HEHUANSHAN ; SALJU DIATAS AWAN

Memasuki musim dingin, belum lengkap rasanya kalau tidak bertemu salju atau es. Apalagi di negara yang memiliki 4 musim, tentu bagi kita yang berasal dari negeri tropis, yang akan terbayang adalah salju. Nah, liburan musim dingin kali ini, saya bersama rekan-rekan mahasiswa Indonesia di Asia University mencoba menjelajah kawasan pegunungan Hehuanshan di wilayah Taiwan Tengah. Kami berangkat menggunakan bus sewaan dengan biaya NTD. 9800 untuk seharian penuh.

Agar keinginan untuk melihat salju dan es bisa tercapai, maka berangkat pagi wajib dilakukan. Kami sendiri berangkat pukul 05.30. Perjalanan menuju kawasan Hehuanshan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Waktu 2,5 jam adalah hitungan normal untuk perjalanan ini, biasanya jika musim dingin tiba, macet adalah pemandangan disini. Maklum, semua orang berbondong-bondong pergi untuk melihat salju dan es.

Gunung Hehuanshan sendiri merupakan gunung yang masuk dalam kawasan konservasi taman nasional. Tinggi gunung ini mencapai 3.416 meter diatas permukaan laut (11.207 kaki). Walaupun pegunungan, jangan khawatir untuk masalah jalannya, disini jalan sangat mulus hingga ke puncak. Jadi mobilpun bisa parkir di puncak gunung. Di kawasan ini, kita tidak dipungut biaya untuk masuk. Namun yang perlu diperhatikan adalah cuacanya. Sebelum pergi kesini, ada baiknya kita memantau cuaca melalui website Central Weather Bureu (CWB) atau BMKG nya Taiwan. Disini cuaca selalu diupdate perjam, sehingga kita bisa mengira-ira waktu yang tepat untuk pergi kesana, serta pakaian yang cocok untuk dikenakan.

Untuk yang ingin mendaki bukit-bukit di puncak Hehuanshan, disarankan untuk memakai jaket yang tebal, serta memakai sepatu khusus untuk mendaki. Sebagai informasi, karena permukaan tanah ditutupi oleh salju dan es, maka permukaan menjadi licin. Banyak dari rekan-rekan saya yang terpeleset karena tidak menggunakan sepatu berpola khusus untuk mendaki. Jangan karena terlalu euphoria karena melihat es dan salju, kita melupakan keselamatan diri. 

Karena bus yang ditumpangi sudah disewa harian, maka kami memutuskan untuk pergi ke tempat yang lain. Cingjing Farm menjadi pilihan berikutnya. Lokasinya sekitar 15 menit dari kawasan Hehuanshan. Cingjing Farm adalah sebuah kawasan peternakan domba (orang jawa bilang wedus gembel). Kawasan ini lebih mirip seperti padang savana di musim dingin. Domba-domba dilepas bebas untuk memakan rumput di semua areal peternakan. Luasnya sekitar 30 - 40 hektar. Ada beberapa fasilitas yang ditawarkan, diantara adalah menara kincir angin, atraksi cukur bulu domba, serta memberi makan domba secara langsung. Untuk biaya masuk, normalnya pengunjung akan ditarik sebesar NTD 160, namun ada diskon khusus bagi pelajar dan mahasiswa. Cukup dengan menunjukkan kartu mahasiswa, maka biaya masuk hanya dikenakan sebesar NTD 120. 

Sebenarnya kawasan seperti ini banyak terdapat di Indonesia. Contohnya di Batu, Malang, atau di kawasan Dieng. Namun satu hal yang membedakannya adalah infrastruktur serta packaging nya. Di Taiwan, hal yang sederhana bisa dikemas menjadi sesuatu yang istimewa untuk dijual. Seandainya Indonesia mampu mengelola manajemen pariwisatanya, tentu akan banyak tempat-tempat wisata alternatif yang bisa ditawarkan kepada para turis.

Kembali lagi ke Cingjing Farm, seperti kebanyakan tempat wisata di Taiwan, disini ada juga food court yang menawarkan berbagai aneka makanan. Bagi yang muslim, tidak perlu khawatir, disini ada 1 rumah makan yang halal. Menurut pengakuannya beliau adalah muslim dari Myanmar. Satu hal yang membuat saya tercengang adalah rasa mienya. Tampilan dan rasanya sangat mirip dengan soto yang ada di Indonesia. Harganya pun tidak terlampau mahal, sekitar NTD 70. Namun cukup membuat lidah bergoyang mengobati rasa kangen masakan nusantara, walau aslinya ini adalah makanan Taiwan.

Untuk atraksi pemotongan bulu domba, biasanya diadakan setiap sore hari pkl. 14.30. Adapun joki yang menggiring domba-domba ini masuk ke kandang cukur adalah bule asal Amerika. Dengan gayanya yang khas coboy menunggangi kuda, dia menggiring domba-domba masuk ke kandang dan kemudian dicukur bulunya.

Selesai dari Cingjing Farm, perjalanan dilanjutkan ke Swiss Village. Disini kita bisa menikmati pemandangan bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur eropa abad pertengahan. Kalau saya bilang, rumah-rumahnya mirip dengan kastil di film Harry Potter. Untuk masuk, pengunjung dikenakan biaya NTD 100. Bagi pasangan yang akan melakukan foto pernikahan, tempat ini cukup recomended untuk dijadikan spot photo.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari manajemen pariwisatanya Taiwan. Mereka bisa mengemas sesuatu yang tidak bernilai menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Indonesia yang "katanya" dianugerahi tanah surga, tentu lebih banyak memiliki potensi lokasi pariwisata. Namun pertanyaannya kemudian adalah maukah kita mengelola, mengemas, serta memasarkannya sebagai kekayaan hayati non mineral? Sustainability dalam manajemen pariwisata tentu mutlak dibutuhkan. Tidak ada salahnya kita belajar dari negara yang lebih muda dari Indonesia namun sudah sangat maju dalam hal pariwisatanya. Dan Taiwan adalah salah satunya.
Yuk Berwisata


dR.

* Koleksi photo milik pribadi. Lebih banyak photo ada di sini
  

 






Share:

0 komentar