Andi Azhar
  • Beranda
  • Mimbar
    • Khazanah Islam
    • Kolak Pisang
    • Pendidikan
    • Sosial Politik
    • Persyarikatan
    • #SeloSeloan
    • Perguruan Tinggi
    • Sains Teknologi
    • Financial Teknologi
    • Bengkulu
    • Bisnis
  • Lakon
    • Formosa
    • Nusantara
    • Ramadhan Bercerita
  • Soneta
  • Interlokal
    • Education
    • Politic
    • Technology
    • Economic
  • Pariwara
    • Competition
    • Endorsement
    • Komiku
  • Jejak
  • Sangu
    • MoE Taiwan
    • HES Taiwan
    • ICDF Taiwan
  • Hubungi Kami
Di banyak media, akhir-akhir ini sering terdengar optimisme yang menggebu tentang Koperasi Desa Merah Putih dari Menteri yang membidanginya. Nada suaranya penuh keyakinan. Seolah sebuah desain baru sedang lahir untuk menata ulang ekonomi desa. Bahkan ada yang berkata, jika koperasi ini berjalan, tidak perlu lagi minimarket modern masuk desa. Saya menyukai semangat itu. Energi perubahan memang selalu dimulai dari keyakinan. Tetapi keyakinan tanpa perhitungan sering kali berubah menjadi beban kolektif.

Sebagai bangsa, kita memang punya memori panjang tentang koperasi. Pasal 33 UUD 1945 pernah ditafsirkan sebagai legitimasi moral bahwa koperasi adalah soko guru perekonomian. Namun sejarah juga mencatat bahwa tidak semua koperasi tumbuh sehat. Banyak yang mati suri, sekadar papan nama. Di atas kertas terlihat ideal. Di lapangan tersandung tata kelola, kompetensi, dan disiplin. Di sinilah saya merasa perlu mengajukan pertanyaan rasional.
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)


Pertanyaan pertama sederhana namun mendasar. Apa model bisnis Kopdes Merah Putih sebenarnya. Apakah ia hendak menjadi peritel kebutuhan harian, agregator hasil bumi, lembaga pembiayaan mikro, atau semuanya sekaligus. Tanpa kejelasan proposisi nilai, koperasi hanya menjadi wadah administratif. Dalam literatur manajemen strategi, model bisnis menjelaskan bagaimana organisasi menciptakan nilai, mengirimkan nilai, dan menangkap nilai. Jika tiga unsur ini kabur, maka arus kas juga kabur. Dan organisasi yang arus kasnya kabur biasanya berakhir pada subsidi permanen.

Kita bisa belajar dari konsep business model canvas yang diperkenalkan Alexander Osterwalder. Di sana ada sembilan blok yang harus saling terhubung secara logis. Segmen pelanggan harus jelas. Sumber pendapatan harus terukur. Struktur biaya harus realistis. Dalam banyak program berbasis proyek, yang sering ditonjolkan adalah sumber modal. Padahal modal bukanlah model bisnis. Modal hanya memperpanjang napas, bukan menjamin keberlanjutan.

Data Kementerian Koperasi beberapa tahun terakhir menunjukkan ribuan koperasi dibubarkan karena tidak aktif. Ini bukan soal niat. Ini soal tata kelola dan kompetensi manajerial. Bahkan badan usaha milik negara yang mendapat suntikan modal triliunan dan proteksi regulasi pun masih bergulat dengan efisiensi. Jika entitas sebesar itu saja sering tersandung, apalagi koperasi desa yang baru dirintis dan dikejar target. Di sinilah saya mulai melihat risiko sistemik.

Bandingkan dengan perjalanan jaringan seperti Indomaret dan Alfamart. Mereka tumbuh bukan karena retorika. Mereka tumbuh karena disiplin operasi yang ditegakkan tanpa kompromi. Setiap gerai diukur performanya harian. Setiap rak punya hitungan perputaran barang. Setiap promosi dianalisis dampaknya terhadap margin. Ini bukan bisnis kira kira.

Publik sering melihat minimarket sebagai toko kecil berpendingin udara. Padahal di balik satu botol air mineral ada rantai pasok yang kompleks. Ada pusat distribusi regional. Ada sistem ERP yang memantau stok secara real time. Ada algoritma pengisian ulang otomatis berdasarkan data historis penjualan. Permintaan tidak ditebak. Permintaan dihitung dengan disiplin statistik.

Dalam teori ekonomi, skala menciptakan daya tawar. Semakin besar volume pembelian, semakin murah harga per unit. Semakin murah harga per unit, semakin luas ruang margin. Jaringan ritel modern membeli langsung dari principal. Mereka memperoleh rebate volume dan dukungan promosi nasional. Mereka bahkan bisa menentukan syarat pembayaran. Itulah kekuatan agregasi permintaan.

Koperasi desa yang modalnya berasal dari APBN tentu memiliki daya dorong awal. Namun subsidi bukanlah keunggulan kompetitif. Michael Porter sudah lama mengingatkan tentang pentingnya competitive advantage yang berkelanjutan. Keunggulan tidak lahir dari proteksi semata. Ia lahir dari posisi yang unik dan sistem aktivitas yang saling menguatkan. Jika tidak, koperasi hanya menjadi penyalur barang tanpa diferensiasi.

Saya ingin menekankan soal arus kas. Dalam bisnis ritel modern, penjualan dilakukan tunai kepada konsumen. Pembayaran kepada pemasok diberi tempo tiga puluh hingga empat puluh lima hari. Selisih waktu ini menciptakan ruang likuiditas. Namun ruang itu harus dikelola dengan sistem akuntansi yang ketat. Tanpa kontrol, akumulasi kas bisa mengundang moral hazard. Kita sudah terlalu sering mendengar kasus pengelolaan dana yang berujung pada fraud.

