk minta dilayani atau disembah-sembah. 

Budaya egaliter ini sangat kental terasa, di mana kritik dan masukan bisa disampaikan dengan terbuka tanpa rasa takut kualat pada sang pemimpin. Sebab di sini, yang disucikan adalah nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, bukan sosok individu yang dianggap setengah dewa.

Jamaah pengajian akan diajak untuk melihat bekal akhirat sebagai sebuah rangkaian panjang yang terhubung langsung dengan setiap tindakan kecil yang kita lakukan di dunia ini. Pandangan ini menolak dikotomi atau pemisahan yang kaku antara urusan duniawi dan ukhrawi, seolah-olah keduanya adalah dua kutub yang saling bermusuhan dan tidak bisa didamaikan. Di Muhammadiyah, bekerja mencari nafkah yang halal, belajar ilmu pengetahuan umum, dan berorganisasi adalah bagian integral dari ibadah itu sendiri jika diniatkan dengan benar. 

Jadi, jangan heran kalau rapat pengurus ranting yang membahas anggaran renovasi toilet masjid pun dianggap sama sakralnya dengan wirid di sepertiga malam terakhir. Karena toilet yang bersih akan membuat jamaah nyaman beribadah, dan kenyamanan itu adalah bagian dari pelayanan yang bernilai pahala di sisi Tuhan.

Melihat akhirat itu bukan sesuatu yang terpisah dari realitas kita saat ini, bukan sebuah dunia antah berantah yang baru akan kita masuki setelah jantung berhenti berdetak nanti. Akhirat adalah perpanjangan dari apa yang kita tanam hari ini, sebuah konsekuensi logis dari setiap keputusan yang kita ambil detik demi detik di dunia yang fana ini. Konsep ini memaksa kita untuk selalu sadar dan waspada dalam bertindak, karena setiap langkah punya dampak jangka panjang yang melintasi batas kematian. 

Tidak ada istilah "nanti saja tobatnya kalau sudah tua", karena membangun peradaban akhirat harus dimulai sejak muda dengan karya nyata yang monumental. Surga itu tidak bisa diraih hanya dengan melamun atau berangan-angan, tapi harus direbut dengan keringat dan kerja keras dalam menebar kebaikan di muka bumi.

Sesuatu yang wah dan megah di akhirat nanti hanyalah refleksi dari akumulasi kebaikan-kebaikan kecil yang kita tumpuk dengan telaten selama hidup di dunia. Bayangkan akhirat itu seperti sebuah celengan raksasa yang isinya adalah koin-koin amal jariyah yang kita masukkan setiap hari tanpa henti, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Muhammadiyah mengajarkan kita untuk menjadi investor akhirat yang cerdas, yang tahu portofolio amal mana yang memberikan dividen pahala paling besar dan berkelanjutan alias sustainable. 

Makanya mereka gencar membangun institusi pendidikan dan kesehatan, karena itulah jenis investasi yang pahalanya tidak akan putus meski investornya sudah terkubur di dalam tanah. Ini adalah strategi manajemen spiritual tingkat tinggi yang menggabungkan visi visioner dengan eksekusi lapangan yang presisi.

Dunia ini harus diisi dengan berlomba-lomba dengan kebaikan, sebuah kompetisi sehat yang tidak saling menjatuhkan tapi saling menguatkan satu sama lain dalam koridor kebajikan. Tidak ada waktu untuk saling sikut atau saling dengki melihat keberhasilan orang lain, karena fokus utama adalah bagaimana kita bisa memberikan kontribusi terbaik versi diri kita sendiri. Persaingan di sini bukan soal siapa yang paling kaya atau paling populer, tapi siapa yang paling banyak memberi manfaat dan solusi bagi permasalahan umat. 

Atmosfer kompetisi ini menciptakan dinamika yang positif, di mana setiap cabang dan ranting Muhammadiyah berlomba-lomba memamerkan prestasi amal usahanya, bukan memamerkan koleksi batu akiknya. Dan hebatnya, "pamer" di sini justru memicu semangat pihak lain untuk meniru dan melakukan hal yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Sehingga akhirat itu terlihat sebagai sebuah akumulasi kebaikan yang solid, bukan sekadar harapan kosong yang digantungkan pada doa orang lain setelah kita mati. Kita diajarkan untuk menjadi arsitek nasib kita sendiri di masa depan dengan menggambar desain amal saleh yang kokoh dan tahan uji sejak hari ini. 

Tidak ada jalan pintas menuju surga, tidak ada cheat code atau kode curang yang bisa dipakai untuk menembus gerbang keabadian tanpa bekal yang cukup. Semuanya harus melalui proses, melalui tahapan perjuangan yang kadang melelahkan dan penuh tantangan, tapi di situlah letak seninya beragama.

Muhammadiyah menawarkan jalan yang terjal tapi jelas petanya, bukan jalan yang terlihat mulus tapi ternyata menyesatkan ke lembah kemalasan dan fatalisme.

Makanya di Muhammadiyah ada salah satu semboyan yang terkenal yang dikutip dari Alquran, sebuah frasa pendek namun memiliki daya ledak yang luar biasa bagi siapa saja yang merenunginya: Fastabiqul Khairat. Kalimat ini bukan sekadar slogan tempelan yang dipajang di spanduk-spanduk acara atau kop surat organisasi semata. Ini adalah etos, ini adalah ruh, ini adalah bahan bakar nuklir yang menggerakkan mesin organisasi raksasa ini selama lebih dari satu abad lamanya. 

Fastabiqul Khairat yang berarti "berlomba-lombalah dalam kebaikan" adalah perintah suci yang diterjemahkan menjadi aksi nyata tanpa banyak basa-basi diplomasi. Semboyan ini menampar kita yang sering kali merasa cukup dengan menjadi orang baik yang pasif, padahal menjadi baik saja tidak cukup, kita harus berlomba menjadi yang terbaik dalam memberi manfaat.

Fastabiqul Khairat itu maknanya bukan balapan lari karung 17 Agustusan yang ada menang dan ada kalahnya, di mana yang kalah akan bersedih hati. Dalam konteks ini, semua orang bisa jadi pemenang asalkan mereka bergerak, asalkan mereka tidak diam berpangku tangan melihat ketidakadilan dan kebodohan merajalela. Ini adalah seruan untuk proaktif, inisiatif, dan progresif dalam merespons tantangan zaman yang semakin gila ini dengan solusi yang konstruktif. 

Ketika ada bencana alam, semangat ini mewujud dalam bentuk pasukan relawan yang turun duluan ke lokasi sebelum bantuan pemerintah sampai. Ketika ada wabah penyakit, semangat ini mewujud dalam kesiapan rumah sakit-rumah sakit Muhammadiyah menjadi garda terdepan penanganan pasien tanpa tanya isi dompetnya dulu.

Bentuk implementasinya di lapangan sangat beragam dan sering kali membuat kita geleng-geleng kepala karena saking totalitasnya orang-orang Muhammadiyah ini dalam beramal. Lihatlah bagaimana ibu-ibu Aisyiyah yang usianya sudah senja masih semangat mengelola Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal di pelosok desa dengan gaji yang mungkin hanya cukup untuk beli bensin motor. Lihatlah bagaimana para pemuda Muhammadiyah patungan uang jajan mereka untuk membedah rumah warga miskin yang hampir roboh tanpa mengharap diliput media massa. 

Lihatlah bagaimana LazisMu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah dengan manajemen modern yang transparan sehingga setiap rupiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya. Semua itu adalah manifestasi nyata dari Fastabiqul Khairat, bukan sekadar jargon kosong yang diteriakkan saat kampanye pemilihan ketua umum saja.

Semboyan ini juga mengajarkan kita untuk tidak cepat berpuas diri dengan pencapaian yang sudah diraih, karena di atas langit masih ada langit, di atas kebaikan masih ada kebaikan yang lebih besar. Jika hari ini sudah berhasil membangun satu sekolah, maka besok targetnya adalah membangun universitas, dan lusa targetnya mungkin membangun stasiun luar angkasa kalau perlu. 

Tidak ada kata berhenti atau pensiun dalam kamus perjuangan Muhammadiyah, karena berhenti berarti mati, berhenti berarti membiarkan kebatilan mengambil alih panggung sejarah. Semangat untuk terus bertumbuh dan berkembang inilah yang membuat organisasi ini tetap relevan dan segar meski zaman terus berubah dengan cepatnya. Mereka tidak sibuk meratapi masa lalu kejayaan Islam, tapi sibuk menyusun batu bata peradaban untuk kejayaan masa depan Islam yang berkemajuan.

Uniknya, kompetisi dalam kebaikan ini dilakukan dengan penuh kegembiraan, seolah-olah membangun rumah sakit itu sama asyiknya dengan main futsal bareng teman-teman satu geng. Tidak ada wajah-wajah tertekan atau menderita saat mereka dimintai sumbangan, yang ada justru senyum lebar karena merasa diberi kesempatan untuk menanam saham di akhirat. 

Dompet boleh menipis, rekening boleh berkurang, tapi hati mereka kaya raya dengan keyakinan bahwa apa yang mereka keluarkan akan kembali berlipat ganda dalam bentuk keberkahan. Logika matematika sedekah ala Muhammadiyah memang sering kali tidak masuk di akal para ekonom kapitalis, tapi terbukti ampuh menjaga cashflow organisasi tetap hijau royo-royo. Keajaiban itu nyata adanya, tapi bukan lewat jampi-jampi, melainkan lewat kekuatan jamaah yang solid dan ikhlas lillahi ta'ala.

