PULANG KE INDONESIA DI MASA PANDEMI ; PENGALAMAN KARANTINA DI WISMA ATLET

Sebelum memutuskan untuk kembali ke Indonesia, saya dan istri terlibat diskusi panjang hampir tiap malam selama beberapa bulan terakhir. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan kami berdua dalam beradu argumen mencari jalan terbaik tentang permasalahan apakah kami masih harus tinggal di Taiwan atau pulang saja ke Indonesia, mengingat kami sebenarnya tinggal menunggu waktu saja untuk melengkapi persyararan agar bisa sidang akhir. Dan kamipun  memilih kembali ke Indonesia sebagai sebuah mufakat bersama. Banyak pihak yang menyayangkan keputusan kami ini, termasuk dekan-dekan dan professor di kampus saya yang sampai marah karena saya memutuskan pulang.


“Andi, you’re stupid. Your decision to back to Indonesia is a stupid decision”

“I don’t have enough resources if we keep to stay here”

“What are resources you need? Money? Jobs? I can give you those things”

“No, Prof. There are several principal thing that be our consideration, like social environment for our babies and etc”


Dan tanggal 2 Maret yang lalu saya berpamitan dengan mereka melalui pesan WhatsApp. Mereka pun akhirnya mengalah dan menerima keputusan saya untuk kembali ke Indonesia. Tanggal 3 Maret kami berempat berangkat menuju Indonesia dengan barang bawaan berupa 1 stroller besar untuk anak kembar, 2 koper besar, 1 tas jinjing, 2 tas ransel, dan 1 tas laptop. Ditambah saya dan istri masing-masing menggendong bayi karena anak kami kembar. Dan dari sinilah cerita ini dimulai.


***


Kami berangkat pukul 3 subuh dari rumah kontrakan kami di Kota Chiayi, Taiwan menggunakan sebuah mobil yang khusus kami sewa untuk mengantarkan kami ke bandara. Mobil ini sebenarnya adalah semacam taksi tidak resmi milik seorang kenalan dari teman kami. Perjalanan dari Kota Chiayi menuju bandara internasional Taoyuan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Pukul 6 pagi kami sudah sampai di bandara dan langsung menuju tempat untuk check in. Saat check in, kami diminta untuk mendownload aplikasi eHAC sebagai salah satu syarat agar bisa masuk wilayah Indonesia di masa pandemi. eHAC bisa diisi jika sudah check in karena salah satu poin yang harus diisi adalah nomor kursi di pesawatnya. Jika bepergian dengan keluarga atau teman, cukup salah satu saja yang mengisi eHAC tersebut. Satu eHAC bisa untuk beberapa orang sekaligus (diisinya). Bagi yang berangkat dari Taiwan, di counter sebelum check in, kita juga akn diminta menulis nama dan nomor paspor kita ke formulir yang disediakan. Formulir ini berfungsi sebagai salah satu bentuk pendataan siapa-siapa saja yang datang ke Bandara, sehingga ketika terjadi ada kasus positif di bandara, tracingnya menjadi lebih mudah.


Para WNI yang akan masuk ke Wisma Atlet Pademangan (Foto : Beritasatu Photo/Joanito De Saojoao)


Oya, untuk peraturan terbaru dari Satgas COVID 19 Indonesia, semua orang yang masuk ke wilayah Indonesia wajib menyertakan hasil tes PCR yang berlaku 3 hari tanpa terkecuali. Kami disini sempat kebingungan dengan aturan ini, karena menurut aturan ini bayi umur berapapun juga wajib di PCR. Ini berbeda dengan aturan-aturan sebelumnya dimana bayi dibawah 2 tahun tidak wajib di PCR. Oleh karena itu, kami harus mengeluarkan biaya ekstra. Total biaya untuk PCR kami berempat sebesar 10 juta rupiah. Ini sudah yang paling murah di Taiwan. Untuk PCR bayi, pemerintah Indonesia memberikan keringanan tidak wajib di swab melalui hidung, namun bisa melalui mulut. Oleh karena itu ketika kami melakukan PCR di rumah sakit St Martin Kota Chiayi, dokter menanyakan apakah Indonesia menerima PCR dari mulut untuk bayi. Untuk bayi, PCR melalui hidung bisa jadi cukup menimbulkan trauma. Dengan PCR melalui mulut, ini cukup jadi solusi agar bayi tidak menangis dan traumatik. Tes PCR melalui mulut lebih seperti ketika bayi diperiksa amandelnya oleh dokter dengan menggunakan stik untuk menekan lidah kebawah, lalu diambil sampel cairan di tenggorokannya. Saat check in, kami diminta menunjukkan hasil PCR dan petugas check in akan mengeceknya melalui komputer. Setelah itu prosesnya sama seperti keberangkatan internasional biasanya.


