Andi Azhar
  • Beranda
  • Mimbar
    • Khazanah Islam
    • Kolak Pisang
    • Pendidikan
    • Sosial Politik
    • Persyarikatan
    • #SeloSeloan
    • Perguruan Tinggi
    • Sains Teknologi
    • Financial Teknologi
    • Bengkulu
    • Bisnis
  • Lakon
    • Formosa
    • Nusantara
    • Ramadhan Bercerita
  • Soneta
  • Interlokal
    • Education
    • Politic
    • Technology
    • Economic
  • Pariwara
    • Competition
    • Endorsement
    • Komiku
  • Jejak
  • Sangu
    • MoE Taiwan
    • HES Taiwan
    • ICDF Taiwan
  • Hubungi Kami
Kabar duka itu akhirnya mampir ke saya pagi ini. Saya mendadak dibangunkan istri di subuh buta, memberitahu bahwa paman/om saya, Lek Bahrudin, telah berpulang ke Rahmatullah. Beliau pergi setelah pergulatan panjang melawan sakit selama tujuh tahun terakhir. Rasanya campur aduk mendengar kabar itu di pagi yang tenang ini. Ada sedih karena kehilangan, tapi ada juga rasa lega karena penderitaan fisiknya sudah berakhir. Allah sudah mencukupkan jatah usia beliau di dunia ini. Lek Bahrudin adalah adik bapak saya, dan sebagai ponakan, saya cukup dekat. Perbedaan usia kami sebenarnya cukup jauh untuk ukuran teman main. Saat saya lahir ke dunia ini, usia Lek Bahrudin sudah menginjak angka 25 an tahun. Beliau sudah masuk kategori pemuda dewasa yang matang saat saya masih bayi merah. Jadi wajar kalau beliau sering ikut momong saya waktu kecil. Di mata saya yang masih kanak-kanak waktu itu, beliau adalah sosok paman yang gagah. Beliau punya energi lebih untuk meladeni keponakannya yang kadang rewel. Beliau menjadi figur laki-laki dewasa kedua setelah bapak yang dekat dengan keseharian saya.

Di keluarga besar kami, Lek Bahrudin ini punya posisi yang unik dan penting. Beliau adalah andalan utama Bapak saya untuk urusan teknis dan lapangan. Kalau ada urusan listrik mati atau peralatan rusak, nama beliau yang pertama dipanggil. Bapak sangat mempercayakan urusan perbengkelan dan kelistrikan pada adiknya ini. Tangannya terampil mengutak-atik listrik yang korslet menjadi benar kembali. Beliau tidak banyak teori, langsung praktik dan biasanya beres. Kehadirannya sangat membantu kelancaran urusan domestik keluarga besar kami.
Ilustrasi

Soal kendaraan, beliau ini bisa dibilang pionir di keluarga besar Bapak. Lek Bahrudin adalah orang pertama yang memiliki mobil di antara saudara-saudara yang lain. Itu membuat beliau sering jadi jujugan kalau ada acara keluarga yang butuh angkutan. Beliau tidak pernah pelit meminjamkan tenaga maupun kendaraannya untuk kepentingan bersama. Mobilnya sering wara-wiri mengantar sanak saudara yang butuh bantuan. Statusnya sebagai pemilik kendaraan pertama tidak lantas membuatnya sombong. Justru mobil itu jadi sarana perekat keluarga.

Saya ingat betul momen mudik pertama saya setelah menikah dulu. Waktu itu saya dan istri sampai di Pringsewu sudah terlalu malam. Bus yang kami tumpang terlambat sampai di titik penurunan. Bapak langsung mengajak Lek Bahrudin untuk menjemput kami di sana. Tanpa banyak tanya, beliau langsung meluncur membelah malam. Yang membuat saya terkenang, beliau datang membawa mobil Jeep miliknya. Gagah sekali rasanya dijemput pakai mobil setinggi itu di malam hari. Kami merasa aman dalam perjalanan menuju rumah berkat jemputan beliau.

