KALEIDOSKOP 2013

Hari ini adalah hari terakhir dalam penanggalan masehi untuk tahun 2013. Banyak kejadian yang terjadi di tahun ini. Banyak juga hikmah yang bisa di dapat. Bagi saya pribadi, tahun ini adalah tahun yang luar biasa, karena di tahun ini Allah membukakan mata saya tentang makna sabar serta korelasinya. Saya masih ingat sekali, tepat setahun yang lalu saya masih duduk di kamar terbaring dalam masa pengobatan dan tidak tahu apa yang akan saya lakukan kedepan. Waktu itu saya benar-benar berada pada titik terbawah emosi saya pasca kejadian-kejadian sebelumnya. Sungguh Allah tidak pernah tidur dan tidak pernah lalai dalam mengurus hamba-Nya.

Tahun baru 2013 saya awali dengan mengucap rasa syukur bahwa saya masih diberi hidup oleh Yang Memberi Hidup. Walaupun ada sebersit kegeloan karena meleset dari ekspekstasi sebelumnya yang membayangkan akan bisa bertahun baru di suasanya pelosok Paser dengan anak-anak yang diajar, tapi ada rasa syukur bahwa saat itu saya justru diberikan kesempatan untuk bisa bertahun baru dengan keluarga di rumah setelah 4 tahun sebelumnya saya selalu di Jogja. Doa-doa terpanjat, harapan pun di gantungkan pada Sang Pencipta. Sebagai hamba yang lemah, tentu saya hanya bisa berikhtiar, berdoa, dan pasrah atas semua yang telah, sedang, dan akan terjadi.

Minggu pertama di bulan Januari 2013, saya mendapati surat resmi dari kampus Asia University, Taiwan yang memberitahu bahwa saya resmi diterima sebagai mahasiswa jurusan MBA dengan beasiswa sebagai penyertanya. Minggu ke dua bulan Januari 2013, saya kembali mendapati surat elektronik yang memberitahukan bahwa saya lolos seleksi ke tahap final untuk memperebutkan beasiswa S2 Manajemen di PPM School of Management, Jakarta. Allahuakbar, sebulan mendapati 2 pengumuman beasiswa S2 sekaligus dengan masing-masing beasiswa sebagai penyertanya.

Awal bulan februari ditandai dengan survival test untuk memperebutkan beasiswa S2 di PPM Management. Disini saya bertemu dengan salah satu PM III yang "seharusnya" saya gantikan tugasnya. Sedikit bercerita dan bertukar pikiran, disini saya mendapati sebuah sudut pandang baru bahwa para PM ini benar-benar luar biasa. Tak salah Tim Galuh memilih orang-orang hebat ini untuk kemudian ditempatkan di berbagai penjuru tanah air. Agaknya kepulangan saya tahun 2012 menyadarkan bahwa saya memang belum pantas untuk berdiri disamping orang-orang ini. Makna tersiratnya pun terekam jelas bahwa saya harus mencoba memantaskan diri berdiri diantara mereka semua. Di akhir minggu pertama, setelah melewati berbagai survival di Purwakarta, saya dinyatakan diterima sebagai mahasiswa S2 jurusan MM di PPM School of Management dengan beasiswa sebagai penyertanya. Ada rasa bingung yang menyeruak, mana yang harus saya pilih, Taiwan atau Jakarta.

Pilihan akhirnya jatuh ke Taiwan. Tanggal 23 Februari 2013 pkl. 22.00 waktu Taiwan, saya menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di bumi formosa ini. Maret 2013 dipercaya oleh pihak kampus melalui organisasi mahasiswa Internasionalnya untuk membawakan budaya Indonesia di Taiwan bersama beberapa mahasiswa negara lain. Untuk kesekian kalinya, saya mendapat kehormatan untuk bisa mengenalkan Indonesia dan budayanya kepada masyarakat Internasional. Disini interaksi budaya semakin tersemai dalam cakupan toleransi budaya antar bangsa.

April 2013 adalah kali pertama saya mendapatkan ujian akademik (UTS) dalam bahasa Inggris di negara lain. Awalnya cukup bingung, karena ada beberapa perbedaan dengan cara ujian yang dipakai di Indonesia. Tapi disinilah letak tantangannya. Sulit tapi menarik. Di bulan ini juga lah saya pertama kalinya bertemu dengan berbagai mahasiswa Indonesia di Taiwan dalam acara AISCT 2013. Saya bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai kampus di Taiwan. Rata-rata mereka sedang mengambil studi master dan doktoral di Taiwan. Dari cerita-cerita yang saya dapat, saya mencoba menyimpulkan bahwa mereka ini adalah para ilmuwan potensial serta aset bangsa yang luar biasa. Keilmuan mereka jauh diatas rata-rata. Saya semakin percaya bahwa kedepan Indonesia masih memiliki harapan untuk menjadi lebih baik setelah bertemu dengan mereka.

Bulan berikutnya adalah bulan dimana saya kembali dipertemukan dengan tetangga satu dusun saya yang sedang bekerja di Taiwan. Sudah lama kami tidak bertemu, mungkin sudah lebih dari 7 tahun yang lalu. Selain itu, di bulan ini juga saya bergabung dengan lembaga legislatifnya PPI Taiwan. Kembali lagi, Allah mempertemukan saya dengan organisasi-organisasi setelah hampir setahun saya vacum dari aktifitas di organisasi. Juni menjadi bulan yang cukup istimewa, selain karena di bulan ini adalah bulan untuk pulang ke Indonesia, di bulan ini juga untuk lagi-lagi kali pertama mendapat panggung kehormatan menjadi juara 3 dalam kejuaraan perahu naga di Taiwan. Namun di bulan ini juga, saya harus berpisah dengan kawan-kawan hebat dari Indonesia di Taiwan karena mereka telah menyelesaikan studinya.

