BARIS-BERBARIS MENUJU TANAH SUCI

Baca Juga

Saya tergelitik ketika linimasa media sosial belakangan ini dipenuhi oleh potongan video yang memperlihatkan para calon petugas haji sedang digembleng fisik ala militer di sebuah lapangan. Pemandangan itu langsung mengingatkan saya pada obsesi lama bangsa ini terhadap segala sesuatu yang berbau seragam dan ketegasan visual yang sering kali kita anggap sebagai satu-satunya definisi kedisiplinan. Calon petugas yang seharusnya melayani tamu Allah yang mayoritas lansia itu tampak sedang disiapkan untuk menghadapi agresi militer ketimbang menghadapi jemaah yang tersesat di Masjidil Haram. Narasi yang dibangun seolah-olah menyiratkan bahwa fisik yang kuat dan kepatuhan buta ala barak adalah kunci utama keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. 

Padahal kalau kita mau jujur, tantangan di Tanah Suci itu membutuhkan keluwesan hati dan kecerdasan emosional yang jauh lebih tinggi ketimbang kemampuan hormat dan berjalan langkah tegap. Rasanya ada sebuah kerancuan berpikir yang terus kita pelihara turun-temurun bahwa solusi dari segala ketidaktertiban adalah militerisasi sipil. Kita lupa bahwa konteks pelayanan publik itu sangat berbeda diametral dengan konteks pertahanan negara yang memang membutuhkan komando tunggal tanpa tanya.
Ilustrasi pelatihan kedisiplinan melalui pelatihan semi militer

Mungkin Sampeyan masih ingat betul bagaimana dulu tim nasional sepak bola kita pernah mengalami fase serupa ketika prestasi tak kunjung datang dan federasi panik bukan main. Alih-alih memperbaiki kurikulum sekolah sepak bola atau membenahi sistem liga yang amburadul, para pemain timnas itu malah dikirim ke barak militer untuk menjalani pendidikan kedisiplinan yang keras. Logika yang dipakai waktu itu sangatlah sederhana dan cenderung menggampangkan masalah, yaitu bahwa pemain kita kalah karena tidak disiplin dan lembek mentalnya. 

Hasilnya sudah bisa kita tebak bersama di mana prestasi timnas kita tetap saja jalan di tempat bahkan sempat menjadi bulan-bulanan tim lawan yang tidak pernah latihan baris-berbaris. Kaki para pemain mungkin menjadi lebih kuat untuk menendang bola ke tribun penonton, tapi visi bermain dan pemahaman taktik sama sekali tidak tersentuh oleh teriakan pelatih baris-berbaris. Kegagalan eksperimen itu menjadi bukti nyata bahwa militerisasi dalam bidang olahraga prestasi adalah sebuah kesesatan berpikir yang membuang waktu dan tenaga.

Keadaan justru berbalik seratus delapan puluh derajat ketika Shin Tae-yong datang dengan pendekatan yang murni berbasis sains olahraga dan pemahaman mendalam tentang anatomi sepak bola modern. Pelatih asal Korea Selatan itu tidak menyuruh Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan untuk merayap di lumpur atau hormat senjata di bawah terik matahari seharian penuh. Ia membenahi fisik pemain melalui latihan beban yang terukur di pusat kebugaran dan mengatur pola makan secara ketat sesuai kebutuhan atlet profesional. Peningkatan peringkat FIFA Indonesia yang melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir ini adalah buah dari metode kepelatihan yang tepat sasaran sesuai tupoksi seorang pesepak bola. Disiplin yang dibangun oleh STY adalah disiplin taktik dan disiplin menjaga kondisi tubuh, bukan disiplin baris-berbaris yang tidak ada korelasinya dengan kemampuan mengoper bola. Fakta ini menampar kita semua bahwa kedisiplinan itu memiliki bentuk yang berbeda-beda tergantung pada bidang apa kita sedang berkecimpung.

Sialnya pola pikir yang sudah terbukti gagal di sepak bola itu justru direplikasi secara masif dalam perekrutan dan pelatihan aparatur sipil negara kita selama bertahun-tahun. Sampeyan coba tengok bagaimana pelatihan dasar bagi calon pegawai negeri sipil atau yang sekarang disebut ASN itu selalu diisi dengan materi kesiapsiagaan bela negara yang porsinya sering kali berlebihan. Para calon pelayan publik yang nantinya akan duduk di belakang meja mengurusi administrasi atau melayani warga di kelurahan itu diajarkan cara hormat yang benar dan cara berjalan tegap. Seolah-olah kemampuan meluruskan barisan itu akan otomatis membuat mereka cekatan dalam menyelesaikan keluhan warga soal KTP yang tak kunjung jadi. Ada asumsi yang melompat terlalu jauh bahwa jika seseorang bisa berdiri tegak tanpa bergerak selama satu jam, maka ia akan tahan godaan korupsi dan tidak akan membolos saat jam kerja. Padahal realitas di lapangan menunjukkan bahwa korelasi antara latihan semi militer dengan kinerja birokrasi kita nyaris tidak ada.

