Gaya memimpin seseorang itu tidak akan jatuh dari langit begitu saja seperti hujan di musim kemarahan. Ia tumbuh dan berakar kuat dari lumpur pengalaman hidup yang pernah digeluti orang tersebut selama bertahun-tahun. Masa lalu adalah cetakan paling purba yang membentuk cara seseorang memandang dunia ketika akhirnya ia duduk di singgasana kekuasaan. Seseorang yang menghabiskan separuh hidupnya berkubang di ruang kuliah akan membawa aroma kapur tulis dan perpustakaan ke dalam rapat kabinet. Sebaliknya mereka yang terbiasa meneriakkan yel-yel di lapangan latihan tempur akan memperlakukan roda pemerintahan bagaikan Batalyon Infanteri yang siap bergerak dalam satu komando.
Mari kita tengok sejenak bagaimana seorang mantan dosen memimpin sebuah negeri besar dengan segala kerumitannya. Ketika meja kerjanya disodori sebuah draf kebijakan publik yang amat krusial bagi hajat hidup orang banyak, ia tidak akan serta-merta mengetok palu persetujuan. Keningnya akan berkerut dalam menghitung setiap variabel dan rumusan statistik yang terpampang di atas kertas putih. Bagi golongan seperti ini, sebuah keputusan harus lahir dari rahim riset mendalam yang ditopang oleh data empiris yang sahih tanpa celah. Mereka alergi setengah mati pada kebijakan yang diambil berdasarkan bisikan angin malam atau wangsit dari pertapaan gunung. Semua harus bisa diuji secara ilmiah di bawah sorotan lampu terang benderang metodologi modern.
Dunia kampus telah mendidik mereka untuk selalu meragukan segala sesuatu sampai terbukti kebenarannya melalui laboratorium pemikiran yang steril. Akibatnya rapat-rapat yang mereka pimpin sering kali mirip seminar nasional yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendebatkan definisi konseptual. Debat intelektual menjadi menu sehari-hari sebelum akhirnya sebuah rekomendasi kebijakan dirumuskan dengan hati-hati dan penuh pertimbangan analitis. Mereka percaya bahwa akal sehat yang dibimbing oleh teori ilmiah adalah perisai paling ampuh untuk menghindarkan negara dari jurang kehancuran. Jarang sekali kita melihat mereka menggebrak meja atau membentak bawahan karena tabiat dasar mereka adalah berdiskusi sampai ujung malam.
Namun cerita akan berbalik seratus delapan puluh derajat manakala pucuk pimpinan tertinggi dipegang oleh seseorang yang berdarah dan berjiwa serdadu sejati. Di kepala seorang mantan prajurit tidak ada kamus perdebatan panjang yang menghabiskan energi di tengah situasi yang menuntut ketegasan seketika. Bagi mereka komando adalah segalanya dan rantai komando adalah harga mati yang tidak boleh ditawar oleh siapa pun di bawahnya. Disiplin baja dan kepatuhan mutlak menjadi panglima tertinggi yang mengalahkan kerumitan teori-teori ekonomi buatan universitas barat. Negara dipandang sebagai sebuah medan laga yang luas di mana rakyat adalah pasukan yang harus digerakkan menuju satu titik sasaran.
Suara bariton yang tegas dan tatapan mata tajam menembus dinding sering kali menjadi teror tersendiri bagi para pembantu presiden yang terbiasa bekerja santai. Tidak perlu ada presentasi powerpoint berhalaman-halaman yang memuat analisis regresi berganda atau proyeksi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Yang dicari oleh pemimpin bermental komandan lapangan adalah kecepatan eksekusi di lapangan tanpa banyak tanya dan tanpa banyak alasan birokratis. Roda pemerintahan diputar dengan derap langkah sepatu lars yang berirama tegas di atas lantai istana yang licin dan mengkilap. Keterlambatan dalam menjalankan perintah dianggap sebagai bentuk pembangkangan yang bisa mendatangkan sanksi telak seketika itu juga.
Pendekatan militeristik ini memang sangat memikat bagi sebagian masyarakat yang sudah muak dengan kelambanan birokrasi sipil yang terkenal lamban. Ada kerinduan terpendam pada figur kuat yang bisa menyelesaikan berbagai persoalan rumit hanya dengan satu kali sentakan tangan yang berwibawa. Masalah pangan kemiskinan hingga urusan gizi anak-anak sekolah diselesaikan dengan menerjunkan gugus tugas khusus mirip operasi militer gabungan. Istilah-istilah taktis berseliweran memenuhi ruang publik menandakan bahwa cara pandang komando lapangan telah merasuki seluruh sendi-sendi kekuasaan negara. Para menteri dan pejabat tinggi mendadak berubah wujud menjadi perwira staf yang siap siaga menerima instruksi harian dari sang panglima tertinggi.
