SATU DARI SERIBU, SATU-SATUNYA DARI BENGKULU (Catatan dari SDG Academy Bag. 1)
Baca Juga
![]() |
| 17 SDGs (Gambar : Istimewa) |
Total peserta yang berkumpul pagi ini 50 orang, datang dari berbagai provinsi di Indonesia. Kami akan sama-sama menjalani pendidikan selama tiga bulan dengan pola hybrid, campuran tatap muka dan daring. Duduk di antara peserta lain, saya sempat menebak-nebak asal daerah dari logat bicara mereka sebelum sesi perkenalan resmi dimulai. Ada yang dari Sulawesi, ada yang dari Sumatera bagian utara, macam-macam. Saya sendiri kebagian memperkenalkan diri sebagai satu-satunya wakil dari Bengkulu, provinsi yang kadang masih perlu dijelaskan dulu letaknya di peta.
Begitu sesi perkenalan berlanjut, saya baru sadar peserta di ruangan ini datang dari latar yang jauh lebih beragam dari perkiraan saya. Ada eksekutif dari berbagai perusahaan, ada juga yang selama ini jadi penggerak isu sustainability langsung di akar rumput, tanpa embel-embel jabatan mentereng. Sisanya akademisi seperti saya, dan beberapa orang dari badan-badan pemerintah pusat. Duduk di antara mereka, saya baru sadar skala forum ini jauh lebih besar dari bayangan saya waktu mendaftar dulu.
Acara pembukaan hari ini diisi langsung oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dan Wakil Menteri Febrian Alphyanto Ruddyard. Panitia menyebut angkatan kami istimewa, katanya baru kali ini pembukaan dihadiri keduanya sekaligus, bukan hanya salah satu yang biasanya diwakilkan. Saya tidak bisa memastikan itu benar-benar pertama kalinya, tapi yang jelas dua pejabat itu duduk di depan kami, bukan muncul lewat layar video seperti biasanya acara semacam ini. Sambutan Menteri lumayan panjang, membahas soal pentingnya percepatan pencapaian SDGs menuju 2030. Saya mencatat beberapa poin di ponsel, khawatir nanti lupa.
Duduk di ruangan itu, saya sempat merenung sebentar. Bukan cuma soal materi yang akan dipelajari selama tiga bulan ke depan, tapi soal bagaimana saya, dosen dari kampus swasta di Bengkulu, bisa duduk semeja dengan eksekutif perusahaan besar dan pejabat pemerintah pusat. Rasanya seperti dua dunia yang biasanya cuma saya baca di berita, tiba-tiba duduk satu ruangan dengan saya. Saya jadi ingat, perjalanan ke titik ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum saya mendaftar program ini.
Persinggungan saya dengan agenda pembangunan berkelanjutan ini sudah dimulai waktu masih kuliah S1 di Jogja. Saat itu namanya belum SDGs, masih MDGs, dikenalkan lewat mata kuliah dan beberapa diskusi kecil-kecilan yang digagas organisasi mahasiswa jurusan tempat saya aktif. Topiknya menyerempet isu kemiskinan global dan target pembangunan dunia, meski waktu itu kami membahasnya lebih sebagai wacana daripada praktik nyata. Saya masih mahasiswa biasa waktu itu, belum kepikiran bakal duduk di ruangan seperti pagi ini.
Dosen menjelaskan delapan target besar MDGs itu lebih banyak lewat kacamata hubungan internasional, siapa berkomitmen apa, negara mana jadi donor, negara mana jadi penerima manfaat. Implementasinya di lapangan, jujur saja, saya pahami secara serampangan. Bagaimana tidak, saat itu saya baru belajar berpikir sistematis, jangankan memahami target pembangunan dunia, mengatur jadwal kuliah sendiri saja kadang masih berantakan. Wajar kalau pemahaman saya soal MDGs waktu itu masih setengah-setengah, lebih banyak menghafal istilah daripada benar-benar mengerti maksudnya.