Masalah berikutnya adalah sumber daya manusia. Rekrutmen dalam organisasi ritel besar dilakukan dengan standar kompetensi yang jelas. Ada pelatihan berjenjang. Ada audit rutin. Ada sistem sanksi dan penghargaan. Jika Kopdes Merah Putih merekrut pengurus hanya demi mengejar target pembentukan, maka fondasinya rapuh. Organisasi bukan sekadar struktur. Ia adalah perilaku yang dibentuk oleh sistem.

Di sinilah saya melihat potensi mismatch. Desa memiliki dinamika sosial yang khas. Hubungan kekerabatan kuat. Keputusan sering berbasis kompromi sosial. Sementara bisnis ritel menuntut objektivitas angka. Barang yang tidak laku harus dieliminasi meski dipasok oleh kerabat. Piutang yang macet harus ditagih meski kepada tetangga. Tidak semua komunitas siap dengan disiplin seperti ini.

Ada yang berargumen bahwa koperasi tidak perlu terlalu mengejar efisiensi seperti swasta karena ia mengusung misi sosial. Saya sepakat misi sosial penting. Namun tanpa efisiensi, misi sosial tidak berumur panjang. Lihatlah lembaga keuangan mikro sukses seperti Grameen Bank. Ia bertahan karena disiplin pengembalian pinjaman dijaga ketat. Solidaritas sosial berjalan berdampingan dengan akuntabilitas finansial.

Kita juga bisa belajar dari kegagalan banyak proyek top down di berbagai negara berkembang. Modal dikucurkan besar. Gedung dibangun megah. Sistem IT dibeli mahal. Tetapi setelah peresmian, aktivitas merosot. Penyebabnya klasik. Tidak ada ownership yang kuat dari pelaku di lapangan. Ketika rugi, yang disalahkan adalah pasar. Ketika macet, yang diharap adalah tambahan subsidi.

Saya khawatir Kopdes Merah Putih akan berada dalam jebakan yang sama. Ia akan dipaksakan berjalan karena sudah menjadi janji politik. Walau berdarah darah, ia tetap dioperasikan demi citra keberhasilan. Kerugian dianggap investasi sosial. Padahal setiap kerugian berarti potensi gagal bayar. Dan gagal bayar di desa bukan sekadar angka, melainkan trauma kolektif terhadap perbankan.

Perbankan tentu melihat koperasi sebagai entitas legal yang bisa dibiayai. Ada agunan, ada proyeksi usaha, ada dukungan pemerintah. Namun jika proyeksi disusun terlalu optimistis, risiko kredit meningkat. Kita tahu rasio kredit bermasalah UMKM di beberapa periode pernah menanjak ketika ekspansi dilakukan agresif. Desa desa yang gagal mengelola koperasi bisa terjerat kewajiban jangka panjang. Dampaknya bisa menurunkan kepercayaan terhadap lembaga keuangan formal.

Sebaliknya, saya melihat peluang bila pemerintah memilih membangun ekosistem ketimbang membangun pemain tunggal. Bayangkan jika negara memperkuat infrastruktur logistik desa. Gudang bersama berbasis teknologi. Sistem inventori terintegrasi yang bisa diakses pelaku usaha lokal. Marketplace B2B untuk menghubungkan warung desa dengan distributor besar. Biarkan pelaku yang disiplin tumbuh secara natural.

Warung tradisional di banyak daerah sebenarnya memiliki daya tahan luar biasa. Mereka hidup dari relasi sosial dan fleksibilitas. Jika diberi akses pada harga beli yang lebih kompetitif dan sistem pasok yang rapi, mereka bisa naik kelas. Pemerintah berperan sebagai orkestrator, bukan operator. Dengan begitu risiko bisnis tidak terkonsentrasi pada satu badan usaha. Kompetisi tetap terjadi secara sehat.

Saya selalu percaya bahwa perubahan tidak cukup digerakkan oleh slogan. Ia membutuhkan arsitektur yang kokoh. Arsitektur itu meliputi model bisnis yang jelas, tata kelola yang transparan, dan disiplin eksekusi. Tanpa tiga hal tersebut, koperasi hanya menjadi simbol. Simbol memang memikat di awal. Namun pasar tidak tunduk pada simbol.

Pada akhirnya, ekonomi adalah soal insentif dan perilaku. Jika pengurus tidak diberi insentif berbasis kinerja, mereka tidak akan berperilaku efisien. Jika kerugian selalu ditutup negara, tidak ada tekanan untuk berbenah. Sistem akan melahirkan mentalitas bergantung. Desa justru kehilangan kesempatan belajar menjadi tangguh.

Maka saya kembali pada semangat awal yang saya apresiasi. Keinginan memajukan desa adalah niat mulia. Tetapi niat harus dipagari nalar. Kita perlu kejujuran untuk mengatakan bahwa menggantikan jaringan ritel modern bukan perkara sederhana. Ia menuntut disiplin puluhan tahun yang ditempa oleh kompetisi keras. Bukan sekadar suntikan dana dan seremonial peresmian.

Di ruang kelas, saya sering mengingatkan bahwa transformasi adalah proses panjang. Ia memerlukan eksperimen kecil yang terukur. Jika Kopdes Merah Putih ingin berhasil, mulailah dengan pilot project yang benar benar diuji profitabilitasnya. Publikasikan laporan keuangannya secara transparan. Biarkan publik menilai dengan data, bukan dengan retorika.

