Andi Azhar
  • Beranda
  • Mimbar
    • Khazanah Islam
    • Kolak Pisang
    • Pendidikan
    • Sosial Politik
    • Persyarikatan
    • #SeloSeloan
    • Perguruan Tinggi
    • Sains Teknologi
    • Financial Teknologi
    • Bengkulu
    • Bisnis
  • Lakon
    • Formosa
    • Nusantara
    • Ramadhan Bercerita
  • Soneta
  • Interlokal
    • Education
    • Politic
    • Technology
    • Economic
  • Pariwara
    • Competition
    • Endorsement
    • Komiku
  • Jejak
  • Sangu
    • MoE Taiwan
    • HES Taiwan
    • ICDF Taiwan
  • Hubungi Kami
Suatu kali teman dekat saya merasa jenuh dengan hiruk-pikuk dunia maya yang isinya cuma pamer pencapaian dan debat kusir tak berujung, ia lantas memutuskan untuk mencari ketenangan batin lewat jalur spiritual dengan mendatangi sebuah majelis ilmu. Niat hati ingin mendapatkan siraman rohani yang menyejukkan jiwa dan menata kembali nalar yang mulai bengkok akibat terlalu banyak mengonsumsi konten sampah, tapi yang ia dapatkan justru kebingungan yang hakiki. Di sana, penceramahnya dengan berapi-api menceritakan kisah seorang kyai sakti mandraguna yang konon memiliki kemampuan raga sukma tingkat tinggi hingga bisa berada di dua tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. 
Muhammadiyah dan Amal Usahanya (Gambar : Generate AI)

Cerita itu disampaikan dengan sangat meyakinkan seolah-olah kemampuan membelah diri adalah standar kompetensi utama untuk disebut sebagai orang saleh di zaman modern ini. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat jamaah lain mengangguk-angguk takzim seakan cerita itu adalah nutrisi paling bergizi bagi iman mereka yang sedang lapar. Tentu saja dia tidak berani protes atau bertanya tentang relevansi kesaktian itu dengan tagihan listrik yang membengkak, karena bisa-bisa dia dituduh sebagai penganut aliran sesat atau minimal dianggap kurang piknik spiritual. Pulang dari sana, bukannya merasa damai dan tercerahkan, ia cerita kepada saya bahwa ia kini sibuk memikirkan mekanisme fisika kuantum macam apa yang dipakai si tokoh untuk memindahkan jasadnya dari Jawa ke Mekkah tanpa paspor dan visa.

Fenomena mendengarkan kisah-kisah ajaib semacam itu sebenarnya bukan barang baru di telinga masyarakat kita yang memang punya bakat alamiah untuk menyukai hal-hal berbau klenik dan mistis sejak zaman nenek moyang. Kita sering kali lebih mudah takjub pada cerita tentang kiai yang bisa berjalan di atas air tanpa basah sedikit pun daripada takjub pada orang yang berhasil membuat sistem irigasi canggih untuk mengairi sawah petani yang kekeringan. Ada semacam kepuasan batin tersendiri ketika mendengar ada manusia "pilihan" yang tubuhnya kebal bacok, tidak mempan disantet, atau kulitnya sekeras baja saat ditembak peluru tajam penjajah. 

Logika kita seolah dimanjakan dengan narasi bahwa kedekatan dengan Tuhan itu manifestasinya harus berupa kekuatan super layaknya anggota Avengers yang siap menyelamatkan dunia dari serangan alien. Padahal kalau dipikir-pikir dengan nalar orang lapar, kebal senjata itu tidak serta merta membuat perut kenyang atau membuat jalanan di depan rumah kita jadi mulus bebas lubang. Tapi ya mau bagaimana lagi, pasar cerita kesaktian memang selalu laris manis dan punya pangsa pasar yang militan di negeri yang hup-hup ini.

Kalau sampeyan adalah tipikal orang yang gampang bosan dengan dongeng kesaktian dan lebih suka hal-hal yang masuk akal serta bisa diraba dengan panca indra, mungkin sampeyan akan mengalami gegar budaya yang hebat jika salah masuk pengajian. Bayangkan saja betapa tersiksanya batin seorang rasionalis yang berharap dapat panduan hidup praktis tapi malah disuguhi tutorial cara terbang tanpa sayap yang jelas-jelas tidak bisa dipraktikkan di kantor saat macet melanda. Rasa-rasanya ingin sekali mengangkat tangan dan bertanya kepada ustaznya tentang bagaimana caranya mengubah air menjadi bensin pertamax, karena itu jelas lebih solutif bagi kehidupan umat saat ini. 

Namun, harapan tinggal harapan, karena biasanya di pengajian model begini, nalar kritis sering kali dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan atau bahkan gangguan jin yang harus segera diruqyah. Akhirnya, kita hanya bisa duduk manis sambil menahan kantuk, mendengarkan kisah heroik masa lalu yang jaraknya ribuan tahun cahaya dari realitas kita yang sedang pusing memikirkan cicilan pinjol.

Nah, di tengah keputusasaan mencari oase spiritual yang ramah nalar dan membumi itulah, saya menyarankan sampeyan untuk sekali-kali mencoba duduk bersila di pengajian Muhammadiyah. Jangan kaget kalau di sana sampeyan tidak akan menemukan aroma kemenyan atau cerita tentang karomah tokoh yang bisa menghilang saat ditagih hutang oleh tetangga. 

Suasana di pengajian Muhammadiyah itu kering dari nuansa mistis, saking keringnya kadang terasa seperti sedang rapat dewan direksi perusahaan start-up yang sedang membahas valuasi dan ekspansi bisnis. Di sini, alih-alih membahas cara melipatgandakan uang secara gaib, sampeyan akan diajak memutar otak tentang bagaimana caranya mengumpulkan dana umat untuk membangun sesuatu yang nyata dan bisa dilihat mata telanjang. Tidak ada sensasi merinding disko akibat cerita horor, yang ada justru kening yang berkerut memikirkan target pembangunan yang disampaikan dengan detail layaknya presentasi arsitek profesional.

Bagi para pencari sensasi magis dan penikmat cerita legenda urban, pengajian model Muhammadiyah ini jelas terasa hambar, garing, dan membosankan setengah mati karena tidak ada atraksi debus sama sekali. Bagaimana tidak membosankan, lha wong materi yang dibahas tidak jauh-jauh dari urusan semen, batu bata, keramik, perizinan tanah, hingga manajemen aset wakaf yang njlimetnya minta ampun. Penceramahnya tidak akan berbusa-busa menceritakan konon kabarnya beliau pernah shalat Jumat di Masjidil Haram padahal jasadnya terlihat tidur di serambi masjid kampung. 

Justru penceramahnya akan datang membawa tumpukan proposal pembangunan gedung sekolah baru atau rencana renovasi panti asuhan yang atapnya sudah mulai bocor dimakan rayap. Jamaah tidak diajak untuk melayang ke awang-awang membayangkan surga yang abstrak, tapi diajak menapak bumi untuk menciptakan kepingan surga kecil bagi mereka yang membutuhkan.

Masuk ke lingkungan pengajian Muhammadiyah itu ibarat masuk ke dalam sebuah ekosistem birokrasi langit yang sangat terstruktur, sistematis, dan masif dalam artian yang positif tentunya. Sampeyan akan segera menyadari bahwa fokus utama dari perkumpulan ini adalah kerja nyata, kerja keras, dan kerja cerdas untuk kemaslahatan umat manusia tanpa memandang bulu. 

Jangan harap bisa pulang membawa jimat penglaris dagangan atau air doa yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit mulai dari panu hingga kanker stadium akhir. Oleh-oleh dari pengajian ini biasanya berupa semangat yang meletup-letup untuk ikut serta dalam proyek kemanusiaan atau minimal rasa malu karena belum bisa berbuat banyak untuk orang lain. Di sini, kesalehan seseorang tidak diukur dari seberapa lama ia bisa bertapa di gua sunyi tanpa makan dan minum, melainkan dari seberapa besar kontribusinya dalam mewujudkan fasilitas publik yang bermanfaat.

Coba perhatikan baik-baik materi kajiannya, hampir selalu bermuara pada ajakan untuk mendirikan masjid yang makmur, sekolah yang berkemajuan, rumah sakit yang melayani, hingga kampus yang mencerahkan. Orang-orang Muhammadiyah ini sepertinya punya obsesi aneh untuk mengubah setiap jengkal tanah wakaf menjadi bangunan produktif yang bisa memutar roda ekonomi dan pendidikan umat. Kalau ada tanah kosong, naluri kemuhammadiyahan mereka akan langsung bergetar hebat dan merumuskan rencana pembangunan amal usaha, bukan merumuskan tempat untuk mencari wangsit. 

Bagi mereka, membiarkan tanah menganggur tanpa dimanfaatkan untuk kepentingan umat adalah sebuah dosa sosial yang harus segera ditebus dengan amal nyata berupa pembangunan infrastruktur. Maka tak heran jika aset Muhammadiyah bertebaran di mana-mana, dari kota besar hingga pelosok desa yang sinyal internetnya pun masih senin-kamis.

Isi pengajiannya benar-benar pragmatis dalam artian yang paling mulia, yaitu bagaimana agama ini bisa hadir sebagai solusi konkret atas permasalahan hidup sehari-hari yang dihadapi masyarakat. Ketika orang lain sibuk berdebat tentang dalil memanjangkan jenggot atau celana cingkrang, orang Muhammadiyah sudah sibuk meletakkan batu pertama pembangunan klinik kesehatan ibu dan anak. Mereka seolah ingin menegaskan bahwa Islam itu bukan hanya sekadar ritual penyembahan di atas sajadah, tapi juga gerakan sosial yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. 

Narasi yang dibangun adalah narasi pemberdayaan, di mana setiap individu didorong untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing dengan kapasitas yang dimilikinya. Jadi, kalau sampeyan datang ke sana dengan niat ingin belajar ilmu kebal, siap-siap saja kecewa berat karena yang diajarkan adalah ilmu kebal kemiskinan lewat etos kerja dan kewirausahaan.

Di Muhammadiyah, yang dikaji secara mendalam dan berulang-ulang adalah soal bagaimana hidup yang singkat ini agar bisa benar-benar bermanfaat bagi sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Filosofi ini tertanam kuat di benak para kadernya, sehingga orientasi hidup mereka bukan lagi sekadar menyelamatkan diri sendiri dari api neraka, tapi juga menyelamatkan orang lain dari neraka dunia. Mereka percaya bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, sebuah prinsip yang terdengar klise tapi sangat berat pelaksanaannya di lapangan. 

Tidak ada tempat bagi egoisme spiritual yang hanya mementingkan kesalehan ritual pribadi sambil menutup mata terhadap penderitaan tetangga yang kelaparan atau anak yatim yang putus sekolah. Kesaktian yang diakui di sini adalah kesaktian mengubah uang receh sumbangan jamaah menjadi gedung bertingkat yang melahirkan ribuan sarjana setiap tahunnya.

Cerita-cerita hikmah yang disampaikan di mimbar pengajian Muhammadiyah bukanlah soal kesaktian supranatural orang sakti di masa lampau yang bisa terbang atau menghilang sesuka hati. Yang diceritakan adalah kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan Kiai Ahmad Dahlan yang rela melelang barang-barang rumah tangganya demi menggaji guru-guru di sekolah yang didirikannya. Kisah tentang bagaimana para pendahulu organisasi ini berdarah-darah mempertahankan sekolah dan panti asuhan di tengah gempuran penjajah dan keterbatasan ekonomi yang mencekik leher. 

Heroisme yang ditonjolkan adalah heroisme pengorbanan harta dan jiwa untuk memastikan roda organisasi tetap berputar memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Tidak ada bumbu mistis yang ditambahkan, karena realitas perjuangan mereka sudah cukup dramatis dan menggetarkan hati tanpa perlu tambahan efek khusus ala film Hollywood.

