JANGAN SAMAKAN PROGRAM KAMPUS MENGAJAR DENGAN INDONESIA MENGAJAR

Beberapa hari terakhir, keyword Kampus Mengajar menjadi topik pembicaraan di media-media social. Ada yang menolak, tak jarang ada yang mendukung juga. Bagi yang menolak, mayoritas berargumen bahwa program ini memboroskan anggaran, apalagi di saat pandemic dan school from home. Bahkan ada yang sampai “nembak” latar belakang Nadiem sebagai Mendikbud yang dianggap tidak pas untuk menahkodai kementerian Pendidikan. Mereka beralasan bahwa program yang digawangi oleh kementeriannya Nadiem ini tidak peka terhadap keadaan. Apalagi Ketika dikaitkan dengan rencana pemberian semacam honor/gaji bulanan kepada peserta program ini serta bantuan uang kuliah tunggal (UKT), tidak sedikit yang lantas mengaitkannya dengan kondisi banyak guru honorer yang gajinya hanya sepertiga dari gaji peserta program ini. 

 

Kampus Mengajar (Gambar : Kemdikbud RI)

Lebih jauh, ada yang lantas membandingkannya dengan program serupa yang digagas lebih awal yaitu Indonesia Mengajar. Program ini dianggap sebagai duplikat Indonesia Mengajar karena konsepnya dianggap mirip. Padahal jika kita telaah lebih detail, dua program ini hanya tampak luarnya saja yang mirip, apalagi ada kesamaan brand saja yang sama-sama “mengajar”. Konsep dan tujuan dari dua program ini sebenarnya sangat berbeda sekali.

 

Tulisan ini mencoba membedah kedua program ini dari beberapa sisi agar kita tidak lagi salah mempersepsikan keduanya sama.

 

Konsep Yang Berbeda

 

Indonesia Mengajar merupakan program yang digagas oleh Anies Baswedan pada tahun 2009 dan diwujudkan pada tahun 2010 melalui Angkatan pertama. Program ini merekrut anak-anak muda Indonesia terbaik lulusan sarjana dari dalam dan luar negeri, dari berbagai jurusan, dibekali dengan pelatihan intensif selama 70 hari dan ditempatkan di pelosok-pelosok Indonesia. Tujuannya selain untuk membantu kekurangan ketersediaan guru, kehadiran anak-anak muda yang lebih dikenal sebagai Pengajar Muda ini juga sebagai katalisator dan fasilitator pengembangan Pendidikan di daerah penempatan.

 

Namun yang juga menjadi tujuan utama dari program Indonesia Mengajar ini memberikan pengalaman dan pelatihan kepemimpinan kepada para pesertanya melalui praktik langsung di masyarakat. Anies sendiri meyakini bahwa cara ini merupakan bentuk investasi jangka Panjang untuk masa depan Indonesia. Istilah populernya adalah menyiapkan calon pemimpin yang Think Globally, Act Locally dengan Welldone Grassroot Understanding

 

Sedangkan program Kampus Mengajar diinisiasi oleh Kemendikbud RI baru di tahun 2020 di saat wabah Covid 19 tengah terjadi. Program ini awalnya diinisiasi melalui pilot project “Kampus Mengajar Perintis”. Setelah sukses baru kemudian diimplementasi secara menyeluruh menjadi program Kampus Mengajar di tahun 2021 ini. Tujuannya pun berbeda dengan Indonesia Mengajar. Kampus Mengajar berfokus pada dua hal, yaitu yang pertama untuk menghadirkan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan pembelajaran literasi dan numerasi. Yang kedua membantu pembelajaran di masa pandemi, terutama untuk SD di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).  Selain itu, program Kampus Mengajar mengkonversi kegiatan ini menjadi 12 SKS yang bisa dimasukkan ke dalam transkrip nilai. 

 

Dari sini kita sudah bisa melihat bagaimana ada perbedaan yang sangat signifkan secara konsep antara program Indonesia Mengajar dengan Kampus Mengajar. 