Nasib membawa kami ke arah geografis yang berbeda dalam menjalani hidup. Beliau lahir, besar, dan menghabiskan seluruh sisa usianya di tanah Lampung. Beliau setia menjaga kampung halaman tempat akar keluarga kami menancap. Sementara saya memilih jalan sebagai perantau yang berpindah-pindah kota. Saya merantau ke sana kemari mencari penghidupan hingga akhirnya jangkar saya terlempar di Bengkulu. Meski terpisah jarak yang lumayan, komunikasi batin keluarga tetap tersambung. Setiap kali saya pulang kampung, beliau adalah salah satu saudara bapak yang wajib saya kunjungi.

Masa kecil saya juga banyak diwarnai oleh kehadiran beliau sebagai pengasuh dadakan. Ketika saya masih balita dan belum mengerti apa-apa, beliau yang sering mengajak main. Kenakalan saya yang kadang ajaib itu beliau hadapi dengan santai. Saya ingat dulu paling susah kalau disuruh makan atau potong rambut. Kalau sudah mogok makan, orang rumah bisa pusing tujuh keliling membujuknya. Tapi Lek Bahrudin dan adik-adik bapak lainnya punya cara sendiri untuk menaklukkan keras kepalanya saya. Beliau tidak pakai marah, tapi pakai trik-trik pendekatan yang luwes.

Soal menyetir, beliau juga yang "meracuni" saya sejak dini. Bayangkan saja anak usia 9 tahun sudah disuruh pegang setir mobil beneran. Waktu itu kami dalam perjalanan pulang menjemput Mbah dari rumah sakit. Mungkin beliau sedang iseng atau ingin melatih keberanian saya. Saya duduk di depan beliau sambil tangan kecil ini menggenggam kemudi. Tentu saja kaki saya belum sampai ke pedal gas dan rem. Beliau yang mengendalikan laju di belakang, saya cuma gaya-gayaan menyetir. Bahaya memang kalau dipikir sekarang, tapi dulu itu rasanya bangga sekali.

Tidak berhenti di mobil, beliau juga mengenalkan saya pada sensasi roda dua. Ini terjadi saat kami hendak menonton pertandingan sepak bola di desa tetangga. Sambil jalan menuju lokasi tanding, beliau mengajari saya cara bawa motor. Sekali lagi, ini dilakukan saat usia saya masih sangat belia untuk ukuran pengendara. Di jalanan desa yang tidak begitu ramai itulah saya belajar keseimbangan dan gas. Beliau dengan sabar menuntun saya sampai motor bisa jalan stabil. Ilmu jalanan ini lebih cepat masuk daripada teori di buku.

Kalau soal sepak bola, pengaruh beliau justru lebih besar dari Bapak. Padahal Bapak saya itu mantan pemain bola di masa mudanya. Tapi Bapak tipe orang yang demokratis, tidak memaksa anaknya suka bola. Justru Lek Bahrudin yang sering mengajak saya keliling desa nonton bola. Kalau tim kampung kami sedang tandang, saya sering diajak jadi suporter. Dari sanalah saya mulai mengerti serunya sorak-sorai di pinggir lapangan. Beliau menularkan semangat kompetisi itu dengan cara yang menyenangkan.

Di pinggir lapangan bola itu juga ada kenangan soal minuman. Lek Bahrudin lah yang pertama kali mengenalkan saya pada Kratingdaeng. Minuman energi botol kaca itu rasanya asing tapi menantang buat anak kecil. Beliau membelikannya saat kami sedang istirahat nonton pertandingan. Bagi saya waktu itu, minum itu rasanya sudah seperti jadi orang dewasa. Rasanya manis menyengat dan memberikan sugesti tenaga tambahan. Itu kenangan sederhana yang entah kenapa menempel terus di kepala.

Selain urusan otomotif dan bola, ada satu hal seni yang beliau ajarkan. Beliau adalah guru gitar pertama saya di rumah. Gitar itu sendiri punya sejarah unik karena dibelikan oleh Bapak saya. Uangnya berasal dari hasil Bapak dapat kocokan arisan waktu itu. Gitar tongkrongan itulah yang jadi media saya belajar memetik senar. Lek Bahrudin dengan telaten mengajari kunci-kunci dasar sampai saya bisa bunyi. Lagu-lagu yang diajarkan tentu saja lagu zaman dulu alias jadul.