Justru di sinilah letak keunikan dan kekuatan narasi Muhammadiyah, yang berhasil membumikan sosok-sosok teladan menjadi manusia biasa yang bisa ditiru jejak langkahnya oleh siapa saja. Kiai Dahlan digambarkan bukan sebagai superman yang tak tersentuh, melainkan sebagai manusia biasa yang punya rasa cemas, punya masalah keuangan, tapi punya tekat baja untuk memajukan umatnya. 

Pendekatan ini membuat jamaah merasa relevan dan terhubung, karena mereka sadar bahwa untuk menjadi mulia tidak perlu menunggu punya sayap atau punya ilmu rawa rontek. Cukup dengan memiliki kepedulian sosial dan mau menyisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan bersama, siapa pun bisa menjadi pahlawan di lingkungannya masing-masing tanpa terkecuali. Ini adalah demokratisasi kesalehan yang luar biasa, di mana tiket masuk surga tidak dimonopoli oleh mereka yang punya privilege keturunan atau kesaktian tertentu.

Kesederhanaan dan kebermanfaatan menjadi dua kata kunci yang terus didengungkan di setiap kesempatan, seolah menjadi mantra wajib yang harus dihafal di luar kepala. Pejabat teras Muhammadiyah sering kali tampil dengan gaya yang jauh dari kesan glamor atau feodal, bahkan kadang sulit dibedakan mana pimpinan pusat dan mana marbot masjid saking sederhananya. Mereka mengajarkan bahwa jabatan dan kekayaan hanyalah alat titipan Tuhan yang harus digunakan seefektif mungkin untuk melayani umat, bukan untuk minta dilayani atau disembah-sembah. 

Budaya egaliter ini sangat kental terasa, di mana kritik dan masukan bisa disampaikan dengan terbuka tanpa rasa takut kualat pada sang pemimpin. Sebab di sini, yang disucikan adalah nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, bukan sosok individu yang dianggap setengah dewa.

Jamaah pengajian akan diajak untuk melihat bekal akhirat sebagai sebuah rangkaian panjang yang terhubung langsung dengan setiap tindakan kecil yang kita lakukan di dunia ini. Pandangan ini menolak dikotomi atau pemisahan yang kaku antara urusan duniawi dan ukhrawi, seolah-olah keduanya adalah dua kutub yang saling bermusuhan dan tidak bisa didamaikan. Di Muhammadiyah, bekerja mencari nafkah yang halal, belajar ilmu pengetahuan umum, dan berorganisasi adalah bagian integral dari ibadah itu sendiri jika diniatkan dengan benar. 

Jadi, jangan heran kalau rapat pengurus ranting yang membahas anggaran renovasi toilet masjid pun dianggap sama sakralnya dengan wirid di sepertiga malam terakhir. Karena toilet yang bersih akan membuat jamaah nyaman beribadah, dan kenyamanan itu adalah bagian dari pelayanan yang bernilai pahala di sisi Tuhan.

Melihat akhirat itu bukan sesuatu yang terpisah dari realitas kita saat ini, bukan sebuah dunia antah berantah yang baru akan kita masuki setelah jantung berhenti berdetak nanti. Akhirat adalah perpanjangan dari apa yang kita tanam hari ini, sebuah konsekuensi logis dari setiap keputusan yang kita ambil detik demi detik di dunia yang fana ini. Konsep ini memaksa kita untuk selalu sadar dan waspada dalam bertindak, karena setiap langkah punya dampak jangka panjang yang melintasi batas kematian. 

Tidak ada istilah "nanti saja tobatnya kalau sudah tua", karena membangun peradaban akhirat harus dimulai sejak muda dengan karya nyata yang monumental. Surga itu tidak bisa diraih hanya dengan melamun atau berangan-angan, tapi harus direbut dengan keringat dan kerja keras dalam menebar kebaikan di muka bumi.

Sesuatu yang wah dan megah di akhirat nanti hanyalah refleksi dari akumulasi kebaikan-kebaikan kecil yang kita tumpuk dengan telaten selama hidup di dunia. Bayangkan akhirat itu seperti sebuah celengan raksasa yang isinya adalah koin-koin amal jariyah yang kita masukkan setiap hari tanpa henti, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Muhammadiyah mengajarkan kita untuk menjadi investor akhirat yang cerdas, yang tahu portofolio amal mana yang memberikan dividen pahala paling besar dan berkelanjutan alias sustainable. 

Makanya mereka gencar membangun institusi pendidikan dan kesehatan, karena itulah jenis investasi yang pahalanya tidak akan putus meski investornya sudah terkubur di dalam tanah. Ini adalah strategi manajemen spiritual tingkat tinggi yang menggabungkan visi visioner dengan eksekusi lapangan yang presisi.

Dunia ini harus diisi dengan berlomba-lomba dengan kebaikan, sebuah kompetisi sehat yang tidak saling menjatuhkan tapi saling menguatkan satu sama lain dalam koridor kebajikan. Tidak ada waktu untuk saling sikut atau saling dengki melihat keberhasilan orang lain, karena fokus utama adalah bagaimana kita bisa memberikan kontribusi terbaik versi diri kita sendiri. Persaingan di sini bukan soal siapa yang paling kaya atau paling populer, tapi siapa yang paling banyak memberi manfaat dan solusi bagi permasalahan umat. 

Atmosfer kompetisi ini menciptakan dinamika yang positif, di mana setiap cabang dan ranting Muhammadiyah berlomba-lomba memamerkan prestasi amal usahanya, bukan memamerkan koleksi batu akiknya. Dan hebatnya, "pamer" di sini justru memicu semangat pihak lain untuk meniru dan melakukan hal yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Sehingga akhirat itu terlihat sebagai sebuah akumulasi kebaikan yang solid, bukan sekadar harapan kosong yang digantungkan pada doa orang lain setelah kita mati. Kita diajarkan untuk menjadi arsitek nasib kita sendiri di masa depan dengan menggambar desain amal saleh yang kokoh dan tahan uji sejak hari ini. 

Tidak ada jalan pintas menuju surga, tidak ada cheat code atau kode curang yang bisa dipakai untuk menembus gerbang keabadian tanpa bekal yang cukup. Semuanya harus melalui proses, melalui tahapan perjuangan yang kadang melelahkan dan penuh tantangan, tapi di situlah letak seninya beragama.

Muhammadiyah menawarkan jalan yang terjal tapi jelas petanya, bukan jalan yang terlihat mulus tapi ternyata menyesatkan ke lembah kemalasan dan fatalisme.

Makanya di Muhammadiyah ada salah satu semboyan yang terkenal yang dikutip dari Alquran, sebuah frasa pendek namun memiliki daya ledak yang luar biasa bagi siapa saja yang merenunginya: Fastabiqul Khairat. Kalimat ini bukan sekadar slogan tempelan yang dipajang di spanduk-spanduk acara atau kop surat organisasi semata. Ini adalah etos, ini adalah ruh, ini adalah bahan bakar nuklir yang menggerakkan mesin organisasi raksasa ini selama lebih dari satu abad lamanya. 

Fastabiqul Khairat yang berarti "berlomba-lombalah dalam kebaikan" adalah perintah suci yang diterjemahkan menjadi aksi nyata tanpa banyak basa-basi diplomasi. Semboyan ini menampar kita yang sering kali merasa cukup dengan menjadi orang baik yang pasif, padahal menjadi baik saja tidak cukup, kita harus berlomba menjadi yang terbaik dalam memberi manfaat.

Fastabiqul Khairat itu maknanya bukan balapan lari karung 17 Agustusan yang ada menang dan ada kalahnya, di mana yang kalah akan bersedih hati. Dalam konteks ini, semua orang bisa jadi pemenang asalkan mereka bergerak, asalkan mereka tidak diam berpangku tangan melihat ketidakadilan dan kebodohan merajalela. Ini adalah seruan untuk proaktif, inisiatif, dan progresif dalam merespons tantangan zaman yang semakin gila ini dengan solusi yang konstruktif. 

Ketika ada bencana alam, semangat ini mewujud dalam bentuk pasukan relawan yang turun duluan ke lokasi sebelum bantuan pemerintah sampai. Ketika ada wabah penyakit, semangat ini mewujud dalam kesiapan rumah sakit-rumah sakit Muhammadiyah menjadi garda terdepan penanganan pasien tanpa tanya isi dompetnya dulu.

Bentuk implementasinya di lapangan sangat beragam dan sering kali membuat kita geleng-geleng kepala karena saking totalitasnya orang-orang Muhammadiyah ini dalam beramal. Lihatlah bagaimana ibu-ibu Aisyiyah yang usianya sudah senja masih semangat mengelola Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal di pelosok desa dengan gaji yang mungkin hanya cukup untuk beli bensin motor. Lihatlah bagaimana para pemuda Muhammadiyah patungan uang jajan mereka untuk membedah rumah warga miskin yang hampir roboh tanpa mengharap diliput media massa. 

Lihatlah bagaimana LazisMu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah dengan manajemen modern yang transparan sehingga setiap rupiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya. Semua itu adalah manifestasi nyata dari Fastabiqul Khairat, bukan sekadar jargon kosong yang diteriakkan saat kampanye pemilihan ketua umum saja.

Semboyan ini juga mengajarkan kita untuk tidak cepat berpuas diri dengan pencapaian yang sudah diraih, karena di atas langit masih ada langit, di atas kebaikan masih ada kebaikan yang lebih besar. Jika hari ini sudah berhasil membangun satu sekolah, maka besok targetnya adalah membangun universitas, dan lusa targetnya mungkin membangun stasiun luar angkasa kalau perlu. 

Tidak ada kata berhenti atau pensiun dalam kamus perjuangan Muhammadiyah, karena berhenti berarti mati, berhenti berarti membiarkan kebatilan mengambil alih panggung sejarah. Semangat untuk terus bertumbuh dan berkembang inilah yang membuat organisasi ini tetap relevan dan segar meski zaman terus berubah dengan cepatnya. Mereka tidak sibuk meratapi masa lalu kejayaan Islam, tapi sibuk menyusun batu bata peradaban untuk kejayaan masa depan Islam yang berkemajuan.

Uniknya, kompetisi dalam kebaikan ini dilakukan dengan penuh kegembiraan, seolah-olah membangun rumah sakit itu sama asyiknya dengan main futsal bareng teman-teman satu geng. Tidak ada wajah-wajah tertekan atau menderita saat mereka dimintai sumbangan, yang ada justru senyum lebar karena merasa diberi kesempatan untuk menanam saham di akhirat. 

Dompet boleh menipis, rekening boleh berkurang, tapi hati mereka kaya raya dengan keyakinan bahwa apa yang mereka keluarkan akan kembali berlipat ganda dalam bentuk keberkahan. Logika matematika sedekah ala Muhammadiyah memang sering kali tidak masuk di akal para ekonom kapitalis, tapi terbukti ampuh menjaga cashflow organisasi tetap hijau royo-royo. Keajaiban itu nyata adanya, tapi bukan lewat jampi-jampi, melainkan lewat kekuatan jamaah yang solid dan ikhlas lillahi ta'ala.

Ciri khas lain dari implementasi Fastabiqul Khairat adalah profesionalitas dalam mengelola amal usaha, tidak dikelola dengan sistem manajemen "pokoknya jalan" atau manajemen warung kopi. Sekolah Muhammadiyah harus punya standar mutu yang jelas, rumah sakitnya harus terakreditasi paripurna, dan laporan keuangannya harus diaudit oleh akuntan publik independen. Mereka sadar bahwa niat baik saja tidak cukup, niat baik harus didukung dengan tata kelola yang baik agar hasilnya maksimal dan tidak malah menjadi beban di kemudian hari. 

