Andi Azhar
  • Beranda
  • Mimbar
    • Khazanah Islam
    • Kolak Pisang
    • Pendidikan
    • Sosial Politik
    • Persyarikatan
    • #SeloSeloan
    • Perguruan Tinggi
    • Sains Teknologi
    • Financial Teknologi
    • Bengkulu
    • Bisnis
  • Lakon
    • Formosa
    • Nusantara
    • Ramadhan Bercerita
  • Soneta
  • Interlokal
    • Education
    • Politic
    • Technology
    • Economic
  • Pariwara
    • Competition
    • Endorsement
    • Komiku
  • Jejak
  • Sangu
    • MoE Taiwan
    • HES Taiwan
    • ICDF Taiwan
  • Hubungi Kami
Pagi di hari raya, notifikasi berbunyi tanpa jeda. Grup keluarga, grup alumni, grup kerja, semua seperti berlomba. Satu per satu pesan masuk dengan pola yang hampir sama. Ada gambar ketupat, ada font emas, ada latar masjid yang dibuat mengilap. Saya membuka beberapa saja, lalu berhenti. Rasanya seperti melihat etalase yang isinya seragam. Tidak ada yang benar benar ingin dibaca sampai selesai. Jempol ini bahkan enggan untuk sekadar mengetik balasan singkat.
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Di grup yang lain situasinya tidak jauh berbeda. Nama nama yang biasanya diam tiba tiba muncul dengan poster yang sudah disiapkan sejak malam takbiran. Beberapa orang mengirim lebih dari satu. Seolah khawatir pesannya tenggelam, mereka ulang lagi dengan versi berbeda. Anehnya tidak ada percakapan yang lahir dari sana. Tidak ada yang bertanya kabar, tidak ada yang menyapa lebih jauh. Semua berhenti di ucapan yang lewat begitu saja.

Saya sempat menggulir layar cukup lama. Ratusan pesan hanya berisi kalimat yang hampir identik. Kata maaf, harapan, dan doa berulang tanpa wajah. Di antara itu semua, tidak ada satu pun yang benar benar terasa personal. Bahkan nama pengirim sering terlewat karena fokus mata hanya pada pola visual yang itu itu saja. Ini bukan lagi percakapan, ini seperti papan pengumuman. Orang datang, menempel, lalu pergi.

Dari situ muncul rasa jenuh yang sulit dijelaskan. Bukan karena ucapan itu tidak baik, tapi karena terlalu banyak dan terlalu sama. Nilai yang seharusnya hangat malah menjadi datar. Saya jadi ingat betapa mudahnya sekarang orang mengunduh poster siap kirim. Tinggal simpan, lalu sebar ke semua grup dalam satu waktu. Tidak ada jeda, tidak ada proses, tidak ada cerita di baliknya. Semua terasa instan.

Kalau mundur sedikit ke masa lalu, suasananya terasa berbeda. Era pesan singkat dulu punya ritme yang unik. Setiap masuk satu pesan, kita tahu itu dikirim khusus ke nomor kita. Bunyi notifikasi terasa lebih personal. Bahkan kadang orang sengaja merangkai kata sendiri meski sederhana. Ada rasa menunggu dan ada rasa membaca dengan lebih utuh.

Pada masa itu, hari raya seperti hujan pesan yang deras. Ponsel bisa bergetar sepanjang hari. Server operator pun sering kewalahan. Pesan datang terlambat, bahkan ada yang baru masuk keesokan harinya. Anehnya keterlambatan itu tidak mengurangi makna. Justru ada cerita kecil yang menyertainya. Orang tertawa karena pesan yang nyasar waktu.

Ketika masuk ke era Blackberry, kebiasaan itu berubah bentuk. Fitur broadcast membuat orang bisa menjangkau banyak kontak sekaligus. Ucapan jadi lebih cepat tersebar. Namun masih ada sentuhan personal karena tidak semua orang punya daftar kontak yang sama. Orang tetap memilih siapa yang ingin dikirimi. Setidaknya ada sedikit seleksi dalam proses itu.

Sekarang, di WhatsApp, semuanya terasa lebih luas dan lebih cepat. Grup menjadi pusat pergerakan ucapan. Satu kiriman bisa dilihat puluhan bahkan ratusan orang dalam satu waktu. Tidak perlu memilih, cukup kirim sekali. Efisien, tapi juga membuat semua terasa generik. Tidak ada lagi batas antara yang dekat dan yang sekadar satu grup.

Masalahnya bukan pada medianya. Masalahnya ada pada cara kita memakainya. Ucapan yang seharusnya menjadi jembatan malah berubah jadi rutinitas. Orang mengirim karena semua orang mengirim. Ada semacam dorongan sosial yang sulit dihindari. Kalau tidak ikut, rasanya seperti ketinggalan. Padahal tidak ada yang benar benar memperhatikan siapa yang tidak mengirim.

Kebiasaan ini membuat makna silaturahmi bergeser. Kita merasa sudah menyapa hanya karena sudah mengirim poster. Kita merasa sudah meminta maaf hanya karena sudah menekan tombol kirim. Padahal tidak ada interaksi yang terjadi. Tidak ada ruang untuk mendengar atau merespons. Semua berhenti di permukaan.

Di sisi lain, jalur pribadi justru makin sepi. Pesan langsung yang dulu ramai kini tinggal sedikit. Orang lebih memilih jalan cepat melalui grup. Padahal justru di situlah letak kedekatan. Sebuah pesan yang dikirim khusus memiliki bobot yang berbeda. Ada rasa dipilih, ada rasa diingat secara khusus. Hal kecil yang pelan pelan hilang.

Saya pernah menerima satu pesan pribadi di hari raya. Isinya sederhana, hanya menanyakan kabar dan menyebut satu kenangan lama. Tidak ada gambar, tidak ada desain mewah. Tapi pesan itu bertahan lama di ingatan. Bukan karena bahasanya indah, tapi karena terasa nyata. Ada niat yang bisa dirasakan.

Dari situ saya mulai bertanya pada diri sendiri. Apa yang sebenarnya kita cari saat mengirim ucapan. Apakah sekadar menggugurkan kebiasaan, atau benar benar ingin menyambung hubungan. Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya sering tidak kita pikirkan. Kita terlalu sibuk mengikuti arus. Kita lupa melihat ke dalam.

Ada satu kebiasaan yang sempat saya dengar dan sulit dilupakan. Seorang tokoh publik memilih mengirim kartu ucapan lewat pos. Ia menulis nama penerima satu per satu. Ia mencari alamat, menyiapkan amplop, lalu mengantarkannya. Prosesnya panjang dan tidak instan. Tapi di situlah letak maknanya.

Kartu itu mungkin tiba lebih lambat dibanding pesan digital. Namun setiap tahap menyimpan niat. Dari memilih kartu sampai menuliskan nama, semua melibatkan perhatian. Penerima pun merasakan hal yang berbeda. Ada sesuatu yang bisa disentuh, bisa disimpan, bahkan bisa dikenang bertahun tahun. Ini bukan soal kuno atau modern.

Melihat itu, saya merasa kita kehilangan satu hal penting. Kita kehilangan usaha kecil yang membuat sesuatu terasa berarti. Teknologi memberi kemudahan, tapi kita sering berhenti di kemudahan itu. Kita tidak menambah apa pun dari diri kita. Akhirnya semua terasa seragam dan mudah dilupakan.

Hari raya seharusnya menjadi momen untuk membuka kembali percakapan. Ada banyak hubungan yang jarang disentuh sepanjang tahun. Ada teman lama yang mungkin sudah lama tidak disapa. Ada keluarga jauh yang hanya muncul di momen tertentu. Semua itu butuh lebih dari sekadar poster.

Bayangkan jika kita mengirim satu pesan yang benar benar ditujukan. Menyebut nama, menyinggung sedikit kenangan, lalu menanyakan kabar. Tidak perlu panjang, tidak perlu rumit. Tapi ada arah yang jelas. Ada niat untuk terhubung. Hal sederhana seperti itu sering lebih berarti dibanding seratus poster.

