OBAT COVID 19 SUDAH DITEMUKAN [?]

Beberapa waktu yang lalu, di salah satu forum pengajian daring, Ust. Adi Hidayat memaparkan bahwa beliau telah melakukan riset selama berbulan-bulan untuk mencari obat dari penyakit yang menjadi wabah dunia saat ini, yaitu Covid 19. Ia melakukan riset berbasiskan Al-Quran dan Al Hadist sesuai otoritas keilmuan beliau yang memang ahli dibidang tafsir. Ia menyebut bahwa nabi pernah menyebut tentang sebuah obat yang bisa menyembuhkan beberapa macam penyakit, salah satunya adalah selaput dada. Beliau (Ust. Adi Hidayat) memberikan inisial PH 7 untuk bahan obat ini yang hanya tumbuh di dua tempat di dunia, yaitu Himalaya dan Saudi Arabia bagian Timur.

Saya tergelitik untuk ikut mencari apa yang dimaksud dengan PH 7 tersebut. Ust Adi Hidayat sendiri belum mau mempublikasikannya karena sudah memberikan hasil kajian beliau tersebut ke pihak-pihak terkait yang berkompeten untuk mengujinya dan mengumumkannya. Banyak orang yang mengira bahwa PH 7 yang dimaksud adalah garam Himalaya karena istilah PH biasanya merujuk pada sifat kimia asam dan basa suatu zat. Saya sendiri berusaha mencari hadist / riwayat nabi terkait obat yang dimaksud. Dan ketemulah hadist nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dengan nomor hadis 5260. Berikut bunyi hadis nabi tersebut.

Bahwa dirinya pernah mengunjungi Rasulullah SAW bersama anaknya yang baru saja diobati dengan cara memasukan jari-jari ke kerongkongannya, lalu beliau bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah, dengan maksud apa kamu mengobati penyakit tenggorokan anakmu dengan memasukan jemari tangan? Gunakanlah kayu India ini, karena padanya terdapat tujuh ragam penyembuhan, diantaranya adalah penyakit radang selaput dada

Ternyata PH 7 yang dimaksud bukanlah garam Himalaya, karena garam Himalaya tidak ditemukan di Arab Saudi bagian timur. Dan kemungkinan yang dimaksud PH 7 oleh Ust Adi Hidayat adalah Kayu India, seperti yang disebut dalam hadis diatas. Lalu pertanyaannya, benarkah kayu India yang disebut dalam hadis ini adalah jawaban kita untuk menghentikan wabah Covid 19? Apakah ada dasar ilmiah pemanfaatan kayu India ini sebagai obat?

Disinilah tulisan ini coba mendedah klaim ini dari referensi-referensi ilmiah terkait informasi yang sedang hangat dibicarakan oleh warganet saat ini. 

***

Di India tumbuhan ini disebut qusth India. Dalam kamus lisan al-‘Arob, disebutkan:

Al-Aluwwah dan Al-Uluwwah, dengan memfatahkan hamzah dan mendlommahkannya serta mentasydid waunya, memiliki dua lugot, yaitu lugot persi yang dijadikan ‘arab ialah kayu gaharu. Bentuk pluralnya adalah Alaawiyah. Imam Al-Ashmu’i berkata, “Al-Uluwwah adalah kayu gaharu”, Abu Manshur berkata, “Al-Uluwwah adalah kayu gaharu”. (Kitab digital Marji’ al-Akbar)

Imam Ibnu Al-Qayim Al-Jauzi dalam kitabnya Al-Thib Al-Nabawi menjelaskan tentang macam dan fungsi kayu gaharu, beliau mengatakan:

Kayu gaharu India itu ada dua macam. Pertama adalah kayu gaharu yang digunakan untuk pengobatan, yang dinamakan kayu kusth. Ada yang menyebutnya dengan Qusth. Yang kedua adalah yang digunakan sebagai pengharum. Kayu ini disebut Uluwwah.” (At-Thib An-Nabawiy, hlm 265)

Dalam dunia internasional, kayu India ini populer dengan nama Qust Al Hindi atau dalam Bahasa inggris disebut Indian Costus Root. Sebenarnya ada 2 jenis kayu ini, yang satu qust al hindi yang berwarna hitam dan qust al bahri yang berwarna putih. Qust al hindi ini lebih panas disbanding qust al bahri.

