PULANG KE DALAM KEABADIAN
Baca Juga
Kabar duka itu akhirnya mampir ke saya pagi ini. Saya mendadak dibangunkan istri di subuh buta, memberitahu bahwa paman/om saya, Lek Bahrudin, telah berpulang ke Rahmatullah. Beliau pergi setelah pergulatan panjang melawan sakit selama tujuh tahun terakhir. Rasanya campur aduk mendengar kabar itu di pagi yang tenang ini. Ada sedih karena kehilangan, tapi ada juga rasa lega karena penderitaan fisiknya sudah berakhir. Allah sudah mencukupkan jatah usia beliau di dunia ini. Lek Bahrudin adalah adik bapak saya, dan sebagai ponakan, saya cukup dekat. Perbedaan usia kami sebenarnya cukup jauh untuk ukuran teman main. Saat saya lahir ke dunia ini, usia Lek Bahrudin sudah menginjak angka 25 an tahun. Beliau sudah masuk kategori pemuda dewasa yang matang saat saya masih bayi merah. Jadi wajar kalau beliau sering ikut momong saya waktu kecil. Di mata saya yang masih kanak-kanak waktu itu, beliau adalah sosok paman yang gagah. Beliau punya energi lebih untuk meladeni keponakannya yang kadang rewel. Beliau menjadi figur laki-laki dewasa kedua setelah bapak yang dekat dengan keseharian saya.
Di keluarga besar kami, Lek Bahrudin ini punya posisi yang unik dan penting. Beliau adalah andalan utama Bapak saya untuk urusan teknis dan lapangan. Kalau ada urusan listrik mati atau peralatan rusak, nama beliau yang pertama dipanggil. Bapak sangat mempercayakan urusan perbengkelan dan kelistrikan pada adiknya ini. Tangannya terampil mengutak-atik listrik yang korslet menjadi benar kembali. Beliau tidak banyak teori, langsung praktik dan biasanya beres. Kehadirannya sangat membantu kelancaran urusan domestik keluarga besar kami.
Soal kendaraan, beliau ini bisa dibilang pionir di keluarga besar Bapak. Lek Bahrudin adalah orang pertama yang memiliki mobil di antara saudara-saudara yang lain. Itu membuat beliau sering jadi jujugan kalau ada acara keluarga yang butuh angkutan. Beliau tidak pernah pelit meminjamkan tenaga maupun kendaraannya untuk kepentingan bersama. Mobilnya sering wara-wiri mengantar sanak saudara yang butuh bantuan. Statusnya sebagai pemilik kendaraan pertama tidak lantas membuatnya sombong. Justru mobil itu jadi sarana perekat keluarga.
Saya ingat betul momen mudik pertama saya setelah menikah dulu. Waktu itu saya dan istri sampai di Pringsewu sudah terlalu malam. Bus yang kami tumpang terlambat sampai di titik penurunan. Bapak langsung mengajak Lek Bahrudin untuk menjemput kami di sana. Tanpa banyak tanya, beliau langsung meluncur membelah malam. Yang membuat saya terkenang, beliau datang membawa mobil Jeep miliknya. Gagah sekali rasanya dijemput pakai mobil setinggi itu di malam hari. Kami merasa aman dalam perjalanan menuju rumah berkat jemputan beliau.
Nasib membawa kami ke arah geografis yang berbeda dalam menjalani hidup. Beliau lahir, besar, dan menghabiskan seluruh sisa usianya di tanah Lampung. Beliau setia menjaga kampung halaman tempat akar keluarga kami menancap. Sementara saya memilih jalan sebagai perantau yang berpindah-pindah kota. Saya merantau ke sana kemari mencari penghidupan hingga akhirnya jangkar saya terlempar di Bengkulu. Meski terpisah jarak yang lumayan, komunikasi batin keluarga tetap tersambung. Setiap kali saya pulang kampung, beliau adalah salah satu saudara bapak yang wajib saya kunjungi.