Tuhan mencintai pekerjaan yang dilakukan dengan itqan (profesional/tuntas), dan Muhammadiyah berusaha menerjemahkan cinta Tuhan itu ke dalam SOP organisasi yang ketat. Jadi, jangan harap bisa korupsi di sini, karena malaikat pencatat amal dan auditor internal sama-sama galaknya dalam mengawasi setiap sen uang umat.

Bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun, semangat berlomba dalam kebaikan ini terasa denyutnya, misalnya dalam urusan ketepatan waktu memulai acara pengajian atau rapat organisasi. Budaya jam karet alias ngaret yang sudah mendarah daging di masyarakat kita berusaha dikikis pelan-pelan, meskipun kadang masih ada satu dua yang telat dengan alasan ban bocor yang klise. Disiplin waktu dianggap sebagai bagian dari amanah dan penghormatan terhadap waktu orang lain yang juga berharga untuk berbuat kebaikan lainnya. 

Menghargai waktu adalah menghargai kehidupan itu sendiri, dan orang Muhammadiyah tidak mau menyia-nyiakan kehidupan dengan menunggu hal-hal yang tidak pasti. Semuanya harus terencana, terukur, dan tepat sasaran, agar energi umat tidak habis hanya untuk urusan seremonial belaka.

Pada akhirnya, ajaran di pengajian Muhammadiyah ini menawarkan sebuah perspektif keberagamaan yang dewasa, rasional, dan sangat fungsional bagi kehidupan modern yang kompleks. Ia mengajak kita keluar dari cangkang mistisisme yang melenakan menuju medan amal yang menantang namun menjanjikan kepuasan batin yang sejati dan abadi. 

Kita diajak untuk menjadi muslim yang tidak hanya saleh secara ritual di dalam masjid, tapi juga saleh secara sosial di tengah pasar, kantor, dan ruang publik lainnya. Menjadi muslim yang kehadirannya dirindukan karena membawa solusi, bukan muslim yang kehadirannya ditakuti karena membawa pentungan atau membawa proposal fiktif. Ini adalah jalan sunyi yang tidak banyak sorotan kamera, tapi jejaknya abadi terukir dalam senyum para penerima manfaat.

Jadi, kalau sampeyan suatu saat merasa butuh pencerahan rohani yang tidak menuntut sampeyan mematikan nalar sehat, silakan mampir ke gedung dakwah Muhammadiyah terdekat di kota sampeyan. Jangan lupa bawa dompet, bukan untuk membayar tiket masuk, tapi untuk mengantisipasi kalau-kalau hati sampeyan tergerak melihat kotak infak yang diedarkan dengan penuh senyum ramah. 

Siapa tahu, dari recehan yang sampeyan masukkan itu, akan lahir sebuah klinik di pedalaman Papua atau beasiswa untuk anak cerdas yang kurang mampu di pelosok desa. Dan percayalah, perasaan ikut memiliki andil dalam kebaikan semacam itu jauh lebih menentramkan jiwa daripada sekadar takjub mendengar cerita orang sakti yang bisa terbang ke bulan tanpa roket NASA.

Tutup mata sejenak, bayangkan betapa indahnya jika seluruh energi umat Islam dialihkan dari perdebatan khilafiyah yang tak berujung menuju perlombaan membangun peradaban yang memuliakan manusia. Itulah mimpi besar yang ditawarkan oleh Muhammadiyah lewat Fastabiqul Khairat-nya, sebuah mimpi yang sangat mungkin kita wujudkan bersama asal kita mau mulai bergerak sekarang juga. 

Tidak perlu menunggu jadi sakti untuk bermanfaat, cukup jadi manusia biasa yang peduli, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat malaikat tersenyum melihat kita dari langit. Lagipula, buat apa bisa terbang kalau di darat saja kita masih sering tersandung masalah sampah dan kemacetan yang belum beres-beres sampai hari ini?

Begini, saya punya cerita yang mungkin agak receh, tapi ternyata banyak juga yang ngalamin. Beberapa waktu lalu, saya lihat poster pengumuman soal panggilan kader muda Muhammadiyah. Posternya pakai bahasa campur, ada Indonesia, ada Inggris. Dari semua diksi yang dipakai, saya agak mengernyitkan dahi waktu baca terjemahan kata kader yang ditulis "cadre".
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Saya baca sampai tuntas, captionnya juga, tapi habis itu saya malah diam sendiri. Soalnya kalau dipikir-pikir, ini bukan masalah remeh. Bahasa itu bukan cuma soal kata yang ditukar dengan kata. Bahasa itu bawa sejarah, bawa suasana, bahkan bawa bau. Dan kata cadre dalam bahasa Inggris itu, jujur saja, baunya menyengat. Aroma seragam tentara, palu arit, rapat-rapat tertutup di gedung partai komunis Eropa Timur tahun 1950-an. Kalau kata begitu kita tempelkan ke "kader Muhammadiyah", ya hasilnya jadi aneh.

Iseng saya cek asal-usul kata cadre ini. Akarnya dari bahasa Prancis, artinya bingkai atau kerangka. Awalnya dipakai di kalangan militer Prancis untuk menyebut perwira-perwira inti yang jadi tulang punggung sebuah unit. Lalu menyebar ke dunia politik, terutama waktu partai-partai Marxis-Leninis mengadopsinya untuk menyebut anggota inti mereka yang sudah terbina secara ideologis. Sejak itu, di telinga orang Barat, cadre punya konotasi kiri, militan, dan kaku. Bukan salah katanya, sejarahnya memang begitu.

Masalahnya, kata "kader" dalam bahasa Indonesia justru sudah terbang jauh dari konotasi aslinya. Di tangan kita, "kader" jadi kata yang lentur dan ramah. Ada kader Posyandu, ibu-ibu paruh baya yang bawa timbangan bayi keliling kampung. Ada kader PKK yang sibuk arisan sambil bagi-bagi info gizi. Ada kader Muhammadiyah yang mengajar di sekolah dan rumah sakit. Ada kader Nahdliyin yang mengaji di pesantren. Kata ini sudah meresap ke kehidupan sehari-hari dengan cara yang sangat sipil dan damai. Wajar kalau diterjemahkan balik ke bahasa Inggris dengan kata yang masih berbau seragam, hasilnya terasa janggal.

Teman saya pernah ngobrol dengan seorang peneliti dari Australia yang nulis disertasi soal gerakan Islam di Indonesia. Katanya, dia menyerah menerjemahkan kata "kader" ke bahasa Inggris. Akhirnya dia menulisnya apa adanya dengan huruf miring, lalu dijelaskan di catatan kaki. Strateginya cerdas. Kata-kata seperti ini memang lebih baik dibiarkan utuh, sama seperti orang Inggris membiarkan kata zeitgeist tetap berbahasa Jerman, atau schadenfreude tetap dengan ejaan aslinya. Tidak semua kata perlu diterjemahkan. Beberapa kata punya hak untuk tetap jadi dirinya sendiri.

Tapi tentu tidak semua tulisan akademik bisa pakai strategi italic. Ada konteks di mana kita perlu kata padanan yang langsung dimengerti pembaca asing tanpa perlu catatan kaki. Di sini kita harus pintar memilih, tergantung sisi mana dari "kader" yang ingin ditonjolkan. Kalau yang ditekankan adalah loyalitas dan keterlibatan aktif, kata seperti committed member atau core member sudah cukup mewakili. Kalau yang mau disorot adalah aspek regenerasi dan kepemimpinan masa depan, next-generation leader atau emerging leader terdengar lebih klik. Kata-kata ini lebih ramah, lebih kontemporer, jauh dari aroma sejarah perang dingin.

Di literatur soal gerakan sosial, kata yang sering muncul juga adalah adherent dan activist. Bedanya tipis tapi penting. Adherent menggambarkan seseorang yang menerima dan menjalankan nilai-nilai gerakan, lebih ke arah ideologis. Activist menggambarkan orang yang aktif bergerak dan mengkampanyekan nilai-nilai itu, lebih ke arah praksis. Untuk konteks Muhammadiyah, dua-duanya bisa pas, tergantung sudut pandang tulisannya. Kalau ngomongin pengamalan nilai, adherent cocok. Kalau ngomongin aktivitas dakwah dan gerakan sosial, activist lebih hidup.

Untuk konteks partai politik, urusannya agak beda. Di literatur ilmu politik berbahasa Inggris, istilah yang lebih lazim adalah party activist, party loyalist, atau rank-and-file member. Yang terakhir ini menarik. Rank-and-file secara harfiah artinya barisan yang berbaris rapi, dipakai untuk menyebut anggota biasa yang jadi tulang punggung sebuah organisasi. Maknanya pas, tapi nadanya juga masih agak militeristik. Untuk audiens akademik yang lebih luas, party activist tetap pilihan paling aman.

Yang sering luput dari diskusi terjemahan ini adalah satu hal kecil tapi penting, yaitu pembaca sasaran. Kalau tulisan kita ditujukan untuk jurnal kajian Asia Tenggara, kita boleh agak longgar pakai istilah lokal dengan italic. Pembaca jurnal semacam itu biasanya sudah familiar dengan kata santri, pesantren, atau kiai. Tapi kalau tulisan kita masuk ke jurnal yang pembacanya lintas wilayah, kita harus lebih sabar mencari kata padanan yang tidak butuh catatan kaki panjang. Strategi penulisan akademik itu bukan cuma soal isi, tapi juga soal siapa yang bakal baca.

Saya ingat dulu, salah satu profesor saya pernah bilang, terjemahan yang baik itu seperti baju yang dijahit pas badan. Bukan diukur dari panjang lengannya saja, tapi juga dari nyamannya saat dipakai bergerak. Kata cadre untuk "kader Muhammadiyah" itu seperti baju yang lengannya pas, tapi bahannya gatal. Kata committed member itu seperti baju yang nyaman, meski mungkin agak terlalu kasual untuk sebagian acara. Kita harus pilih, mau gatal tapi formal, atau nyaman tapi agak santai. Tidak ada terjemahan yang sempurna, dan itu bukan masalah. Yang penting kita sadar pilihan kita dan bisa menjelaskannya.

Soal "kader" ini sebenarnya cuma satu contoh dari masalah yang lebih besar. Bahasa Indonesia punya banyak kata yang sulit diterjemahkan persis ke bahasa Inggris. Coba terjemahkan "musyawarah". Bisa jadi deliberation, bisa juga consultation, bisa juga consensus-building. Tapi tidak ada satupun yang menangkap nuansa hangat dan kekeluargaan yang ada di kata aslinya. Atau coba terjemahkan "gotong royong". Bisa jadi mutual cooperation, bisa juga collective work. Tapi rasa kebersamaan dan rasa tidak enak kalau tidak ikut nimbrung itu, hilang di terjemahan. Bahasa kita memang kaya rasa, dan rasa itu sulit dipindahkan.

Justru karena itu, banyak peneliti senior sekarang lebih percaya diri membiarkan istilah-istilah lokal tetap utuh. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai kelemahan terjemahan, melainkan sebagai kontribusi pada kekayaan kosakata akademik dunia. Kata guanxi dari Tiongkok sekarang sudah masuk ke jurnal-jurnal manajemen tanpa perlu diterjemahkan. Kata ubuntu dari Afrika Selatan sudah dipakai di literatur etika global. Kata ikigai dari Jepang malah sudah jadi tren self-help di seluruh dunia. Kalau kata-kata itu bisa, kenapa "kader Muhammadiyah" tidak? Tinggal ditulis dengan percaya diri, dikasih penjelasan singkat di awal kemunculan, lalu pembaca akan terbiasa.