Sayangnya pendekatan tempur semacam ini sering kali kedodoran ketika harus menghadapi kompleksitas masalah sosial ekonomi yang tidak berbentuk musuh di medan perang. Kemiskinan struktural tidak bisa dikalahkan hanya dengan tembakan meriam atau serbuan teritorial yang melibatkan ribuan pasukan berseragam loreng. Di sinilah letak titik rawan ketika gaya kepemimpinan serdadu diterapkan secara membabi buta pada sektor-sektor yang membutuhkan kehalusan pendekatan sosiologis. Kajian akademis yang matang sering kali disingkirkan begitu saja karena dianggap terlalu bertele-tele dan menghambat kecepatan gerak di lapangan. Akibatnya kebijakan-kebijakan mercusuar lahir dengan gegap gempita namun rapuh di tingkat tapak karena minimnya verifikasi data empiris yang mendalam.
Program-program raksasa dirancang dalam ruang tertutup oleh segelintir orang yang memegang komando tanpa melibatkan partisipasi bermakna dari para ahli bidangnya. Anggaran triliunan rupiah digelontorkan begitu saja untuk proyek-proyek instan yang lebih mengandalkan semangat patriotisme ketimbang kalkulasi untung rugi yang rasional. Ketika di lapangan program tersebut mulai menunjukkan gelagat macet atau salah sasaran, respons yang muncul bukanlah evaluasi ilmiah melainkan penambahan perintah baru. Para bawahan tidak berani memberikan masukan yang sebenarnya karena takut dianggap tidak loyal atau tidak sejalan dengan visi besar sang komandan. Suasana batin istana menjadi tegang penuh perhitungan politis dan militeristis yang menutup rapat ruang bagi kritik yang membangun.
Kondisi semacam ini tentu mengundang senyum kecut bagi para pengamat yang paham betul bagaimana seharusnya sebuah negara modern dikelola dengan benar. Negara bukanlah kompi infanteri yang bisa diperintah untuk menyerbu bukit pertahanan musuh hanya berbekal semangat juang tanpa amunisi yang jelas. Negara adalah kumpulan jutaan kepala dengan berbagai kepentingan dan kompleksitas masalah yang membutuhkan kepala dingin serta tangan-tangan terampil. Pendekatan komando terpusat hanya akan melahirkan budaya ABS alias asal bapak senang di kalangan birokrat yang ketakutan. Mereka lebih baik melaporkan bahwa situasi aman terkendali daripada jujur mengatakan bahwa kebijakan yang dipaksakan itu sedang ambruk di akar rumput.
Sejarah panjang umat manusia telah mencatat dengan tinta emas maupun tinta hitam tentang bagaimana nasib bangsa-bangsa di bawah kepemimpinan para jenderal. Ada yang sukses mengubah negaranya menjadi raksasa industri karena kedisiplinan tingkat tinggi yang berhasil dipaksakan pada rakyatnya yang pemalas. Namun jauh lebih banyak lagi yang justru membawa negaranya ke jurang kemunduran ekonomi karena mengabaikan hukum-hukum pasar yang objektif. Serdadu dilatih untuk menghancurkan musuh dan memenangkan pertempuran dalam tempo sesingkat-singkatnya dengan mengorbankan apa saja. Sementara seorang negarawan sejati dilatih untuk merajut perbedaan merawat akal sehat dan membangun kesejahteraan jangka panjang dengan kesabaran luar biasa.
Perbedaan mendasar inilah yang kerap luput dari perhatian para pemilih ketika mereka berbondong-bondong datang ke tempat pemungutan suara lima tahun sekali. Mereka terpesona pada ketegasan fisik pakaian loreng dan retorika berapi-api yang menjanjikan penyelesaian instan atas segala penderitaan hidup sehari-hari. Mereka lupa bahwa mengurus negara berpenduduk ratusan juta jiwa jauh lebih rumit daripada memimpin operasi penumpasan gerombolan pengacau keamanan di hutan belantara. Di istana tidak ada musuh yang bisa ditembak mati dengan peluru tajam melainkan masalah-masalah sosial ekonomi yang membutuhkan bedah kepala dingin. Ketika sang pemimpin membawa kebiasaan lamanya ke dalam istana maka yang terjadi adalah tabrakan hebat antara gaya militer dan realitas sipil.
