MOTIVASI MEMBANGUN BANGSA (Bag. 3)

IDEALISME YANG MENGAKAR

Idealisme yang berlandaskan agama adalah yang niat dan motivasinya dirapihkan dan disatukan dengan semata-mata hanya ingin mengharap ridho-Nya. Segala sesuatu yang ia kerjakan, ia niatkan sebagai ladang ibadah. Pertanyaannya, apa ada yang seperti itu di tengah zaman seperti saat ini? Jawabannya ada, dan saya melihatnya sendiri.

Di SD tempat ibu saya mengajar, ada satu guru honorer yang sudah 7 tahun lebih mengajar disana. Ia masih muda, seorang sarjana, dan punya wawasan serta semangat belajar yang tinggi. Ia sengaja tidak mengikuti kebiasaan teman sebayanya untuk hijrah ke ibukota mengadu nasib untuk mengais rupiah. Ia lebih memilih tinggal dan mengajar di SD. Gajinya sebulan hanya 200 ribu rupiah. Mengajar dari hari senin-sabtu. Belum lagi ditambah pekerjaan-pekerjaan administrative yang dibebankan juga kepadanya. Apa dia mengeluh? Tidak. Dia justru senang menjalani rutinitasnya tersebut. Saat saya tanya mengapa masih bertahan, jawabannya diluar dugaan guru honorer lainnya. “Saya ingin ilmu dan umurnya bermanfaat bagi orang lain. Allah telah menganugerahkan kesempatan merengkuh pendidikan hingga S1. Dan ini saatnya saya ‘membalas’ kebaikannya Allah dengan bersama-sama berkontribusi membangun negeri melalui dunia pendidikan”.

Sumber : Dari Sini

Seandainya idealismenya tentang membangun negeri, dimana ia percaya bahwa setiap anak muda yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar akan memiliki garis tangannya sendiri dalam kontribusinya membangun negeri, dibangun diatas wacana-wacana diskusi dan teori-teori yang diajarkan di bangku kuliah semata, maka saat ia melihat realitas bahwa setiap bulan ia hanya digaji 200 ribu, niscaya ia akan juga ikut berhijrah ke ibukota.
Ada lagi satu dosen terkemuka lulusan perguruan tinggi negeri top di Indonesia. Ia memiliki semangat tinggi dalam mewacanakan pendidikan murah bagi semua masyarakat Indonesia. Ia juga sangat semangat saat berdiskusi bagaimana membangun institusi pendidikan yang mampu berdaya saing tinggi dan mampu menciptakan lulusan handal yang siap memasuki dunia kerja. Namun semangat yang ia miliki, tidak didasari pada pemahaman agama dan nilai ibadah. Semua hanya Karena wacana-wacana yang ia baca dan ia ikuti dalam diskusi-diskusi. Hasilnya, saat ia benar-benar memasuki realitas yang ada di peguruan tinggi, ia hanya mampu bertahan tak kurang dari setahun. Gaji kecil, tidak ada tunjangan tambahan, beban kerja berlebih, dan minimnya perhatian dari pimpinan, menjadikannya tidak betah berlama-lama disana. Semua yang ia wacanakan pupus dengan kenyataan yang ada. Jauh panggang dari api.

Setiap dari kita boleh memiliki ekspektasi. Namun yang lebih penting dari itu adalah melihat dan menjalani realitas yang ada. Jangan sampai berekspektasi tinggi, namun tidak mampu dicapai dengan realitas yang ada. Jika ini terjadi, maka keputusasaan dan hilangnya motivasi adalah ancaman yang siap melanda. Inilah yang banyak terjadi di generasi kita saat ini.

Kembali kepada diskursus awal tulisan ini, lantas bagaimana sebenarnya membangun motivasi yang benar untuk ikut serta dalam membangun bangsa? Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dan jadikan pedoman untuk meluruskan niat dan motivasi kita.

Pertama, Ikhlas dan hanya mengharap ridho kepada Allah (Ihlashul Ubudiyyah Lillah). Ikhlas menjadi syarat terwujudnya negeri yang baik, sebab dengan keikhlasan dalam beribadah, bekerja, berjuang dan beramal sebagai pertanda sikap syukur dan telah sampainya tujuan diciptakanya manusia yaitu mengabdi kepada Allah dengan didasari keikhlasan yang tinggi.

Kedua, niatkan bahwa setiap ikhtiar kita bertujuan untuk membentuk akhlak mulia. Ahlak yang mulia merupakan pilar terwujudnya masyarakat dan bangsa yang baik. “Masyarakat yang sejahtera, aman, dan damai hanya dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan, bertolong-menolong dengan bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya, lepas dari pengaruh syetan dan hawa nafsu“.

Ketiga, buatlah keseimbangan yang indah antara urusan dunia dan akherat. Alkisah seorang sahabat berniat beribadah di siang dan malam hari, hingga ia berniat menjauhi dunia dan istrinya,seluruh waktu dan jiwanya hanya dihabiskan untuk bertaqarrub kepada Allah, Tetapi rasul malah melarangnya sambil bersabda: ”Aku adalah manusia terbaik, aku makan dan minum tetapi aku juga berpuasa, aku istirahat dan tidur tetapi aku juga mendekati istri, aku bangun menjalankan shalat tetapi aku juga bekerja mencari kehidupan dunia.” Itulah keseimbangan hidup, memperhatikan kemashlahatan akhirat, tetapi tidak pula memperhatikan kebaikan dunia, bangsa yang baik hanya akan terwujud jika ada kebaikan jasmani dan ruhani.

Sebagai penutup tulisan ini, kami coba nukilkan sebuah ayat dalam Alquran yang salah satu frasa dalam ayat tersebut selalu diulang-ulang dan dijadikan slogan kaum muda Muhammadiyah. Semoga kita senantiasa diluruskan niat dan motivasi kita dalam setiap ­kekaryaan yang kita buat. Wallahu’alam Bishawab !

      ﻭَﻟِﻜُﻞٍّ ﻭِﺟْﻬَﺔٌ ﻫُﻮَ ﻣُﻮَﻟِّﻴﻬَﺎ ﻓَﺎﺳْﺘَﺒِﻘُﻮﺍْ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ ﺃَﻳْﻦَ ﻣَﺎ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍْ ﻳَﺄْﺕِ ﺑِﻜُﻢُ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺟَﻤِﻴﻌﺎً ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ
Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.( Q.S Al- Baqarah : 148 )

Share:

0 komentar