SAH ! DUA MATAHARI MUHAMMADIYAH SINARI NEGARA THAILAND

Hari sabtu pagi yang cerah dan hening, tetiba dipecahkan oleh dering nada pemberitahuan pesan WhatsApp di ponsel.

Good News, Alhamdulillah, Muhammadiyah Thailand already received an official Permittion  Letter from the government

Pesan tersebut kemudian diikuti dengan kiriman foto-foto surat resmi dari pemerintah Thailand dengan Bahasa Thai yang lalu diterjemahkan ke dalam Bahasa melayu di surat yang lain yang berkop Asosiasi Muhammadiyah Thailand.

Surat resmi dari Pemerintah Thailand / Gubernur Propinsi Yala (Foto : WAG Muhammadiyah ASEAN)

Kabar ini dikirimkan oleh Bu Alia selaku Koordinator Muhammadiyah Sister Organization dan dilengkapi oleh Dr. Hafidz selaku Ketua Asosiasi Muhammadiyah Thailand di WA Group Muhammadiyah ASEAN dan Dunia.

***

Dalam upaya menginternasionalisasikan Gerakan dan paham Islam tengahan yang diusung oleh Muhammadiyah, Muhammadiyah terus menggandeng dan memperluas Kerjasama dengan berbagai pihak guna mencapai tujuan tersebut. Selain mensyiarkan paham tersebut, Muhammadiyah melakukan internasionalisasi juga karena beberapa alasan. Pertama, karena tuntunan dan keniscayaan sejarah. Banyaknya permintaan dari berbagai institusi untuk Muhammadiyah berperan lebih besar. Permintaan tersebut diajukan berdasarkan pengalaman dan penilaian individu dan lembaga yang berinteraksi dan bekerjasama dengan Muhammadiyah. Kedua, pembinaaan anggota Muhammadiyah di luar negeri. Sebagian juga karena permintaan Kedutaan Republik Indonesia di mancanegara. Ketiga, adanya peluang dan tantangan untuk memperkuat gerakan Muhammadiyah di dalam negeri dengan jaringan lembaga dan negara asing serta diaspora Muhammadiyah. Internasionalisasi dilaksanakan berbasis gerakan sosial, pendidikan, kebudayaan, dan kemanusiaan, bukan melulu melalui pengajian. Muhammadiyah melakukan Internasionalisasi berbasis aksi, bukan penetrasi ideologi. Dunia internasional memahami aksi Muhammadiyah merupakan aktualisasi dari ideologi atau manhaj.

PP Muhammadiyah memiliki banyak mitra di luar negeri terkait Gerakan internasionalisasi Muhammadiyah ini. Selain Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) yang memang perpanjangan tangan Muhammadiyah di lebih dari 26 negara di dunia yang memiliki garis komando langsung dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, PP Muhammadiyah juga bekerjasama dengan Sister Organization Muhammadiyah dari 7 negara di dunia. Ada 7 organisasi bernama 'Muhammadiyah' di dunia yang tidak mempunyai hubungan dengan Muhammadiyah di Indonesia, namun punya visi, strategi dakwah bahkan logo yang sama. Mereka disebut sebagai organisasi saudara atau 'sister organization'. Ke-7 “Saudara Muhammadiyah” tersebut berasal dari Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Timor Leste, Vietnam, dan Mauritius.

Surat terjemahan dari surat asli pemerintah Thailand / Gubernur Propinsi Yala (Foto : WAG Muhammadiyah ASEAN)

Sejak Muktamar ke-45 di Malang tahun 2005, yang dikenal sebagai tonggak Gerakan internasionalisasi Muhammadiyah (karena banyak kebijakan tentang internasionalisasi Muhammadiyah seperti pengakuan PCIM sebagai struktur resmi dan aksi-aksi internasional lainnya), PP Muhammadiyah rutin mengundang organisasi-organisasi serumpun yang memiliki nama dan logo yang sama dengan Muhammadiyah di Indonesia ini hadir di Muktamar. Di muktamar ke-47 di Makassar tahun 2015, PP Muhammadiyah mengadakan Muhammadiyah International Meeting sebagai forum resmi untuk koordinasi seluruh PCIM dan organisasi-organisasi serumpun Muhammadiyah seluruh dunia. 

