Andi Azhar
  • Beranda
  • Mimbar
    • Khazanah Islam
    • Kolak Pisang
    • Pendidikan
    • Sosial Politik
    • Persyarikatan
    • #SeloSeloan
    • Perguruan Tinggi
    • Sains Teknologi
    • Financial Teknologi
    • Bengkulu
    • Bisnis
  • Lakon
    • Formosa
    • Nusantara
    • Ramadhan Bercerita
  • Soneta
  • Interlokal
    • Education
    • Politic
    • Technology
    • Economic
  • Pariwara
    • Competition
    • Endorsement
    • Komiku
  • Jejak
  • Sangu
    • MoE Taiwan
    • HES Taiwan
    • ICDF Taiwan
  • Hubungi Kami

Lonceng kematian itu berdentang dari seberang lautan, namun gaungnya begitu nyaring hingga menggetarkan sendi-sendi pendidikan tinggi di tanah air. Taiwan, negeri yang selama ini kita kenal sebagai pusat inovasi teknologi dan pendidikan, kini menjadi saksi bisu dari tragedi yang tak terelakkan: penutupan sejumlah universitas terkemuka. Ming Dao, Tatung, Tung Fang, TransWorld, Chung Chou, Shoufu – nama-nama yang pernah menjadi mercusuar bagi para pencari ilmu, kini tinggal kenangan.

Penutupan ini bukanlah sekadar angka statistik atau berita sensasional belaka. Ia adalah cerminan dari krisis yang menggerogoti dunia pendidikan tinggi, krisis yang tak hanya mengancam eksistensi institusi, tetapi juga masa depan generasi muda dan daya saing bangsa. Krisis ini berakar dari perubahan demografi yang tak terelakkan, pergeseran nilai sosial, dan dinamika ekonomi yang tak kenal ampun.

Ilustrasi Perguruan Tinggi Ditutup (Gambar : Freepik)

Di tengah gegap gempita pembangunan infrastruktur dan klaim kemajuan pendidikan, kita seolah terlena dan lupa bahwa badai demografi sedang menghampiri. Laju pertumbuhan penduduk yang melambat, bahkan mendekati nol, bukanlah sekadar angka di atas kertas. Ia adalah kenyataan pahit yang akan berdampak langsung pada jumlah calon mahasiswa, sumber daya manusia yang menjadi tulang punggung pembangunan.

Indonesia, dengan populasi yang jauh lebih besar, mungkin merasa aman dan terlindungi dari badai demografi ini. Namun, kita tak boleh terlena. Lonceng kematian yang berdentang di Taiwan adalah peringatan keras bagi kita semua. Ia adalah alarm bahaya yang harus membangunkan kita dari tidur panjang, mendorong kita untuk berbenah diri sebelum terlambat.

Gema Krisis Demografi dan Gelombang 'Freechild'

Krisis demografi bukanlah isapan jempol belaka, melainkan ancaman nyata yang membayangi masa depan pendidikan tinggi. Di Taiwan, badai ini telah menerjang dengan dahsyat, menyapu bersih sejumlah universitas yang tak mampu bertahan. Penurunan angka kelahiran yang drastis, diperparah dengan fenomena 'freechild', telah menciptakan jurang yang menganga antara jumlah perguruan tinggi dan calon mahasiswa.

'Freechild', sebuah istilah yang mungkin masih asing di telinga sebagian orang, merupakan fenomena sosial yang semakin menguat di berbagai negara maju. Ia merujuk pada pilihan sadar pasangan muda untuk tidak memiliki anak atau hanya memiliki satu anak. Beragam faktor melatarbelakangi pilihan ini, mulai dari tekanan ekonomi, tuntutan karier, hingga perubahan nilai sosial yang menggeser makna keluarga dan peran orang tua.

Di Indonesia, tren 'freechild' mungkin belum sekuat di negara-negara Barat. Namun, tanda-tanda awal telah terlihat. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menunjukkan penurunan tingkat fertilitas total (TFR) menjadi 2,4 anak per perempuan. Angka ini memang masih di atas tingkat penggantian penduduk, namun tren penurunannya patut menjadi perhatian serius.

Teori Transisi Demografi, yang dikembangkan oleh Warren Thompson pada tahun 1929, memberikan kerangka analisis yang berguna untuk memahami fenomena ini. Menurut teori ini, setiap masyarakat akan mengalami pergeseran dari tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi menuju tingkat kelahiran dan kematian yang rendah. Pergeseran ini terjadi seiring dengan modernisasi, urbanisasi, dan peningkatan pendidikan.

Indonesia saat ini berada pada tahap akhir dari transisi demografi, di mana tingkat kelahiran telah menurun namun tingkat kematian masih relatif tinggi. Kondisi ini menciptakan 'bonus demografi', di mana proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dari proporsi penduduk usia non-produktif. Namun, bonus demografi ini tidak akan berlangsung selamanya. Jika tren penurunan angka kelahiran terus berlanjut, Indonesia akan memasuki era 'penuaan penduduk', di mana proporsi penduduk usia lanjut (65 tahun ke atas) semakin besar. Era ini akan menjadi tantangan besar bagi pendidikan tinggi, karena jumlah calon mahasiswa akan semakin menyusut.