Saya tidak bilang semua ucapan di grup itu salah. Ada fungsi yang tetap berjalan. Setidaknya kita tahu orang orang masih saling mengingat. Tapi akan lebih baik jika tidak berhenti di situ. Grup bisa jadi pintu masuk, bukan tujuan akhir. Dari sana, percakapan bisa bergerak lebih dalam.

Cara kita bersikap di ruang digital akan mencerminkan cara kita memandang hubungan. Jika kita memilih jalan cepat, hubungan pun akan terasa tipis. Jika kita memberi sedikit waktu dan perhatian, hasilnya akan berbeda. Ini pilihan yang terlihat kecil, tapi dampaknya panjang. Terutama di momen yang seharusnya hangat seperti hari raya.

Srawung digital (silaturahmi secara virtual) butuh lebih dari sekadar hadir. Ia butuh niat, perhatian, dan sedikit usaha. Kita tidak harus kembali ke masa lalu, tapi kita bisa mengambil semangatnya. Mengirim ucapan bukan soal seberapa banyak, tapi seberapa dalam. Saat itu kita lakukan, mungkin notifikasi tidak lagi terasa melelahkan. Ia berubah menjadi pintu yang membuka kembali hubungan yang sempat jauh.

Satu waktu, linimasa terasa gaduh oleh satu hal yang berulang. Orang orang memperdebatkan awal puasa dan kemungkinan lebaran dengan nada yang makin meninggi. Sebagian mengutip dalil, sebagian lagi mengandalkan kebiasaan lama. Nama Muhammadiyah ikut terseret ke tengah percakapan. Kalender Hijriyah Global Tunggal tiba tiba menjadi pusat perhatian. Padahal ketika pertama kali diperkenalkan, hampir tak ada yang benar benar peduli. Ia lewat begitu saja seperti berita kecil yang tidak sempat dibaca sampai habis.
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Beberapa bulan sebelumnya, tepat saat 1 Muharram 1447 H, suasana masih sepi. Kritik hanya datang dari lingkaran yang itu itu saja. Para pengamal rukyat menggerutu pelan, selebihnya diam. Tidak ada gelombang besar seperti sekarang. Orang orang masih sibuk dengan urusan lain yang terasa lebih dekat. Kalender global itu seperti ide yang terlalu jauh untuk dipikirkan. Sampai akhirnya Ramadan datang dan semua berubah.

Mendekati akhir bulan puasa, diskusi terasa semakin rapat. Grup keluarga, ruang obrolan kampus, sampai kolom komentar media sosial dipenuhi perdebatan yang sama. Tidak sedikit yang bingung harus mengikuti siapa. Ada yang mulai curiga bahwa ini sekadar beda pendapat biasa. Ada juga yang menganggap ini bentuk keberanian yang terlalu jauh. Di titik ini, Muhammadiyah kembali berada di posisi yang sudah sangat dikenalnya. Sendirian di depan, sementara yang lain masih menimbang.

Cerita seperti ini bukan barang baru bagi Muhammadiyah. Jauh sebelum organisasi ini berdiri secara resmi, benih keberanian itu sudah tumbuh. Kiai Ahmad Dahlan pernah berdiri di tengah masyarakat yang kukuh dengan kebiasaan lama. Ia meluruskan arah kiblat dengan pendekatan ilmu. Respons yang datang tidak ramah. Surau yang ia dirikan bahkan sempat dirusak karena dianggap menyimpang.

Keputusan meluruskan kiblat kala itu terasa seperti gangguan bagi banyak orang. Mereka merasa ibadah yang selama ini dijalani tiba tiba dipertanyakan. Ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Namun waktu berjalan tanpa meminta izin. Masjid masjid mulai menyesuaikan arah. Apa yang dulu dianggap aneh perlahan berubah menjadi standar. Orang orang mulai lupa bahwa pernah ada penolakan keras terhadap hal yang sekarang terasa biasa.

Di bidang pendidikan, kisah serupa kembali terulang. Kiai Dahlan memperkenalkan sistem belajar dengan bangku dan meja. Sesuatu yang saat itu identik dengan sekolah Belanda. Tuduhan datang tanpa jeda. Ia disebut meniru orang kafir. Ia dianggap merusak tradisi belajar agama.

Lambat laun, perubahan itu menemukan tempatnya sendiri. Sekolah sekolah tumbuh dengan cara yang lebih terstruktur. Murid duduk di kursi, mencatat pelajaran, berdiskusi dengan guru. Hari ini sulit menemukan lembaga pendidikan yang tidak memakai bangku dan meja. Bahkan pesantren pun mengadopsinya dengan cara yang khas. Yang dulu ditolak kini terasa paling masuk akal.

Langkah berikutnya muncul di sektor kesehatan. Muhammadiyah mendirikan rumah sakit di masa ketika hal itu terasa janggal. Organisasi Islam dianggap cukup mengurus pengajian dan pendidikan. Kiai Sudjak menerima tantangan yang tidak ringan. Ia melangkah dengan keyakinan yang sama seperti gurunya.

Waktu sekali lagi menjadi saksi yang sabar. Rumah sakit Muhammadiyah berkembang di banyak kota. Pelayanannya menjangkau siapa saja tanpa melihat latar belakang. Organisasi lain mulai mengikuti jejak yang sama. Klinik dan rumah sakit bermunculan dari berbagai kelompok. Sesuatu yang dulu terasa aneh kini menjadi kebutuhan umum.

Beberapa tahun lalu, Muhammadiyah kembali membuat keputusan yang memancing percakapan panjang. Waktu subuh dimundurkan sekitar delapan menit dari ketetapan pemerintah. Kajian dilakukan bertahun tahun sebelum keputusan itu diambil. Banyak yang meragukan hasilnya. Sebagian bahkan menolaknya mentah mentah.

Setelah waktu berjalan lebih dari lima tahun, suara itu mulai mereda. Penelitian lanjutan bermunculan. Diskusi menjadi lebih tenang. Tidak sedikit yang akhirnya mengakui bahwa ada dasar ilmiah yang kuat di balik keputusan tersebut. Perubahan tidak lagi terasa mengganggu. Ia mulai diterima sebagai alternatif yang masuk akal.

Kini giliran Kalender Hijriyah Global Tunggal yang diuji. Gagasan ini berangkat dari kebutuhan menyatukan penanggalan Islam secara global. Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid merumuskan konsep ini dengan pendekatan hisab hakiki. Prinsipnya sederhana dalam logika, satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Perbedaan wilayah tidak lagi menjadi alasan untuk berbeda awal bulan.

Dalam konsep ini, batas tanggal ditentukan secara global dengan mempertimbangkan posisi bulan dan matahari. Garis tanggal internasional menjadi acuan teknis. Selama kriteria imkan rukyat terpenuhi di satu titik, seluruh dunia mengikuti hasil tersebut. Tujuannya bukan sekadar teknis penanggalan. Ada harapan besar tentang kesatuan umat yang selama ini terpecah oleh perbedaan metode.

Reaksi yang muncul bisa ditebak. Sebagian merasa ini terlalu jauh dari tradisi yang selama ini dipegang. Ada kekhawatiran bahwa praktik ibadah akan kehilangan kedekatan lokalnya. Di sisi lain, ada yang melihat ini sebagai langkah maju. Mereka melihat peluang untuk mengurangi perbedaan yang berulang setiap tahun.

Fenomena seperti ini sering dibahas dalam teori perubahan sosial. Ketika sebuah inovasi muncul, masyarakat akan melalui fase penolakan, adaptasi, lalu penerimaan. Everett Rogers menyebutnya sebagai difusi inovasi. Ada kelompok yang cepat menerima, ada yang menunggu, dan ada yang menolak cukup lama. Pola ini tidak pernah benar benar berubah.

Muhammadiyah seperti sudah akrab dengan pola tersebut. Ia sering berada di kelompok yang memulai lebih dulu. Risiko yang dihadapi tidak kecil. Tekanan sosial, kritik, bahkan cemooh menjadi bagian dari proses. Namun sejarah menunjukkan arah yang cukup konsisten. Apa yang dulu dianggap aneh perlahan berubah menjadi wajar.

