SEKSINYA ORGANISASI ALUMNI

Dalam sejarah perjalanan politik di Indonesia, banyak lahir organisasi-organisasi maupun aliansi dari berbagai kelompok masyarakat yang ikut menghiasi dinamika perpolitikan Indonesia. Salah satu yang kerap muncul adalah aliansi / perkumpulan alumni-alumni perguruan tinggi. Di Indonesia sendiri, ada banyak perkumpulan alumni yang punya nama mentereng di masyarakat seperti ILUNI UI, KAGAMA UGM, IA ITB, dan sebagainya. Organisasi-organisasi ini menjadi buah bibir di masyarakat bukan saja karena nama besar perguruan tingginya sebagai induknya, melainkan juga karena tokoh-tokoh di dalamnya yang menjadi penggede di negeri ini.


Sebagian dari kita mungkin masih ingat Ketika ramai aksi demonstrasi bulan November dan Desember 2016 yang menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama kala itu untuk diadili karena telah melakukan pelecehan agama, beberapa oknum alumni UI yang mencatut nama organisasi ILUNI UI menyatakan mendukung dan terlibat aksi tersebut. Sontak saja, pencatutan nama ini viral dan memaksa pengurus pusatnya memberikan klarifikasi bahwa mereka tidak terlibat aksi-aksi politik apapun dan meminta oknum-oknum tersebut berhati-hati membawa-bawa nama besar organisasi ILUNI UI.

Ilustrasi Alumni (Foto : istockphoto)


3 tahun kemudian, pengurus ILUNI UI digegerkan dengan informasi yang viral di berbagai media social yang menyebut bahwa alumni UI mendeklarasikan dukungannya kepada salah satu calon presiden dalam kontestasi Pilpres 2019. Hal ini memaksa pengurus ILUNI UI harus memberikan klarifikasi Kembali serta mengingatkan berbagai pihak untuk tidak pernah membawa-bawa nama organisasi alumni UI (ILUNI UI) ke dalam politik praktis. 

Lain UI, lain pula ITB. Baru-baru ini, ribuan alumni (katanya) ITB yang tergabung dalam Gerakan Anti Radikalisme (GAR ITB) melakukan aksi melaoporkan Prof. Dr. KH. Din Syamsuddin ke KASN atas tuduhan bersikap radikal. Laporan ini praktis saya menjadi perbincangan selama beberapa waktu lamanya karena laporan ini dinilai tendensius dan mengada-ada, mengingat kiprah yang dilakukan oleh Din Syamsudin selama ini dalam berbagai dialog lintas agama dan iman serta mendorong agar Islam Wasathiyah menjadi solusi dan cara pandang di tengah berbagai gejolak persoalan pandangan keagamaaan di masyarakat.

Kasus-kasus diatas memiliki titik kesamaan antar satu dengan yang lainnya, yaitu membawa nama perkumpulan alumni kampus tertentu sebagai brand dalam melakukan aksi-aksi politik praktisnya. Ada yang terlihat sama dengan nama induk organisasi alumninya, ada juga yang berbeda namun masih dengan tagline sebagai perkumpulan alumni. Lantas mengapa kini mulai ada trend menggunakan perkumpulan alumni sebagai alat untuk berpolitik praktis? Mengapa organisasi tanpa bentuk dalam perkumpulan-perkumpulan alumni bisa mendapatkan tempat di pemberitaan walau sebenarnya sudah ada organisasi asli/bakunya?

Alumni / Sarjana Dianggap Memiliki Prestige Value 

Para sarjana dari universitas dianggap merupakan orang yang memiliki value lebih, setidaknya ia adalah orang yang berilmu karena telah menyelesaikan tahapan akademik di perguruan tinggi, sehingga perkumpulan alumni dari sebuah universitas memiliki kesan sebagai “kumpulan orang pintar dan berilmu”. Alhasil, ini menjadi justifikasi bahwa Gerakan yang dilakukan oleh perkumpulan alumni adalah Gerakan orang-orang pintar -beda dengan buzzer- yang memiliki tujuan untuk kebaikan. Citra ini Nampak dalam beberapa kasus yang disebut di awal tulisan ini.