Mungkin yang perlu kita ubah dulu adalah cara kita memandang bahasa kita sendiri. Selama ini kita seperti masih agak minder, merasa bahasa Indonesia harus selalu menyesuaikan diri dengan bahasa Inggris. Padahal di forum-forum akademik internasional, kontribusi terbesar kita justru sering datang dari konsep-konsep yang tidak bisa diterjemahkan persis. Konsep itu unik karena bahasanya unik. Memaksakannya ke bahasa lain malah menumpulkan ketajamannya. Kalau ada yang bertanya apa itu kader Muhammadiyah, jawabannya bukan dengan kata Inggris yang tidak pernah pas, melainkan dengan penjelasan ringkas tentang sejarah dan praktiknya. Di situ justru letak nilai akademiknya.

Jadi, kalau ada kawan-kawan yang lagi bingung menerjemahkan kata "kader" untuk tulisan akademiknya, saya kasih saran sederhana. Kalau audiensnya sudah familiar dengan studi Asia Tenggara, biarkan saja kata "kader" tetap utuh dengan italic dan penjelasan singkat. Kalau audiensnya lebih umum, pakai committed member atau core member untuk konteks loyalitas, emerging leader untuk konteks regenerasi, adherent untuk konteks ideologis, dan activist untuk konteks gerakan. Hindari cadre kecuali konteksnya memang politis dan militan, karena bagasi sejarahnya terlalu berat.

Bahasa pada akhirnya adalah jembatan, bukan tembok. Tugas kita sebagai penulis adalah bikin jembatan itu bisa dilewati pembaca dari sisi manapun mereka datang, tanpa kehilangan kekayaan yang mau kita sampaikan. Kata "kader" itu pesan dari kebudayaan kita ke dunia, bahwa ada cara lain mengorganisir manusia, ada cara lain merawat gerakan sosial, ada cara lain memahami komitmen, di luar tradisi yang sudah dikenal Barat. Kalau ditulis dengan percaya diri dan dijelaskan dengan baik, kata sederhana ini bisa jadi pintu masuk yang menarik bagi pembaca asing untuk memahami kita lebih jauh. Dan barangkali, di situlah letak kemenangan kecil kita sebagai penulis. Bukan saat berhasil menerjemahkan, melainkan saat berhasil bikin orang lain ingin tahu apa sebenarnya yang sedang kita bicarakan.
Satu waktu, linimasa terasa gaduh oleh satu hal yang berulang. Orang orang memperdebatkan awal puasa dan kemungkinan lebaran dengan nada yang makin meninggi. Sebagian mengutip dalil, sebagian lagi mengandalkan kebiasaan lama. Nama Muhammadiyah ikut terseret ke tengah percakapan. Kalender Hijriyah Global Tunggal tiba tiba menjadi pusat perhatian. Padahal ketika pertama kali diperkenalkan, hampir tak ada yang benar benar peduli. Ia lewat begitu saja seperti berita kecil yang tidak sempat dibaca sampai habis.
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Beberapa bulan sebelumnya, tepat saat 1 Muharram 1447 H, suasana masih sepi. Kritik hanya datang dari lingkaran yang itu itu saja. Para pengamal rukyat menggerutu pelan, selebihnya diam. Tidak ada gelombang besar seperti sekarang. Orang orang masih sibuk dengan urusan lain yang terasa lebih dekat. Kalender global itu seperti ide yang terlalu jauh untuk dipikirkan. Sampai akhirnya Ramadan datang dan semua berubah.

Mendekati akhir bulan puasa, diskusi terasa semakin rapat. Grup keluarga, ruang obrolan kampus, sampai kolom komentar media sosial dipenuhi perdebatan yang sama. Tidak sedikit yang bingung harus mengikuti siapa. Ada yang mulai curiga bahwa ini sekadar beda pendapat biasa. Ada juga yang menganggap ini bentuk keberanian yang terlalu jauh. Di titik ini, Muhammadiyah kembali berada di posisi yang sudah sangat dikenalnya. Sendirian di depan, sementara yang lain masih menimbang.

Cerita seperti ini bukan barang baru bagi Muhammadiyah. Jauh sebelum organisasi ini berdiri secara resmi, benih keberanian itu sudah tumbuh. Kiai Ahmad Dahlan pernah berdiri di tengah masyarakat yang kukuh dengan kebiasaan lama. Ia meluruskan arah kiblat dengan pendekatan ilmu. Respons yang datang tidak ramah. Surau yang ia dirikan bahkan sempat dirusak karena dianggap menyimpang.

Keputusan meluruskan kiblat kala itu terasa seperti gangguan bagi banyak orang. Mereka merasa ibadah yang selama ini dijalani tiba tiba dipertanyakan. Ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Namun waktu berjalan tanpa meminta izin. Masjid masjid mulai menyesuaikan arah. Apa yang dulu dianggap aneh perlahan berubah menjadi standar. Orang orang mulai lupa bahwa pernah ada penolakan keras terhadap hal yang sekarang terasa biasa.

Di bidang pendidikan, kisah serupa kembali terulang. Kiai Dahlan memperkenalkan sistem belajar dengan bangku dan meja. Sesuatu yang saat itu identik dengan sekolah Belanda. Tuduhan datang tanpa jeda. Ia disebut meniru orang kafir. Ia dianggap merusak tradisi belajar agama.

Lambat laun, perubahan itu menemukan tempatnya sendiri. Sekolah sekolah tumbuh dengan cara yang lebih terstruktur. Murid duduk di kursi, mencatat pelajaran, berdiskusi dengan guru. Hari ini sulit menemukan lembaga pendidikan yang tidak memakai bangku dan meja. Bahkan pesantren pun mengadopsinya dengan cara yang khas. Yang dulu ditolak kini terasa paling masuk akal.

Langkah berikutnya muncul di sektor kesehatan. Muhammadiyah mendirikan rumah sakit di masa ketika hal itu terasa janggal. Organisasi Islam dianggap cukup mengurus pengajian dan pendidikan. Kiai Sudjak menerima tantangan yang tidak ringan. Ia melangkah dengan keyakinan yang sama seperti gurunya.

Waktu sekali lagi menjadi saksi yang sabar. Rumah sakit Muhammadiyah berkembang di banyak kota. Pelayanannya menjangkau siapa saja tanpa melihat latar belakang. Organisasi lain mulai mengikuti jejak yang sama. Klinik dan rumah sakit bermunculan dari berbagai kelompok. Sesuatu yang dulu terasa aneh kini menjadi kebutuhan umum.

Beberapa tahun lalu, Muhammadiyah kembali membuat keputusan yang memancing percakapan panjang. Waktu subuh dimundurkan sekitar delapan menit dari ketetapan pemerintah. Kajian dilakukan bertahun tahun sebelum keputusan itu diambil. Banyak yang meragukan hasilnya. Sebagian bahkan menolaknya mentah mentah.

Setelah waktu berjalan lebih dari lima tahun, suara itu mulai mereda. Penelitian lanjutan bermunculan. Diskusi menjadi lebih tenang. Tidak sedikit yang akhirnya mengakui bahwa ada dasar ilmiah yang kuat di balik keputusan tersebut. Perubahan tidak lagi terasa mengganggu. Ia mulai diterima sebagai alternatif yang masuk akal.

Kini giliran Kalender Hijriyah Global Tunggal yang diuji. Gagasan ini berangkat dari kebutuhan menyatukan penanggalan Islam secara global. Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid merumuskan konsep ini dengan pendekatan hisab hakiki. Prinsipnya sederhana dalam logika, satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Perbedaan wilayah tidak lagi menjadi alasan untuk berbeda awal bulan.

Dalam konsep ini, batas tanggal ditentukan secara global dengan mempertimbangkan posisi bulan dan matahari. Garis tanggal internasional menjadi acuan teknis. Selama kriteria imkan rukyat terpenuhi di satu titik, seluruh dunia mengikuti hasil tersebut. Tujuannya bukan sekadar teknis penanggalan. Ada harapan besar tentang kesatuan umat yang selama ini terpecah oleh perbedaan metode.

Reaksi yang muncul bisa ditebak. Sebagian merasa ini terlalu jauh dari tradisi yang selama ini dipegang. Ada kekhawatiran bahwa praktik ibadah akan kehilangan kedekatan lokalnya. Di sisi lain, ada yang melihat ini sebagai langkah maju. Mereka melihat peluang untuk mengurangi perbedaan yang berulang setiap tahun.

Fenomena seperti ini sering dibahas dalam teori perubahan sosial. Ketika sebuah inovasi muncul, masyarakat akan melalui fase penolakan, adaptasi, lalu penerimaan. Everett Rogers menyebutnya sebagai difusi inovasi. Ada kelompok yang cepat menerima, ada yang menunggu, dan ada yang menolak cukup lama. Pola ini tidak pernah benar benar berubah.

Muhammadiyah seperti sudah akrab dengan pola tersebut. Ia sering berada di kelompok yang memulai lebih dulu. Risiko yang dihadapi tidak kecil. Tekanan sosial, kritik, bahkan cemooh menjadi bagian dari proses. Namun sejarah menunjukkan arah yang cukup konsisten. Apa yang dulu dianggap aneh perlahan berubah menjadi wajar.

Guncangan yang dirasakan publik hari ini terasa wajar. Kalender global mengusik kebiasaan yang sudah mengakar. Orang orang merasa kehilangan pegangan yang selama ini dianggap pasti. Perbedaan awal puasa dan potensi beda lebaran menjadi pemicu emosi. Tidak semua siap menerima perubahan dalam waktu singkat.

Keyakinan bahwa semua akan Muhammadiyah bukan sekadar slogan. Ia lahir dari pola sejarah yang berulang. Ijtihad yang didasarkan pada ilmu dan keberanian sering kali berakhir pada penerimaan luas. Waktu menjadi faktor penentu yang tidak bisa dipercepat. Setiap generasi memiliki cara sendiri untuk memahami perubahan.

Perkembangan pendidikan ikut mempercepat proses ini. Akses informasi semakin terbuka. Diskusi tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Teknologi membantu orang memahami konsep yang dulu terasa rumit. Kalender global tidak lagi sekadar ide abstrak. Ia bisa dipelajari dan diuji oleh siapa saja.

Beberapa tahun ke depan, intensitas perdebatan mungkin masih tinggi. Akan ada momen ketika perbedaan terasa lebih tajam. Namun pola yang sama kemungkinan akan kembali terlihat. Orang orang mulai terbiasa. Argumen menjadi lebih rasional. Emosi perlahan turun.

Sikap terbaik saat ini adalah memberi ruang pada proses. Tidak semua harus sepakat dalam waktu yang sama. Perbedaan tidak selalu berarti perpecahan. Ia bisa menjadi jalan menuju pemahaman yang lebih dalam. Muhammadiyah memilih berjalan di jalur yang diyakininya benar.

Pada akhirnya, waktu yang akan berbicara dengan caranya sendiri. Kalender Hijriyah Global Tunggal mungkin akan menempuh jalan yang tidak mudah. Namun jejak sejarah memberi petunjuk yang cukup jelas. Apa yang hari ini terasa asing bisa saja menjadi kebiasaan baru. Dan ketika itu terjadi, orang orang akan lupa bahwa mereka pernah menolaknya dengan begitu keras.

Hari ini, angka 107 tahun resmi tersemat pada tubuh tua Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, sebuah usia yang sebenarnya sudah sangat matang, bahkan tergolong sepuh untuk ukuran sebuah organisasi kepemudaan di negeri ini. Kalau kita bayangkan manusia, usia segitu pasti sudah tinggal tulang berbalut kulit, duduk di kursi goyang, dan hanya mampu bercerita soal masa lalu kepada cicit-cicitnya yang mungkin setengah mendengarkan sambil main gadget. Tapi Hizbul Wathan (HW) bukanlah manusia biasa, ia adalah entitas ideologis yang seharusnya makin tua makin berisi, makin sakti, dan makin relevan dengan tantangan zaman yang kian absurd ini. Namun, mari kita jujur sejenak sambil menyeruput kopi, apakah HW hari ini benar-benar sudah menjadi raksasa yang disegani, ataukah ia hanya besar di dalam kandang sendiri alias jago kandang? Saya melihat ada semacam paradoks yang menggelitik di sini.