Saya tidak sedang menolak koperasi. Saya justru ingin koperasi berhasil. Tetapi keberhasilan tidak lahir dari ilusi skala. Ia lahir dari disiplin, kejelasan model bisnis, dan keberanian menghadapi realitas pasar. Jika itu dipenuhi, koperasi desa bisa menjadi kekuatan baru. Jika tidak, kita hanya menambah daftar panjang program yang indah dalam pidato namun rapuh dalam praktik.
Dunia sedang berubah dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh nalar lama yang masih terpenjara dalam sekat-sekat ekonomi linier. Di sudut Kota Bengkulu, tepatnya di Belungguk Point, kita menyaksikan sebuah ledakan kreativitas yang tidak datang dari ruang perkantoran formal atau gedung tinggi. Anak-anak muda di sana menciptakan kerumunan bukan sekadar untuk nongkrong menghabiskan waktu tanpa tujuan yang jelas. Mereka sedang membangun ekosistem baru yang memadukan antara gaya hidup, teknologi, dan kebutuhan akan pengakuan identitas di ruang publik. Fenomena ini mengingatkan saya pada bagaimana disrupsi bekerja di mana sesuatu yang dianggap remeh justru menjadi motor penggerak ekonomi yang sangat vital. Kita harus melihat lebih dalam bahwa yang terjadi di sana bukan hanya soal jualan makanan atau minuman.

Keanekaragaman aktivitas di Belungguk Point ini sebenarnya mencerminkan bagaimana sebuah lokomotif ekonomi baru sedang menarik gerbong-gerbong kreativitas yang sangat variatif. Kita bisa melihat para anak muda menawarkan aneka kreasi jajanan baru, penjaja aksesori hand-made yang unik, hingga bermacam produk kesehatan alami. Tak ketinggalan, muncul pula para seniman musik yang menggelar "mini konser" yang menambah dinamika pergerakan massa di trotoar. Semua ini adalah bentuk dari mikrobisnis yang tidak lagi mengandalkan etalase kaca yang kaku, melainkan mengandalkan interaksi langsung yang hangat. Keberagaman jenis usaha ini menciptakan sebuah ekosistem mandiri di mana satu unit usaha dengan usaha lainnya saling mendukung tanpa harus bersaing secara berdarah-darah.
Infografis (Diolah dengan AI)

Dalam kerumunan yang semakin padat dan berwarna itu, muncul satu jenis bisnis baru yang belum banyak pesaingnya, yakni street photo booth. Para pelaku usaha muda ini menangkap peluang dengan sangat cerdik karena mereka paham bahwa kamera ponsel saja tidak lagi cukup bagi generasi sekarang. Dalam pandangan saya, konsep ini bernama The Reflexive Aesthetic Orbit yang menjelaskan bagaimana sebuah ruang publik bertransformasi menjadi inkubator ekonomi yang sangat dinamis. Ruang ini menjadi semacam panggung di mana setiap orang ingin menjadi aktor utama dalam narasi digital mereka masing-masing. Mereka tidak hanya membeli jasa foto, melainkan membeli tiket untuk masuk ke dalam lingkaran tren yang sedang bergerak sangat cepat. Tanpa sadar, interaksi yang terjadi di sana telah membentuk sebuah orbit ekonomi baru yang berputar secara mandiri tanpa campur tangan birokrasi yang kaku.

Panggung Validasi Publik

Cermin adalah alat paling purba untuk melihat diri sendiri, namun di tangan anak muda Bengkulu, ruang publik itulah yang menjadi cermin raksasa. Masyarakat kelas menengah baru kita sangat membutuhkan validasi visual untuk menunjukkan bahwa mereka ada dan relevan dengan zaman. Ketika sebuah lokasi seperti Belungguk memiliki estetika yang tepat, secara otomatis ia akan menarik massa yang ingin ikut merasakan atmosfer tersebut. Bisnis kreatif kemudian lahir sebagai satelit yang mengelilingi pusat massa itu untuk melayani kebutuhan akan konten yang berkualitas tinggi. Inilah yang saya sebut sebagai ekonomi validasi di mana nilai sebuah produk ditentukan oleh seberapa besar kontribusinya terhadap citra diri sang pembeli. Jangan heran jika sebuah usaha kecil yang dikelola dari trotoar bisa menghasilkan omzet yang melampaui toko konvensional di pusat perbelanjaan.

Setiap sudut di Belungguk Point menawarkan peluang bagi mereka yang memiliki mata jeli untuk melihat apa yang sedang diinginkan oleh pasar. Kita sering kali terjebak pada pola pikir bahwa bisnis harus memiliki bangunan fisik yang megah dan stok barang yang sangat banyak. Kenyataannya, anak-anak muda ini hanya bermodalkan kamera, pencahayaan yang ciamik, dan sedikit sentuhan desain untuk memulai usaha yang sangat menjanjikan. Mereka tidak membutuhkan izin usaha yang berbelit-belit untuk sekadar menawarkan kebahagiaan sesaat lewat selembar foto instan yang estetik. Kecepatan mereka dalam beradaptasi dengan keinginan pelanggan adalah kunci mengapa model bisnis seperti ini mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi. Fleksibilitas ini adalah kekuatan utama dari para pelaku ekonomi kreatif yang lahir dari rahim jalanan namun berpikiran global.

Jika kita perhatikan dengan seksama, para pengunjung yang datang ke area tersebut sebenarnya sedang melakukan ritual sosial yang sangat modern. Mereka datang dengan pakaian terbaik, berdandan rapi, dan siap untuk dipotret untuk kemudian diunggah ke berbagai platform media sosial. Perilaku kolektif inilah yang kemudian menggerakkan roda ekonomi di sekitarnya mulai dari sektor kuliner hingga jasa pendukung lainnya. Bisnis foto jalanan hanyalah salah satu pengait yang memastikan bahwa pengalaman berkunjung ke Belungguk menjadi sesuatu yang berkesan dan layak dibagikan. Inilah daya pikat dari sebuah orbit estetik yang mampu menyedot perhatian banyak orang tanpa harus melakukan promosi besar-besaran di media massa. Kekuatan komunikasi mulut ke mulut yang kini berpindah ke layar ponsel telah menjadi mesin pemasaran paling efektif bagi UMKM kreatif.

