SAYA [TIDAK] PRIHATIN


Gara-gara konser JKT48 di Sportorium UMY kemarin minggu (1 Desember 2013), Twitter dan Facebook penuh dengan celotehan teman-teman alumni yang menyatakan keprihatinannya atas penyelenggaraan konser, mencaci maki, bahkan menolak adanya konser tersebut. Entah kenapa fenomena ini baru muncul saat ini, padahal sudah sejak lama terjadi komersialisasi gedung megah peninggalan muktamar 1 abad Muhammadiyah itu. Well, tulisan ini mencoba menggambarkan sejarah gedung itu, tentunya sejauh yang saya tau selama kuliah di UMY dan tentu saja tulisan ini akan sangat subjektif.

Gedung Sportorium dibangun mulai akhir tahun 2008 dan gedung ini dipersiapkan sebagai main venue untuk resepsi dan sidang-sidang komisi dalam Muktamar 1 Abad Muhammadiyah yang dilangsungkan 1-7 Juli 2010 di Kampus UMY. Gedung ini dibangun dengan anggaran mayoritas berasal dari kas PP Muhammadiyah dan sumbangan dari UMY tentunya. Setidaknya itu yang saya tahu ketika dulu berbincang-bincang dengan pengelola gedung Sportorium. Perihal penamaan Sportorium yang memiliki kepanjangan Gedung Sport dan Auditorium ini, awalnya dimaksudkan setelah penyelenggaraan muktamar, gedung ini bisa difungsikan sebagai gelanggang olahraga mahasiswa UMY. Namun banyak yang protes, mengapa saat ini gedug tersebut tidak difungsikan sesuai dengan namanya. Saya bisa menjawab ini karena desain gedung yang memang bukan untuk gedung olahraga. Saya juga pernah cek ke bagian pengelolaan, mengapa gedung ini tidak berfungsi sebagai gedung olahraga, dan jawabannya sama, arsitektur gedung tidak mendukung pemaksimalan fungsi gedung sebagai sarana olahraga. Sebagai contoh, gedung ini memiliki banyak sekali pintu yang terbuat dari kaca dan desain lantainya adalah keramik istana (saya bingung mencari istilahnya, namun keramik ini seperti yang ada di hotel-hotel berbintang). Well, sampai sini kita masih bisa memakluminya.

Pasca muktamar, gedung Sportorium ini diserahterimakan ke kampus UMY sebagai asset. Tentunya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kampus UMY, namun melihat biaya operasionalnya yang luar biasa besar, tentu ini akan menjadi tanggungan berat bagi kampus karena harus mensubsidinya. Sebagai informasi, biaya operasional di gedung Sportorium ini (mencakup AC, listrik, dan keseluruhan) mencapai 5 juta perhari jika diaktifkan semua. Untuk informasi juga, listrik yang ada di gedung ini bukan berasal dari PLN, melainkan menggunakan mesin generator sendiri yang biaya operasionalnya (solar industri) juga besar. Saya yakin ini yang membuat pihak kampus akhirnya memutar otak untuk mengkomersialkan gedung ini sebagai upaya untuk menutupi biaya operasional gedung. Oleh karena itu, pihak kampus membuat divisi sendiri yang concern mengurusi gedung ini. Sampai disini, kita juga masih bisa memakluminya.

Selama rentang waktu 2010 - 2012, ada banyak event yang digelar di gedung ini. Sebut saja konser Sheila on 7, Seconhand Serenade, dan masih banyak lagi. Belum lagi acara-acara pernikahan yang menggunakan gedung sportorium sebagai venuenya. Memang kampus UMY identik dengan slogan "Unggul dan Islami" dan identik sebagai kampus Muhammadiyah. Namun jika penolakan saat ini hanya ditujukan kepada JKT48 yang mengadakan konser di gedung tersebut gara-gara JKT48 tidak sesuai dengan budaya ketimuran, memangnya konser-konser sebelumnya bercirikan ketimuran? Jikalau saat ini mereka menolaknya karena JKT48 tidak sesuai dengan ciri nilai keislaman yang sangat erat kaitannya dengan visi misi UMY, apakah konser-konser sebelumnya juga memiliki nilai-nilai keislaman sesuai dengan apa yang diperjuangkan oleh UMY? Sampai disini, mulai timbul pertanyaan, jangan-jangan aktivis mahasiswa saat ini sangat bersifat reaktif semata dan karbitan.

Saya percaya bahwa pengelola gedung tentu memiliki banyak pertimbangan sebelum akhirnya memutuskan mengizinkan penyelenggara memakai sportorium sebagai tempat pelaksanaan konser. Satu hal yang masih saya acungkan jempol (terlepas dari ini adalah suatu kewajiban atau bukan) adalah semua event yang akan berlangsung di gedung sportorium harus memperhatikan jadwal kegiatan dari kampus maupun Persyarikatan yang akan memakai gedung ini juga. Ketika ada 2 event akan berlangsung di hari yang sama, maka event dari kampus maupun Persyarikatan akan menjadi prioritas utama untuk dilaksanakan di gedung ini. Lagi-lagi dibalik nuansa kapitalisasi gedung, masih ada sedikit komitmen mendahulukan "yang lebih berhak".
Gedung Sportorium UMY
Kembali lagi ke masalah penyelenggaraan konser JKT48, dilihat dari segi kebermanfaatannya, maka lebih banyak mudharat daripada manfaat yang diberikan. Namun saya kembali bertanya, mengapa kegiatan-kegiatan konser lain sebelumnya tidak ditolak juga? Padahal sama-sama memberikan mudharat yang lebih besar dibanding manfaatnya. Kalau dibilang bahwa generasinya sudah berbeda dan saat ini dibilangnya lebih kritis, pertanyaan saya berikutnya adalah lebih kritis mana antara generasi sekarang dan sebelumnya? Kurang kritis apa lagi generasi sebelumnya dalam hal mengkritisi kebijakan-kebijakan kampus maupun hal-hal sosial lainnya.

Sebagai seorang alumni, tentunya saya pribadi bangga dengan apa yang ada di UMY. Namun, kebanggaan itu tentu bukan mutlak semata tutup mata terhadap apa yang terjadi saat ini. Kebijakan komersialisasi gedung sebagai upaya menutupi biaya operasional tentu patut kita dukung. Tapi kebijakan komersialisasi ini janganlah sampai melanggar nilai-nilai islami dan kemuhammadiyah yang selalu dan senantiasa dipegang teguh oleh kampus UMY semenjak berdiri. Masih banyak event-event yang bisa digelar di gedung ini dengan tanpa mengesampingkan nilai-nilai islam, kemuhammadiyahan, maupun adat ketimuran. UMY dalam umurnya yang mencapai 33 tahun, tentulah bukan kampus kemarin sore yang harus senantiasa dinasehati agar tahu mana yang benar dan mana yang salah. UMY adalah lembaga akademis pencetak generasi-generasi unggul di berbagai bidang dengan senantiasa menanamkan Islam sebagai marwah akademisnya. Semoga kedepan UMY mampu lebih dewasa dalam melihat tantangan maupun hambatan yang ada. Semoga!

dR.

*Sumber photo dari sini dan sini


Share:

2 komentar

  1. wah begitu ya mas, saya malah baru tau ada konser disitu. weleh2 ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak kampus yang saat ini menyewakan venue-venue nya guna memperoleh income untuk menutupi biaya operasionalnya (atau bahkan untuk mensubsidi mahasiswanya). Sudah menjadi hal yang lumrah saat ini.

      Hapus