Ciri khas lain dari implementasi Fastabiqul Khairat adalah profesionalitas dalam mengelola amal usaha, tidak dikelola dengan sistem manajemen "pokoknya jalan" atau manajemen warung kopi. Sekolah Muhammadiyah harus punya standar mutu yang jelas, rumah sakitnya harus terakreditasi paripurna, dan laporan keuangannya harus diaudit oleh akuntan publik independen. Mereka sadar bahwa niat baik saja tidak cukup, niat baik harus didukung dengan tata kelola yang baik agar hasilnya maksimal dan tidak malah menjadi beban di kemudian hari. 

Tuhan mencintai pekerjaan yang dilakukan dengan itqan (profesional/tuntas), dan Muhammadiyah berusaha menerjemahkan cinta Tuhan itu ke dalam SOP organisasi yang ketat. Jadi, jangan harap bisa korupsi di sini, karena malaikat pencatat amal dan auditor internal sama-sama galaknya dalam mengawasi setiap sen uang umat.

Bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun, semangat berlomba dalam kebaikan ini terasa denyutnya, misalnya dalam urusan ketepatan waktu memulai acara pengajian atau rapat organisasi. Budaya jam karet alias ngaret yang sudah mendarah daging di masyarakat kita berusaha dikikis pelan-pelan, meskipun kadang masih ada satu dua yang telat dengan alasan ban bocor yang klise. Disiplin waktu dianggap sebagai bagian dari amanah dan penghormatan terhadap waktu orang lain yang juga berharga untuk berbuat kebaikan lainnya. 

Menghargai waktu adalah menghargai kehidupan itu sendiri, dan orang Muhammadiyah tidak mau menyia-nyiakan kehidupan dengan menunggu hal-hal yang tidak pasti. Semuanya harus terencana, terukur, dan tepat sasaran, agar energi umat tidak habis hanya untuk urusan seremonial belaka.

Pada akhirnya, ajaran di pengajian Muhammadiyah ini menawarkan sebuah perspektif keberagamaan yang dewasa, rasional, dan sangat fungsional bagi kehidupan modern yang kompleks. Ia mengajak kita keluar dari cangkang mistisisme yang melenakan menuju medan amal yang menantang namun menjanjikan kepuasan batin yang sejati dan abadi. 

Kita diajak untuk menjadi muslim yang tidak hanya saleh secara ritual di dalam masjid, tapi juga saleh secara sosial di tengah pasar, kantor, dan ruang publik lainnya. Menjadi muslim yang kehadirannya dirindukan karena membawa solusi, bukan muslim yang kehadirannya ditakuti karena membawa pentungan atau membawa proposal fiktif. Ini adalah jalan sunyi yang tidak banyak sorotan kamera, tapi jejaknya abadi terukir dalam senyum para penerima manfaat.

Jadi, kalau sampeyan suatu saat merasa butuh pencerahan rohani yang tidak menuntut sampeyan mematikan nalar sehat, silakan mampir ke gedung dakwah Muhammadiyah terdekat di kota sampeyan. Jangan lupa bawa dompet, bukan untuk membayar tiket masuk, tapi untuk mengantisipasi kalau-kalau hati sampeyan tergerak melihat kotak infak yang diedarkan dengan penuh senyum ramah. 

Siapa tahu, dari recehan yang sampeyan masukkan itu, akan lahir sebuah klinik di pedalaman Papua atau beasiswa untuk anak cerdas yang kurang mampu di pelosok desa. Dan percayalah, perasaan ikut memiliki andil dalam kebaikan semacam itu jauh lebih menentramkan jiwa daripada sekadar takjub mendengar cerita orang sakti yang bisa terbang ke bulan tanpa roket NASA.

Tutup mata sejenak, bayangkan betapa indahnya jika seluruh energi umat Islam dialihkan dari perdebatan khilafiyah yang tak berujung menuju perlombaan membangun peradaban yang memuliakan manusia. Itulah mimpi besar yang ditawarkan oleh Muhammadiyah lewat Fastabiqul Khairat-nya, sebuah mimpi yang sangat mungkin kita wujudkan bersama asal kita mau mulai bergerak sekarang juga. 

Tidak perlu menunggu jadi sakti untuk bermanfaat, cukup jadi manusia biasa yang peduli, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat malaikat tersenyum melihat kita dari langit. Lagipula, buat apa bisa terbang kalau di darat saja kita masih sering tersandung masalah sampah dan kemacetan yang belum beres-beres sampai hari ini?

Satu waktu saya pernah menerima undangan pernikahan. Bukan dari orangnya langsung, bukan juga dari keluarganya. Melainkan dari kolega saya dulu, sebut saja namanya Pak Roni, yang merupakan teman dari adiknya si pengantin laki-laki. Saya baca undangannya baik-baik. Nama pengantin tidak saya kenal. Nama orang tua tidak saya kenal. Nama desa tempat resepsi pun saya baru dengar. Satu-satunya hal yang saya kenal dari seluruh isi undangan itu hanyalah kata "turut mengundang" di bagian bawah. Saya terdiam cukup lama sambil memegang undangan itu, mencoba mengingat-ingat apakah saya pernah berhubungan dengan pihak keluarga pengantin dalam kapasitas apapun. Hasilnya nihil.
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Tapi Pak Roni sepertinya tidak merasa ada yang aneh. Beliau menyerahkan undangan itu dengan penuh keyakinan, seperti orang yang sedang menunaikan tugas mulia kenegaraan. "Dihadiri ya, Mas, biar rame," katanya dengan senyum ramah yang susah ditolak. Saya mengangguk pelan karena tidak punya cukup keberanian untuk bertanya, "Pak, saya ini siapa bagi pengantennya?" Undangan itu kemudian saya taruh di atas meja makan dan menatapnya dengan tatapan bingung yang mungkin mirip ekspresi ayam yang disodori kalkulator. Saya pikir mungkin ini salah satu ujian hidup yang tidak ada di buku agama manapun.

Kalau dipikir-pikir, model persebaran undangan seperti ini sebenarnya sudah mulai marak beberapa tahun terakhir. Yang punya hajat tidak lagi repot-repot mendatangi satu per satu orang yang hendak diundang. Cukup kasihkan beberapa slot kepada saudaranya, lalu saudaranya kasihkan ke temannya, temannya kasihkan ke kenalannya, dan seterusnya seperti skema MLM tapi versi hajatan. Sistemnya efisien, sekilas tampak modern dan praktis. Tapi kalau dicermati lebih dalam sambil minum teh pahit, ada sesuatu yang terasa bergeser dari sistem ini. Sesuatu yang mungkin tidak langsung bisa dirasakan tapi lama-lama mengganjal seperti batu kecil di dalam sepatu.

Dulu, undangan pernikahan itu sakral. Bukan sakral dalam artian harus ada ritual khusus penerimanya, tapi sakral dalam artian undangan itu datang karena ada hubungan. Entah hubungan pertemanan, kekerabatan, pertetanggaan, atau minimal pernah sama-sama antri di warung bakso dan bertatap muka lebih dari tiga detik. Sesederhana apapun hubungannya, tetap ada benang yang menghubungkan si pengundang dengan yang diundang. Ketika benang itu tidak ada sama sekali, maka undangan itu sejatinya bukan undangan. Itu lebih mirip surat edaran.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, kenapa ini bisa terjadi. Dan jawaban yang paling masuk akal, yang juga agak menyedihkan kalau diakui terang-terangan, adalah soal amplop. Bukan amplop dalam pengertian spiritual. Amplop dalam pengertian harfiah yang di dalamnya ada uang. Semakin banyak orang datang, semakin banyak amplop masuk, semakin besar kemungkinan biaya resepsi bisa balik modal atau bahkan surplus. Kalau begitu hitungannya, maka undangan bukan lagi ekspresi sukacita mengajak orang-orang tersayang berbagi momen bahagia. Undangan sudah menjelma semacam instrumen penggalangan dana dengan dekorasi bunga plastik dan hiburan organ tunggal.

Jangan marah dulu. Saya tidak sedang menuduh semua orang yang hajatan motifnya ekonomi semata. Sebagian besar pasti masih murni karena ingin berbagi kebahagiaan. Tapi sistem "slot undangan" yang dititipkan ke saudara lalu saudara tebarkan ke jaringannya sendiri ini, kalau ditelusuri logikanya, susah untuk tidak mengarah ke sana. Orang tidak mungkin mengundang ratusan orang yang tidak dikenal hanya karena ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka. Berbagi kebahagiaan itu biasanya butuh koneksi emosional, bukan sekadar koneksi jaringan pertemanan tingkat tiga. Kalau tidak ada koneksi emosional, maka yang tersisa hanya transaksi.

Ada teman saya yang pernah diundang hajatan dengan cara seperti ini. Dia datang dengan pakaian terbaik, bawa amplop yang isinya lumayan karena merasa sungkan. Sampai di sana dia tidak kenal siapapun kecuali orang yang mengajaknya. Pengantin tidak kenal, orang tua pengantin tidak kenal, MC tidak kenal, bahkan kucing yang duduk di bawah kursi tamu pun sepertinya tidak kenal. Dia bilang rasanya seperti masuk ke film orang lain tanpa tahu alur ceritanya. Duduk manis, makan prasmanan, salim dengan pengantin yang juga jelas bingung ini tamu undangan siapa, lalu pulang. Pulangnya, katanya, dia merasa seperti sudah bekerja paruh waktu sebagai figuran tanpa bayaran.