Guncangan yang dirasakan publik hari ini terasa wajar. Kalender global mengusik kebiasaan yang sudah mengakar. Orang orang merasa kehilangan pegangan yang selama ini dianggap pasti. Perbedaan awal puasa dan potensi beda lebaran menjadi pemicu emosi. Tidak semua siap menerima perubahan dalam waktu singkat.

Keyakinan bahwa semua akan Muhammadiyah bukan sekadar slogan. Ia lahir dari pola sejarah yang berulang. Ijtihad yang didasarkan pada ilmu dan keberanian sering kali berakhir pada penerimaan luas. Waktu menjadi faktor penentu yang tidak bisa dipercepat. Setiap generasi memiliki cara sendiri untuk memahami perubahan.

Perkembangan pendidikan ikut mempercepat proses ini. Akses informasi semakin terbuka. Diskusi tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Teknologi membantu orang memahami konsep yang dulu terasa rumit. Kalender global tidak lagi sekadar ide abstrak. Ia bisa dipelajari dan diuji oleh siapa saja.

Beberapa tahun ke depan, intensitas perdebatan mungkin masih tinggi. Akan ada momen ketika perbedaan terasa lebih tajam. Namun pola yang sama kemungkinan akan kembali terlihat. Orang orang mulai terbiasa. Argumen menjadi lebih rasional. Emosi perlahan turun.

Sikap terbaik saat ini adalah memberi ruang pada proses. Tidak semua harus sepakat dalam waktu yang sama. Perbedaan tidak selalu berarti perpecahan. Ia bisa menjadi jalan menuju pemahaman yang lebih dalam. Muhammadiyah memilih berjalan di jalur yang diyakininya benar.

Pada akhirnya, waktu yang akan berbicara dengan caranya sendiri. Kalender Hijriyah Global Tunggal mungkin akan menempuh jalan yang tidak mudah. Namun jejak sejarah memberi petunjuk yang cukup jelas. Apa yang hari ini terasa asing bisa saja menjadi kebiasaan baru. Dan ketika itu terjadi, orang orang akan lupa bahwa mereka pernah menolaknya dengan begitu keras.

Sore ini saya dihubungi oleh salah satu sahabat baik saya di Taiwan yang meminta untuk dijelaskan lagi soal status kehalalan vaksin AstraZeneca (AZ) yang “simpang siur” di media dan menjadikan masyarakat ragu untuk divaksin. Sekitar 2 bulan yang lalu saat acara halal bi halal diaspora Indonesia se-Taiwan, saya sempat menjelaskan tentang status kehalalan vaksin AZ ini maupun vaksin lainnya. Agar lebih mudah, maka saya menuliskan lagi penjelasan tentang status kehalalan vaksin AZ ini dimana di Taiwan sendiri memakai vaksin ini dalam program vaksinasi Covid-19.

Di Indonesia, Lembaga yang mengeluarkan status kehalalan sebuah produk [masih] dipegang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dalam pemeriksaannya dilakukan oleh LPPOM MUI sebagai Lembaga resmi dibawah MUI yang memiliki kapasitas untuk itu. Sedangkan menurut UU Jaminan Produk Halal, sertifikat kehalalan sebuah produk diterbitkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Ilustrasi Vaksin Covid-19 (Gambar : Freepik)

MUI Pusat dalam menetapkan status kehalalan sebuah produk, menggunakan prinsip kehati-hatian (ikhtiyath) dan keluar dari polemik (khuruj minal khilaf). Prinsip ini dirujuk dari madzhab Syafi’i. Dalam kasus vaksin AstraZeneca, ada perbedaan status yang antara MUI Pusat dengan MUI Jawa Timur. MUI Jawa Timur menggunakan prinsip argument istihalah (perubahan benda najis menjadi suci) secara mutlak yang merujuk pada madzhab Hanafi dan maliki.

MUI Jawa Timur memberikan status halal pada vaksin AstraZeneca, sedangkan MUI Pusat memberikan status haram. Perbedaan status ini merujuk pada perbedaan prinsip dan argument yang digunakan berdasarkan madzhab yang dirujuk (lihat paragraph diatas ini). Namun walaupun berbeda, MUI Pusat dan MUI Jawa Timur sama-sama membolehkan penggunaan vaksin AstraZeneca ini untuk umat Islam. MUI Pusat mendasarkan pembolehan penggunaan vaksin AstraZeneca ini dengan alasan darurat.

Seperti yang kita tahu, pandemic Covid-19 ini semakin hari semakin memburuk keadaannya. Per 15 Juli 2021, Indonesia menempati posisi puncak sebagai negara terbanyak penambahan kasus positif Covid-19 di dunia. Bahkan setiap hari, media sosial kita diramaikan dengan pengumuman duka cita dari para handai taulan, saudara, sahabat, ulama, hingga masyarakat umum yang wafat dan dikebumikan dengan protocol Kesehatan Covid-19. Rasa-rasanya parade kematian akibat Covid-19 sedang terjadi di hadapan kita saat ini.

Salah satu ikhtiar agar kita segera menyudahi pandemic ini adalah melalui vaksinasi. Vaksinasi yang dilaksanakan di Indonesia menggunakan beberapa merek vaksin seperti Sinovac, Moderna, Sinopharm, dan AstraZeneca. Vaksin Sinovac untuk saat ini menjadi satu-satunya vaksin yang sudah mendapatkan sertifikat halal dari MUI Pusat. Sedangkan lainnya ada yang berstatus belum disertifikasi dan ada juga yang berstatus haram. AstraZeneca adalah salah satu yang berstatus haram tersebut.

Secara sederhana ada tiga hal yang menjadi pertimbangan haramnya suatu vaksin. Pertama, mengandung bahan haram atau dibuat dengan cara yang haram. Kedua, proses pembuatannya melanggar hukum syariah. Ketiga, manfaatnya tidak jelas atau mudaratnya jauh lebih besar. Jadi, hukum haram tidak hanya dipandang dari kandungan bendanya, tetapi juga pada proses maupun manfaatnya.

Status haram dari vaksin AstraZeneca didapat dari penggunaan jaringan manusia dan babi dalam proses pembuatan vaksin tersebut. Bahan aktif vaksin AstraZeneca adalah rekombinan adenovirus yakni monovalen vaksin yang terdiri atas satu rekombinan vektor 'replication-deficient chimpanzee adenovirus (ChAdOx1)', yang menjadikan kode untuk glikoprotein S dari SARS-CoV-2, disebut juga ChAdOx1-S (recombinant). Kemudian, saat pembuatan, dalam penyiapan inang virus, sel inang yang digunakan berasal dari diploid manusia. Persisnya sel yang diambil dari jaringan ginjal bayi manusia puluhan tahun lalu. Sel tersebut ditumbuhkan pada media Fetal Bovine Serum, yang disuplementasi dengan asam amino, sumber karbon, bahan tambahan lain serta antibiotik. Pada tahap penyiapan sel inang itulah ditemukan bahan atau enzim tripsin yang berasal dari pankreas babi. 

Tripsin babi digunakan pada proses awal penanaman untuk menumbuhkan virus pada sel inang. Setelah virus ditanam kemudian tumbuh, virusnya dipanen. Pada dasarnya tidak ada persentuhan lagi antara tripsin dan si virus karena urusan tripsin tersebut hanya dengan media tanamnya. Karena itu, sudah tidak ada unsur babi sama sekali di produk akhir vaksin AstraZeneca.

Analoginya, jika kita menanam pohon dengan menggunakan pupuk kandang merupakan barang yang najis, tetapi ketika menghasilkan buah, si buah tidak lantas menjadi najis. Buahnya tetap halal dimakan. 

Oleh karena itu, walaupun status vaksin AstraZeneca itu haram menurut MUI Pusat, namun MUI Pusat membolehkan penggunaan vaksin AstraZeneca untuk disuntikkan kepada umat islam karena kondisi darurat. MUI Pusat memberi jalan keluar dengan kaidah hajat dan darurat. Bukan Tahlilul Haram (menghalalkan yang haram) atau Tahrimul Halal (mengharamkan yang halal). Tapi memubahkan yang haram karena darurat (konsep hukumnya: mubah, bukan halal)

Vaksin AstraZeneca sendiri sudah [diklaim] disetujui lebih dari 70 negara di seluruh dunia, termasuk negara-negara Islam. Beberapa diantaranya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair dan Maroko.