Masa kecil saya juga banyak diwarnai oleh kehadiran beliau sebagai pengasuh dadakan. Ketika saya masih balita dan belum mengerti apa-apa, beliau yang sering mengajak main. Kenakalan saya yang kadang ajaib itu beliau hadapi dengan santai. Saya ingat dulu paling susah kalau disuruh makan atau potong rambut. Kalau sudah mogok makan, orang rumah bisa pusing tujuh keliling membujuknya. Tapi Lek Bahrudin dan adik-adik bapak lainnya punya cara sendiri untuk menaklukkan keras kepalanya saya. Beliau tidak pakai marah, tapi pakai trik-trik pendekatan yang luwes.
Soal menyetir, beliau juga yang "meracuni" saya sejak dini. Bayangkan saja anak usia 9 tahun sudah disuruh pegang setir mobil beneran. Waktu itu kami dalam perjalanan pulang menjemput Mbah dari rumah sakit. Mungkin beliau sedang iseng atau ingin melatih keberanian saya. Saya duduk di depan beliau sambil tangan kecil ini menggenggam kemudi. Tentu saja kaki saya belum sampai ke pedal gas dan rem. Beliau yang mengendalikan laju di belakang, saya cuma gaya-gayaan menyetir. Bahaya memang kalau dipikir sekarang, tapi dulu itu rasanya bangga sekali.
Tidak berhenti di mobil, beliau juga mengenalkan saya pada sensasi roda dua. Ini terjadi saat kami hendak menonton pertandingan sepak bola di desa tetangga. Sambil jalan menuju lokasi tanding, beliau mengajari saya cara bawa motor. Sekali lagi, ini dilakukan saat usia saya masih sangat belia untuk ukuran pengendara. Di jalanan desa yang tidak begitu ramai itulah saya belajar keseimbangan dan gas. Beliau dengan sabar menuntun saya sampai motor bisa jalan stabil. Ilmu jalanan ini lebih cepat masuk daripada teori di buku.
Kalau soal sepak bola, pengaruh beliau justru lebih besar dari Bapak. Padahal Bapak saya itu mantan pemain bola di masa mudanya. Tapi Bapak tipe orang yang demokratis, tidak memaksa anaknya suka bola. Justru Lek Bahrudin yang sering mengajak saya keliling desa nonton bola. Kalau tim kampung kami sedang tandang, saya sering diajak jadi suporter. Dari sanalah saya mulai mengerti serunya sorak-sorai di pinggir lapangan. Beliau menularkan semangat kompetisi itu dengan cara yang menyenangkan.
Di pinggir lapangan bola itu juga ada kenangan soal minuman. Lek Bahrudin lah yang pertama kali mengenalkan saya pada Kratingdaeng. Minuman energi botol kaca itu rasanya asing tapi menantang buat anak kecil. Beliau membelikannya saat kami sedang istirahat nonton pertandingan. Bagi saya waktu itu, minum itu rasanya sudah seperti jadi orang dewasa. Rasanya manis menyengat dan memberikan sugesti tenaga tambahan. Itu kenangan sederhana yang entah kenapa menempel terus di kepala.
Selain urusan otomotif dan bola, ada satu hal seni yang beliau ajarkan. Beliau adalah guru gitar pertama saya di rumah. Gitar itu sendiri punya sejarah unik karena dibelikan oleh Bapak saya. Uangnya berasal dari hasil Bapak dapat kocokan arisan waktu itu. Gitar tongkrongan itulah yang jadi media saya belajar memetik senar. Lek Bahrudin dengan telaten mengajari kunci-kunci dasar sampai saya bisa bunyi. Lagu-lagu yang diajarkan tentu saja lagu zaman dulu alias jadul.