Kita punya sejarah mentereng sebagai "kakak kandung" tentara karena melahirkan Jenderal Soedirman, tapi di lapangan, popularitas kita sering kali kalah lincah dibandingkan "adik" kita yang berbaju cokelat muda itu. Perayaan milad ini seharusnya bukan sekadar seremoni potong tumpeng atau apel akbar semata, melainkan momentum untuk menampar pipi kita sendiri agar sadar bahwa dunia sudah berubah drastis. Jangan sampai kita terlena dengan romantisme sejarah tahun 1918, sementara anak-anak muda Gen Z di luar sana bahkan bingung seragam HW itu seragam ormas apalagi.

Coba sampeyan-sampeyan perhatikan fenomena di sekolah-sekolah Muhammadiyah, di mana HW adalah menu wajib yang tak bisa ditawar-tawar lagi layaknya mata pelajaran Kemuhammadiyahan. Di satu sisi, ini adalah kekuatan struktural yang luar biasa karena menjamin suplai kader yang tidak akan pernah putus selama sekolah Muhammadiyah masih berdiri tegak di muka bumi. Tapi di sisi lain, kewajiban struktural ini sering kali mematikan kreativitas dan menjadikan kegiatan kepanduan sekadar formalitas menggugurkan kewajiban kurikulum belaka. Anak-anak ikut HW bukan karena mereka merasa itu keren atau menantang, tapi karena kalau tidak ikut, nilai rapor mereka bakal merah atau ijazah mereka ditahan. Akibatnya, ruh "kepanduan" yang seharusnya penuh petualangan, kegembiraan, dan kemandirian, berubah menjadi baris-berbaris yang membosankan di tengah terik matahari Jumat siang. Kita menciptakan jutaan anggota pasif yang begitu lulus sekolah, langsung melempar seragam hijaunya ke gudang dan tak pernah mau menengoknya lagi. Ini adalah masalah serius yang harus diakui oleh para pimpinan di kwartir pusat hingga daerah, bahwa kuantitas massal kita belum berbanding lurus dengan loyalitas dan kebanggaan organik. Barangkali kita terlalu lama nyaman berlindung di bawah ketiak nama besar Muhammadiyah, sehingga lupa caranya bertarung di hutan rimba kompetisi organisasi kepemudaan yang sesungguhnya.

Kalau Pramuka punya Satuan Karya (SAKA) yang memfasilitasi minat spesifik anggotanya mulai dari Bhayangkara hingga Dirgantara, lantas apa yang ditawarkan HW secara spesifik untuk mewadahi hobi anak muda kekinian? Kita masih sering terjebak pada materi-materi klasik seputar tali-temali, sandi morse, dan semapur yang, mohon maaf, bagi anak zaman sekarang mungkin terasa seantik mesin ketik pita. Padahal, potensi untuk membuat unit-unit khusus yang taktis dan modern sangat terbuka lebar jika kita mau sedikit saja membuka mata dan pikiran. Bayangkan jika HW memiliki unit khusus "Pandu Siber" yang jago coding dan keamanan data yang nempel dengan Majelis Pustaka dan Informasi, atau "Pandu Rescue" yang terintegrasi penuh dengan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) dengan kualifikasi internasional. Itu baru namanya modernisasi yang menyentuh substansi kebutuhan zaman, bukan sekadar modernisasi atribut atau logo yang kosmetik belaka. Tanpa spesialisasi yang jelas dan menarik, HW akan selamanya dianggap sebagai kegiatan "baris-berbaris" belaka, padahal esensi scouting jauh lebih luas dari itu.

Lihatlah saudara seperguruan kita, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, yang sukses melompat pagar dan diterima dengan tangan terbuka di berbagai kampus negeri bahkan hingga ke mancanegara. Tapak Suci bisa begitu luwes masuk ke mana-mana karena mereka menjual "skill" bela diri dan prestasi olahraga, bukan sekadar menjual doktrin organisasi yang kaku. Orang mau ikut Tapak Suci bukan karena mereka ingin jadi kader Muhammadiyah, tapi karena mereka ingin bisa silat, ingin sehat, dan ingin keren dengan seragam merahnya yang gagah itu. Nah, HW seharusnya bisa meniru strategi penetrasi kultural ini dengan menjadikan skill kepanduan sebagai jualan utama yang seksi. Mengapa kita tidak bermimpi ada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Hizbul Wathan di Universitas Indonesia, UGM, atau bahkan di kampus-kampus swasta elit, sebagaimana Pramuka bisa ada di mana saja? Selama HW masih memposisikan diri secara eksklusif sebagai "kepanduan milik sekolah Muhammadiyah," maka selama itu pula kita tidak akan pernah bisa menjadi organisasi yang inklusif dan membumi. Kita perlu merobohkan tembok mental block yang mengatakan bahwa HW hanya untuk orang Muhammadiyah, karena nilai-nilai kepanduan seperti kedisiplinan dan cinta alam itu universal.

Mungkin sebagian dari sampeyan-sampeyan akan protes dan bilang, "Lho, HW kan berasaskan Islam, jadi wajar dong kalau eksklusif?" Tunggu dulu, bukankah Islam itu rahmatan lil 'alamin, yang artinya rahmat bagi seluruh alam semesta, bukan rahmat bagi warga persyarikatan saja? Menjadi inklusif dan terbuka tidak berarti menggadaikan akidah, justru itu adalah sarana dakwah bil hal yang paling efektif di tengah masyarakat yang majemuk.

Kalau HW bisa dikemas dengan tampilan yang lebih pop, lebih adventure-oriented, dan tidak terlalu kental nuansa indoktrinasinya di awal rekrutmen, saya yakin banyak anak muda di luar sana yang tertarik bergabung. Mereka butuh wadah untuk menyalurkan energi berlebih, butuh komunitas yang positif, dan butuh skill bertahan hidup di alam bebas. Jika HW mampu menyediakan paket kegiatan yang menjawab kebutuhan itu tanpa embel-embel birokrasi yang njelimet, pasarnya sangat besar. Persoalannya, apakah kita berani mengubah kemasan "jamu pahit" ini menjadi "minuman energi" yang segar tanpa menghilangkan khasiat utamanya?

Bicara soal atribut, kadang saya berpikir apakah warna hijau tentara dan cokelat tanah yang kita banggakan itu masih relevan secara psikologis untuk anak muda zaman now yang lebih suka warna-warna cerah atau pastel? Tentu saja saya tidak menyarankan kita mengganti warna keramat itu, karena di sanalah letak historisnya, tapi desain dan fitting seragamnya mbok ya disesuaikan dengan selera fashion hari ini. Jangan sampai seragam HW terlihat kedodoran, kucel, dan membuat pemakainya merasa seperti sedang ikut wajib militer zaman Jepang yang menyeramkan. Rebranding visual itu penting, bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk membangun citra bahwa organisasi ini dikelola dengan profesional dan kekinian. Anak muda itu makhluk visual; mereka menilai buku dari sampulnya, dan mereka menilai organisasi dari seberapa keren foto kegiatannya di Instagram. Kalau feed media sosial HW isinya cuma foto bapak-bapak pejabat memberikan sambutan di podium, ya jangan harap anak muda mau melirik.

Saya membayangkan sebuah transformasi di mana HW memiliki divisi-divisi taktis yang mirip dengan SAKA di Pramuka, tapi dengan branding dan kurikulum yang khas Muhammadiyah namun berstandar global. Misalnya, kita buat "Korps Pandu Wirausaha" yang melatih anggotanya berbisnis digital, atau "Korps Pandu Lingkungan" yang fokus pada isu perubahan iklim dan daur ulang sampah. Ini bukan hal yang mustahil, mengingat Muhammadiyah punya sumber daya manusia yang melimpah ruah di segala bidang keilmuan dan profesi. Masalahnya selama ini adalah kita terlalu sektoral; orang pintar di Majelis Ekonomi tidak diajak ngurus HW, orang hebat di Majelis Lingkungan Hidup tidak diminta bikin kurikulum HW. HW dibiarkan berjalan sendiri dengan logikanya yang usang, sementara majelis lain berlari kencang dengan program-program modernnya. Sinergi antar-majelis ini harus dipaksa terjadi, agar HW mendapatkan suntikan nutrisi intelektual dan skill yang beragam, tidak melulu soal baris-berbaris dan menyanyi lagu mars.

Memang, mengubah sebuah kapal tua yang sangat besar seperti HW untuk berbelok arah itu susahnya minta ampun, butuh tenaga ekstra dan nakhoda yang gila. Struktur organisasi yang gemuk dari pusat sampai ranting sering kali justru menjadi penghambat kelincahan manuver, karena setiap keputusan harus melalui rapat pleno yang panjang dan melelahkan. Birokrasi internal kita kadang lebih rumit daripada mengurus KTP di kelurahan, dan inilah penyakit kronis yang harus diamputasi jika kita ingin lari kencang. Kita butuh desentralisasi kewenangan yang memberikan ruang gerak lebih bebas bagi kwartir daerah atau bahkan qabilah di sekolah/kampus untuk berinovasi sesuai kearifan lokal. Jangan semuanya harus menunggu petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) dari pusat yang turunnya sering kali terlambat. Biarkan tunas-tunas muda di daerah berkreasi membuat kegiatan yang "out of the box", asalkan tidak melanggar prinsip dasar akidah dan akhlak.

Coba kita tengok sejarah Jenderal Soedirman lagi, tapi kali ini jangan lihat pangkat jenderalnya, lihatlah masa mudanya saat menjadi pandu HW yang militan. Soedirman muda ditempa bukan dengan duduk mendengarkan ceramah di dalam ruangan ber-AC, tapi dengan kegiatan fisik yang keras, kepemimpinan lapangan yang nyata, dan tanggung jawab sosial yang berat. Spirit "Panglima Besar" itu lahir dari debu dan keringat kepanduan, dari keberanian mengambil risiko, bukan dari kenyamanan fasilitas organisasi. Sekarang, kita sering terjebak memuja sosok Soedirman sebagai berhala sejarah, tapi gagal mewarisi etos kerjanya yang trengginas dan revolusioner. Kita bangga memajang foto beliau di dinding markas, tapi kegiatan kita lembek dan tidak mencetak karakter petarung. Modernisasi HW adalah upaya untuk menghidupkan kembali spirit Soedirman dalam konteks abad 21, di mana "perang gerilya" kita hari ini adalah perang melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan teknologi.

Salah satu kunci sukses Tapak Suci adalah standardisasi jurus dan sistem kenaikan tingkat yang jelas serta bergengsi, sehingga anggotanya merasa punya target pencapaian yang prestisius. Di HW, sistem Tanda Kecakapan Umum (TKU) dan Tanda Kecakapan Khusus (TKK) sering kali tidak dianggap sebagai sesuatu yang prestisius. Ini menurunkan wibawa organisasi di mata anggotanya sendiri; kalau mendapatkan badge itu mudah, buat apa diperjuangkan mati-matian? Kita harus mengembalikan "sakralitas" dari setiap lencana yang ditempel di seragam, bahwa itu adalah simbol kompetensi, bukan hiasan. Jika perlu, libatkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk menguji kecakapan khusus tertentu, sehingga sertifikat HW laku dipakai untuk melamar kerja. Bayangkan kalau sertifikat "Pandu Jurnalistik" HW diakui oleh Dewan Pers, atau sertifikat "Pandu SAR" HW diakui oleh Basarnas, pasti anak-anak muda akan berebut masuk.