 

Area Penempatan

 

Indonesia Mengajar menempatkan para Pengajar Mudanya di wilayah-wilayah yang tidak pernah disentuh dan dibayangkan oleh mereka sebelumnya. Jika seorang Pengajar Muda berasal dari pulau sumatera, maka biasanya ia akan dikirim ke wilayah lain seperti Kalimantan, Sulawesi, atau bahkan Papua. Hal ini bertujuan untuk membentuk pemahaman yang baik tentang keanekaragaman bangsa Indonesia dimana para Pengajar Muda akan tinggal selama kurun waktu yang tidak sebentar di tengah masyarakat yang budayanya berbeda dengan daerah asalnya. Selama ini yang masih menjadi PR bagi generasi muda kita adalah bagaimana memberikan pengertian dan pemahaman yang menyeluruh tentang keragaman masyarakat Indonesia. Indonesia bukan hanya Jawa atau Sumatera saja, namun Indonesia adalah sebuah kesatuan dari ratusan suku dan struktur sosial kemasyarakatan yang sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Jika seorang pemimpin mampu memahami keragaman ini dengan baik, maka diharapkan kebijakan yang dibuatnya mampu adil dan menjadi jalan kebaikan bagi semua.

 

Sedangkan program Kampus Mengajar justru mensyaratkan sebaliknya. Sekolah penempatan para peserta adalah yang terdekat dari lokasi tempat tinggalnya. Ini bertujuan agar program ini tidak menjadi rintangan untuk si peserta karena status mereka yang masih harus berkuliah di saat yang sama (perlu diingat bahwa peserta program ini adalah mahasiswa S1 semester 5). Sehingga focus program ini benar-benar tertuju pada membantu jalannya proses akademik selama masa pandemic ini.

 

Kelemahan Program Kampus Mengajar

 

Sebenarnya antara Indonesia Mengajar dan Kampus Mengajar ini memang ada irisannya, yaitu memberikan bantuan tenaga pengajar di sekolah-sekolah yang dirasa membutuhkan. Namun walaupun begitu, keduanya tetaplah berbeda. Kita bisa ibaratkan Indonesia Mengajar itu sebagagi planet dan Kampus Mengajar sebagai komet. Keduanya adalah sama-sama benda luar angkasa, namun memiliki karakteristik yang berbeda. Begitu juga dengan kedua program ini.

 

Menurut saya pribadi, ada kelemahan yang cukup krusial dalam mensosialisasikan program Kampus Mengajar ini. Yang pertama adalah dari sisi komunikasi marketing. Program Kampus Mengajar sangat terasa sekali sebagai program dari pemerintah dari sisi pengemasan komunikasinya. Khas dengan gaya kakunya. Hal ini [bisa jadi] memberikan kesan bahwa program ini sekedar program biasa seperti program-program lain yang diinisiasi pemerintah yang ujung-ujungnya hanya sekedar menjadi program kementerian tanpa menitikberatkan pada satu tujuan khusus. Kurang elegannya pengemasan komunikasi ini berimbas menjadi kurang populernya program ini dikalangan anak muda dan cenderung menjadi antithesis. Sosialisasi yang dilakukan juga sangat birokratis melalui jalur komando kampus. Sehingga kesan kaku semakin Nampak.

 

Yang kedua adalah soal gaji. Di Indonesia Mengajar, sejak awal disosialisasikan program ini, tidak pernah sedikitpun menyebut soal gaji. Yang dikedepankan adalah tujuan dari keberadaan program tersebut yang akhirnya membuat orang rela melepas pekerjaannya sebagai seorang manajer di perusahaan multinasional di Singapura demi menjadi pengajar di pelosok-pelosok Indonesia. Mereka tidak memikirkan berapa gaji yang akan diterima selama mengikuti program ini. Ini berbeda dengan Kampus Mengajar yang sejak awal komunikasi yang dikedepankan adalah soal gaji dan insentif yang diberikan. Apalagi Ketika sudah tahu nominalnya yang ternyata jauh dari UMR, membuat orang menjadi underestimate. Seharusnya gaji menjadi hal privat yang cukup diketahui Ketika penandatanganan kontrak, tidak perlu sampai diumbar ke public, apalagi di awal sosialisasi.