Data di lapangan justru memperlihatkan ironi yang sangat menyedihkan terkait tingkat kedisiplinan para pegawai negeri kita yang konon sudah digembleng ala militer saat prajabatan. Badan Kepegawaian Negara atau BKN setiap tahunnya selalu merilis data mengenai ribuan ASN yang dijatuhi hukuman disiplin mulai dari kategori ringan hingga berat karena berbagai pelanggaran. Pada tahun 2023 saja tercatat ratusan pegawai yang diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri karena masalah indisipliner yang sudah kronis. Fakta ini menjadi tamparan keras bahwa pelatihan baris-berbaris dan penanaman doktrin komando itu menguap begitu saja ketika mereka kembali ke habitat kerja yang sebenarnya. Kedisiplinan yang terbentuk karena ketakutan pada instruktur militer sifatnya hanya sementara dan tidak menyentuh kesadaran intrinsik sebagai pelayan masyarakat. Begitu instruktur galak itu hilang, watak asli untuk bekerja santai dan menunda-nunda pekerjaan kembali muncul ke permukaan tanpa rasa bersalah.

Coba kita bandingkan dengan bagaimana negara-negara maju mendidik para pelayan publik mereka agar memiliki etos kerja yang tinggi tanpa perlu bumbu-bumbu militerisme. Di negara seperti Jepang atau negara-negara Skandinavia, pelatihan pegawai pemerintah fokus pada pemecahan masalah dan penguatan etika pelayanan yang memanusiakan manusia. Mereka tidak diajarkan cara baris-berbaris, melainkan diajarkan bagaimana merespons keluhan warga dengan cepat dan bagaimana menggunakan teknologi untuk efisiensi kerja. Hasilnya bisa kita lihat sendiri betapa birokrasi di sana berjalan sangat efektif dan efisien tanpa perlu ada petugas yang membentak-bentak warga. Kultur disiplin di sana tumbuh dari rasa tanggung jawab dan rasa malu jika tidak bisa memberikan yang terbaik bagi masyarakat yang telah menggaji mereka. Ini membuktikan bahwa disiplin adalah soal mentalitas dan budaya kerja, bukan soal seragam loreng atau teriakan komando yang memekakkan telinga.

Begitu juga dalam dunia sepak bola internasional, tidak ada satu pun negara top yang menerapkan metode latihan militer untuk meningkatkan performa tim nasional mereka di ajang Piala Dunia. Lionel Messi tidak menjadi pemain terbaik dunia karena ia jago sikap sempurna, tapi karena ia melatih teknik dribelnya ribuan kali setiap hari dengan bola di kakinya. Tim nasional Jerman atau Spanyol menghabiskan waktu mereka untuk menganalisis video pertandingan dan mematangkan strategi di lapangan hijau, bukan di barak tentara. Mereka paham betul bahwa spesialisasi adalah kunci kemajuan di era modern ini dan mencampuradukkan metode latihan militer ke ranah olahraga adalah sebuah kemunduran. Kita harus berhenti menipu diri sendiri dengan jargon-jargon kedisiplinan semu yang sebenarnya hanya menutupi ketidakmampuan kita dalam menyusun kurikulum pelatihan yang substantif.

Lantas apa hubungannya semua paparan di atas dengan pelatihan calon petugas haji yang sedang ramai dibicarakan orang-orang itu? Tentu saja sangat berkaitan karena kita sedang mengulang kesalahan logika yang sama dengan mengharapkan hasil yang berbeda dari metode yang sudah usang. Petugas haji tahun ini menghadapi tantangan yang sangat spesifik yaitu besarnya jumlah jemaah lansia yang membutuhkan perlakuan ekstra lembut dan penuh kesabaran. Melatih petugas haji dengan gaya militer justru berpotensi menciptakan mentalitas yang kaku dan kurang peka terhadap kondisi psikologis jemaah yang kelelahan dan kebingungan. Bayangkan jika ada jemaah nenek-nenek yang tersesat dan panik, apakah petugas akan meresponsnya dengan gaya instruktur militer yang tegas atau dengan rangkulan hangat selayaknya anak kepada ibunya? Metode pelatihan akan sangat mempengaruhi alam bawah sadar petugas saat merespons situasi krisis di lapangan nanti.

