TANDATANGAN YANG KIAN SEPI
Baca Juga
Seusai tarawih saya hampir selalu menahan langkah sedikit lebih lama di serambi masjid. Bukan karena sandal tertukar atau obrolan belum selesai, melainkan karena ada kebiasaan lama yang ingin saya pastikan masih hidup. Dulu anak-anak berlarian membawa buku kegiatan Ramadan dengan wajah sumringah. Mereka mengerubungi imam dan penceramah untuk meminta tanda tangan. Kini yang terlihat hanya satu dua anak yang berdiri agak ragu di pinggir saf. Selebihnya halaman masjid dipenuhi orang dewasa yang sibuk dengan urusan masing-masing. Saya berdiri memandangi pemandangan itu seperti menonton adegan yang perlahan memudar.
![]() |
| Ilustrasi (Gambar : AI Generated) |
Pada masa kecil saya meminta tanda tangan bukan sekadar formalitas, tetapi semacam petualangan kecil yang penuh gengsi. Siapa yang paling banyak mengumpulkan paraf dianggap paling rajin dan paling siap menerima hadiah di akhir Ramadan. Di kampung saya kultum justru diadakan setelah Subuh sehingga perburuan tanda tangan berlangsung pagi-pagi sekali. Kami datang lebih awal, duduk paling depan, lalu menyiapkan buku sebelum ustaz turun dari mimbar. Tidak ada kultum saat tarawih sehingga malam hari terasa lebih lengang. Suasana pagi itu memberi warna tersendiri karena udara masih dingin dan mata belum sepenuhnya terbuka. Namun semangat untuk mengisi kolom membuat kantuk tak punya tempat.
Buku kegiatan Ramadan itu bentuknya sederhana, kertasnya tipis dan sampulnya kadang bergambar masjid dengan langit jingga. Di dalamnya terdapat tabel salat lima waktu, puasa, tadarus, dan satu kolom yang cukup menantang yaitu ringkasan ceramah tujuh baris. Kami harus menyimak dengan sungguh-sungguh agar bisa menuliskan inti ceramah secara padat. Tidak boleh lebih dari tujuh baris dan tidak boleh kurang. Pulpen menjadi senjata utama karena tulisan harus jelas agar mudah diperiksa. Setiap kalimat dipilih dengan hati-hati supaya tidak melenceng dari pesan ustaz. Tanpa sadar kami sedang belajar menyaring gagasan.
Setiap pekan buku itu dikumpulkan kepada guru agama Islam di sekolah untuk diperiksa. Beliau membaca ringkasan kami satu per satu dan memberi catatan kecil di pinggir halaman. Jika tulisannya terlalu melebar dari topik, kami diminta memperbaiki di hari berikutnya. Rasanya seperti sedang diuji kemampuan memahami, bukan sekadar diuji hafalan. Dari situ saya belajar bahwa mendengar saja tidak cukup karena yang lebih penting adalah mengerti. Ada kepuasan tersendiri ketika ringkasan dinilai tepat dan rapi. Kami merasa usaha bangun pagi dan menahan kantuk terbayar lunas.
Disiplin tumbuh dari kebiasaan yang tampaknya remeh. Kolom-kolom kosong itu seperti pengingat yang tidak pernah marah tetapi selalu menagih. Jika Subuh terlewat, kami tahu ada ruang yang dibiarkan kosong. Jika tadarus tidak dilakukan, halaman itu akan tampak timpang. Perasaan tidak enak itu yang mendorong kami memperbaiki diri keesokan hari. Kami belajar bertanggung jawab tanpa perlu ceramah panjang tentang manajemen diri. Semuanya berlangsung alami melalui rutinitas sederhana.
Beranjak dewasa saya baru menyadari bahwa latihan itu tidak berhenti di bulan Ramadan. Ketika memasuki dunia kerja saya kerap diminta merangkum rapat panjang menjadi laporan singkat. Banyak orang menuliskan hampir semua yang dibicarakan karena takut ada yang terlewat. Saya justru terbiasa mencari inti dan menuliskannya secara ringkas. Kebiasaan tujuh baris itu membuat saya tidak panik menghadapi tumpukan informasi. Saya tahu bahwa setiap pembicaraan pasti memiliki pokok yang bisa dipadatkan. Di situlah saya merasa masa kecil bekerja diam-diam di belakang layar.
Selain itu kebiasaan mencatat ibadah membentuk cara saya memandang target kerja. Jika dulu saya berusaha agar semua kolom terisi, kini saya berusaha agar semua tanggung jawab terselesaikan tepat waktu. Ada rasa tidak tenang ketika pekerjaan dibiarkan menggantung. Sensasi itu persis seperti melihat kolom salat yang belum dicentang. Buku kecil itu telah menanamkan refleks untuk menuntaskan sesuatu sebelum hari berganti. Tanpa perlu teori produktivitas yang rumit saya sudah mengenal makna konsistensi.
Pengalaman meminta tanda tangan juga mengajarkan keberanian sosial. Sebagai anak kecil mendekati imam bukan hal mudah. Kami harus menyapa dengan sopan dan menunggu hingga beliau selesai berbincang dengan orang dewasa. Ada rasa gugup yang harus dilampaui. Latihan kecil itu kini terasa relevan ketika saya harus berbicara dengan atasan atau klien. Saya terbiasa menyusun kalimat dengan rapi dan menyampaikan maksud secara jelas. Keberanian itu tidak muncul tiba-tiba karena dulu sudah ditempa dalam situasi sederhana.
