Andi Azhar
  • Beranda
  • Mimbar
    • Khazanah Islam
    • Kolak Pisang
    • Pendidikan
    • Sosial Politik
    • Persyarikatan
    • #SeloSeloan
    • Perguruan Tinggi
    • Sains Teknologi
    • Financial Teknologi
    • Bengkulu
    • Bisnis
  • Lakon
    • Formosa
    • Nusantara
    • Ramadhan Bercerita
  • Soneta
  • Interlokal
    • Education
    • Politic
    • Technology
    • Economic
  • Pariwara
    • Competition
    • Endorsement
    • Komiku
  • Jejak
  • Sangu
    • MoE Taiwan
    • HES Taiwan
    • ICDF Taiwan
  • Hubungi Kami

In the grand narrative of modern commerce, the enthralling saga of viral business trends unfolds like a series of exhilarating waves, each rising high before inevitably crashing to the shoreline of fleeting consumer interest. As a marketing academic vested in bridging the theoretical with the pragmatic, I have witnessed the dramatic ascent and precipitous fall of many such trends. The story of these meteoric rises in popularity, epitomized by the sudden proliferation of businesses such as Es Kepal Milo, Es Jagung, and Cappuccino Cincau, is one punctuated by exuberance and caution.

Our story begins with the allure of virality itself. A phenomenon catalyzed by social media's omnipresence, sweeping entire populations into a frenzy over a product. As these trends surge, siren-like, they beckon to entrepreneurs with the promise of swift profits. The narrative is enticing: minimal investment for maximal reward. Yet, within this very appeal lies the crux of the instability. A keen examination of these patterns reveals that the businesses that often follow the siren song of trends lack a sustainable model. They thrive on novelty, not longevity. Their lifeblood is the rush of the new, which, while potent, is alarmingly ephemeral.

Imbued with a theoretical lens, we might explore the phenomenon through Rogers' Diffusion of Innovations theory, which suggests that an innovation spreads through certain communication channels over time among the members of a social system. The business models based on viral trends accelerate through the early adopter phase but struggle to sustain the momentum needed to reach the late majority and laggards. The rapid saturation of the market contributes to a swift decline in interest and, consequently, in sales.

Es Kepal Milo in Malaysia (Credit : Google)

Practically speaking, these businesses are also confronted with the inherent challenge of differentiation. The low entry barriers contribute to a saturated market, diminishing individual businesses' ability to stand out once the initial wave of interest subsides. Furthermore, copycat models are particularly sensitive to shifts in consumer tastes, itself an increasingly volatile element in a world where social media dictates the ebb and flow of trends.

So, how then can purveyors of viral businesses flip the script to compose a tale of duration rather than a brief episodic splash? The solutions are woven within both the theoretical frameworks of marketing and the innovative spirit that ignites these trends.

Firstly, it is paramount that businesses extending from viral trends embrace the concept of adaptation. Much like the fabled chameleon, these businesses must evolve with the shifting landscapes of consumer demand. This means investing thought and resources into product development and diversification, preventing stagnation and encouraging customers to return even when the trend wanes.

Secondly, leveraging the concept of the unique selling proposition (USP) helps businesses to transcend the commoditization trap. This necessitates a deep dive into what makes the business's offering distinct and compelling beyond the initial buzz. It might be a focus on quality, customization, customer experience, ethical sourcing, or another element that aligns with the values and interests of the target market.

Building a strong brand is critical. A brand is not merely a logo or a name, but the sum of all interactions and experiences a customer has with the business. Strong branding resonates with customers on an emotional level, engendering loyalty that outlasts the product's trendiness.

Lastly, a forward-thinking business model must incorporate a commitment to community and customer engagement. Establishing a dialogue with consumers fosters a sense of involvement and investment in the brand's journey. In a world saturated with fleeting digital encounters, the human touch can grant a viral business the longevity it seeks.

***

While the siren song of viral trends is seductive, it behooves businesses to compose their narratives with foresight. Pursuing viral-based business must transcend the transient, blending the theoretical wisdom of innovation diffusion and unique value propositions with practical strategies for adaptation, differentiation, branding, and community engagement. Thus, entrepreneurs can chart a course towards enduring success, riding the waves of virality towards a perennial legacy rather than a footprint left in the shifting sands of trends.

Dalam lorong-lorong sejarah Indonesia, potret perjuangan sebuah organisasi massa Islam amat lah lekat dengan keberlangsungan hidup bangsa ini. Muhammadiyah, dengan awal yang teduh pada tahun 1912, telah menyisir panorama kebangsaan yang bergolak dengan pemikiran-pemikiran progresif. Muhammadiyah bukan sekadar entitas sosial keagamaan; ia adalah manifestasi dari semangat reformasi yang digali dari ajaran Islam, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk pendidikan dan dakwah serta layanan kesehatan bagi masyarakat. Berdiri di ambang kolonialisme yang menyengat, Muhammadiyah tumbuh sebagai oase pemikiran yang mempertimbangkan ulang hubungan antara agama dan negara, dan bagaimana keduanya bisa saling menguntungkan tanpa terjerumus ke dalam lubang konflik kepentingan.