Rasa kangen akan Jogja dan segala isinya, terobati dengan kesempatan bisa berkunjung kesana di awal Juli. Bertemu dengan sahabat-sahabat lama yang masih tetap istimewa, serta berkesempatan menikmati indahnya pantai parangtritis dari sisi yang berbeda. Selama hampir 4 tahun di Jogja, inilah spot tercantik yang pernah saya dapati di Jogja.

Kalau banyak orang yang bilang bahwa ramadhan adalah bulan suci serta bulan yang mulia untuk ibadah bersama keluarga, maka saya meng-amininya tahun ini. Sebulan penuh saya melewati ramadhan bersama keluarga di rumah. Banyak hal yang selama ini dikangeni untuk bisa khidmat selama ramadhan, hadir di ramadhan kali ini. Ramadhan menjadi indah dengan suasana rumah yang selalu tampak nyaman bagi saya dan keluarga.

Berlanjut ke bulan berikutnya, saya menamakannya sebagai bulannya Paskibra. Mungkin bisa dibilang ini adalah hari rayanya bagi segenap kader Paskibra dimanapun mereka berada. Momen 17 Agustus selalu ditunggu sebagai puncak perayaannya. Alhamdulillah, tepat ditanggal 17 Agustus 2013, Paskibra tempat kami bernaung melengkapi pasukannya dengan korps Polisi Paskibra. Sebuah pasukan khusus penegak disiplin yang 6 tahun lalu pernah saya utarakan untuk pertama kalinya.

Beranjak ke bulan september, saya harus kembali lagi ke Taiwan untuk melanjutkan studi. Ketika akan kembali, saya dipertemukan dengan salah satu calon mahasiswi di kampus saya yang kebetulan sama-sama dari Lampung. Disini kejadian istimewa berlangsung, yaitu bisa melobi bagian penerbangan maskapai Malaysia Airlines untuk memindahkan rekan saya ke penerbangan selanjutnya. Deg-Deg Serrrr rasanya melobi bagian penerbangan yang awalnya tidak mengizinkan untuk pindah penerbangan karena alasan telat check in. Syukur Alhamdulillah, akhirnya beliau mengizinkan untuk ganti ke penerbangan selanjutnya tanpa dikenai biaya. Pertengahan september jugalah yang pada akhirnya mempertemukan saya dengan para aktivis-aktivis dakwah Islam melalui forum Muhammadiyah Taiwan. Berbekal personil yang hanya 5 orang, Kajian Online Muhammadiyah Taiwan melalui radio streaming hadir sebagai cara dakwah serta mempererat silaturahim dengan muslim/in Indonesia di Taiwan.

Di bulan september pulalah saya diberi kesempatan untuk bisa mengajar mahasiswa S1 jurusan Komunikasi di Universitas Terbuka Taiwan. Dulu saya pernah berujar sekembalinya saya dari IM. Saya berujar bahwa kalau Allah memberi kesempatan, saya akan terjun di dunia pendidikan. Apapun jenjangnya, saya siap untuk membagi ilmu yang saya dapat dan kebetulan belum di aplikasikan sewaktu menjadi PM. Sungguh, Allah maha mendengar, dikabulkannya ujaran saya yang itu.

Ada sebuah frasa arab yang mengatakan bahwa "Rencana Allah lebih baik dari rencananya manusia". Saya mengamini sepenuhnya. Akhir tahun 2013, saya kembali diberikan kesempatan untuk mengajar program Kejar Paket-C untuk para pekerja Indonesia di Taiwan. Kembali, idealisme saya tentang pendidikan diuji dan dibuktikan melalui 2 kesempatan ini. Mengajar mungkin sekarang sudah sangat melekat dalam kehidupan saya. Melalui mengajar pula, saya bisa belajar dari rekan-rekan pekerja Indonesia di Taiwan yang sangat semangat dalam menuntut ilmu walau posisi mereka kini sedang bekerja di negara orang. Tak ada waktu dan tempat untuk berhenti mengejar ilmu, karena semuanya ada karena kemauan kita sendiri. Inilah salah satu pelajaran yang bisa saya peroleh dari mereka. "Sesungguhnya yang belajar itu saya, bukan mereka. Karena hakikat mengajar adalah belajar dari apa yang kita ajar" Ini adalah kutipan selalu terbayang sampai saat ini.

Mengakhiri tulisan singkat ini, saya mencoba mengutip beberapa ayat Al Quran :
"Dan jika kamu mencoba menghitung-hitung nikmat Allah, sungguh kamu tiada akan bisa menghitungnya"
"Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan kamu dustakan"
Semoga ini menjadi pelajaran, muhasabah, serta pemacu diri saya sendiri khususnya untuk senantiasa bersyukur, bersyukur, serta bersyukur atas semua yang Allah takdirkan dan gariskan. Tak ada manusia yang akan menyangka apa yang akan terjadi pada dirinya 1 detik yang akan datang. Kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan, dan esok adalah tantangan. Dan pada akhirnya, hanya ucap syukur yang akan terdengar ketika semuanya sudah terjadi. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah serta inayah-Nya kepada kita semua.
Bismillah, 2014 saya datang !!!!

Winter di Taichung, 31 Desember 2013

dR.

*Gambar ilustrasi dari sini

Share:

0 komentar