SEMUA AKAN MUHAMMADIYAH
Baca Juga
Satu waktu, linimasa terasa gaduh oleh satu hal yang berulang. Orang orang memperdebatkan awal puasa dan kemungkinan lebaran dengan nada yang makin meninggi. Sebagian mengutip dalil, sebagian lagi mengandalkan kebiasaan lama. Nama Muhammadiyah ikut terseret ke tengah percakapan. Kalender Hijriyah Global Tunggal tiba tiba menjadi pusat perhatian. Padahal ketika pertama kali diperkenalkan, hampir tak ada yang benar benar peduli. Ia lewat begitu saja seperti berita kecil yang tidak sempat dibaca sampai habis.
Beberapa bulan sebelumnya, tepat saat 1 Muharram 1447 H, suasana masih sepi. Kritik hanya datang dari lingkaran yang itu itu saja. Para pengamal rukyat menggerutu pelan, selebihnya diam. Tidak ada gelombang besar seperti sekarang. Orang orang masih sibuk dengan urusan lain yang terasa lebih dekat. Kalender global itu seperti ide yang terlalu jauh untuk dipikirkan. Sampai akhirnya Ramadan datang dan semua berubah.
Mendekati akhir bulan puasa, diskusi terasa semakin rapat. Grup keluarga, ruang obrolan kampus, sampai kolom komentar media sosial dipenuhi perdebatan yang sama. Tidak sedikit yang bingung harus mengikuti siapa. Ada yang mulai curiga bahwa ini sekadar beda pendapat biasa. Ada juga yang menganggap ini bentuk keberanian yang terlalu jauh. Di titik ini, Muhammadiyah kembali berada di posisi yang sudah sangat dikenalnya. Sendirian di depan, sementara yang lain masih menimbang.
Cerita seperti ini bukan barang baru bagi Muhammadiyah. Jauh sebelum organisasi ini berdiri secara resmi, benih keberanian itu sudah tumbuh. Kiai Ahmad Dahlan pernah berdiri di tengah masyarakat yang kukuh dengan kebiasaan lama. Ia meluruskan arah kiblat dengan pendekatan ilmu. Respons yang datang tidak ramah. Surau yang ia dirikan bahkan sempat dirusak karena dianggap menyimpang.
Keputusan meluruskan kiblat kala itu terasa seperti gangguan bagi banyak orang. Mereka merasa ibadah yang selama ini dijalani tiba tiba dipertanyakan. Ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Namun waktu berjalan tanpa meminta izin. Masjid masjid mulai menyesuaikan arah. Apa yang dulu dianggap aneh perlahan berubah menjadi standar. Orang orang mulai lupa bahwa pernah ada penolakan keras terhadap hal yang sekarang terasa biasa.
Di bidang pendidikan, kisah serupa kembali terulang. Kiai Dahlan memperkenalkan sistem belajar dengan bangku dan meja. Sesuatu yang saat itu identik dengan sekolah Belanda. Tuduhan datang tanpa jeda. Ia disebut meniru orang kafir. Ia dianggap merusak tradisi belajar agama.
Lambat laun, perubahan itu menemukan tempatnya sendiri. Sekolah sekolah tumbuh dengan cara yang lebih terstruktur. Murid duduk di kursi, mencatat pelajaran, berdiskusi dengan guru. Hari ini sulit menemukan lembaga pendidikan yang tidak memakai bangku dan meja. Bahkan pesantren pun mengadopsinya dengan cara yang khas. Yang dulu ditolak kini terasa paling masuk akal.
Langkah berikutnya muncul di sektor kesehatan. Muhammadiyah mendirikan rumah sakit di masa ketika hal itu terasa janggal. Organisasi Islam dianggap cukup mengurus pengajian dan pendidikan. Kiai Sudjak menerima tantangan yang tidak ringan. Ia melangkah dengan keyakinan yang sama seperti gurunya.
Waktu sekali lagi menjadi saksi yang sabar. Rumah sakit Muhammadiyah berkembang di banyak kota. Pelayanannya menjangkau siapa saja tanpa melihat latar belakang. Organisasi lain mulai mengikuti jejak yang sama. Klinik dan rumah sakit bermunculan dari berbagai kelompok. Sesuatu yang dulu terasa aneh kini menjadi kebutuhan umum.
Beberapa tahun lalu, Muhammadiyah kembali membuat keputusan yang memancing percakapan panjang. Waktu subuh dimundurkan sekitar delapan menit dari ketetapan pemerintah. Kajian dilakukan bertahun tahun sebelum keputusan itu diambil. Banyak yang meragukan hasilnya. Sebagian bahkan menolaknya mentah mentah.