Berdiri pada 18 November 1912, Muhammadiyah melintas zaman dengan menjunjung tinggi prinsip dakwah, pendidikan, serta kesehatan, seraya condong menghindari tarik-ulur politik praktis. Tidak berarti Muhammadiyah absen dalam percaturan negeri; justru sebaliknya, organisasi ini mengambil posisi yang amat strategis dengan menyuntikkan wawasan dan etika ke dalam wacana publik tanpa terperangkap dalam hiruk-pikuk politik elektoral. Melalui corak pendekatan yang mereka adopsi, Muhammadiyah telah membuktikan bahwa berpolitik tidak harus selalu tentang memperebutkan kekuasaan; ia juga tentang menyebarkan pengaruh melalui edukasi dan karya sosial.

Namun, pemaknaan terhadap konsep 'tidak berpolitik praktis' ini seringkali direduksi semata sebagai ketidakberadaan di panggung politik elektoral. Kritikus mungkin menganggap ini sebagai tanda ketidakberdayaan atau bahkan ketakutan untuk berbaur dalam kotoran politik. Namun, pandangan itu mengabaikan cara-cara halus namun kuat yang digunakan Muhammadiyah untuk menginspirasi dan memengaruhi kebijakan publik. Menegakkan nilai-nilai yang mereka pegang teguh, Muhammadiyah telah melakukan intervensi sosial-intelektual yang melampaui sekedar gerakan politik konvensional.

Ahmad Syauqi Soeratno (SQ) adalah salah satu calon anggota DPD RI yang didukung resmi oleh Muhammadiyah melalui PWM DIY (Foto : KR Jogja)

Dalam merenungkan peran Muhammadiyah dan prinsipnya yang apolitis, kita harus menelaah konteks yang lebih luas: politik dalam arti klasik yang mengandaikan pertarungan hegemoni kekuasaan ternyata tidak mampu menampung semua ekspresi kekuatan sosial dan moral yang dimiliki oleh organisasi masa seperti Muhammadiyah. Dengan dalih mempertahankan khittahnya, organisasi ini sebenarnya telah mendefinisikan kembali politik sebagai medan yang lebih inklusif dan edukatif, yang bukan hanya mempengaruhi, tapi juga membentuk karakter bangsa.

Peran aktif Muhammadiyah dalam mengawal tatanan negara termanifestasi saat mereka memutuskan untuk terlibat lewat Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI). Dengan langkah ini, mereka telah memilih untuk menggunakan sebuah platform yang memberikan mereka suara dalam pembahasan dan penyusunan undang-undang. Lewat keterlibatan ini, Muhammadiyah tidak hanya menunjukkan komitmennya terhadap ideologi dan prinsip, tetapi juga berkontribusi nyata dalam proses legislatif.

Perlu dipahami, khittah Muhammadiyah yang tidak berpolitik praktis bukan berarti apatis terhadap kebijakan dan tatanan bernegara. Keyakinan mereka terhadap nilai-nilai agama sebagai fondasi moral dan etika, mendorong mereka untuk terus terlibat dalam diskursus kebijakan publik. Sebagai lembaga yang memiliki sejarah panjang dan peranan penting dalam proses kemerdekaan Indonesia, Muhammadiyah dengan tegas menunjukkan bahwa peranan mereka bukan hanya sebagai pendukung dalam pidato dan teks-teks doa, melainkan sebagai agen perubahan yang substantif.

Stabilitas politik dan ketertiban sosial merupakan tujuan yang diupayakan Muhammadiyah melalui keterlibatannya yang bijaksana. Mereka hadir dalam diskusi mengenai berbagai isu nasional dengan memberikan perspektif yang seimbang dan didasarkan pada prinsip keadilan dan kebenaran yang universal. Organisasi ini membuktikan bahwa, dengan prinsip apolitis, dapat tetap mengedepankan diplomasi moral yang mempengaruhi keputusan negara, sedemikian rupa sehingga kesejahteraan sosial dan integritas nasional terjaga.