***

Jadi jelaslah status kehalalan dan dibolehkannya penggunaan vaksin AstraZeneca. Sebagai bagian dari masyarakat dunia, kita wajib ambil bagian aksi untuk segera mengakhiri pandemic Covid-19 yang telah mengakibatkan jutaan nyawa manusia melayang. Jadikan vaksin ini sebagai ibadah untuk menyelamatkan keberlangsungan hidup manusia. InshaAllah, manfaat dari vaksinasi Covid-19 ini lebih banyak dibanding mudharatnya. Wallahu’alam bishawab


 

Si A : Innalillahi wainnailaihi rojiun. Guys, ada berita duka. Mas Z (sambal ngetag nama yang bersangkutan di group WA) baru saja wafat karena Covid-19. Jenazahnya akan dikebumikan hari ini juga. Mari doakan semoga beliau husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran.

Jamaah WA : Innalillahi wainnailaihi rojiun. Aamiin. Bagaimana jika kita adakan takziyah online besok malam?

Jamaah lain     : Setuju………. Si B yang jadi hostnya saya.

Si B : Siap. Via Zoom ya. Nanti saya siapkan link Zoom takziyahnya

 

Keesokan harinya menjelang acara takziyah online dilakukan.

 

Si B : Guys, acara malam ini jadi kan ya?

Jamaah WA : Jadi bro. Emang ada apa?

Si B : ngaanuu…….. Susunan acaranya bagaimana ya? Apakah acaranya cukup kita-kita saja atau perlu ada perwakilan dari pihak keluarga? Saya belum pernah ngadain takziyah online.

Jamaah WA : …………(mendadak hening seketika, tidak ada respon dari jamaah lain)

Si A : Sebaiknya sih perlu ada ya perwakilan keluarga

Si C : Tapi bagaimana caranya mengundang pihak keluarga. Kan tidak mungkin dadakan

Si B : Saya usul, bagaimana jika acara mala mini diundur besok malam saja. Sambil kita fix kan susunan acaranya.

Jamaah WA : Setujuuuuu


Dan acara pun akhirnya berlangsung esok harinya dengan acara yang cukup sederhana dan relative singkat. Intinya hanya doa Bersama dan sambil saling mengingatkan pentingnya menjaga diri dari Covid-19 yang sudah mulai dianggap sebagai virus biasa di masyarakat sehingga banyak yang abai terhadap protocol Kesehatan. 


***


Kejadian diatas benar-benar terjadi beberapa waktu yang lalu di salah satu group Whatsapp yang saya ikuti. Pandemi Covid-19 benar-benar telah mengubah Sebagian besar cara hidup kita. Mulai dari memakai masker, bersekolah, bekerja, hingga ke perihal cara kita bertakziyah kepada mereka yang wafat karena penyakit ini. Sebagian besar kegiatan yang dulunya biasanya kita lakukan secara luring dengan berkumpul Bersama lainnya, kini aktifitas tersebut banyak dilakukan melalui daring dengan bertatap muka melalui layer gawai kita masing-masing. Keadaan ini menyebabkan kita harus menyesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada, tak terkecuali dalam hal takziyah. 


Takziyah virtual (daring/online) saat ini mulai menjadi trendsetter di masyarakat kita. Jika dulu orang mendengar ada saudara, kerabat, atau handai taulan yang meninggal yang lokasinya jauh dari tempat tinggal kita, maka kita meresponnya dengan mengirimkan ucapan duka cita melalui karangan bunga, sms, atau ucapan advertorial melalui media cetak. Kini, seiring pesatnya perkembangan internet, maka ritual tersebut ditambahi dengan takziyah virtual. 


Ilustrasi (Gambar : Peacefoo/istockphoto)
Ilustrasi (Gambar : Peacefoo/istockphoto)

Secara sederhana, esensi dari takziyah yang digariskan oleh agama adalah untuk mendoakan si mayit serta men-support dan menghibur keluarga yang ditinggalkan sehingga tidak larut dalam kesedihan karena ditinggalkan oleh almarhum/ah. Bentuknya bisa berbagai macam, bisa dengan menceritakan hal-hal baik tentang almarhum/ah, memberi bantuan uang, membantu tenaga untuk mengurus jenazah, dan banyak lagi. Prinsip ini yang harus menjadi dasar Ketika kita mencoba mentransformasikan takziyah menjadi kegiatan virtual/daring.


Selama setahun terakhir, kita semakin akrab dengan webinar, zoominar, diskusi online, dan sebagainya. Bahkan dalam satu minggu, bisa full 7 hari kita berseminar secara daring. Alhasil, rutinitas baru ini secara tidak sadar menjadi semacam paradigma bahwa kegiatan online susunanannya seperti itu, paling tidak mirip. Paradigma ini yang akhirnya menjadikan kita kebingungan Ketika harus menyelenggarakan kegiatan ibadah secara virtual seperti takziyah ini. Oleh karena itu, bagi penyelenggara perlu diperhatikan secara seksama konten kegiatannya tanpa meninggalkan esensi dari kegiatan itu sendiri.


*** 


Di Bengkulu, ada kebiasaan baik yang sudah dijalankan berpuluh tahun dalam hal takziyah dan mendoakan jenazah. Di hari kedua atau ketiga meninggalnya jenazah, masyarakat mengadakan “tabligh musibah” di kediaman keluarga. Penyelenggaranya adalah institusi tempat almarhum/ah/keluarga bekerja, atau bisa juga dilakukan oleh kelompok masyarakat di sekitarnya (bisa RT, Kelurahan, maupun kelompok arisan). Acaranya seperti kegiatan tabligh akbar / pengajian, dengan inti acara adalah ceramah agama dari seorang mubaligh dengan mengambil tema tentang kematian, kesabaran, dan sebagainya. Tujuannya adalah mengingatkan bagi kita yang masih hidup untuk merenungi kehidupan dan kematian yang bisa saja datang sewaktu-waktu.


Selain itu, dalam rangkaian tabligh musibah ini, biasanya ada yang menambahi dengan pemberian testimoni dari kerabat dekat, rekan kerja, serta tokoh masyarakat. Tujuannya adalah menghibur keluarga yang ditinggalkan dan memberikan semangat kepada keluarga untuk menghadapi hari-hari setelah ini.


Ada tiga poin yang seyogyanya tidak boleh terlupa dalam penyelenggaraan takziyah online : tabligh (saling mengingatkan tentang hikmah kematian untuk kita yang masih hidup), pemberian testimoni tentang hal-hal baik serta kebaikan almarhum/ah (untuk menjadi pelajaran serta panutan sekaligus menjadi penghibur bagi keluarga), dan mendoakan almarhum/ah.


Selain itu, dalam tradisi masyarakat kita dikenal adanya pemberian sumbangan untuk keluarga yang ditinggalkan agar kebutuhannya dalam beberapa hari masa berkabung bisa tercukupi. Ini bisa di transformasikan menjadi salah satu bagian juga dalam rangkaian takziyah virtual jika disepakati oleh semuanya. Islam mengajarkan bahwa dalam takziyah kita dilarang memberatkan si keluarga yang sedang berduka, dan Islam menganjurkan kita untuk membantu si keluarga tersebut sehingga bisa meringankan kondisi mereka yang sedang berduka karena kehilangan anggota keluarga yang dicintai.


*** 


Mengakhiri tulisan ini, kami mencoba memberikan sebuah contoh konten (susunan) acara takziyah virtual yang [siapa tahu] bisa dijadikan referensi.