Penyedia jasa foto ini tidak hanya menjual hasil jepretan, melainkan juga menjual "rasa percaya diri" yang dikemas dalam bingkai estetik digital. Mereka sangat paham bahwa di era sekarang, pengalaman yang tidak didokumentasikan dengan baik dianggap sebagai pengalaman yang tidak pernah terjadi. Oleh karena itu, kehadiran peralatan profesional di pinggir jalan memberikan kesan eksklusivitas yang bisa diakses oleh siapa saja dengan harga yang sangat terjangkau. Hal ini meruntuhkan batasan antara layanan premium yang biasanya hanya ada di studio mahal dengan aksesibilitas ruang publik yang terbuka lebar. Strategi "jemput bola" ini adalah inti dari ekonomi berbagi di mana aset kreativitas dipertemukan langsung dengan kebutuhan eksistensi manusia modern. Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa anak muda kita sangat adaptif dalam memanfaatkan teknologi untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi diri mereka sendiri.

Ledakan Ekonomi Kreatif

Pemerintah daerah sering kali gagal memahami bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari proyek infrastruktur raksasa yang menelan biaya triliunan rupiah. Kadang-kadang, yang dibutuhkan masyarakat hanyalah ruang terbuka yang aman, nyaman, dan memiliki karakter visual yang kuat untuk memicu kreativitas. Belungguk Point menjadi bukti bahwa ketika sebuah ruang diberikan nyawa, maka ekonomi akan tumbuh dengan sendirinya melalui inisiatif warga. Anak muda tidak butuh dikasihani dengan subsidi, mereka hanya butuh ekosistem yang mendukung agar ide-ide gila mereka bisa dieksekusi dengan baik. Transformasi ini menunjukkan bahwa kreativitas adalah bahan bakar yang tidak akan pernah habis selama ruang untuk berekspresi tetap terjaga. Mari kita belajar untuk lebih menghargai setiap upaya kecil yang dilakukan oleh anak-anak muda ini dalam membangun kotanya sendiri.

Seringkali para ahli ekonomi tradisional memandang sebelah mata terhadap jenis usaha yang dianggap musiman atau sekadar mengikuti tren sesaat saja. Padahal, kemampuan untuk menangkap tren adalah keahlian tingkat tinggi yang menuntut sensitivitas terhadap selera pasar yang terus berubah setiap detik. Para pemilik photo booth jalanan ini adalah contoh nyata dari wirausaha yang lincah dan mampu membaca tanda-tanda zaman dengan sangat akurat. Mereka tidak menunggu bola, melainkan menjemput bola di tempat di mana orang-orang sedang berkumpul dan bersenang-senang. Strategi ini sangat cerdas karena biaya akuisisi pelanggan menjadi sangat rendah akibat massa yang sudah terkumpul secara alami. Inilah esensi dari ekonomi baru yang lebih menekankan pada kolaborasi dan pemanfaatan ruang publik secara maksimal.

Kita harus mulai meninggalkan paradigma lama yang melihat keramaian hanya sebagai potensi gangguan keamanan atau kemacetan lalu lintas semata. Sebaliknya, keramaian adalah aset ekonomi yang luar biasa jika dikelola dengan pendekatan yang lebih humanis dan kreatif. Belungguk telah memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana harmoni antara kebutuhan sosial dan peluang ekonomi bisa berjalan beriringan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjaga agar orbit estetik ini tetap stabil dan tidak hancur karena keserakahan atau aturan yang mematikan. Kreativitas selalu butuh sedikit kebebasan agar bisa bernapas dan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar hobi. Jika kita terus mengekang mereka dengan aturan kuno, maka potensi emas ini akan layu sebelum sempat mekar dengan sempurna.

Menjaga Momentum Pertumbuhan

Ekosistem yang sehat di Belungguk harus terus dirawat dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan agar tidak kehilangan daya tariknya di masa depan. Kita perlu mendorong agar para pelaku bisnis kreatif ini naik kelas tanpa harus kehilangan jati diri mereka yang organik dan unik. Inovasi harus terus dilakukan agar pengunjung tidak merasa bosan dengan tawaran yang itu-itu saja setiap kali mereka datang berkunjung. Integrasi antara teknologi digital dan pengalaman fisik di lapangan akan menjadi kunci utama untuk memperpanjang usia dari fenomena ekonomi ini. Saya melihat potensi besar jika para kreator ini mulai berkolaborasi dengan jenama lokal untuk menciptakan produk yang lebih eksklusif. Masa depan Bengkulu bisa jadi ditentukan oleh seberapa baik mereka mengelola aset-aset kreatif yang sedang tumbuh subur di trotoar-trotoar kota.

Perjalanan ekonomi kreatif kita memang masih panjang, namun benih-benih harapan itu sudah mulai terlihat jelas di tempat-tempat seperti Belungguk Point. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang hanya pandai mengonsumsi karya orang lain tanpa mampu menciptakan nilai tambah dari potensi sendiri. Anak muda Bengkulu telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menciptakan sesuatu yang mampu menggerakkan ekonomi orang banyak. Mari kita beri ruang lebih luas bagi imajinasi mereka untuk terus menari di tengah orbit estetik yang telah mereka ciptakan sendiri. Dukungan moril dan kebijakan yang pro-kreativitas akan menjadi suplemen yang sangat dibutuhkan untuk menjaga api semangat mereka tetap menyala. Akhirnya, kita semua ingin melihat kota-kota di Indonesia menjadi tempat yang hidup, berdenyut, dan penuh dengan karya-karya orisinal anak bangsa.

