SI ARSITEK YANG PENDIAM

Perjalanan mengajar kelas VI untuk menggantikan guru yang sedang berhalangan hadir pun dimulai. Setelah istirahat aku diminta masuk untuk mengisi mata pelajaran bahasa Inggris dan Seni Budaya Ketrampilan (SBK). Untuk kali ini aku harus berpikir 2 kali lipat, karena harus mengisi 2 pelajaran sekaligus tanpa persiapan. Sejenak aku berpikir untuk lagi-lagi men-design RPP Portable dalam pikiranku. 

"Ahaaa........ Aku gabungkan saja 2 mata pelajaran itu menjadi sebuah RPP Tematik seperti yang diajarkan sewaktu pelatihan Indonesia Mengajar dulu" Teriakku

Sejenak aku mencari-cari bahan untuk mengajar. Aku butuh gunting, lem, kertas karton warna, kardus, dan spidol. Dari semua pojok kantor dan gudang sekolah yang aku cari, tidak semua bahan aku temukan. Aku hanya menemukan beberapa saja dari semua bahan itu. "Tentu ini tidak cukup untuk anak-anak satu kelas walau sudah dibagi dalam 3 group" Gerutuku dalam hati. Kemudian aku coba sisir beberapa laci meja guru, siapa tau ada bahan-bahan yang sedang aku cari. Beruntung, di beberapa laci ada bahan-bahan yang aku butuhkan. Walau tidak sesuai dengan jumlah yang butuhkan, tapi cukuplah untuk dibagi seminim mungkin untuk 3 kelompok. 

Setelah aku masuk ke kelas dengan membawa semua bahan-bahan tersebut, mereka langsung berebut bertanya pada ku "Pak, itu semua untuk apa?". Pertanyaan mereka tidak lantas aku jawab, aku lemparkan senyum saja untuk membalas pertanyaan mereka. Mereka semua kemudian beranjak tenang dan kembali duduk di tempat masing-masing setelah aku beri isyarat tidak menjawab pertanyaan mereka satupun. Mereka semua memang sudah paham dengan gayaku bahwa aku tidak akan menjawab pertanyaan mereka kalau mereka masih ribut dan tidak duduk tenang. Tapi walaupun begitu, tetap saja di hari-hari berikutnya mereka masih terus berebut pertanyaan secara spontan ketika melihatku membawa sesuatu yang mereka anggap asing.

Aku mulai menjawab pertanyaan mereka setelah aku melihat semua hening dan duduk rapih. Aku menceritakan bahwa kita akan bermain-main saat itu.

Main-main? Mereka nampak mulai mengerutkan dahi mendengar jawabanku dan mencoba menebak apa yang akan aku berikan.

Sebelum memulainya, aku memberikan pancingan kepada mereka mengenai kosakata-kosakata sederhana dalam bahasa Inggris. Aku bertanya nama-nama benda di kelas dalam bahasa inggris. Kemudian benda-benda di sekitar sekolah. Banyak dari mereka yang rupanya belum tau kosakatanya. Ini wajar saja, karena mereka baru mendapatkan mata pelajaran bahasa Inggris di kelas 6. Sebelumnya mereka tidak pernah belajar bahasa Inggris (Setelah aku tanyakan ke beberapa guru, aku mendapat informasi bahwa alasan kenapa tidak ada bahasa Inggris sejak dulu adalah karena terbatasnya SDM guru yang mengampu mata pelajaran bahasa Inggris. Alhasil, selama ini mereka hanya diberikan suatu catatan saja mengenai nama-nama benda dalam bahasa Inggris tanpa diwajibkan untuk memahami atau menghafalnya).

"That's why I say : This is an extraordinary school"

Lanjut pada pelajaran di kelas. Aku kemudian memberikan sebuah catatan tentang kosakata-kosakata benda dalam bahasa Inggris. Lantas, apa kaitannya dengan benda-benda yang aku kumpulkan diatas?
Aku akan mencoba membuat mereka paham tentang kosakata-kosakata baru itu dengan cara mempraktekkannya langsung. Caranya dengan membuat sebuah landmark / miniatur sebuah sekolah lengkap dengan bagian-bagiannya dengan menggunakan bahan-bahan tadi.