Gitar bersejarah itu sampai sekarang masih ada wujudnya di rumah bapak. Kondisinya memang sudah tidak mulus lagi termakan zaman. Bodinya sudah sedikit rusak di sana-sini karena usia. Tapi benda itu menjadi saksi bisu kedekatan saya dengan Lek Bahrudin. Setiap melihat gitar itu, saya teringat suara beliau menyanyikan lagu lawas dan dangdut. Beliau bukan musisi hebat, tapi beliau bisa menikmati musik. Dari situ saya belajar bahwa seni itu untuk dinikmati, bukan cuma untuk dipamerkan.
Ada satu masa ketika Bapak dan Ibu saya berangkat menunaikan ibadah haji. Saya dan adik ditinggal di rumah selama kurang lebih 40 hari. Di momen itulah peran Lek Bahrudin dan keluarga besar sangat terasa. Beliau ikut membantu mengurusi kami yang masih butuh pengawasan. Beliau memastikan rumah tetap aman dan kebutuhan kami tercukupi. Rasanya tenang meski orang tua sedang berada jauh di Tanah Suci. Kehadiran beliau mengisi kekosongan figur orang tua sementara waktu.
Ketika saya duduk di bangku SMP kelas 3, beliau kembali jadi penyelamat. Waktu itu sekolah mengadakan study tour wajib ke Jakarta. Masalahnya, Bapak sedang ada pelatihan dinas di Bogor selama sepuluh hari. Tidak ada yang bisa mengantar saya ke sekolah sore hari untuk kumpul. Lek Bahrudin tanpa diminta langsung menawarkan diri mengantar. Sore jelang maghrib motornya sudah siap membonceng saya menembus dingin. Beliau memastikan keponakannya tidak ketinggalan bus rombongan.
Pun saat saya hendak melangkah ke jenjang pernikahan, beliau ada di sana. Beliau ikut rombongan keluarga melamar istri saya sebelas tahun lalu. Beliau tampil rapi mendampingi Bapak sebagai perwakilan keluarga laki-laki. Saat saya menikah, beliau datang jauh-jauh dari Lampung. Kondisinya waktu itu masih sangat sehat dan bugar. Tawanya masih renyah menyapa tamu-tamu undangan yang hadir. Beliau tampak bahagia melihat keponakannya naik pelaminan.
Di balik sifatnya yang supel, beliau punya sisi religius yang patut ditiru. Ini soal kebiasaan membersihkan musola dekat rumah setiap pagi. Selepas salat Subuh, beliau tidak langsung pulang melingkar selimut. Beliau mengambil sapu dan pel untuk membersihkan lantai musola tanpa disuruh. Itu beliau lakukan bertahun-tahun secara istiqomah sendirian. Awalnya tidak ada yang memperhatikan, tapi lama-lama jadi kebiasaan. Kini, rutinitas itu diteruskan oleh jamaah lain di musola tersebut.
Namun takdir berkata lain dalam enam tahun terakhir ini. Kesehatan beliau menurun drastis digerogoti penyakit. Sosok yang dulu gagah mengendarai Jeep itu perlahan mulai layu. Kami hanya bisa mendoakan dan membantu sebisa mungkin dari jauh. Beliau menjalani sakitnya dengan ketabahan yang luar biasa. Tidak banyak keluhan yang keluar dari mulutnya meski pasti rasanya sakit. Itu menjadi ujian penggugur dosa bagi beliau di masa tua.
Pagi ini, semua rasa sakit itu telah diangkat oleh Sang Pencipta. Beliau dipanggil pulang menyusul Mbah Kakung, Mbah Putri, dan kakak beliau. Lek Bahrudin sudah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan baik. Jejak kebaikannya tertinggal di hati kami para keponakan. Kami ikhlas melepas kepergian beliau menghadap Ilahi.
Maturnuwun, Lek, untuk semua jemputan, ajaran gitar, dan tumpangan mobilnya dulu. Gitar tua di rumah akan selalu mengingatkan saya pada petikan tanganmu. Selamat jalan menuju tempat istirahat yang paling tenang. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Husnul Khatimah, Lek.
Tags:
Obituari



0 comments