SEANDAINYA MENGURUS PARPOL ITU SEPERTI MENGURUS MUHAMMADIYAH

"Kalau anda sudah melihat banyak pejabat / tokoh yang mulai pakai peci serta baju batik sederhana, lalu sering blusukan / silaturahmi ke tokoh agama dan masyarakat, atau sudah mulai bagi-bagi THR walau lebaran masih lama, maka itu tanda kalau Pemilu sudah dekat"

Pasca tumbangnya orde baru, kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya. Salah satu poinnya adalah diizinkannya pendirian partai politik baru untuk pemilihan umum yang sebelumnya selama kurun waktu 25 tahun, Pemilu di Indonesia selalu diikuti oleh 3 partai politik saja yang [menurut sejarah] merupakan fusi dari 8 partai politik yang ada di era orde lama.

Sejak pemilu pertama di era reformasi, Indonesia sudah memiliki lebih dari 50-an partai politik yang ikut dalam kontestasi politik 5 tahunan. Hasilnya ada yang lolos ke parlemen dan bisa bertahan hingga ke pemilu berikutnya. Namun tidak sedikit juga partai berguguran karena tidak lolos ambang batas minimal suara atau yang biasa dikenal dengan Parlementary Threshold (PT). PT ini menjadi semacam "momok" bagi partai-partai politik yang ada, karena jika tidak lolos PT, maka di pemilu berikutnya mereka akan sulit atau bahkan tidak bisa mengikuti kontestasi politik ini. Jadi hidup mati partai politik ditentukan oleh PT yang sebenarnya ini juga masih "debatable" di kalangan politisi maupun akademisi.

Selain PT, kesinambungan partai politik juga dipengaruhi oleh ketertarikan masyarakat untuk memilih, mendukung, dan menyokong partai politik itu sendiri. Ketertarikan atau simpati masyarakat ini akan timbul saat partai politik mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Sayangnya, tidak sedikit partai politik yang hanya memanfaatkan psikologis masyarakat dengan program-program / kegiatan bersifat sementara dan itupun banyak dilakukan menjelang pelaksanaan pemilihan umum. Sehingga tidak sedikit yang menganggap bahwa masyarakat hanya dijadikan obyek politik semata. Dari sini nampak bahwa sesungguhnya tidak ada partai yang benar-benar ikhlas berbuat untuk masyarakat secara real dan membantu memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat, selain hanya mewakili mereka (rakyat, pen) untuk membahas undang-undang dan anggaran.

Kita bisa lihat misalkan kegiatan partai politik 4 tahun menjelang pemilihan umum. Hampir tidak ada kegiatan atau program kerja yang dilakukan untuk masyarakat. Kalaupun ada, hanya program populis semata seperti bagi-bagi sembako atau bakti sosial. Saat ada bencana alam terjadi namun pemilu masih jauh, hampir tidak nampak bendera-bendera parpol maupun posko parpol yang berdiri. Ini akan berbeda saat suatu bencana terjadi 1 tahun menjelang pemilu. Tidak sampai 6 jam dari bencana terjadi, posko-posko parpol sudah berjejer dengan segala atributnya.


Ilustrasi (Photo : Istimewa)

Bagi akademisi politik, mereka mungkin saja sudah mafhum dengan kondisi ini. Karena dari segi teori saja, politik itu adalah kepentingan. Sehingga wajar jika partai politik menempatkan kepentingannya diatas landasan-landasan moral partai yang tertulis rapih di buku anggaran dasar maupun rumah tangga. Walaupun waktu berubah, namun sifat asli partai politik tetap akan sama. Namun, bagi masyarakat awam, ini akan menjadi soal karena mereka melihat partai itu dari 2 kacamata yang berbeda dari sisi waktu.

Saat pemilu masih jauh, partai politik itu seperti "memedi", antara ada dan tiada. Masyarakat tak pernah merasakan kehadiran mereka, namun secara kasat mata, mereka terlihat, memiliki kantor, dan bendera-bendera yang memenuhi separator jalan raya. Tidak ada manfaat yang mereka peroleh dari hadirnya partai politik ini. Mereka hanya dianggap sebagai "pemanis" demokrasi semata. Namun ini akan lain ceritanya saat pemilu sudah didepan mata. Masyarakat akan melihat partai politik sebagai "malaikat" yang tiap hari memperhatikan mereka, memberikan mereka pertolongan terhadap semua masalah yang mereka hadapi, menjadikan masyarakat sebagai "tuan" bagi partai politik, sehingga mereka akan "dilayani" bak raja. Saat ada masyarakat yang tidak mampu untuk berobat, partai politik hadir memberikan pertolongan untuk diantar berobat menggunakan mobil ambulance yang logo partainya lebih besar dari tulisan identitas ambulannya. Bahkan saat di rumah sakit, mereka didampingi hingga nantinya diantar pulang ke rumah. Tak lupa mereka juga biasanya menitipkan "ala kadarnya" untuk menyambung hidup beberapa hari berikutnya sembari berpesan "nanti pilih kami saat pemilu".