Gitar bersejarah itu sampai sekarang masih ada wujudnya di rumah bapak. Kondisinya memang sudah tidak mulus lagi termakan zaman. Bodinya sudah sedikit rusak di sana-sini karena usia. Tapi benda itu menjadi saksi bisu kedekatan saya dengan Lek Bahrudin. Setiap melihat gitar itu, saya teringat suara beliau menyanyikan lagu lawas dan dangdut. Beliau bukan musisi hebat, tapi beliau bisa menikmati musik. Dari situ saya belajar bahwa seni itu untuk dinikmati, bukan cuma untuk dipamerkan.

Ada satu masa ketika Bapak dan Ibu saya berangkat menunaikan ibadah haji. Saya dan adik ditinggal di rumah selama kurang lebih 40 hari. Di momen itulah peran Lek Bahrudin dan keluarga besar sangat terasa. Beliau ikut membantu mengurusi kami yang masih butuh pengawasan. Beliau memastikan rumah tetap aman dan kebutuhan kami tercukupi. Rasanya tenang meski orang tua sedang berada jauh di Tanah Suci. Kehadiran beliau mengisi kekosongan figur orang tua sementara waktu.

Ketika saya duduk di bangku SMP kelas 3, beliau kembali jadi penyelamat. Waktu itu sekolah mengadakan study tour wajib ke Jakarta. Masalahnya, Bapak sedang ada pelatihan dinas di Bogor selama sepuluh hari. Tidak ada yang bisa mengantar saya ke sekolah sore hari untuk kumpul. Lek Bahrudin tanpa diminta langsung menawarkan diri mengantar. Sore jelang maghrib motornya sudah siap membonceng saya menembus dingin. Beliau memastikan keponakannya tidak ketinggalan bus rombongan.

Pun saat saya hendak melangkah ke jenjang pernikahan, beliau ada di sana. Beliau ikut rombongan keluarga melamar istri saya sebelas tahun lalu. Beliau tampil rapi mendampingi Bapak sebagai perwakilan keluarga laki-laki. Saat saya menikah, beliau datang jauh-jauh dari Lampung. Kondisinya waktu itu masih sangat sehat dan bugar. Tawanya masih renyah menyapa tamu-tamu undangan yang hadir. Beliau tampak bahagia melihat keponakannya naik pelaminan.

Di balik sifatnya yang supel, beliau punya sisi religius yang patut ditiru. Ini soal kebiasaan membersihkan musola dekat rumah setiap pagi. Selepas salat Subuh, beliau tidak langsung pulang melingkar selimut. Beliau mengambil sapu dan pel untuk membersihkan lantai musola tanpa disuruh. Itu beliau lakukan bertahun-tahun secara istiqomah sendirian. Awalnya tidak ada yang memperhatikan, tapi lama-lama jadi kebiasaan. Kini, rutinitas itu diteruskan oleh jamaah lain di musola tersebut.

Namun takdir berkata lain dalam enam tahun terakhir ini. Kesehatan beliau menurun drastis digerogoti penyakit. Sosok yang dulu gagah mengendarai Jeep itu perlahan mulai layu. Kami hanya bisa mendoakan dan membantu sebisa mungkin dari jauh. Beliau menjalani sakitnya dengan ketabahan yang luar biasa. Tidak banyak keluhan yang keluar dari mulutnya meski pasti rasanya sakit. Itu menjadi ujian penggugur dosa bagi beliau di masa tua.

Pagi ini, semua rasa sakit itu telah diangkat oleh Sang Pencipta. Beliau dipanggil pulang menyusul Mbah Kakung, Mbah Putri, dan kakak beliau. Lek Bahrudin sudah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan baik. Jejak kebaikannya tertinggal di hati kami para keponakan. Kami ikhlas melepas kepergian beliau menghadap Ilahi.