Suasana sore di kawasan Pantai Panjang, Bengkulu, memang selalu menawarkan romantisme tersendiri yang sulit ditolak oleh siapa saja yang melewatinya. Tepat di pertigaan ramai dekat Bencoolen Mall, mata saya tertumbuk pada penjual kelinci yang berderet rapi di pinggir jalan utama. Entah angin apa yang membawa saya, tiba-tiba saja mobil menepi dan saya memutuskan membeli kelinci yang lucu itu. Alasannya sebenarnya sangat sederhana dan tidak muluk-muluk, yakni saya hanya ingin menumbuhkan rasa kasih sayang di hati anak-anak kepada sesama makhluk hidup. Kita harus sadar sepenuhnya bahwa binatang adalah ciptaan Tuhan yang bernyawa, sama halnya dengan manusia yang butuh dikasihi. Dengan merawat kelinci, anak-anak akan belajar tanggung jawab, belajar memberi makan, dan belajar membersihkan kotoran setiap hari. Itu adalah pelajaran moral yang tidak didapatkan di bangku sekolah manapun, bahkan di universitas ternama sekalipun.

Sebenarnya kehadiran hewan peliharaan di rumah kami bukanlah hal yang benar-benar baru, karena sebelumnya sudah ada penghuni lain. Dulu ada seekor kucing yang entah datang dari mana, mungkin kucing liar yang nasibnya sedang beruntung menemukan rumah kami. Karena rasa iba, kami rutin memberinya makan, sampai akhirnya ia menjadi jinak dan betah berlama-lama di teras rumah. Bulunya putih bersih dan cantik sekali, wajahnya mirip persilangan antara kucing Persia mahal dengan kucing kampung biasa. Namun, nasib malang tak dapat ditolak, kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama bagi keluarga kami. Saat kucing itu baru saja melahirkan anak-anaknya yang lucu, ia tiba-tiba hilang diambil orang yang tidak bertanggung jawab. Sedih rasanya, tapi mungkin itulah yang memicu keinginan kuat kami untuk kembali memelihara hewan, kali ini kelinci.

Ilustrasi Kelinci
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Kembali ke soal kelinci tadi, ada satu fakta mengejutkan yang baru saja menampar logika saya yang selama ini keliru. Sejak kecil, kita seolah-olah dicekoki oleh dogma tontonan televisi bahwa makanan pokok kelinci adalah wortel dan kangkung. Tokoh kartun Bugs Bunny dengan wortel di tangannya adalah penipu ulung yang sukses menyesatkan jutaan orang di dunia, termasuk saya. Ternyata, memberi makan wortel dan sayuran basah secara terus-menerus adalah kesalahan fatal dalam dunia perkelincian. Sayuran itu mengandung gas dan kadar air tinggi yang justru membuat perut kelinci menjadi kembung dan begah. Tak jarang hal ini menyebabkan diare parah yang berujung pada kematian mendadak pada kelinci peliharaan. Pantas saja banyak orang bilang memelihara kelinci itu susah dan gampang mati, ternyata pakannya yang salah kaprah.

Pencerahan itu datang dari si penjual kelinci di pinggir jalan yang mewanti-wanti saya dengan wajah serius. Ia melarang keras saya memberikan sayuran segar sebagai menu utama, sebuah saran yang terdengar aneh di telinga orang awam. Ia menyarankan agar kelinci diberi pelet atau pur khusus yang sudah diformulasikan untuk kebutuhan gizi hewan pengerat itu. Namun, ia menambahkan satu hal lagi, jika ingin variasi yang sehat, berikanlah rumput hay atau rumput kering. Secara spesifik ia menyebut nama Timothy Hay, sebuah istilah yang terdengar sangat kebarat-baratan dan asing bagi telinga orang kampung seperti saya. Ia menjelaskan bahwa serat kasar dalam rumput itulah kunci kesehatan pencernaan kelinci agar bisa berumur panjang. Saya manggut-manggut saja, meski dalam hati masih bertanya-tanya makhluk macam apa itu rumput hay.

Rasa penasaran yang membuncah memaksa jari-jari saya menari di layar ponsel untuk mencari tahu lebih lanjut. Mesin pencari Google menyajikan deretan gambar dan penjelasan ilmiah tentang apa itu Timothy Hay dan manfaat ajaibnya. Karena ingin yang terbaik untuk si kelinci, saya pun mencoba memesan setengah kilogram secara online untuk membuktikannya. Ketika paket itu datang, saya amati barangnya baik-baik dengan mata telanjang di bawah lampu terang. Bentuknya sungguh di luar dugaan saya karena warnanya cokelat, kering, krispi, dan baunya persis seperti aroma kebun di musim kemarau. Ini benar-benar mirip rumput liar yang biasa tumbuh di semak-semak belakang rumah, bedanya hanya ini sudah dikeringkan. Tidak ada bedanya dengan rumput ilalang yang sering kita abaikan begitu saja saat berjalan kaki pagi.

Namun, reaksi si kelinci saat disodori rumput kering itu sungguh di luar nalar manusia pada umumnya. Mereka menyerbu tumpukan rumput kering itu dengan nafsu makan yang meledak-ledak, seolah itu adalah hidangan bintang lima. Suara kriuk-kriuk terdengar renyah saat gigi mereka mengunyah batang-batang rumput yang bagi kita tampak seperti sampah itu. Setengah kilogram rumput hay yang saya beli ludes tak bersisa hanya dalam hitungan beberapa hari saja. Alhasil, pos pengeluaran bulanan saya pun bertambah satu item baru yang cukup rutin yakni belanja rumput kering. Tentu saja ini membuat saya geleng-geleng kepala melihat betapa lahapnya mereka memakan "uang" saya. Tapi melihat mereka sehat dan lincah, rasa berat mengeluarkan uang itu sedikit terobati.

