BUKAN AKU YANG MEMINTA

Bukan aku yang meminta untuk dilahirkan di dunia ini. Bukan aku pula yang meminta untuk diciptakan” Kata kemarahan itu yang selalu membayangi hidupku hingga kini.


Perkenalkan namaku Nur, seorang sarjana yang hingga kini tak tau mau dibawa kemana ijazah ini. aku pun tak tau dengan tujuan hidupku. Semua datar, terlihat sama tak berujung. Aku adalah perempuan dengan diorientasi gaya. Fisikku adalah perempuan, namun jiwa dan kelakuanku lebih garang dari laki-laki. Ya, inilah aku, perempuan yang selalu dicap “aneh” oleh masyarakat karena tak mengikuti budaya ketimuran.

Aku punya alasan mengapa aku begini. Aku adalah perempuan yang berasal dari keluarga yang hancur. Ayahku menceraikan ibuku ketika aku berumur 2 tahun. Waktu itu aku tak tau apa-apa. Namun perpisahan kedua orangtuaku itu yang justru membuat karakterku menjadi liar. Disaat anak yang lain mendapatkan penuh kasih sayang, aku malah mendapati pertengkaran dan emosi dari kedua orangtuaku. Di depan anak mereka yang masih berumur 2 tahun, mereka bertengkar dan saling mencacimaki tanpa rasa salah. 6 bulan aku menyaksikan adegan gila ini dan itu membuat trauma pada diriku.

Kini disaat umurku sudah menyentuh 25 tahun, aku adalah perempuan yang tampak gila. Bayangkan saja, aku suka menaiki motor trail, memiliki tattoo di kedua lenganku, merokok, hingga berpenampilan sangat mirip dengan laki-laki. Itu semua aku lakukan sebagai bentuk pelarianku terhadap jalan hidupku ini. Aku sudah muak dengan semua ini. Tuhan tidak adil. Aku cuma perempuan yang mau hidup normal. Memiliki dua orangtua yang utuh dan damai. Tak ada cacian, hinaan, hingga pertengkaran. Aku ingin hidup seperti layaknya anak perempuan lain yang bisa tertawa lepas, pergi kuliah di kecup keningnya oleh keduaorangtua, pulang disambut dengan senyum, disajikan masakan ibu yang lezat. Ah, betapa nikmatnya hidup ini mungkin kalau aku memiliki itu semua. “Tuhan, aku tak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi aku cuma minta sedikit kebahagiaan mengenai keluargaku.

Tapi terkadang aku bersyukur dengan ini semua, kehancuran keluargaku justru membuatku semakin tegar menghadapi hidup. Sejak SD aku sudah mulai mencari uang guna membeli jajan sekolah. Maklumlah, ibuku tak mendapat harta gono-gini dalam perceraiannya. Sehingga akupun harus mulai memikirkan keberlangsungan hidup walau masih anak-anak waktu itu. Dari berdagang es hingga berjualan baju bekas pernah aku lakoni. Bagi anak seumuranku waktu itu mungkin terlihat aneh, tapi tidak bagiku. Yang penting halal dan tidak merugikan oranglain cukuplah menjadi prinsip dalam mengais rupiah waktu itu. Persetandengan anggapan oranglain.

Disaat anak perempuan lain seusiaku ini sudah sibuk memikirkan untuk menikah dan mencari calon suami, aku masih senang dengan duniaku sendiri. Dunia yang tak banyak orang memahaminya. Aku tak pernah mau serius menjalin hubungan dengan laki-laki. Aku masih selalu terbayang wajah ayahku saat ia menampar ibuku tatkala bertengkar di hadapanku dulu. Aku muak dengan laki-laki. Bagiku mereka adalah para iblis yang beronani dengan setan.

Saat ini, ketika aku mulai dekat dengan Tuhan, aku selalu menanyakan kenapa Dia tak adil terhadapku. Ia yang menghendaki aku lahir, tapi Ia juga yang membuat keadaanku hancur berantakan. “Sebenarnya apasih mau-Mu Tuhan? Apakah aku harus berpura-pura menyembah-Mu sedangkan hatiku tak tau kenapa aku menyembah-Mu?”

Ayah ibu, aku rindu untuk hadir dalam pelukan hangat kalian berdua. Aku merasa sangat menggigil berjalan dalam lorong sepi nan dingin yang tak berujung. Aku lelah dengan semua ini, ayah ibu. Aku butuh kalian berdua, bukan hanya satu. Aku tak perlu harta, materi, gelar maupun kemewahan duniawi lainnya, yang aku perlukan saat ini adalah pelukan hangat dan timangan kalian berdua. Aku rindu masa itu. Kalau yang terjadi saat ini adalah yang seperti ini, mungkin aku akan memilih tak pernah mau dilahirkan. Tuhan, kalau Engkau sedang tidak sibuk, tolong raih tanganku ini. Agar aku tak tenggelam dalam sumur kesesatan. Aku tau aku salah. Aku tau aku adalah hamba yang tak tau diri. Tapi apa Engkau akan biarkan aku begini terus selamanya?

#PlastikSampahDunia

dR.

Share:

0 komentar