Maturnuwun, Lek, untuk semua jemputan, ajaran gitar, dan tumpangan mobilnya dulu. Gitar tua di rumah akan selalu mengingatkan saya pada petikan tanganmu. Selamat jalan menuju tempat istirahat yang paling tenang. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Husnul Khatimah, Lek.
Di sunyinya malam yang lalu, saat lantunan bacaan Alquran sudah mulai terhenti diperdengarkan melalui pengeras suara karena malam yang semakin larut, kabar duka datang menyapa melalui pesan berantai di WA. Gusanto, atau yang kami kenal dengan Bang Agus, telah berpulang kehadirat Allah SWT karena sakit yang baru ia ketahui saat berada di Jakarta. Kepergian Bang Agus bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tapi juga bagi kami, para alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Bengkulu yang pernah dipersatukan oleh semangat dan pergerakan.

Bang Agus bukan sembarang senior. Baginya, perbedaan usia hanyalah angka. Beliau adalah salah satu sosok yang merangkul saya saat saya baru bermukim di Bengkulu. Meski terpaut usia puluhan tahun, Bang Agus menjadikan kami—adik-adik dan saudara sealmamaternya—bagian dari keluarganya. Di kota Bengkulu, jauh dari rumah, beliaulah keluarga kami. Baginya, saya bukan hanya junior atau kawan se-almamater; kami adalah adik, dan saudara sehati yang dipersatukan oleh Yogyakarta, kota yang pernah menempa kami dengan berbagai kenangan indah dan pelajaran berharga.

Beliau adalah aktivis yang tak kenal lelah. Meskipun usianya telah melewati setengah abad, semangatnya dalam berorganisasi, berkegiatan sosial, dan aktivitas lainnya, tetap berkobar seolah usia hanyalah sebuah nomor yang tidak mampu membatasi langkah dan perjuangannya. Bang Agus membuktikan bahwa kegiatan positif tidak mengenal batasan usia.

Ia menjadi contoh nyata bagaimana seorang senior dalam perkumpulan alumni harus berperan. Bang Agus adalah "provost" yang tak pernah segan menegur dan memberi arahan bagi kami yang lebih muda. Bang Agus adalah magnet, mengumpulkan kami, alumni lintas zaman, jurusan, dan pekerjaan, dalam satu ikatan kuat. Beliau mengajarkan kami tentang nilai kebersamaan, kesetiaan pada nilai dan tujuan, serta pentingnya terus bergerak maju walau tantangan menghadang.

Di setiap pertemuan, Bang Agus selalu menekankan pentingnya berkontribusi pada masyarakat dan lingkungan sekitar. "Jangan hanya menjadi alumni yang bangga dengan segelintir prestasi pribadi," ujarnya suatu kali, "jadilah alumni yang memberi dampak positif bagi banyak orang." Pesan ini terus bergaung di hati saya hingga kini.

Kepergian Bang Agus meninggalkan kekosongan yang sulit tergantikan. Namun, warisan dan pelajaran yang telah ia tanamkan dalam diri kami akan selalu hidup dan mekar. Bang Agus mengajarkan kami untuk berani berada di garis depan, baik dalam suka maupun duka, dan itu adalah pelajaran terbesar yang akan kami kenang selalu.

Bang Agus / 1967 - 2024 (Foto : FB Pribadi Gus Santo)
 
Saya bermohon kepada Allah SWT agar dosa-dosa Bang Agus diampuni, dan beliau ditempatkan di sisi-Nya di tempat yang terbaik. Semoga semangat Bang Agus dapat menginspirasi kita semua untuk terus bergerak maju, memberikan yang terbaik bagi sesama, serta menjalani hidup dengan penuh makna seperti yang telah beliau lakukan.

Bang Agus, terima kasih. Atas semua pelajaran, nasehat, dan persahabatannya. Sampai kita bertemu lagi di kehidupan yang abadi.

Ketika berbicara tentang guru, ada mereka yang kita kenang dengan rasa terima kasih yang mendalam. Salah satunya adalah Bu Sur, nama yang akan selalu diingat oleh siapa saja yang pernah menjadi muridnya. Ketika berita tentang wafatnya Bu Sur mencapai telinga kami, kehilangan ini terasa begitu mendalam.

