MOBIL LISTRIK, DAHLAN ISKAN, DAN TAIWAN

Malam semakin larut, tapi mata tak kunjung terpejam. Rasanya sulit sekali mengembalikan ritme waktu tidur normal. Semenjak memutuskan sekolah lagi, hal seperti ini sangat sering saya alami. Dan malam ini, kantuk tak kunjung datang. Padahal badan saya rasanya pegal-pegal tidak karuan karena seharian kemarin ikut latihan Pencak Silat bersama teman-teman Tapak Suci Taiwan. Sambil sesekali menatap wajah istri yang tertidur pulas, saya mengutak atik akun facebook dan membaca beragam unggahan dan cerita dari jejaring pertemanan saya di facebook. Mayoritas isi cerita mereka soal Idul Adha, Qurban, dan aneka foto ketika mereka memasak daging qurban. Hingga sampailah pada tulisan pak Dahlan Iskan (DIS) tentang Ricky Elson, si jenius yang punya 14 paten di bidang motor listrik yang diceritakannya sebagai sosok cerdas namun “terbuang” karena ekosistem yang belum mendukung. Di tulisan tersebut, Pak DIS, begitu beliau sering disebut dalam akronim kita, menceritakan penyesalannya merayu Ricky untuk pulang ke Indonesia guna mengembangkan teknologi mobil listrik di Indonesia 6 tahun yang lalu saat ia masih menjabat sebagai Menteri BUMN di era SBY. Ide yang cerdas, peluang pasar yang besar, dan para insinyur jenius ternyata tak cukup menjadi modal agar bangsa ini berdaya dalam industri mobil listrik yang sering dibilang sebagai industri otomotif potensial dalam 10 tahun mendatang. 

Lain lubuk lain ilalang, lain rezimnya lain pula kebijakannya. Pasca hiruk pikuk pergantian rezim 5 tahun yang lalu, ide Pak DIS ini menguap begitu saja. Malahan ia dicari-cari kesalahannya hingga di meja hijaukan. Sedangkan Ricky, menepi ke Ciheras dan beternak domba, sebuah bidang baru yang sangat kontras dengan ilmunya yang berhasil mematenkan 14 temuannya tersebut. 

Membaca cerita tersebut, pikiran saya terus-terusan membenarkan apa yang pak DIS tulis. Saat datang ke Taiwan pertama kali 6 tahun yang lalu, di Taiwan belum populer kendaraan listrik. Sebagai mahasiswa di jurusan bisnis, saya acapkali diminta professor untuk memaparkan tentang perkembangan industri otomotif saat itu dan perkiraannya di masa mendatang. Kala itu saya teramat sering mengangkat soal mobil hibrid yang memang sedang trend di Asia Tenggara. Soal masa depan industri otomatif, tentu saja kendaraan listrik adalah jawabannya. Tahun 2013, Taiwan masih berada di tahap pengembangan kendaraan listrik. Walaupun sudah ada semacam electrical bike sharing  di Taiwan, namun itu terbatas hanya ada di Pulau Penghu, sebuah pulau kecil di barat Taiwan. Konsepnya menarik karena ini adalah pilot project  kendaraan listrik pertama di Taiwan. Kebetulan pembimbing saya adalah salah satu tim pengembangan project tersebut. Ia banyak bercerita soal gagasan awal dan bagaimana dinamika untuk mewujudkan kendaraan massal listrik di Taiwan tersebut.

Persis seperti cerita Pak DIS, seandainya 5 tahunan yang lalu negara kita benar-benar fokus mengembangkan teknologi kendaraan listrik dan membangun ekosistem pendukungnya, bisa jadi tahun ini atau paling tidak tahun depan kita sudah bisa menyaksikan kendaraan listrik bersliweran di jalan-jalan Indonesia. Tapi itu seandainya. Kenyataannya ternyata lain bukan?