Lantas, bagaimana dengan konsep "Pembela Tanah Air" yang menjadi arti harfiah dari nama Hizbul Wathan itu sendiri? Di era damai seperti sekarang, membela tanah air tidak lagi dengan bambu runcing, melainkan dengan karya nyata yang solutif bagi permasalahan bangsa. HW harus hadir di tengah masyarakat yang kebanjiran, bukan hanya sebagai tukang angkut mie instan, tapi sebagai manajer posko yang handal dan pemimpin pemulihan trauma. HW harus hadir di kampung-kampung kumuh untuk mengajar anak jalanan, hadir di hutan-hutan gundul untuk menanam pohon, hadir di dunia maya untuk memerangi hoaks. Definisi "pembelaan" harus diperluas spektrumnya agar relevan dengan kegelisahan generasi milenial dan gen Z yang sangat concern pada isu-isu sosial dan lingkungan. Jika HW bisa membranding dirinya sebagai "NGO-nya anak muda Muhammadiyah" yang bergerak di bidang kemanusiaan dan lingkungan via kepanduan, itu akan sangat seksi.

Keberadaan HW di kampus-kampus non-Muhammadiyah adalah sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan, meski jalannya pasti terjal dan berliku. Langkah awalnya bisa dimulai dengan membentuk komunitas pecinta alam atau kelompok studi yang berafiliasi dengan nilai-nilai HW tanpa harus langsung memasang bendera formal yang mencolok. Masuklah lewat pintu hobi, lewat pintu diskusi, lewat pintu persaudaraan, baru pelan-pelan kenalkan baju seragamnya. Orang tidak akan resisten dengan nilai-nilai kebaikan seperti jujur, dipercaya, dan hemat, yang menjadi undang-undang HW, karena itu nilai universal. Yang sering bikin orang resisten itu adalah kemasan luarnya yang terkesan eksklusif dan "kelompok banget". Strategi marketing kita harus diubah dari "hard selling" yang memaksa orang masuk, menjadi "soft selling" yang membuat orang penasaran dan akhirnya jatuh cinta.

Kita juga tidak boleh menutup mata bahwa sumber pendanaan sering menjadi alasan klasik mengapa kegiatan HW mandek dan tidak variatif. Tapi, bukankah kita diajarkan untuk mandiri dan tidak cengeng meminta-minta sumbangan? Unit-unit usaha produktif berbasis kepanduan harus digalakkan, misalnya jasa outbound training profesional yang dikelola oleh kader HW, penyewaan alat camping, atau toko merchandise yang dikelola secara modern. Jangan biarkan HW menjadi benalu bagi kas sekolah atau kas persyarikatan, tapi jadikan ia sapi perah yang menghasilkan profit sekaligus benefit sosial. Kemandirian ekonomi organisasi akan melahirkan kemandirian sikap dan keleluasaan dalam membuat program-program gila tanpa harus disetir oleh donatur. Jiwa entrepreneurship K.H. Ahmad Dahlan harusnya menular deras di nadi setiap anggota pandu HW.

Tantangan lainnya adalah soal instruktur atau pelatih yang sering kali stoknya itu-itu saja, orang lama yang metodenya belum di-update sejak zaman Orde Baru. Kita butuh regenerasi pelatih yang radikal; kirim kader-kader muda terbaik untuk belajar metode scouting di luar negeri, ikut pelatihan SAR tingkat lanjut, atau kursus manajemen organisasi modern. Jangan biarkan pelatih HW hanya bermodal semangat dan suara lantang, tapi miskin metodologi pendidikan yang menyenangkan dan efektif. Anak sekarang kritis-kritis; mereka akan membandingkan pelatihnya dengan konten kreator di YouTube. Kalau pelatih HW kalah menarik dan kalah pintar dari YouTuber, ya wassalam, ditinggallah latihan itu. Investasi terbesar HW harusnya bukan pada gedung atau seragam, tapi pada peningkatan kapasitas otak dan skill para pelatihnya.

Saya teringat sebuah adagium lama yang mengatakan bahwa "tradisi adalah menjaga apinya, bukan menyembah abunya." HW punya api semangat yang menyala sejak 1918, tapi kalau kita sibuk menyembah abunya (baca: simbol-simbol masa lalu) tanpa menjaga apinya agar tetap panas membakar zaman, maka kita sedang membunuh HW pelan-pelan. Modernisasi bukanlah pengkhianatan terhadap tradisi, melainkan cara terbaik untuk menghormati para pendiri agar warisan mereka tetap hidup dan berguna. K.H. Ahmad Dahlan adalah seorang pembaru, seorang modernis sejati pada zamannya; beliau pasti akan sedih melihat organisasi bentukannya menjadi jumud dan gagap menghadapi perubahan. Kalau beliau masih hidup, mungkin beliau yang akan paling dulu menyuruh kita merombak kurikulum HW agar sesuai dengan kebutuhan abad 21. Jadi, jangan takut dibilang tidak nyunnah atau melanggar pakem hanya karena kita ingin membuat HW lebih relevan dan progresif.

Menjadikan HW sebesar dan sepopuler Tapak Suci memang terdengar ambisius, tapi bukan berarti tidak mungkin jika kita mau bekerja ekstra keras dan cerdas. Kuncinya ada pada "produk" yang kita tawarkan; Tapak Suci punya produk "bela diri" yang jelas manfaatnya, nah HW harus merumuskan "produk" apa yang mau dijual ke publik luas. Apakah produk itu bernama "karakter kepemimpinan"? Apakah "keterampilan survival"? Atau "solidaritas kemanusiaan"? Apapun itu, kemaslah produk tersebut dalam paket yang profesional, tersertifikasi, dan menyenangkan. Buatlah orang merasa rugi kalau tidak ikut HW, bukan merasa terpaksa. Ubah mindset dari "kewajiban" menjadi "kebutuhan".

Mungkin sudah saatnya kita menginisiasi "Jambore Inovasi HW" di mana setiap qabilah atau kwarda diwajibkan memamerkan inovasi teknologi atau sosial mereka, bukan cuma lomba pasang tenda tercepat. Biarkan mereka berkompetisi membuat aplikasi pantau bencana, membuat drone pemetaan desa, atau membuat metode pengolahan limbah plastik. Dari sana akan lahir bibit-bibit unggul yang melek teknologi, yang membuktikan bahwa pandu HW itu smart dan tech-savvy. Panggung-panggung HW harus diisi oleh prestasi nyata yang terukur, bukan sekadar pidato retorika yang mengawang-awang. Inilah cara kita berbicara kepada dunia bahwa HW sudah bangun dari tidur panjangnya dan siap berlari.

Tulisan ini saya tulis bukan karena saya benci, justru karena saking cintanya saya pada warisan Mbah Dahlan ini, saya tidak rela melihatnya lapuk dimakan usia. Benda antik memang mahal harganya, tapi kalau cuma ditaruh di lemari kaca, ia tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kehidupan. HW harus keluar dari etalase sejarah, turun ke jalanan berlumpur, masuk ke laboratorium canggih, dan bergaul di kafe-kafe tempat anak muda nongkrong. Ia harus menjadi teman yang asyik, mentor yang bijak, dan wadah yang menampung segala kegalauan anak muda untuk diubah menjadi energi positif. Milad ke-107 ini harus jadi titik balik, sebuah turning point yang radikal.

Sudah cukup kita bernostalgia, sudah cukup kita merasa besar dengan bayang-bayang masa lalu. Mulai besok, mari kita bongkar kurikulum usang, mari kita desain ulang seragam agar lebih stylish, mari kita buka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin bergabung tanpa sekat-sekat primordial. Jadikan HW sebagai rumah besar bagi patriot-patriot muda yang ingin berkarya untuk bangsa, apapun latar belakang ormas atau agamanya. Kalau Tapak Suci bisa, kenapa HW tidak? Kalau Pramuka bisa punya SAKA, kenapa HW tidak bisa punya korps spesialis yang lebih hebat? Jawabannya ada di kemauan kita untuk berubah atau punah.

Akhir kata, selamat milad ke-107 Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan. Umurmu sudah tua, tapi jiwamu harus tetap muda, liar, dan berbahaya bagi musuh-musuh kemanusiaan. Jangan biarkan dirimu menjadi dinosaurus yang punah karena gagal beradaptasi dengan perubahan iklim zaman. Jadilah elang yang terus memperbarui paruh dan cakarnya agar bisa terbang tinggi dan menerkam mangsa dengan presisi. Mari bergerak, mari berbenah, karena Indonesia butuh pandu-pandu yang bukan cuma jago tepuk tangan, tapi jago menyelesaikan masalah. Fastabiqul khairat!

Suatu kali teman dekat saya merasa jenuh dengan hiruk-pikuk dunia maya yang isinya cuma pamer pencapaian dan debat kusir tak berujung, ia lantas memutuskan untuk mencari ketenangan batin lewat jalur spiritual dengan mendatangi sebuah majelis ilmu. Niat hati ingin mendapatkan siraman rohani yang menyejukkan jiwa dan menata kembali nalar yang mulai bengkok akibat terlalu banyak mengonsumsi konten sampah, tapi yang ia dapatkan justru kebingungan yang hakiki. Di sana, penceramahnya dengan berapi-api menceritakan kisah seorang kyai sakti mandraguna yang konon memiliki kemampuan raga sukma tingkat tinggi hingga bisa berada di dua tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Cerita itu disampaikan dengan sangat meyakinkan seolah-olah kemampuan membelah diri adalah standar kompetensi utama untuk disebut sebagai orang saleh di zaman modern ini. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat jamaah lain mengangguk-angguk takzim seakan cerita itu adalah nutrisi paling bergizi bagi iman mereka yang sedang lapar. Tentu saja dia tidak berani protes atau bertanya tentang relevansi kesaktian itu dengan tagihan listrik yang membengkak, karena bisa-bisa dia dituduh sebagai penganut aliran sesat atau minimal dianggap kurang piknik spiritual. Pulang dari sana, bukannya merasa damai dan tercerahkan, ia cerita kepada saya bahwa ia kini sibuk memikirkan mekanisme fisika kuantum macam apa yang dipakai si tokoh untuk memindahkan jasadnya dari Jawa ke Mekkah tanpa paspor dan visa.

Ilustrasi Pengajian Muhammadiyah (Gambar : AI Generated)

Fenomena mendengarkan kisah-kisah ajaib semacam itu sebenarnya bukan barang baru di telinga masyarakat kita yang memang punya bakat alamiah untuk menyukai hal-hal berbau klenik dan mistis sejak zaman nenek moyang. Kita sering kali lebih mudah takjub pada cerita tentang kiai yang bisa berjalan di atas air tanpa basah sedikit pun daripada takjub pada orang yang berhasil membuat sistem irigasi canggih untuk mengairi sawah petani yang kekeringan. Ada semacam kepuasan batin tersendiri ketika mendengar ada manusia "pilihan" yang tubuhnya kebal bacok, tidak mempan disantet, atau kulitnya sekeras baja saat ditembak peluru tajam penjajah. Logika kita seolah dimanjakan dengan narasi bahwa kedekatan dengan Tuhan itu manifestasinya harus berupa kekuatan super layaknya anggota Avengers yang siap menyelamatkan dunia dari serangan alien. Padahal kalau dipikir-pikir dengan nalar orang lapar, kebal senjata itu tidak serta merta membuat perut kenyang atau membuat jalanan di depan rumah kita jadi mulus bebas lubang. Tapi ya mau bagaimana lagi, pasar cerita kesaktian memang selalu laris manis dan punya pangsa pasar yang militan di negeri yang hup-hup ini.

