SANDIWARA TUHAN

“Apa sebenarnya yang mereka pikirkan tentang kami? Hinakah kami?” 
Teriakku dalam angan melihat keengganan para pengendara lalu lintas memberikan sedikit rezekinya pada kami. Aku dan kawan-kawan ku memang terlihat kumuh, kotor dan bau. Tapi hati dan perbuatan kami tidak seperti yang kalian lihat dalam rupa kami. Kami hanya ingin mencari sesuap nasi guna menyambung hidup kami hari ini.

Kami ini bukan pengemis, kami ini bukan gelandangan pengganggu ketertiban. Kami hanya segerombolan pemuda yang ingin hidup bebas tanpa batas. Semua ini merupakan pilihan hidup kami. Kami tidak menyesal mengambil jalan ini. Aku bisa merasakan beratnya beban hidup dengan bagaimana susahnya mencari rezeki halal. Dengan begini aku bisa selalu mensyukuri rezeki yang diberikan Tuhan pada hamba-hamba-Nya. Kami ini bukanlah pencuri yang mengambil harta untuk menyambung nyawa. Kami mencari yang halal walaupun dengan harus menjual suara kami yang sederhana ini.

Orang tuaku awalnya mempersalahkan mengenai pilihan yang aku ambil. Waktu itu aku berumur 17 tahun, masa getir akan pencarian jati diriku. Lulus SMA aku lari dari rumah. Seakan bingung tak tentu arah, aku menapaki jalan terjal ibukota. Awalnya aku juga jijik dengan kaum-kaum itu, namun keramahan dan sikap terbuka serta melindungiku itulah aku jadi merasa nyaman dengan mereka. Kuputuskan malam itu untuk menjadi bagian dari kaum mereka. Setiap hari aku merasa bahagia walaupun tak punya biaya untuk menyambung nyawa. Setiap rupiah yang aku dapat, selalu aku syukuri sebagai bagian nikmat dari Tuhan. Tak perduli itu cukup atau tidak, tapi itulah rupiah hasil jerih payah diriku sendiri.

Waktu pun berlalu, kota demi kota aku lalui. Hingga menjatuhkan langkahku di pulau Sumatera. Bingung, cemas, takut, itulah perasaan yang muncul di dada dan pikiranku saat itu. Mereka begitu beda denganku. Tapi lagi-lagi, Tuhan mengajarkanku bahwa rupa kadang tak sesuai jiwa. Walaupun mereka galak, kasartapi mereka sungguh sangat dermawan. Walaupun hanya sedikit, mereka tetap memberikan sebagian rezekinya padaku. Aku semakin yakin untuk berlama tinggal di tanah sumatera.

                                                                              *****

Hari itu hujan turun dengan cukup lebat. Sembari menghisap rokok yang tinggal setengah ini, kulihat seorang ibu yang kepayahan memayungi anak-anaknya. Yang kecil bergelayut dalam hangatnya pelukan ibu itu, sedangkan yang lain berjalan disamping ibu itu dengan memegang baju ibunya. Tangan kanan ibu itu memegang tas kresek hasil belanjaan di pasar. Walaupun terlihat repot, namun ibu itu terlihat tidak mengeluh ataupun marah dengan keadaan. Ketika lewat di depanku, ibu itu tersenyum padaku. Tiba-tiba aku teringat dengan ibu dan saudara-saudara ku di rumah. Seakan tersambar petir, hatiku seolah berhenti berdetak. Air mataku pun keluar membasahi pipi ini. Namun cepat-cepat aku hapus, takut terlihat oleh kawan-kawanku. Sembari menahan isak tangis dan kesedihan akan ibu, aku terus menghisap rokok yang tinggal sedikit.

Hujan pun berhenti, aku teruskan menyusuri jalan panjang di pulau ini. Tapi entah kenapa, pikiran akan ibu selalu terbayang dalam benakku. Bagaimana ya Ibu sekarang? Apakah beliau sehat? Tanyaku dalam hati. Seminggu berlalu, bayang-bayang akan ibu selalu nampak dalam hati ini. Malam itu setelah seharian mencari rupiah di jalanan, ketika mulai terperanjak tidur, aku mulai memikirkan untuk pulang sekedar menengok ibu di rumah. Ah, sebaiknya aku pulang saja ke rumah. Walaupun aku banyak melanggar perintah Tuhan, paling tidak aku bukan anak durhaka.

Rumah itu tak berubah terlalu banyak setelah aku tinggal 1 tahun. Hanya rerimbunan pohon di depan rumah yang tampak lebih ramai. Aku ragu untuk melangkah masuk kedalam rumah. Apakah ibu mau memaafkan aku yang telah kabur dari rumah setahun lalu itu? Kuberanikan diri untuk masuk, tampak ibu terkejut melihat perubahan rupaku yang nampak kumuh. Kupeluk ibu dan menangis sejadi-jadinya.“Maafkan aku ibu, telah pergi dari rumah tanpa pamit. Maaf kalau aku membuat ibu khawatir dan cemas”. Ibu tidak menjawab namun membalasnya dengan memelukku erat-erat seolah-oleh tak mau kehilanganku lagi.

Kini setelah kejadian itu, aku pun meneruskan pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi Islam Negeri di bumi keraton Yogyakarta. Aku pun tinggal dengan kakak ku yang sudah berumahtangga disini. Berbekal semangat untuk selalu memberikan yang terbaik untuk ibu, aku melangkah mantap untuk meraih masa depan. Aku tak pernah malu dengan yang ada padaku sekarang. Walaupun tanganku bertato, aku tak pernah minder untuk sholat di masjid. Tak perduli apa kata orang, yang penting aku hanya yakin bahwa Tuhan Maha Pengampun.

Semua ini membuatku sadar bahwa mensyukuri apa yang kita miliki sekarang jauh lebih berharga daripada sekedar mengais harta dunia yang tak pernah ada habisnya. Kaya, miskin, pintar, bodoh, cantik, rupawan, buruk rupa semua sama dihadapan Tuhan. Aku bersyukur dengan semua sandiwara kehidupan ini. Tuhan, Engkau memang sutradara terbaik.

#Terimakasih untuk kamu yang mau berbagi kisah hidup

dR.
Dari ujung kamar Wisma Al-Azhar


Share:

0 komentar