 

Indonesia Mengajar (Gambar : Lucianancy)

Yang ketiga adalah soal siapa tokoh dari program tersebut. Indonesia Mengajar berhasil menduduki puncak popularitasnya salah satunya karena keberhasilan tim Indonesian Mengajar mengemas Anies Baswedan sebagai tokoh sentralnya. Saat itu, Anies merupakan rector Universitas Paramadina yang berhasil mencuri perhatian public sebagai seorang teknokrat muda potensial. Setahun sebelum meluncurkan program Indonesia Mengajar, Anies didapuk menjadi moderator debat calon presiden Indonesia yang semakin mengantarkan popularitasnya sebagai seorang intelektual muda berbakat. Penokohan Anies Baswedan dalam Indonesia Mengajar dinilai sebagai salah satu factor penting yang mampu mengirimkan pesan istimewa kepada para sarjana di dalam dan luar negeri. Kala itu Anies yang belum terjun ke politik tidak memiliki rekam jejak buruh di public. Dan ini sangat berbeda dengan Kampus Mengajar dimana tidak ada tokoh yang menjadi icon untuk mengkomunikasikan program ini kepada masyarakat. Dalam dunia marketing, kita mengenal strategi Key Opinion Leader (KOL) yang diharapkan mampu menjadi tokoh yang mengirim pesan baik kepada masyarakat. Tokoh yang terframing dalam program Kampus Mengajar adalah Nadiem yang memiliki rekam jejak berbeda dengan ranah kerja kementerian yang ia pimpin. Nadiem dirasa gagal terframing sebagai seorang teknokrat muda berbakat. Ditambah lagi, beberapa kali ia membuat blunder melalui kebijakan-kebijakan yang ia teken sendiri di kementeriannya. Sehingga ini berimbas pada tidak tersampainya pesan utama yang kuat dari program Kampus Mengajar ini.

 

Rubah Strategi, Buat Ciri Khas

 

Program Kampus Mengajar ini secara konsep sangat bermanfaat untuk membantu para guru yang kewalahan dalam menghadapi situasi saat ini. Keberadaan para “guru muda” ini diharapkan bisa menjadi solusi agar para siswa tetap dapat mendapatkan haknya untuk meraih ilmu pengetahuan di tengah wabah seperti saat ini. Namun jika pemerintah ingin berhasil dalam program ini, perlu ada perubahan strategi, terutama dalam hal komunikasi dan pengemasannya, agar program ini bisa populer dan digrandrungi anak-anak muda.

 

Beberapa hal tersebut diantaranya adalah yang pertama ubah gaya komunikasi. Jangan kesankan bahwa program ini sama dengan program-program pemerintah lainnya. Ubah gaya komunikasinya menjadi gaya anak muda saat ini (sesuai dengan target peserta). Jangan kedepankan imbalan materi, namun kedepankan tentang manfaat jangka Panjang dari program ini. Yang kedua adalah buat ciri khas. Pemerintah sebenarnya sudah memiliki program lain yang sejenis seperti KKN dan SM3T. Agar program ini berhasil merebut wacana baik di public, maka pemerintah perlu membuat ciri khas sebagai sebuah keunggulan program ini dibanding program lainnya.

 

Saya percaya maksud baik pemerintah melalui program ini. Namun maksud baik tentu harus dibarengi dengan strategi dan cara yang baik serta tepat agar program ini benar-benar bisa diterima oleh masyarakat dan memberikan kesan baik sehingga kedepan jika program ini diteruskan pasca pandemic (tentunya dengan modifikasi), tidak susah mengkomunikasikannya kepada masyarakat.

Share:

0 komentar