Adalah menarik untuk melihat bagaimana Muhammadiyah sebagai organisasi massa Islam yang besar, dengan bijaksana memanfaatkan prinsip-prinsipnya sebagai tenaga penggerak yang memastikan bahwa walaupun tidak berpartisipasi secara langsung dalam politik praktis, mereka tetap memiliki suara yang berat dalam menentukan arah masa depan bangsa Indonesia. Muhammadiyah, dengan tindakan dan prinsipnya, menyerukan bahwa kekuatan utama dalam politik sebenarnya bukanlah yang paling vokal atau yang paling banyak menghuni kursi kekuasaan, namun adalah mereka yang dapat menanamkan nilai-nilai luhur dan menunjukkan tindakan yang mencerminkan kebijaksanaan itu sendiri.

Berangkat dari kehati-hatian serta prinsip yang tidak memungkinkan terjadi tumpang tindih antara misi dakwah dengan politik praktis, keberadaan DPD RI menjadi sebuah medium yang strategis. DPD RI, sebagai lembaga legislatif yang memiliki kewenangan dalam membahas dan memberikan masukan terhadap RUU terkait otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, serta sumber daya alam dan ekonomi lainnya, terlihat menjadi lahan yang subur untuk Muhammadiyah menampakkan keberpihakannya anak negeri tanpa harus tercatat sebagai pelaku politik praktis.

DPD RI menawarkan jalur partisipatif atas dasar penghayatan terhadap cinta tanah air dan pengejawantahan nilai-nilai agama dalam struktur kenegaraan. Hal ini serupa dengan filosofi Muhammadiyah yang mengedepankan 'amal ma'ruf nahi munkar' guna menegakkan keadilan sosial. Dengan mengirimkan kader-kadernya partisipasi muhammadiyah dalam struktur legislatif, lebih khusus melalui DPD RI menjadi salah satu realisasi bahwa kecintaan dan kepedulian terhadap negeri ini tidak bisa hanya diwujudkan lewat mimbar-mimbar dakwah atau ruang-ruang kelas semata.

Keikutsertaan kader Muhammadiyah melalui DPD RI dapat dilihat sebagai manifestasi dari fungsi dan peran serta umat dalam ranah politik tata negara yang lebih luas. Sejatinya, politik dalam pengertian yang substansial adalah bagaimana mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat luas, dan dalam konteks ini, Muhammadiyah bergerak selaras dengan amanat tersebut.

Alasan pemilihan jalur DPD RI oleh Muhammadiyah mendapat penguatan filosofis dari pendiriannya yang teguh untuk berkontribusi atas perbaikan dan pengawalan bangsa dari sudut pandang moral dan societal building tanpa terjerumus ke dalam kuasa yang mungkin akan mengaburkan khittah. Ini menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap berpijak pada garis besar perjuangannya, yaitu untuk membangun umat yang berkualitas dan berakhlak mulia, dan sekaligus menjadi katalis perubahan sosial yang positif.

Pada titik ini, perjuangan Muhammadiyah tidaklah tumpul pada satu sektor saja. Organisasi ini terus bergerak, meresapi berbagai lini kehidupan, termasuk keberadaan dalam kancah politik kenegaraan melalui jalur legislatif seperti DPD RI. Keputusan menempuh koridor DPD RI adalah konfirmasi bahwa perjuangan Muhammadiyah adalah jauh dari narasi mendominasi kekuasaan, tetapi lebih pada menjaga nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kebajikan dalam kehidupan bernegara. Hal ini merupakan realisasi konkret dari aspirasi yang selalu dijunjung tinggi oleh organisasi ini yaitu untuk berpartisipasi langsung dalam membangun fondasi negara dan masyarakat Indonesia yang kuat, adil, serta sejahtera. 

Melalui jalur politik keummatan yang dijalaninya, Muhammadiyah dengan tegas menunjukkan bahwa peran serta politik tak harus identik dengan konflik kepentingan, korupsi, atau kekuasaan yang memabukkan. Sebaliknya, politik yang dijalankan Muhammadiyah melalui DPD RI memiliki daya tangkap yang tinggi terhadap aspirasi rakyat, serta mengusung prinsip transparansi dan akuntabilitas, sebagai sarana dalam mencapai tujuan luhur yaitu mensejahterakan umat.

Dengan melibatkan diri dalam proses legislatif, membawa suara rakyat ke meja perwakilan, dan mengawal pembuatan undang-undang yang berkeadilan, gerak Muhammadiyah melalui DPD RI tidak lain adalah perwujudan dari jati dirinya sebagai 'Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, membuktikan kesetaraan gender dalam peranan serta politik; Pemuda Muhammadiyah, sebagai garda terdepan yang mengusung semangat keberanian dan inovasi; serta Majelis dan Lembaga yang memiliki kepedulian dalam penelitian dan pengembangan pada setiap aspek kehidupan.

