[BUKAN] TOLERANSI

Menjelang akhir tahun, banyak bertebaran spanduk dan ajakan untuk merayakan hari raya suatu agama tertentu secara bersama-sama. Bingkai atau format acara yang ditawarkan adalah rasa toleransi dan silaturahmi. Mungkin bagi sebagai dari kita tidak mempersalahkannya, apalagi bagi mereka yang pernah mendapatkan pendidikan demokrasi serta kebebasan di dunia barat. Ini tentu bukan menjadi suatu hal yang perlu dikritisi bahkan [mungkin] suatu hal yang perlu didukung. Tapi mohon maaf, saya berbeda dalam melihat fenomena ini.

Bagi saya, toleransi antar umat beragama memang sangat perlu dilakukan. Bahkan rasulullah saw pun sudah memberikan contohnya ketika membuat perjanjian madinah. Toleransi umat beragama yang saya jalankan dan saya yakini adalah hanya berada pada wilayah muammalah. Wilayah ini hanya menyangkut pada urusan duniawi saja. Toleransi tidak masuk pada wilayah tauhid. Karena ini sudah menyangkut ajaran serta kepercayaan kita bahwa agama yang kita peluk adalah agama paling benar serta yang akan membawa kita pada kehidupan yang abadi. Apabila kita merayakan ibadah serta hari raya agama lain, secara tidak langsung kita mengakui bahwa agama mereka adalah benar. Ini berarti kita menduakan kebenaran agama kita yang sudah mutlak pembenarannya langsung dari Firman Tuhan.

Terlepas dari kepentingan-kepentingan yang ada di dalamnya, perayaan hari besar suatu agama tertentu secara bersama-sama dengan pemeluk agama lain juga akan membuat kerancuan dalam memilah serta menjaga aqidah pemeluk agama. 

Selain itu, saya juga menolak adanya doa bersama yang sering dilakukan di Indonesia. Karena tentu ini juga bertentangan dengan aqidah. Bagaimana mungkin, kepercayaan akan Tuhan dalam suatu agama yang sifatnya mutlak bisa ditolerir dengan adanya berdoa bersama dengan pemeluk agama lain. Saya akui bahwa niat dari pelaksanaan doa bersama itu mulia, namun tidak dengan cara seperti itu. Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap suatu peristiwa atau kejadian sebagai umat beragama.

Lalu bagaimana dengan sekedar mengucapkan selamat hari raya suatu agama tertentu? Disini sudah jelas, bagaimana nabi yang menjadi panutan kita sudah mencontohkan. Nabi sendiri yang dahulu juga banyak terdapat agam-agama lain, tidak pernah mengucapkannya. Lalu apakah kita sebagai umatnya berani menerjang dan berani melakukan apa yang nabi tidak pernah contohkan? Sekali lagi, ini kaitannya dengan aqidah, bukan semata-mata karena toleransi maupun basa-basi. Kita jangan terjebak pada label (sekali lagi) toleransi. Karena toleransi bukan berada pada wilayah aqidah. Kita memang diwajibkan baik kepada semua orang, kepada orang kafir sekalipun. Namun, tidak untuk urusan aqidah. Basa-basi memang perlu karena kita hidup diantara masyarakat yang majemuk, namun bukan dengan mengucapkan selamat hari raya. Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan basa-basi kita. 

Baru saja saya membaca berita tentang teman saya yang merupakan Caleg dari satu parpol untuk pemilu 2014. Dia didaulat untuk memberikan ceramah dan pidato di suatu tempat ibadah agama tertentu. Saya tidak mengerti apa urgennya dia hadir dalam perayaan hari besar agama tertentu tersebut dan memberikan ceramahnya. Memang, dia membutuhkan dukungan agar ia terpilih menjadi anggota DPR tahun depan, namun apakah sampai segitunya aqidah ia gadaikan dan kesampingkan demi suara serta atas nama toleransi? Lebih lanjut, apa iya ketika kita didaulat untuk memberikan sambutan atau ceramah di suatu tempat ibadah agama tertentu kita akan menyeru kepada kebenaran agama kita sendiri? Misalkan kita menyeru : Peluklah agama saya, karena itu kebenaran mutlak. Peluklah agama saya, karena agama kalian salah, dan sebagainya. Selain itu, apakah Tuhan akan rela kita mendatangi tempat yang didalamnya ada sekelompok manusia yang senantiasa menduakan-Nya.

Masih belum hilang dari ingatan kita ketika hari raya idul fitri atau idul adha, ada sekelompok pemuda / warga yang dengan senang hati menjaga pelaksanaan sholat hari raya. Alasannya klasik, semua orang ingin fokus pada ibadah sholatnya, sehingga untuk urusan keamanaan kiranya ada pemeluk agama lain yang harus menjaganya. Apakah iya (kita kembali bertanya) untuk urusan seperti itu kita harus menyerahkannya kepada umat lain? Tidak adakah relawan dari umat kita untuk menjaga keamanan sehingga harus mengimpor dari umat agama lain. Kita harus mencermati bagaimana membedakan antara kebutuhan, kepentingan, dan aqidah. Dan mungkin di akhir tahun akan ada juga sekelompok masyarakat dari umat agama tertentu yang akan menjaga keamanan perayaan ibadah agama lain. Sekali lagi, alasan yang akan digunakan selalu berkutat pada istilah toleransi. Tolong menolong tidak masalah, bahkan dengan umat agama lain sekalipun. Namun bukan pada wilayah aqidah dan tauhid.

Sebagai umat Tuhan yang meyakini segala kebenaran agama-Nya serta firman-Nya, juga sabda nabi-Nya, kita wajib mematuhi serta menjalankan apa yang sudah kita yakini. Toleransi memang penting, namun hanya berada di wilayah muamallah, tidak lebih dari itu. Sudah saatnya kita sadar dengan apa yang terjadi disekitar kita dan kita wajib membela apa yang kita yakini kebenarannya.
Wallahu'alam bisshowab

dR.

* Gambar dari sini
** Tulisan ini tidak bermaksud mengangkat isu SARA, hanya mencoba memberikan pandangan dari sisi Aqidah
*** Tulisan ini murni pendapat subjektif penulis

Share:

0 komentar