Malamnya saya merenung, memikirkan betapa uniknya situasi ekonomi yang sedang saya jalani saat ini. Saya membeli rumput, sebuah komoditas yang dalam nalar orang Indonesia bukanlah barang dagangan yang lazim. Bagi saya, ini adalah sebuah usaha yang sedikit nyeleneh namun faktanya uang berputar deras di sana. Di kampung halaman saya dulu, rumput adalah musuh bebuyutan para petani dan pemilik kebun yang harus dibasmi. Orang bebas "mengarit" rumput di mana saja, kapan saja, tanpa perlu izin dan tanpa perlu membayar sepeser pun. Rumput tumbuh liar, bebas, dan gratis, tersedia melimpah ruah disediakan oleh alam semesta.

Bahkan saking tidak berharganya rumput di mata masyarakat kita, orang rela keluar uang banyak untuk membunuhnya. Lihatlah para petani yang harus membeli racun rumput, menyemprotkannya berliter-liter agar tanaman liar itu mati dan mengering. Mereka keluar biaya tenaga, waktu, dan uang hanya untuk memusnahkan apa yang sekarang saya beli dengan harga mahal. Padahal, rumput itu punya daya hidup yang luar biasa karena disemprot mati, minggu depan sudah tumbuh lebat lagi. Siklus ini terus berulang dari tumbuh, diracun, mati, tumbuh lagi, dan diracun lagi tanpa henti. Tidak pernah terlintas di benak orang kampung saya bahwa "sampah" yang mereka racun itu bisa dimasukkan plastik dan dijual. Sungguh sebuah ironi yang menggelitik nalar bisnis siapa saja yang jeli melihatnya.

Sepanjang yang saya tahu selama hidup puluhan tahun, tidak ada orang jualan rumput liar secara terang-terangan. Kalaupun ada yang jual rumput, pastilah itu jenis rumput gajah mini untuk taman rumah orang kaya atau lapangan golf. Atau paling banter rumput fatimah yang konon khasiatnya untuk melancarkan persalinan ibu-ibu hamil yang mau melahirkan. Tapi menjual rumput liar yang dikeringkan untuk pakan hewan adalah sebuah anomali pasar yang sangat menarik. Tidak ada toko kelontong yang memajang rumput kering di etalase mereka bersanding dengan rokok dan sabun mandi. Ini adalah ceruk pasar yang tersembunyi, yang tidak terlihat oleh mata telanjang para pebisnis konvensional. Tapi karena ada permintaan dari para pecinta kelinci, pasar itu tercipta dengan sendirinya.

Inilah hebatnya manusia, karena ada masalah seperti kelinci butuh serat, muncullah inovasi yang menjadi solusi bisnis. Para penjual ini dengan cerdik mengemas rumput liar, mengeringkannya dengan teknologi atau sinar matahari, lalu memberinya label harga. Jangan kaget, harganya sungguh tidak main-main dan bisa bikin dompet bergetar, yaitu 30 ribu rupiah per kilogramnya. Bayangkan, harga sekilo rumput kering ini lebih mahal daripada harga sekilo beras kualitas medium di pasar tradisional. Jika saya hanya memelihara sepasang kelinci, satu kilogram itu habis dalam waktu seminggu saja tanpa sisa. Artinya, dalam satu bulan, saya butuh setidaknya 4 kilogram rumput hay untuk menjaga perut mereka tetap kenyang.

Situasi menjadi semakin menantang bagi dompet saya ketika hukum alam mulai bekerja pada peliharaan kami. Sepasang kelinci itu ternyata sangat produktif, dan tak lama kemudian lahirlah 6 ekor bayi kelinci yang mungil. Total jenderal kini ada 8 mulut yang harus diberi makan setiap harinya di kandang belakang rumah kami. Kebutuhan akan pasokan rumput hay pun melonjak tajam, berlipat-lipat dari perhitungan anggaran awal saat membeli. Ini bukan lagi sekadar hobi memelihara binatang, ini sudah menjadi pos pengeluaran tetap layaknya membayar listrik atau air. Tapi di balik pusingnya kepala memikirkan biaya pakan, otak bisnis saya justru berputar kencang.

Coba Anda bayangkan sejenak, berapa besar potensi perputaran uang di balik bisnis rumput kering ini. Saya pernah membawa topik tentang potensi bisnis "receh" tapi menguntungkan ini ke hadapan mahasiswa saya di kampus. Kebetulan semester ini saya diamanahi mengajar 5 kelas mata kuliah Kewirausahaan dari 3 program studi dan fakultas yang berbeda. Saya mewajibkan setiap mahasiswa untuk tidak hanya berteori, tapi benar-benar terjun menjalankan project wirausaha nyata di lapangan. Salah satu ide tak lazim yang saya lontarkan dan saya dorong kepada mereka adalah mencoba bisnis jualan rumput ini. Reaksi mereka sudah bisa saya tebak, mereka bengong, melongo, dan menatap saya dengan tatapan tidak percaya.

Di benak para mahasiswa milenial dan Gen Z itu, bisnis rumput adalah sesuatu yang sangat aneh dan rendahan. Bagi mereka, yang namanya bisnis itu ya jualan kopi kekinian, thrifting baju bekas, atau bikin aplikasi startup. Kalaupun harus jualan pakan hewan, bayangan mereka adalah menjadi reseller pur atau pelet pabrikan yang kemasannya mentereng. Menjual rumput, dalam persepsi mereka, adalah pekerjaan tukang ngarit di desa, bukan pekerjaan mahasiswa calon sarjana. Mereka tidak bisa melihat bahwa di balik tumpukan rumput kering itu tersimpan lembaran rupiah yang nyata. Mentalitas gengsi inilah yang seringkali menjadi tembok penghalang terbesar bagi pengusaha muda untuk memulai.