Setelah waktu berjalan lebih dari lima tahun, suara itu mulai mereda. Penelitian lanjutan bermunculan. Diskusi menjadi lebih tenang. Tidak sedikit yang akhirnya mengakui bahwa ada dasar ilmiah yang kuat di balik keputusan tersebut. Perubahan tidak lagi terasa mengganggu. Ia mulai diterima sebagai alternatif yang masuk akal.
Kini giliran Kalender Hijriyah Global Tunggal yang diuji. Gagasan ini berangkat dari kebutuhan menyatukan penanggalan Islam secara global. Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid merumuskan konsep ini dengan pendekatan hisab hakiki. Prinsipnya sederhana dalam logika, satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Perbedaan wilayah tidak lagi menjadi alasan untuk berbeda awal bulan.
Dalam konsep ini, batas tanggal ditentukan secara global dengan mempertimbangkan posisi bulan dan matahari. Garis tanggal internasional menjadi acuan teknis. Selama kriteria imkan rukyat terpenuhi di satu titik, seluruh dunia mengikuti hasil tersebut. Tujuannya bukan sekadar teknis penanggalan. Ada harapan besar tentang kesatuan umat yang selama ini terpecah oleh perbedaan metode.
Reaksi yang muncul bisa ditebak. Sebagian merasa ini terlalu jauh dari tradisi yang selama ini dipegang. Ada kekhawatiran bahwa praktik ibadah akan kehilangan kedekatan lokalnya. Di sisi lain, ada yang melihat ini sebagai langkah maju. Mereka melihat peluang untuk mengurangi perbedaan yang berulang setiap tahun.
Fenomena seperti ini sering dibahas dalam teori perubahan sosial. Ketika sebuah inovasi muncul, masyarakat akan melalui fase penolakan, adaptasi, lalu penerimaan. Everett Rogers menyebutnya sebagai difusi inovasi. Ada kelompok yang cepat menerima, ada yang menunggu, dan ada yang menolak cukup lama. Pola ini tidak pernah benar benar berubah.
Muhammadiyah seperti sudah akrab dengan pola tersebut. Ia sering berada di kelompok yang memulai lebih dulu. Risiko yang dihadapi tidak kecil. Tekanan sosial, kritik, bahkan cemooh menjadi bagian dari proses. Namun sejarah menunjukkan arah yang cukup konsisten. Apa yang dulu dianggap aneh perlahan berubah menjadi wajar.
Guncangan yang dirasakan publik hari ini terasa wajar. Kalender global mengusik kebiasaan yang sudah mengakar. Orang orang merasa kehilangan pegangan yang selama ini dianggap pasti. Perbedaan awal puasa dan potensi beda lebaran menjadi pemicu emosi. Tidak semua siap menerima perubahan dalam waktu singkat.
Keyakinan bahwa semua akan Muhammadiyah bukan sekadar slogan. Ia lahir dari pola sejarah yang berulang. Ijtihad yang didasarkan pada ilmu dan keberanian sering kali berakhir pada penerimaan luas. Waktu menjadi faktor penentu yang tidak bisa dipercepat. Setiap generasi memiliki cara sendiri untuk memahami perubahan.
Perkembangan pendidikan ikut mempercepat proses ini. Akses informasi semakin terbuka. Diskusi tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Teknologi membantu orang memahami konsep yang dulu terasa rumit. Kalender global tidak lagi sekadar ide abstrak. Ia bisa dipelajari dan diuji oleh siapa saja.
Beberapa tahun ke depan, intensitas perdebatan mungkin masih tinggi. Akan ada momen ketika perbedaan terasa lebih tajam. Namun pola yang sama kemungkinan akan kembali terlihat. Orang orang mulai terbiasa. Argumen menjadi lebih rasional. Emosi perlahan turun.
Sikap terbaik saat ini adalah memberi ruang pada proses. Tidak semua harus sepakat dalam waktu yang sama. Perbedaan tidak selalu berarti perpecahan. Ia bisa menjadi jalan menuju pemahaman yang lebih dalam. Muhammadiyah memilih berjalan di jalur yang diyakininya benar.
Pada akhirnya, waktu yang akan berbicara dengan caranya sendiri. Kalender Hijriyah Global Tunggal mungkin akan menempuh jalan yang tidak mudah. Namun jejak sejarah memberi petunjuk yang cukup jelas. Apa yang hari ini terasa asing bisa saja menjadi kebiasaan baru. Dan ketika itu terjadi, orang orang akan lupa bahwa mereka pernah menolaknya dengan begitu keras.



0 comments