MENGAPA TIDAK ADA WALI DI MUHAMMADIYAH?

Pada satu waktu, saya mengajak teman saya ikut kajian di Muhammadiyah secara luring (sebelum pandemi Covid-19). Kebetulan yang mengisi kajian adalah seorang sarjana lulusan timur tengah. Kajian berlangsung sekitar dua jam. Materinya berkisar soal bagaimana membangun spirit tauhid sosial sebagai paradigma muslim progresif. 

Teman saya ini bukan kader maupun simpatisan Muhammadiyah. Ia yang dibesarkan dalam lingkungan Pendidikan agama di kalangan tradisionalis, terkagum-kagum dengan isi ceramah tersebut. Ia berseloroh bahwa dibanding mendatangi kajian agama Islam, ia justru merasa seperti ikut kuliah [lagi] di kampus. Ia bilang, lebih mudah mengidentifikasi kader Muhammadiyah sebagai akademisi, dibandingkan mengidentifikasinya sebagai seorang juru dakwah / dai / ustadz karena “beratnya” isi materi yang dibawakan dalam majelis-majelis ilmu.

Selesai kajian, ia mengajak saya ngebakso di pinggir jalan sembari berdiskusi.

“Ndi, tema-tema kajian di Muhammadiyah emang berat-berat gini ya?”

“Berat gimana?”

“Ya berat, dengerinnya harus serius dan pake mikir untuk mencernanya”

“Hahahaha….. nggak juga sih, ada dan banyak juga tema-tema ringan yang dibawakan. Kebetulan saja yang dirimu datangi ini temanya agak berat, apalagi yang masih baru ikut di kajian ini”

Diskusi terpotong sejenak karena saya minta nambah satu mangkok bakso lagi ke abang penjualnya.

“Ngomong-ngomong, sejauh yang aku tahu dari baca-baca artikel di internet maupun lihat ceramah di youtube, jarang bahkan hampir tidak ada ustadz-ustadz Muhammadiyah yang ngebahas soal wali. Padahal di tempat lain, kenceng sekali soal pembahasan siapa-siapa saja wali yang di tanah jawa, sumatera, maupun di negara lain. Emang tidak ada ya wali di Muhammadiyah sampai kalian tidak pernah membahasnya?”

“Hahahaha…….. Kata siapa tidak ada wali di Muhammadiyah? Justru di Muhammadiyah ada banyak sekali wali. Saking banyaknya jadi tidak dibahas”

“Loh iya kah? Kok aku gak pernah tau ya. Di internet juga tidak ada yang membahas”

“Iya dong. Di Muhammadiyah itu banyak sekali wali. Mulai dari wali murid, wali santri, wali mahasiswa, sampai wali rongpuluh yang berisikan para aktifis Muhammadiyah yang berasal dari Jawa Timur di era ’20 an. Bayangkan ada berapa juta wali di Muhammadiyah sejak dulu sampai sekarang”, jawab saya sambil seolah meyakinkan dia tentang jawaban saya ini.

Ia pun menggerutu mendengar jawaban saya. Sayapun mesam mesem melihatnya yang tadinya bermuka serius ingin tahu, berubah menjadi bermuka sebal dan agak menggerutu. Saya lantas meneruskan jawaban saya dengan lebih serius agar sebalnya tidak berlarut-larut.

***

Di Muhammadiyah, sebagaimana sudah diketahui oleh banyak orang, mendasarkan ibadahnya pada Alquran dan Assunnah. Ini artinya setiap hal yang berkaitan dengan kepercayaan kita sebagai orang Islam haruslah berdasarkan 2 sumber tersebut. Tak terkecuali soal waliyullah, yang memang ada disebut dalam salah satu hadist nabi.