Saat tahun 2016 saya kembali ke Taiwan untuk melanjutkan studi pasca kepulangan saya ke Indonesia tahun 2014, saya banyak menjumpai kendaraan-kendaraan listrik yang mulai marak digunakan. Awalnya hanya berupa sepeda listrik, tapi tidak lama dari itu, keluarlah kendaraan semacam semi motor listrik. Jenis ini banyak dipakai oleh para pekerja migran dari Indonesia dan Vietnam. Sebagai informasi, para pekerja migran dari Asia Tenggara dilarang mengendarai kendaraan bermotor. Mereka hanya diizinkan memakai sepeda dan kendaraan semi motor bertenaga listrik. Di akhir tahun 2016, Taiwan secara resmi memiliki kendaraan motor listrik pertamanya. Kendaraan ini asli made in Taiwan  dengan merek dagang Gogoro. Apa bedanya dengan kendaraan listrik semi motor yang sebelumnya sudah populer disini? Bedanya terletak pada registrasi kendaraan. Motor listrik dengan merek Gogoro ini diregistrasi secara resmi sebagai kendaraan setara motor berbahan bakar bensin. Bahkan jumlah CC nya dimasukkan setara diatas 100 CC. Di Taiwan sendiri, kita bisa dengan mudah mengidentifikasi besar CC suatu motor dengan melihat warna plat motornya. Plat warna hijau menandakan 50-80 CC, warna putih menandakan 90 - 150 CC, warna merah menandakan diatas 200 CC.
Motor Gogoro (Foto : Taiwan News)

Kembali ke soal Gogoro, ternyata kendaraan ini menjadi primadona baru di Taiwan. Banyak kalangan yang mengganti kendaraan motor mereka dengan motor listrik ini. Alhasil, tak butuh waktu lama, motor listrik dengan merek dagang Gogoro mulai merajai jalanan di Taiwan. Bahkan sejak awal tahun ini, sudah ada 1 merek dagang lain yang mulai ikut bermain di industri motor listrik ini. Jika dilihat dari sisi waktu, Taiwan ternyata “hanya” memerlukan waktu tak kurang dari 7 tahun untuk bisa take off  dalam industri ini. Seiiring dengan aturan kendaraan listrik yang baru disahkan di Indonesia, mungkin sebentar lagi kita akan melihat motor-motor listrik produksi Taiwan mulai membanjiri jalanan Indonesia. Mungkin lho ya........

Di Taiwan sendiri pemerintahnya sangat mendukung perihal industri terbarukan. Walaupun berganti rezim, platformdukungan untuk terus mengembangkan industri kendaraan listrik tetap sama. Bagi pemerintah, politik rezim harus dibedakan dengan politik industri. Industri merupakan nafas kehidupan Taiwan tatkala secara geopolitik, hampir 95 % negara di dunia tidak mengakui Taiwan sebagai sebuah negara. Sehingga mau tidak mau, industri harus menjadi prioritas dukungan bagi siapa saja yang memimpin Taiwan. Dan motor listrik Gogoro adalah salah satu panenan pertama mereka. Bahkan, bis-bis umum di Taiwan mulai banyak yang menggunakan listrik sebagai sumber kekuatannya. Dan minggu kemarin, Pemerintah Taiwan baru saja mengesahkan aturan baru tentang pemberian insentif bagi PO Bus yang mau menggunakan bus listrik sebagai moda usahanya. Tak tanggung-tanggung, per 1 bus di ganjar subsidi hingga TWD 10,000,000 atau sekitar Rp. 4,500,000,000 per tahunnya. Kebijakan ini diharapkan mampu menaikkan jumlah pemakaian kendaraan listrik untuk transportasi umum. Perihal mobil listrik, di Taiwan sudah cukup ramai orang yang menggunakan mobil listrik ini. Beberapa merupakan produksi lokal, dan beberapa lainnya merupakan merek-merek terkenal seperti Tesla. 

Sekali lagi, saya cuma membayangkan, seandainya ide Pak DIS untuk mewujudkan mobil listrik made in dalam negeri  itu terus dilanjutkan, mungkin sekarang headline media massa kita akan sering dihiasi akan kebanggaan bangsa kita  berhasil mewujudkan mobil nasional yang sudah teramat sering digembor-gemborkan namun baru sebatas wacana saja hingga saat ini. Bahkan bisa jadi, euforianya justru akan jauh melampaui berita-berita soal hingar bingar keberhasilan kita merakit mobil yang hanya dibicarakan tiap 5 tahun sekali itu. Ingat, diantara semua komponen mobil listrik, dinamo listrik adalah komponen yang paling sulit dirancang. Dan si jenius Ricky adalah insinyur dengan 14 paten soal dinamo listrik. Ia adalah jawaban atas sulitnya komponen tersebut.

Rasanya sayang sekali melihat ide-ide cemerlang seperti mobil listrik ini dan orang-orang cerdas seperti Ricky Elson harus tersingkir. Jika kondisinya masih terus seperti ini, ingin rasanya saya berhenti menggunakan kalimat “kapan selesai dan balik ke Indonesianya?”  saat bertanya kepada teman-teman yang studi dan berkarya di luar negeri, dan menggantinya dengan kalimat “di negara mana lagi kamu akan melabuhkan karyamu?

Share:

0 komentar