Di pesawat, kita akan diminta mengisi dua buah formulir. Satu formulir adalah formulir bea cukai dan yang satu lagi adalah formulir untuk pengisian data validasi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Data yang diminta adalah data dasar seperti nama, tempat tanggal lahir, dan nomor paspor. Kedua formulir ini penting dan akan ditanyakan saat turun nanti. Oleh karena itu lebih baik diisi semua saat di pesawat untuk memudahkan proses di bandaranya sehingga tidak perlu mengisi lagi. Setibanya di bandara, kita akan dikumpulkan oleh petugas untuk menyiapkan pengisian formulir. Formulir ini sama dengan formulir yang dibagikan di pesawat tadi. Bagi yang sudah mengisi di pesawat, maka bisa langsung tunjukkan ke petugasnya sehingga bisa langsung mengambil antrian untuk validasi. Setelah formulir terisi, kita akan diminta maju ke alat untuk membaca eHAC. Disini kita diminta menunjukkan QR Code dari eHAC yang sudah kita buat tadi. Ini sebagai proses input data kedatangan WNI repatriasi di masa pandemi. Dari counter eHAC, kita akan diarahkan untuk antri menuju counter kantor kesehatan bandara untuk validasi formulir yang sudah kita isi sebelumnya, sekaligus menyerahkan hasil PCR dari negara asal. Di bagian ini juga kita akan ditanya statusnya di luar negeri, apakah liburan, pekerja migran, atau pelajar. Bagi yang berstatus pelajar, maka kita akan diminta menunjukkan bukti bahwa kita adalah pelajar/mahasiswa di luar negeri. Kemarin kami cukup menunjukkan kartu mahasiswa sebagai buktinya. Di counter ini juga kita akan ditentukan apakah akan melakukan karantina di hotel secara mandiri atau di Wisma Atlet Pademangan. Sebagai informasi, berdasarkan aturan terbaru per 9 Februari 2021, yang boleh karantina di wisma Atlet Pademangan adalah mereka yang berstatus sebagai pekerja migran dan pelajar/mahasiswa. Bagi yang berwisata/liburan, maka mereka melakukan karantinanya di hotel yang sudah ditentukan oleh pemerintah dan membayarnya sendiri. Untuk yang di wisma atlet gratis. Selepas validasi PCR dan formulir, serta sudah tau apakah akan karantina di hotel atau wisma atlet, selanjutnya kita diarahkan menuju counter yang dijaga bapak-bapak tentara untuk pengecekan final berkas-berkas yang sudah divalidasi. Setelahnya baru kemudian kita bisa mengambil koper dan barang-barang bawaan lainnya.


Di pintu keluar, bagi yang memilih karantina di mandiri, kita akan melihat banyak orang yang berjejer menjemput sembari membawa tulisan nama kita. Ini jika kita sudah konfirmasi/booking hotel tersebut sebelumnya. Jika belum, maka kita bisa membooking hotelnya di depan pintu keluar. Disana ada beberapa stand yang ditunggu oleh petugas hotel untuk menawarkan apakah mau karantina di hotel mereka atau tidak. Termasuk kita bisa negosiasi soal harganya. Bagi yang memilih karantina di wisma atlet, maka kita akan diarahkan menuju bis damri yang sudah berjejer menunggu. Para petugas akan mengarahkan kita harus naik ke bis yang mana. Sebagai informasi, dalam satu bus tidak boleh diisi penuh bangkunya sesuai protokol kesehatan. Perjalanan dari bandara Soekarno Hatta ke Wisma Atlet Pademangan memerlukan waktu sekitar 1 jam jika tidak terjebak macet. 