Ilustrasi (Gambar : Istimewa)


Selain beragama dengan mendasarkan pada 2 sumber tersebut, di Muhammadiyah juga jamak terdengar kalimat : beragama dengan ilmu. Ini bermaksud bahwa beragama dengan cerdas itu bukan karena doktrin dogmatis, melainkan dengan cara menuntut ilmu, yaitu mempelajari sesuai dengan referensi ajaran agama, yaitu Al-Qur’an. Selain itu juga, ilmu dalam agama Islam merupakan pengetahuan yang mengantarkan kita agar dapat mengenal Allah agar kita selalu menghamba kepada-Nya dan juga mencontoh ajaran nabi dan rasul-Nya. Oleh karena itu, cara mempelajari ilmu agama itu melalui referensi yang berkualitas yaitu al-Qur’an.

Dalam soal wali, Muhammadiyah pun melihatnya dari kacamata ilmu. Dalam bahasa Arab kata “Wali” diambil dari kata “al-walayah” yang artinya kedekatan. Maksudnya adalah orang yang mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan-amalan yang shalih dan perkataan yang lurus. Semakin shalih amalan seseorang, maka akan semakin dekat juga kedudukannya dengan Allah. Ini berarti, tingkat / derajat kewaliannya juga akan semakin tinggi. Sebaliknya, semakin sedikit amalan shalihnya seseorang, maka akan semakin jauh kedudukannya dari  Allah, dan tingkat kewaliannya juga akan semakin rendah.

Di masyarakat kita, ada perbedaan persepsi antara Islam dan pandangan sebagian masyarakat kita tentang kriteria wali Allah. Dalam Islam, wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa. Mereka merasa gerak-geriknya diawasi oleh Allah sehingga selalu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan menurut persepsi yang berkembang di sebagian masyarakat, Wali Allah adalah mereka yang bisa menghilang, bisa terbang, bisa berjalan di atas air, bisa pulang pergi ke Mekkah dalam tempo satu jam, bisa menyembuhkan orang dengan “karomah” nya dan lain sebagainya.

Padahal, kesaktian-kesaktian itu bisa juga dilakukan dan diperlihatkan oleh dukun, paranormal, atau tukang sihir. Dalam Islam, ada atau tidaknya karomah dalam diri seseorang bukanlah menjadi ukuran bagi seseorang dianggap sebagai wali Allah atau bukan. Ukurannya adalah kokohnya keimanan di dalam hati dan ketakwaan yang terpancar dalam ibadahnya serta akhlak dan muamalah kepada sesamanya.

Jadi, makna wali Allah yang dimaksud adalah ghirah Ibadah seseorang yang dia lakukan secara konsisten dalam rangka menjalin kedekatan kepada dirinya kepada Allah SWT.

***

Di Muhammadiyah, ibadah yang dilakukan bukan saja ibadah yang berdimensi vertical saja, melainkan juga yang berdimensi horizontal. Adanya tafsir-tafsir surat dalam Alquran yang kemudian diramu menjadi praksis sosial oleh Muhammadiyah menjadi bukti bahwa untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak saja hanya dilakukan dengan ibadah maghdah seperti salat, puasa, dan sebagainya. Namun membantu sesama manusia dan memanusiakannya sebagai manusia juga menjadi “alat” untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dimensi ibadah seperti ini lantas diejawantahkan oleh Muhammadiyah dengan mendirikan rumah sakit-rumah sakit, kampus-kampus, panti asuhan, mengirimkan bantuan kepada para pengungsi bencana alam, mendampingi dan memberdayakan para petani, mengalokasikan puluhan milyar rupiah untuk penanganan pandemi Covid-19, dan banyak hal lainnya yang semuanya bertujuan untuk membantu masyarakat. 

Inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa jarang dan bahkan hampir tidak ada pembahasan soal siapa-siapa wali Allah itu di berbagai daerah di Muhammadiyah. Karena Muhammadiyah "sibuk bekerja" sebagai bentuk implementasi ibadah dalam dimensi horizontal. Semua kerja-kerja Muhammadiyah selalu mendasarkannya pada ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri sekaligus bentuk ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Selain itu, tidak ada urgensinya untuk membahas hal semacam itu. Jika ditarik lebih dalam, sebenarnya tiap kerja-kerja Muhammadiyah [bisa jadi] sudah merupakan representasi dari makna wali itu sendiri sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Jadi, masihkah menganggap tidak ada wali [Allah] di Muhammadiyah?


Share:

1 komentar