  1. Pembukaan
  2. Pembacaan Ayat Suci Alquran (disarankan membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan kematian maupun mengingatkan tentang maut) sekaligus pembacaan arti ayat yang dibaca tersebut
  3. Sambutan dari pihak penyelenggara (diusahakan untuk menjelaskan mengapa kegiatan ini ada dan apa tujuannya)
  4. Sambutan dari pihak keluarga (jika dimungkinkan dari keluarga inti, namun jika tidak ada yang bisa maka bisa dari keluarga besarnya)
  5. Pemberian testimoni dari beberapa kerabat dan rekan almarhum / ah (testimoni singkat saja namun menceritakan hal-hal baik tentang almarhum/ah, jasa-jasanya, serta bagaimana peran almarhum di tempat kerja/pergaulan)
  6. Tabligh Musibah (pilih mubaligh yang tidak suka bercanda dalam mengisi tabligh musibah dan pilih tema-tema yang terkait dengan kematian, kehidupan setelah mati, serta bagaimana kita bersikap dalam menyambut akhir waktu nyawa kita)
  7. Doa bersama
  8. Pemberian bantuan materi kepada keluarga untuk membantu kebutuhan sehari-hari keluarga yang ditinggalkan selama beberapa hari masa berkabung (yang ini sifatnya opsional, tergantung kesepakatan para pentakziyah sebelumnya)
  9. Penutup


Selain itu, usahakan semua kamera dinyalakan sehingga ada interaksi (selama ini, banyak kegiatan daring/virtual yang kesannya hanya satu arah karena kamera peserta dimatikan).


Intinya, kegiatan takziyah virtual ini merupakan hal baik dan baru bagi kita untuk melaksanakan perintah nabi. Dengan kemajuan teknologi, kendala jarak-ruang-waktu tidak lagi menjadi hambatan untuk terus melaksanakan sunnah-sunnah nabi, seperti takziyah seperti ini. Jangan lihat bahwa ini adalah bentuk bid’ah, namun lihat ini sebagai sebuah ijtihad dengan memanfaatkan kemajuan zaman.


*** 


Setiap dari kita akan meninggal atau ditinggalkan lebih dahulu. Bagi yang ditinggalkan, tentu perlu dukungan dan bantuan dari lingkungan sekitar untuk beradaptasi terhadap ketentuan Allah tersebut. Tidak mudah memang cepat beradaptasi terhadap kehilangan orang yang dicintai, namun yakinlah bahwa sesungguhnya Allah telah menetapkan waktu akhir terbaik bagi setiap orang. Sebagai individu yang diperintahkan Allah untuk senantiasa berhablumminannas, maka sesungguhnya takziyah adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk memuliakan si jenazah dan keluarga yang ditinggalkan. Dan karena pandemi ataupun karena jarak, maka takziyah tetap bisa dilakukan melalui perangkat teknologi seiring majunya zaman. Semoga kita senantiasa menjadi pribadi-pribadi beriman yang ingat akan kematian dan menyiapkan diri terhadap kematian. Wallahu’alam bishawab

Beberapa waktu yang lalu, di salah satu forum pengajian daring, Ust. Adi Hidayat memaparkan bahwa beliau telah melakukan riset selama berbulan-bulan untuk mencari obat dari penyakit yang menjadi wabah dunia saat ini, yaitu Covid 19. Ia melakukan riset berbasiskan Al-Quran dan Al Hadist sesuai otoritas keilmuan beliau yang memang ahli dibidang tafsir. Ia menyebut bahwa nabi pernah menyebut tentang sebuah obat yang bisa menyembuhkan beberapa macam penyakit, salah satunya adalah selaput dada. Beliau (Ust. Adi Hidayat) memberikan inisial PH 7 untuk bahan obat ini yang hanya tumbuh di dua tempat di dunia, yaitu Himalaya dan Saudi Arabia bagian Timur.

Saya tergelitik untuk ikut mencari apa yang dimaksud dengan PH 7 tersebut. Ust Adi Hidayat sendiri belum mau mempublikasikannya karena sudah memberikan hasil kajian beliau tersebut ke pihak-pihak terkait yang berkompeten untuk mengujinya dan mengumumkannya. Banyak orang yang mengira bahwa PH 7 yang dimaksud adalah garam Himalaya karena istilah PH biasanya merujuk pada sifat kimia asam dan basa suatu zat. Saya sendiri berusaha mencari hadist / riwayat nabi terkait obat yang dimaksud. Dan ketemulah hadist nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dengan nomor hadis 5260. Berikut bunyi hadis nabi tersebut.

“Bahwa dirinya pernah mengunjungi Rasulullah SAW bersama anaknya yang baru saja diobati dengan cara memasukan jari-jari ke kerongkongannya, lalu beliau bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah, dengan maksud apa kamu mengobati penyakit tenggorokan anakmu dengan memasukan jemari tangan? Gunakanlah kayu India ini, karena padanya terdapat tujuh ragam penyembuhan, diantaranya adalah penyakit radang selaput dada”

Ternyata PH 7 yang dimaksud bukanlah garam Himalaya, karena garam Himalaya tidak ditemukan di Arab Saudi bagian timur. Dan kemungkinan yang dimaksud PH 7 oleh Ust Adi Hidayat adalah Kayu India, seperti yang disebut dalam hadis diatas. Lalu pertanyaannya, benarkah kayu India yang disebut dalam hadis ini adalah jawaban kita untuk menghentikan wabah Covid 19? Apakah ada dasar ilmiah pemanfaatan kayu India ini sebagai obat?

Disinilah tulisan ini coba mendedah klaim ini dari referensi-referensi ilmiah terkait informasi yang sedang hangat dibicarakan oleh warganet saat ini. 

***

Di India tumbuhan ini disebut qusth India. Dalam kamus lisan al-‘Arob, disebutkan:

“Al-Aluwwah dan Al-Uluwwah, dengan memfatahkan hamzah dan mendlommahkannya serta mentasydid waunya, memiliki dua lugot, yaitu lugot persi yang dijadikan ‘arab ialah kayu gaharu. Bentuk pluralnya adalah Alaawiyah. Imam Al-Ashmu’i berkata, “Al-Uluwwah adalah kayu gaharu”, Abu Manshur berkata, “Al-Uluwwah adalah kayu gaharu”. (Kitab digital Marji’ al-Akbar)

Imam Ibnu Al-Qayim Al-Jauzi dalam kitabnya Al-Thib Al-Nabawi menjelaskan tentang macam dan fungsi kayu gaharu, beliau mengatakan:

”Kayu gaharu India itu ada dua macam. Pertama adalah kayu gaharu yang digunakan untuk pengobatan, yang dinamakan kayu kusth. Ada yang menyebutnya dengan Qusth. Yang kedua adalah yang digunakan sebagai pengharum. Kayu ini disebut Uluwwah.” (At-Thib An-Nabawiy, hlm 265)

Dalam dunia internasional, kayu India ini populer dengan nama Qust Al Hindi atau dalam Bahasa inggris disebut Indian Costus Root. Sebenarnya ada 2 jenis kayu ini, yang satu qust al hindi yang berwarna hitam dan qust al bahri yang berwarna putih. Qust al hindi ini lebih panas disbanding qust al bahri.

Dalam banyak literature disebutkan bahwa qust al hindi ini sudah lama dipakai oleh masyarakat di timur tengah dan asia selatan sebagai pengobatan herbal. Klaimnya ada beberapa manfaat, seperti memudahkan aliran menstruasi, memudahkan aliran urin, membunuh cacing di usus, menangkal racun, mencegah demam, memanaskan perut (memperlancar pencernaan), meningkatkan hasrat seksual, serta menghilangkan bintik-bintik di wajah.

Qust Al Hindi / Kayu India /  Indian Costus Root  (Foto : Istimewa)
 

Dilihat dari publikasi riset di jurnal-jurnal ilmiah, belum ada satupun jurnal yang mengaitkan efektifitas qust al hindi ini sebagai obat Covid 19. Namun ada beberapa penelitian yang sudah dipublikasikan yang mencoba meneliti efektifitas qust al hindi ini sebagai obat untuk melawan bakteri dan mikroba jahat yang menyerang tubuh manusia.