Kita bisa menyaksikan bagaimana kebijakan-kebijakan populis digeber tanpa ampun tanpa peduli apakah kajian kelayakannya sudah tuntas dikerjakan oleh para pakar. Program makan bergizi gratis yang melibatkan jutaan anak digulirkan dengan gegap gempita mirip sebuah operasi logistik militer di daerah bencana. Belakangan berbagai masalah teknis mulai bermunculan di sana-sini mulai dari rantai pasok yang berantakan hingga kualitas makanan yang dipertanyakan banyak pihak. Para menteri sibuk berlari kesana-kamari memberikan penjelasan pembelaan seolah-olah mereka sedang berada di hadapan mahkamah militer yang menuntut pertanggungjawaban mutlak. Tidak ada ruang untuk berdiskusi secara terbuka mengenai alternatif kebijakan yang barangkali jauh lebih efisien dan tepat sasaran bagi keuangan negara.
Demikian pula dengan berbagai gagasan pembentukan lembaga-lembaga baru yang langsung berada di bawah kendali presiden tanpa koordinasi birokrasi kementerian teknis. Semuanya dirancang dengan kerangka berpikir komando teritorial agar setiap instruksi bisa langsung menembus lapisan terbawah tanpa hambatan prosedural. Padahal dalam tata kelola pemerintahan modern birokrasi diciptakan justru untuk menyaring berbagai kemungkinan buruk sebelum sebuah kebijakan diputuskan menjadi undang-undang. Melewati prosedur birokrasi memang melelahkan dan memakan waktu berbulan-bulan lamanya tetapi itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah demokrasi yang sehat. Menghindari birokrasi dengan dalih kecepatan eksekusi sama artinya dengan membuka pintu lebar-lebar bagi lahirnya kebijakan yang ugal-ugalan.
Kini nasi sudah menjadi bubur dan sang pemenang pemilu telah menempati singgasana kekuasaannya dengan gaya khas yang dibawa dari tangsi militer. Publik hanya bisa mengelus dada sambil terus mengamati setiap gerak-gerik kebijakan yang diputuskan dalam rapat-rapat kabinet tertutup. Kritik dari para akademisi kampus sering kali dianggap angin lalu oleh penguasa yang telinganya sudah terbiasa dengan suara deru helikopter tempur. Mereka yang kritis dicap sebagai kelompok yang tidak tahu diri atau sekadar sakit hati karena tidak kebagian jatah kekuasaan. Padahal yang mereka suarakan murni adalah kegelisahan intelektual melihat arah kemudi kapal besar bangsa ini mulai melenceng jauh dari jalur konstitusi.
Waktu akan membuktikan apakah gaya kepemimpinan ala serdadu ini mampu bertahan menghadapi hantaman krisis global yang semakin hari semakin tidak menentu. Sejarah tidak pernah bisa berbohong bahwa senjata paling ampuh untuk menghadapi masa depan bukanlah peluru atau barisan batalyon yang siap siaga. Senjata paling ampuh adalah kecerdasan kolektif yang diramu dari riset ilmiah data empiris yang akurat dan keterbukaan pikiran yang luas. Tanpa itu semua kepemimpinan yang hanya mengandalkan otot dan komando keras lambat laun akan kehabisan napas di tengah jalan yang berliku. Rakyat pada akhirnya akan menagih janji-janji manis bukan dengan tepuk tangan meriah melainkan dengan suara parau kekecewaan yang mendalam.
Mari kita nikmati saja drama besar ini sambil terus menyeruput kopi pahit di pagi hari yang cerah merayakan ironi kehidupan bernegara. Pimpinan boleh datang dan pergi silih berganti membawa tabiat dan kebiasaan masa lalu yang melekat erat seperti kulit ari. Namun negara jauh lebih besar daripada sekadar urusan gaya kepemimpinan seseorang yang kebetulan sedang memegang kendali kekuasaan tertinggi di negeri itu. Perjalanan panjang bangsa telah ditempa oleh berbagai macam badai sejarah yang jauh lebih dahsyat dari sekadar adu kuat gaya militer atau gaya sipil. Kita hanya perlu tetap menjaga kewarasan berpikir sambil terus menyalakan lentera kritis di tengah kegelapan malam kekuasaan yang pekat.