***


Sesampainya di Wisma Atlet Pademangan, seluruh penumpang tidak boleh turun sampai diberikan instruksi oleh petugas. Ini untuk menghindari kerumunan dalam pengambilan bagasi maupun proses masuk. Sembari menunggu di dalam bus, ada petugas yang akan memberikan pengarahan tentang aturan main karantina di Wisma Atlet Pademangan. Disini kita akan diminta menuliskan beberapa informasi di kertas formulir yang tadi dibagikan saat di pesawat. Kita diminta menuliskan beberapa informasi di belakang formulir seperti nama, tempat dan tanggal lahir, nomor paspor, kota tujuan, negara asal, dan nomor kontak yang bisa dihubungi (bisa keluarga / teman) untuk narahubung jika terjadi kejadian darurat. Ketika sudah diizinkan turun, kita diminta untuk mencuci tangan dan langsung diarahkan ke ruang tunggu untuk proses selanjutnya.


Di ruang tunggu ini, kita akan diminta mengisi beberapa formulir lagi untuk mendapatkan kunci kamar. Nantinya akan ada petugas yang akan memberikan instruksi tentang pengisian formulir ini dan menjelaskan fasilitas apa saja yang akan didapat dalam masa karantina ini. Selanjutnya kita diminta mencari dua orang lain untuk jadi teman sekamar kita selama karantina. Sebagai informasi, di Wisma Atlet Pademangan ini satu kamar diisi oleh 3 orang dimana satu kamar berisi dua orang dan satu kamar lainnya diisi oleh satu orang saja. Kamarnya cukup nyaman, seperti apartemen. Luasnya sekitar 47 meter persegi dan ada ruang tamu serta dapurnya. Kamar juga sudah full AC dan ada kamar mandi dalam. Sabun, sampo, sabun cuci, hingga handuk juga sudah tersedia. Pengelola layanan wisma ini adalah anak usaha dari hotel ternama di Indonesia, sehingga layanan kamar di Wisma Atlet ini juga mirip seperti di hotel-hotel bintang 3. 


Setelah kita mengisi formulir tadi, kita akan diarahkan ke counter check in Wisma Atlet. Petugas akan meminta tandatangan persetujuan kita tentang layanan Wisma, termasuk didalamnya ada denda yang harus dibayar jika kita merusak maupun menghilangkan barang yang ada di dalam kamar Wisma. Setelah itu, petugas akan memberikan kunci kamar sekliagus meminta paspor kita untuk ditahan dan akan dikembalikan di hari terakhir karantina berbarengan dengan penyerahan surat klirens untuk melanjutkan perjalanan setelah dinyatakan negatif Covid 19. Dari counter check in, kita akan diarahkan ke counter tes swab / PCR. Di bagian ini petugas akan meminta nama kita untuk dituliskan di tabung kecil untuk meletakkan batang / stick sampel cairan hidung kita. Kita akan diminta menunggu giliran hingga nantinya dipanggil untuk di tes swab. Kemarin saat tes swab yang pertama, saya merasa kesakitan (bahkan terasa lebih sakit dibanding tes swab yang di Taiwan). Bagi anak-anak / bayi, juga akan dilakukan tes swab ini namun melalui mulut. Selesai dari tes swab ini, kita akan diarahkan menuju kamar masing-masing. Di tower 9, liftnya ada 4, namun yang satu sudah lama tidak berfungsi. Di lift ini kita harus menunggu agak lama karena kapasitasnya yang tidak bisa diisi penuh mengingat kondisi pandemi saat ini sekaligus adanya barang-barang bawaan masing-masing. 