Lalu saya coba jelaskan simulasi hitungan bisnisnya di papan tulis agar mata dan nalar mereka terbuka lebar. Mari kita asumsikan harga jual rumput Timothy Hay ini di pasaran adalah Rp 30.000 per kilogram. Modal bahan bakunya nyaris nol rupiah jika kita mau sedikit rajin mencari rumput liar jenis tertentu di lahan kosong. Biaya yang keluar mungkin hanya untuk bensin transportasi, tenaga untuk menyabit, dan proses pengeringan yang mengandalkan matahari. Taruhlah biaya operasional dan kemasan plastik klip yang rapi memakan biaya Rp 5.000 per kilonya. Maka, keuntungan bersih yang bisa dikantongi adalah Rp 25.000 untuk setiap satu kilogram rumput yang terjual. Margin keuntungannya mencapai ratusan persen, angka yang mustahil didapat dari jualan pulsa.

Mari kita bermain angka lebih jauh lagi, jika dalam sehari Anda bisa menjual 10 kilogram saja secara rutin. Itu artinya Anda sudah mengantongi keuntungan bersih Rp 250.000 per hari, setara dengan gaji manajer level menengah. Kalikan dengan 30 hari, maka omzet bersih sebulan bisa mencapai Rp 7.500.000 hanya dari berjualan rumput kering. Itu baru hitungan moderat, belum jika Anda mensuplai ke toko-toko hewan atau komunitas pecinta kelinci. Pasarnya sangat spesifik atau niche, tapi pembelinya adalah orang-orang fanatik yang rela keluar uang demi kesehatan hewan. Pemilik hewan peliharaan adalah konsumen yang irasional, mereka tidak peduli harga asalkan "anak bulu" mereka sehat.

Saya jelaskan juga bahwa kuncinya ada pada pencitraan merek atau branding serta pengemasan yang membuat rumput itu naik kelas. Jangan jual dengan nama "rumput liar kering", itu tidak akan laku dan terdengar sangat murahan di telinga. Gunakanlah nama latin atau nama dagang internasional seperti "Local Timothy Hay" atau "Premium Dried Grass". Masukkan ke dalam kemasan standing pouch yang bening, beri stiker logo yang desainnya estetik dan kekinian. Dengan sentuhan sedikit kreativitas, rumput yang tadinya diinjak-injak orang bisa berubah menjadi komoditas premium yang diburu pembeli. Nilai tambah inilah yang membedakan antara tukang ngarit biasa dengan pengusaha pakan ternak modern.

Mahasiswa saya mulai tampak berpikir, dahi mereka berkerut mencerna logika yang saya sampaikan dengan berapi-api di depan kelas. Saya tekankan bahwa rumput Timothy yang asli memang impor, biasanya dari Amerika atau Kanada, makanya harganya mahal. Tapi, Indonesia ini tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, masa kita tidak bisa mencari substitusinya? Banyak jenis rumput lokal yang memiliki tekstur dan kandungan serat mirip dengan rumput impor tersebut jika diproses dengan benar. Tantangannya adalah riset, mencari jenis rumput lokal mana yang aman dan disukai oleh kelinci. Di sinilah peran mahasiswa sebagai kaum intelektual untuk melakukan inovasi produk, bukan hanya menjadi pedagang perantara.

Saya tantang mereka, siapa yang berani mengambil peluang ini, dialah yang akan memenangkan persaingan di masa depan. Bisnis itu bukan soal ikut-ikutan tren yang sedang ramai, karena tren itu cepat sekali berlalu dan memudar. Bisnis yang kuat adalah bisnis yang menjadi solusi atas masalah yang dihadapi oleh sekelompok orang, sekecil apapun kelompok itu. Masalahnya jelas, kelinci butuh serat, wortel bikin sakit, dan Timothy Hay impor harganya selangit. Solusinya adalah sediakan rumput kering lokal berkualitas dengan harga yang lebih miring namun tetap menguntungkan. Itu rumus sederhana ekonomi yang sering dilupakan karena kita terlalu sibuk mencari ide yang muluk-muluk.

Saya juga mengingatkan bahwa bisnis di sektor hobi, seperti memelihara kelinci ini, sangat tahan terhadap resesi ekonomi. Orang mungkin akan mengurangi belanja baju baru atau menunda ganti gadget saat ekonomi sedang sulit. Tapi bagi pecinta hewan, jatah makan peliharaan adalah pos yang haram untuk dikurangi kualitasnya sedikitpun. Mereka lebih rela makan mie instan asalkan kelincinya tetap bisa makan rumput hay yang bergizi dan sehat. Loyalitas konsumen di sektor ini sangat tinggi, dan pembelian berulang atau repeat order-nya sangat terjamin setiap bulan. Sekali pelanggan cocok dengan produk rumput Anda, mereka akan berlangganan seumur hidup kelincinya.

Belum lagi jika kita bicara soal skalabilitas bisnis ini ke arah yang lebih luas dan masif jangkauannya. Jika produksi rumput lokal ini berhasil, pasarnya bukan hanya tetangga satu komplek atau satu kota saja. Dengan kekuatan marketplace dan ekspedisi, rumput kering yang ringan ini bisa dikirim ke seluruh pelosok Nusantara. Ongkos kirimnya murah karena barangnya ringan, tidak seperti mengirim cairan atau barang pecah belah yang berisiko. Anda bisa tinggal di Bengkulu, tapi pembeli Anda bisa datang dari Jakarta, Surabaya, bahkan Makassar. Internet telah meruntuhkan tembok geografis, memungkinkan rumput desa merambah pasar kota metropolitan.