Dalam ingatan banyak siswa, Bu Sur adalah sosok guru yang tegas. Kakak-kakak tingkat sering kali memberikan cerita tentang guru galak ini, yang membuat banyak siswa enggan masuk ke kelasnya karena ketakutan. Tapi, bagi saya dan banyak teman sekelas, pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Bu Sur bukanlah guru yang galak, melainkan guru yang tegas dan berprinsip. Beliau hanya berusaha untuk menjalankan disiplin sesuai dengan peraturan sekolah yang ada. Bagi kami, beliau adalah guru yang sangat baik yang mengajarkan banyak hal baru.

Ilustrasi (Credit : Pixabay)

Salah satu kenangan yang masih terukir jelas dalam ingatan saya adalah saat di kelas Bu Sur, kami diajarkan cara membuat "sulak" atau kemoceng dari tali rafia. Proses pembuatan ini berlangsung selama beberapa minggu, terjadi di sela-sela mata pelajaran kesenian lokal kami. Meskipun terdengar sederhana, hal ini merupakan salah satu pengalaman yang mengajar kami tentang ketelitian, kesabaran, dan kreativitas. Bu Sur selalu memberikan panduan dengan sabar dan senyum, meskipun kami sering kali kesulitan mengikuti instruksi.

Selain kreativitas, Bu Sur juga memiliki bakat dalam mata pelajaran lain seperti matematika dan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Penjelasan-penjelasannya yang mendalam dan inspiratif di kelas seringkali membuat saya terpesona dan bersemangat untuk belajar lebih banyak. Salah satu momen penting adalah saat beliau menjelaskan tentang kecepatan dalam mata pelajaran IPA. Pada usia yang baru menginjak 10 tahun, saya mulai membentuk pemahaman tentang konsep kecepatan dan bagaimana hal itu berkaitan dengan keseimbangan. Semua ini berawal dari penjelasan Bu Sur tentang materi IPA yang berkaitan dengan sepeda. Guru yang hebat adalah mereka yang mampu membuat pelajaran terlihat menarik dan relevan, dan Bu Sur adalah contoh yang sempurna.

Selain itu, di kelas Bu Sur, kecintaan saya terhadap sejarah semakin berkembang. Beliau memiliki cara unik dalam menjelaskan sejarah yang membuatnya terasa hidup dan menarik. Kami tidak hanya mengingat tanggal-tanggal penting, tetapi juga mengerti konteks sejarahnya. Ini adalah salah satu aspek penting dalam pendidikan yang telah Bu Sur tanamkan pada kami.

Terakhir kali saya bertemu dengan Bu Sur adalah setahun sebelum beliau pensiun. Meskipun usianya telah lanjut, semangat dan semangat belajar beliau tetap menyala. Kami mengobrol tentang masa lalu dan pengalaman kami sebagai siswa dan guru. Pertemuan itu meninggalkan kesan yang dalam tentang dedikasi dan cinta beliau terhadap dunia pendidikan.

Terimakasih Bu Guru, telah menjadi bagian berharga dari perjalanan hidup kami dan membentuk kami hari ini. Ilmu yang telah ibu ajarkan kepada kami akan selalu menjadi bagian dari kami dan insyaAllah menjadi pahala yang tak terputus. Doa kami semoga Allah SWT memberikan rahmat dan tempat yang layak bdi sisi-Nya.

***

Bu Sur bukan hanya guru bagi kami, melainkan juga seorang mentor, pembimbing, dan inspirasi sepanjang hidup kami. Dalam cara yang sederhana namun mendalam, beliau telah membantu membentuk karakter dan pemikiran kami. Kami tidak akan pernah melupakan pelajaran yang telah kami terima dari Bu Sur. Semoga beliau mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya, karena beliau telah meninggalkan warisan yang berharga dalam dunia pendidikan dan dalam hati kami. Selamat jalan, Bu Sur.