Pada akhirnya, melalui kehadiran dan peran sertanya dalam DPD RI, Muhammadiyah ikut serta menegaskan dan menjaga integritas bernegara. Kilau sejarah membuktikan bagaimana Muhammadiyah telah berada dalam barisan terdepan dalam memperjuangkan independensi Indonesia, dan saat ini, melalui jalur legislatif DPD RI, organisasi ini terus menorehkan tinta bagi masa depan bangsa yang lebih cerah dengan menjaga nyala api pertiwi - selaras dengan perintah agama dan panggilan hati nurani demi menjaga Indonesia yang berkeadilan dan bermartabat bagi semua. 

Keterlibatan Muhammadiyah dalam DPD RI adalah manifest concrete dari filosofi politik yang tidak hanya mencari kekuasaan, tetapi lebih kepada menjaga balance kehidupan bernegara, dan untuk memastikan bahwa legislative yang ada berpihak dan berdampak positif pada kehidupan masyarakat luas. Ini merupakan bentuk pengabdian nyata yang berangkat dari nilai-nilai luhur dan komitmen organisasi ini untuk terus menerus berjuang di semua sektor dan lini demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.


Di berbagai penjuru kota, mata kita sering dimanjakan, atau ada kalanya 'ditodong', oleh sederetan papan iklan atau baliho raksasa yang memajang wajah para pejabat publik. Dari persimpangan jalan hingga lorong-lorong keramaian, wajah-wajah tersenyum plastis itu hadir bagai dewa penjaga kota, seolah menegaskan sebuah kehadiran dan kekuasaan. Banyak dari kita mungkin akan tergelitik, atau tepatnya terusik, oleh fenomena yang sudah menjadi pemandangan biasa ini. Inilah ruang publik kita yang kian hari kian mirip galeri pemujaan bagi individu-individu tertentu. 

Bercermin pada pemikiran Roland Barthes dan semiotikanya, setiap tanda bukan sekadar simbol, melainkan membawa mitos dan makna tersembunyi di dalamnya. Foto pejabat yang menghiasi baliho dan poster-poster komunikasi publik dari pemerintah tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk siapa yang bertanggung jawab atau identitas simplistik. Foto ini telah menjadi suatu mitos, mengkomodifikasi gambaran kekuasaan dan otoritas sebagai 'wajah pembangunan'.

Sisi humanisnya, penempatan foto ini seakan menyampaikan pemerintah itu ada, dekat dengan rakyat, dan hadir dalam wujud konkret si pejabat. Namun, apakah pendekatan ini efektif? Sudahkah gambar tersebut memperkuat pesan yang ingin disampaikan, atau justru mengalihkan fokus dari substansi ke citra?

Efektivitas dalam Komunikasi Publik

Prinsip efektivitas dalam komunikasi publik sejatinya sederhana: sampai kepada audiens dan memberikan dampak. Pesan harus jelas, mengena, dan menimbulkan aksi atau pemikiran yang dikehendaki. Namun, ketika foto pejabat mendominasi, pesan tersebut menjadi terdistorsi. Saat wajah memenuhi mayoritas ruang visual, pesan kerakyatan dan pelayanan publik seringkali tereduksi menjadi sekedar latar belakang.

Pada dasarnya, penggunaan wajah dalam baliho sekaligus menimbulkan paradoks. Di satu sisi, keberadaannya memanusiakan pemerintah, namun di sisi lain, secara tidak langsung menyeret komunikasi publik ke ranah personalisasi dan heroisme. Penelitian-penelitian dalam komunikasi menunjukkan bahwa orang cenderung lebih mudah mengingat wajah dibandingkan dengan pesan tertulis. Ini adalah mainan psikologi yang licik; wajah pejabat menjadi ingatan, sementara program atau pesan utama bisa jadi terlupakan.

Kepemimpinan, Pemujaan, dan Kompleksitas Sosial

Dalam kajian komunikasi dan politik, fenomena seperti ini sering disebut dengan istilah 'kultus kepribadian', yang mana kepemimpinan individual lebih ditonjolkan daripada lembaga atau sistem yang diwakilinya. Ini menciptakan persepsi bahwa individu tersebut adalah sumber dari semua keputusan, tindakan, dan hasil, padahal kenyataannya lebih kompleks. 

Ilustrasi Reklame (Gambar : Seputarpapua / Istimewa)

Kita juga harus mengakui ada sisi psikososial dalam maraknya praktik ini. Di banyak masyarakat, terdapat kecenderungan untuk memuja tokoh atau figur berpengaruh. Dalam ruang publik yang ideal, bagaimanapun, pemujaan semacam ini kurang sehat karena mengaburkan garis antara pelayan publik dan pemilik jabatan.

Munculnya pertanyaan penting di sini: Apakah masyarakat menjadi lebih sadar akan keberadaan dan fungsi pemerintah dengan visualisasi ini, atau justru menjadi semakin pasif dan hanya berperan sebagai penonton? Partisipasi publik yang sehat dalam sebuah demokrasi mengandalkan warga yang aktif dan kritis, bukan sekadar penerima pesan yang patuh.

