PERGESERAN MAKNA PUNJUNGAN

Di suatu sore yang agak mendung, seorang teman lama datang bersilaturahmi ke rumah orangtua saya. Dia tahu saya sedang pulang ke rumah orangtua saya. Obrolan pun mengalir menanyakan seputar kabar masing-masing dan juga karir. Sampai pada obrolan tentang pemilihan kepala desa yang akan segera digelar beberapa waktu mendatang, obrolan pun beralih menjadi sedikit lebih serius.

Aman : Ndi, menurutmu gimana peluang saya kalau ikut nyalon jadi Kades (baca : Kepala Desa) besok?

Andi : Peluang selalu ada. Tergantung niat kamu nyalon itu untuk apa. Apakah untuk pengabdian atau sekedar mencari kekuasaan dan harta kekayaan

Aman : Kalau untuk kekayaan atau materi sih nggak. Ya kamu tau sendiri lah bagaimana kalau jadi Kades, punjungannya itu loh bisa tiap hari. Bahkan bisa 3-4 punjungan sehari kalua lagi bulan besar atau lebaran. Aku murni pengen nyalon karena ingin berkontribusi membangun desa kita, terutamanya soal jalan rusak yang selalu jadi masalah menahun

Andi : Bagus kalau memang niatmu seperti itu. InshaAllah jika niatnya sudah lurus, tinggal eksekusinya supaya bisa terlaksana. Eh ngomong-ngomong kok kamu ngeluh soal punjungan? Kan bagus dong tiap hari dipunjung, jadi istrimu tidak perlu masak lagi. Hehehehe

Aman : Apanya yang enak. Dapat punjungan berarti harus kondangan. Kondangan berarti harus siap nyumbang setidaknya 40 ribu. Bayangkan kalau sehari ada 3 kondangan, berarti sudah harus nyiapkan dana 120 ribu. 

Andi : Banyak juga ya. Sebulan bisa-bisa gajinya habis buat kondangan ya.

Aman : Itulah, salah satu yang menjadi factor pertimbanganku  nyalon Kades adalah soal punjungan ini. Saya khawatir nantinya malah jadi korupsi karena demi memenuhi kubutuhan biaya untuk kondangan.

Obrolan pun berakhir Ketika azan maghrib berkumandang. Hingga semalaman saya terus terpikir soal obrolan tadi tentang punjungan. Saya teringat bagaimana banyak orang alih-alih bergembira menerima punjungan, yang ada malah menggerutu. Inilah fenomena yang jamak terjadi Ketika masuk bulan syawal dan bulan besar (zulhijjah) dimana orang akan banyak menyelenggarakan hajatan di bulan tersebut karena dianggap sebagai bulan baik.

***

Dalam tradisi masyarakat Jawa, menghormati orang tua, sesepuh, orang yang dituakan, maupun tokoh masyarakat adalah budaya yang sangat dijunjung tinggi dimanapun mereka berada. Bentuk penghormatan ini ada berbagai macam, mulai dari pemakaian Bahasa berupa boso alus, kromo inggil, hingga posisi badan Ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Selain itu, bentuk penghormatan tersebut juga diwujudkan melalui pengiriman makanan yang dikenal dengan istilah “punjungan”.

Ilustrasi Punjungan (Foto : Blog Yuli Arfan)


Punjungan adalah bentuk penghormatan kepada saudara, orangtua, orang yang dituakan, tokoh masyarakat, sesepuh desa maupun kerabat lainnya yang dimaksudkan untuk memohon izin dan mohon doa restu untuk suatu hajat dari si empunya punjungan. Selain itu, punjungan juga diberikan Ketika menjelang bulan puasa ataupun lebaran. Hal ini dilakukan agar hajat yang dimiliki bisa terlaksana dengan lancar karena adanya dukungan dari orang-orang yang diberi punjungan tersebut. Punjungan diadakan pada hari-hari tertentu saja, seperti pada saat praresepsi baik syukuran pernikahan maupun khitanan, kemudian pada hari tertentu yang dipercaya sebagai hari bahagia. Sehingga dengan punjungan tersebut dapat bermakna sebagai penghormatan, rasa syukur, rasa bahagia, rasa terima kasih bahkan berupa undangan.

