KEDUTAAN BESAR PROPINSI-PROPINSI DI YOGYAKARTA

Sekretariat IKPM Bengkulu (Sumber : Istimewa)
Yogyakarta, sebuah Propinsi di Indonesia yang sedang ramai dibicarakan banyak orang terkait statusnya yang Istimewa. Baik itu istimewa karena pemerintahannya yang dipimpin oleh Sultan dan Paku Alam ataupun karena statusnya sebagai salah satu pusat kebudayaan di Indonesia. Tapi saya ingin melihat Yogyakarta dari sisi lain yaitu dari sisi penduduknya yang terbagi menjadi pribumi dan pendatang.

Hal yang lumrah bagi sebuah daerah yang dijadikan sebagai kota pelajar, masyarakatnya terbagi menjadi dua. Pribumi yaitu masyarakat asli Yogyakarta yang sudah turun temurun menghuni wilayah Yogyakarta. Sedangkan pendatang adalah para Mahasiswa dan Pelajar yang sedang menempuh studi di Yogyakarta. Baik itu yang sedang maupun yang sudah namun tidak mau kembali ke daerah asalnya. Namun bagi saya yang menjadi menarik adalah aktivitas keseharian dari tiap-tiap mahasiswanya itu sendiri. Banyak dari mereka yang membentuk kelompok-kelompok dan paguyuban daerah mereka atau dalam bahasa kekiniannya adalah kelompok primordial. Mereka tergabung karena merasa senasib sepenanggungan. Mereka berkumpul dalam satu tempat, kemudian menyewanya sampai pada akhirnya membelinya sebagai basis berkumpul mereka [baca: markas]. 

Tak jarang bahkan pemerintah propinsi merekalah yang membelikan sebuah rumah untuk menjadi sebuah asrama mahasiswa daerah. Inilah hal unik yang mungkin tak terjadi di propinsi lain. Di Yogyakarta, terdapat 32 IKPM (Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa) Propinsi dan lebih dari 300 IKPM Komisariat Tingkat II (Setara Kabupaten). Mereka berkumpul dalam satu tempat yang kemudian dikenal dengan Asrama Daerah. Selain sebagai tempat tinggal dan berkumpul mahasiswa-mahasiswa daerah, Asrama Daerah juga bertugas sebagai sarana untuk diplomasi budaya antar daerah.


Ini menjadi penting guna terjadi pemahaman bersama tentang adat dan budaya antar daerah. Mengingat budaya dan adat di Indonesia banyak ragamnya. Inilah mengapa Asrama Daerah saya sebut seperti Kedutaan Besar Propinsi-Propinsi di Yogyakarta. Selain itu, di Asrama Daerah saat ini sedang digalakkan pembangunan etalase budaya dan adat dari Propinsi masing-masing. Hal ini menjadi penting mengingat wilayah Indonesia sangatlah luas, sehingga sangat susah untuk mempelajari kebudayaan dan adat tiap-tiap propinsi. Namun dengan adanya etalase budaya dan adat di Asrama Daerah masing-masing di Yogyakarta, orang-orang terutamanya pelajar-pelajar bisa dengan mudah mempelajarinya. Memang di Jakarta khususnya di TMII ada anjungan-anjungan Daerah dari seluruh Indonesia. 
Asrama Mahasiswa Lampung di Yogyakarta (Sumber : Istimewa)

Namun kelebihan dari Asrama Daerah di Yogyakarta ini adalah kita bisa benar-benar bercengkerama dengan masyarakat daerah yang diwakilkan oleh mahasiswa tersebut tanpa perlu canggung maupun membayar tiket masuk. Selain itu, di setiap Asrama Daerah juga dibentuk team seni budaya masing-masing. Sehingga kita bisa melihat langsung bagaimana mereka berlatih tari maupun kesenian lain.

Kitapun bisa ikut belajar tari atau kesenian itu, mereka akan senantiasa senang membantu masyarakat atau pelajar yang ingin belajar. Ini penting sebagai upaya untuk membentuk mutual understanding antar daerah. Banyak event di Yogyakarta yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa daerah untuk tampil mempertunjukkan budaya dan kesenian dari daerah mereka.

Selain itu, Asrama Daerah juga menjadi sebuah rumah di perantauan bagi masyarakat yang kebetulan bekerja atau hidup di Yogyakarta. Disini [asrama daerah] mereka diterima layaknya di kampung halaman. Berbicarapun menggunakan bahasa daerah masing-masing. Sekali lagi inilah uniknya Jogja. Sebuah Propinsi dengan Kedutaan-Kedutaan Besar Propinsi di Indonesia.


Selamat ber-Asrama !


Share:

0 komentar