Tindakan mengedepankan wajah pejabat dalam media komunikasi publik bisa mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap pemerintah itu sendiri. Mengetahui siapa yang membuat kebijakan penting, tetapi menghentikan kecenderungan pemujaan personal bisa membantu menjaga kesehatan demokrasi kita.

Lebih jauh lagi, komunikasi yang efektif seharusnya reflektif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Poster dan baliho pemerintah yang efisien akan lebih menekankan pada informasi, edukasi, atau ajakan yang mendorong keterlibatan masyarakat, dibandingkan sekadar memperlihatkan wajah pemimpin.

Sadar atau tidak, pemilihan desain dan konten pada media komunikasi pemerintah sekaligus mencerminkan nilai-nilai yang diutamakan oleh pemerintah itu sendiri. Jika pesan yang dominan adalah citra individu, bukan inisiatif atau program yang berdampak, maka muncullah pertanyaan, untuk siapakah komunikasi ini sesungguhnya?

***

Dalam pemerintahan yang demokratis, penting bagi pejabat publik untuk memahami bahwa mereka merupakan pelayan, bukan penguasa. Foto-foto yang tersebar luas di ruang publik seyogyanya menjadi pengingat akan tanggung jawab, bukan sebagai media autopromosi.

Jika kita hendak menuju masyarakat yang progresif dan partisipatif, maka pembuatan baliho dan iklan publik hendaknya lebih dari sekadar instalasi fotogenik. Haruslah ada upaya sadar untuk kembali ke inti komunikasi publik itu sendiri: menyampaikan pesan yang jelas, transparan, dan mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat. Saatnya kita memastikan bahwa ruang publik digunakan untuk tujuan yang memang seharusnya: membangun dialog dan partisipasi masyarakat, bukan sekedar pameran wajah.

Lebaran, bagi banyak orang, bukan sekadar perubahan waktu dalam kalender atau sekumpulan ritual keagamaan yang terpola. Lebaran adalah tapiseri kaya akan nuansa emosi, kehangatan sosial, dan nostalgia yang kental. Di era digital ini, banyak yang merasa ada yang "hilang" dari semarak hari raya Idul Fitri. Kok bisa?

Masuklah kita ke sudut ruang waktu, dimana nostalgia bersemi: lebaran zaman dulu. Bila kita ibaratkan dengan lukisan, lebaran masa lalu adalah lukisan dengan palet warna yang lebih hidup, lengkap dengan kesederhanaan yang justru menjadi kekuatannya. Lebaran adalah saat dimana ketulusan tercipta dari kesederhanaan, dimana ponsel dan media sosial belum membanjiri setiap detik kita.

Dahulu, kampung-kampung dipenuhi dengan suara gemuruh takbir menggema dari masjid ke masjid, bersahutan secara alami, tidak bersaing dengan suara notifikasi dari gadget yang tak henti-hentinya berdering. Anak-anak berlarian ke sana ke mari tanpa khawatir dengan batasan jaringan internet, hanya memikirkan kapan mereka bisa saling berbagi kembang api. Kumpul keluarga tak hanya diisi dengan foto-foto untuk dipamerkan di media sosial, tetapi lebih pada tukar cerita dan tawa yang riang, dimana setiap anggota keluarga benar-benar 'ada' secara fisik dan mental.

Makanan lebaran pun merupakan metafora dari kebersamaan—opor ayam yang ditunggu-tunggu sebagai hasil gotong royong memasak bersama, ketupat yang siap disantap sebagai simbol tolong menolong untuk mengisi dan membungkusnya. Manisan buatan nenek yang tak pernah lupa menjadi sorotan, menyimbolkan bahwa kebahagiaan itu sederhana dan bukan tentang kemewahan atau keberlimpahan.

Kartu Ucapan Lebaran dari Gubernur Anies Baswedan (Foto : Facebook dr. Guntur Surya / Istimewa)

Sebelum ada media sosial Kartu lebaran dulu memegang peran penting tatkala jelang lebaran sebagai media komunikasi, meski terbilang primitif oleh zaman sekarang, adalah lambang perhatian yang personal dan intim. Kartu-kartu itu harus dipilih, ditulisi pesan tangan, dan dikirimkan lewat pos berhari-hari sebelumnya. Prosesnya lambat, namun penuh makna. Berbeda dengan kini, ucapan lebaran seringkali hanyalah pesan instan seragam yang dikirimkan secara massal dengan sekali klik.