Dalam banyak literature disebutkan bahwa qust al hindi ini sudah lama dipakai oleh masyarakat di timur tengah dan asia selatan sebagai pengobatan herbal. Klaimnya ada beberapa manfaat, seperti memudahkan aliran menstruasi, memudahkan aliran urin, membunuh cacing di usus, menangkal racun, mencegah demam, memanaskan perut (memperlancar pencernaan), meningkatkan hasrat seksual, serta menghilangkan bintik-bintik di wajah.

Qust Al Hindi / Kayu India /  Indian Costus Root  (Foto : Istimewa)
 

Dilihat dari publikasi riset di jurnal-jurnal ilmiah, belum ada satupun jurnal yang mengaitkan efektifitas qust al hindi ini sebagai obat Covid 19. Namun ada beberapa penelitian yang sudah dipublikasikan yang mencoba meneliti efektifitas qust al hindi ini sebagai obat untuk melawan bakteri dan mikroba jahat yang menyerang tubuh manusia.

1.    Penelitian Nagwa M. Sidkey et. al dari Universitas Al-Azhar Mesir dan Universitas Taibah Arab Saudi

Dalam penelitian yang berjudul “Antimicrobial Activity of Costus Plant Extract Against Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA, I3)”, para peneliti menyimpulkan bahwa dari studi menyeluruh dan investigasi literatur yang tersedia tentang Costus speciosus, jelas ditemukan bahwa ekstrak tersebut (qust al hindi) memiliki senyawa dengan sifat antimikroba dan berfungsi sebagai sumber penting untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh strain Staphylococcus aureus (MRSA) yang resisten Methicillin. Rimpang C. speciosus (Qust Hindi) memiliki potensi untuk digunakan sebagai nutrisi dalam makanan yang memberikan manfaat kesehatan. Tulisan ini terbit di  International Journal of Science and Research (IJSR), tahun 2015

2.     Penelitian Ebedi Nastaran et.al dari Tehran University of Medical Science, Iran

Penelitian ini mengungkap bahwa beberapa efek farmakologis yang identik seperti aktivitas antiinflamasi, antimikroba, hepatoprotektif, hipolipidemia, hipoglikemik, spasmolitik, analgesik, dan antioksidan telah dibuktikan pada S. costus dan C. speciosus dan kesamaan ini dapat menjadi alasan untuk aplikasi dan penggantian tumbuhan ini daripada satu sama lain. . Lakton sesquiterpene seperti costunolide umum ditemukan dalam famili Asteraceae dan S. costus, tetapi telah dipisahkan dari beberapa tanaman obat lain seperti C. speciosus juga; jadi, ada kemungkinan bahwa komponen aktif ini bertanggung jawab atas efek farmakologis serupa pada S. costus dan C. speciosus. Penelitian ini membuktikan bahwa ada kandungan aktif yang terdapat dalam qust al hindi yang berfungsi sebagai anti mikroba dan antioksidan yang diperlukan tubuh untuk melawan bakteri dan mikroba-mikroba yang menyerang tubuh manusia. Penelitian ini dipublikasikan di Research Journal of Pharmacognosy (RJP) tahun 2018.

3.      Penelitian oleh Zainab A. Bakhsh et.al dari Universitas King Abdul Azis, Arab Saudi

Dalam penelitian ini yang mengambil metode pilot study ini mengungkapkan kemanjuran yang signifikan dari penggunaan ekstrak air rimpang C. speciosus pada pasien yang menderita faringitis akut dan tonsilitis. Intervensi ini menunjukkan perbaikan gejala akut pada 60% pasien yang dirawat dalam 24 jam pertama, dan 93% sembuh total pada hari ke-5 tanpa perkembangan efek samping. Temuan ini menunjukkan bahwa para peneliti dapat mempertimbangkan ekstrak rimpang ini sebagai terapi alternatif untuk manajemen antibiotik pada faringitis akut dan tonsilitis. Penelitian ini dipublikasikan pada Saudi Medical Journal tahun 2015.