Bedanya baru terasa jelas belakangan, setelah saya lulus dan mulai bekerja di kampus. MDGs itu delapan target yang disusun tahun 2000, sasarannya condong ke negara berkembang, semacam pekerjaan rumah yang dibebankan dari negara maju ke negara miskin dan menengah. Targetnya juga lebih sempit, fokus ke urusan dasar seperti kemiskinan, pendidikan dasar, dan kesehatan ibu-anak. Rentang waktunya berakhir tahun 2015, dan setelah itu dunia sepakat butuh kerangka baru yang lebih luas.
SDGs lahir menggantikan MDGs pada tahun 2015, isinya melebar jadi 17 tujuan. Bedanya, semua negara ikut terlibat, termasuk negara maju sekalipun, tidak lagi cuma jadi pekerjaan rumah negara berkembang. Pendekatannya juga lebih partisipatif, melibatkan pemerintah daerah, kampus, sampai organisasi masyarakat sipil. Prinsipnya sederhana, tidak ada satu daerah atau kelompok pun yang boleh tertinggal, sering disingkat leave no one behind.
Buat saya pribadi, SDGs jauh lebih mudah dipahami dibanding MDGs, meski jumlah targetnya lebih banyak. Alasannya sederhana, sekarang saya punya pengalaman kerja yang bersentuhan langsung dengan isu-isu itu. Urusan pendidikan berkualitas, kerja sama internasional, sampai kemitraan lintas lembaga, semua itu saya jalani setiap hari sebagai bagian dari tugas di kampus. Umur juga berperan. Dulu saya membaca MDGs sebagai teori di slide dosen, sekarang saya membaca SDGs sambil membayangkan bagaimana caranya diterapkan di kampus tempat saya bekerja.
Waktu menempuh S2 dan S3, isu keberlanjutan itu sebenarnya terus menempel, cuma bukan dalam bingkai SDGs. Riset saya waktu itu bersentuhan dengan pemasaran halal dan rantai pasok yang berkelanjutan, istilah yang dipakai lebih banyak sustainability dalam konteks bisnis, bukan 17 tujuan resmi PBB. SDGs sebagai kerangka formal justru baru benar-benar saya dalami di forum ini. Semacam ironi kecil, sudah bertahun-tahun berkutat dengan keberlanjutan, tapi baru sekarang duduk resmi belajar SDGs dari nol.
Sekarang, urusan kerja sama internasional jadi bagian dari pekerjaan saya sehari-hari, dari menyusun kerja sama dengan kampus luar negeri sampai mengurus mahasiswa asing. Semua itu, disadari atau tidak, sebenarnya berhubungan dengan beberapa tujuan dalam SDGs, khususnya soal pendidikan berkualitas dan kemitraan untuk mencapai tujuan. Dan pagi ini, saya duduk di forum ini, mendengarkan Menteri dan Wakil Menteri PPN/Bappenas membuka SDG Academy Indonesia angkatan baru. Ini bukan awal dari perjalanan saya dengan SDGs, ini sambungan dari perjalanan panjang yang sudah dimulai lebih dari satu dekade lalu, sejak masih duduk di bangku kuliah S1.
Ada satu kebetulan kecil yang baru saya sadari setelah sarapan pagi ini. Saya makan di warteg dekat penginapan, lalu memesan ojol untuk berangkat ke lokasi acara. Begitu motor datang, saya sempat melirik pelat nomornya, dan tertulis B XXXX SDG. Entah kebetulan atau memang semesta lagi becanda, tapi rasanya lucu juga, baru mau ikut acara soal SDGs, plat motor yang saya tumpangi malah berakhiran SDG.
Tapi bagaimana ceritanya saya sampai memutuskan mendaftar program ini, itu cerita lain, akan saya tulis di seri berikutnya. Untuk sekarang cukup dulu sampai di sini. Sesi pertama sudah mau dimulai, dan saya harus segera duduk rapi di ruangan sebelum ditegur panitia.



0 comments