“Ndi, pergilah kamu sekolah lagi. Jangan paksakan idealismemu untuk diwujudkan saat ini. Ada saatnya nanti kamu akan mendapat giliran untuk mewujudkan ide-idemu tersebut”
“Tapi pak, apa saya masih bisa melakukannya dimasa mendatang?”
“Saya percaya bahwa tiap yang muda dan dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, mampu membawa sesuatu hal yang berbeda. Jadi saya sangat percaya kamu dan teman-temanmu kelak yang akan mengubah semua ini”
“Dulu saya pernah menjadi seperti kamu saat ini. Dan dibenturkan dengan kondisi yang hampir sama. Saya memilih untuk lari dari semua itu. Namun jangan tiru saya. Kamu lawan dan rubah semua ini agar terwujud apa yang selama ini dicita-citakan”

***

Sabtu itu, cuaca di Kota Chiayi agak sedikit mendung walau suhunya terasa lebih panas dari biasanya. Maklumlah, ini adalah masa transisi dari musim dingin ke musim semi. Terkadang masih ada suhu dingin yang mampir ke pulau dengan jumlah penduduk 23 juta jiwa ini. Ting…… Bunyi HP membuyarkan lamunan siang itu. Ada notifikasi bahwa aplikasi perpesanan berwarna hijau itu memiliki pesan chat baru.
Gambar Ilustrasi (Sumber : Istimewa)

“Innalillah wainnailaihi rojiun….. sahabat kita telah mendahului kita semua”, tulis pesan yang ada dalam aplikasi tersebut. Tak lupa, si pengirim pesan tadipun melampirkan photo terakhirnya dengan orang yang dikabarkan tersebut.

Postingan Lama Beranda

TENTANG PENULIS


Ayah penuh waktu. Penyuka kue lupis dan tempe goreng. Bekerja sebagai penulis partikelir semi-amatir. Kadang-kadang juga jadi tukang dongeng

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

ACADEMIC LEARNING ACCESS

My Courses

KOMIKU

Memuat komik...

Artikel Populer

  • ANDAI SAYA JADI MENLU, MINIMAL TIDAK BIKIN INDONESIA TERLIHAT SEPERTI LAGI BINGUNG DI GRUP DUNIA
  • MASIH PERLUKAH INDONESIA TERLIBAT DALAM PASUKAN PBB?
  • NEGERI YANG INGIN BEKERJA DARI RUMAH
  • KAMUS BESAR BAHASA MELAYU-INDONESIA
  • BISNIS RUMPUT HAY

TEMATIK

Ramadan Bercerita
Tulisan di Media Massa
Opini 1
Kompas.ID
Papan Bunga: antara Ekspresi Tulus dan Konsumerisme Berlebihan
Opini 2
DetikNews
Birokratisasi Kepahlawanan
Opini 3
DetikNews
Tsunami Jurnal di Indonesia
Opini 4
DetikNews
Disrupsi Alam dan Kebutaan Akademik Kita
Opini 1
DetikNews
Pendidikan (Tanpa) Kompetisi
Opini 2
DetikNews
Tanggung Jawab Media Sosial Pascapemilu
Opini 3
DetikNews
Senjakala Sekolah Negeri?
Opini 4
DetikNews
Kado Manis untuk Pekerja Migran
Opini 4
DetikNews
Rapat dan Efisiensi Anggaran
Opini 4
DetikNews
Menggugat Jurnal-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Konsep Pariwisata Bengkulu yang Berkelanjutan
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba
TribunNews Bengkulu
Menyelamatkan Ekonomi Bengkulu dari Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai
Opini 4
Tirto.ID
Senjakala Toko Buku di Indonesia, Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Opini 4
Tirto.ID
Empat Titik Kerawanan Pemungutan Suara di Luar Negeri
Opini 4
Tirto.ID
Salah Kaprah Susu Kental Manis: Literasi Gizi dan Tipu-Tipu Iklan
Opini 4
Taipei Times
University attraction to Indonesia
Opini 4
Media Indonesia
Pentingnya Literasi Digital di Era Modern

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 2

ADVERTORIAL 2
DMCA.com Protection Status

BUKU KAMI YANG TELAH TERBIT

Copyright © 2013-2024 Andi Azhar. Oleh Andi Azhar