Nah, pengalaman teman saya itu menggambarkan betapa resepsi pernikahan sudah bergeser cukup jauh dari esensinya. Resepsi seharusnya jadi ruang pertemuan yang hangat antara dua keluarga besar dengan orang-orang yang benar-benar peduli dan mengenal mereka. Tempat di mana tante-tante menangis terharu, teman lama saling bertukar cerita, dan tetangga yang sudah kenal sejak pengantin masih ngompol akhirnya bisa foto bareng. Bukan tempat di mana ratusan orang datang dengan ekspresi canggung sambil bergumam, "Ini resepsinya siapa ya?" sebelum antri nasi kuning.

Yang membuat saya lebih gelisah lagi, penerima slot undangan ini kadang tidak punya pilihan yang nyaman. Kalau ditolak, nanti dianggap tidak menghargai si pemberi slot. Padahal yang memberi slot itu juga tidak ditanya persetujuannya ketika pertama kali menerima jatah undangan tersebut. Semua orang terjebak dalam rantai kewajiban sosial yang sebenarnya tidak ada yang benar-benar mau, tapi semua merasa harus menjalankan. Seperti grup WhatsApp keluarga besar yang tidak ada yang mau gabung tapi tidak ada yang berani keluar.

Kalau ditilik dari kacamata sosial-budaya yang sedikit lebih serius, fenomena ini sebenarnya mencerminkan bagaimana gotong royong bergeser menjadi mobilisasi. Dulu gotong royong hajatan itu organik, orang datang membantu karena kenal dan peduli. Sekarang yang terjadi adalah mobilisasi massa melalui jaringan undangan berlapis-lapis. Hasilnya memang kuantitas, banyak orang hadir, tapi kualitas kehadirannya kosong seperti gelas aqua yang sudah diminum. Kehadiran tanpa pengenalan itu seperti like di media sosial, ada secara statistik tapi tidak terasa di hati.

Saya juga sempat berpikir, bagaimana perasaan si pengantin sendiri. Berdiri di pelaminan, menyalami tamu satu per satu, tersenyum sopan, lalu bertanya dalam hati, "Ini siapa ya?" kepada hampir setiap orang yang datang. Momen bahagia terbesar dalam hidupnya dikelilingi oleh wajah-wajah asing yang hadir bukan karena mengenalnya, tapi karena mengenal seseorang yang mengenal seseorang yang mengenalnya. Itu kalau dilihat dari sudut tertentu, agak mirip dengan konsep enam derajat keterpisahan yang dipakai buat ngundang hajatan. Kevin Bacon saja pasti bingung.

Belum lagi soal punjungan yang sudah pernah saya tulis sebelumnya (silahkan cari di weblog ini dengan kata kunci "Punjungan" untuk membacanya). Kalau dulu punjungan itu dikirim ke orang-orang yang benar-benar dekat sebagai bentuk berbagi, sekarang punjungan sudah jadi semacam kewajiban logistik yang harus menjangkau sebanyak mungkin penerima. Ditambah sekarang dengan model slot undangan ini, maka lengkaplah sudah reduksi makna hajatan dari dua sisi sekaligus. Dari sisi kehadiran fisik yang diisi orang asing, dan dari sisi punjungan yang sudah berubah jadi operasi distribusi massal. Hajatan bukan lagi perayaan. Hajatan sudah jadi proyek.

Saya tidak munafik. Saya juga pernah datang ke hajatan yang secara teknis saya tidak terlalu kenal empunya. Duduk, makan, berdoa dalam hati semoga mereka bahagia, lalu pulang. Tapi setidaknya saya masih punya sedikit koneksi dengan yang mengundang, bukan hasil dari rantai titipan undangan yang panjangnya seperti rantai makanan di savana Afrika. Ada bedanya antara diundang karena kenal orang yang kenal pengantin, dengan diundang karena kenal orang yang kenal orang yang kenal saudara pengantin. Tipis memang bedanya. Tapi di sana lah letak sisa-sisa martabat undangan itu tinggal.

Mungkin ada yang berargumen bahwa ini soal rezeki, dan rezeki tidak boleh dibatas-batasi. Semakin banyak orang hadir, semakin banyak doa yang dipanjatkan, semakin berkah. Argumen ini secara spiritual terdengar mulia. Tapi kalau mau jujur, apakah orang yang datang karena dapat titipan undangan dari teman kakaknya pengantin itu benar-benar datang sambil membawa doa yang tulus? Ataukah dia datang sambil membawa kebingungan tingkat dewa dan niat utama merasakan prasmanan yang katanya enak? Saya tidak tahu. Yang jelas doanya lebih mungkin tulus kalau pengantinya dikenal.

Fenomena ini juga perlahan mengubah cara orang mempersiapkan diri menghadiri hajatan. Dulu orang memilih baju dengan cermat karena mau ketemu orang yang dikenal dan ingin tampil baik di depan mereka. Sekarang yang terjadi, banyak orang pilih baju seadanya karena toh tidak ada yang kenal. Amplop juga jadi dilema tersendiri, dikasih besar merasa boros untuk orang yang tidak dikenal, dikasih kecil merasa sungkan karena yang ngajak sudah susah payah kasih slot. Semua serba canggung dari awal sampai akhir. Resepsi pernikahan berubah jadi arena ketidaknyamanan kolektif yang dihiasi balon dan backdrop foto.

Ada satu hal lagi yang sering luput diperhatikan. Ketika daftar tamu diisi oleh orang-orang yang tidak saling kenal, maka kehangatan sebuah resepsi otomatis turun drastis. Bayangkan sebuah ruangan besar berisi ratusan orang yang masing-masing hanya mengenal satu atau dua orang di sana. Tidak ada senyum-senyum spontan antara tamu yang saling mengenali. Tidak ada cerita-cerita pendek yang terjalin di antara kursi. Yang ada hanya suara sendok membentur piring, suara MC yang bersemangat sendirian, dan suara bisik-bisik orang yang sama-sama bertanya siapa sebenarnya yang punya hajat ini. Suasananya persis seperti seminar yang ada prasmanannya.

Lucunya, di tengah semua keruwetan ini, si pemberi slot undangan sering tampak paling santai. Tugasnya sudah selesai begitu undangan berpindah tangan. Apakah orang yang menerima slotnya itu akan datang atau tidak, akan nyaman atau tidak, akan kenal pengantin atau tidak, semua itu bukan urusan dia lagi. Dia sudah menunaikan kewajibannya kepada si empunya hajat. Empunya hajat pun senang karena daftar tamu makin panjang. Yang repot hanya orang yang menerima undangan di ujung rantai itu, yang datang ke sebuah perayaan yang asing baginya seperti turis tanpa pemandu wisata.

Kalau saya boleh usul, dan ini usul yang kemungkinan besar tidak akan didengar siapapun, mungkin sudah waktunya kita mulai kembali menempatkan hajatan sebagai sebuah perayaan yang bermakna. Undang orang yang benar-benar dikenal, meskipun jumlahnya lebih sedikit. Keramaian itu bukan diukur dari berapa ratus kursi yang terisi, tapi dari seberapa hangat ruangan itu terasa ketika semua orang yang hadir saling mengenal satu sama lain. Kalaupun biaya resepsi tidak bisa balik modal, ya tidak apa-apa. Itu resiko dari sebuah perayaan, bukan investasi yang harus menghasilkan return. Kecuali kalau memang dari awal niatnya investasi, ya sudah, saya tidak bisa berbuat banyak.

Dan undangan itu seyogyanya bukan sekadar selembar kertas atau file PDF yang dikirim lewat WhatsApp. Undangan adalah pernyataan bahwa keberadaan seseorang itu berarti bagi kita di momen yang paling penting dalam hidup kita. Ketika undangan itu disebarkan ke orang yang bahkan namanya saja tidak kita kenal, maka pernyataan itu kehilangan isinya. Tinggal amplop kosong yang cantik di luar. Saya yakin semua pasangan pengantin di manapun sebenarnya ingin dikelilingi orang-orang yang benar-benar mencintai mereka di hari bahagia itu, bukan dikelilingi orang asing yang datang karena tidak enak menolak titipan undangan dari teman kakaknya.

Menghadiri acara kumpul keluarga besar atau reuni teman lama itu ibarat memasuki medan perang tanpa senjata, kita datang dengan niat silaturahmi tapi pulang sering kali membawa luka batin yang tak berdarah. Bayangkan saja, Anda sudah dandan maksimal, pakai baju terbaik yang sudah disetrika licin, dan menyemprotkan parfum mahal demi kesan pertama yang menggoda, eh, malah disambut dengan pertanyaan yang meruntuhkan mental. Di Indonesia, basa-basi itu memang budaya luhur, tapi entah kenapa sering kali berubah menjadi ajang interogasi terselubung yang bikin kita pengin menelan taplak meja bulat-bulat. Bukannya menanyakan kabar kesehatan atau membahas isu pemanasan global yang lebih intelektual, topik pembicaraan justru menukik tajam ke ranah privat yang sensitifnya minta ampun. Sepertinya, bagi sebagian orang, belum afdal rasanya kalau bertemu orang lain tanpa melontarkan komentar yang bikin lawan bicaranya senyum kecut sambil menahan gejolak emosi di dada. Niat hati ingin mengakrabkan diri, tapi diksi yang dipilih malah terdengar seperti hakim yang sedang membacakan vonis kesalahan terdakwa di pengadilan.

Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Salah satu kalimat pembuka yang paling legendaris dan seolah menjadi standar operasional prosedur dalam perjumpaan adalah komentar soal fisik, “Wah, Mas Andi kok sekarang makin subur saja, ya?” Kalimat ini terdengar sopan karena menggunakan kata ‘subur’, padahal kita semua tahu itu cuma eufemisme halus untuk mengatakan “kamu gendut banget sekarang”. Bagi mereka yang melontarkan, mungkin itu sekadar observasi visual yang lewat begitu saja di kepala tanpa filter, semacam refleks mata langsung ke mulut. Namun, bagi si penerima yang mungkin sudah berbulan-bulan mati-matian diet karbo dan lari sore demi menurunkan satu kilogram saja, kalimat itu adalah petir di siang bolong yang menghanguskan semangat. Rasanya ingin sekali saya jawab kalau badan ini membengkak karena kebanyakan menelan omongan tetangga yang tidak bermutu, tapi tentu saja saya hanya bisa nyengir kuda. 

Padahal, urusan berat badan orang lain itu sama sekali tidak merugikan beras di dapur mereka, tapi kenapa mereka yang repot mengurusi lingkar pinggang kita?

Masalahnya tidak berhenti di urusan lemak tubuh semata, karena setelah fisik, sasaran tembak berikutnya biasanya bergeser ke status reproduksi dan demografi keluarga. Bagi pasangan yang baru menikah atau sudah lama menikah tapi belum dikaruniai momongan, pertanyaan "Anakmu sudah berapa sekarang?" atau "Kok belum isi juga, nunggu apa lagi?" adalah teror mental yang lebih kejam daripada tagihan pinjol. 

Orang-orang ini bertanya dengan entengnya seolah-olah bikin anak itu semudah bikin akun email baru, tinggal klik daftar dan jadi dalam hitungan detik. Mereka tidak pernah tahu perjuangan macam apa yang sedang dilalui pasangan tersebut, mulai dari program hamil yang menguras tabungan hingga doa-doa malam yang dipanjatkan sambil menangis. Sungguh sebuah ironi, orang sedang berjuang menata hati menerima takdir, malah dihakimi dengan pertanyaan yang sebetulnya tidak butuh jawaban, melainkan cuma butuh kepuasan kepo semata. Mbok ya kalau memang mau basa-basi, tanya saja "Sudah makan belum?" itu jauh lebih manusiawi dan berpotensi menyelamatkan perut yang lapar.

Kalau lolos dari pertanyaan soal anak, jangan senang dulu, karena pos pemeriksaan berikutnya adalah soal pencapaian akademis yang biasanya menghantui para mahasiswa abadi. Pertanyaan "Kapan wisuda?" atau "Skripsinya sampai bab berapa?" itu dampaknya bisa membuat seorang mahasiswa tingkat akhir mendadak mulas dan kehilangan nafsu hidup selama seminggu penuh. Mereka pikir skripsi itu cuma soal mengetik kata-kata di laptop, padahal di baliknya ada drama dosen pembimbing yang susah ditemui, revisi yang tak kunjung usai, dan data penelitian yang sering kali tidak valid. Bertanya kapan lulus kepada mahasiswa tua itu sama tidak sopannya dengan bertanya kapan mati kepada orang yang sedang sakit keras, sama-sama bikin tertekan dan tidak membantu mempercepat proses. Seharusnya, kalau memang peduli, mereka bertanya "Butuh bantuan dana buat ngeprint skripsi nggak?" atau "Mau ditraktir kopi biar ngerjainnya semangat?", itu baru namanya basa-basi yang solutif dan barokah. Tapi ya namanya juga orang Indonesia, lebih suka melempar pertanyaan yang memancing kecemasan daripada menawarkan bantuan yang meringankan beban.

Lalu, tibalah kita pada pertanyaan pamungkas yang menyasar kaum pekerja, sebuah pertanyaan yang tujuannya jelas untuk menakar seberapa sukses (atau gagal) hidup kita di mata mereka. "Sekarang kerja di mana? Jadi PNS atau swasta? Pangkatnya sudah apa?" adalah rangkaian pertanyaan investigatif yang tujuannya untuk mengukur rasa hormat yang akan mereka berikan kepada kita. Kalau jawabannya kita kerja di perusahaan bonafide atau jadi PNS dengan seragam necis, senyum mereka akan merekah lebar penuh kekaguman palsu. Tapi coba kalau kita jawab kerja freelance atau sedang merintis usaha kecil-kecilan, tatapan mereka langsung berubah menjadi tatapan iba yang merendahkan, seolah-olah kita ini pengangguran terselubung yang butuh santunan. Padahal, kebahagiaan dan kecukupan finansial itu tidak melulu harus berseragam dinas dan berangkat pagi pulang sore, tapi menjelaskan konsep ini kepada mereka susahnya minta ampun. Mereka lupa bahwa rezeki itu pintunya banyak, tidak cuma dari pintu kantor pemerintahan atau korporasi raksasa di ibu kota.

Yang paling menyebalkan dari fenomena ini adalah pelakunya bukan hanya orang-orang tua di kampung yang mungkin wawasannya terbatas pada lingkungan sekitar. Jangan salah, kebiasaan basa-basi menyakitkan ini juga marak dilakukan oleh orang-orang kota yang katanya berpendidikan tinggi dan melek literasi digital. Gelar sarjana atau master yang berderet di belakang nama ternyata tidak menjamin seseorang memiliki kecerdasan emosional untuk memilah mana pertanyaan yang pantas dan mana yang kurang ajar. Saya sering bertemu dengan orang-orang perlente di kota yang, saat reuni atau kumpul-kumpul, pertanyaannya tetap saja seputar "Mobil lo ganti baru ya?" atau "Anak lo masuk sekolah favorit yang mana?". Ternyata, kemajuan infrastruktur dan akses informasi tidak serta-merta mengubah mentalitas feodal yang suka membanding-bandingkan nasib orang lain sebagai hiburan. Ini membuktikan bahwa sekolah tinggi itu hanya mengasah otak, tapi belum tentu mampu mengasah rasa tepa selira di dalam hati.

Saya punya teori sendiri kenapa orang-orang ini begitu ringan mulut melontarkan pertanyaan yang berpotensi melukai hati lawan bicaranya. Hipotesis saya sederhana, mereka ini adalah golongan manusia yang "mainnya kurang jauh" dan bergaulnya kurang luas dalam artian yang sesungguhnya. Mereka terjebak dalam gelembung sosial mereka sendiri, di mana semua orang di sekitarnya memiliki standar hidup, pencapaian, dan kondisi fisik yang seragam dan dianggap ideal. Karena mainnya kurang jauh, mereka menganggap bahwa semua orang di dunia ini seharusnya memiliki nasib yang sama mulusnya dengan jalan tol yang mereka lalui setiap hari. Mereka gagal memahami bahwa hidup itu spektrumnya luas sekali, ada yang bahagia dengan tubuh gemuk, ada yang damai tanpa anak, dan ada yang tenang dengan pekerjaan sederhana. 

Ketidakmampuan melihat perspektif lain inilah yang membuat lidah mereka begitu tumpul empati namun tajam menghakimi.

Coba bayangkan betapa damainya dunia ini jika setiap orang menyadari bahwa setiap pertanyaan basa-basi itu punya konsekuensi psikologis bagi penerimanya. Seseorang yang ditanya "Kapan nikah?" mungkin baru saja putus cinta secara tragis atau memang memilih melajang demi merawat orang tuanya yang sakit. 

Ketika pertanyaan itu meluncur, luka lama yang sedang berusaha dikeringkan kembali menganga, dan si penanya dengan tanpa dosa melenggang pergi sambil mengunyah lemper. Basa-basi itu seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan dua hati, bukan malah menjadi pisau yang mengiris salah satu pihak demi kepuasan pihak lainnya. Kita perlu mendefinisikan ulang apa itu sopan santun, karena sopan bukan hanya soal mencium tangan orang yang lebih tua, tapi juga soal menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung oleh ucapan kita.

Kadang saya berpikir, apakah mungkin mereka melakukan itu karena bingung mau ngomong apa saking canggungnya suasana pertemuan? Bisa jadi, karena kehabisan topik pembicaraan, otak mereka secara otomatis mengambil jalan pintas dengan menanyakan hal-hal yang sifatnya personal dan umum. Padahal, topik di dunia ini jumlahnya miliaran, mulai dari membahas resep sambal bawang yang enak, cuaca yang makin tak menentu, sampai konspirasi pendaratan manusia di bulan. Kenapa harus memilih topik yang berisiko tinggi menyakiti hati seperti "Kok jerawatan?" atau "Mukanya kusam banget sih sekarang?". Padahal kalau mau jujur, kita juga bisa balik bertanya dengan pertanyaan yang tak kalah menohok, misalnya, "Kok situ mukanya makin tua dan keriput, ya?" Tapi tentu saja kita tidak melakukannya, karena kita masih punya akal sehat dan sisa-sisa kesopanan yang melarang kita menjadi bajingan di acara keluarga.

Sebetulnya, ada satu respons yang selalu ingin saya teriakkan saat menghadapi situasi menyebalkan macam ini, tapi selalu tertahan di tenggorokan karena takut dibilang durhaka. Ingin rasanya ketika ditanya "Gajimu berapa sekarang?", saya jawab dengan lantang, "Cukup buat beli mulutmu biar diam," tapi itu jelas akan memicu perang dunia ketiga di ruang tamu. Jadi, yang bisa kita lakukan biasanya hanya menarik napas panjang, tersenyum simpul (walau hati dongkol), dan mengalihkan pembicaraan secepat kilat. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang sudah dilatih bertahun-tahun oleh jutaan orang Indonesia demi menjaga harmoni sosial yang semu. Kita mengalah bukan karena kita lemah, tapi karena kita sadar bahwa meladeni orang yang "mainnya kurang jauh" itu hanya akan membuang energi dan tidak akan mengubah pola pikir mereka.

