AKSEN DAERAH ; ANUGERAH ATAU MUSIBAH?

Hari ini, para mahasiswa kembali mendapat perspektif baru tentang Indonesia. Bagi sebagian orang asing, mereka [masih] menganggap bahwa Indonesia itu hanya memiliki satu bahasa dan aksen yang sama. Dalam diskusi kelas, banyak diceritakan Indonesia memiliki ragam bahasa daerah. Dan bahasa daerah ini tidak terlepas dari aksennya masing-masing. Tiap aksen, memiliki kekhasannya masing-masing.

Adalah Naomi, arek Suroboyo yang saat ini sedang mengambil studi master di Taiwan, bercerita tentang bagaimana Indonesia kaya akan ragam bahasa dan aksen. Ia mengemas presentasi 60 menitnya dalam tautan-tautan kalimat menyenangkan yang menggelitik nalar bertanya para mahasiswa.

Presentasi tersebut dibuka dengan "mengumbar" kekayaan khasanah kuliner Indonesia, khususnya yang ada di Jawa Timur. Lontong Balap, Soto Lamongan, Rawon, Pecel Madiun, dan Rujak Cingur. Khusus rujak cingur, para mahasiswa memberikan perhatian lebih, karena ini adalah makanan yang "unik". Mungkin kesannya aneh, makan sayuran campur daging sapi (bagian hidungnya lagi). Namun, dengan penjelasannya yang gamblang, rujak cingur akhirnya dapat dipahami sebagai salah satu kuliner yang "wajib" dicoba saat mereka di Indonesia.

Di bagian presentasinya yang lain, Naomi mencoba mengajak para mahasiswa mengarungi dalamnya khasanah bahasa daerah di Indonesia. Dalam satu bahasa daerah saja, Indonesia mampu memiliki beragam aksen / dialek. Contohnya adalah bahasa Jawa. Bahasa Jawa dalam perspektif orang awam adalah bahasa ngoko yang banyak dijumpai dalam percakapan-percakapan dalam pagelaran ketoprak atau ludruk. Paling banter adalah bahasa jawa halus yang biasa dikarakterkan oleh para ningrat keraton Jogja dan Solo. Padahal, Bahasa Jawa luas cakupan dialeknya. Ada Jawa Ngapak Banyumasan, Jawa Pantura, Jawa Suroboyoan, Jawa Ponorogo, dan Jawa-Jawa yang lain. Ini baru satu bahasa, padahal Indonesia memiliki tak kurang dari 400 bahasa daerah.


Saat nalar kritis para mahasiswa berhasil digelitik oleh Naomi, pertanyaan-pertanyaan seputar bahasa Indonesia dan daerah pun bermunculan. Salah satu yang menarik adalah pertanyaan tentang adanya kesamaan bahasa Indonesia dan Malaysia.

Di kelas, asisten mengajar saya adalah mahasiswi asal Malaysia. Beberapa kali kami bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia dan Malaysia. [Mungkin] dalam benak mahasiswa, mereka menganggap bahasa kami berdua adalah sama, padahal kami berasal dari 2 negara yang berbeda. Dalam menjelaskan kesamaan ini, saya mencoba membaliknya dengan pertanyaan analogi, "Apa persamaan dan perbedaan antara bahasa China Taiwan dengan bahasa China Daratan?"



Jawaban yang mereka lontarkan terhadap pertanyaan saya tersebut, saya jadikan sebagai analogi singkat tentang Indonesia dan Malaysia. Bahasa Melayu (Malaysia) adalah cikal bakal bahasa Indonesia saat ini.

Nah, kembali ke masalah aksen, saat berbicara menggunakan bahasa Inggris, aksen-aksen yang dimiliki oleh orang Indonesia terkadang masih tetap terbawa. Misal, ada kawan saya dari Sumatera Barat. Ketika berbicara bahasa Inggris, aksen Minangnya sangat khas sekali. Pun begitu dengan Batak atau daerah lain. Apalagi Jawa. Biasanya, aksen medoknya orang Jawa sangat terasa ketika berbicara dalam bahasa Inggris. Pertanyaan berikutnya adalah apakah itu lantas menjadikan mereka minder, tak percaya diri, dan takut untuk berbicara?

Perlu diketahui bahwa aksen-aksen orang Indonesia ketika berbicara bahasa Inggris sangat memudahkan lawan bicara untuk memahaminya (sejauh yang saya alami). Jadi, apakah kita masih malu berbicara bahasa Inggris dengan aksen kita sendiri?

Tidak mudah memang menjelaskan dan menggambarkan Indonesia secara utuh. Butuh waktu, kesabaran, dan kalimat-kalimat yang pas agar mudah dimaknai. Indonesia beragam bukanlah sebuah kekurangan. Justru ini menjadi sebuah kesyukuran karena dianugerahi banyak ragam bahasa-budaya. Indonesia memang beragam, namun semua itu mampu diikat menjadi tali kesatuan yang kuat dibawah panji Bhinneka Tunggal Ika. Bukan begitu?

Share:

0 komentar