Lantas, apa yang membuat bisnis semacam ini sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang di sekitar kita? Jawabannya klasik, karena terlihat kotor, remeh, dan tidak bergengsi di mata sosial masyarakat umum. Orang lebih bangga bilang "saya punya kedai kopi" daripada "saya jualan rumput", padahal profitnya belum tentu kalah. Jebakan gengsi inilah yang sering membunuh potensi pengusaha muda sebelum mereka sempat berkembang menjadi besar. Padahal, uang tidak mengenal bau, uang dari jualan rumput sama berharganya dengan uang dari jualan emas. Seorang pengusaha sejati harus mampu menanggalkan jubah gengsinya dan memakai kacamata peluang.

Kita bisa belajar banyak dari filosofi rumput itu sendiri yang sering kita injak-injak setiap hari. Rumput itu tangguh, diinjak tak mati, dipotong tumbuh lagi, ia simbol ketahanan yang luar biasa. Begitu juga seharusnya mental seorang wirausahawan dalam menghadapi gempuran persaingan dan kegagalan yang datang silih berganti. Jangan cengeng, jangan mudah layu, harus tumbuh lagi dan lagi meski ditebas berkali-kali oleh keadaan. Belajar dari rumput, berbisnis pun harus punya daya tahan atau endurance yang panjang, bukan napas pendek.

Saya berharap, dari ratusan mahasiswa yang saya ajar, ada satu atau dua yang berani menyeriusi ide nyeleneh ini. Atau setidaknya, pola pikir mereka terbuka bahwa peluang usaha itu berserakan di sekitar kita, bahkan di bawah kaki kita. Seringkali kita terlalu sibuk mendongak ke atas mencari peluang besar, sampai lupa menunduk melihat emas hijau di bawah. Bisnis rumput hanyalah contoh kecil dari ribuan ketidaklaziman yang bisa dikonversi menjadi keuntungan finansial. Dunia ini penuh dengan hal-hal aneh, dan di setiap keanehan itu tersimpan peluang bagi mereka yang mau berpikir.

Memang, memulai usaha yang tidak lazim butuh keberanian ekstra dan telinga yang tebal menghadapi cibiran orang. Orang akan tertawa saat Anda mulai menjemur rumput, tetangga akan berbisik curiga melihat Anda membungkus ilalang. Tapi biarkanlah mereka tertawa sekarang, karena Anda yang akan tertawa paling keras saat melihat saldo rekening bertambah. Jadilah pembeda, jadilah anomali, karena di situlah letak kunci kemenangan di era yang serba seragam ini. Jangan takut menjadi berbeda, karena orang sukses biasanya memang sedikit berbeda di mata orang biasa.

Pada akhirnya, cerita tentang rumput ini hanyalah sebuah pemantik bagi nalar kita yang mungkin sedang tumpul. Di era disrupsi yang serba cepat ini, kita dituntut untuk inovatif, solutif, dan berani menerjang ketidaklaziman. Inovasi seringkali lahir dari hal-hal yang dianggap sepele, dianggap sampah, atau dianggap masalah oleh orang lain. Dari ketidaklaziman itulah seringkali muncul inovasi besar yang mengubah peta permainan ekonomi menjadi lebih menarik. Mulailah melatih mata Anda untuk melihat apa yang tidak dilihat orang lain, bahkan jika itu hanya sebatang rumput.

Postingan Lama Beranda

TENTANG PENULIS


Ayah penuh waktu. Penyuka kue lupis dan tempe goreng. Bekerja sebagai penulis partikelir semi-amatir. Kadang-kadang juga jadi tukang dongeng

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

ACADEMIC LEARNING ACCESS

My Courses

KOMIKU

Memuat komik...

Artikel Populer

  • KAMUS BESAR BAHASA MELAYU-INDONESIA
  • PROGRAM KULIAH MAGANG KERJA DI TAIWAN ; BENAR ATAU PENIPUAN?
  • GOING TO AROUND THE WORLD
  • AIR PAM YANG BUKAN AIR MINUM
  • MENPORA vs MENDIKBUD ; SIAPA YANG LEBIH LAYAK DICOPOT?

TEMATIK

Ramadan Bercerita
Tulisan di Media Massa
Opini 1
Kompas.ID
Papan Bunga: antara Ekspresi Tulus dan Konsumerisme Berlebihan
Opini 2
DetikNews
Birokratisasi Kepahlawanan
Opini 3
DetikNews
Tsunami Jurnal di Indonesia
Opini 4
DetikNews
Disrupsi Alam dan Kebutaan Akademik Kita
Opini 1
DetikNews
Pendidikan (Tanpa) Kompetisi
Opini 2
DetikNews
Tanggung Jawab Media Sosial Pascapemilu
Opini 3
DetikNews
Senjakala Sekolah Negeri?
Opini 4
DetikNews
Kado Manis untuk Pekerja Migran
Opini 4
DetikNews
Rapat dan Efisiensi Anggaran
Opini 4
DetikNews
Menggugat Jurnal-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Konsep Pariwisata Bengkulu yang Berkelanjutan
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba
TribunNews Bengkulu
Menyelamatkan Ekonomi Bengkulu dari Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai
Opini 4
Tirto.ID
Senjakala Toko Buku di Indonesia, Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Opini 4
Tirto.ID
Empat Titik Kerawanan Pemungutan Suara di Luar Negeri
Opini 4
Tirto.ID
Salah Kaprah Susu Kental Manis: Literasi Gizi dan Tipu-Tipu Iklan
Opini 4
Taipei Times
University attraction to Indonesia
Opini 4
Media Indonesia
Pentingnya Literasi Digital di Era Modern

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 2

ADVERTORIAL 2
DMCA.com Protection Status

BUKU KAMI YANG TELAH TERBIT

Copyright © 2013-2024 Andi Azhar. Oleh Andi Azhar