JANGAN NODAI JIWA-JIWA SUCI KAMI

Sore itu aku terperanjak dari tempat tidurku. Seolah ada yang membangunkanku dari nikmatnya berlayar di pulau kapuk. Aku pun membuka pintu melihat ke depan yang sejauh mata memandang tampak orang-orang yang sedang menggebuk padi. Aku beranjak ke kamar teman ku yang berada tepat di sebelah kamarku.

Dia sedang mandi ketika aku minta izin ingin menonton berita. Apa saja yang telah terjadi di negeriku tercinta selama satu hari ini. Yang aku lihat dan aku dengar hanya berita mengenai akan diadakannya banyak aksi memperingati Hari Anti Korupsi. Aku hanya bergumam "ah, mereka hanya akan melakukan hal yang sia-sia". Ya, suatu hal yang sia-sia. Sekarang aksi-aksi demonstrasi bukan suatu hal yang punya taring. Apalagi mahasiswa. Taring mereka sudah tidak ada. Ibarat kata mahasiswa sekarang layaknya Macan Ompong. Hanya kuat bersuara tanpa punya gaung yang kuat.

Kembali lagi ke permasalahn tadi, hingga beranjak malam pun semua berita di TV hanya berkisar mengenai aksi-aksi yang akan dilancarkan esok hari. Malam pun semakin larut ketika mataku sudah tidak bisa diajak kompromi. Aku pun kembali ke peraduan.

Hari yang cerah pu datang. Sinar sang surya sedikit demi sedkit memasuki kamarku. Aku pun kembali bangkit dari tidurku. Ditemani segelas kopi aku membuka Laptop ku. Mengecek apakah ada comment yang masuk di FB ku. Yang ada hanya comment kemarin.

"Ah, masih sama dengan kemarin". Ujarku.

Aku pun bergegas mandi karena jam di dinding ku sudah menunjuk pukul 07.00 WIB, selain itu aku pun ada kelas pagi ini. Ya, kelas dari seorang professor yang memangku mata kuliah itu.

Selesai kelas, aku pergi ke Kopma (Baca : tempat makan murah meriah ala mahasiswa di kampus). Disana aku bertemu dengan seorang ketua Dewan Mahasiswa. Sambil membaca koran, dia memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Dia pun mengajakku ngobrol mengenai aksi yang akan terjadi hari ini. Dia bilang ke aku, "Aku yakin SBY turun, melihat penggalangan massa yang besar". Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Datang lagi seorang Ketua Mahasiswa dari salah satu fakultas. Dia pun ikut-ikutan nimbrung membicarakan persiapan aksi hari ini.

Ah, kenapa kampus ini dipenuhi dengan obrolan ini hari ini. Muak aku rasanya. Karena sekali lagi, dalam keyakinanku mereka hanya akan melakukan hal yang sia-sia. Sambil terceletuk dia bilang ke aku, "Ndi, kenapa pemilu (baca : pemilu salah satu fakultas) diadakan sekarang? Apakah mereka tidak tahu bahwa hari ini kita ada peringatan dan aksi besar-besaran? Apalagi mereka orang-orang yang ngerti politik, kenapa tidak respect terhadap isu-isu seperti hari ini".

Sekali lagi aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dia pun melanjutkan pertanyaannya, "Apa KPU nya tidak konsultasi dulu ke kamu Ndi?". Dia memang tahu bahwa aku adalah anggota badan pelaksana pemilu tingkat Univ. Aku hanya membalasnya dengan menjawab "mana ada mereka konsultasi. Kan di UMY rada aneh. Satu lembaga tapi tidak ada koordinasinya. Mungkin mereka punya kebijakan sendiri". Dia pun hanya mengangguk-angguk saja.

