PENSIUNAN SERDADU DAN ENERGI YANG BERLEBIH

Baca Juga

Di Jerman, ada tradisi yang sederhana dan terasa menenangkan. Seorang perwira tinggi Bundeswehr yang pensiun menggelar pertemuan kecil dengan keluarga. Ia menerima jam tangan dari rekan kerja. Setelah itu, ia pergi ke pedalaman Bavaria. Ia menanam kentang atau memelihara lebah. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada orasi nasionalisme. Hanya hidup yang berjalan pelan.

Praktik ini tidak berdiri sendiri. Di Eropa Barat dan Amerika Utara, masa pensiun militer memang diarahkan ke kehidupan sipil yang tenang. Data OECD menunjukkan usia pensiun perwira berkisar 55 sampai 60 tahun. Tunjangan yang mereka terima cukup untuk hidup layak. Pensiunan jenderal Amerika Serikat, misalnya, mendapat sekitar 70 persen dari gaji terakhir. Mereka juga mendapat fasilitas kesehatan seumur hidup. Kebutuhan hidup tercukupi tanpa harus mencari jabatan baru.

Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Di Swedia, ada konsep hidup yang disebut lagom. Artinya cukup, tidak berlebihan. Pensiunan jenderal di sana memilih kegiatan sederhana. Mereka menjadi sukarelawan di perpustakaan. Mereka mengajar anak muda. Mereka duduk di tepi danau sambil memancing. Mereka tidak sibuk membangun lembaga atau tampil di ruang publik. Mereka menjalani hidup yang tenang.

Survei Gallup tahun 2022 menunjukkan hal serupa. Pensiunan di negara Nordik termasuk yang paling bahagia. Salah satu faktor utamanya adalah kemampuan untuk berhenti. Berhenti bekerja. Berhenti berkuasa. Berhenti merasa diri selalu dibutuhkan. Tidak semua orang mampu melakukan ini.

Bandingkan dengan satu negara tropis yang akrab bagi kita. Tanahnya subur. Rakyatnya ramah. Para pensiunan jenderalnya tetap aktif di ruang publik. Energinya seolah tidak habis meski sudah tidak memegang jabatan militer.

Di sini, pensiun bukan akhir. Pensiun menjadi jeda sebelum peran baru. Banyak yang masuk ke jabatan sipil. Mereka menjadi komisaris BUMN. Mereka duduk di kabinet. Mereka memimpin lembaga negara. Sebagian menjadi ketua yayasan dengan nama besar. Semua dibingkai sebagai pengabdian.

Narasi yang sering muncul sederhana. Negara masih membutuhkan kami. Kalimat ini terdengar mulia. Di saat yang sama, ia menyimpan asumsi besar. Seolah negara akan goyah tanpa kehadiran mereka. Kalimat ini juga memberi legitimasi pada fasilitas baru. Meja kerja, mobil dinas, staf, dan gaji baru hadir bersamaan dengan tunjangan pensiun yang tetap berjalan.

Harold Lasswell pernah menulis tentang pengaruh kekuasaan pada kepribadian. Orang yang lama berada dalam posisi kuasa terbiasa dihormati dan dipatuhi. Saat semua itu hilang, muncul ruang kosong dalam diri. Tidak semua orang siap menghadapi kondisi ini. Sebagian mencoba mengisinya dengan aktivitas baru yang tetap memberi rasa penting.

Dari situ muncul pola yang mudah dikenali. Pensiunan yang tetap aktif di ruang publik. Mereka menulis memoar tebal. Mereka membentuk organisasi. Mereka hadir di seminar. Mereka berbicara tentang arah negara. Pembuka kalimatnya sering menegaskan identitas sebagai purnawirawan yang mencintai tanah air. Seolah posisi itu memberi otoritas moral tambahan.

Tidak semua seperti itu. Ada juga yang bekerja tanpa sorotan. Mereka turun ke daerah bencana. Mereka membangun sekolah di perbatasan. Mereka bekerja tanpa kamera. Kelompok ini ada dan penting. Kehadiran mereka menunjukkan tidak ada satu wajah tunggal bagi pensiunan serdadu.

Meski begitu, pola umum tetap terlihat. Keterlibatan di ruang sipil dan politik berlangsung terus. Nasionalisme sering dijadikan pelindung dari kritik. Siapa pun yang mempertanyakan mudah dianggap tidak nasionalis. Jika diam, publik dianggap setuju. Situasi ini menciptakan tekanan yang halus tapi efektif.

Ada dugaan sederhana tentang sumber masalah ini. Kehidupan militer membentuk disiplin tinggi. Tubuh dan pikiran terbiasa aktif. Saat struktur itu hilang, energi tidak ikut hilang. Energi itu mencari saluran. Ruang sipil menjadi pilihan paling dekat dan paling bergengsi.

Jika ada program yang mengarahkan energi itu ke aktivitas lain, situasinya mungkin berbeda. Berkebun, mengajar, atau kegiatan komunitas bisa menjadi pilihan. Aktivitas ini memberi makna tanpa membawa dampak politik yang besar. Ini bukan bentuk penurunan derajat. Ini bentuk penyesuaian peran.

Masalah utamanya ada pada desain sistem. Masa pensiun belum dirancang sebagai transisi yang utuh. Di beberapa negara, ada program khusus untuk membantu prajurit kembali ke kehidupan sipil. Ada pelatihan kerja. Ada konseling. Di sini, jalur yang tersedia lebih banyak mengarah ke jabatan baru. Pintu keluar menuju kehidupan biasa terasa sempit.

Akibatnya, siklus terus berulang. Pensiunan masuk ke ruang kekuasaan baru. Publik melihat dan bereaksi dengan cara yang khas. Ada yang menerima. Ada yang menyindir. Ada yang membuat lelucon di media sosial. Semua berjalan bersamaan tanpa perubahan berarti.

Pertanyaan penting perlu diajukan. Apakah kontribusi selalu harus berbentuk jabatan dan kekuasaan. Apakah pengalaman dan pengetahuan tidak bisa disalurkan dengan cara lain. Pilihan ini jarang dibahas secara serius.

Di Bavaria, seorang mantan jenderal memeriksa sarang lebahnya. Hidupnya sederhana. Tidak ada sorotan media. Tidak ada konferensi pers. Ia menjalani hari tanpa mengganggu ruang publik. Gambaran ini terasa jauh. Bukan karena tidak mungkin. Tapi karena belum menjadi kebiasaan.

Bagikan artikel ini:

0 comments