4.     Penelitian oleh Al-Kattan dan Manal Otthman dari Universitas King Abdul Azis, Arab Saudi

Penelitian ini mengungkap bahwa ekstrak air dari qust al hindi  terlihat tinggi efektivitasnya melawan Aspergillus niger, Aspergillus flavus dan Candida albicans. Hasil yang diperoleh dari riset ini memberikan bukti tentang pentingnya menggunakan berbagai jenis Costus dalam pengobatan penyakit bakteri yang mempengaruhi saluran pernapasan pada manusia, baik kering maupun ekstrak air. Costus (qust al hindi) adalah salah satu tanaman obat yang telah digunakan sejak zaman dahulu di berbagai negara untuk pengobatan berbagai penyakit yang menyerang manusia. Sebagai pengobatan profetik, ini telah direkomendasikan penggunaan spesies Costus ini dalam pengobatan penyakit selama ribuan tahun. Saat ini, qust al hindi ini adalah salah satu alternatif medis untuk mengurangi risiko resistensi terhadap antibiotik. Penelitian ini dipublikasikan pada Journal of Medicinal Plants Research pada tahun 2013.

5.    Penelitian oleh Shabnam Ansari dari Jamia Millia Islamia, India

Penelitian mengungkap bahwa qust al hindi dan senyawa aktifnya telah membuktikan potensinya sebagai antivirus, hepatoprotektif, anti-inflamasi, imunomodulator, anti mikroba, antiulcer, gastroprotective, antikanker, anti oksidan, aktivitas anthelminthic, hipolipidemik, hipoglikemik, anti-angiogenesis, antidiare, spasmolitik dan antikonvulsan dalam berbagai studi in vitro, in vivo dan klinis. Penelitian ini dipublikasikan di Journal of Pharmacognosy Reviews tahun 2019.

*** 

Selain kelima penelitian diatas, masih banyak sekali tulisan-tulisan di jurnal lain yang membahas efektifitas kandungan qust al hindi sebagai obat. Jika ditarik benang merahnya, maka qust al hindi ini bekerja dengan cara meningkatkan imunitas agar tubuh mampu melawan bakteri maupun virus yang menyerang tubuh. Ini artinya bahwa hadis Rasulullah SAW yang kami sitir di awal tulisan ini terbukti benar bahwa kayu india bisa menjadi obat untuk beberapa penyakit, yang salah satunya adalah radang selaput dada. Namun terkait dengan apakah qust al hindi ini juga bisa menyembuhkan penyakit covid 19, ini masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Klaim ini masih memerlukan pengujian dan penelitian secara ilmiah agar penggunaannya bisa tepat. Walaupun dalam literature disebut bahwa qust al hindi bisa menyembuhkan radang paru-paru, dan covid 19 ini juga sebenarnya menyerang paru-paru, namun sekali kali kami sebutkan bahwa ini belum ada dasar ilmiahnya (belum ada publikasi jurnal ilmiah terkait hal ini). Bisa jadi saat ini ada peneliti di suatu tempat sedang berkejaran dengan waktu untuk meneliti kandungan qust al hindi sebagai solusi mengatasi wabah covid 19 ini. 

Saat ini, ikhtiar yang bisa dilakukan oleh kita adalah meningkatkan imunitas diri dengan cara berolahraga, makan makanan bergizi, terus berpikir positif, dan minum multivitamin. Selain itu, sebagai langkah antisipasi juga wajib patuhi protokol yang berlaku. Sebagai masyarakat awam, sudah seyogyanya kita mendoakan agar obat covid 19 ini bisa segera ditemukan dan wabah ini segera mereda sehingga kehidupan bisa kembali seperti semula. Wallahu’alam bishawab

Share:

0 komentar