Rasanya aku tambah muak saja dengan kondisi hari ini. Kenapa semua harus ngomong tentang aksi ini. Apakah tidak ada topik lain. Kenapa aku muak? Karena aku lihat sendiri mereka mencari-cari mahasiswa yang tidak tahu apa-apa dan sedang tidak ada kuliah untuk ikut berdemo memperingati hari anti korupsi seduni. Tuntutannya hanya satu, turunkan Boediono dan Sri Mulyani. Suatu hal yang tidak wajar menurutku untuk bisa menurunkan seorang Wapres di saat ini.

Mahasiswa yang diajak pun mau-mau saja. Dengan dalih tidak ada kerjaan, mending ikut aksi untuk membela rakyat. Suatu isu dan alasan yang menurutku sudah basi.

Belum hilang muakku, hp ku pun bergetar. Akupun membuka SMS yang datang. Kubaca perlahan dan aku pun bergumam," Owh, dari Ketua salah satu organisasi yang aku ikuti". Isinya tentang seruan untuk mengikuti aksi peringatan hari anti korupsi. Dan ada juga instruksi mengenai tempat dan waktu berkumpul. Lagi-lagi tambah muak aku bacanya. Kenapa organisasi yang notabenenya berbasis perkumpulan mahasiswa daerah dan bergerak di ranah sosial budaya harus ikut-ikutan nimbrung ke suatu aksi yang menurutku sudah politis sangat. Padahal aku tau betul bahwa organisasi ini tidak bergerak di ranah politik.

Sebenarnya ajakan ini berasal dari Organisasi diatas organisasi kami. Padahal banyak mahasiswa dari organisasi ini yang tidak tahu menahu tentang isu yang diangkat dan apa yang harus mereka lakukan.
Tanda tanya besar dalam pikiranku siapa gerangan orang dibalik ajakan aksi ini. Sejauh yang aku tau baru kali ini organisasi ini melakukan aksi di ranah politik seperti kali ini.
Aku bergegas menaiki motor ku. Dan benar saja, di titik nol KM ada sebuah mobil dengan berbagai atribut dan spanduk dari organisasi yang aku katakan tadi. Di atas mobil tampak seorang orator yang mukanya sudah tidak asing lagi bagiku. Ya, dia adalah salah seorang pimpinan Partai Politik mahasiswa yang baru saja mengikuti Pemilu Raya di kampusku.
Aku hanya tersenyum melihatnya. Mendengar tuntutan-tuntutan mereka. Mahasiswa yang mengikuti aksi di mobil itupun aku lihat hanya diam saja. Seperti tidak tahu apa yang sebenarnya mereka sedang lakukan.

Sekali lagi jiwa-jiwa tidak berdosa telah menjadi korban dari kepentingan segelintir orang.
Kenapa harus mahasiswa-mahasiswa yang tidak tahu apa-apa disuruh dan dipaksa mengikuti aksi ini.
Jika tidak mengikutinya, nantinya akan dikatakan sebagai mahasiswa ayam kampung yang tidak perduli terhadap permasalahan bangsa.
Persetan dengan semua itu, aku hanya berlalu dengan penuh rasa muak untuk aksi hari ini.
Aku memang menyukai adanya sebuah pembaharuan ke arah yang lebih baik, tapi tidak dengan melibatkan jiwa-jiwa tak berdosa.
Jangan korbankan mereka.

Biarkan mereka melakukan perubahan dan kepedulian terhadap permasalahan bangsa dengan cara mereka sendiri. Jangan suruh jiwa-jiwa suci ini untuk mengikuti cara-cara kelompok kalian.
Biarkan jiwa-jiwa suci ini bergerak dengan hati nurani mereka sendiri. Jangan paksa jiwa-jiwa suci ini dengan doktrin-doktrin Gila kalian.
Biarkan.........biarkan jiwa-jiwa suci ini mengalir seperti mengalirnya air sungai yang kelak akan menemukan muaranya.




* Tribute to Peringatan Hari Anti Korupsi se Dunia
** Sebuah catatan dari seorang anak manusia yang sedang mencari seberkas cahaya di kegelapan

dR

Share:

0 komentar