Tapi pasca pemilu berakhir, semua yang terjadi seolah hanya mimpi, raib begitu saja. Bagi yang mendulang banyak suara dan terpilih, mereka akan mengucapkan terimakasih lalu menghilang. Sedangkan bagi yang tidak terpilih, akan langsung menghilang begitu saja, bahkan tak jarang mengklaim kepada masyarakat tentang bantuan yang sudah mereka berikan namun nyatanya mereka tidak terpilih. Salah-salah bantuan yang sudah mereka berikan akan diminta kembali. Miris memang.

Perilaku yang seperti ini yang salah satunya kemudian menjadikan masyarakat kita saat ini menjadi oportunis. Anekdot "Ambil uangnya, jangan pilih orang/partainya" menggema dikala kontestasi politik digelar. Padahal oportunis bukanlah karakter masyarakat Indonesia. Namun karena kondisi, memaksa mereka menjadi seperti itu. Lebih jauh, banyak yang kemudian menjadi apatis terhadap politik karena perilaku aktor-aktornya.

Lalu mengapa judul tulisan ini ditulis andai mengurus parpol itu seperti mengurus Muhammadiyah?

Bagi saya, terlepas dari saya adalah seorang kader Muhammadiyah, organisasi Muhammadiyah adalah salah contoh lembaga/organisasi yang ideal untuk dijadikan role model bagi organisasi/lembaga di negara berkembang dengan iklim demokrasi seperti di Indonesia. Muhammadiyah lahir 33 tahun sebelum Indonesia merdeka. Bahkan jauh sebelum kata "Indonesia" menjadi familiar di benak masyarakat. Kelahiran Muhammadiyah menjadi penting karena menjadi jawaban atas kondisi masyarakat kita saat itu yang miskin, terbelakang, dan dijadikan objek pembodohan oleh pemerintah kolonial. Semangat yang dibangun oleh Muhammadiyah adalah semangat profetik yang kemudian dinarasikan menjadi semangat Al-Maun, salah satu surat yang ada dalam Al Quran. Bagi yang mengkajinya, spirit Al-Maun adalah spirit Keillahian untuk menjadikan umat Islam menjadi umat yang maju dan berkemajuan. Semangat ini lantas diaktualisasikan dengan mendirikan klinik dan rumah sakit, sekolah, panti asuhan, dan lembaga-lembaga sosial lainnya yang semata-mata untuk membantu masyarakat memperoleh kehidupan yang lebih baik.

***

Muhammadiyah mungkin saja juga memiliki kepentingan. Namun kepentingan yang dimiliki oleh Muhammadiyah adalah kepentingan untuk ikut hadir dan terlibat dalam penyelesaian masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan umat. Pengedepanan kepentingan ini menjadikan Muhammadiyah hadir dengan beragam terobosan-terobosan inovatifnya. Lembaga Penanggulangan Bencana yang profesional, Lembaga Zakat yang kredibel adalah salah satu contohnya.

Bahkan Muhammadiyah siap dengan ketidakpopulerannya di mata masyarakat asalkan Muhammadiyah tetap bisa memberikan kontribusinya pada masyarakat.

Di pelosok Kalimantan Utara, jauh dari hingar bingar pemberitaan media, Muhammadiyah hadir untuk memberikan pendampingan pemberdayaan masyarakat agar masyarakat mampu berdaya di tanah sendiri. Pun begitu dengan apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah di Papua dan Maluku. Muhammadiyah dengan "saweran" anggotanya, membeli sebuah kapal yacht seharga miliaran untuk kemudian dijadikan klinik terapung yang memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia di wilayah timur yang terkendala transportasi mengingat wilayahnya yang berpulau-pulau.

"Saat Rakyat Masih Menderita, Tidak Ada Kata Untuk Berhenti"
(Alm. Said Tuhuleley, Penggagas Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah)
Kesiapan Muhammadiyah untuk tidak populer dan pengedapanan kepentingan masyarakat dalam membuat trobosan-trobosan program dan kegiatannya, sesungguhnya patut untuk ditiru oleh partai politik. Partai politik jangan hanya berbicara tentang kekuasaan saja, yang seolah-olah sudah menjadi kredo bagi jalannya organisasi. Jauh diatas itu, ada masalah-masalah yang tengah dihadapi oleh masyarakat yang membutuhkan solusi lebih kongkrit dan segera.