Nebeng Nama Besar Kampus

Tidak semua perkumpulan alumni -baik yang resmi maupun tidak- direspon positif oleh masyarakat. Di Indonesia ada ribuan organisasi alumni resmi dari berbagai kampus, namun hanya segelintir saja yang berhasil mencuri perhatian dan diingat oleh masyarakat. Yang berhasil mencuri perhatian biasanya yang berasal dari kampus-kampus besar. Oleh karena itu, perkumpulan-perkumpulan alumni dari kampus besar kebanyakan berhasil membranding dirinya dengan nebeng nama besar almamaternya. GAR ITB adalah contoh paling nyata soal ini. Coba bayangkan GAR ini dibentuk dari alumni kampus swasta kecil di daerah. Jangankan masuk berita, dilirik masyarakatpun sepertinya tidak. Oleh karena itu, perkumpulan apapun jika itu diasosiasikan dengan kampus-kampus besar memiliki daya gertak yang besar pula.

Jejaring Alumni = Modal Sosial 

Bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang sebagai politisi dibawah payung partai politik, maka sudah menjadi keharusan untuk memiliki modal social yang besar agar bisa menjadi daya tawar dalam politik. Dan modal social yang paling dekat biasanya adalah jejaring alumni, apalagi yang alumni dari kampus-kampus besar. Adanya jejaring alumni ini membuktikan bahwa ia memiliki backup network yang cukup untuk meligitimasi setiap Langkah yang ia ambil. Sebagai contoh misalkan si A adalah alumni dari salah satu kampus besar yaitu XYZ. Ia lantas melaporkan si B dengan tuduhan radikal. Tuduhan si A mungkin tidak akan menjadi berita besar di media karena si A hanya sendiri walau ia lulusan dari kampus besar. Namun beda cerita jika si A membentuk afiliasi alumni kampusnya dengan nama ‘Kumpulan Alumni Sayang Mama’ kampus XYZ dan melaporkan si B, maka afiliasi tersebut dianggap sebagai kumpulan banyak alumni sehingga bisa mencuri perhatian media untuk diberitakan.

Modal social berupa jejaring alumni juga menjadi senjata yang ampuh Ketika seseorang sedang mencalonkan diri pada jabatan-jabatan public seperti Kepala Daerah, anggota legislatif, komisioner Lembaga negara, dan sebagainya. Orang cenderung menampilkan latar belakang kampus tempatnya studi dulu Ketika memiliki tujuan mendapat perhatian lebih dari masyarakat atau kelompok tertentu. Ini untuk mengisyaratkan bahwa ia memiliki jaringan yang luas sebagai bagian dari alumni kampusnya terdahulu.

***

Perkumpulan-perkumpulan seperti GAR ITB seyogyanya bukanlah organisasi alumni resmi dari kampus/almamater tempatnya studi dulu. Pihak ITB sendiri sudah memberikan keterangan bahwa GAR ITB bukan bagian dari kampus ITB. GAR ITB adalah sebuah Gerakan moral saja yang memiliki bentuk sebagai perkumpulan tanpa badan hukum seperti kebanyakan organisasi alumni yang resmi. 

Sehingga mencatut nama ITB sebagai nama gerakannya merupakan Tindakan yang salah dan tidak etis karena justru bisa merugikan nama baik kampus tersebut. Masyarakat yang kontra terhadap Tindakan yang dilakukan oleh GAR ITB bisa saja kemudian merembet menjadi kontra terhadap ITB juga padahal ITB sama sekali tidak terlibat dalam Gerakan ini. 

Oleh karena itu, sebagai alumni dari perguruan tinggi, perlu kehati-hatian mencatut nama institusi perguruan tinggi tertentu sebagai nama Gerakan/organisasi/perkumpulan dengan tujuan mendapatkan legitimasi. Sebagai alumni tentu sudah menjadi kewajiban untuk menjaga nama baik dan marwah sebuah almamater. Jangan pernah libatkan almamater ke dalam politik praktis. Biarkan almamater tersebut sebagai sebuah institusi perguruan tinggi merdeka dengan jalannya yang sunyi mencetak cendikiawan-cendikiawan baru untuk bisa terus membangun negeri ini di masa depan.


Share:

0 komentar