Di masa lalu, punjungan biasa dikirimkan menggunakan rantang (gantang) yang berisikan nasi di paling bawah, lalu lauk pauk diatasnya, kemudian, sayuran / buah di atasnya lagi, serta kerupuk / kue di paling atas. Namun kebiasaan penggunaan rantang ini juga tidak menjadi pakem yang harus diikuti terus karena pada prakteknya di beberapa tempat punjungan dikirimkan menggunakan tempat yang terbuat dari bambu (rinjing) atau besek (istilah untuk di beberapa tempat). Walaupun berbeda, namun konsepnya isinya tetap sama karena soal isi, ini sudah menjadi semacam aturan baku tak tertulis.

Seiring perubahan zaman, punjungan mengalami pergeseran makna dan tujuan. Punjungan kini dimaksudkan sebagai pengganti undangan sekaligus menaikkan daya tawar sumbangan. Dalam tradisi hajatan, orang yang diundang biasanya akan memberikan sumbangan berupa uang atau hadiah kepada si pemilik hajat. Besaran uang sumbangan ini seharusnya didasarkan pada kedekatan serta kemampuan ekonomi masing-masing. Namun dengan adanya punjungan, maka orang seperti “dipaksa” untuk memberikan nominal yang lebih besar dibanding nominal jika diundang dengan undangan kertas biasa.

Disini Nampak bahwa motif ekonomi mulai menjadi alasan mengapa masyarakat kini banyak yang memberikan porsi lebih banyak ke undangan berupa punjungan dibanding yang berupa undangan biasa. Harapannya bahwa si pemilik hajat akan meraup untung dengan sumbangan yang lebih banyak.

Sebagai gambaran misalkan di beberapa desa transmigran jawa. Untuk uang sumbangan yang diundang menggunakan undangan kertas, maka besarannya antara 20 – 25 ribu rupiah. Sedangkan untuk yang diundang menggunakan punjungan, maka paling sedikit 40 ribu rupiah. Selain memberikan economic pressure berupa beda besaran nominal, punjungan juga memberikan psychological pressure berupa rasa malu. Rasa malu disini terjadi jika orang yang dipunjung hanya memberikan nominal sumbangan dibawah standar keumuman (ini terjadi karena amplop yang dimasukkan ke dalam kotak ditulis nama orang yang memberi) atau jika orang yang dipunjung tidak hadir. Ada semacam rasa malu yang mendera masyarakat jika melakukan salah satu dari dua hal tersebut. Alhasil wajar saja jika saat ini orang akan banyak menggerutu jika menerima banyak punjungan di rumahnya. Masyarakat tidak lagi melihat bahwa punjungan adalah bentuk penghormatan, melainkan sudah menjadi alat ekonomi untuk mendapatkan banyak uang sumbangan. Bagi mereka yang memiliki kecukupan materi, tentu ini tidak masalah, namun bagi masyarakat yang memiliki kemampuan pas-pasan, perihal punjungan ini bisa menjadi momok dalam rumah tangga.

***

Menjalani hidup berpindah-pindah di berbagai tempat yang berbeda, memberikan banyak perspektif bagi saya dalam fenomena ini. Tradisi punjungan ini hidup subur di tengah masyarakat Jawa yang sifatnya komunal baik yang memang masih berada di pulau Jawa maupun yang sudah berpindah tempat di lain kota/pulau. 

Tradisi punjungan terus dilakukan oleh masyarakat Jawa dimanapun mereka berada. Kita bisa menemukan tradisi punjungan ini masih di praktekkan di desa-desa transmigrant di daerah Lampung, Bengkulu, serta Kalimantan. Namun ternyata, tradisi ini tidak selamanya melekat dan dipraktekkan oleh masyarakat Jawa yang hidup di kota-kota sebagai masyarakat urban seperti di Jakarta, Bandar Lampung, Kota Bengkulu dan sebagainya. Masyarakat jawa yang hidup di perkotaan sudah beralih mengikuti tradisi mengirim undangan dengan cukup memberikan undangan kertas atau mengundangnya melalui undangan digital.

Sehingga, jika ada keinginan untuk menghilangkan tradisi punjungan, ini merupakan niatan yang salah walaupun pada prakteknya saat ini, punjungan menjadi beban bagi masyarakat di tengah sulitnya kondisi ekonomi. Yang sebenarnya harus dirubah itu adalah pemaknaan punjungan sebagai motif ekonomi. Tokoh-tokoh masyarakat dan agama sebagai grassroot influencer harus mengambil peran untuk mengembalikan makna sesungguhnya dari punjungan. Punjungan adalah tradisi baik dari bangsa kita. Namun tradisi ini perlu diberi perhatian agar implementasinya tidak serampangan yang pada akhirnya menciptakan masalah baru di masyarakat.

 

Share:

0 komentar