Selama masa karantina, kita akan mendapatkan nasi kotak sebanyak 3 kali dalam sehari ditambah air mineral dan buah pisang. Untuk pisang dan air mineral, boleh mengambil lebih dari satu. Makanan akan tersedia jam 7 pagi, jam 12 siang, dan jam 7 malam. Biasanya tepat waktu, namun beberapa kali juga terlambat hingga satu jam lamanya. Nasi kotak ini tersedia di depan lift lantai masing-masing yang akan dijaga oleh tentara. Bagi yang ingin minum kopi, minum teh, atau mencari makanan lainnya seperti bakso maupun soto, bisa pergi ke kantin yang terdapat di lantai 1. Bagi yang membawa anak seperti saya dimana saya harus terus menyediakan air panas untuk kebutuhan susu dan makanan bayi, maka air panas bisa beli di kantin. Harganya sekitar 5 ribu rupiah untuk satu teko sedang. Untuk yang merokok, juga disediakan berbagai macam rokok di kantin ini.


Jika hasil tes swab pertama kita ketika baru tiba di Wisma itu negatif, maka tidak akan ada panggilan untuk bersiap di evakuasi. Namun bagi yang hasil swabnya positif, maka akan ada petugas khusus berpakaian hazmat yang akan mendatangi kita dan memberikan instruksi untuk proses evakuasi. Tes swab yang kedua dilaksanakan di hari keempat sejak kedatangan. Biasanya dilaksanakan pagi hari. Sebelum di swab, kita akan diminta mengisi eHAC lagi untuk perjalanan domestik. Petugas swab akan meminta kita menunjukkan QR Code dari eHAC kita sebelum dilakukan swab yang kedua. Kami kemarin didatangi oleh petugas saat subuh dan di tes swab yang kedua di kamar. Pun begitu juga dengan kedua putri kembar kami. Mereka yang masih tertidur kami bawa ke ruang tamu untuk di swab melalui mulut. Hasil tes ini akan diberikan malam harinya dengan sebuah surat kliren dan rekomendasi untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Jika sudah mendapatkan surat kliren ini, maka kita diwajibkan check out dari wisma. Kami sendiri diberikan keringanan untuk bisa tetap tinggal di wisma sampai pukul 6 pagi karena ada dua bayi dan penerbangan kami selanjutnya baru siangnya.


Bagi yang memilih karantina di Wisma Atlet Pademangan, maka jangan heran dengan seringnya pengumuman untuk meminta semua penghungi wisma masuk ke kamar masing-masing karena ada proses evakuasi pasien positif Covid 19. Sehari bisa tiga hingga lima kasus. Bahkan pengumuman bahwa makanan telah siap juga akan disampaikan melalui pengeras suara yang ada di tiap lantai. Sehingga dalam sehari akan sering kita mendengarkan banyak informasi melalui pengeras suara.


***


Saran


Dari pengalaman lima hari menjalani karantina di Wisma Atlet Pademangan, maka ada beberapa saran yang bisa dijadikan referensi jika ada yang mau mengambil pilihan melakukan karantina di tempat ini juga.