Bencana 'Oversupply' dan Ancaman Penutupan Kampus

Krisis demografi yang melanda Taiwan bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan penutupan sejumlah universitas terkemuka. Ada bencana lain yang mengintai, bencana yang tak kalah dahsyat: 'oversupply' perguruan tinggi. Fenomena ini, yang juga menghantui Indonesia, merupakan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

'Oversupply' perguruan tinggi merujuk pada kondisi di mana jumlah perguruan tinggi jauh melebihi kebutuhan riil masyarakat. Di Taiwan, fenomena ini telah mencapai titik kritis. Data Kementerian Pendidikan Taiwan menunjukkan rasio perguruan tinggi terhadap penduduk yang sangat tinggi, bahkan melampaui negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Indonesia pun tak luput dari jerat 'oversupply'. Liberalisasi dan desentralisasi pendidikan tinggi yang digulirkan sejak era reformasi telah membuka keran pendirian perguruan tinggi secara masif. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai lebih dari 4.500, dengan rasio perguruan tinggi terhadap penduduk yang juga tergolong tinggi.

Akibatnya, persaingan antar perguruan tinggi semakin ketat. Perguruan tinggi yang tidak memiliki keunggulan kompetitif, baik dalam hal kualitas, reputasi, maupun inovasi, akan tergilas oleh seleksi alam yang kejam. Mereka akan kesulitan menarik mahasiswa, mendapatkan dana penelitian, dan mempertahankan eksistensi.

Teori Ekonomi Pendidikan, yang dikembangkan oleh Gary Becker pada tahun 1960-an, memberikan kerangka analisis yang relevan untuk memahami fenomena ini. Menurut teori ini, pendidikan tinggi adalah investasi dalam sumber daya manusia. Individu akan memilih untuk berinvestasi dalam pendidikan tinggi jika mereka yakin bahwa investasi tersebut akan memberikan imbal hasil yang memadai, baik dalam bentuk peningkatan pendapatan, status sosial, maupun pengetahuan.

Namun, dalam kondisi 'oversupply', imbal hasil dari investasi dalam pendidikan tinggi menjadi tidak pasti. Lulusan perguruan tinggi akan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka, karena jumlah lulusan jauh melebihi jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia. Akibatnya, nilai ekonomis dari gelar sarjana akan terdepresiasi.

Fenomena 'oversupply' juga berdampak negatif pada kualitas pendidikan tinggi. Perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan mahasiswa akan menurunkan standar penerimaan, mengurangi investasi dalam fasilitas dan dosen, serta mengabaikan kualitas pembelajaran. Hal ini akan menciptakan lingkaran setan yang merugikan semua pihak.

Belajar dari Taiwan, Mitigasi Risiko di Indonesia

Indonesia harus segera bertindak, belajar dari tragedi yang menimpa Taiwan. Kita tidak bisa hanya berpangku tangan, menunggu badai demografi dan 'oversupply' perguruan tinggi menghantam kita tanpa ampun. Mitigasi risiko harus menjadi agenda prioritas, bukan sekadar wacana atau rencana di atas kertas.

Pertama, moratorium pendirian perguruan tinggi baru harus segera diberlakukan. Langkah ini mungkin tidak populer di kalangan pengusaha pendidikan, namun ia merupakan keniscayaan yang tak bisa ditawar lagi. Moratorium bukan berarti mematikan inovasi, melainkan memberikan ruang bagi evaluasi dan konsolidasi.

Kedua, pemerintah harus melakukan audit menyeluruh terhadap perguruan tinggi yang sudah ada. Audit ini harus dilakukan secara independen, transparan, dan akuntabel. Perguruan tinggi yang tidak memenuhi standar kualitas, relevansi, dan keberlanjutan harus diberikan sanksi tegas, mulai dari pembinaan hingga penutupan.

Ketiga, diferensiasi dan spesialisasi perguruan tinggi harus menjadi strategi utama. Kita tidak bisa lagi mempertahankan model 'one size fits all' di mana semua perguruan tinggi berlomba-lomba menjadi universitas riset. Setiap perguruan tinggi harus memiliki fokus dan keunggulan masing-masing, sesuai dengan potensi dan kebutuhan daerah.

Keempat, kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah harus diperkuat. Perguruan tinggi tidak bisa lagi menjadi menara gading yang terisolasi dari dunia nyata. Mereka harus menjadi mitra strategis bagi industri dalam mengembangkan inovasi, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan lapangan kerja.

Kelima, digitalisasi pendidikan tinggi harus menjadi prioritas. Pandemi Covid-19 telah menunjukkan bahwa pembelajaran daring bukanlah sekadar alternatif, melainkan keniscayaan. Perguruan tinggi harus berinvestasi dalam infrastruktur teknologi, mengembangkan konten pembelajaran digital yang berkualitas, dan melatih dosen dalam pedagogi daring.

Keenam, internasionalisasi pendidikan tinggi harus ditingkatkan. Perguruan tinggi Indonesia harus berani bersaing di tingkat global, baik dalam hal kualitas riset, pengajaran, maupun lulusan. Kerja sama dengan perguruan tinggi asing, program pertukaran mahasiswa, dan rekrutmen dosen asing harus menjadi agenda rutin.