Anak-anak aku minta membuat miniatur sekolah dengan bahan-bahan yang ada. Awalnya mereka bingung, namun setelah aku jelaskan kembali untuk keduakalinya, mereka langsung paham. Alhamdulillah, respons yang lumayan bagus. Setelah itu aku jelaskan mengenai tugas berikutnya, mereka harus memberikan nama pada bagian-bagian sekolah tersebut dalam bahasa inggris. sebagai contoh, pohon diberikan nama tree, bangku diberikan nama desk dan begitu seterusnya. Dengan 1 komando, mereka langsung bergerak membuat sebuah miniatur sekolah mereka. Aku hanya sesekali mengawasi dan mendatangi meja mereka, kemudian menanyakan apa yang sedang mereka buat. Dengan lugu mereka menjawab pertanyaanku tersebut.


Anak-anak fokus membuat tugas tematik

Diantara semua siswa, ada satu siswa yang cukup mencuri perhatianku. Namanya Halim. Aku mengenalnya sebagai anak yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Anaknya pendiam. Tidak banyak bertingkah. Malah terkesan karena pendiamnya ini, dia sering di bully oleh teman-temannya. Namun dia tetap memberikan senyumnya ketika aku sapa. Aku perhatikan dari awal aku berikan tugas, ia tidak jalan-jalan di kelas seperti yang lainnya. Ia hanya fokus pada apa yang dia kerjakan. Oy, untuk tugas ini aku membagi siswa-siswa menjadi 3 kelompok. Dan si Halim kebagian membuat bagian gedung sekolah. Aku cermati, pekerjaannya cukup rapih. Dia juga tidak lupa membuat bagian-bagian penting dalam struktur sebuah gedung, seperti pintu, jendela, atap serta risplangnya. 

Ketika kelompok lain masih bingung dengan design yang mereka buat, si Halim dan kelompoknya justru sudah mulai finishing dengan pekerjaannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 menit. Artinya adalah waktu untuk mengerjakan tinggal 15 menit lagi. Namun mereka semua usul kalau waktunya diteruskan saja sampai pukul 13.00. Aku memutuskan bahwa waktunya sampai mereka semua selesai. Syukur sebelum jam 1 siang sudah selesai, karena jam 2 nya aku harus memberikan les kepada tim OSK Club. 

Lagi-lagi si Halim mencuri perhatianku, detail-detail bangunan yang ia buat sangat rapih dan lengkap. Mirip seperti Insinyur atau asitek-arsitek ketika membuat sebuah miniatur bangunan.

Hasil pekerjaan mereka : Sederhana, tapi luar biasa
Ternyata dibalik sifat pendiamnya tersebut, Halim memiliki potensi yang luar biasa. Kemampuannya dalam berimajinasi membuat sebuah pola bangunan sekolah sangat detail dan rapih. Mungkin suatu saat ia akan bisa menjadi seorang arsitek handal yang kelak banyak membangun gedung-gedung tinggi di negeri ini.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.30. Dan mereka semua selesai juga dengan pekerjaannya. Miniatur sekolah dengan berbahan kardus serta dengan nama-nama dalam bahasa Inggris. Sugguh hari yang menyenangkan untuk bermain bersama dan berkreasi sambil tak lupa belajar mengenali benda-benda di sekitar.

dR.


Share:

4 komentar

  1. the next Stanley.... :) semangat Pak Guru Andi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup bener sekali. Arsitek kecil yang punya sejuta warna. Nuwun Bu Guru Aul. Salam utk anak2 hebat di Banggai

      Hapus
  2. weh..wehh...wehhHH
    akhirnya ada 'Pak Guru' yg suka bercerita, berbagi, bergema & ber.... emm moga udh g suka 'galo' ya. hehee..

    tetep lanjut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nuwun Lek sudah berkomen disini. GALAU? Itu sudah tidak zaman lagi. Ayo berbuat yang terbaik untuk bangsa ini. Hehehe

      Hapus