CACAT ITU ADALAH TENTANG STIGMA

Kelas terdengar riuh rendah oleh girangan para mahasiswa yang bersorak sorai sesaat setelah salam penutup diucapkan untuk kelas hari itu. Diantara mereka, tiba-tiba ada mahasiswa, yang kutau selalu mengambil tempat duduk di depan saat kelas berlangsung, mendatangiku disaat mahasiswa lain berhamburan keluar kelas. Dengan suara lirih, nampak seperti bergumam, ia memberikan selembar kertas berwarna hitam dan sebuah gula-gula, diiringi dengan senyum tipis. Ia pun pamit keluar setelahnya.

Sesaat kemudian, aku diam tertegun membaca sekilas isi dari kertas itu. Mataku menerawang jauh pada kenangan 15 tahun yang lalu.

***

Dulu saat sekolah, ada salah seorang teman yang memiliki keistimewaan dalam bentuk tubuhnya. Saya tidak mau menganggapnya cacat, Karena dalam keyakinan saya, Allah tidak pernah cacat / gagal dalam menciptakan makhluk-Nya. Ini adalah keistimewaan yang tidak diberikan kepada orang pada umumnya. Artinya Allah memilihnya untuk sebuah tujuan khusus yang tak seorangpun tau, kecuali dibukakan inderanya melalui ilmu hikmah.

Teman saya tersebut memiliki bentuk kaki yang sedikit bengkok. Jika dalam posisi tegap, maka kakinya akan Nampak seperti huruf “O”. Ini membuatnya menjadi bahan ejekan selama kurun waktu 3 tahun lebih. Orang-orang bahkan memanggilnya Pengkrang (Bahasa local) yang artinya kaki cacat. Ia selalu marah jika orang lain mengejek kakinya tersebut. Sempat terlintas olehnya untuk pindah sekolah, Karena ia tidak tahan dengan ejekan itu.

Ada lagi seorang teman memiliki keistimewaan di matanya. Mata sebelah kirinya memutih sejak bayi. Ia hanya bisa menggunakan mata sebelah kanannya untuk melihat. Ia selalu minder jika bergaul dengan teman-teman sebayanya. Ia selalu diejek dengan istilah Picek yang artinya buta dalam Bahasa local. Ejekan ini berlangsung bertahun-tahun. Sampai terkadang ia malu ketika diminta tampil kedepan.
 
Kartu ucapan dari mahasiswa (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Dalam keseharian kita, masih terdapat anggapan bahwa orang cacat adalah orang aneh yang boleh di-bully­. Mereka adalah produk gagal yang bisa dihina, dicacimaki, maupun di rundung dalam bentuk lainnya.  Padahal seperti yang sudah saya sebut sebelumnya bahwa mereka adalah sama seperti kita. Kalaupun terlihat berbeda, itu lebih pada mereka memiliki kelebihan yang tidak kita miliki. Cara pandang manusia yang menganggap dirinya adalah yang terbaik dibanding yang lainnyalah yang selama ini membuat stigma negative kepada mereka yang memiliki disabilitas. Ini yang seharusnya kita rubah. Stigma dari kitalah yang kemudian menjadikan disabilitas ini sebagai sebuah kekurangan, padahal pikiran kitalah yang sebenarnya mengalami disabilitas karena menganggap apa yang tidak sama dengan kita merupakan sebuah cela dan aib.

Ketika kita membahas tentang kesetaraan hak untuk memperoleh Pendidikan dan perlakuan yang layakpun bagi mereka yang menyandang disabilitas ini, lebih banyak berkutat pada teori dan konsep semata. Semua Nampak ideal dalam diskusi. Namun pada kenyataannya, kita masih memandang mereka dengan sebelah mata. Kita tidak pernah peduli dengan hak-hak yang mereka juga miliki, sama seperti kita. Coba saja kita lihat bagaimana ketika ada anak yang harus berjalan menggunakan kursi roda. Apakah sarana Pendidikan kita sudah ramah dengan mereka? Atau misalkan jika ada anak yang kesulitan bicara. Apakah sebagai pengajar ataupun teman sebaya, kita sudah adil dan manusiawi memperlakukan mereka? Bahkan masih ada di lingkungan kita, sekolah yang tidak mau menerima anak-anak difabel ini. Rasanya agak miris ketika kita sering men-share tragedy-tragedi kemanusiaan di dunia, dimana anak-anak menjadi korban perang maupun persekusi, disini justru kita membuat tragedy itu sendiri dengan tidak memperlakukan anak-anak dengan disabilitas ini secara manusiawi.

***

Saat pertama kali masuk ke kelas ini, semua Nampak seperti biasa. Sama seperti semester-semester sebelumnya. Namun sesaat setelah saya mengakhiri kelas pada pertemuan pertama itu, tiba-tiba salah seorang mahasiswa menghampiriku. Ia mengucapkan sesuatu, namun terdengar lirih. Saya memintanya untuk lebih keras lagi. Ia pun sedikit mengeraskan suaranya, walau Nampak sedikit tergopoh-gopoh jadinya.

“Teacher, I’m sorry. I have a disability. I can’t hear your voice”
“Really? Okay, for next meeting, I will speak louder”
“No, no need, teacher. I’m a deaf person. I’ve to use hearing aid. But it’s not quite help me. I try to understand your words through your lips movements”
“Hah? So, you learn Bahasa Indonesia through my lips?”
“Yes, teacher. Therefore, I’m sorry if I’m a little bit slow to understand your lesson. So, can I still join in your class with my disability?”
“Sure. You still can join in my class. It’s my honour to have you as my student in this class. I’ll try to adjust the way I teach”
“Terimakasih, teacher”
“Sama-sama. Nice to know you”


Semua mahasiswa berlalu. Aku masih berdiri dan melihat bangku kosong paling depan yang tadi diduduki mahasiswa itu. Pandanganku kosong menatap seisi ruangan kelas tersebut. Ah, ternyata Allah sedang mengajariku untuk senantiasa berlaku adil pada siapapun, kapanpun, dan dalam kondisi bagaimanapun. Karena sesungguhnya, berlaku adil adalah satu cara mendekatkan diri pada kebahagiaan yang abadi. Iya kan?

Selamat Hari Guru Sedunia..................

Share:

0 komentar