MENCERMATI PESAN KIAI DAHLAN DALAM KONTEKS KEKINIAN

"Kita itu boleh punya prinsip, asal jangan fanatik. Karena fanatik itu ciri orang bodoh..........."

Kutipan diatas dilontarkan oleh Kiai Dahlan ketika mengajari murid-muridnya dalam pengajian puluhan tahun lalu. Dalam film Sang Pencerah garapan sutradara Hanung Bramantyo pun, kutipan diatas ditampilkan sebagai salah satu Gong di bagian akhir film layar lebar tersebut. Namun hari ini entah kenapa saya menjadi tertarik untuk mencermatinya. Mungkin dikarenakan semalam ada teman yang kebetulan mengupload kutipan itu dalam wall facebook nya atau bisa juga karena melihat fenomena tentang dukungan "masyarakat" terhadap salah satu sosok untuk menjadi seorang calon presiden dalam pemilu 2014. Entahlah, yang jelas saya hanya ingin mencoba mengeluarkan uneg-uneg tentang fenomena menggilanya masyarakat terhadap para tokoh-tokoh politik di Indonesia yang digadang menjadi calon kepala daerah maupun kepala negara. Padahal fanatisme ini tak hanya berkisar dalam ruang politik semata, kini fanatisme telah merangsek masuk dalam semua sisi kehidupan masyarakat. Namun, politik selalu mencuri perhatian saya. Ya, politik selalu menarik untuk menjadi topik walau bagi sebagian orang ini menjadi sampah sosial.

Saat ini masyarakat dihadapkan pada bulan-bulan politik yang merupakan bulan panas sebelum dilaksanakannya pemilihan umum yang rencananya digelar tanggal 9 April 2014. Sebagai bulan politik, masyarakat disodorkan berbagai tawaran maupun paket tokoh yang akan memimpin maupun yang akan mewakilinya di parlemen dimasa yang akan datang. Kini masyarakat bak pengunjung restoran dan raja yang disodorkan banyak menu pilihan untuk dipilih. Padahal kemarin-kemarin, "mungkin" mereka hanya dianggap sebagai objek pelengkap semata.

Sudah tidak heran lagi kini kita melihat banyak dukungan-dukungan kepada orang-orang tertentu. Bahkan ada yang sampai mengkultuskannya. Setiap hari masyarakat mengelu-elukan tokoh tersebut untuk maju dalam pencalonan presiden, serta membuat semacam gerakan yang mengajak kepada orang lain untuk menularkan virus dukungannya kepada orang lain. Bagi saya ini tidak masalah dalam politik, karena memang itu menjadi sesuatu yang sah dan legal. Namun yang membuat saya menarik adalah fenomena adanya fanatisme terhadap tokoh. Mungkin bagi mereka yang merupakan pendukung, ini menjadi tidak masalah karena ini adalah bentuk nyata keinginan mulia mereka menjadikan tokoh tersebut sebagai seorang pemimpin yang [diharapkan] kelak akan membawa suatu perubahan. Tapi lain halnya bagi yang sering menikmati proses politik serta sejarah pemimpin dunia. Ini menjadi catatan penting agar masyarakat tidak mengulang sejarah yang kelam dan tentunya bisa belajar dari mereka.

Dalam sejarah, kita mengenal banyak pemimpin-pemimpin dunia yang sangat digandrungi oleh pendukungnya. Sebut saja Lenin, Hitler, Mussolini, bahkan Soeharto. Dahulu masyarakat sangat fanatik dan tergila-gila oleh citra maupun pribadi tokoh tersebut. Mereka bahkan ada yang sampai mengkultuskannya. Namun pada akhirnya, mereka mencerca, mencacimaki, bahkan menghujatnya ketika mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dari yang awalnya mendukung, mereka berubah menjadi sebaliknya setelah tahu bahwa semua itu hanya buaian citra semata. Mereka semua awalnya mendapat dukungan luar biasa dari masyarakat hingga mereka bisa melanggengkan kekuasaan, bahkan ada yang sampai puluhan tahun. Namun lihat saja di akhirnya, masyarakat sendirilah yang menjatuhkannya, membencinya, serta menyumpahinya. Ini yang ditakutkan akan terjadi di Indonesia di masa mendatang.

Saat ini kita melihat banyak sekali klaim-klaim masyarakat yang mendukung seorang calon untuk menjadi seorang pemimpin. Lihat saja ada yang sampai membuat suatu gerakan memberikan surat dukungan kepada masyakarat serta memakai simbol tokoh tersebut di hari tertentu sebagai wujud mendukung tokoh tersebut maju dalam pemilihan presiden. Padahal, kita sendiri belum tau bagaimana track record sebenarnya dari tokoh tersebut. Sebagai orang awam, boleh saja kita dibohongi oleh kemasan-kemasan berita yang senantiasa menyanjung tokoh tersebut. Namun tentunya sebagai manusia yang memiliki akal pikiran serta Tuhan dalam dirinya, kita tidak bisa serta merta mempercayai fenomena yang ada. Sejarah sudah berbicara dan membuktikannya. Namun mungkin sebagian dari kita telah lupa akan bagaimana nalar itu harus bekerja.

Kembali ke pesan Kiai Dahlan, beliau sudah jauh-jauh hari mewanti-wanti agar kita tidak terjerumus dalam fanatisme. Beliau sendiri juga melarang murid-muridnya taqlid serta mengkultuskan manusia. Melihat dari sejarah yang sudah terjadi, bagi saya ada benarnya apa yang dikatakan oleh Kiai Dahlan tersebut. Dan kini masyarakat kita sedang digiring kearah fanatisme tersebut.

Mungkin bagi sebagian orang yang pernah membaca data survey resmi, maka mereka akan geleng-geleng dengan apa yang terjadi saat ini. Di media banyak tokoh yang tampaknya baik serta karismatik, padahal kenyataannya tidak mampu mengeluarkan masyarakat dari masalah-masalah yang menjeratnya ketika ia memimpin. Banyak program-program yang digulirkan hanya sebagai bentuk program populis yang ditujukan untuk menaikkan citra. Bagi saya mereka kini bukan hanya melakukan program populis semata, melainkan mereka juga sudah membuat program yang reaksionis. Program yang dibuat disesuaikan dengan apa yang sedang menjadi topik saat itu juga. Memang secara popularitas, program seperti ini akan sangat membantu menaikkan derajat citra positif serta kepopuleran tokoh, namun lagi-lagi ini tidak menyelesaikan akar permasalahan masyarakat. Entah mengapa hasil olah survey akademis yang seperti ini nampaknya seperti ditutup-tutupi agar tidak merontokkan popularitas tokoh yang tengah dinaikkan tersebut.

Masyarakat kini dihadapkan pada dua hal, membuka tajam penglihatannya agar bisa melihat secara jernih apa yang sebenarnya terjadi, namun mereka tentu akan melawan arus serta dihujat oleh pendukungnya, atau akan ikut tutup mata untuk mengikuti arus yang ada serta berfanatisme ria menutup nalar logika. Semua kita kembalikan kepada masyarakat. Kata orang masyarakat kita kini sudah cerdas dan berbeda. Benar atau salah ungkapan ini, saya hanya bisa bilang wallahu'alam bishowab. Ya, semoga saja apa yang dikhawatirkan oleh Kiai Dahlan tidak terjadi. Semoga !!!

dR.

*Gambar dari sini

Share:

0 komentar