Mungkin saja masyarakat saat ini memang tengah menghadapi gelombang kemiskinan akibat kondisi ekonomi yang serba tidak menentu. Namun memberikan sembako yang paling habis dalam waktu beberapa hari saja bukanlah sebuah solusi. Masyarakat jauh lebih memerlukan pendampingan dan bantuan untuk menjadikan mereka masyarakat yang berdaya sebagai solusi jangka panjang.

Muhammadiyah hanyalah satu lembaga yang mencoba menjawab itu, namun Muhammadiyah juga bukanlah "Superhero" yang bisa menyelesaikan ini semua. Seandainya saja parpol yang ada juga ikut memiliki paradigma seperti Muhammadiyah ini, maka saya yakin mimpi untuk menjadikan masyarakat kita berdaya dan sejahtera bukanlah sebuah isapan jempol semata. Ibarat sebuah lidi yang digunakan untuk menyapu, satu lidi saja mungkin tetap bisa untuk digunakan menyapu. Namun pastinya membutuhkan waktu yang lama. Tapi saat 30 lidi berkumpul dan menjadi satu, maka pekerjaan menyapu akan menjadi lebih cepat, efektif, dan efisien.

***

Partai politik saat ini ada baiknya mencoba merubah cara pandang mereka dalam menarik pemilih. Jika dulu pemilih "digaet" dengan program-program temporar dan populis, seperti bagi-bagi sembako menjelang pemilu, atau kegiatan bakti social lainnya yang minim tujuan social dan lebih pada pencarian dukungan semata, maka di pemilu mendatang partai politik harus merubah cara-cara yang mereka gunakan. Cara berpikir yang menjadikan masyarakat sebagai obyek harus dirubah menjadi subyek. Sederhananya, kini partai politik harus mampu membuat sesuatu yang itu benar-benar dibutuhkan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh masyarakat secara jangka panjang dan berusaha melibatkan masyarakat dalam proses penyelesaian masalah tersebut. Partai politik jangan lagi muncul sebagai sosok “superhero kesiangan” yang seolah mampu menyelesaikan semua hal dalam satu malam.

Perubahan mendasar cara pandang ini bisa diaktualisasikan oleh parpol dengan membangun unit-unit balai pengobatan murah bagi masyarakat yang itu didesain tidak hanya muncul saat menjelang pemilu semata, namun untuk waktu yang lama. Kemudian contoh lain adalah misal partai politik membuat ­task force pendampingan bagi petani-petani agar bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan mampu meningkatkan produksi pertaniannya.

Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh MPM PP Muhammadiyah (Photo : muhammadiyah.or.id)

Sumber-sumber daya yang dimiliki Partai politik sangat memungkinkan untuk melakukan perubahan-perubahan dalam aktifitas tersebut. Politik seharusnya bisa diperluas maknanya sebagai usaha bersama untuk membuat rakyat sejahtera melalui berbagai cara. Tidak terbatas melalui jalur parlemen dan politik seperti saat ini. Partai politik juga bisa mengekspresikan kegiatan “politik” itu sendiri melalui karya-karya nyata yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat dalam jangka panjang.

Saat cara pandang “berpolitik” dari partai politik ini berubah, maka masyarakat / konstituen akan berubah pula dalam memandang keberadaan partai politik. Masyarakat yang merasakan manfaat akan kehadiran partai politik dalam hidup mereka, maka secara matematis, tingkat partisipasi terhadap pemilu (legislative) juga akan ikut naik. Semakin parpol mampu berbuat maksimal melalui aksi nyata untuk masyarakat, semakin tinggi tingkat popularitas dan keterpilihannya.

***

Tidak ada salahnya jika paradigma pengelolaan partai politik saat ini sedikit mulai dirubah menjadi paradigma mengelola organisasi seperti Muhammadiyah. Saya membayangkan seandainya tiap partai politik memiliki semacam amal usaha seperti Muhammadiyah, maka rasanya kok beban APBN dan APBD kita akan menjadi lebih ringan karena klausul “bantuan untuk partai politik” menjadi turun atau bahkan hilang. Keuangan partai disokong sepenuhnya oleh unit-unit usahanya dengan mengedepankan pelayanan bagi masyarakat sebagai tujuan utamanya.

Tapi itu semua bisa jadi hanya bayangan dan imajinasi saya sendiri. Tidak lebih. Apa yang disampaikan ini bukanlah sebuah teori ataupun gagasan, tapi sekedar merekam mimpi yang sedari tadi hadir saat melihat baliho-baliho calon anggota parlemen disini berjajar rapih tanpa menjadi polusi pemandangan keindahan kota.

-----------------------------------------------
Ditulis dalam perjalanan kereta antara Kota Chiayi - Taichung

Share:

0 komentar