Pemerintah sebenarnya sudah memiliki tagline yang sangat bagus yaitu Haji Ramah Lansia yang seharusnya menjadi jiwa dari setiap kurikulum pelatihan petugas. Namun implementasi di lapangan dengan memasukkan unsur latihan fisik semi militer rasanya justru kontradiktif dengan semangat keramahan yang ingin dibangun sejak awal. Seharusnya materi pelatihan diperbanyak pada simulasi penanganan demensia, teknik komunikasi persuasif, dan manajemen kerumunan yang humanis. Kita butuh petugas yang sigap menggendong jemaah yang pingsan dengan teknik yang benar, bukan petugas yang sigap melakukan penghormatan kepada atasan. Keterampilan medis dasar dan kemampuan navigasi di tengah kerumunan jutaan manusia jauh lebih krusial daripada kemampuan baris-berbaris yang rapi. Jangan sampai tagline Ramah Lansia hanya menjadi slogan kosong yang tidak tercermin dalam perilaku petugas karena salah asuhan saat diklat.

Argumen yang sering dipakai oleh para pembela metode ini biasanya berkutat pada alasan bahwa fisik petugas harus kuat untuk melayani jemaah selama empat puluh hari. Memang benar bahwa stamina prima adalah syarat mutlak, tetapi stamina untuk berjalan kaki berkilo-kilometer melayani jemaah berbeda dengan stamina untuk latihan tempur. Cara membangun daya tahan tubuh bisa dilakukan dengan olahraga kardio yang teratur seperti lari pagi atau renang tanpa perlu embel-embel militeristik. Seorang maratonis memiliki fisik yang jauh lebih tangguh untuk urusan durasi bergerak dibandingkan tentara yang latihan menembak, namun mereka tidak perlu latihan merayap. Fokus pembinaan fisik seharusnya diarahkan pada endurance atau ketahanan fungsional yang relevan dengan aktivitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Mencampuradukkan pembinaan fisik dengan doktrin militer hanya akan mengaburkan fokus utama dari tujuan pelayanan itu sendiri.

Biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan pelatihan dengan model camp semi militer ini tentu saja tidak sedikit dan berasal dari dana umat atau anggaran negara. Kita patut mempertanyakan efisiensi penggunaan anggaran tersebut jika metode yang digunakan ternyata tidak berdampak signifikan pada peningkatan kualitas pelayanan haji. Apakah tidak lebih baik jika dana tersebut dialokasikan untuk memperbanyak simulasi digital atau penggunaan teknologi pelacak jemaah yang lebih canggih? Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, pendekatan manual yang mengandalkan otot semata rasanya sudah sangat ketinggalan zaman. Kita buang-buang uang untuk sesuatu yang sifatnya gimmick agar terlihat gagah di foto laporan kegiatan, padahal substansinya keropos. Efektivitas anggaran harus diukur dari output kepuasan jemaah, bukan dari seberapa kotor baju petugas saat pelatihan.

Mentalitas komando yang ditanamkan lewat pelatihan semacam ini juga dikhawatirkan akan terbawa saat petugas berinteraksi dengan jemaah haji yang sangat beragam latar belakang budayanya. Jemaah haji adalah orang-orang yang sedang melakukan perjalanan spiritual dan sering kali berada dalam kondisi emosional yang labil karena rindu rumah atau kelelahan fisik. Pendekatan yang dibutuhkan adalah pendekatan kultural dan persuasif, bukan pendekatan instruktif yang kaku dan searah. Jika petugas terbiasa dibentak saat pelatihan, ada risiko psikologis di mana mereka akan meneruskan tekanan itu kepada jemaah yang dianggap tidak tertib. Ini adalah siklus kekerasan simbolik yang harus diputus mata rantainya jika kita benar-benar ingin mewujudkan haji yang mabrur dan nyaman. Petugas adalah pelayan, khadimul hujjaj, bukan komandan pleton yang sedang mengatur barisan pasukan.
Contoh nyata kekacauan yang sering terjadi di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) biasanya disebabkan oleh keterlambatan transportasi atau penumpukan jemaah yang tidak terurai. Dalam situasi genting seperti tragedi Muzdalifah tahun lalu di mana jemaah terlantar kepanasan menunggu bus, yang dibutuhkan adalah kemampuan pengambilan keputusan cepat dan koordinasi taktis. Latihan baris-berbaris tidak mengajarkan seseorang untuk berpikir kritis dalam situasi darurat yang penuh ketidakpastian. Yang diajarkan dalam baris-berbaris adalah kepatuhan total pada aba-aba, padahal di lapangan sering kali petugas harus berimprovisasi karena atasan tidak ada di tempat. Fleksibilitas berpikir inilah yang sering kali dimatikan oleh metode pelatihan yang terlalu regimented dan kaku.