Sebagai salah satu sister organization paling awal, Asosiasi Muhammadiyah Thailand membuktikan bahwa Gerakan mereka bisa diterima dan diapresiasi oleh pemerintah Thailand. Pengakuan secara resmi ini menjadi penting karena akan memberikan kepastian hukum dalam gerak Langkah dakwah Asosiasi Muhammadiyah Thailand di berbagai bidang.

Asosiasi Muhammadiyah Thailand berbasiskan di Propinsi Yala, Thailand Selatan yang mayoritas beretnis melayu muslim. Sudah sejak lama, PP Muhammadiyah memberikan perhatian khusus kepada propinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini. Mulai dari keiikutsertaan dalam penyelesaian konflik hingga pemberian puluhan beasiswa bagi anak-anak muslim dari wilayah yang mayoritas dihuni oleh penduduk muslim ini untuk menempuh studi sarjana, master, hingga doktor di kampus-kampus Muhammadiyah se-Indonesia.

Dalam surat yang ditandatangani pada 22 Juni 2021 ini oleh Gubernur Propinsi Yala, Asosiasi Muhammadiyah Thailand diberikan hak untuk menyelenggarakan berbagai usaha terkait dakwah di berbagai bidang. Selain itu, disebutkan juga bahwa Asosiasi Muhammadiyah Thailand tidak bertujuan untuk berpolitik maupun berafiliasi dengan pilihan politik manapun. 

Dengan hadirnya surat pengakuan ini, maka Thailand menjadi negara kedua di dunia yang memiliki dua “Muhammadiyah” sekaligus. Yang satu adalah PCIM Thailand yang memiliki garis instruksi dengan Muhammadiyah di Indonesia, dan satu lagi adalah Asosiasi Muhammadiyah Thailand yang tidak memiliki garis organisasi apapun dengan Muhammadiyah di Indonesia. Negara pertama yang memiliki “matahari ganda” ini adalah Malaysia dengan hadirnya PCIM Malaysia dan Muhammadiyah Malaysia (Pulau Penang).

Sebagian peserta Muhammadiyah International Meeting saat penutupan Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar. Forum ini dihadiri oleh 20 an PCIM, 7 sister organization, dan puluhan tamu internasional (Foto : Dokumen Pribadi) 

Hadirnya para sister organization Muhammadiyah di berbagai dunia ini menjadi salah satu jalan untuk menyebarkan paham, ideologi, dan semangat Gerakan Muhammadiyah yang diinisiasi oleh Kiai Dahlan lebih dari seabad yang lalu. Konstitusi Muhammadiyah (baca : AD-ART) menyebut bahwa kedudukan Muhammadiyah berada di Indonesia dan anggotanya adalah para WNI. Kenyataan ini menutup peluang bagi WNA yang ingin bergabung dengan Muhammadiyah di Indonesia. Sehingga dengan adanya organisasi sejenis seperti Asosiasi Muhammadiyah Thailand, bisa menjadi win-win solution bagi semuanya.

***

Thailand sebenarnya bukanlah negara asing bagi Gerakan Muhammadiyah. Sejak puluhan tahun yang lalu, “orang-orang Muhammadiyah” telah bermigrasi ke Thailand. Salah satu generasi awal “muhajirin Muhammadiyah” ke Thailand ini adalah anak kandung Kiai Dahlan. Bahkan saat ini, cicit Kiai Dahlan yang bernama Prof. Winai Dahlan telah menjadi akademisi besar di salah satu Universitas besar di Kota Bangkok dan sekaligus memimpin Pusat Penelitian Halal terbesar di Thailand.

Sebagai warga Muhammadiyah, kita patut bersyukur dan bangga bahwa organisasi kita ini telah menginspirasi dan menjadi contoh bagi para WNA. Ketulusan dan keseriusan Gerakan Muhammadiyah dalam mengamalkan ajaran Islam melalui aksi-aksi nyata dan berdampak positif bagi masyarakat lintas negara, wilayah, dan keyakinan. Muhammadiyah akan terus bersinar dimanapun berada !

Share:

0 komentar