Di sudut lain, silaturahmi tidak hanya sebatas “absensi” tahunan untuk mengumpulkan amplop, melainkan tradisi yang mendalam untuk memperbaiki hubungan, menguatkan tali persaudaraan, dan saling memaafkan dengan tulus. Bayangkan, bermaafan dengan meraih tangan dan memandang mata tanpa sekat layar sentuh menghadirkan kedekatan yang tak tergantikan.

Adakah kerinduan untuk kembali ke sana?Pastilah ada. Namun, apa yang sebenarnya kita rindukan bukan masanya, melainkan esensinya—keaslian konektivitas antarmanusia yang kita dambakan kembali.

Terang saja, tidak semua yang baru itu kurang baik. Hari ini, kita memiliki kelebihan dalam efisiensi dan kemudahan. Namun dalam efisiensi itu, mari kita tidak lupa untuk menanamkannya dengan kehangatan dan kedalaman yang sama seperti lebaran masa lalu.

Maka, di lebaran yang akan datang, bisakah kita menciptakan syahdu itu lagi? Bisakah kita memadukan hangatnya teknologi dengan keakraban lebaran masa lalu? Ini menjadi tantangan untuk kita bersama. Mari kita mulai dengan hal kecil: memandang satu sama lain saat berbicara, memeluk erat saat bersua, dan menikmati kebersamaan tanpa gangguan dari perangkat elektronik kita. Dengan itu, semoga kita bisa menemukan kembali syahdu dan ramainya lebaran yang selalu kita kangeni.
Gerakan kepanduan di Indonesia berkembang dengan dimensi historis dan aspirasi yang khas, seiring dengan perjalanan panjang bangsa ini dalam meraih kemerdekaan dan mendefinisikan identitasnya. Di tengah keberagaman ini, terdapat dua entitas yang menyita perhatian: Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan yang berakar dari pendidikan Muhammadiyah dan Gerakan Pramuka yang merupakan manifestasi kepanduan nasional. Penyelarasan antara kedua gerakan ini tidak hanya menyoal integrasi dalam ranah pendidikan, tetapi juga implikasi sosio-kultural dan simbolisme gerakan yang merentang dari masa lalu hingga masa depan bangsa Indonesia.

Gerakan kepanduan di Indonesia tidak terlepas dari semangat nation-building — pembangunan bangsa — yang telah menjadi poros sejarah bangsa ini. Berawal dari mimpi para pendiri bangsa dalam mewujudkan Indonesia yang bersatu, berdaulat, dan memiliki identitas yang kuat, gerakan kepanduan dijadikan medium untuk menanamkan nilai-nilai patriotisme, kemandirian, serta kepribadian yang tangguh. Di sinilah Hizbul Wathan (HW) dan Pramuka, dua entitas kepanduan dengan roh yang sama namun manifestasi yang berbeda, berasal.

Dibentuk pada 1918 oleh KH Ahmad Dahlan, Hizbul Wathan adalah cerminan dari nilai-nilai Muhammadiyah yang mendukung pendidikan karakter melalui format kepanduan. HW memiliki kurikulum yang khusus dirancang untuk melahirkan generasi muda yang cakap, memiliki kecerdasan spiritual, serta komitmen terhadap keadilan sosial. Ini merupakan gabungan dari prinsip kepanduan tradisional dengan nilai-nilai Islam yang moderat.

Ilustrasi anggota Pramuka dan Hizbul Wathan (Gambar : MTS N 2 Tegal / Instagram)

Sedangkan terbentuknya Gerakan Pramuka di tahun 1961 mencerminkan kebutuhan Indonesia dalam menyediakan wadah yang uniform dan integratif yang mengakomodasi aspirasi kepanduan dari berbagai elemen bangsa. Menjadi bagian dari kurikulum pendidikan nasional, Pramuka tidak hanya menjadi wadah bagi pemuda untuk mengasah keterampilan dan kepemimpinan tetapi juga menjadi simbol kesatuan di tengah keragaman Indonesia.

Pada tingkat implementasi, tantangan hadir ketika sekolah-sekolah di bawah naungan Muhammadiyah dihadapkan pada peraturan yang mewajibkan peserta didik untuk mengikuti Gerakan Pramuka. Di satu sisi, ini menimbulkan dilema bagi identitas dan kemandirian HW. Di sisi lain, keharusan ini juga mengancam akan mengikis kekhasan yang menjadi ciri dari pendidikan Muhammadiyah. Soalnya, bagaimana caranya HW dapat berkembang sambil masih menjalankan fungsi dan tujuannya yang unik di dalam lingkungan yang menuntut konformitas?

