PAKTA INTEGRITAS DAN KISAH SULTAN YG DILILIT LEHERNYA SAMPAI MATI

Ilustrasi
Saat pelantikan Sultan-sultan Buton Sulawesi, Sultan membuat sumpah untuk menjalankan UU negara yang disebut Murtabat Tujuh dan menerima konsekuensi digantikan atau bahkan kehilangan nyawa bila melanggar UU tersebut. Bahkan setiap sultan berjanji untuk tidak lagi tidur dengan permaisuri demi menghindari lahirnya putra mahkota saat mereka bertahta. Karena bila sampai lahir seorang putra, maka kesultanan tidak lagi melalui proses demokrasi melainkan diwariskan kepada keturunannya.

Meskipun Buton berbentuk kesultanan, namun demokrasi memegang peranan penting dalam struktur pemerintahannya. Pemilihan sultan bukanlah berdasarkan keturunan namun dipilih oleh Siolimbona, dewan yang terdiri dari 9 orang penguasa dan penjaga adat Buton.

FALSAFAH YANG MENJADI LANDASAN ATURAN KESULTANAN ADALAH sbb :
1). Bholimo arataa somanamo karo, artinya: Korbankanlah kepentingan harta benda asalkan diri (pribadi/rakyat) selamat.

2). Bholimo Karo Somanamo Lipu, artinya: Korbankanlah kepentingan diri (pribadi/rakyat) atau karo, asalkan lipu (negara) slamat.

3). Bholimo lipu somanamo sara, artinya: Korbankanlah kepentingan negara (lipu) asalkan pemerintah (sara) selamat.

4). Bholimo Sara Somanamo Agama, artinya: Korbankanlah kepentingan sara atau pemerintah asalkan agama selamat.

Aturan-aturan tersebut tentu dlm konteks bila kesultanan dlm keadaan darurat.

Falsafah, etika, dan aturan aturan di Kesultanan Buton sangat keras dijalankan. Hal ini terlihat dari ke 38 orang sultan yang memerintah di Buton , 12 orang menyalahgunakan kekuasaan dan melanggar sumpah jabatan dan satu diantaranya yaitu Sultan ke - VIII La Cila Maradan Ali (Gogoli yi Liwoto 1647–1654), diadili dan diputuskan untuk dihukum mati dengan cara leher dililit dengan tali kemudian kedua ujung tali itu ditarik ke kiri dan ke kanan hingga meninggal yang dalam bahasa wolio dikenal dengan istilah digogoli.
Inilah PAKTA INTEGRITAS sesungguhnya!

dR.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Share:

2 komentar

  1. weh ngeri gtu ya, kayak di Jepang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Politisi kita perlu banyak belajar dari sejarang perjalanan bangsa ini sebelum bernama Indonesia

      Hapus