Kalau sampeyan adalah tipikal orang yang gampang bosan dengan dongeng kesaktian dan lebih suka hal-hal yang masuk akal serta bisa diraba dengan panca indra, mungkin sampeyan akan mengalami gegar budaya yang hebat jika salah masuk pengajian. Bayangkan saja betapa tersiksanya batin seorang rasionalis yang berharap dapat panduan hidup praktis tapi malah disuguhi tutorial cara terbang tanpa sayap yang jelas-jelas tidak bisa dipraktikkan di kantor saat macet melanda. Rasa-rasanya ingin sekali mengangkat tangan dan bertanya kepada ustaznya tentang bagaimana caranya mengubah air menjadi bensin pertamax, karena itu jelas lebih solutif bagi kehidupan umat saat ini. Namun, harapan tinggal harapan, karena biasanya di pengajian model begini, nalar kritis sering kali dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan atau bahkan gangguan jin yang harus segera diruqyah. Akhirnya, kita hanya bisa duduk manis sambil menahan kantuk, mendengarkan kisah heroik masa lalu yang jaraknya ribuan tahun cahaya dari realitas kita yang sedang pusing memikirkan cicilan pinjol.

Nah, di tengah keputusasaan mencari oase spiritual yang ramah nalar dan membumi itulah, saya menyarankan sampeyan untuk sekali-kali mencoba duduk bersila di pengajian Muhammadiyah. Jangan kaget kalau di sana sampeyan tidak akan menemukan aroma kemenyan atau cerita tentang karomah tokoh yang bisa menghilang saat ditagih hutang oleh tetangga. Suasana di pengajian Muhammadiyah itu kering dari nuansa mistis, saking keringnya kadang terasa seperti sedang rapat dewan direksi perusahaan start-up yang sedang membahas valuasi dan ekspansi bisnis. Di sini, alih-alih membahas cara melipatgandakan uang secara gaib, sampeyan akan diajak memutar otak tentang bagaimana caranya mengumpulkan dana umat untuk membangun sesuatu yang nyata dan bisa dilihat mata telanjang. Tidak ada sensasi merinding disko akibat cerita horor, yang ada justru kening yang berkerut memikirkan target pembangunan yang disampaikan dengan detail layaknya presentasi arsitek profesional.

Bagi para pencari sensasi magis dan penikmat cerita legenda urban, pengajian model Muhammadiyah ini jelas terasa hambar, garing, dan membosankan setengah mati karena tidak ada atraksi debus sama sekali. Bagaimana tidak membosankan, lha wong materi yang dibahas tidak jauh-jauh dari urusan semen, batu bata, keramik, perizinan tanah, hingga manajemen aset wakaf yang njlimetnya minta ampun. Penceramahnya tidak akan berbusa-busa menceritakan konon kabarnya beliau pernah shalat Jumat di Masjidil Haram padahal jasadnya terlihat tidur di serambi masjid kampung. Justru penceramahnya akan datang membawa tumpukan proposal pembangunan gedung sekolah baru atau rencana renovasi panti asuhan yang atapnya sudah mulai bocor dimakan rayap. Jamaah tidak diajak untuk melayang ke awang-awang membayangkan surga yang abstrak, tapi diajak menapak bumi untuk menciptakan kepingan surga kecil bagi mereka yang membutuhkan.

Masuk ke lingkungan pengajian Muhammadiyah itu ibarat masuk ke dalam sebuah ekosistem birokrasi langit yang sangat terstruktur, sistematis, dan masif dalam artian yang positif tentunya. Sampeyan akan segera menyadari bahwa fokus utama dari perkumpulan ini adalah kerja nyata, kerja keras, dan kerja cerdas untuk kemaslahatan umat manusia tanpa memandang bulu. Jangan harap bisa pulang membawa jimat penglaris dagangan atau air doa yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit mulai dari panu hingga kanker stadium akhir. Oleh-oleh dari pengajian ini biasanya berupa semangat yang meletup-letup untuk ikut serta dalam proyek kemanusiaan atau minimal rasa malu karena belum bisa berbuat banyak untuk orang lain. Di sini, kesalehan seseorang tidak diukur dari seberapa lama ia bisa bertapa di gua sunyi tanpa makan dan minum, melainkan dari seberapa besar kontribusinya dalam mewujudkan fasilitas publik yang bermanfaat.

Coba perhatikan baik-baik materi kajiannya, hampir selalu bermuara pada ajakan untuk mendirikan masjid yang makmur, sekolah yang berkemajuan, rumah sakit yang melayani, hingga kampus yang mencerahkan. Orang-orang Muhammadiyah ini sepertinya punya obsesi aneh untuk mengubah setiap jengkal tanah wakaf menjadi bangunan produktif yang bisa memutar roda ekonomi dan pendidikan umat. Kalau ada tanah kosong, naluri kemuhammadiyahan mereka akan langsung bergetar hebat dan merumuskan rencana pembangunan amal usaha, bukan merumuskan tempat untuk mencari wangsit. Bagi mereka, membiarkan tanah menganggur tanpa dimanfaatkan untuk kepentingan umat adalah sebuah dosa sosial yang harus segera ditebus dengan amal nyata berupa pembangunan infrastruktur. Maka tak heran jika aset Muhammadiyah bertebaran di mana-mana, dari kota besar hingga pelosok desa yang sinyal internetnya pun masih senin-kamis.

Isi pengajiannya benar-benar pragmatis dalam artian yang paling mulia, yaitu bagaimana agama ini bisa hadir sebagai solusi konkret atas permasalahan hidup sehari-hari yang dihadapi masyarakat. Ketika orang lain sibuk berdebat tentang dalil memanjangkan jenggot atau celana cingkrang, orang Muhammadiyah sudah sibuk meletakkan batu pertama pembangunan klinik kesehatan ibu dan anak. Mereka seolah ingin menegaskan bahwa Islam itu bukan hanya sekadar ritual penyembahan di atas sajadah, tapi juga gerakan sosial yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Narasi yang dibangun adalah narasi pemberdayaan, di mana setiap individu didorong untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing dengan kapasitas yang dimilikinya. Jadi, kalau sampeyan datang ke sana dengan niat ingin belajar ilmu kebal, siap-siap saja kecewa berat karena yang diajarkan adalah ilmu kebal kemiskinan lewat etos kerja dan kewirausahaan.

Di Muhammadiyah, yang dikaji secara mendalam dan berulang-ulang adalah soal bagaimana hidup yang singkat ini agar bisa benar-benar bermanfaat bagi sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Filosofi ini tertanam kuat di benak para kadernya, sehingga orientasi hidup mereka bukan lagi sekadar menyelamatkan diri sendiri dari api neraka, tapi juga menyelamatkan orang lain dari neraka dunia. Mereka percaya bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, sebuah prinsip yang terdengar klise tapi sangat berat pelaksanaannya di lapangan. Tidak ada tempat bagi egoisme spiritual yang hanya mementingkan kesalehan ritual pribadi sambil menutup mata terhadap penderitaan tetangga yang kelaparan atau anak yatim yang putus sekolah. Kesaktian yang diakui di sini adalah kesaktian mengubah uang receh sumbangan jamaah menjadi gedung bertingkat yang melahirkan ribuan sarjana setiap tahunnya.

Cerita-cerita hikmah yang disampaikan di mimbar pengajian Muhammadiyah bukanlah soal kesaktian supranatural orang sakti di masa lampau yang bisa terbang atau menghilang sesuka hati. Yang diceritakan adalah kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan Kiai Ahmad Dahlan yang rela melelang barang-barang rumah tangganya demi menggaji guru-guru di sekolah yang didirikannya. Kisah tentang bagaimana para pendahulu organisasi ini berdarah-darah mempertahankan sekolah dan panti asuhan di tengah gempuran penjajah dan keterbatasan ekonomi yang mencekik leher. Heroisme yang ditonjolkan adalah heroisme pengorbanan harta dan jiwa untuk memastikan roda organisasi tetap berputar memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Tidak ada bumbu mistis yang ditambahkan, karena realitas perjuangan mereka sudah cukup dramatis dan menggetarkan hati tanpa perlu tambahan efek khusus ala film Hollywood.

Justru di sinilah letak keunikan dan kekuatan narasi Muhammadiyah, yang berhasil membumikan sosok-sosok teladan menjadi manusia biasa yang bisa ditiru jejak langkahnya oleh siapa saja. Kiai Dahlan digambarkan bukan sebagai superman yang tak tersentuh, melainkan sebagai manusia biasa yang punya rasa cemas, punya masalah keuangan, tapi punya tekat baja untuk memajukan umatnya. Pendekatan ini membuat jamaah merasa relevan dan terhubung, karena mereka sadar bahwa untuk menjadi mulia tidak perlu menunggu punya sayap atau punya ilmu rawa rontek. Cukup dengan memiliki kepedulian sosial dan mau menyisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan bersama, siapa pun bisa menjadi pahlawan di lingkungannya masing-masing tanpa terkecuali. Ini adalah demokratisasi kesalehan yang luar biasa, di mana tiket masuk surga tidak dimonopoli oleh mereka yang punya privilege keturunan atau kesaktian tertentu.

Kesederhanaan dan kebermanfaatan menjadi dua kata kunci yang terus didengungkan di setiap kesempatan, seolah menjadi mantra wajib yang harus dihafal di luar kepala. Pejabat teras Muhammadiyah sering kali tampil dengan gaya yang jauh dari kesan glamor atau feodal, bahkan kadang sulit dibedakan mana pimpinan pusat dan mana marbot masjid saking sederhananya. Mereka mengajarkan bahwa jabatan dan kekayaan hanyalah alat titipan Tuhan yang harus digunakan seefektif mungkin untuk melayani umat, bukan untuk minta dilayani atau disembah-sembah. Budaya egaliter ini sangat kental terasa, di mana kritik dan masukan bisa disampaikan dengan terbuka tanpa rasa takut kualat pada sang pemimpin. Sebab di sini, yang disucikan adalah nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, bukan sosok individu yang dianggap setengah dewa.

Jamaah pengajian akan diajak untuk melihat bekal akhirat sebagai sebuah rangkaian panjang yang terhubung langsung dengan setiap tindakan kecil yang kita lakukan di dunia ini. Pandangan ini menolak dikotomi atau pemisahan yang kaku antara urusan duniawi dan ukhrawi, seolah-olah keduanya adalah dua kutub yang saling bermusuhan dan tidak bisa didamaikan. Di Muhammadiyah, bekerja mencari nafkah yang halal, belajar ilmu pengetahuan umum, dan berorganisasi adalah bagian integral dari ibadah itu sendiri jika diniatkan dengan benar. Jadi, jangan heran kalau rapat pengurus ranting yang membahas anggaran renovasi toilet masjid pun dianggap sama sakralnya dengan wirid di sepertiga malam terakhir. Karena toilet yang bersih akan membuat jamaah nyaman beribadah, dan kenyamanan itu adalah bagian dari pelayanan yang bernilai pahala di sisi Tuhan.

Melihat akhirat itu bukan sesuatu yang terpisah dari realitas kita saat ini, bukan sebuah dunia antah berantah yang baru akan kita masuki setelah jantung berhenti berdetak nanti. Akhirat adalah perpanjangan dari apa yang kita tanam hari ini, sebuah konsekuensi logis dari setiap keputusan yang kita ambil detik demi detik di dunia yang fana ini. Konsep ini memaksa kita untuk selalu sadar dan waspada dalam bertindak, karena setiap langkah punya dampak jangka panjang yang melintasi batas kematian. Tidak ada istilah "nanti saja tobatnya kalau sudah tua", karena membangun peradaban akhirat harus dimulai sejak muda dengan karya nyata yang monumental. Surga itu tidak bisa diraih hanya dengan melamun atau berangan-angan, tapi harus direbut dengan keringat dan kerja keras dalam menebar kebaikan di muka bumi.

