VAKSINASI ADALAH TANDA CINTA KITA UNTUK ORANG YANG KITA CINTA

Saya adalah generasi 90 an awal yang tumbuh dengan beragam vaksin yang disuntikkan ke tubuh saya (di tempat saya dikenal dengan istilah imunisasi) yang biasanya diberikan di Posyandu. Tak hanya berhenti saat balita saja, saat sudah beranjak sekolah dasar, setiap tahun saya disuntik vaksin oleh mantri yang bekerja di Puskesmas di sebelah sekolah saya. Kala itu kami hanya tahu bahwa suntikan yang diberikan oleh Mantri setiap tahun adalah suntik cacar. Kami tidak tahu apakah vaksin yang diberikan berbeda setiap tahunnya. Namun yang jelas kami hanya tahu satu jenis suntikan, yaitu suntik cacar. Di tempat kami, cacar memang menjadi momok bagi anak-anak SD karena setiap tahunnya ada saja teman kami yang terkena cacar. Tak jarang bahkan sampai harus membuat penderitanya izin sekolah selama berhari-hari. Yang saya masih ingat adalah bagi mereka yang orangtuanya guru, maka suntikannya didahulukan dan dilakukan di kantor guru, bukan di kelas seperti teman-teman lain. Sehingga saya yang memiliki bapak dan ibu yang bekerja sebagai guru SD juga mendapat previlege ini. Dan yang masih membekas di ingatan saya adalah suntikan tersebut. Di zaman tersebut, satu tabung suntikan penuh dengan jarum yang sama bisa dipakai untuk beberapa anak sekaligus. Ini membuat kerja Mantri suntik tersebut jadi lebih efisien dan cepat, mengingat ada ratusan anak di sekolah kami yang juga harus mendapat suntikan vaksin tersebut.


Alhamdulillah, saya bersyukur bahwa suntikan tersebut tidak membawa dampak buruk bagi kami. Dan hingga sekarang, saya teramat bersyukur belum pernah terkena sakit cacar yang kata teman saya yang pernah kena cacar itu sangat tidak nyaman. Belum lagi rasa malu karena seluruh badan bentol-bentol dan setelah sembuh kulit seperti banyak bopeng bekas cacar yang menjadikan kulit seperti punya tato.


***


Saat punya anak dan tinggal di Taiwan, sebagai orangtua yang punya bayi berumur 6 bulan, saya mendapat prioritas dan previlege untuk disuntik vaksin influenza secara gratis. Pun begitu dengan istri dan kedua anak kembar saya. Namun kebijakan disini, orangtua bayi harus divaksin terlebih dahulu sebelum si bayinya divaksin. Kami sekeluarga akhirnya mendapat vaksinasi influenza gratis dari pemerintah Taiwan. Kami bisa menghemat jutaan rupiah karena fasilitas ini. Di Taiwan, jika mengambil vaksinasi influenza secara mandiri, maka kita harus merogoh kocek minimal 400 an ribu rupiah. Vaksinasi ini dilakukan setiap tahun agar antibodi influenza tetap cukup di dalam tubuh.


Lalu apa manfaat yang dirasakan? 


Setiap akhir tahun menjelang puncak musim dingin, saya selalu mengalami flu, batuk, pilek, hidung tersumbat, dan sejenisnya. Ini penyakit menahun yang selalu berulang sejak kali pertama saya menginjak tanah formosa. Sudah banyak jenis obat flu yang saya konsumsi, mulai dari yang kelas warung sampai yang pakai resep dokter. Tubuh saya sepertinya rentan sekali memang terhadap cuaca dingin, sehingga selalu diserang penyakit-penyakit tersebut saat musim dingin.


Ilustrasi (Gambar : Pixabay)


Tahun ini, Taiwan didera musim dingin terparah sejak 20 tahun terakhir dimana suhu rendahnya sampai berhari-hari. Bahkan gunung-gunung tinggi di Taiwan sampai beberapa kali turun salju yang pada tahun-tahun sebelumnya biasanya hanya sekali saja dalam satu musim atau malah tidak turun salju sama sekali.


Dan untuk kali pertama, saya tidak mengonsumsi obat flu sama sekali saat cuaca mendekati 0 derajat celcius. Selama musim dingin, saya beberapa kali merasakan pilek namun hanya beberapa jam saja. Setelah itu kembali normal. Di puncak musim dingin, dengan deadline proposal disertasi yang terus ditanyakan oleh pembimbing, dan kesibukan mengurus 2 bayi kembar, kami alhamdulillah bisa melaluinya tanpa harus disertai dengan drama sakit batuk, pilek, dan hidung tersumbat, walau kami selama musim dingin kemarin hanya tidur 3 jam setiap hari.


