CATATAN KECIL UNTUK MUNAS KAUMY ; KAUMY DIANTARA PERSIMPANGAN JALAN (Bag. 1)

Gelaran Musyawarah Nasional (Munas) ke-7 Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KAUMY) telah resmi dibuka tadi malam oleh Rektor UMY. Acara yang menjadi agenda tertinggi dalam organisasi alumni besutan kampus matahari ini dilaksanakan di tengah “huru-hara” periode kepengurusan yang sejatinya sudah harus demisioner tahun lalu, namun terpaksa diperpanjang karena adanya pandemi. 

Bagi sebuah organisasi, hal-hal semacam ini tentu sudah biasa terjadi dan menjadi dinamika tersendiri untuk mematangkan Lembaga itu sendiri. Kita masih ingat bagaimana organisasi alumni ITB juga sempat menghangat jelang agenda permusyawaratan tertingginya. Pun begitu dengan kampus-kampus besar lainnya. 


Ilustrasi (Gambar : Istimewa)

Satu hal yang pasti, semakin besar dan semakin terlihat maju suatu kampus maka akan semakin dinamis perjalanan organisasi alumninya. Ibarat karang di pantai, maka karang yang kokoh adalah karang yang terus dihempas oleh ganasnya ombat lautan, namun tetap dapat berdiri tergak. Sebaliknya, karang yang kadang berdiri tegak belum tentu teruji kokoh Ketika ombak di depannya kecil dan cenderung tenang.

KAUMY dilahirkan sejak 28 tahun yang lalu, terpaut 12 tahun dari usia kampus induknya yang tahun ini genap berusia 40 tahun. Perjalanan Panjang KAUMY ini tentu bukan tanpa bekas. Setiap periode kepengurusan selalu menghadapi tantangan dan dinamika yang berbeda. Juga meninggalkan legacy yang berbeda-beda juga. 

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin "nambahi PR" untuk KAUMY (dan pengurusnya) kedepannya berbekal dari diskusi-diskusi kecil dengan beberapa alumni yang terlibat maupun tidak terlibat dalam struktur KAUMY. Saya tidak akan mengomentari maupun mengkritik pengurus KAUMY periode sebelumnya karena jelas tidak ada wewenang untuk itu di saya maupun tulisan ini. Bagi saya, KAUMY ini adalah asset besar, baik itu persyarikatan Muhammadiyah maupun bangsa ini yang harus terus dirawat dan didukung. KAUMY ini layaknya bahtera Nuh yang berisikan banyak bentuk dan rupa pemikiran dari alumni-alumninya yang walaupun berbeda namun memiliki tujuan yang sama : merajut jejaring dan mendorong kemajuan bagi para alumni UMY.

UMY merupakan kampus swasta yang bukan berlokasi di ibukota maupun kota-kota besar lainnya. UMY bukan pula kampus yang berada di pusat ibukota propinsi DIY. UMY adalah kampus yang berlokasi di pinggiran kota, di sebuah kecamatan yang dulunya adalah daerah sepi. Namun UMY telah mampu melahirkan puluhan ribu alumni yang bertalenta di berbagai bidang. Sebut saja diplomat, direktur BUMD/BUMN, komisaris BUMN, politisi, penulis, CEO Media nasional, dan masih banyak lagi. Ini menandakan bahwa UMY bukanlah kampus kaleng-kaleng yang bisa disepelekan. Ribuan alumni yang telah berdiaspora ke berbagai tempat di dunia ini menjadi “bahan bakar” untuk memajukan negeri ini. Oleh karena itu peran KAUMY sebagai wadah pemersatu alumni menjadi sangat vital dan strategis.

Di era revolusi industry generasi keempat ini, sudah saatnya KAUMY berbenah dan berubah. Adapun pembenahan KAUMY terdiri dari pembenahan internal dan eksternal. Sedangkan untuk perubahan KAUMY, terdiri dari beberapa hal yang secara garis besar dibagi dalam beberapa kategori.

Pembenahan Internal Organisasi

Seiring semakin majunya zaman, ditambah kondisi pandemic dalam dua tahun terakhir ini, menjadikan perubahan dalam segala bidang menjadi lebih cepat. Semua hal dipaksa untuk mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang sangat signifkan. Begitu juga dengan organisasi sebuah alumni perguruan tinggi.