Fenomena kepo berkedok perhatian ini sebenarnya menunjukkan betapa masyarakat kita masih gagap dalam menghargai privasi individu sebagai sebuah hak asasi. Di luar negeri, bertanya soal gaji, status pernikahan, atau berat badan dianggap tabu dan sangat tidak sopan jika bukan dalam konteks yang sangat dekat. Di sini, batas antara perhatian dan campur tangan itu tipis sekali, setipis kulit bawang yang gampang robek kalau disentuh sedikit. Orang merasa berhak tahu urusan dapur orang lain dengan dalih "kita kan saudara" atau "kita kan teman lama", padahal persaudaraan tidak memberikan lisensi untuk mengaudit hidup orang. Perhatian yang tulus itu bentuknya dukungan dan doa, bukan pertanyaan interogatif yang membuat orang merasa seperti terdakwa di kursi pesakitan.

Mungkin sudah saatnya kita memulai gerakan revolusi mental dalam hal berbasa-basi, dimulai dari diri kita sendiri dan lingkungan terdekat. Kalau bertemu teman lama yang terlihat lebih berisi, tahan mulutmu untuk tidak berkomentar "Gendutan ya?", ganti dengan "Wah, kelihatan segar dan bahagia ya sekarang." Kalau bertemu saudara yang belum punya anak, jangan tanya "Kapan nyusul?", tapi doakan saja dalam hati atau ajak main keponakan yang lain supaya suasananya cair. Mengubah kebiasaan memang susah, apalagi kebiasaan yang sudah mengakar turun-temurun, tapi kalau tidak dimulai sekarang, sampai kapan kita mau mewariskan budaya nyinyir ini ke anak cucu? Kita harus memutus mata rantai pertanyaan beracun ini agar generasi berikutnya bisa berkumpul dengan lebih nyaman tanpa takut dihakimi.

Sering kali, orang-orang yang gemar bertanya hal sensitif ini berlindung di balik kalimat sakti, "Ah, kamu baperan banget sih, kan cuma nanya." Ini adalah bentuk gaslighting massal yang membuat korban merasa bersalah karena tersinggung, padahal ketersinggungan itu valid. Mereka tidak mau mengakui bahwa pertanyaan merekalah yang bermasalah, malah menyalahkan respons emosional si penerima yang dianggap terlalu sensitif. Padahal, menjadi "baper" itu wajar ketika ranah privasi kita diacak-acak oleh orang yang kontribusinya dalam hidup kita nyaris nol. Kita berhak untuk merasa tidak nyaman, dan kita berhak untuk tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan sampah yang tidak ada faedahnya itu.

Saya jadi teringat nasihat seorang kawan bijak yang bilang bahwa mulutmu adalah harimau-mu, tapi di zaman sekarang, mulutmu adalah ukuran seberapa jauh mainmu. Semakin jauh seseorang bermain, semakin luas pergaulannya, semakin banyak ragam manusia yang dia temui, biasanya mulutnya akan semakin irit dalam mengomentari hidup orang lain. Dia paham bahwa setiap orang memanggul bebannya masing-masing, membawa beban yang tidak terlihat oleh mata telanjang, jadi dia memilih untuk diam atau bicara yang baik-baik saja. Orang yang mainnya jauh tahu bahwa keberhasilan tidak tunggal, kebahagiaan tidak seragam, dan bentuk tubuh ideal itu hanyalah konstruksi sosial yang fana. Jadi, kalau ada orang yang masih sibuk mengurusi selangkangan atau dompet orang lain, bisa dipastikan radius pergaulannya cuma sebatas dari rumah ke pos ronda.

Sebagai penutup yang (semoga) menggugah nalar, marilah kita sepakati bersama bahwa hidup ini sudah cukup berat dengan segala tagihan, cicilan, dan ketidakpastian masa depan. Janganlah kita menambah beban hidup sesama manusia dengan pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang menyakitkan dan tidak perlu. Kalau memang tidak ada topik pembicaraan yang bermutu, diam itu jauh lebih emas dan berharga daripada berbicara tapi melukai hati kawan sendiri. 

Mari belajar menjadi manusia yang kehadirannya menenangkan, bukan yang kedatangannya membuat orang lain ingin segera pura-pura ke kamar mandi demi menghindari interaksi. Jadilah orang yang asyik, yang mainnya jauh, dan yang paham bahwa sebaik-baiknya basa-basi adalah yang tidak bikin sakit hati.

Manusia modern itu unik, sudah punya alat canggih di saku celana tapi masih saja merindukan benda-benda masa lalu yang fungsinya sudah usang. Kita hidup di zaman di mana kecerdasan buatan bisa menulis puisi dan mobil bisa menyetir sendiri, tapi birokrasi di salah satu daerah di Negeri Hitam Putih ini sepertinya masih terjebak di era mesin ketik. Kabar terbaru yang bikin alis saya hampir menyatu dengan garis rambut adalah rencana pengadaan kalender dinding tahun 2026 dengan anggaran fantastis mencapai 1,9 miliar rupiah. Angka nolnya berbaris rapi seperti pasukan pengibar bendera, siap menguras kas daerah demi selembar penunjuk tanggal yang nasib akhirnya cuma jadi penutup noda di tembok.

Mari kita bedah angka "wah" ini dengan kalkulator warung kopi biar terasa nalar atau tidaknya. Kabarnya, kalender ini diperuntukkan bagi 45 anggota dewan yang masing-masing mendapat jatah 500 eksemplar untuk disebar ke konstituen. Kalau dihitung pakai matematika dasar anak SD, total kalender yang dicetak adalah 22.500 buah. Nah, jika uang 1,9 miliar itu dibagi rata dengan jumlah cetakan, ketemulah harga pokok produksi per satu kalender di angka sekitar 85 ribu rupiah. Gusti, ini kalender dinding atau menu eksklusif restoran bintang lima? Harga segitu untuk sekadar kertas yang digantung rasanya kok menyakiti hati dompet rakyat jelata.

Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Padahal kalau kita main ke percetakan umum atau mengecek harga pasar, kalender dinding kualitas premium dengan jilid spiral besi paling mahal jatuhnya di kisaran 15 ribu sampai 25 ribu rupiah saja. Itu pun kertasnya sudah art paper tebal yang licinnya ngalahin lantai baru dipel. Lha ini kok bisa tembus 85 ribu? Apa mungkin tintanya dicampur serbuk emas atau kertasnya diimpor langsung dari pohon papirus yang ditanam di tepi Sungai Nil? Selisih harganya yang begitu jomplang membuat kita bertanya-tanya, fitur ajaib apa yang ditanamkan di kalender itu sampai harganya bisa buat beli paket data setahun.

Katanya sih, spesifikasi kalendernya memang "khusus" dengan isi 6 lembar, yang artinya satu lembar memuat dua bulan. Tapi begini lho, mau sekhusus apa pun jenis kertasnya, mau setebal apa pun gramaturnya, takdir kalender itu ya cuma satu: disobek. Begitu bulan Februari berakhir dan kita masuk Maret, lembar pertama yang harganya mahal itu otomatis jadi sampah tak berguna. Tidak mungkin kan kita membiarkan lembar Januari-Februari tetap terpajang hanya karena sayang kertasnya bagus? Logika "kertas khusus" ini gugur seketika saat berhadapan dengan fungsi kalender yang terikat waktu.

Coba kita bandingkan soal selera estetika antara kalender jatah wakil rakyat dengan kalender toko emas atau bank yang biasanya bergambar pemandangan. Jujur saja, mata kita jauh lebih rileks memandang gambar pegunungan Swiss yang hijau, sawah Ubud yang asri, atau air terjun yang sejuk ketimbang menatap wajah close-up bapak-bapak politisi yang tersenyum kaku. Kalender pemandangan itu punya fungsi terapeutik, bisa bikin adem pikiran saat tanggal tua menyerang. Sedangkan kalender wajah pejabat? Malah bikin kita ingat pajak, ingat jalan rusak, dan ingat janji kampanye yang belum lunas.

Fungsi sekunder kalender di rumah rakyat Indonesia itu biasanya untuk menutupi bagian tembok yang catnya mengelupas atau retak rambut. Nah, kalau yang dipajang adalah gambar danau Toba yang indah, tembok jelek pun jadi terlihat agak artistik dan menenangkan jiwa. Tapi kalau yang dipajang adalah foto politisi dengan pose mengepal tangan, nuansa ruang tamu malah jadi tegang seperti mau ada orasi politik. Secara psikologis, rakyat itu lebih butuh hiburan visual di dinding rumahnya, bukan intimidasi visual dari wajah-wajah yang sering muncul di berita kasus korupsi.

Lagipula, urgensi mencetak kalender fisik di tahun 2026 nanti itu sebenarnya nyaris mendekati nol besar. Coba rogoh saku celana atau tas Anda sekarang, pasti ada benda kotak bernama ponsel pintar yang menyala 24 jam. Di dalamnya sudah ada fitur kalender canggih yang terintegrasi dengan alarm, pengingat ulang tahun, bahkan jadwal rapat RT. Kalender digital di HP tidak perlu disobek, tidak berdebu, dan tidak akan salah cetak tanggal merahnya karena terupdate otomatis via internet.