Saya tidak hendak mengatakan bahwa generasi sekarang kehilangan segalanya. Mereka memiliki cara belajar yang berbeda dan mungkin lebih praktis. Namun saya merasakan ada pengalaman kolektif yang dulu begitu kuat dan kini mulai jarang terlihat. Buku kegiatan Ramadan dulu menjadi semacam proyek bersama di lingkungan masjid dan sekolah. Anak-anak saling membandingkan catatan dan berdiskusi tentang isi ceramah. Interaksi itu memperkaya pemahaman sekaligus mempererat pertemanan. Ada dinamika sosial yang sulit digantikan oleh layar ponsel.
Dalam rapat kantor saya sering menemukan betapa sulitnya sebagian orang merumuskan inti persoalan. Diskusi bisa berputar-putar karena tidak ada yang berani menyederhanakan. Saya teringat bagaimana dulu kami dipaksa memilih tujuh baris terbaik dari ceramah panjang. Keterbatasan justru melahirkan ketajaman. Dengan ruang yang sempit kami belajar menentukan prioritas. Hal yang tidak penting dengan sendirinya tersingkir. Prinsip ini sangat membantu ketika harus mengambil keputusan cepat.
Kebiasaan itu juga menanamkan rasa akuntabilitas. Setiap klaim ibadah harus disertai paraf. Tidak ada ruang untuk sekadar mengaku. Pola pikir semacam ini memengaruhi cara saya bekerja. Saya terbiasa menyertakan data dan bukti ketika mengajukan usulan. Saya paham bahwa kepercayaan dibangun melalui konsistensi dan transparansi. Semua itu berawal dari buku tipis yang dulu kami bawa dengan bangga.
Ramadan sebagai orang dewasa terasa berbeda karena tidak ada lagi yang memeriksa catatan. Tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan sendiri. Namun bekal masa kecil membuat saya lebih siap mengelola ritme ibadah. Saya tahu bagaimana mengatur waktu agar tadarus tidak tertinggal. Saya terbiasa menyisihkan momen khusus untuk refleksi. Kebiasaan mencatat membuat saya lebih peka terhadap perkembangan diri. Tanpa disadari pola lama itu tetap bekerja.
Ada pula pelajaran tentang fokus yang saya rasakan hingga kini. Ketika kecil kami harus menyimak ceramah tanpa terganggu oleh obrolan teman. Jika lengah sedikit saja, ringkasan akan kacau. Kemampuan menjaga perhatian itu sangat berguna di era yang penuh distraksi. Saat banyak orang mudah terpecah konsentrasinya, saya teringat bagaimana dulu saya menahan diri agar tidak kehilangan inti ceramah. Fokus adalah keterampilan yang dilatih sejak dini melalui kebiasaan sederhana.
Melihat satu dua anak yang masih membawa buku kegiatan selepas tarawih membuat saya merasa seperti menemukan jejak lama yang belum sepenuhnya hilang. Mereka berdiri sabar menunggu kesempatan mendekat. Wajah mereka memantulkan keseriusan yang jarang terlihat di usia sebaya. Saya membayangkan beberapa tahun ke depan mereka akan mengenang momen ini dengan perasaan yang sama. Mungkin mereka juga baru menyadari manfaatnya ketika sudah dewasa. Tradisi kecil itu bekerja dalam diam.
Saya percaya bahwa yang paling berharga dari buku kegiatan Ramadan bukanlah hadiahnya. Hadiah hanya pemicu kecil agar anak-anak bersemangat. Yang benar-benar tinggal adalah pola pikir yang terbentuk perlahan. Disiplin, keberanian, kemampuan merangkum, dan rasa tanggung jawab tumbuh tanpa terasa. Semua itu menjadi bekal menghadapi kehidupan yang jauh lebih kompleks. Ramadan ternyata bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga latihan karakter.
Di tengah perubahan zaman kita mungkin perlu menemukan bentuk baru yang tetap menyimpan ruh yang sama. Media boleh berubah sesuai kebutuhan generasi. Namun latihan mendengar, mencatat, dan merefleksikan tetap relevan kapan pun. Jika dulu dilakukan dengan buku tipis dan pulpen sederhana, kini bisa saja dengan cara lain. Yang penting semangatnya tidak hilang. Sebab dari kebiasaan kecil itulah pribadi yang tangguh dibentuk.
Setiap kali saya berdiri di serambi masjid selepas tarawih, saya merasa sedang menyaksikan pertemuan masa lalu dan masa kini. Di sana ada kenangan tentang bocah yang bersemangat mengejar tanda tangan. Di sini ada orang dewasa yang memahami arti latihan itu. Keduanya saling terhubung dalam satu garis pengalaman. Buku kegiatan Ramadan mungkin tampak sepele bagi sebagian orang. Namun bagi saya ia adalah sekolah kecil yang membekali banyak hal.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa legenda itu tidak tercipta karena kertasnya istimewa. Ia menjadi melegenda karena menyimpan proses panjang pembentukan diri. Dari kolom-kolom sederhana lahir kebiasaan yang terus terbawa hingga dewasa. Setiap Ramadan datang saya selalu teringat pada buku itu dengan rasa syukur. Di antara doa dan lantunan ayat, ada pelajaran hidup yang diam-diam menyiapkan kami menghadapi dunia nyata. Dan mungkin itulah warisan paling berharga yang sering luput kita sadari.



0 comments