HAPPINESS IS SIMPLE




Banyak orang mengaku tidak bahagia dengan hidupnya. Ada yang mengatakan karena kekurangan harta ada juga yang justru karena kelebihan harta. Alasan lain adalah karena pasangan hidup maupun alasan prestasi. Bermacam-macam alasan diajukan sebagai alat legalisasi bahwa dia tidak bahagia. Namun tahukah bahwa sebenarnya bahagia itu bersumber dari dalam diri kita sendiri, jauh di lubuk hati tiap individu.

Kisah ini coba diangkat dari kisah nyata yang belum lama terjadi. Tepatnya saat mulai memasuki minggu ke-3 pelatihan intensif para Calon Pengajar Muda angkatan V di Wisma Indosat, Purwakarta. Ketika beberapa minggu sebelumnya para CPM selalu disuguhi dengan makanan “kota”, kini tiba saatnya para CPM pada sesi minggu sederhana. Mungkin bagi sebagian kalangan yang baru pertama kali mencoba makanan sederhana ini akan cukup kaget dan nggak doyan. Menu yang disuguhkan adalah nasi putih dan ikan asin, nasi putih dengan tempe goreng, nasi putih dengan kerupuk dan lain sebagainya. Untuk snacknya pun tak kalah menghebohkan, dimulai dari pisang rebus, kacang rebus, ubi dan singkong rebus. Walau makan dengan menu yang sangat sederhana, rekan-rekan CPM tampak sangat lahap menikmatinya. Makanan ini pun memberikan efek yang berbanding terbalik dengan tampilannya.

Walaupun sederhana, namun makanan sederhana ini justru membuat berat badan para CPM banyak yang mengalami kenaikan. Rata-rata naik sekitar 1 Kg. Dalam kondisi ini, para CPM menjadi sangat bersyukur akan keberlimpahan rezeki yang selama ini telah mereka dapatkan. Mereka bahagia seminggu makan makanan yang sederhana ini. Tak nampak sedikit pun raut muka kekecewaan atau kesedihan diantara mereka. “Ya inilah hidup, suka tidak suka harus kita jalani. Dibanding mengeluh dengan kondisi yang ada, alangkah lebih baiknya kalau kita bersyukur dengan apa yang ada sekarang. Itu lebih membahagiakan” terang salah seorang CPM. Hal lain yang patut untuk direfleksikan adalah saat mereka mendapatkan gadget mereka pada setiap hari minggu. Ketika seminggu penuh gadget mereka disitaoleh team training dengan tujuan agar mereka bisa mulai membiasakan diri tanpa gadget di daerah penempatan, maupun dengan tujuan agar mereka bisa fokus pada materi pelatihan, gadget menjadi barang mahal di akhir minggu. Mereka bisa senyum-senyum sendiri di depan gadget mereka berjam-jam setelah gadgetnya dibagikan. Namun mereka tak mengeluh ketika gadgetnya disita kembali.

Kejadian ini menjadi sebuah refleksi tersendiri bahwa pada hakekatnya kebahagiaan itu simple. Tak perlu banyak harta, punya pacar atau istri yang cantik, maupun atribut tinggi lainnya. Cukup dengan modal ikhlas menerima apa yang dimiliki serta mensyukurinya. Maka kebahagiaanpun akan timbul dari dalam diri individu. Kalau terminologi ini kemudian kita tarik ke arah yang lebih jauh, utamanya dalam hal pendidikan, maka bukan suatu hal yang mustahil bahwa Indonesia kelak akan memiliki saintis-saintis muda, politisi handal, serta fisikawan hebat.

Selama ini banyak yang menjustifikasi bahwa salah satu faktor kenapa pendidikan di Indonesia tertinggal adalah karena sarana-prasarana serta letak geografisnya. Kenapa harus menyalahkan keadaan dan takdir yang terjadi? Bukankan sebaiknya kita yang harus memainkan takdir dan keadaan yang ada ini? Tak malukah bangsa ini dengan Singapore yang dengan sedikit lahan tanahnya tapi mampu membangun peradaban modern jauh diatas Indonesia. Dibalik semua pertanyaan itu, ada secercah harapan akan embun nang segar yang bakal menghapus dahaga prestasi pendidikan Indonesia. Bertemu Ibu Wei, Ibu Ruth, Ibu Elke, Pak Munif, Pak Bobby, Om Dick Doang, Simponii, Ami, dan Leon adalah sedikit orang yang sudah menyentil bahwa kita bisa berkembang dengan segala keterbatasan yang ada.

Lihatlah Armansyah, Aisyah dan mutiara Paser lainnya. Mereka bisa seperti saat ini karena keterbatasan. Apakah mereka selalu mengeluh dengan kondisi yang mereka alami di pelosok Paser sana? Tahukah kalian bahwa tempat tinggal mereka adalah tempat tinggal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Mereka tinggal di pesisir pantai yang sangat minim air bersih. Namun ditengah kondisi tersebut, mereka tetap bahagia menjalani aktivitas pendidikannya. Bahkan sebagai bonus karena kegembiraan itu, Tuhan menganugerahi mereka prestasi yang tak biasa. Mereka bisa menembus kancah nasional dan Internasional, mengalahkan mereka yang memiliki cukup fasilitas dengan segala kemewahan duniawinya.

Itu adalah sebagian kecil dari rahasia Tuhan yang tak pernah kita ungkap tabirnya. Selama ini kita selalu mengeluh dan mengeluh dengan apa yang terjadi dan apa yang kita miliki saat ini. Bagaimana kita mau bahagia kalau kita sendiri tak tau kodrat kenapa kita begini dan seperti ini. Bahagia itu sederhana kok. Syukuri apa yang dimiliki, sayangi apa yang dimiliki. Ikhlas dengan apa yang terjadi. Maksimalkan potensi yang ada. Tak usah menuntut apalagi mengeluh. Happines is Simple. Jadi, masihkah kita tidak bahagia dengan apa yang terjadi dan apa yang kita miliki saat ini?

“Salam dari gelapnya malam di Barak CPM V”

dR.

Share:

2 komentar

  1. memang mudah untuk happy dalam hidup, tapi itu cuma di mulut ajah pada kenyataan nya cuma bualan ajah dan banyak mengeluh terus, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, mungkin sebagian orang bisa berkata seperti itu. Namun hakekat syukur yang diajarkan oleh Al Quran mengatakan bahwa sekecil apapun nikmat yang diterima, wajib disyukuri. Dengan begitu mampu menghindarkan dari celaan keluh kesah terhadap arti kebahagiaan itu sendiri.

      Hapus