CERITA DIBALIK HUJAN

Selalu ada kesan tersendiri ketika menangkap hujan. Entah dari suaranya yang gemercik, butirannya yang memercik, maupun basahnya yang menelisik. Terkadang mereka pun mampu mengalihkan perhatian dengan fenomena yang menyertainya ; angin yang mendiagonalkan arah jatuhnya, momen pertemuannya dengan tanah yang berdebu, nada alam beradu dengan genting rumah ; semua menyimpan berjuta cerita serta pesan dari Tuhan. Hujan kali ini mengiringi percakapan 2 orang yang baru saja bertemu.
"Mau kemana bu"
"Mau ke Taiwan dek"
"Dalam rangka apa bu ke Taiwan"
"Menghadiri wisuda anak saya"


"Wah hebat ya bu, anaknya bisa kuliah di luar negeri. Kalau boleh tau ibu punya berapa anak?"
"Alhamdulillah. Saya punya empat anak, yang mau wisuda ini anak yang keempat"

"Yang kakak-kakaknya bagaimana bu?"
"Anak saya yang ketiga sudah wisuda dan bekerja di sebuah perusahaan asing di Singapura"

"Kalau yang kedua bu?"
"Yang kedua sedang menyelesaikan studi MBA nya di Inggris dan saat ini dia juga ikut mengajar disana"

"Luar biasa anak ibu, lalu bagaimana yang kesatu bu?"

Si ibu terdiam, terisak sedu.

"Mohon maaf kalau pertanyaan saya tidak berkenan dan menyinggung perasaan ibu"
"Tidak apa-apa nak. Anak saya yang pertama hanya seorang petani lulusan SD. Namun ibu bangga dengannya. Kebanggaan ibu melebihi kebanggaan terhadap anak yang lainnya"

"Kenapa begitu bu?"
"Setelah ayanya meninggal, Anak saya membiayai kuliah adik-adiknya hingga bisa seperti saat ini dari hasil jerih payahnya sebagai petani"

Hujan pun kembali berdayut, mengantarkan hati yang semakin kalut. Bukan dari langit, maupun dari mata si ibu. Melainkan dari mata pemuda yang baru dikenalnya.

Dinginnya subuh Asrama mahasiswa pinggiran kota

dR.


*Untuk semua anak yang senantiasa menyisipkan nama ibu diantara obrolan dengan Tuhannya
*Gambar ilustrasi dari sini

Share:

0 komentar