Ketujuh, pemerintah harus memberikan insentif bagi perguruan tinggi yang berprestasi dan berkontribusi bagi masyarakat. Insentif ini bisa berupa bantuan finansial, kemudahan akses ke sumber daya, atau pengakuan publik. Sebaliknya, perguruan tinggi yang tidak berprestasi harus diberikan sanksi, mulai dari pengurangan anggaran hingga pencabutan izin operasional.

Kedelapan, masyarakat harus diberikan informasi yang lengkap dan akurat tentang perguruan tinggi. Masyarakat harus tahu perguruan tinggi mana yang berkualitas, relevan, dan berkelanjutan. Informasi ini bisa disampaikan melalui berbagai saluran, seperti media massa, situs web, dan pameran pendidikan.

Kesembilan, regulasi pendidikan tinggi harus direformasi secara menyeluruh. Regulasi yang ada saat ini terlalu kaku, birokratis, dan tidak responsif terhadap perubahan zaman. Regulasi baru harus lebih fleksibel, adaptif, dan berorientasi pada hasil.

Mitigasi risiko penutupan kampus bukanlah tugas mudah. Ia membutuhkan komitmen, keberanian, dan kerja sama dari semua pihak. Namun, jika kita tidak segera bertindak, kita akan menyesal di kemudian hari. Lonceng kematian yang berdentang di Taiwan adalah peringatan terakhir bagi kita. Mari kita belajar dari pengalaman mereka, mengambil langkah-langkah mitigasi yang tepat, dan membangun masa depan pendidikan tinggi Indonesia yang lebih baik.

***

Para pemikir pendidikan terkemuka telah lama mengingatkan kita akan bahaya yang mengintai dunia pendidikan tinggi. Mereka telah melihat tanda-tanda krisis sejak jauh hari, jauh sebelum lonceng kematian berdentang di Taiwan. Suara mereka mungkin teredam oleh hiruk-pikuk pembangunan dan klaim kemajuan, namun kata-kata mereka tetap relevan dan menggugah kesadaran.

Clark Kerr, mantan rektor Universitas California, Berkeley, dalam bukunya "The Uses of the University" (1963) telah meramalkan munculnya "multiversity", sebuah institusi yang tidak lagi memiliki identitas tunggal, melainkan terfragmentasi menjadi berbagai fakultas dan departemen yang saling bersaing. Multiversity ini, menurut Kerr, akan menjadi sarang bagi konflik kepentingan, birokrasi yang membengkak, dan penurunan kualitas pendidikan.

Bill Readings, seorang filsuf Kanada, dalam bukunya "The University in Ruins" (1996) bahkan lebih pesimistis. Ia berpendapat bahwa universitas sebagai institusi telah kehilangan makna dan tujuannya. Universitas tidak lagi menjadi tempat untuk mencari kebenaran, melainkan sekadar pabrik produksi gelar dan kredensial.

Pandangan Kerr dan Readings mungkin terdengar ekstrem, namun mereka menyentuh isu-isu fundamental yang masih relevan hingga saat ini. Krisis identitas, fragmentasi, birokrasi, dan komersialisasi pendidikan adalah masalah nyata yang dihadapi oleh banyak perguruan tinggi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Di tengah gempuran perubahan demografi dan disrupsi teknologi, perguruan tinggi harus menemukan kembali jati dirinya. Mereka harus kembali pada esensi pendidikan, yaitu mengembangkan potensi manusia secara utuh, baik intelektual, moral, maupun spiritual. Perguruan tinggi harus menjadi tempat di mana mahasiswa tidak hanya belajar untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga belajar untuk menjadi manusia yang bermakna bagi dirinya sendiri, masyarakat, dan bangsa.

Kita tidak bisa lagi mengabaikan peringatan para pemikir pendidikan. Kita harus mendengarkan suara mereka, merenungkan kata-kata mereka, dan mengambil tindakan nyata untuk menyelamatkan pendidikan tinggi dari jurang kehancuran.

Membangun Masa Depan Pendidikan Tinggi yang Berkelanjutan

Penutupan universitas di Taiwan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah era baru. Era di mana pendidikan tinggi harus bertransformasi secara radikal, beradaptasi dengan perubahan zaman, atau punah ditelan gelombang disrupsi. Indonesia, dengan segala potensi dan tantangannya, memiliki peluang untuk menjadi pelopor dalam transformasi ini.

Kita tidak bisa lagi berpuas diri dengan pencapaian masa lalu. Kita harus berani keluar dari zona nyaman, mempertanyakan asumsi-asumsi lama, dan mencari solusi-solusi baru. Kita harus membangun sistem pendidikan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas dan terampil, tetapi juga berkarakter, berintegritas, dan berdaya saing global.

Pendidikan tinggi bukanlah sekadar pabrik produksi gelar, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Ia adalah kunci untuk membuka potensi generasi muda, menciptakan inovasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, investasi ini tidak akan memberikan hasil yang optimal jika kita tidak berani melakukan perubahan yang mendasar.