***

Pentingnya identitas dan kekhasan dalam pendidikan Muhammadiyah melalui HW tidak bisa dipandang sebelah mata. Gerakan ini tidak hanya mendidik dengan kurikulum yang sesuai dengan ajaran Islam, namun juga memperkaya keragaman pendidikan kepanduan di Indonesia dengan perspektifnya yang unik. Namun, argumentasi akan kebutuhan integrasi dan uniformitas dalam Gerakan Pramuka juga berdasarkan pandangan bahwa ketika bangsa ini berupaya memperteguh pondasi kebangsaan, perbedaan harus bisa dikelola tanpa meniadakan kekhasan masing-masing entitas.

Salah satu langkah strategis yang dapat ditempuh oleh HW adalah mengejar pengakuan dan keanggotaan dalam aliansi kepanduan dunia seperti World Organization of the Scout Movement (WOSM). Langkah ini menuntun HW tidak hanya ke pentas internasional, tetapi juga menawarkan peluang kolaborasi dan pertukaran pengalaman yang berharga dengan gerakan kepanduan lain di dunia.

***

Memandang ke depan, memungkinkan HW dan Pramuka berjalan beriringan secara sinergis adalah pilihan yang bijaksana. Melakukan penyesuaian kebijakan untuk memperbolehkan siswa Muhammadiyah berpartisipasi aktif dalam HW, dengan tetap menjaga nilai-nilai yang Pramuka bawa sebagai gerakan kepanduan nasional, akan menjadi solusi yang inklusif. Dengan demikian, sinergi ini menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kepanduan yang pluralistik namun tetap bersatu dalam semangat kebangsaan.

Kedua entitas kepanduan ini mempunyai akar yang mendalam dalam sejarah dan jati diri bangsa Indonesia. Baik Hizbul Wathan maupun Pramuka, keduanya berdiri di atas komitmen untuk menciptakan generasi muda yang dapat membentuk masa depan bangsa yang gemilang. Lebih dari sekedar wacana, integrasi HW dalam kancah kepanduan nasional dan internasional menyiratkan kebutuhan dialog terus-menerus antara tradisi dan modernitas, antara kekhasan dan integrasi, serta antara identitas Islam dan kebangsaan Indonesia. Sekali lagi, seperti halnya Indonesia dengan keberagaman sukunya, agama, dan budayanya, gerakan kepanduan Hizbul Wathan dan Pramuka dapat menjelma menjadi simbol harmoni dan kesatuan - seiring dan sejalan menuju masa depan.

Aha, Pemilu 2024! Mari kita duduk dengan secangkir kopi hangat, menghirup aroma pahit realitas politik kita – sebuah panggung wayang modern di mana para dalang media sosial menggerakkan para wayangnya dengan cekatan. Jangan salah paham, wayang di sini bukan makhluk tanpa nyawa, melainkan berwujud calon pemimpin masa depan, diwarnai filter Valencia dan #KitaSemuaBersaudara.

Ini kisah tentang para "medsos darling" - para penguasa timeline, jawara retweets, dan sang raja/ ratu story Instagram, serta juragan FYP. Mereka ini, ooh, berkilau bagai permata di kerajaan maya, tapi ternyata bagai kunang-kunang di padang pemilu. Kini kita tahu, ledakan notifikasi tak sekuat dentuman suara di bilik suara.

Ilustrasi Viral (Gambar : Istimewa)

Popularitas semu di media sosial, bagai angin lalu, tak terasa tapi nampak – nampak nampak saja, ya itu-itu saja. Sementara realitas pemilu ibarat pohon jati kokoh di hutan demokrasi, tak goyang oleh komentar pedas maupun like seribu kali. Pohon jati tak ubahnya suara-suara pemilih di bilik suara yang memilih dengan tegas, entah itu berdasarkan apa yang mereka rasakan dari perut yang keroncongan atau kepala yang meraung-raung ingin perubahan.

Mari kita bicara soal jumlah suara – oh, jumlah suara! Ironis, bukan, ketika "follower" jutaan tapi "voter" hanya seribu? Saksi kita bagaimana banyak "medsos darling" berguguran, layaknya daun-daun gugur diterpa angin pilkada. Mereka yang "viral" tak selalu "vital" bagi pemilih, dan algoritma yang membawa mereka ke puncak "trending" tak dapat membawa mereka ke puncak kekuasaan.

Dan apa pesan moral yang kita petik dari kekalahan dramatis tersebut? Ah, sungguh pesan moral yang klasik: bermedsos sewajarnya. Kiranya, bagaikan mengonsumsi junk food, nyaman di lidah namun risiko di akhir. Naiklah dari singgasana maya itu, rajalah persinggungan nyata. Banyakin turun ke bawah, sapa warga dengan senyum dan, ya kalau bisa, sembako.

Wahai sembako! Betapa dahsyatnya daya pikatmu dalam panggung politik kita. Barangkali lebih mudah menjadi influencer ketimbang memberi pengaruh politik. Di dunia maya, cukup tagar dan hastag, sedangkan di dunia nyata, ya tagih dan catat kebutuhan rakyat.

