JAKARTA ; KOTA 25 JAM

Seperti sebelumnya, setiap kelas jumat, saya mengundang teman-teman mahasiswa Indonesia untuk berbagi cerita dan diskusi tentang ke-Indonesiaan. Dan kemarin teman saya yang lama tinggal dan bekerja di Jakarta berkesempatan berbagi cerita dengan para mahasiswa saya.

Saya memanggilnya Mas Remi, alumni IPB 42. Ia menceritakan Indonesia dari persepktifnya dia yang sangat kaya dan luas. Terbukti dari materi yang disampaikannya melalui oral dan tertulis, sangat diversif. Dari sisi budaya, ia menceritakan bagaimana Indonesia sangat beragam bahasa dan dialeknya. Contoh paling sederhana yang ia ceritakan adalah saya dan dirinya langsung. Kami berdua sama-sama dari Indonesia, namun dialek dan bahasa ibu kami sudah berbeda.

Mas Remi ini pandai dalam meng-elaborasi antara sisi tradisional dan modernnya Indonesia. Biasanya, ketika ada mahasiswa/orang Indonesia diminta menceritakan tentang Indonesia di hadapan orang asing, maka ia akan selalu bercerita tentang bagaimana tradisionalnya Indonesia, budaya masyarakatnya, dsb. Namun, ia bisa menyeimbangkan keduanya. Di kesempatan ini ia memberi gambaran bagaimana Jakarta adalah Kota 24 jam yang tiada berhenti sedikitpun aktifitasnya. Ini sangat kontras dengan kota-kota besar di negara lain, bahkan dengan Taipei sekalipun. Di Jakarta, deru kendaraan seolah tidak berhenti walau bulan telah menyingsing. Bahkan, hingga "fajar sodiq" naik-pun, Jakarta masih saja menderu. Namun, derunya Jakarta memberi nuansa berbeda. Disana malam menjadi "oase" hiburan bagi penduduknya yang penat dengan aktifitas seharian.

Jakarta bagi sebagian orang asing, masih dipahami sebagai salah satu Ibu Kota Terpadat dengan macet sebagai bumbunya. Jakarta adalah kota dengan polusi tinggi dimana angka kenaikan kepemilikan kendaraan pribadinya cukup tinggi dibanding jumlah pertumbuhan jalan rayanya. Namun, Mas Remi dalam kesempatan ini mencoba mengubah stigma itu menjadi stigma positif bahwa Jakarta adalah kota yang nyaman untuk tinggal, dengan berbagai macam hiburan dan keunikan yang ada di dalamnya, terlepas dari hiruk pikuk macetnya. Jakarta, kota yang mungkin harus menambah waktunya menjadi 25 jam sehari semalam untuk kehidupannya, karena 24 jam sudah sangat biasa.

Kehadiran teman-teman Indonesia ini sangat bermanfaat dalam memberikan banyak perspektif tentang Indonesia kepada para mahasiswa saya. Ini akan memperkaya wawasan mereka dan meluaskan pandangan mereka bahwa Indonesia itu tidak hanya Bali, Pantai, dan Sunsetnya saja. Namun Indonesia itu adalah bagian dari tanah Syurga yang oleh Tuhan sengaja diambil dan ditaburkan di bumi nusantara. Keindahannya mencakup harmonisasi alam dan masyarakatnya, menyinergikan nada, menghasilkan simfoni Indonesia yang kaya.

Share:

0 komentar