Kita harus berani meninggalkan model pendidikan tinggi yang ketinggalan zaman, yang hanya berfokus pada transfer pengetahuan dan keterampilan teknis. Kita harus membangun model pendidikan tinggi yang holistik, yang mengintegrasikan aspek intelektual, moral, dan spiritual. Kita harus menciptakan lingkungan belajar yang merangsang kreativitas, inovasi, dan kolaborasi.

Kita harus berani menghadapi kenyataan pahit bahwa tidak semua perguruan tinggi akan bertahan. Seleksi alam akan berjalan dengan sendirinya, menyisakan perguruan tinggi yang benar-benar berkualitas, relevan, dan berkelanjutan. Namun, seleksi alam ini tidak boleh menjadi alasan untuk pasrah dan menyerah. Sebaliknya, ia harus menjadi cambuk yang memacu kita untuk berbenah diri, meningkatkan kualitas, dan memperkuat daya saing.

Masa depan pendidikan tinggi Indonesia ada di tangan kita. Kita bisa memilih untuk menjadi penonton pasif yang hanya menyaksikan tragedi demi tragedi, atau kita bisa memilih untuk menjadi aktor aktif yang turut serta membangun masa depan yang lebih baik. Pilihan ada di tangan kita.

Jogja, kota yang tak pernah lelah menuntun langkah. Di sini, setiap sudut menyimpan sejuta cerita, setiap batu bata berbisik sejarah. Dan di antara hiruk pikuk kehidupan, ada satu momen sakral yang selalu dinanti: wisuda.

Lebih dari sekadar upacara kelulusan, wisuda di Jogja adalah sebuah janji. Sebuah komitmen untuk terus belajar, terus menggali, terus menemukan makna di balik setiap peristiwa. Kota ini, dengan segala kerumitan dan keindahannya, menjadi guru abadi bagi setiap anak yang pernah menginjakkan kaki di tanahnya.

Di panggung wisuda, toga membungkus tubuh muda penuh semangat. Tapi di balik toga itu, ada sejuta mimpi yang siap mengepakkan sayap. Mimpi untuk berkarya, untuk mengabdi, untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Ilustrasi Wisuda (Gambar : Shutterstock)

Jogja mengajarkan bahwa ilmu tak hanya didapat dari buku. Jalanan berbatu, warung angkringan, bahkan suara gamelan di malam hari, semuanya adalah ruang kelas yang tak pernah tutup. Di sini, kita belajar tentang kehidupan, tentang cinta, tentang perjuangan.

Wisuda adalah titik awal, bukan akhir. Setelahnya, perjalanan masih panjang. Dunia luar menanti dengan segala tantangan dan godaannya. Namun, dengan bekal ilmu dan pengalaman yang didapat di Jogja, kita siap menghadapinya.

Jogja, kota yang melahirkan para pemimpi. Di sini, ide-ide liar bebas berkeliaran, kreativitas terus diasah. Dan wisuda adalah momen ketika para pemimpi itu siap mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Mungkin ada yang bertanya, apa yang istimewa dari wisuda di Jogja? Jawabannya sederhana: di sini, kita tidak hanya merayakan keberhasilan individu, tapi juga keberhasilan sebuah komunitas. Kita merayakan semangat gotong royong, semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas kota ini.

Jogja adalah rumah bagi para pencari kebenaran. Di sini, kita diajarkan untuk selalu bertanya, untuk selalu meragukan, untuk tidak pernah puas dengan jawaban yang ada. Dan wisuda adalah momen ketika kita siap melanjutkan pencarian itu.

Di setiap sudut kota ini, ada jejak langkah para wisudawan yang telah berlalu. Mereka telah memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat, bagi bangsa. Dan kalian, para wisudawan baru, harus siap meneruskan estafet perjuangan mereka.

Jogja, kota yang tak pernah berhenti mengajar. Dan kita, sebagai anak didiknya, harus terus belajar sepanjang hayat. Wisuda adalah sebuah janji, sebuah janji untuk terus memberikan yang terbaik bagi diri sendiri, bagi orang lain, dan bagi negeri ini.

Wisuda di Jogja adalah lebih dari sekadar seremonial; itu adalah janji untuk terus belajar dari kota yang tak pernah berhenti mengajar.

Saya pernah mendengar pepatah lama yang mengatakan, “Cinta itu buta.” Tapi jujur saja, setelah diamati, pepatah ini bisa saja perlu diperbaharui menjadi, “Cinta itu tidak hanya buta, tapi juga tuli dan kadang-kadang suka baca pesan seenaknya sendiri.”

Ah, cinta. Siapa yang tidak pernah terserang oleh virus berwarna merah muda ini? Hampir semua dari kita pernah mengalaminya. Mata berbintang, degup jantung yang lebih kencang dari biasanya, dan senyum bodoh yang tak bisa dihapus bahkan oleh tragedi paling menyedihkan sekalipun. Siapa sangka? Orang yang biasanya kalem bisa jadi tukang pantun dadakan gara-gara jatuh cinta. 

Jadi, sebelum Anda mendekati teman yang sedang mabuk cinta untuk memberikan "panduan hidup," pegang erat-erat prinsip ini: Jangan pernah menasihati orang yang sedang kasmaran. 