Terus, kalau alasannya kalender ini dipakai sebagai media "laporan kinerja" wakil rakyat, rasanya kok ya kurang tepat sasaran. Memangnya seberapa banyak narasi laporan yang bisa ditulis di sela-sela angka tanggal dalam 6 lembar kertas itu? Paling-paling isinya cuma slogan normatif semacam "Bekerja Bersama Rakyat" atau "Siap Mengawal Aspirasi". Itu bukan laporan kinerja, Bos, itu namanya copywriting iklan baris. Kalau mau laporan yang detail dan transparan, ya bukan di kalender tempatnya, tapi di dokumen resmi atau minimal website yang bisa diakses publik.

Zaman sekarang ini ada yang namanya media sosial, barang gratisan yang dampaknya jauh lebih masif daripada kertas gantung. Kalau para wakil rakyat itu benar-benar ingin konstituennya tahu apa yang sudah mereka kerjakan, bikin saja konten TikTok atau Reels Instagram. Biayanya murah, cuma modal kuota dan kreativitas admin, tapi yang nonton bisa ribuan orang sambil rebahan. Aneh rasanya kalau masih ngotot pakai cara konvensional yang mahal padahal ada jalan tol digital yang gratis dan cepat sampai.

Kita juga tidak boleh lupa soal nasib akhir dari kalender mahal seharga 85 ribu per eksemplar itu setelah tahun berganti. Nasib terbaiknya mungkin jadi sampul buku pelajaran anak SD, tapi nasib terburuknya (dan yang paling sering terjadi) adalah jadi alas lemari atau bungkus cabai di pasar. Bayangkan, uang rakyat miliaran rupiah berakhir menjadi pembungkus terasi atau tatakan obat nyamuk bakar. Ironi semacam ini harusnya bikin kita elus dada, betapa mubazirnya anggaran yang dibakar demi gengsi sesaat.

Di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit, di mana harga beras naik turun dan cari kerja makin susah, rasanya tidak etis menghamburkan 1,9 miliar untuk barang yang umurnya cuma setahun. Uang segitu kalau dibelikan sembako lalu dibagikan ke warga miskin, pahalanya jelas mengalir deras dan doanya tulus menembus langit. Atau kalau mau lebih visioner, pakai buat beasiswa anak putus sekolah di dapil masing-masing. Itu jauh lebih membekas di hati rakyat daripada sekadar dikasih kertas tanggalan yang ujung-ujungnya masuk tong sampah.

Tapi ya mungkin bagi sebagian pejabat di Negeri Hitam Putih sana, proyek fisik itu jauh lebih "seksi" daripada program digital atau bantuan langsung. Ada kepuasan tersendiri mungkin saat melihat tumpukan ribuan kalender siap edar, seolah-olah itu bukti kerja nyata. Padahal kerja nyata itu diukur dari regulasi yang pro-rakyat dan pengawasan anggaran yang ketat, bukan dari seberapa banyak wajah mereka tercetak di kertas art carton gramasi tinggi.

Saya kadang curiga, jangan-jangan "permintaan masyarakat" yang sering dijadikan alasan itu cuma tameng saja. Memang benar ada warga yang minta kalender, tapi itu karena mentalitas gratisan, bukan karena mereka butuh banget. Kalau ditanya milih mana antara dikasih kalender seharga 85 ribu atau dikasih uang tunai 50 ribu saja, saya yakin 100 persen warga bakal milih uangnya. Jadi, argumen bahwa ini demi memenuhi hasrat konstituen itu sebenarnya argumen yang rapuh dan mudah sekali dipatahkan.

Satu lagi yang bikin gemes, desain kalender dinas itu sering kali ajaib dan bikin sakit mata desainer grafis. Warnanya tabrak lari, font-nya tidak konsisten, dan foto pejabatnya sering kali maksa ditempel di background yang tidak nyambung. Bayangkan uang 1,9 miliar menghasilkan karya visual yang estetika desainnya setara dengan poster hajatan dangdut keliling. Mubazirnya jadi dobel, mubazir uang dan mubazir selera seni.

Akhirul kalam, wahai bapak dan ibu yang duduk di kursi empuk dewan, tolonglah berhenti terjebak pada romantisme proyek masa lalu. Rakyat tidak butuh wajah kalian terpampang di dinding rumah mereka untuk tahu tanggal berapa sekarang. Rakyat butuh kehadiran kalian saat harga pupuk mahal, saat sekolah rusak, dan saat jalan berlubang. Simpan saja uang 1,9 miliar itu untuk sesuatu yang lebih berguna, atau kalau bingung mau dikemanakan, sumbangkan saja buat bayar utang negara, siapa tahu bisa ngurangin dosa jariyah pemborosan.

Rutinitas pagi saya yang biasanya berjalan lambat dan syahdu mendadak terusik saat jempol ini iseng berselancar di status WhatsApp kawan saya. Di layar ponsel yang resolusinya pas-pasan itu, muncul sebuah foto anak laki-laki berusia sekitar satu tahun yang sedang duduk manis di sofa. Keterangan fotonya cukup informatif, mengabarkan bahwa si buah hati baru saja selesai menunaikan kewajiban sebagai laki-laki muslim, alias sunat. Saya termangu sebentar, mencoba mencerna fakta bahwa bocah yang jalan saja mungkin masih sering nggeblak itu sudah kehilangan bagian tubuhnya yang paling privat. Rasanya baru kemarin sore bapaknya mengundang saya makan soto di acara aqiqahan, lha kok sekarang anaknya sudah berstatus khitanan. Waktu berjalan dengan kecepatan yang tidak sopan bagi kita yang makin tua ini.

Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

​Pergeseran zaman memang sering kali membuat nalar saya yang konservatif ini tergopoh-gopoh mengikuti logikanya yang kian pragmatis. Dulu, di era saya masih hobi memburu layangan putus, sunat adalah sebuah monumen kedewasaan yang sakral bagi anak laki-laki menjelang remaja. Kami biasanya disunat saat duduk di bangku sekolah dasar kelas lima atau enam, sebuah usia di mana kami sudah cukup mengerti arti rasa cemas. Hari-hari menjelang eksekusi adalah momen kontemplasi panjang yang melatih mental kami menghadapi ketidakpastian nasib di tangan Pak Mantri. Ada unsur heroik yang kental ketika seorang bocah berani melangkah masuk ke bilik sunat dengan sarung yang dikalungkan di leher. Kini, heroisme itu seolah dipangkas habis karena prosesi sakral tersebut dilakukan saat si anak belum mengerti apa-apa soal dunia.

​Tentu saja, para orang tua milenial punya segudang argumen medis yang sangat masuk akal dan sulit dibantah oleh orang awam seperti saya. Katanya, sunat di usia balita jauh lebih cepat sembuhnya karena regenerasi sel kulit anak kecil sedang bagus-bagusnya. Selain itu, menyunat anak saat masih bayi menghindarkan orang tua dari drama kolosal berupa rengekan dan amukan bocah SD yang ketakutan. Praktis, efisien, dan minim trauma adalah mantra utama pengasuhan modern yang mendasari keputusan sunat dini tersebut. Kami yang dulu harus berjalan mengangkang selama seminggu penuh sembari menahan ngilu di balik sarung jelas dianggap kuno dan kurang taktis. Kenangan perih saat luka sunat tersenggol kain kasar itu tampaknya tidak lagi dianggap sebagai kurikulum wajib menuju kedewasaan.

​Namun, mata saya kemudian tertumbuk pada satu objek janggal yang ikut terpotret di samping si bocah yang sedang tersenyum itu. Ada sebuah lembaran kertas tebal dengan desain bingkai ornamen yang cukup mentereng, mirip sekali dengan piagam penghargaan lomba cerdas cermat. Setelah saya amati lebih teliti, rupanya itu adalah sertifikat sunat resmi yang diterbitkan oleh klinik tempat si bocah menjalani prosedur. Seketika dahi saya berkerut, mencoba mencari relevansi dan urgensi dari selembar kertas yang melegitimasi hilangnya kulup seseorang. Sejak kapan urusan memotong kulit kemaluan membutuhkan bukti tertulis yang divalidasi stempel basah layaknya dokumen negara?

​Keberadaan sertifikat sunat ini memantik imajinasi liar saya tentang betapa birokrasi di negeri ini mungkin sedang merambah ke wilayah yang paling intim. Jangan-jangan, sertifikat ini nantinya akan menjadi dokumen prasyarat yang wajib dilampirkan saat mendaftar sekolah melalui jalur zonasi atau prestasi. Bayangkan betapa repotnya panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jika harus memverifikasi keaslian sertifikat sunat di antara tumpukan Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran. Nasib nahas tentu akan menimpa anak-anak yang disunat oleh dukun sunat tradisional atau mantri senior di kampung yang tidak memiliki fasilitas cetak sertifikat. Mereka akan terancam gagal administrasi hanya karena "burung" mereka tidak memiliki akreditasi tertulis yang diakui oleh sistem pendidikan nasional.

​Saya mencoba berbaik sangka, mungkin sertifikat ini hanyalah bentuk gimmick pemasaran klinik untuk menyenangkan hati orang tua yang haus akan validasi. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, memajang sertifikat sunat di ruang tamu rasanya adalah sebuah keputusan estetika interior yang sangat wagu. Tamu yang berkunjung mungkin akan terjebak dalam kecanggungan luar biasa saat harus memberi selamat atas prestasi si anak yang tertulis di pigura itu. Apa yang harus dikatakan? "Wah, selamat ya, pemotongannya rapi sekali dan terverifikasi," begitu? Rasanya kok absurd sekali jika bukti medis pembuangan jaringan kulit mati disejajarkan dengan piagam kejuaraan karate atau sertifikat kursus bahasa Inggris.

