[1] PROLOG : TUHAN, KENAPA AKU BERBEDA?




Pagi ini kumasuki duniaku yang baru, dunia yang membawa akan mimpi-mimpi kecil tentang syurga. Seperti biasa, aku bertemu dengan orang-orang baru, dan budaya yang baru. Namun perasaan akan kekhawatiran tentang diriku justru kembali muncul. Aku bukanlah anak biasa, aku memiliki “kelebihan” khusus dibanding anak yang lain. Aku sangatlah susah untuk beradaptasi dengan duniaku yang baru. Butuh waktu yang lama untukku agar mampu beradaptasi. Entah ini kelebihan atau justru kekuranganku. Dalam renungku aku selalu bertanya pada diriku : kenapa aku berbeda?

Dahulu ketika aku memasuki dunia SMA aku adalah orang yang sangat asing. Aku adalah orang pendiam yang oleh mereka di cap sebagai orang yang sangat angkuh. Namun bukan aku yang mau seperti itu, aku juga ingin seperti mereka, mereka yang bisa segera mendapatkan teman. Namun apa daya, inilah karakter diriku. Aku hanya bisa menelan cibiran-cibiran pahit tanpa mampu aku kecap sedikitpun sebelumnya. Dibalik itu semua, hanya bayangan ibu yang selalu hadir menyapaku yang bisa menjadi pemanis lidah ini. Ibu yang selalu mendengarkan ocehan-ocehan gilaku disaat semua orang menganggapku angkuh. Hanya ibu yang mampu membuatku tenang disaat perasaanku terkoyak oleh omongan.

Bayangan keasinganku sedikit sirna seiring berlalunya waktu. Disaat semua orang menganggapku aneh karena sangat tertutup, aku justru diberikan anugerah tak terhingga oleh Sang Kuasa. Aku mampu menerobos jalan lain menuju prestasi tinggi yang itu tak pernah disangka oleh mereka yang mencela ku. Kejadian ini berulang-ulang setiap aku memasuki duniaku yang baru. Disaat  melanjutkan studi pun begitu. Aku selalu dicap berbeda dengan yang lain. Aku adalah orang angkuh yang tak mampu bersosialisasi. “Bukan, bukan ini yang aku mau. Aku juga tak mau begini. Tolong jangan hakimi aku dengan kata-kata itu” jeritku dalam doa.

Ketika semua orang tak mau menerimaku sebagai seorang rekan kerja mereka, Tuhan mengirimkan aku seorang malaikat. Dia yang mengangkatku dari keterpurukan perasaan yang tak keruan. Dia yang selalu meyakinkanku bahwa ini semua bukan salahku, merekalah yang tak paham akan keadaanku. Dan pagi ini pandangan itu kembali hadir membayangiku. Aku dicap sebagai orang yang sangat angkuh dan aneh. Ya Tuhan, pelajaran apalagi yang akan kau berikan padaku melalui duniaku yang baru ini. Kenapa aku selalu Engkau berikan pelajaran ini berulang-ulang. Sebenarnya apa yang akan Engkau ajarkan padaku Tuhan?

Aku telah melalui jalan panjang untuk sampai di jalan raya ini. Banyak kelokan dan tantangan yang itu tak mudah untuk dilewati, namun kenapa setelah sampai Engkau justru memberikanku ganjalan batu besar ini kembali. Aku hanya ingin menikmati duniaku yang baru, aku hanya ingin menari diatas panggungku sendiri, panggung dimana aku akan bebas bergerak kesana-kemari tanpa harus mengikuti PAKEM yang sangat aneh bagiku itu.

Disini aku sudah menemukan banyak hal yang itu bisa aku bawa untuk memperbaiki dunia lamaku. Aku pindah kesini karena aku ingin memperbaiki dunia lama ku yang telah rusak. Tapi kenapa aku dianggap berbeda? Salahkah kalau aku ingin belajar dan melihat dunia baru di luar dunia ku yang lama?

Lama ku merenung dalam doa, mencoba menggelitik perhatian Tuhan agar mau segera mengatakan apa yang akan Ia ajarkan padaku dalam kondisi ini. Walau sampai saat ini Ia belum mau mengatakan apa yang akan Ia ajarkan padaku, tapi aku yakin ini semua akan berakhir manis, semanis takdir-Nya yang telah Ia catatkan di Lauful Mahfudz.

*Terimakasih sudah mau berbagi dan menginspirasi
**Dari Negeri jauh tak bertuan

dR.

Share:

2 komentar

  1. Ini kisahnya siapa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kisah dari seorang teman yang mungkin bisa kita ambil pelajarannya

      Hapus