1. Telinganya Sedang Tuli, Bung!

Yang namanya orang kasmaran, itu seperti punya filter otomatis di telinga. Apa saja yang keluar dari mulut Anda, kecuali "Dia juga suka kamu," atau "Kalian pasangan paling serasi di dunia," tidak akan masuk ke otak. Serius, coba saja bilang, "Bro, kayanya dia kurang cocok buat kamu deh,"—reaksinya bakal sama seperti ngomong ke tembok.

Padahal, menasehati atau menggurui si korban cinta itu sama sekali tidak ada gunanya. Coba bayangkan, ketika kita sendiri sedang dimabuk asmara, apa yang akan kita lakukan jika ada orang yang coba-coba memberi nasihat? Ya, pastinya kita akan mempersilakan orang itu untuk menjaga jarak dan tidak usah ikut campur urusan hati kita. Karena bagi orang kasmaran, nasihat dari orang lain bagaikan angin lalu.

Ilustrasi (Gambar : Istimewa)

Tahu nggak, yang paling bikin gregetan itu adalah ketika orang-orang sekitar si korban cinta ini malah heboh sendiri. Ngomongin dia terus, membandingkan dia dengan mantan pacarnya, atau bahkan sampai mencoba menjodohkannya dengan orang lain. Astaga, percayalah, hal-hal macam itu hanya akan membuat si korban cinta semakin larut dalam buaian asmara dan semakin tuli terhadap segala bentuk nasihat.

2. Mereka Menjadi Keturunan Detektif Dadakan

Orang yang tengah jatuh cinta mendadak memiliki kemampuan investigasi ala Sherlock Holmes. Sekedar mendengar kamu berkata, "Yakin dia serius sama kamu?" mereka sudah bisa menggali motif terselubung yang menurut mereka ada di balik pertanyaan itu. Mereka langsung berpikir kamu dengki, padahal niatmu hanya ingin memastikan. Cinta membuat insting mereka tajam, tapi sayangnya tajam mengarah ke kecurigaan tak berdasar.

Nah, coba deh sekali-kali Anda tanya sama mereka, "Lho kok malah ngelamun terus? Mikir apa sih?" Bisa jadi respon mereka bakal mirip orang linglung yang baru saja melihat hantu. Karena percayalah, ketika seseorang sedang dimabuk asmara, satu-satunya yang ada di pikirannya hanyalah sang pujaan hati. Urusan lain, seolah-olah tidak ada di dimensi yang sama.

Maka dari itu, daripada sibuk memberikan nasehat yang tidak akan mereka dengar, mending Anda simpan saja energi Anda. Atau kalau Anda benar-benar ingin menolong, cobalah untuk menjadi pendengar yang baik. Biarkan mereka berceloteh sepuasnya tentang sang pujaan hati, dan sesekali berikan anggukan atau senyum tulus. Karena percayalah, itu jauh lebih berarti bagi mereka ketimbang wejangan-wejangan yang Anda berikan.

3. Filter Pendengaran yang Unik

Cinta memang aneh. Pernah nggak kamu bicara panjang lebar tentang pentingnya menjaga batasan waktu dalam pacaran, lalu mereka hanya menangkap kalimat, "Dia benar-benar spesial ya." Jadinya, nasehat bijakmu hilang begitu saja, tertelan oleh perasaan-perasaan membuncah yang berlimpah di dalam hati mereka. Lebih mirip dengan berbicara kepada tembok ketimbang manusia.

Bahkan, jika Anda sampai nekat membandingkan si dia dengan mantan pacarnya yang dulu, pasti respon yang Anda dapat hanyalah tatapan kosong, seolah-olah Anda barusan mengatakan bahwa Bumi itu datar. Padahal Anda sedang berusaha menyampaikan bahwa ada baiknya mereka tidak terlalu terburu-buru dalam menjalin hubungan. Tapi ketika sedang dilanda asmara, rasionalitas seperti menguap entah ke mana.

Coba saja bayangkan, jika Anda sedang kasmaran dan tiba-tiba ada seseorang yang mulai berkhotbah soal bagaimana seharusnya Anda bersikap. Apa yang akan Anda lakukan? Mendengarkan dengan seksama atau malah sibuk mencari-cari alasan untuk segera kabur dari orang tersebut? Pasti yang kedua 'kan? Nah, itulah yang terjadi pada orang-orang yang sedang dimabuk cinta. Jadi, lebih baik Anda simpan saja wejangan-wejangan itu untuk diri sendiri.

4. Mereka Suka Menginterpretasikan Secara Harfiah

Jangan kaget kalau tiba-tiba nasehat sederhana seperti, “Coba deh kasih jarak sebentar,” diinterpretasikan sebagai, “Oke, mungkin aku butuh dua hari di Mars.” Orang kasmaran punya kemampuan memahami kata-kata secara harfiah dengan cara yang tak terduga. Jadi, jika mereka melakukan drama besar dan memutuskan untuk ‘menghindarimu’ karena salah paham, ya, siap-siap saja!

5. Mereka Sedang Dalam Fase Abstrak

Bayangkan: cinta membuat mereka melihat dunia dalam warna pelangi. Sewaktu kamu bilang, “Kayaknya sikap dia kurang baik deh,” yang mereka dengar adalah, “Angin malam berbicara bahwa cinta ini tak tergoyahkan.” Nalarnya dibawa pergi oleh ketertarikan yang begitu intens, membuat logika menjadi semacam aksesoris tambahan yang sering dilupakan.