1.    Penelitian Nagwa M. Sidkey et. al dari Universitas Al-Azhar Mesir dan Universitas Taibah Arab Saudi

Dalam penelitian yang berjudul “Antimicrobial Activity of Costus Plant Extract Against Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA, I3)”, para peneliti menyimpulkan bahwa dari studi menyeluruh dan investigasi literatur yang tersedia tentang Costus speciosus, jelas ditemukan bahwa ekstrak tersebut (qust al hindi) memiliki senyawa dengan sifat antimikroba dan berfungsi sebagai sumber penting untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh strain Staphylococcus aureus (MRSA) yang resisten Methicillin. Rimpang C. speciosus (Qust Hindi) memiliki potensi untuk digunakan sebagai nutrisi dalam makanan yang memberikan manfaat kesehatan. Tulisan ini terbit di  International Journal of Science and Research (IJSR), tahun 2015

2.     Penelitian Ebedi Nastaran et.al dari Tehran University of Medical Science, Iran

Penelitian ini mengungkap bahwa beberapa efek farmakologis yang identik seperti aktivitas antiinflamasi, antimikroba, hepatoprotektif, hipolipidemia, hipoglikemik, spasmolitik, analgesik, dan antioksidan telah dibuktikan pada S. costus dan C. speciosus dan kesamaan ini dapat menjadi alasan untuk aplikasi dan penggantian tumbuhan ini daripada satu sama lain. . Lakton sesquiterpene seperti costunolide umum ditemukan dalam famili Asteraceae dan S. costus, tetapi telah dipisahkan dari beberapa tanaman obat lain seperti C. speciosus juga; jadi, ada kemungkinan bahwa komponen aktif ini bertanggung jawab atas efek farmakologis serupa pada S. costus dan C. speciosus. Penelitian ini membuktikan bahwa ada kandungan aktif yang terdapat dalam qust al hindi yang berfungsi sebagai anti mikroba dan antioksidan yang diperlukan tubuh untuk melawan bakteri dan mikroba-mikroba yang menyerang tubuh manusia. Penelitian ini dipublikasikan di Research Journal of Pharmacognosy (RJP) tahun 2018.

3.      Penelitian oleh Zainab A. Bakhsh et.al dari Universitas King Abdul Azis, Arab Saudi

Dalam penelitian ini yang mengambil metode pilot study ini mengungkapkan kemanjuran yang signifikan dari penggunaan ekstrak air rimpang C. speciosus pada pasien yang menderita faringitis akut dan tonsilitis. Intervensi ini menunjukkan perbaikan gejala akut pada 60% pasien yang dirawat dalam 24 jam pertama, dan 93% sembuh total pada hari ke-5 tanpa perkembangan efek samping. Temuan ini menunjukkan bahwa para peneliti dapat mempertimbangkan ekstrak rimpang ini sebagai terapi alternatif untuk manajemen antibiotik pada faringitis akut dan tonsilitis. Penelitian ini dipublikasikan pada Saudi Medical Journal tahun 2015.

4.     Penelitian oleh Al-Kattan dan Manal Otthman dari Universitas King Abdul Azis, Arab Saudi

Penelitian ini mengungkap bahwa ekstrak air dari qust al hindi  terlihat tinggi efektivitasnya melawan Aspergillus niger, Aspergillus flavus dan Candida albicans. Hasil yang diperoleh dari riset ini memberikan bukti tentang pentingnya menggunakan berbagai jenis Costus dalam pengobatan penyakit bakteri yang mempengaruhi saluran pernapasan pada manusia, baik kering maupun ekstrak air. Costus (qust al hindi) adalah salah satu tanaman obat yang telah digunakan sejak zaman dahulu di berbagai negara untuk pengobatan berbagai penyakit yang menyerang manusia. Sebagai pengobatan profetik, ini telah direkomendasikan penggunaan spesies Costus ini dalam pengobatan penyakit selama ribuan tahun. Saat ini, qust al hindi ini adalah salah satu alternatif medis untuk mengurangi risiko resistensi terhadap antibiotik. Penelitian ini dipublikasikan pada Journal of Medicinal Plants Research pada tahun 2013.

5.    Penelitian oleh Shabnam Ansari dari Jamia Millia Islamia, India

Penelitian mengungkap bahwa qust al hindi dan senyawa aktifnya telah membuktikan potensinya sebagai antivirus, hepatoprotektif, anti-inflamasi, imunomodulator, anti mikroba, antiulcer, gastroprotective, antikanker, anti oksidan, aktivitas anthelminthic, hipolipidemik, hipoglikemik, anti-angiogenesis, antidiare, spasmolitik dan antikonvulsan dalam berbagai studi in vitro, in vivo dan klinis. Penelitian ini dipublikasikan di Journal of Pharmacognosy Reviews tahun 2019.

*** 

Selain kelima penelitian diatas, masih banyak sekali tulisan-tulisan di jurnal lain yang membahas efektifitas kandungan qust al hindi sebagai obat. Jika ditarik benang merahnya, maka qust al hindi ini bekerja dengan cara meningkatkan imunitas agar tubuh mampu melawan bakteri maupun virus yang menyerang tubuh. Ini artinya bahwa hadis Rasulullah SAW yang kami sitir di awal tulisan ini terbukti benar bahwa kayu india bisa menjadi obat untuk beberapa penyakit, yang salah satunya adalah radang selaput dada. Namun terkait dengan apakah qust al hindi ini juga bisa menyembuhkan penyakit covid 19, ini masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Klaim ini masih memerlukan pengujian dan penelitian secara ilmiah agar penggunaannya bisa tepat. Walaupun dalam literature disebut bahwa qust al hindi bisa menyembuhkan radang paru-paru, dan covid 19 ini juga sebenarnya menyerang paru-paru, namun sekali kali kami sebutkan bahwa ini belum ada dasar ilmiahnya (belum ada publikasi jurnal ilmiah terkait hal ini). Bisa jadi saat ini ada peneliti di suatu tempat sedang berkejaran dengan waktu untuk meneliti kandungan qust al hindi sebagai solusi mengatasi wabah covid 19 ini. 

Saat ini, ikhtiar yang bisa dilakukan oleh kita adalah meningkatkan imunitas diri dengan cara berolahraga, makan makanan bergizi, terus berpikir positif, dan minum multivitamin. Selain itu, sebagai langkah antisipasi juga wajib patuhi protokol yang berlaku. Sebagai masyarakat awam, sudah seyogyanya kita mendoakan agar obat covid 19 ini bisa segera ditemukan dan wabah ini segera mereda sehingga kehidupan bisa kembali seperti semula. Wallahu’alam bishawab

Ilustrasi Ketupat (Sumber : Istimewa)


Adalah sesuai penanggalan Islam dan Jawa, maka hari ini adalah hari Lebaran Ketupat atau yang biasa juga disebut lebaran kupat (Kupat adalah nama pendek dari ketupat, biasa diucapkan oleh masyarakat Jawa). Lebaran ketupat adalah salah satu perayaan umat Islam di Indonesia hasil akulturasi Islam dan budaya Jawa garapan Walisongo.

Lebaran kupat adalah perayaan kemenangan (sama halnya seperti lebaran 1 syawal) setelah 6 hari puasa sunnah di bulan Syawal. Menurut salah satu hadits, yang kurang lebih isinya menyebutkan bahwa jika kita (muslim) melaksanakan puasa ramadhan selama sebulan penuh kemudian disambung dengan puasa 6 hari dibulan syawal, maka baginya pahala puasa layaknya orang berpuasa setahun lamanya. Puasa Sunnah syawal sendiri bisa dikerjakan kapan saja asal masih di bulan syawal. Namun kebiasaan yang utama, puasa ini dimulai pada tanggal 2 syawal hingga berakhir 7 syawal. Sehingga muslim akan berlebaran ketupat pada hari ke-8 syawal.

Dalam perayaan lebaran kupat ini, ada perbedaan dengan lebaran 1 syawal, terutama dalam hal merayakannya. Yang khas dari lebaran ini adalah adanya makanan wajib pada perayaan lebaran kupat ini, yaitu Ketupat atau Kupat. Walaupun kadangkala dalam perayaan lebaran 1 syawal pun kita juga membuat kupat. Namun seiring berjalannya waktu, banyak yang menggantikan keberadaan kupat ini dengan lontong maupun yang lain saat lebaran 1 syawal. Namun dalam lebaran kupat, keberadaan kupat tidak bisa tergantikan dengan lontong maupun bentuk lainnya.