Kita bisa belajar dari manajemen penyelenggaraan haji negara lain seperti Malaysia atau Turki yang terkenal sangat rapi dan terorganisir tanpa perlu pamer latihan militer. Petugas haji Malaysia atau Tabung Haji dikenal sangat profesional dan lembut dalam melayani jemaah mereka karena dibekali dengan soft skill yang mumpuni. Mereka fokus pada manajemen sistem dan integritas petugas melalui pendekatan keagamaan dan profesionalisme kerja murni. Tidak terdengar kabar mereka mengirim petugas hajinya untuk latihan perang-perangan di hutan belantara sebelum berangkat ke Mekkah. Mereka paham bahwa medan juang mereka adalah melayani tamu Allah, sehingga bekal yang disiapkan adalah bekal pelayanan prima.

Sudah saatnya kita meninggalkan paradigma lama yang selalu mengaitkan kedisiplinan dengan atribut-atribut kemiliteran yang sebenarnya tidak relevan dengan dunia sipil. Bangsa ini punya trauma sekaligus romantisasi berlebihan terhadap gaya militer yang diwariskan oleh rezim Orde Baru selama puluhan tahun. Kita seolah tidak percaya diri kalau tidak ada unsur tentara dalam setiap kegiatan pendadaran mental, mulai dari sekolah dasar sampai pelatihan pejabat tinggi. Padahal dunia sudah berubah sangat cepat menuju era kolaborasi dan humanisme yang menuntut pendekatan yang lebih egaliter. Memaksakan metode usang untuk tantangan masa depan adalah resep jitu untuk menuai kegagalan yang berulang.

Struktur birokrasi dan manajemen haji kita perlu penyegaran yang radikal dalam hal mindset pengembangan sumber daya manusianya. Pelatihan harus didesain berbasis kompetensi nyata yang dibutuhkan di lapangan, seperti bahasa Arab praktis, pertolongan pertama pada kecelakaan, dan psikologi massa. Bayangkan betapa lebih bergunanya jika waktu yang dipakai untuk baris-berbaris itu dipakai untuk melancarkan kosa kata bahasa Arab pasaran agar petugas bisa menawar harga kursi roda atau bertanya jalan pada polisi Saudi. Hal-hal remeh temeh namun fungsional seperti itulah yang sering kali menyelamatkan jemaah dari kesulitan besar. Kompetensi teknis harus menjadi raja di atas segala bentuk formalitas kedisiplinan visual.

Tantangan haji tahun ini dan tahun-tahun mendatang akan semakin kompleks dengan cuaca ekstrem yang melanda Arab Saudi akibat perubahan iklim global. Petugas haji akan berhadapan dengan risiko heat stroke massal yang menimpa jemaah, sebuah situasi yang membutuhkan pengetahuan medis dan kecepatan bertindak. Tidak ada satu bab pun dalam buku peraturan baris-berbaris yang menjelaskan cara menangani korban sengatan panas ekstrem. Pengetahuan tentang hidrasi, tanda-tanda vital, dan evakuasi mandiri jauh lebih menyelamatkan nyawa daripada kemampuan sikap hormat yang sempurna. Jadi, mari kita geser fokus pelatihan dari sekadar pembentukan postur tubuh menjadi pembentukan kapasitas otak dan hati.

Kritik ini bukan berarti kita menyepelekan peran TNI atau Polri dalam membantu penyelenggaraan haji, karena keberadaan mereka tetap vital untuk sektor keamanan dan perlindungan. Namun yang kita soroti adalah metode pelatihannya yang dipukul rata kepada seluruh petugas termasuk petugas kesehatan dan pembimbing ibadah. Setiap elemen petugas memiliki spesifikasi tugas yang unik dan tidak bisa diseragamkan dengan satu metode pelatihan tunggal ala militer. Seorang dokter harus dilatih sebagai dokter yang tangguh, seorang pembimbing ibadah harus dilatih sebagai ulama yang sabar. Penyeragaman metode pelatihan adalah bentuk kemalasan berpikir dalam manajemen sumber daya manusia.

Pada akhirnya, efektivitas seorang petugas haji akan dinilai dari seberapa banyak senyum yang bisa mereka ukir di wajah jemaah yang kelelahan. Ukuran keberhasilan mereka bukan pada seberapa tegap mereka berdiri menyambut kedatangan menteri atau pejabat di bandara. Jemaah haji tidak butuh kegagahan artifisial, mereka butuh tangan yang siap memijat kaki yang bengkak dan telinga yang siap mendengar keluh kesah. Mari kita kembalikan marwah petugas haji sebagai pelayan tamu Allah yang sesungguhnya, yang bekerja dengan hati, bukan dengan otot yang dikeraskan secara paksa. Sudah cukup kita bermain-main dengan simbol, saatnya bekerja dengan substansi yang nyata demi kemabruran haji saudara-saudara kita.

Bagikan artikel ini:

0 comments