WISUDA KEHORMATAN

".........mendidik adalah tugas mereka yang terdidik"

Kalau tidak salah hitung, maka minggu ini adalah minggu-minggu terakhir sebelum penarikan Pengajar Muda Angkatan V yang kemudian akan digantikan oleh Pengajar Muda Angkatan VII. Waktu berjalan begitu cepat, hingga tak terasa sudah lebih dari 12 bulan semenjak dikumpulkan pertama kali di Wisma Kementerian Kesehatan RI, Jakarta pada 10 September 2012. Waktu itu bayangan penempatan selama 15 bulan adalah waktu yang sangat lama. Namun tidak setelah dijalani. Tak ada keluh kesah yang saya baca di wall facebook nya rekan-rekan Pengajar Muda angkatan V. Yang ada hanya ucap syukur, kebahagiaan, serta beragam senyum ceria bersama anak didik mereka di daerah penempatan. Alhamdulillah.

Bu Guru Alsha dan Muridnya di Halsel
Masyarakat Indonesia patut bersyukur, ditengah kehampaan pendidikan negeri ini, serta beragam masalah yang memang tengah mampir di negeri ini, Indonesia masih memiliki anak-anak muda yang luar biasa yang mau dan sangat bersedia meluangkan waktunya selama setahun untuk mengajar anak-anak di pelosok Indonesia. Mungkin ini terkesan sangat formalis namun begitulah kenyataannya. Mereka meninggalkan segala kenyamanan serta peluang mereka di kota untuk memberikan ilmu yang mereka miliki untuk anak-anak Indonesia. Mereka memiliki pilihan yang luas di kota, namun mereka lebih memilih untuk mencari tantangan baru yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Bagi saya yang pernah nyemplung sebentar diantara mereka, yang seharusnya mengucap rasa syukur adalah mereka para pengajar. Karena memang yang belajar disini adalah mereka. Mereka belajar tentang Indonesia, mereka belajar tentang sosial kemasyarakatan, mereka belajar tentang kearifan masyarakat ketimuran, mereka belajar tentang arti memberi dan berbagi, serta mereka belajar bagaimana harus mensyukuri hidup. Saya hanya bisa menebak-nebak dari sini, mungkin itulah alasan mengapa mereka tak pernah sekalipun mengeluh ditempatkan di pelosok-pelosok negeri. 

Setahun sudah terlewati, beragam kejadian sudah mereka lalui. Saya sangat yakin bahwa mereka kini benar-benar menjadi apa yang dahulu pernah diimpikan oleh para founding father negeri ini.

"Dan bangsa ini kelak akan dipimpin oleh pemuda-pemudi yang mengerti serta bangga dengan negerinya"

Kendati beberapa hari kedepan mereka sudah tidak lagi menjadi guru bagi anak didiknya, tapi sejujurnya kini mereka telah menjadi guru untuk seumur hidup bagi anak didiknya. Mereka telah memberi fondasi pendidikan serta impian yang kuat bagi anak-anak Indonesia. Ketika mereka datang kembali ke Jakarta, mereka telah sampai pada penghujung pertama cerita panjang negeri ini.

Pak Guru Indras dan Muridnya di Bengkalis
Indonesia Mengajar mungkin hanya sebuah gerakan kecil yang tak bisa menyelesaikan semua masalah pendidikan di Indonesia. Seandainya anak-anak muda Indonesia mau terjun langsung mendidik anak-anak Indonesia tanpa harus ada program-program seperti Indonesia Mengajar ini, saya percaya kedepan Indonesia bakal cerah karena memiliki cadangan pemimpin luar biasa. Ibarat kompor, Indonesia Mengajar hanya sebuah pemantik semata, selebihnya adalah minyak dan sumbu yang lebih berperan. Nah, pertanyaannya kemudian adalah jika suatu hari nanti Indonesia Mengajar berhenti untuk mengirimkan para pengajar-pengajarnya, apakah anak-anak muda Indonesia berikutnya akan mau tetap terjun ke pelosok untuk mengajar?

Beberapa daerah di Indonesia kini sudah mencoba membuat pemantik-pemantik baru dengan membuat gerakan-gerakan serupa Indonesia Mengajar. Tujuannya satu, mencoba menginisiasi putra-putri daerahnya untuk mau kembali ke daerahnya sendiri guna mengajar dan memberikan suntikan semangat bagi adik-adiknya. Apabila gerakan ini kemudian benar-benar menerapkan rukhsoh Indonesia Mengajar, maka haqqul yaqin sedikit demi sedikit masalah pendidikan di Indonesia bisa terurai. Memang semua butuh waktu, tapi setidaknya sudah ada ikhtiar untuk menyelesaikannya dan tidak sekedar tinggal diam menunggu mukjizat langit penyelesaian masalah pendidikan di Indonesia.

Pak Guru Luqman dan Muridnya di Banggai
Kita boleh saja saat ini bangga dengan Indonesia Mengajar serta gerakan-gerakan serupa di daerah, namun kita juga tidak boleh lupa dengan guru-guru sebenarnya yang memang sudah bertekad mengabdikan dirinya sebagai pengajar. Mereka adalah pendidik yang sebenarnya yang kini sudah mulai terlupakan perannya. Banyak diantara mereka yang nasibnya tidak seberuntung guru di perkotaan atau mungkin seperti guru di daerah-daerah lainnya. Selain harus mendidik, mereka juga masih harus tetap berjuang mencukupi kebutuhan hidup mereka. Mereka itu adalah guru yang nyata, yang karena kebijakan, mereka belum seberuntung yang lain. Keluh kesah mereka wajar adanya. Mungkin kalau kita berada di posisi mereka, belum tentu akan setangguh mereka. Bersyukurlah bahwa Indonesia juga masih memiliki guru-guru luar biasa di pelosok-pelosok sana.

Kini, beberapa saat lagi mereka para Pengajar Muda angkatan V akan segera ditarik pulang. Banyak cerita mereka dapat, banyak pelajaran yang mereka peroleh, serta banyak impian yang mereka bagi. Saat ini mereka sudah berada pada pintu pertama dalam lorong panjang cerita besar bangsa ini. Mereka kembali sebagai para punggawa pendidikan. Mereka kini bersiap untuk ber-paripurna. Mereka siap untuk kembali melanjutkan perjalanan ke gerbang kedua.  Dan kini mereka siap untuk diwisuda kehormatan sebagai pengabdi pendidikan negeri ini.

-Winter di Taichung, 15 Desember 2013-

dR.

* Photo-photo yang ada berasal dari koleksi pribadi FB rekan-rekan PM V
** Tulisan ini merupakan pengembangan dari materi paper untuk International Conference di Hongkong 
*** Tema paper yang diangkat adalah tentang efek karambol dari gerakan Indonesia Mengajar terhadap perkembangan pendidikan di daerah

Share:

5 komentar

  1. Pendidikan di Indonesia sebenernya emg berkualitas, cuma kurang merata aja. Benar tidak?._.
    Visit dan komen balik ya kaak http://hendrifahrezi.blogspot.com/2013/08/mimpi.html?m=1

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pendidikan kita belum memanusiakan manusia. Karena sesungguhnya pendidikan itu ialah yang selalu membebaskan dan Indonesia baru beranjak menuju kesana. Tugas kita bersama untuk bersama-sama "nyemplung" dan ikut ambil bagian dalam gerakan menuju Indonesia yang merdeka seutuhnya
      #MerdekaSekaliLagi

      Hapus
  2. Nice post dan sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
  3. Good post .. good sharing. Sesuatu yang publik tidak ketahui

    BalasHapus