Lebaran kupat sendiri tidak hanya sekedar menjadi tradisi yang dilaksanakan setiap tahun. Lebih dari itu, kupat yang menjadi simbol utama dalam perayaan ini adalah anyaman janur kuning yang menggambarkan jalinan silaturrahmi yang erat, saling membungkus, dan saling menguatkan. Semacam simbol pentingnya persatuan dan kesatuan. Di beberapa literature disebutkan bahwa janur kuning, daun kelapa muda, juga bermakna simbol perlunya mempermuda, terus memperbarui jalinan silaturrahmi agar tidak lekas menua dalam pengertian menjadi rapuh dan lemah. Sebab, rapuh dan lemahnya silaturrahmi adalah embrio keterpecahan baik individual maupun kolektif. Dan ini berbahaya bagi kelangsungan tata hubungan social kemasyarakatan.

Sebagai muslim yang terlahir di Indonesia dan dibesarkan bersama budaya nusantara, kita beruntung memiliki perayaan Idul Fitri. Kita juga diuntungkan dengan adanya tradisi dan budaya kupat atau ketupat sebagai simbolisasinya. Karena kupat bisa menjelaskan hakikat Idul Fitri dengan mengangkat dan menghargai budaya lokal. Jika dicari dalilnya, mungkin hal yang seperti ini tidak akan ketemu. Namun lita tidak harus alergi dengan symbol-simbol budaya seperti ini darimanapun itu asalnya selama tidak bertentangan dengan agama. Sebab, dalam simbol, terkadang kita bisa menguak makna tanpa kehilangan esensinya.

***

Namun apalacur, hari-hari ini kita seperti sedang mengalami krisis identitas. Semua yang dianggap berbeda, di cap salah. Padahal belum tentu yang berbeda itu salah, karena terkadang perbedaan itu bukan pada hal mendasarnya, melainkan hanya pada cara mengungkapkannya. Dan ini banyak terjadi disaat kita tidak memahami makna dan tujuan dari simbolisasi dari apa yang dilakukan. Seperti yang sudah disebutkan, bahwa selama itu tidak bertentangan dengan aqidah dan ajaran Islam, serta bisa diambil manfaatnya, tentu sah-sah saja ini dilakukan.

Seperti yang terjadi pada lebaran ketupat. Banyak orang yang tidak mau merayakannya, atau bahkan tidak tahu tentang acara ini. Tentu ada factor-faktor yang mendasarinya. Namun terlepas dari itu semua, ada juga sebagian dari kita yang merayakan lebaran kupat hanya sebagai tradisi saja tanpa tahu makna dibalik itu semua.

Jika saja lebaran kupat yang sebenarnya penuh dengan pemaknaan symbol dan ajaran Islam, direduksi maknanya dengan hanya menjadikannya sebagai sebuah tradisi turun temurun yang kalau tidak dilakukan maka terasa ada yang kurang pas (karena dianggap melenceng dari tradisi leluhur), maka ini sangat disayangkan. Jika diamati, pudarnya makna lebaran kupat ini bisa jadi akibat factor internal dan factor eksternal.

Faktor internal lebih mengarah pada bagaimana keluarga dan lingkungan mengajarkan tradisi baik ini beserta dengan pemahamannya. Beberapa tahun terakhir saya mengamati perayaan ini di beberapa desa di sekitar saya yang notabenenya adalah masyarakat Jawa transmigran generasi ketiga, mereka hanya merayakan tradisi lebaran kupat hanya sebagai seremonial leluhur saja. Mereka membuat selebrasi-selebrasi tertentu, namun sayangnya tidak tahu apa makna dan tujuan dari selebrasi tersebut. Sudah sangat jarang orangtua maupun guru ngaji yang mengajarkan makna penting dibalik perayaan ini. Sehingga generasi-generasi mudanya hanya tau luarnya saja, tidak menyentuh pada hal-hal esensialnya. Alhasil, saya banyak menemukan lebaran kupat dirayakan lebih awal dari yang seharusnya. Selain itu, factor internal lainnya adalah anggapan bahwa tradisi ini adalah tradisi lama yang tidak kekinian, sehingga dirasa kurang pas untuk dilaksanakan hari-hari ini. Sedangkan factor eksternal yang mempengaruhi turunnya popularitas (jika boleh disebut seperti itu) lebaran kupat adalah menguatnya tren budaya asing dan modern dalam hal perayaan lebaran itu sendiri yang pada akhirnya menyingkirkan tradisi negeri sendiri.

***

“Bukankah orang yang berhari raya itu adalah yang mencukupkan puasa dan membayar zakat?”

Sama halnya dengan lebaran 1 Syawal, lebaran kupat juga pada dasarnya hanya dirayakan oleh orang-orang yang melakukan puasa sunnah 6 hari di bulan syawal. Dan ini kiranya perlu menjadi perenungan bagi kita semua, apakah kita hanya sekedar menjalani tradisi atau mengambil esensi dari tradisi tersebut. Karena sesunggunya tradisi itu dibuat bukan tanpa sebab, melainkan mengajarkan manfaat bagi si pelakunya.

Selamat berlebaran !

Lampung Tengah, 17 September 2010

Bagi kita yang mendapatkan identitas Muslim sejak lahir, ajaran-ajaran yang ada dalam Islam terkadang hanya dipahami sebagai laku ritual semata. Banyak [bahkan saya sendiri] yang tidak mengetahui filosofi ibadah serta ajaran dalam Islam serta kaitannya dengan sosial, budaya, kesehatan, dan semua cabang ilmu pengetahuan modern yang ada saat ini.

Islam lahir secara lengkap. Tak ada cacat sedikitpun dalam Islam. Cacat yang [kebanyakan] kini dipahami oleh segelintir orang adalah buah dari kekurangannya memahami Islam secara utuh. Islam lahir dengan membawa ari-ari semua cabang keilmuan modern saat ini. Bahkan, saat kondisi masyarakatnya belum mencapai tahap maju, Islam sudah Avant Garde dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan modern dalam ajaran-ajarannya.

***

Beberapa hari yang lalu, dalam diskusi kelas, salah seorang teman saya memberikan presentasi tentang Kota Ramah Kesehatan. Ia bercerita tentang salah satu kota di dunia. Ia juga menunjukkan salah satu video yang cukup viral beberapa minggu belakangan, tentang bagaimana Taiwan berubah dari sebuah "pulau sampah" menjadi salah satu pulau terbersih di dunia. Professor saya pun menanggapi presentasi dan tayangan video tersebut.

Taiwan membutuhkan waktu 2 tahun lebih untuk merubah kebiasaan serta pola hidup masyarakatnya. Masyarakat Taiwan di masa lampau, 180 derajat berbeda dengan saat ini. Dulu, masyarakat Taiwan gemar membuang sampah sembarangan. Alhasil, pada tahun 2000an Pemerintahnya membuat regulasi untuk membentuk karakter dan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan dengan cara mengurangi kotak sampah serta mengenakan denda bagi siapa saja yang membuang sampah sembarangan. Bahkan orang yang melaporkan orang lain yang membuang sampah sembarangan malah akan diberi hadiah. Alhasil, dalam kurun beberapa waktu, Taiwan berubah. Pola hidup dan kebiasaan masyarakatnya berubah drastis. Namun itu bukanlah sebuah kejutan. Karena Taiwan baru menerapkan regulasi tersebut setelah 50 tahun berdiri. Itupun karena memang kondisinya sudah sedemikian parah. Jadi menurutnya itu adalah sebuah kewajaran. Sebuah usaha [yang walaupun biasa] tetap harus diapresiasi. Namun ada yang jauh lebih harus diapresiasi.

Menurut professor saya yang lama tinggal di Amerika Serikat tersebut, ia justru salut dengan Islam. Agama ini sudah mengajarkan tentang kebersihan berabad-abad yang lalu. Professor justru mencontohkan tentang wudhu, kebersihan pakaian dan tempat [terutama ketika akan sholat], bersuci sehabis buang air kecil dan besar, serta menjaga kebersihan rumah dari hewan peliharaan. Baginya, Islam adalah agama yang sangat menganjurkan pola hidup bersih dan sehat. Tak ada keraguan di dalamnya. Sayapun menimpalinya dengan sebuah kalimat, "Dalam Islam, menjaga kebersihan adalah sebagian dari Iman".