Sesuatu yang wah dan megah di akhirat nanti hanyalah refleksi dari akumulasi kebaikan-kebaikan kecil yang kita tumpuk dengan telaten selama hidup di dunia. Bayangkan akhirat itu seperti sebuah celengan raksasa yang isinya adalah koin-koin amal jariyah yang kita masukkan setiap hari tanpa henti, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Muhammadiyah mengajarkan kita untuk menjadi investor akhirat yang cerdas, yang tahu portofolio amal mana yang memberikan dividen pahala paling besar dan berkelanjutan alias sustainable. Makanya mereka gencar membangun institusi pendidikan dan kesehatan, karena itulah jenis investasi yang pahalanya tidak akan putus meski investornya sudah terkubur di dalam tanah. Ini adalah strategi manajemen spiritual tingkat tinggi yang menggabungkan visi visioner dengan eksekusi lapangan yang presisi.

Dunia ini harus diisi dengan berlomba-lomba dengan kebaikan, sebuah kompetisi sehat yang tidak saling menjatuhkan tapi saling menguatkan satu sama lain dalam koridor kebajikan. Tidak ada waktu untuk saling sikut atau saling dengki melihat keberhasilan orang lain, karena fokus utama adalah bagaimana kita bisa memberikan kontribusi terbaik versi diri kita sendiri. Persaingan di sini bukan soal siapa yang paling kaya atau paling populer, tapi siapa yang paling banyak memberi manfaat dan solusi bagi permasalahan umat. Atmosfer kompetisi ini menciptakan dinamika yang positif, di mana setiap cabang dan ranting Muhammadiyah berlomba-lomba memamerkan prestasi amal usahanya, bukan memamerkan koleksi batu akiknya. Dan hebatnya, "pamer" di sini justru memicu semangat pihak lain untuk meniru dan melakukan hal yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Sehingga akhirat itu terlihat sebagai sebuah akumulasi kebaikan yang solid, bukan sekadar harapan kosong yang digantungkan pada doa orang lain setelah kita mati. Kita diajarkan untuk menjadi arsitek nasib kita sendiri di masa depan dengan menggambar desain amal saleh yang kokoh dan tahan uji sejak hari ini. Tidak ada jalan pintas menuju surga, tidak ada cheat code atau kode curang yang bisa dipakai untuk menembus gerbang keabadian tanpa bekal yang cukup. Semuanya harus melalui proses, melalui tahapan perjuangan yang kadang melelahkan dan penuh tantangan, tapi di situlah letak seninya beragama.

Muhammadiyah menawarkan jalan yang terjal tapi jelas petanya, bukan jalan yang terlihat mulus tapi ternyata menyesatkan ke lembah kemalasan dan fatalisme.

Makanya di Muhammadiyah ada salah satu semboyan yang terkenal yang dikutip dari Alquran, sebuah frasa pendek namun memiliki daya ledak yang luar biasa bagi siapa saja yang merenunginya: Fastabiqul Khairat. Kalimat ini bukan sekadar slogan tempelan yang dipajang di spanduk-spanduk acara atau kop surat organisasi semata. Ini adalah etos, ini adalah ruh, ini adalah bahan bakar nuklir yang menggerakkan mesin organisasi raksasa ini selama lebih dari satu abad lamanya. Fastabiqul Khairat yang berarti "berlomba-lombalah dalam kebaikan" adalah perintah suci yang diterjemahkan menjadi aksi nyata tanpa banyak basa-basi diplomasi. Semboyan ini menampar kita yang sering kali merasa cukup dengan menjadi orang baik yang pasif, padahal menjadi baik saja tidak cukup, kita harus berlomba menjadi yang terbaik dalam memberi manfaat.

Fastabiqul Khairat itu maknanya bukan balapan lari karung 17 Agustusan yang ada menang dan ada kalahnya, di mana yang kalah akan bersedih hati. Dalam konteks ini, semua orang bisa jadi pemenang asalkan mereka bergerak, asalkan mereka tidak diam berpangku tangan melihat ketidakadilan dan kebodohan merajalela. Ini adalah seruan untuk proaktif, inisiatif, dan progresif dalam merespons tantangan zaman yang semakin gila ini dengan solusi yang konstruktif. Ketika ada bencana alam, semangat ini mewujud dalam bentuk pasukan relawan yang turun duluan ke lokasi sebelum bantuan pemerintah sampai. Ketika ada wabah penyakit, semangat ini mewujud dalam kesiapan rumah sakit-rumah sakit Muhammadiyah menjadi garda terdepan penanganan pasien tanpa tanya isi dompetnya dulu.

Bentuk implementasinya di lapangan sangat beragam dan sering kali membuat kita geleng-geleng kepala karena saking totalitasnya orang-orang Muhammadiyah ini dalam beramal. Lihatlah bagaimana ibu-ibu Aisyiyah yang usianya sudah senja masih semangat mengelola Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal di pelosok desa dengan gaji yang mungkin hanya cukup untuk beli bensin motor. Lihatlah bagaimana para pemuda Muhammadiyah patungan uang jajan mereka untuk membedah rumah warga miskin yang hampir roboh tanpa mengharap diliput media massa. Lihatlah bagaimana LazisMu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah dengan manajemen modern yang transparan sehingga setiap rupiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya. Semua itu adalah manifestasi nyata dari Fastabiqul Khairat, bukan sekadar jargon kosong yang diteriakkan saat kampanye pemilihan ketua umum saja.

Semboyan ini juga mengajarkan kita untuk tidak cepat berpuas diri dengan pencapaian yang sudah diraih, karena di atas langit masih ada langit, di atas kebaikan masih ada kebaikan yang lebih besar. Jika hari ini sudah berhasil membangun satu sekolah, maka besok targetnya adalah membangun universitas, dan lusa targetnya mungkin membangun stasiun luar angkasa kalau perlu. Tidak ada kata berhenti atau pensiun dalam kamus perjuangan Muhammadiyah, karena berhenti berarti mati, berhenti berarti membiarkan kebatilan mengambil alih panggung sejarah. Semangat untuk terus bertumbuh dan berkembang inilah yang membuat organisasi ini tetap relevan dan segar meski zaman terus berubah dengan cepatnya. Mereka tidak sibuk meratapi masa lalu kejayaan Islam, tapi sibuk menyusun batu bata peradaban untuk kejayaan masa depan Islam yang berkemajuan.

Uniknya, kompetisi dalam kebaikan ini dilakukan dengan penuh kegembiraan, seolah-olah membangun rumah sakit itu sama asyiknya dengan main futsal bareng teman-teman satu geng. Tidak ada wajah-wajah tertekan atau menderita saat mereka dimintai sumbangan, yang ada justru senyum lebar karena merasa diberi kesempatan untuk menanam saham di akhirat. Dompet boleh menipis, rekening boleh berkurang, tapi hati mereka kaya raya dengan keyakinan bahwa apa yang mereka keluarkan akan kembali berlipat ganda dalam bentuk keberkahan. Logika matematika sedekah ala Muhammadiyah memang sering kali tidak masuk di akal para ekonom kapitalis, tapi terbukti ampuh menjaga cashflow organisasi tetap hijau royo-royo. Keajaiban itu nyata adanya, tapi bukan lewat jampi-jampi, melainkan lewat kekuatan jamaah yang solid dan ikhlas lillahi ta'ala.

Ciri khas lain dari implementasi Fastabiqul Khairat adalah profesionalitas dalam mengelola amal usaha, tidak dikelola dengan sistem manajemen "pokoknya jalan" atau manajemen warung kopi. Sekolah Muhammadiyah harus punya standar mutu yang jelas, rumah sakitnya harus terakreditasi paripurna, dan laporan keuangannya harus diaudit oleh akuntan publik independen. Mereka sadar bahwa niat baik saja tidak cukup, niat baik harus didukung dengan tata kelola yang baik agar hasilnya maksimal dan tidak malah menjadi beban di kemudian hari. Tuhan mencintai pekerjaan yang dilakukan dengan itqan (profesional/tuntas), dan Muhammadiyah berusaha menerjemahkan cinta Tuhan itu ke dalam SOP organisasi yang ketat. Jadi, jangan harap bisa korupsi di sini, karena malaikat pencatat amal dan auditor internal sama-sama galaknya dalam mengawasi setiap sen uang umat.

Bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun, semangat berlomba dalam kebaikan ini terasa denyutnya, misalnya dalam urusan ketepatan waktu memulai acara pengajian atau rapat organisasi. Budaya jam karet alias ngaret yang sudah mendarah daging di masyarakat kita berusaha dikikis pelan-pelan, meskipun kadang masih ada satu dua yang telat dengan alasan ban bocor yang klise. Disiplin waktu dianggap sebagai bagian dari amanah dan penghormatan terhadap waktu orang lain yang juga berharga untuk berbuat kebaikan lainnya. Menghargai waktu adalah menghargai kehidupan itu sendiri, dan orang Muhammadiyah tidak mau menyia-nyiakan kehidupan dengan menunggu hal-hal yang tidak pasti. Semuanya harus terencana, terukur, dan tepat sasaran, agar energi umat tidak habis hanya untuk urusan seremonial belaka.

Pada akhirnya, ajaran di pengajian Muhammadiyah ini menawarkan sebuah perspektif keberagamaan yang

Postingan Lama Beranda

TENTANG PENULIS


Ayah penuh waktu. Penyuka kue lupis dan tempe goreng. Bekerja sebagai penulis partikelir semi-amatir. Kadang-kadang juga jadi tukang dongeng

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

ACADEMIC LEARNING ACCESS

My Courses

KOMIKU

Memuat komik...

Artikel Populer

  • KAMUS BESAR BAHASA MELAYU-INDONESIA
  • KALAU MAU KAYA, JANGAN JADI DOSEN
  • EKSISTENSI DUA FORUM
  • KESEPIANNYA PARA ORANG TUA DI KALA SENJA
  • KAMUS [KECIL] BAHASA BELANDA - INDONESIA

Tulisan di Media Massa
Opini 1
Kompas.ID
Papan Bunga: antara Ekspresi Tulus dan Konsumerisme Berlebihan
Opini 2
DetikNews
Birokratisasi Kepahlawanan
Opini 3
DetikNews
Tsunami Jurnal di Indonesia
Opini 4
DetikNews
Disrupsi Alam dan Kebutaan Akademik Kita
Opini 1
DetikNews
Pendidikan (Tanpa) Kompetisi
Opini 2
DetikNews
Tanggung Jawab Media Sosial Pascapemilu
Opini 3
DetikNews
Senjakala Sekolah Negeri?
Opini 4
DetikNews
Kado Manis untuk Pekerja Migran
Opini 4
DetikNews
Rapat dan Efisiensi Anggaran
Opini 4
DetikNews
Menggugat Jurnal-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Konsep Pariwisata Bengkulu yang Berkelanjutan
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba
TribunNews Bengkulu
Menyelamatkan Ekonomi Bengkulu dari Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai
Opini 4
Tirto.ID
Senjakala Toko Buku di Indonesia, Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Opini 4
Tirto.ID
Empat Titik Kerawanan Pemungutan Suara di Luar Negeri
Opini 4
Tirto.ID
Salah Kaprah Susu Kental Manis: Literasi Gizi dan Tipu-Tipu Iklan
Opini 4
Taipei Times
University attraction to Indonesia
Opini 4
Media Indonesia
Pentingnya Literasi Digital di Era Modern

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 2

ADVERTORIAL 2
DMCA.com Protection Status

BUKU KAMI YANG TELAH TERBIT

Copyright © 2013-2024 Andi Azhar. Oleh Andi Azhar