6. Cinta Membutakan Mata Mereka

Jatuh cinta bisa bikin kita lihat sesuatu yang tidak ada. Anda tahu kan, orang bilang cinta itu buta? Nah, lebih dari sekadar buta, cinta itu seakan dilengkapin dengan kacamata dengan filter Disney. Si losyen tangan yang biasa-biasa saja tiba-tiba terlihat seperti minyak aroma terapi terbaik yang pernah ada hanya karena dia yang ngasih.

7. Logika Libur, Perasaan Kerja Lembur

Saat orang jatuh cinta, logika itu kayak karyawan yang selalu malas-malasan pas hari Sabtu tiba. Sementara itu, perasaan justru seperti workaholic yang tidak tahu jam kantor. Jadi, jangan kaget kalau mereka memutuskan untuk melakukan hal-hal konyol yang, dalam kondisi normal, mereka tentunya akan menggeleng keras.

8. Semua Masalah Bisa Jadi Sederhana (Kecuali Perasaan)

Nah, di dunia mereka yang berwarna-warni ini, masalah apapun bisa disederhanakan: "Dia kurang perhatian? Ah, dia cuma sibuk," atau "Kok dia sering lupa ulang tahun ya? Mungkin karena dia banyak pikiran." Bahkan untuk hal-hal yang kelihatannya sudah benar-benar jelas, mereka tetap punya alasan pembenaran. Hebat, kan?

***

Jadi, daripada Anda buang-buang waktu dan loyang ngomongin logika dan fakta kepada teman Anda yang sedang dimabuk asmara, lebih baik Anda ikut menikmati kisah romantis tersebut atau setidaknya diam dan nikmati dramanya.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota yang tak pernah berhenti, ada satu tradisi yang selalu dinanti - mudik. Perjalanan ini bukan sekadar pemindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan sentimental yang mendalam, membawa kita kembali ke akar, kepada keluarga yang selalu menunggu.

Mudik, bagi banyak orang, adalah perjalanan tahunan yang penuh makna. Ini bukan hanya tradisi, melainkan sudah menjadi bagian dari diri kita, mengikat erat tali-tali kekeluargaan yang mungkin sempat renggang karena jarak dan waktu. Setiap kilometer yang dilalui bukan hanya mengurangi jarak, tetapi juga membawa pulang rindu yang telah lama terpendam.

Bagi saya, mudik selalu merupakan perjalanan sentimental. Melalui kilas balik, saya teringat masa kecil, di mana mudik adalah momen perayaan yang menyenangkan. Berkumpul dengan keluarga besar, mendengarkan cerita leluhur, dan tradisi yang dijaga. Semua kenangan itu kini menjadi lebih berarti, mengingatkan pada pentingnya menghargai waktu yang kita miliki bersama orang yang kita cintai.

Ilustrasi kumpul keluarga di hari lebaran (Sumber : FB Galeri Sentuhan ArifSan)

Momen mudik juga mengajarkan tentang bakti pada orangtua. Mereka yang rela menempuh ratusan kilometer hanya untuk beberapa hari berkumpul, menunjukkan pengorbanan yang tidak ternilai. Momen mereguk teh hangat bersama ayah di beranda, atau membantu ibu menyiapkan hidangan, menjadi unsur paling berharga dari mudik. Itu adalah cara kita, sebagai anak, memberikan penghargaan atas semua pengorbanan mereka.

Setiap perjalanan mudik juga selalu penuh dengan kisah. Mulai dari perjuangan mendapatkan tiket, bersiap menghadapi kemacetan panjang, hingga sesi berbagi cerita dan tertawa bersama di dalam mobil. Semua itu menjadi bagian dari narasi besar tentang mudik yang selalu kita kenang.

Di tengah pergeseran zaman, esensi dari mudik tetap tidak berubah; yakni tentang kembali, baik secara fisik maupun spiritual, kepada inti keluarga kita. Dalam era digital ini, di mana semua orang begitu terhubung namun sekaligus terpisah oleh layar, mudik menjadi saat di mana kita benar-benar "terhubung", merasakan kehangatan yang sesungguhnya, sentuhan yang nyata, dan cinta yang tak tergantikan.

Perjalanan mudik, dengan segala dinamika dan ceritanya, adalah sebuah simfoni kehidupan; melodi tentang kembali, pengorbanan, cinta, dan bagaimana semua itu membentuk kita. Di akhir perjalanan, kita bukan hanya membawa oleh-oleh berupa makanan atau barang, melainkan juga kenangan, pesan moral, dan kehangatan yang akan kita simpan dalam ingatan, hingga mudik berikutnya.

Mudik adalah bukti, bahwa di tengah perubahan dunia yang cepat, ada hal yang tetap abadi – keluarga, kampung halaman, dan kenangan indah bersamanya. Itulah mengapa, tak peduli sejauh apa pun kita pergi, panggilan untuk kembali, selalu tumbuh kuat dalam hati. Dan dalam setiap perjalanan pulang, ada cerita, ada pelajaran, ada cinta yang terjaga, menjadikan mudik sebuah perjalanan sentimental yang penuh makna.