Lain professor lain pula dengan anak muda Taiwan. Kemarin saya kebetulan satu bus dengan salah satu karyawan kampus yang usianya kurang lebih sama dengan saya. Ia menyapa saya terlebih dahulu saat bertemu di bus dan iapun membuka percakapan dengan beberapa pertanyaan basa-basi. Namun 5 menit berikutnya, percakapan menjadi lebih berbobot.

"Andi, apa agamamu?"
"Saya bergama Islam"
"Wah, Islam ya? Saya sangat terkesan dengan Islam. Saya banyak tahu tentang Islam dari cerita teman-teman saya serta membacanya melalui internet"

Ia menceritakan bagaimana Islam sangat menghargai peran laki-laki tanpa mengesampingkan peran perempuan. Menurutnya, Islam sangat menaruh posisi laki-laki menjadi Pembuat Kebijakan dalam keluarga. Islam mengajarkan bahwa seorang laki-laki haruslah menjadi tulang punggung, pengayom, dan pemberi kasih sayang bagi keluarganya. Namun Islam juga mengajarkan bahwa dalam keluarga, selain laki-laki, wanita juga merupakan sosok yang sangat mulia. Ia bersimpati tatkala mengetahui bahwa Islam menempatkan seorang perempuan menjadi makmum laki-laki, namun menaikkan derajatnya 3 tingkat diatas laki-laki karena perjuangannya dalam mengandung, melahirkan, membesarkan anak, serta mendukung penuh sang laki-laki dalam aktifitasnya. Menurutnya, ini adalah sesuatu yang dia tidak pernah temukan sebelumnya.
 
Ilustrasi (Sumber : Pixabay)
Lebih lanjut, ia bercerita tentang bagaimana seorang laki-laki dalam Islam tidak boleh menyentuh lawan jenisnya jika belum menikah. Ia sangat mengapresiasinya tatkala saya mencoba memberikan perumpamaan permen untuk memberikan gambaran maksud serta tujuan mengapa Islam mengajarkan perintah tersebut. Baginya, sungguh Islam adalah agama yang sangat memuliakan kaum perempuan.

Dalam diskusi berikutnya ia malah balik menanyakan apakah saya sudah menikah atau belum? Serta menanyakan alasan mengapa banyak orang Indonesia menikah muda. Seperti yang saya tuliskan diatas, bahwa kami berdua seumuran. Namun ia malah belum kepikiran untuk menikah dalam waktu dekat. Menikah adalah sesuatu yang masih jauh baginya.

Saya mencoba memberikan perumpamaan permainan sepakbola. Tatkala sebuah kesebelasan bertanding melawan kesebelasan lain, maka apa yang sekiranya akan membuat mereka menjadi semangat untuk memenangkan pertandingan?

Ia menjawab, "uang / bonus".
"Benar, itu benar sekali. Namun adakah faktor lain yang lebih besar dibandingkan uang?"
"Hmmmm....... Supporter". Teriaknya, sampai membuat seiisi bis memelototin kami.

Iyaps, benar sekali. Sepak bola tanpa supporter bukanlah sepak bola. Dalam banyak kasus, suporter diibaratkan menjadi pemain ke-12 dalam sebuah pertandingan sepak bola. Mereka merupakan energi yang luar biasa yang membuat para pemain di lapangan menjadi beringas dan bersemangat untuk meraih kemenangan.

Nah, sama dengan kehidupan ini. Seorang laki-laki akan sangat membutuhkan dukungan seorang perempuan dalam hidupnya untuk mengarungi kehidupan. Kehampaan akan seorang pendukung dalam "pertandingan" kehidupan, menjadikan seorang laki-laki lemah. Inilah salah satu faktor mengapa banyak orang Indonesia [yang memang sudah siap untuk mengarungi ganasnya kehidupan], menikah muda. Mereka butuh partner, tempat berbagi segalanya, teman hidup, serta pendukung untuk mengarungi kehidupan.

Ia pun manggut-manggut mendengar penjelasan saya yang sangat amburadul bahasa inggrisnya [terutama pronounciationnya. Medoknya tidak bisa hilang. He he he]

***

Dari 2 peristiwa yang saya alami diatas, menjadikan saya semakin yakin tentang Islam yang saya yakini sejak lahir. Islam yang membawa obor penerang kehidupan bagi pemeluknya. Islam yang mengajarkan bahwa logika serta ilmu pengetahuan dapat menjelaskan secara ilmiah tentang jabaran-jabaran ajaran dalam Islam itu sangat rasional dan bermanfaat bagi para pemeluknya. Islam yang bukan agama mistik yang tidak boleh dipelajari oleh pemeluknya. Islam yang meninggikan manusia, bukan malah merendahkan manusia dengan manusia lainnya. Tak ada ajaran dalam Islam yang menjerumuskan pemeluknya pada sesuatu yang negatif. Semua memiliki fungsi dan tujuan yang baik yang menjadikan manusia sebagai makhluk terbaik di muka bumi.

Jika orang asing saja sangat mengapresiasi terhadap ajaran-ajaran Islam, lantas mengapa kita masih malu menyebut diri kita seorang Muslim? Yuk, buka lagi kajian tentang Islamnya. Ada banyak rahasia Allah swt yang belum kita pelajari. IQRA' !!!


Catatan Kaki :
Alien adalah sebutan bagi orang asing di Taiwan [dulunya]. Buktinya adalah kartu identitas tinggal bagi orang asing adalah ARC (Alien Resident Card). Ini bukan Alien yang berarti makhluk dari luar angkasa ya. Hehehe



Postingan Lama Beranda

TENTANG PENULIS


Ayah penuh waktu. Penyuka kue lupis dan tempe goreng. Bekerja sebagai penulis partikelir semi-amatir. Kadang-kadang juga jadi tukang dongeng

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

ACADEMIC LEARNING ACCESS

My Courses

KOMIKU

Memuat komik...

Artikel Populer

  • PAWANG HUJAN DAN KITA YANG MASIH PERCAYA
  • SEPULUH TAHUN, DAN MASIH ADA ESOK
  • DUA JENIS ABDI NEGARA
  • MASIH PERLUKAH INDONESIA TERLIBAT DALAM PASUKAN PBB?
  • KAMUS [KECIL] BAHASA BELANDA - INDONESIA

TEMATIK

Ramadan Bercerita
Tulisan di Media Massa
Opini 1
Kompas.ID
Papan Bunga: antara Ekspresi Tulus dan Konsumerisme Berlebihan
Opini 2
DetikNews
Birokratisasi Kepahlawanan
Opini 3
DetikNews
Tsunami Jurnal di Indonesia
Opini 4
DetikNews
Disrupsi Alam dan Kebutaan Akademik Kita
Opini 1
DetikNews
Pendidikan (Tanpa) Kompetisi
Opini 2
DetikNews
Tanggung Jawab Media Sosial Pascapemilu
Opini 3
DetikNews
Senjakala Sekolah Negeri?
Opini 4
DetikNews
Kado Manis untuk Pekerja Migran
Opini 4
DetikNews
Rapat dan Efisiensi Anggaran
Opini 4
DetikNews
Menggugat Jurnal-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Konsep Pariwisata Bengkulu yang Berkelanjutan
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba
TribunNews Bengkulu
Menyelamatkan Ekonomi Bengkulu dari Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai
Opini 4
Tirto.ID
Senjakala Toko Buku di Indonesia, Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Opini 4
Tirto.ID
Empat Titik Kerawanan Pemungutan Suara di Luar Negeri
Opini 4
Tirto.ID
Salah Kaprah Susu Kental Manis: Literasi Gizi dan Tipu-Tipu Iklan
Opini 4
Taipei Times
University attraction to Indonesia
Opini 4
Media Indonesia
Pentingnya Literasi Digital di Era Modern

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 2

ADVERTORIAL 2
DMCA.com Protection Status

BUKU KAMI YANG TELAH TERBIT

Copyright © 2013-2024 Andi Azhar. Oleh Andi Azhar