PAK LEGIMAN DAN ANGKOT YANG MEMBAWA BANYAK KENANGAN
Baca Juga
Saya pertama kali mengenal Pak Matius Legiman ketika duduk di kelas X SMA Negeri 1 Kalirejo pada 2005. Beliau adalah guru senior yang mengajar Geografi, tetapi yang paling saya ingat bukan hanya pelajaran tentang peta, bentang alam, atau proses terbentuknya bumi. Beliau adalah sosok yang supel, mudah bergaul, dan cepat akrab dengan siswa. Rasanya tidak ada jarak yang terlalu lebar antara beliau sebagai guru dan kami sebagai murid.
![]() |
| Pak Legiman dan Angkotnya (Gambar : AI Generated) |
Ada satu cerita yang paling lekat dengan ingatan saya tentang beliau dan Paskibra SMA Negeri 1 Kalirejo. Hampir setiap kali kami mendapat kegiatan di luar sekolah, Pak Legiman yang ditugaskan untuk mengantar. Latihan gabungan di Kota Gajah, seleksi Paskibraka di Gunung Sugih, berbagai lomba di kabupaten, sampai kegiatan OSIS dan Paskibra lainnya, kami sering berangkat bersama beliau.
Sekolah kami waktu itu belum memiliki mobil inventaris yang bisa digunakan untuk membawa siswa dalam jumlah banyak. Maka angkot yang dikemudikan Pak Legiman menjadi kendaraan yang sangat akrab bagi kami. Di dalamnya kami bisa berdesakan dengan seragam PDU putih, membawa perlengkapan kegiatan, bercanda sepanjang perjalanan, dan sesekali tertidur karena kelelahan. Pak Legiman tetap mengemudi dengan sabar, seolah membawa anak-anak sekolah menuju sebuah kegiatan adalah bagian penting dari pekerjaannya sebagai guru.
Yang lebih mengesankan, beliau tidak sekadar mengantar lalu pulang. Sering kali beliau harus menunggu kami seharian sampai kegiatan selesai. Ketika kami sedang latihan atau mengikuti perlombaan, beliau tetap berada di sekitar lokasi dengan angkotnya. Kami mungkin tidak pernah benar-benar bertanya apakah beliau bosan, lelah, atau punya pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Yang kami tahu, ketika kegiatan selesai dan kami mencari kendaraan untuk pulang, Pak Legiman selalu ada.
Kesederhanaan adalah hal lain yang saya ingat dari beliau. Beliau tidak banyak gaya dan tidak pernah terlihat berusaha menunjukkan bahwa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Cara hidupnya mengajarkan sesuatu yang kadang tidak ditemukan di dalam buku pelajaran, bahwa seseorang tidak perlu berlebihan untuk menjadi berharga. Dari beliau kami belajar bahwa menjadi guru bukan hanya tentang apa yang disampaikan di depan kelas, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalani hidup.
Bertahun-tahun kemudian, saya meninggalkan Kalirejo dan melanjutkan perjalanan pendidikan hingga akhirnya menyelesaikan S2 di Taiwan. Banyak hal berubah selama waktu itu, termasuk diri saya sendiri dan jalan hidup yang saya tempuh. Namun ada nama-nama dari masa sekolah yang tetap tinggal dalam ingatan, dan Pak Matius Legiman adalah salah satunya. Ada guru yang kita ingat karena pelajarannya, tetapi ada pula guru yang kita ingat karena kebaikannya.
Pertemuan terakhir saya dengan beliau terjadi ketika saya baru pulang dari Taiwan. Saat itu saya menghadiri pernikahan putri beliau, yang kebetulan merupakan teman seangkatan saya ketika SMA. Pertemuan tersebut terasa sederhana seperti pertemuan dengan guru lama pada umumnya, tetapi hari ini kenangan itu terasa jauh lebih berarti. Saya tidak pernah menyangka bahwa sebuah perjumpaan yang tampak biasa akan menjadi salah satu kenangan terakhir saya bersama beliau.
Kini ketika mendengar kabar kepergian Pak Matius Legiman, yang terbayang justru angkot hijau itu. Di dalamnya ada anak-anak Paskibra dengan seragam putih, suara tawa siswa, perlengkapan lomba, dan setumpuk buku yang mungkin saja lebih berat daripada yang kami sadari. Di balik kemudi ada seorang guru sederhana yang dengan sabar membawa kami menuju tempat-tempat yang pada akhirnya menjadi bagian dari perjalanan hidup kami.
Selamat jalan, Pak Matius Legiman. Terima kasih untuk setiap perjalanan, setiap kesabaran, setiap pelajaran Geografi, dan setiap kebaikan yang pernah Bapak berikan kepada kami. Bapak mungkin tidak meninggalkan kemewahan atau cerita besar tentang kehidupan, tetapi Bapak meninggalkan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu kenangan tentang seorang guru yang bersahaja dan selalu bersedia mengantarkan murid-muridnya menuju tempat yang mereka tuju. Semoga setiap langkah pengabdian Bapak menjadi amal yang terus mengalir, dan semoga kami yang pernah menjadi murid Bapak tidak pernah lupa pada jalan yang pernah Bapak tunjukkan.



0 comments