Selamat mudik dan selamat merayakan akhir dari kerinduan !

Di sunyinya malam yang lalu, saat lantunan bacaan Alquran sudah mulai terhenti diperdengarkan melalui pengeras suara karena malam yang semakin larut, kabar duka datang menyapa melalui pesan berantai di WA. Gusanto, atau yang kami kenal dengan Bang Agus, telah berpulang kehadirat Allah SWT karena sakit yang baru ia ketahui saat berada di Jakarta. Kepergian Bang Agus bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tapi juga bagi kami, para alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Bengkulu yang pernah dipersatukan oleh semangat dan pergerakan.

Bang Agus bukan sembarang senior. Baginya, perbedaan usia hanyalah angka. Beliau adalah salah satu sosok yang merangkul saya saat saya baru bermukim di Bengkulu. Meski terpaut usia puluhan tahun, Bang Agus menjadikan kami—adik-adik dan saudara sealmamaternya—bagian dari keluarganya. Di kota Bengkulu, jauh dari rumah, beliaulah keluarga kami. Baginya, saya bukan hanya junior atau kawan se-almamater; kami adalah adik, dan saudara sehati yang dipersatukan oleh Yogyakarta, kota yang pernah menempa kami dengan berbagai kenangan indah dan pelajaran berharga.

Beliau adalah aktivis yang tak kenal lelah. Meskipun usianya telah melewati setengah abad, semangatnya dalam berorganisasi, berkegiatan sosial, dan aktivitas lainnya, tetap berkobar seolah usia hanyalah sebuah nomor yang tidak mampu membatasi langkah dan perjuangannya. Bang Agus membuktikan bahwa kegiatan positif tidak mengenal batasan usia.

Ia menjadi contoh nyata bagaimana seorang senior dalam perkumpulan alumni harus berperan. Bang Agus adalah "provost" yang tak pernah segan menegur dan memberi arahan bagi kami yang lebih muda. Bang Agus adalah magnet, mengumpulkan kami, alumni lintas zaman, jurusan, dan pekerjaan, dalam satu ikatan kuat. Beliau mengajarkan kami tentang nilai kebersamaan, kesetiaan pada nilai dan tujuan, serta pentingnya terus bergerak maju walau tantangan menghadang.

Di setiap pertemuan, Bang Agus selalu menekankan pentingnya berkontribusi pada masyarakat dan lingkungan sekitar. "Jangan hanya menjadi alumni yang bangga dengan segelintir prestasi pribadi," ujarnya suatu kali, "jadilah alumni yang memberi dampak positif bagi banyak orang." Pesan ini terus bergaung di hati saya hingga kini.

Kepergian Bang Agus meninggalkan kekosongan yang sulit tergantikan. Namun, warisan dan pelajaran yang telah ia tanamkan dalam diri kami akan selalu hidup dan mekar. Bang Agus mengajarkan kami untuk berani berada di garis depan, baik dalam suka maupun duka, dan itu adalah pelajaran terbesar yang akan kami kenang selalu.

Bang Agus / 1967 - 2024 (Foto : FB Pribadi Gus Santo)
 
Saya bermohon kepada Allah SWT agar dosa-dosa Bang Agus diampuni, dan beliau ditempatkan di sisi-Nya di tempat yang terbaik. Semoga semangat Bang Agus dapat menginspirasi kita semua untuk terus bergerak maju, memberikan yang terbaik bagi sesama, serta menjalani hidup dengan penuh makna seperti yang telah beliau lakukan.

Bang Agus, terima kasih. Atas semua pelajaran, nasehat, dan persahabatannya. Sampai kita bertemu lagi di kehidupan yang abadi.
Dalam dunia akademis, pengajuan ide penelitian melalui proposal merupakan langkah awal yang krusial dalam proses pembuatan karya ilmiah, baik itu skripsi, tesis, maupun disertasi. Ketiga jenis karya ilmiah ini sering didengar di lingkungan perguruan tinggi, namun masih ada kebingungan tentang bagaimana sebenarnya perbedaan di antara mereka. Dalam artikel ringkas ini, kami akan coba menguraikan secara jelas letak perbedaan antara proposal skripsi, tesis, dan disertasi dengan bahasa yang sederhana.

Skripsi

Skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang disusun oleh mahasiswa sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana (S1). Proposal skripsi berisi rencana penelitian yang akan dilakukan oleh mahasiswa. Biasanya meliputi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, metode penelitian, dan daftar pustaka. Contoh penelitian untuk skripsi seringkali berupa studi kasus sederhana atau penelitian lapangan yang tidak membutuhkan sumber daya yang kompleks.

Perbandingan:

- Dengan Tesis: Skripsi lebih bersifat eksploratif dan tidak terlalu mendalam dibandingkan tesis. Jika skripsi seringkali dilakukan oleh individu, tesis membutuhkan analisis dan metodologi yang lebih kompleks.
- Dengan Disertasi: Skripsi adalah karya paling dasar dibandingkan disertasi. Disertasi menuntut originalitas dan kontribusi baru terhadap ilmu pengetahuan, sedangkan skripsi lebih banyak berfokus pada penerapan teori yang sudah ada.

