PERMAINAN TRADISIONAL DAN PESAN KEHIDUPAN

Di zaman yang serba canggih, manusia sangat dimanjakan oleh hasil dari kemajuan teknologi. Dari mulai manusia baru lahir, hingga dia masuk ke liang lahat, selalu dilayani oleh teknologi. Namun sayangnya kemajuan teknologi ini menghapus banyak kearifan lokal negeri ini. Salah satunya adalah permainan tradisional.

Saat ini sangat jarang [bahkan tidak pernah?] saya melihat anak-anak memainkan permainan tradisional yang dahulu menjadi kegiatan sehari-hari bagi anak-anak. Saya pernah tinggal di Lampung, Yogyakarta, dan sekarang di Bengkulu. Sangat jarang saya temui anak-anak bermain permainan tradisional. Mereka lebih senang bermain permainan yang mereka anggap modern seperti seperti Play StationGame Online, Chatting di Smartphone maupun perangkat modern lainnya. Padahal ditilik dari sisi pesan moralnya, justru permainan tersebut menjauhkan anak untuk memiliki sifat sosial, toleran, serta humble.


Padahal di Indonesia banyak sekali permainan tradisional yang sarat akan makna kehidupan. Pesan-pesan tersebut disiratkan dalam tiap ucapan/tindakan maupun bentuk dari permainan itu sendiri. Sebagai contoh adalah ucapan Hompimpa. 

Banyak dari kita [mungkin] tidak tahu makna dari kata Hompimpa tersebut. Kata Hompimpa sebenarnya adalah sebuah ucapan yang diambil dari bahasa sanskerta, yang kalimat lengkapnya adalah Hompimpa Alaihum Gambreng. Arti dari kata tersebut adalah "dari Tuhan akan kembali ke Tuhan, mari bermain". Sangat sederhana, namun kalau ditelaah lebih jauh ini justru memiliki nasehat kehidupan yang sangat penting. Beberapa nasehat tersebut antara lain :
  1. Bahwa hakikat hidup manusia tidaklah ada yang abadi. Semua yang bernyawa pasti akan kembali pada yang menciptakan. Ini menyiratkan bahwa hidup itu seperti permainan. Bahwa kita harus terus bermain [baca : beribadah] agar kita bisa menjadi pemenang [baca : mendapatkan nirwana di kehidupan berikutnya]. Tidak ada waktu untuk beristirahat sampai menjadi pemenang. Sama seperti kehidupan, bahwa setiap detik dalam kehidupan ini adalah sebuah ibadah dan harus terus dijalankan agar kelak kita bisa merengguk nikmatnya nirwana sebagai seorang pemenang.
  2. Frase Hompimpa digunakan sebagai media untuk menentukan siapa pemain yang berhak untuk maju/bermain terlebih dahulu. Ini bisa dimaknai bahwa dalam kehidupan bermasyarakat/sosial kita harus berbuat adil. Kita tidak bisa mengedepankan ego dan kepentingan pribadi. Istilah zaman sekarangnya "kita harus fair" pada siapapun. Termasuk pada diri sendiri. Kita lihat misal kita mau bermain lompat karet dengan beberapa orang, maka untuk memulai siapa yang bertugas memegang karet dan siapa yang bermain terlebih dulu, kita menggunakan hompimpa. Ini fair karena sama-sama tidak ada yang berebut dan ini ditentukan secara terbuka serta disaksikan pemain yang lain. Sama dengan kehidupan, tidak ada yang namanya bahwa saya harus didahulukan, saya harus yang menjadi pionir. Tentukan dengan adil kapan kita harus bertindak sebagai A, sebagai B, dan sebagai C.
  3. Berdoalah sebelum bermain. Pesan ini sangat jelas terlihat dengan pengucapan frase hompimpa tersebut. Tuhan setiap agama pasti selalu memerintahkan umatnya agar senantiasa berdoa sebelum memulai sebuah kegiatan/aktifitas. Ini dimaksudkan agar manusia senantiasa ingat akan keberadaan Tuhan dan agar aktifitas yang dilakukan mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.
Ketiga poin diatas hanyalah sedikit dari sekian banyak pesan dari sebuah permainan tradisional yang sarat akan makna. Dari satu permainan tradisional saja kita bisa meraup banyak petuah kehidupan didalamnya. Apalagi jika kita bisa mempelajari sekian banyak permainan tradisional di Indonesia yang jumlahnya ratusan ini. Tentu kita bisa belajar lebih banyak lagi mengenai kebaikan-kebaikan yang nenek moyang kita sampaikan dan prasastikan melalui permainan tradisional tersebut.

Mungkin pemaknaan sebuah permainan tradisional akan berbeda di tiap individu, namun yang jelas bahwa setiap permainan tradisional yang ada tidak dibuat tanpa sebuah tujuan yang bermanfaat. Permainan ini dibuat dalam waktu lama dan melalui proses panjang yang kemudian ber-metamorfosa menjadi kearifan lokal. Tentu kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia, menjadi kewajiban kita untuk melestarikan dan membumikan kembali permainan-permainan seperti ini, agar generasi yang akan datang tidak lupa dengan petuah kehidupan nenek moyang Indonesia, sehingga tidak menjadi bangsa yang liberal yang sangat tidak cocok dengan alam pikir dan alam sosial masyarakat Indonesia. Jangan sampai anak cucu kita nantinya hanya tau permainan-permainan tradisional tersebut dari narasi akademis saja dan untuk mencontohkannya mereka harus melihat youtube, yang mereka tidak tahu apa makna dibalik permainan tersebut. Semoga !!!

dR.

Share:

2 komentar