​Pikiran saya kemudian melayang lebih jauh ke dunia kerja yang persyaratannya sering kali menuntut hal-hal di luar nalar manusia normal. Siapa yang bisa menjamin kalau lima belas tahun lagi, sertifikat sunat tidak menjadi syarat mutlak rekrutmen pegawai di perusahaan bonafide? Mungkin nanti di formulir lamaran kerja, ada kolom centang khusus yang menanyakan kepemilikan sertifikat sunat sebagai bukti integritas dan kebersihan pelamar. HRD perusahaan bisa saja beralasan bahwa calon karyawan yang memiliki sertifikat sunat adalah pribadi yang taat prosedur dan peduli pada detail administrasi. Bagi mereka yang sunatnya tidak bersertifikat, siap-siap saja kalah saing dan tersingkir di tahap seleksi berkas yang kejam itu.

​Lalu bagaimana jika fungsi sertifikat ini ternyata jauh lebih fundamental, yakni sebagai dokumen pendukung dalam urusan perjodohan dan pernikahan? Di masa depan, bukan tidak mungkin calon mertua akan menuntut bukti otentik kejantanan calon menantunya secara administratif sebelum memberikan restu. Ini adalah cara paling sopan dan birokratis untuk memastikan bahwa calon menantu sudah menunaikan kewajiban agamanya tanpa harus melakukan inspeksi visual yang memalukan. Cukup sodorkan map berisi sertifikat sunat, maka calon mertua bisa tersenyum lega karena putri mereka berada di tangan laki-laki yang "terstandarisasi". Sertifikat sunat menjadi semacam garansi mutu atau SNI-nya seorang suami di mata hukum adat dan keluarga.

​Fenomena ini sebenarnya mencerminkan betapa masyarakat kita sedang mengalami krisis kepercayaan yang akut, bahkan untuk hal-hal yang sifatnya sangat personal. Dulu, pengakuan lisan seorang laki-laki bahwa ia sudah disunat adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak perlu digugat dengan bukti forensik. Kepercayaan antar manusia masih dijunjung tinggi tanpa perlu perantara secarik kertas yang ditandatangani di atas materai sepuluh ribu. Namun kini, di era di mana segala sesuatu bisa dipalsukan, omongan saja dianggap angin lalu yang tidak memiliki kekuatan hukum tetap. Kita hidup di zaman di mana validitas seseorang ditentukan oleh seberapa lengkap arsip dokumen yang ia miliki di lemari besi.

​Jika ditelaah dari sisi ekonomi, tren sertifikasi sunat ini jelas merupakan strategi bisnis yang brilian dari industri kesehatan modern. Dengan menambahkan selembar kertas sertifikat yang biaya cetaknya mungkin tak seberapa, klinik bisa menaikkan harga paket sunat dengan label "eksklusif" atau "premium". Orang tua masa kini yang sangat peduli pada citra dan status sosial tentu akan lebih memilih paket bersertifikat demi konten Instagram yang aesthetic. Mereka rela merogoh kocek lebih dalam asalkan pulang membawa bukti fisik yang bisa dipamerkan, daripada sekadar membawa anak yang perbannya masih basah. Esensi sunat sebagai ibadah atau kesehatan pun perlahan tergeser menjadi komoditas gaya hidup yang transaksional.

​Saya jadi merasa kasihan pada nasib generasi saya dan generasi bapak-bapak saya yang dulu sunatnya hanya bermodalkan doa dan keahlian tangan dingin Bengkong desa. Kami adalah generasi "ilegal" yang tidak memiliki bukti otentik atas status kesunatan kami jika diukur dengan standar administrasi kekinian. Jika suatu hari nanti negara mewajibkan sensus sunat nasional berbasis dokumen, kami pasti akan dianggap sebagai warga negara yang datanya tidak valid. Kami hanya bisa pasrah menunjukkan bekas jahitan yang mungkin sudah samar termakan usia sebagai satu-satunya pembelaan diri di hadapan petugas. Sungguh sebuah ironi struktural yang menyedihkan bagi kami, kaum laki-laki tanpa sertifikat.

​Mungkin juga sertifikat itu disiapkan sebagai arsip sejarah bagi si anak itu sendiri, mengingat ia disunat di usia yang memori otaknya belum mampu merekam kejadian. Nanti saat ia dewasa dan meragukan identitas dirinya, ibunya tinggal membuka laci dan menunjukkan sertifikat itu sebagai bukti sejarah yang tak terbantahkan. Ini adalah solusi praktis untuk menjawab pertanyaan eksistensial si anak tanpa perlu melakukan verifikasi fisik yang merepotkan. Sertifikat itu menjadi saksi bisu bahwa ia pernah melewati momen penting tersebut, meskipun ia sendiri sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya. Sebuah kenang-kenangan yang unik, meski fungsinya lebih mirip nota tagihan daripada memorabilia.

​Saya juga penasaran, apakah di dalam sertifikat itu tercantum detail teknis mengenai metode sunat yang digunakan oleh sang dokter? Apakah tertulis dengan tinta emas: "Telah disunat dengan metode Smart Clamp Laser Turbo" sebagai penanda kasta sosial? Hal ini bisa memicu stratifikasi sosial baru di kalangan anak-anak, di mana mereka saling membandingkan kecanggihan metode sunat berdasarkan sertifikat masing-masing. Anak yang sunat dengan metode konvensional gunting dan jahit mungkin akan merasa minder di hadapan teman-temannya yang sunat laser. Jika sudah begini, sunat bukan lagi soal kesucian, melainkan ajang pamer teknologi yang tidak ada habisnya.

​Kita memang sedang bergerak menuju masyarakat yang terobsesi pada dokumentasi dan validasi tertulis untuk setiap inci kehidupan biologi kita. Mungkin sebentar lagi akan muncul sertifikat akil baligh bagi remaja, atau sertifikat tumbuh gigi bagi bayi, lengkap dengan tanggal dan jam kejadiannya. Semua fase kehidupan manusia harus dirayakan, dicatat, dan diberi bingkai agar terasa sah dan diakui oleh peradaban. Hidup tidak lagi dirasakan melalui pengalaman batin, melainkan divalidasi melalui tumpukan kertas yang memenuhi lemari arsip keluarga. Kita menjadi birokrat bagi tubuh dan perjalanan hidup kita sendiri.

​Pada akhirnya, saya hanya bisa mendoakan semoga anak kawan saya itu tumbuh menjadi pemuda yang saleh dan tangguh, terlepas dari sertifikat yang ia miliki. Biarlah kertas itu menjadi misteri yang akan ia tertawakan sendiri kelak saat ia sudah cukup dewasa untuk memahami betapa absurdnya kelakuan orang tuanya. Saya sendiri akan tetap bangga dengan "aset" saya yang meskipun tanpa sertifikat, namun telah teruji oleh waktu dan pengalaman hidup. Lagipula, keaslian dan fungsionalitas sebuah "barang" tidak ditentukan oleh selembar kertas, melainkan oleh performanya di lapangan. Dan untuk urusan itu, saya yakin seyakin-yakinnya, kami kaum tanpa sertifikat masih sangat bisa diandalkan.

Kalau ada hal yang paling sering dilakukan orang Indonesia selain makan nasi tiga kali sehari dan update status di Instagram, mungkin jawabannya adalah bersumpah. Iya, bersumpah. Saking seringnya, saya kadang curiga jangan-jangan bangsa ini sudah jadi negara dengan “jumlah sumpah per kapita” tertinggi di dunia. Dikit-dikit sumpah. Dikit-dikit janji di atas kitab suci. Mulai dari siswa SMA yang baru lulus sampai pejabat yang baru dilantik, semua dimulai dengan kalimat “Demi Tuhan saya bersumpah…”. Tapi anehnya, entah kenapa negara yang paling sering bersumpah ini juga jadi negara yang paling sering melanggar sumpahnya.

Saya dulu pikir, bersumpah itu sesuatu yang sakral. Begitu seseorang mengucapkan sumpah, langit jadi hening, malaikat menunduk, dan dosa takut mendekat. Tapi di Indonesia, sumpah sudah seperti teh manis, terlalu sering disajikan sampai kehilangan rasa spesialnya. Orang sumpah bukan lagi karena takut Tuhan, tapi karena takut nggak dilantik. Karena kalau nggak bersumpah, nanti dianggap tidak sah. Maka sumpah pun berubah jadi semacam formalitas belaka, semacam password yang harus diucapkan sebelum masuk jabatan.


Ilustrasi Pejabat sedang Disumpah (Gambar : AI Generated)

Bayangkan, dari sejak muda saja kita sudah dikenalkan dengan sumpah. Ada Sumpah Siswa, Sumpah Mahasiswa, Sumpah Sarjana, Sumpah Profesi, Sumpah ASN, sampai Sumpah Kepala Desa hingga Presiden. Kalau Ketua RT juga bisa disumpah, pasti juga harus disumpah. Pokoknya hidup di Indonesia ini kalau dikumpulkan dari awal sampai akhir bisa kayak buku doa lintas profesi: penuh sumpah. Bahkan ada yang belum kerja pun sudah bersumpah, padahal gaji belum tentu datang, tapi janji sudah berderet.