  1. Bagi yang berangkat dari Taiwan, tidak perlu mengambil tes PCR yang sehari jadi karena biayanya cukup mahal untuk one day service. Bisa ambil yang reguler, karena hampir semua layanan tes PCR reguler dari rumah sakit di Taiwan sudah bisa diambil dalam dua hari kerja. Ini bisa menghemat banyak biaya. Perbedaannya bisa 1 juta rupiah sendiri. Layanan reguler juga masih bisa diakui hasil tes PCR nya karena berlakunya 3 hari. Kecuali jika memang ada kebutuhan mendesak untuk segera mendapatkan hasil tes PCR, maka ini lain ceritanya
  2. Bawa pulpen di saku dan pastikan bisa digunakan. Selama proses check in di bandara hingga check in di wisma atlet, banyak sekali formulir yang harus diisi menggunakan tulisan tangan. Oleh karena itu sebaiknya kita selalu membawa pulpen di saku
  3. Jika membawa bayi, maka minta untuk diberikan prioritas selama proses pengurusan baik di Taiwan maupun setelah sampai di Indonesia. Kemarin saya banyak diberikan kemudahan karena membawa bayi kembar, sehingga dari mulai naik pesawat hingga masuk kamar selalu diberikan prioritas
  4. Bawa stok masker agak banyak. Kenakan dua masker sekaligus untuk perlindungan maksimal. Jika memungkinkan, gunakan masker N95 agar lebih maksimal. Jangan sekalipun melepas masker ini kecuali sudah sampai di kamar wisma karena kita tidak tahu apakah ada droplet yang beterbengan di sekitar kita atau tidak
  5. Ketika mengambil makanan, sebaiknya di akhirkan saja untuk menghindari kerumunan. Makanan tidak akan kekurangan, bahkan cenderung berlebih terus. Hindari berkerumun karena kita tidak tahu siapa diantara kita yang positif dan menjadi carrier virus ini
  6. Bawa beberapa cemilan ringan dari negara asal untuk cemilan selama masa karantina. Jangan sering order makanan via online karena harus mengambil sendiri ke pos 1 yang dijaga oleh para tentara. Jika kita tidak mendapat izin dari tentara, maka kita tidak dibolehkan keluar mengambil orderan kita tersebut
  7. Bawa beberapa vitamin C dan multivitamin lainnya selama masa karantina untuk menguatkan imun dan menjaga kondisi badan karena selama karantina kita akan kurang banyak bergerak.
  8. Hindari mengobrol dengan orang lain di luar kamar karena bisa jadi penularan terjadi melalui hal-hal kecil semacam ini
  9. Selalu sediakan hand sanitizer dan bersihkan tangan anda setelah memegang sesuatu
  10. Bagi yang akan memilih untuk karantina di hotel, siapkan budget sekitar 6 hingga 9 juta rupiah untuk biaya karantina. Kemarin kami ditawari untuk tinggal di hotel dengan biaya 13 juta rupiah untuk dua dewasa dan 2 bayi. Ini katanya salesnya sudah termasuk murah karena di tempat lain bahkan bisa sampai diatas 15 juta rupiah
  11. Siapkan tisu disinfektan maupun cairan semprot disinfectan yang FOOD GRADE. Ini berfungsi untuk membersihkan setiap barang dari luar kamar seperti paket orderan makanan maupun nasi kotak jatah
  12. Selama karantina kemarin, saya mengkonsumsi ekstrak sambiloto dan qust al hindi untuk menjaga kondisi tubuh
  13. Gunakan pakaian yang berbeda antara saat keluar kamar dengan pakaian yang digunakan di dalam kamar untuk menghindari menyebarnya virus melalui pakaian
  14. Layar ponsel juga sering di bersihkan menggunakan tisu disinfektan karena ponsel adalah barang yang sering sekali disentuh sehingga bisa jadi ini menjadi media penularan
  15. Buat suasana hati selalu gembira karena hati yang gembira akan menaikkan daya imunitas tubuh


***


Pemerintah sebenarnya telah memberikan fasilitas yang istimewa untuk para WNI (khususnya para pekerja migran dan pelajar) yang kembali ke Indonesia di masa pandemi ini. Fasilitas berupa karantina gratis selama lima hari ini merupakan sebuah filter pertama untuk mencegah menyebarnya virus corona yang bisa jadi dibawa oleh mereka yang baru kembali dari luar negeri. Walaupun masih banyak kekurangan disana-sini, namun upaya pemerintah ini patut diacungi jempol dan didukung. Pandemi ini benar-benar telah merubah gaya hidup kita 180 derajat. Jika kita ingin mengembalikan semua kehidupan kita seperti sedia kala sebelum pandemi menyerang, maka diperlukan kerjasama dari berbagai pihak agar kerja kolosal ini bisa segera menampakkan hasilnya. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan untuk menjalani aktifitas kita sehari-hari. 

Share:

2 komentar

  1. Semangat om Andiiiii...salam buat dede Sara n Aisha....sehat sehat selalu..

    BalasHapus
  2. Terima kasih banyak untuk infonya tentang Wisma Atlet, Mas Andi. Kisah ini benar-benar menghibur hati saya yang sedang menunggu kedatangan buah hati saya dari Jepang, setelah 2,5 tahun menuntut ilmu di sana. Salam sayang untuk si Kembar. Semoga selalu sehat ya

    BalasHapus