Pada akhirnya, dalam pertarungan realitas dan virtualitas ini, yang nyata kerap lebih memikat. Masyarakat kita, meski terus bergerak menuju 'well-educated', masih butuh solusi nyata akan problem kronis yang dihadapi: "Mau makan apa hari ini?" Pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban praktis, bukan berupa grafik statistik pertumbuhan ekonomi di layar ponsel.

Masyarakat memilih mereka yang mengetuk pintu bukan hanya dengan janji, tapi juga dengan nasi kotak yang bisa langsung dipegang, dihadiahkan kaos yang bisa langsung dipakai, dan amplop transportasi yang bisa langsung ditukar. Di sinilah konsep idealisme dan pragmatisme beradu judi- kali ini pragmatisme memenangkan pot besar.

Semalam, saya diskusi panjang dengan seorang sahabat sambil mengeluhkan kenapa gelas sudah kosong dan malam sudah terlalu jauh berjalan, sahabat saya yang sedang mendalami teori ekonomi di negeri orang menegaskan: konsep dan gagasan indah memang layak diperjuangkan. Namun, apa artinya bagi mereka yang perutnya berbunyi lebih keras daripada manifesto politik yang mengudara?

Pada akhirnya, Pemilu 2024 mengajarkan bahwa politik media sosial itu layaknya kapal pesiar mewah yang mengarungi lautan maya: penuh gemerlap dan hingar-bingar, tapi tak selalu sampai ke dermaga kemenangan saat badai kenyataan masyarakat menghadang. Barangkali perlu ditambahkan ke dalam manifestonya, bukan hanya tentang infrastruktur digital, tapi juga tentang dapur rakyat yang harap-harap cemas ingin tetap berasap. 

Kiranya tak berlebihan jika dikatakan: dalam politik, 'likes' Anda tak begitu berarti tanpa 'love' dari rakyat yang sebenarnya. Tapi ingat, kasih sayang rakyat tidak bisa dibeli dengan sembako, hanya bisa dimenangkan dengan hati yang melayani. Selamat datang di demokrasi, selamat tinggal di media sosial, selamat berjuang di lapangan nyata!

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

TENTANG PENULIS


Ayah penuh waktu. Penyuka kue lupis dan tempe goreng. Bekerja sebagai penulis partikelir semi-amatir. Kadang-kadang juga jadi tukang dongeng

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

ACADEMIC LEARNING ACCESS

My Courses

KOMIKU

Memuat komik...

Artikel Populer

  • PROGRAM KULIAH MAGANG KERJA DI TAIWAN ; BENAR ATAU PENIPUAN?
  • KALAU MAU KAYA, JANGAN JADI DOSEN
  • KETIKA BUKU BER-ISBN DIPAKSA MEMILIKI HAKI
  • KAMUS BESAR BAHASA MELAYU-INDONESIA
  • MENGUJI NYALI DANANTARA

TEMATIK

Ramadan Bercerita
Tulisan di Media Massa
Opini 1
Kompas.ID
Papan Bunga: antara Ekspresi Tulus dan Konsumerisme Berlebihan
Opini 2
DetikNews
Birokratisasi Kepahlawanan
Opini 3
DetikNews
Tsunami Jurnal di Indonesia
Opini 4
DetikNews
Disrupsi Alam dan Kebutaan Akademik Kita
Opini 1
DetikNews
Pendidikan (Tanpa) Kompetisi
Opini 2
DetikNews
Tanggung Jawab Media Sosial Pascapemilu
Opini 3
DetikNews
Senjakala Sekolah Negeri?
Opini 4
DetikNews
Kado Manis untuk Pekerja Migran
Opini 4
DetikNews
Rapat dan Efisiensi Anggaran
Opini 4
DetikNews
Menggugat Jurnal-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Konsep Pariwisata Bengkulu yang Berkelanjutan
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba
TribunNews Bengkulu
Menyelamatkan Ekonomi Bengkulu dari Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai
Opini 4
Tirto.ID
Senjakala Toko Buku di Indonesia, Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Opini 4
Tirto.ID
Empat Titik Kerawanan Pemungutan Suara di Luar Negeri
Opini 4
Tirto.ID
Salah Kaprah Susu Kental Manis: Literasi Gizi dan Tipu-Tipu Iklan
Opini 4
Taipei Times
University attraction to Indonesia
Opini 4
Media Indonesia
Pentingnya Literasi Digital di Era Modern

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 2

ADVERTORIAL 2
DMCA.com Protection Status

BUKU KAMI YANG TELAH TERBIT

Copyright © 2013-2024 Andi Azhar. Oleh Andi Azhar