Saya ingat waktu wisuda dulu, ketua angkatan saya memimpin pembacaan sumpah sarjana. Semua berdiri, tangan kanan diangkat, wajah dibuat khusyuk. Kalimatnya indah: “Saya bersumpah akan menjunjung tinggi nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab…” dan seterusnya. Tapi begitu keluar dari auditorium, baru parkir motor, sudah ada yang bohongin tukang parkir dengan bilang “Sebentar, Pak, cuma ambil jas toga.” Eh, nggak balik lagi.

Lucunya, sumpah di negeri ini sering diucapkan dengan wajah penuh keyakinan, tapi dijalankan dengan hati penuh alasan. Pejabat bersumpah tidak akan korupsi, tapi kalau ketahuan, bilangnya “saya khilaf”. Dokter bersumpah menolong sesama, tapi kalau pasien nggak mampu, kadang disuruh pulang dulu. Politisi bersumpah demi rakyat, tapi malah sibuk demi proyek. Kalau sumpah itu punya perasaan, mungkin dia sudah lelah.

Saya kadang mikir, kenapa sih kita ini begitu hobi bersumpah? Apakah karena kita bangsa yang religius, atau karena kita bangsa yang seremonial? Mungkin dua-duanya. Kita suka yang megah, yang sakral, yang bikin khidmat. Kita suka upacara, kita suka foto bareng setelah sumpah, kita suka naruh tangan di dada dengan gaya patriotik. Tapi setelah itu? Ya, selesai. Sumpah tinggal di ruangan itu, nggak ikut pulang.

Saya jadi ingat, dulu waktu masih mahasiswa, pernah ikut demo yang salah satunya meneriakkan “Sumpah Mahasiswa Indonesia.” Namanya keren, kayak mau mendirikan negara baru. Isinya pun gagah: “Kami mahasiswa Indonesia bersumpah untuk menegakkan keadilan, melawan penindasan…” dan seterusnya. Tapi kenyataannya, besoknya tetap antre minta tanda tangan dosen, dan kalau nggak ditandatangani, langsung nyumpahin dosennya juga. Sumpahnya belum sehari, sudah dilanggar dengan sumpah serapah.

Kalau di luar negeri, saya perhatikan, orang tidak banyak bersumpah. Mereka tidak terlalu sering janji demi Tuhan. Tapi etos kerja mereka tinggi, rasa malu mereka besar, dan tanggung jawab mereka nyata. Di Jepang, tidak ada sumpah pegawai negeri. Tapi coba lihat, jam kerja mereka sampai lupa istirahat. Di Finlandia, tidak ada sumpah dosen. Tapi pendidikan mereka terbaik di dunia. Sementara kita? Sumpah ada di mana-mana, tapi kejujuran masih langka seperti sinyal 4G di pegunungan.

Saya pernah melihat ada pejabat yang bersumpah dua kali. Pertama saat dilantik, kedua saat tertangkap KPK. Dua-duanya pakai kitab suci. Bedanya, yang pertama di podium, yang kedua di ruang sidang. Kalau kitab sucinya bisa bicara, mungkin dia akan bilang: “Mas, tolong deh, jangan sering-sering bawa saya kalau ujungnya begini.”

Saya tidak menentang sumpah. Tapi saya sedih melihat sumpah kita kehilangan makna. Sumpah di sini lebih sering jadi “event” daripada “komitmen”. Kalau di dunia hiburan, mungkin sumpah ini sudah seperti launching album. Heboh di awal, hilang di tengah, dilupakan di akhir. Padahal sumpah itu seharusnya seperti lagu yang terus dinyanyikan dalam hati, bukan hanya saat ada penonton.

Lucunya lagi, kita ini suka menguji kejujuran orang lain dengan sumpah. “Kalau kamu jujur, sumpah deh!” Kalimat itu sering keluar di sinetron, kadang juga di dunia nyata. Tapi kalau sumpah benar-benar jadi alat ukur kebenaran, mungkin separuh orang Indonesia sudah disambar petir.

Saya kadang berpikir, kalau semua sumpah yang pernah kita ucapkan itu bisa dikumpulkan dan ditagih, mungkin Tuhan sudah bingung harus menagih yang mana dulu. Dari sumpah jabatan sampai sumpah setia waktu pacaran. Dua-duanya sering dilanggar dengan alasan “situasi tidak memungkinkan.”

Lucunya lagi, sebagian orang masih bangga karena sering dilantik, padahal setiap pelantikan berarti satu sumpah lagi yang harus dijaga. Saya kadang ingin bertanya: apa nggak capek hidup dengan tumpukan janji? Kalau semua sumpah itu dibaca ulang, mungkin satu orang pejabat saja sudah cukup untuk bikin Tuhan geleng-geleng kepala.

Saya jadi ingat satu teman yang bilang, “Bangsa kita ini suka mengulang janji, tapi lupa menepati.” Dan mungkin itu benar. Kita terbiasa bersuara keras di awal, tapi pelan-pelan hilang di tengah jalan. Dari sumpah kemerdekaan, sumpah jabatan, sampai sumpah netralitas menjelang pemilu. Semua diucapkan dengan lantang, tapi dijalankan dengan pelan-pelan.

Di sisi lain, mungkin kita juga harus akui, sumpah itu seperti cermin. Semakin sering kita melihatnya, semakin sadar betapa jauh jarak antara ucapan dan tindakan. Tapi ya itu tadi, di Indonesia, cermin lebih sering jadi pajangan daripada alat introspeksi.

Saya membayangkan, kalau setiap orang benar-benar menjalankan sumpahnya, mungkin negara ini akan jadi surga kecil. Pejabat jujur, guru disiplin, dokter melayani dengan tulus, mahasiswa belajar dengan sungguh-sungguh, dan rakyat tidak mudah ditipu. Tapi sayangnya, surga itu masih di atas kertas sumpah, belum di bumi kenyataan.

Jadi mungkin, sudah saatnya kita mengurangi acara sumpah-sumpahan dan mulai menambah acara menepati sumpah. Karena kalau terus begini, sumpah tinggal jadi hiburan tahunan. Bahkan kalau bisa, setiap kali mau bersumpah, kita tanya dulu ke diri sendiri: “Sanggup nggak?” Kalau nggak sanggup, ya jangan sumpah dulu.

Dan di antara sekian banyak sumpah yang pernah lahir di negeri ini, ada satu yang rasanya paling jujur - Sumpah Pemuda. Entah kenapa, sumpah yang satu itu terasa lebih tulus. Mungkin karena diucapkan oleh mereka yang belum punya jabatan, belum punya kepentingan, dan belum punya proyek. Hanya punya satu hal, cinta pada negeri.

Sumpah Pemuda adalah sumpah yang tidak diulang-ulang tapi terus hidup. Tidak dilantunkan di podium tapi bergaung di dada. Tidak dikawal media tapi dikenang sejarah. Sumpah yang tidak butuh tepuk tangan, tapi sampai hari ini tetap membuat kita berdiri tegak.

Jadi, kalau nanti ada yang tanya, sumpah mana yang paling bermanfaat di Indonesia? Jawaban saya sederhana: bukan sumpah jabatan, bukan sumpah profesi, tapi Sumpah Pemuda. Karena hanya sumpah itu yang benar-benar kita rasakan manfaatnya sampai hari ini. Yang lain? Ya... mungkin masih dalam proses belajar menepati.

Postingan Lama Beranda

TENTANG PENULIS


Ayah penuh waktu. Penyuka kue lupis dan tempe goreng. Bekerja sebagai penulis partikelir semi-amatir. Kadang-kadang juga jadi tukang dongeng

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

ACADEMIC LEARNING ACCESS

My Courses

KOMIKU

Memuat komik...

Artikel Populer

  • KAMUS [SERAPAN] BAHASA SANSKERTA - BAHASA INDONESIA
  • KAMUS [KECIL] BAHASA BELANDA - INDONESIA
  • [MENG] GURU [I]
  • SARJANA YANG KITA ANTAR KE PINTU YANG SALAH
  • KAMUS BESAR BAHASA MELAYU-INDONESIA

Tulisan di Media Massa
Opini 1
Kompas.ID
Papan Bunga: antara Ekspresi Tulus dan Konsumerisme Berlebihan
Opini 2
DetikNews
Birokratisasi Kepahlawanan
Opini 3
DetikNews
Tsunami Jurnal di Indonesia
Opini 4
DetikNews
Disrupsi Alam dan Kebutaan Akademik Kita
Opini 1
DetikNews
Pendidikan (Tanpa) Kompetisi
Opini 2
DetikNews
Tanggung Jawab Media Sosial Pascapemilu
Opini 3
DetikNews
Senjakala Sekolah Negeri?
Opini 4
DetikNews
Kado Manis untuk Pekerja Migran
Opini 4
DetikNews
Rapat dan Efisiensi Anggaran
Opini 4
DetikNews
Menggugat Jurnal-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Konsep Pariwisata Bengkulu yang Berkelanjutan
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba
TribunNews Bengkulu
Menyelamatkan Ekonomi Bengkulu dari Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai
Opini 4
Tirto.ID
Senjakala Toko Buku di Indonesia, Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Opini 4
Tirto.ID
Empat Titik Kerawanan Pemungutan Suara di Luar Negeri
Opini 4
Tirto.ID
Salah Kaprah Susu Kental Manis: Literasi Gizi dan Tipu-Tipu Iklan
Opini 4
Taipei Times
University attraction to Indonesia
Opini 4
Media Indonesia
Pentingnya Literasi Digital di Era Modern

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 2

ADVERTORIAL 2
DMCA.com Protection Status

BUKU KAMI YANG TELAH TERBIT

Copyright © 2013-2024 Andi Azhar. Oleh Andi Azhar