Ilustrasi (Sumber : Istimewa)

Tesis

Tesis adalah karya ilmiah yang disusun oleh mahasiswa pascasarjana (S2) sebagai persyaratan untuk mendapatkan gelar magister. Proposal tesis merinci secara lebih dalam tentang rencana penelitian yang akan dilakukan, termasuk hipotesis yang akan diuji. Ruang lingkup dan kedalaman analisis dalam tesis lebih besar dibanding skripsi, dengan penekanan pada pembuktian atau pengujian teori-teori baru atau yang sudah ada. Tesis seringkali menggunakan pendekatan kuantitatif atau kualitatif dengan analisis data yang lebih kompleks.

Perbandingan:

- Dengan Skripsi: Tesis menawarkan eksplorasi dan analisis yang lebih mendalam dan kompleks.
- Dengan Disertasi: Meskipun keduanya menuntut orisinalitas, disertasi membutuhkan keterlibatan yang lebih dalam dengan bidang studi yang concern, dengan harapan akan memberikan kontribusi baru pada bidang tersebut.

Disertasi

Disertasi adalah karya akademik yang paling kompleks dan sangat mendetail, ditulis oleh mahasiswa program doktoral (S3) untuk memenuhi sebagian dari syarat mendapatkan gelar doktor. Proposal disertasi mengharuskan adanya penjelasan komprehensif tentang metodologi penelitian yang akan digunakan, kontribusi nyata terhadap pengetahuan yang ada, dan potensi publikasi hasil penelitian. Disertasi membutuhkan penelitian yang orisinal dan mendalam, seringkali mencakup pengumpulan data primer yang ekstensif, dan diharapkan dapat memberikan pandangan baru atau menemukan teori-teori baru dalam suatu bidang.

Perbandingan:

- Dengan Skripsi dan Tesis: Disertasi memiliki ruang lingkup penelitian yang lebih luas, kedalaman analisis yang lebih mendalam, dan membutuhkan kontribusi pengetahuan baru yang signifikan ke dalam bidang ilmu pengetahuan.

***

Perbedaan proposal skripsi, tesis, dan disertasi terletak pada tingkat pendidikan, kedalaman analisis, dan sumbangan pengetahuan baru terhadap bidang ilmu. Skripsi biasanya menjawab pertanyaan sederhana dan tidak terlalu kompleks, tesis menganalisis pertanyaan yang lebih mendalam dengan metodologi yang lebih berat, sedangkan disertasi mencari jawaban atas pertanyaan besar dan berkontribusi dengan caranya sendiri kepada dunia ilmu pengetahuan. Setiap tingkatan memiliki tantangannya sendiri dan membutuhkan pemahaman serta persiapan yang sesuai.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

TENTANG PENULIS


Ayah penuh waktu. Penyuka kue lupis dan tempe goreng. Bekerja sebagai penulis partikelir semi-amatir. Kadang-kadang juga jadi tukang dongeng

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

ACADEMIC LEARNING ACCESS

My Courses

KOMIKU

Memuat komik...

Artikel Populer

  • PROGRAM KULIAH MAGANG KERJA DI TAIWAN ; BENAR ATAU PENIPUAN?
  • KALAU MAU KAYA, JANGAN JADI DOSEN
  • KETIKA BUKU BER-ISBN DIPAKSA MEMILIKI HAKI
  • KAMUS BESAR BAHASA MELAYU-INDONESIA
  • MENGUJI NYALI DANANTARA

TEMATIK

Ramadan Bercerita
Tulisan di Media Massa
Opini 1
Kompas.ID
Papan Bunga: antara Ekspresi Tulus dan Konsumerisme Berlebihan
Opini 2
DetikNews
Birokratisasi Kepahlawanan
Opini 3
DetikNews
Tsunami Jurnal di Indonesia
Opini 4
DetikNews
Disrupsi Alam dan Kebutaan Akademik Kita
Opini 1
DetikNews
Pendidikan (Tanpa) Kompetisi
Opini 2
DetikNews
Tanggung Jawab Media Sosial Pascapemilu
Opini 3
DetikNews
Senjakala Sekolah Negeri?
Opini 4
DetikNews
Kado Manis untuk Pekerja Migran
Opini 4
DetikNews
Rapat dan Efisiensi Anggaran
Opini 4
DetikNews
Menggugat Jurnal-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Konsep Pariwisata Bengkulu yang Berkelanjutan
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba
TribunNews Bengkulu
Menyelamatkan Ekonomi Bengkulu dari Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai
Opini 4
Tirto.ID
Senjakala Toko Buku di Indonesia, Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Opini 4
Tirto.ID
Empat Titik Kerawanan Pemungutan Suara di Luar Negeri
Opini 4
Tirto.ID
Salah Kaprah Susu Kental Manis: Literasi Gizi dan Tipu-Tipu Iklan
Opini 4
Taipei Times
University attraction to Indonesia
Opini 4
Media Indonesia
Pentingnya Literasi Digital di Era Modern

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 2

ADVERTORIAL 2
DMCA.com Protection Status

BUKU KAMI YANG TELAH TERBIT

Copyright © 2013-2024 Andi Azhar. Oleh Andi Azhar