Saya merasakan bahwa tubuh saya lebih tahan di musim dingin kali ini walau kondisi cuacanya mendekati nol derajat celcius di kota dimana saya tinggal saat ini. Pun begitu juga dengan istri dan kedua anak kembar saya.


***


Vaksinasi adalah sebuah upaya / ikhtiar yang bisa dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dari segi kesehatan. Vaksin merupakan penemuan penting yang terbukti mampu menjadi salah satu sebab peradaban manusia masih berjalan hingga saat ini. 


Dari sejarah kita bisa banyak belajar bagaimana bangsa-bangsa di dunia banyak yang musnah karena terkena wabah. Suku Maya, Aztec, dan Warao adalah tiga contoh suku yang musnah karena wabah. Dalam peradaban modern, dunia pernah terguncang karena wabah flu spanyol di awal tahun 1900 an. Sebelum itu, cacar juga sempat menjadi momok bagi manusia. Namun karena vaksinlah kemudian manusia bisa survive dari berbagai macam wabah hingga masih bisa menuliskan sejarah peradabannya hingga saat ini.


Setahun terakhir ini, dunia kembali diguncang dengan wabah Covid 19 yang sudah merenggut jutaan orang diseluruh dunia. Berbagai negara berlomba untuk menemukan vaksin untuk mengatasi wabah ini, hingga akhirnya ada sekitar 8 vaksin yang kini sudah diproduksi massal dan disuntikkan ke banyak orang.


Vaksin jangan hanya dilihat sebagai sebuah bisnis semata, layaknya virus dan antivirus di komputer dimana virus diciptakan untuk menjual antivirusnya, lebih dari itu bahwa vaksin adalah sebuah harapan untuk bisa segera mengembalikan kehidupan ini menjadi normal. Saya, anda, dan semua orang mungkin sudah jengah dengan kondisi ini dimana kemana-mana harus memakai masker, tidak boleh berkerumun, hingga harus terus-terusan di colok hidungnya tiap kali mau bepergian antar daerah memakai pesawat/kereta. Kita menginginkan kehidupan seperti dulu dimana kita bebas berkumpul dengan keluarga dan teman tanpa harus direpotkan dengan protokol-protokol kesehatan yang njlimet.


Vaksinasi memang bukan kewajiban setiap orang, namun pada setiap orang ada kewajiban untuk terlibat melindungi orang-orang terdekatnya dan yang dicintainya. Kita tentu tidak mau menjadi penyebab celakanya orang-orang terdekat dan yang kita cinta hanya karena kita tidak mau divaksin. Bayangkan saja misalkan dalam keluarga kita semua sudah divaksin kecuali kita. Seharusnya jika semua divaksin termasuk kita, maka penyakit tersebut tidak akan menghinggapi, minimal tidak membuat penderitanya sakit parah karena virus dilawan secara kompak oleh antibodi dari semua anggota keluarga. Lalu jika kita tidak divaksin. kita tidak punya antibodi yang cukup untuk bertahan dari serangan virus, bisa jadi virus masuk ke tubuh kita lalu bermutasi dan membuat semua anggota keluarga kita terkena virus hasil mutasi dari tubuh kita. Walaupun anggota keluarga sudah divaksin, namun karena virus telah bermutasi maka bisa jadi antibodinya tidak cukup kuat melawannya.


Jadi jika saja hari-hari ini masih banyak yang menolak vaksinasi Covid 19, maka silahkan saja, itu hak anda. Tapi anda jangan mengeluh dengan situasi dan kondisi yang ada yang bisa jadi masih akan berlangsung hingga beberapa tahun lagi. Juga jangan menyesali jika ada anggota keluarga anda celaka karena keegoisan anda menolak vaksinasi.

Ingat ! Vaksinasi ini bukan obat, melainkan bentuk cinta kita terhadap keluarga dan peradaban manusia. Kita tentu tidak mau bahwa sejarah manusia modern akan berakhir tahun-tahun ini. Oleh karena itu, mari ambil kesempatan untuk menjadi bagian dari gotong royong menyelamatkan orang-orang yang kita cintai dan seluruh umat manusia.
  

Share:

0 komentar