Secara internal, KAUMY harus mampu fleksibel dalam menata organisasinya, tidak lagi kaku dan rigid. Dalam praksisnya, ini bisa diwujudkan melalui :

  • Merubah AD ART agar tidak alergi teknologi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Misalkan dalam pemilihan Ketua KAUMY, sudah saatnya menggunakan IT agar semua alumni bisa berpartisipasi dalam penentuan pemimpinnya, sehingga KAUMY tidak lagi dianggap eksklusif milik segelintir alumni yang tergabung dalam kepengurusan di berbagai tingkatan saja. Lebih jauh, dengan menghadirkan IT dan merubah pola pemilihan menjadi one man one vote akan memberikan keuntungan bagi KAUMY menjadi lebih inklusif dan dikenal oleh para alumninya. Saat ini kita tidak bisa pungkiri bahwa masih banyak alumni UMY yang tidak tahu akan KAUMY. Mereka hanya tahu bahwa saat wisuda mereka diberikan Kartu Anggota Alumni UMY. Tapi siapa ketuanya, programnya apa, kantornya dimana, tidak pernah tahu. 
  • Menghilangkan paradigma “dia orangku, itu orang dia” yang mengangkat pengurus hanya berdasarkan kedekatan dan balas budi atas jasanya sebagai tim sukses saat pemilihan ketua. Di era yang penuh persaingan seperti saat ini, dibutuhkan orang-orang yang bertalenta dan memiliki jam terbang tinggi. Namun terkadang orang-orang seperti ini (bertalenta) tidak senang, atau bahkan tidak pernah berorganisasi. Sehingga circle pertemanannya lebih banyak ke kalangan professional, bukan aktifis. Padahal dalam memodernisasi sebuah organisasi, tidak sedikit dibutuhkan peran alumni-alumni yang bertalenta di bidangnya, bukan sekedar berpengalaman menjadi aktifis tapi minim inovasi.
  • Membuat biro/divisi/Lembaga yang khusus untuk menjalin komunikasi dengan alumni-alumni baru. Organisasi alumni biasanya identik dengan orang-orang lawas dan senior. Alumni-alumni baru menjadi canggung untuk bergabung, apalagi jika tidak ada yang mengajak. Maka untuk merubah keadaan ini, perlu adanya sebuah task force yang intens berkomunikasi dengan calon-calon alumni dan mendampingi mereka sehingga terjalin komunikasi yang efektif. Task force ini juga berfungsi membina alumni agar tiap Angkatan memiliki coordinator di tiap jurusan, sehingga akan memudahkan untuk membangun komunikasi kedepannya.
  • Menambah struktur kepengurusan alumni menjadi tiap jurusan. Salah satu yang menjadi tantangan terbesar dalam merajut jejaring antar alumni adalah adanya gap jurusan, selain juga Angkatan. Namun perbedaan atmosphere dari tiap jurusan saat kuliah, sedikit banyak mempengaruhi jurang komunikasi antar alumni ini. Sehingga dibutuhkan struktur alumni di tiap jurusan. KAUMY sendiri saat ini baru sebatas Pusat, Daerah, dan Komisariat. Walaupun sudah ada kepengurusan tingkat komisariat sebagai representasi fakultas, nyatanya hal ini belum mampu menjadikan daya Tarik bagi para alumninya untuk aktif di KAUMY. Belajar dari KAGAMA sebagai “saudara jauh” dari KAUMY, kehadiran organisasi alumni tingkat jurusan mampu merajut benang silaturahmi alumninya, seperti di KAHIGAMA sebagai organisasi alumni HI UGM yang mampu solid dan sevisi dalam mendukung kemajuan alumni-alumni HI nya.
  • Membuat “rumah Bersama” di dunia maya. Salah satu jalan memfamiliarkan KAUMY ke alumni-alumni UMY adalah dengan membuat “rumah-rumah Bersama” di dunia maya sehingga alumni bisa dengan mudah mendapatkan informasi. Rumah-rumah Bersama ini bisa berupa website, platform semacam mailing list (zaman dulu) atau semacam kaskus, dan sebagainya.

Pembenahan Eksternal Organisasi

Sebagai organisasi alumni dari sebuah perguruan tinggi dibawah persyarikatan Muhammadiyah, KAUMY memiliki keistimewaannya sendiri. KAUMY menjadi bagian tak terpisahkan dalam ekosistem besar persyarikatan dimana struktur ekosistemnya tersebar merata dari pusat hingga ranting / desa. Dengan konsekuensi ini, apapun latarbelakang alumninya (Muhammadiyah atau bukan) maka sudah seharusnya bisa bersinergi dengan struktur persyarikatan di berbagai tingkatan dan bidang. Satu contoh diantaranya adalah bagaimana seharusnya KAUMY bisa menjadi semacam supplier tenaga-tenaga ahli bagi kepentingan persyarikatan. Misalnya, Ketika sebuah PWM sedang mendirikan rumah sakit Muhammadiyah, maka KAUMY bisa berkontribusi membantu mencarikan dokter-perawat (tenaga Kesehatan) yang berasal dari kalangan alumni UMY. Hal seperti ini tentu akan menjadi bantuan tak ternilai bagi pengembangan persyarikatan kedepannya. Ada banyak hal lain tentu yang bisa dilakukan oleh KAUMY dalam upaya ikut berkontribusi membesarkan persyarikatan Muhammadiyah.

Bersambung, lanjut ke Bagian 2 

 

Share:

0 komentar